Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2024

Lailatul Qodar Sudah Tidak Dirahasiakan Lagi?

Oleh : KH. Muhammad Jamhuri, Lc. MA

 Begitulah kesimpulan sementara. Kita sering mendengar bahwa Lailatul Qodar memang tidak diberitakan kapan akan terjadi, atau malam ke berapa dari bulan Ramadhan akan terjadi. Hal itu - menurut para ulama - agar umat ber-taharri (berjaga-jaga) untuk meraihnya dengan segala upaya yang dapat dilakukannya.

Akan tetapi kini Lailatul Qodar  nyaris sudah bukan rahasia lagi? Mengapa? Karena Rasulullah saw dan para ulama Islam nyaris membuka tabir Lailatul Qodar secara terbuka kepada umatnya. Tanda-tanda pembukaan tabir itu dapat diamati dari perilaku dan kebiasaan amalan Rasulullah saw, para sahabat serta ulama yang dikenal alim, zuhud dan taqarrub (kedekatan)nya dengan Allah sangat kuat. Bahkan di antara mereka secara terbuka membuka kapan Lailatul Qodar itu akan tiba berdasarkan pengalaman dirinya dan sahabatnya yang mengalami kedapatan Lailatul Qodar.

Diantara tabir-tabir yang sudah dan mulai diungkap oleh Rasulullah saw, para sahabat dan para ulama adalah sebagai berikut:

Pertama, Rasulullah saw selalu melakukan i'tikaf di 10 terakhir bulan Ramadhan dan nyaris tidak meninggalkannya pada setiap tahunnya, sejak beliau tinggal di Madinah hingga menjelang wafatnya. Fenomena ini menjadi sebuah indikasi, bahwa Lailatul Qodar sering terjadi di antara malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده

Artinya, “Dari Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah wafatnya beliau.” (HR: Bukhori Muslim)

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.” (HR Muslim)

Kedua, Dari 10 malam terakhir Ramadhan, terkuak indikasi, bahwa Lailatul Qodar akan terjadi di malam-malam ganjil 10 malam terakhir Ramadhan itu. Bebarapa kisah di bawah ini membuktikan sebagian kenyataan tersebut:

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk iktikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah. Ketika Rasulullah berdiri sholat, para sahabat juga menunaikan sholat. Ketika beliau menegadahkan tangannya untuk berdoa, para sahabat pun serempak mengamininya. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari bulan Ramadhan.

Di saat Rasulullah SAW dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan sholatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah SAW dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak. Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk ke dalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Rasulullah SAW baru mengangkat kepala dan mengakhiri sholatnya ketika hujan berhenti. Anas bin Malik, sahabat Rasulullah SAW bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW. Namun beliau pun mencegahnya dan berkata: "Wahai Anas, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya."

Dalam riwayat lain diceritakan, Rasulullah SAW bertemu Lailatul Qadar pada malam ke-21 sebagaimana diterangkan dalam Kitab Al-Muwaththa' Hadis No 701 oleh Imam Malik. Dari Abu Said Al-Khudri sesungguhnya dia berkata: "Rasulullah SAW beriktikaf pada puluhan yang kedua dari bulan Ramadhan. Pada suatu tahun setelah beliau sampai pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari iktikaf pada pagi harinya, beliau berkata: "Barangsiapa turut beriktikaf bersamaku, hendaklah beriktikaf pada sepuluh hari yang terakhir. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku Malam Al-Qadar. Kemudian aku dijadikan lupa. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah. Karena itu carilah dia di sepuluh akhir, carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil. Berkata Abu Sa'id: "Maka turunlah hujan pada malam itu, sedangkan masjid diatapi dengan daun kurma dan meneteslah air ke lantai. Kedua mataku melihat Rasulullah SAW kembali dari masjid, sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah, yaitu pada malam 21." Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ini menunjukkan betapa banyak rahasia dan hikmah di balik malam seribu bulan. Ini pun menunjukkan bahwa Lailatul Qadar kerap terjadi malam-malam ganjil di 10 terakhir Ramadhan.

Ketiga, Bahkan Rasulullah saw lebih mengerucutkan lagi dalam menjelaskan kemungkinan kuat datangnya Lailatul Qodar, yaitu di malam-malam ganjil pada 7 hari terakhir  bulan Ramadhan. Berarti malam  25, 27 dan 29. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya, maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir. ” (muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Keempat, Bahkan Imam Ghazali menyampaikan satu kaidah (rumus) tentang datangnya Lailatul Qodar. Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadhan:

 قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر  فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة 1.

Rumus itu adalah (artinya;)

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21

Jika awal Ramadhan  jatuh pada hari Selasa atau Jum'at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23

Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata: “Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah tersebut."

Jadi, jika mengacu kepada kaidah (rumus) yang disampaikan al, Ghazali tersebut, maka karena awal Ramadhan tahun ini jatuh pada hari selasa, maka Lailatul Qodar pada Ramadhan tahun ini (1445 H/ 2024 M) akan terjadi pada malam ke 27 Ramadhan. Wallahu a'lam.

Kelima, Kemungkinan malam lailatul qodar jatuh pada malam ke 27 dikuatkan pula dengan dalil dan riwayat serta analisa para ulama berikut ini :

Hadist Nabi saw : "(Dia/lailatul qodar adalah) malam ke-27. ” (HR. Abu Dawud, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliyallahu ‘anhuma)

1. Ibnu Katsir ulama ahli tafsir mencoba menguak rahasia surat al-Qodar terkait dengan waktu datangnya malam Lailatul Qodar. Beliau mengungkap penemuannya, bahwa lafazh (ليلة القدر) dalam surat al-Qodar disebut 3 (tiga) kali dalam al-Quran dalam surat tersebut. Dan lafazh tersebut berjumlah 9 huruf. Sehingga jika dikalikan jumlah huruf pada lafazh (ليلة القدر) yang berjumlah 9 huruf itu dengan angka 3 kali penyebutannya, maka keluar hasil angka 9 x 3 = 27. Maka malam Lailatul Qadar akan terjadi di malam ke 27 Ramadhan

Hadist dari Sahabat Ubay bin Ka’b radliyallahu ‘anhu menegaskan

والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

"Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27." (HR. Muslim)

2. Para ulama Hanabilah juga banyak mengikuti riwayat yang menjelaskan bahwa malam lailatul Qadar terjadi pada malam ke 27 Ramadhan. Sehingga tidak heran, jika di malam itu terjadi puncak kepadatan jamaah shalat taraweh dan qiyamullail di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta masjid lainnya di Arab Saudi.

Akan tetapi, meskipun kita dianjurkan ber-taharri (berjaga mendapatkan) Lailatul Qodar dengan dimensi waktu yang telah dijelaskan di atas. Akan tetapi Lailatul Qodar tidak akan turun saat sikap-sikap dan perilaku kita bertentangan dengan apa yang dianjurkan Rasulullah saw.

3. Rasulullah saw pernah sempat diberitahu Jibril as bahwa suatu malam nanti akan ada Lailatul Qadar, akan tetapi Jibril as meralatnya, bahwa Lailatul Qadar tidak jadi turun, karena sikap beberapa kaum muslimin yang tidak mencerminkan sikapnya sebagai muslim yang baik.

4. Diceritakan dalam buku Ringkasan Shahih Bukhari oleh Muhammad Nasir al-Din Albani, pada mulanya, Rasulullah SAW hendak memberitahukan umatnya tentang waktu pasti satu malam terjadinya lailatul qadar. Tapi, hal tersebut tertunda setelah Rasulullah melihat dua umatnya tengah berselisih.

5. Diceritakan Ubadah ibnush-Shamit bahwa ia berkata,

 خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ ليُخْبِرَ بِليلةِ القَدْرِ، فَتَلَاحَى رَجُلاَنِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، فَقَالَ النبيُّ ﷺ: إِنِّيْ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فتلاحَى فُلَانٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ، فَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوْهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

Artinya: Nabi keluar untuk memberitahukan kepada kami mengenai waktu tibanya Lailatul Qadar. Kemudian ada dua orang lelaki dari kaum muslimin yang berdebat. Beliau bersabda, "(Sesungguhnya aku) keluar untuk memberitahu kan kepadamu tentang waktu datangnya Lailatul Qadar, tiba-tiba si Fulan dan si Fulan berbantah-bantahan. Lalu, diangkatlah pengetahuan tentang waktu Lailatul Qadar itu, namun hal itu lebih baik untukmu. Maka dari itu, carilah dia (Lailatul Qadar) pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima (pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan)," (HR Bukhari).

Maka, menjaga sikap yang baik di antara kaum muslimin tidak kalah pentinganya dengan memburu tanggal-tanggal tertentu untuk mendapat Lailatul Qadar.

Semoga kita mendapat ketepatan dengan Lailatul Qodar di bulan Ramadhan tahun ini.



Muhammad Jamhuri, 24 Ramadhan 1445 H/ 4 April 2024 M

Kamis, 28 Maret 2024

Pesan KH. Syukron Makmun Kepada Para Pimpinan Pesantren

Para pimpinan pesantren bersama KH. Syukron Makmun
Pada Selasa 26 Maret 2024 atau 16 Ramadhan 1445 H, KH. Syukron Makmun mengundang para santrinya yang juga para pimpinan pesantren di sekitar Jabodetabek dalam sebuah acara bersama Ifthor Jamaí ataau Buka Puasa Bersama di  Pesantren Daarul Rahman II Lewiliang, tepatnya di Resto Saung Bambu DR 2.

Para bu Nyai bersama KH. Syukron Makmun
Dalam kesempatan itu hadir para pimpinan pesantren yang tergabung dalam FORMADA (Forum Kerja Sama Antar Pesantren Alumni Daarul Rahman), antara lain:

  1. DR. KH. Musyfiq Amrullah, lc. MA. Pengasuh Pesantren At-Tawazun, Subang
  2. KH. Alwan Surya, Pengasuh Pesantren Nurul Falah, Parung Panjang, Bogor
  3. KH. Anwar Wahdi, Pengasuh Pesantren Babus Salam, Comone Tangerang
  4. KH. Musthofa Mughni, Pengasuh Pesantren Daarul Mughni, Cileungsi Bogor
  5. KH. Faisal Ali Nurdin, Pengasuh Pesantren Nurul Ilmi, Bojonggede, Bogor
  6. KH. Ahmad Wildan S, Pengasuh Pesantren Al-Kamil, Doyong Tangerang
  7. KH. Muhammad Jamhuri, Pengasuh Pesantren Multazam, Rumpin Bogor
  8. KH. Abudl Wahid, Pengasuh Pesantren Al-Musyarrofah, Cianjur
  9. KH. Ahmad Al-Ghozali, Pengasuh Pesantren Al Ihya, KH. A, Ghozali
  10. KH. Jamaladdin F Hasyim Adnan, STAI Al-Aqidah, Jakarta
  11. KH. Mulyadi Mughni, Pengasuh Pesantren Baitun Nun, Bogor
  12. KH, M, Farid Ma'ruf, Pengasuh Pesantren Asy-Syarofah
  13. dan kyai lainnya seperti KH. Sumarja, KH. Dimyati dan lainnya
Dalam kesempatan  tersebut Syaikhuna KH. Syukron Makmun memberi pesan-pesan spritual kepada para pimpinan pesentren, agar tidak lupa meningkatkan spritualitas diri, di antaranya selalu qiyamullail atau tahajjud dan sholat witir.  "Seorang kyai itu jangan pernah putus setiap malam untuk selalu shalat tahajjud dan witir, kecuali dalam kondisi tertentu, seperti lelah sekali karena kesibukan yang padat sebelumnya, tapi usahakan sholat malamlah" Ujar KH. Syukron Makmun berulang-ulang disampaikan. "Saat malam itulah, doakan pesantren dan santri-santrinya." tambahnya. "Silakan tanya ke istri saya, kalau saya shalat bersama istri, pasti setelah shalat, saya doakan pesantren, santri-santri saya, bahkan alumni-alumni Daarul Rahman, semuanya saya doakan" Ujarnya meyakinkan.

"Lho?, saya dapat cerita bahkan bu Nyainya pesantren Tremas itu suka berpuasa hampir setiap hari. Ketika ditanya kenapa sampean puasa hampir setiap hari? Jawabnya, karena saya ingin mendoakan agar santri-santri yang belajar kepada suami saya menjadi manusia yang berguna untuk dunia dan akhirat "Tambah KH. Syukron bercerita

Kemudian beliau juga berpesan agar kyai atau pimpinan pesantren tidak meninggalkankan amalan shalat Dhuha setiap harinya, karena shalat ini akan memudahkan datangya rezeki. 

Usai memberi pesan spritual, acara diisi dengan doa yang dipimpin langsung oleh beliau, yang kandungan isi doanya penuh dengan doa untuk santri-santri beliau, alumni-alumni dan orang-orang yang pernah memberikan andil bagi pesantren beliau khususnya Daarul Rahman

Rabu, 15 November 2023

Dari SIlaturrahi dengan Mahasiswa/i Indonesia di Maroko : "Tawwakkal Adalaha Modal Utama"

 Catatan Rihlah

Bersama mahasiswa/i Indonesia di Maroko
Dalam perjalanan rihlah kami ke Maroko dan Spanyol, kami menyempatkan bersilaturrahmi bersama para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menunut ilmu di Casabalnca Maroko. Peretemuan itu di adakan pada Selasa, 14 Nopember 2023 usai shalat maghrib di  sebuah syuqqoh/flat salah seorang mahasiswa bernama  Fauzi Azhar (disana sering dipanggil Fauzi). Berbarengan dengan acara beliau karena beliau juga bermaksud mengadakan syukuran walimatus safar karena akan berangkat ibadah umroh esoknya Rabu, 15 Nopember 2023.

Dalam pertemuan itu, saya diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutan atau motivasi kepada para mahasiswa Indonesia di sana. Saya hanya menyampaikan cerita pengalaman pribadi saat saya kuliah di Islamabad Pakistan hingga kuliah di Makkah Arab Saudi. Cerita ini sama seperti cerita yang sampaikan saat memberi motivasi kepada mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Al-Azhar Mesir saat kunjungan saya ke Cairo beberapa tahun lalu.

Begin cerita saya, bahwa setiap kita sebagai musafir atau perantau di negeri orang, mesti akan berjumpa dengan segala persoalan. Terutama persoalan finansial di negeri rantau. Terlebih sebagai seorang yang sedang menunutut ilmu. Namun jangan khawatir, karena para penunut ilmu  di negeri orang itu adalah sama dengan seorang mujahid (pejuang) di jalan Allah, yang rezekinya, akan dijamin oleh Allah swt.

Dahulu, saat saya kuliah di Pakistan  saya mendapat beasiswa yang ternyata tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Beasiswa yang diterima hanya dapat bertahan untuk kebutuhan seminggu. Sehingga bekal yang dibawa dari rumah lambat laun menipis terpakai. Hingga akhirnya sampai ke titik zero. Saat itu kami urunan masak dan bergantian masaknya dengan teman-teman dari Indonesia. Namun sejak bekal saya habis, saya tau diri, sehingga saya menawarkan diri untuk memasak setiap hari tidak perlu bergantian karena tidak bisa ikut urunan dana untuk kebutuhan masak lagi.

Hingga saya berusaha untuk datang terlebih dahulu ke hostel (asrana) sebelum teman-teman tiba dari kampus, agar saya dapat memasak dan mempersiapakan makan unuk teman-teman. Sebagai orang yang ikut makan bersama teman-teman, maka saya pun lambat laun merasa malu kepada mereka. Namun bagaimana lagi, saya tak bisa berbuat apa-apa, karena berada di rantau jauh. Saat itu keluarga pun tidak lagi mengirim uang karena kondisi ekonomi sedang susah sejk wafatnya ayah. Saya -saat itu- cuma bisa tawakkal (berserah diri) dengan sepenuhnya. Saya berdoa dengan sepasrah-pasrahnya "Ya Allah, saya masih mau kuliah dan belajar, terserah Engkau mau diapakan saya ini". Ujar saya sejadinya dalam doa. Saat itu memang terasa sekali kepasrahan itu dirasakan dalam doa-doa saya.

Subhanallah, sepekan setelah itu, kejadian yang tak di duga-duga terjadi. Saya mendapat fax yang berlogo Universitas Ummul Quro Makkah yang memberi kabar kepada saya, bahwa pengajuan permohonan saya menjadi calon mahasiswa Ummul Quro Makkah yang pernah saya ajukan empat tahun lalu, diterima dan dimohon segera hadir di Makkah. Padahal sebelumnya saya sudah menunggu lama hingga saya anggap pengajuan saya sudah ditolak karena tidak ada panggilan selama 4 tahun. Hingga akhirnya saya berangkat ke Pakistan segera setelah mendengar ada kesempatan ke sana.

Ketika saya konsultasi kepada kyai saya KH. Syukron Makmun untuk memohon pertimbangan, apakah saya lanjutkan kuliah di Pakistan yang sedang berlangsung? atau saya ambil panggilan dari Makkah? Beliau menjawab, "Ambil Makkah, insya Allah berkah". Sejak itulah saya berangkat ke Tanah Suci, dan alhamdulillah hingga telah lulus kuliah pun, Allah masih memberi kesempatan ke Tanah Suci berkali-kali.

Allah swt berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya". (QS. At-Tholaq: 3)

Kamis, 06 Juli 2023

Inilah Ciri Haji Mabrur

Jamaah Haji Pasca Thawaf Wada' (thawaf perpisahan)
Tidak ada bentuk ibadah individual dalam Islam melainkan hasil yang diharapkan darinya adalah kebaikan secara sosial.  Saat seorang muslim patuh melaksanakan ibadah shalat, maka diharapkan dari perbuatan shalatnya itu adalah tercegahnya ia dari perbuatan keji dan mungkar. Saat kita menunaikan zakat, maka yang diharapkan dari kita adalah terhindar dari sifat kikir serta memberi efek kepeduliaan dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Demikian juga saat kita melaksanakan ibadah puasa, diharapkan kita terhindar dari sifat emosi serta dapat menahan hawa nafsu yang akan merugikan pihak lain. Itulah inti dari risalah (misi) diutusnya Rasulullah saw. Sebagaimana beliau bersabda: "Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak (perilaku) yang sempurna." (al-hadist)

Demikian pula dengan ibadah haji yang kita lakukan, hendaknya ibadah haji tersebut memberi efek positif secara sosial.

Para ulama sepakat bahwa salah satu indikasi kemabruran seorang jamaah haji adalah menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari pribadi sebelumnya.

Di antara ciri kemabruran seorang jamaah haji yang yang telah melaksanakan haji adalah:

  1. Thiibul Kalaam (طيب الكلام) tutur katanya menjadi baik, lembut dan ramah. Ucapannya  enak didengar oleh yang mendengarnya. Tidak kasar dan tidak menyakiti lawan bicaranya. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang memiliki sifat sabar dan sopan santun kepada orang lain.
  2. Ithámut Thoám (اطعام الطعام) peduli kepada kaum lemah dan miskin . Berkali-kali melaksanakan umroh atau haji tidak akan berguna jika tidak memberi efek positif bagi lingkungannya, terutama kaum miskin dan dhuafa. Abdulllah bin Mubarok, seorang tabiín, ulama dan waliyullah pernah berhaji unuk kesekian kalinya. Saat berangkat bersama rombongan jamaah haji, rombongan beristirhat di sebuat perkampungan yang dilewatinya. Saat rombongan singgah bersitirahat, Abdullah bin Mubarok berkeliling desa. Didapatinya seorang janda yang memungut  hewan yang sudah mati menjadi bangkai lalu dimasaknya. Abdullah bertanya kepadaya, "Bukankah daging bangkai itu haram dimakan?" Sang Ibu janda menjawab, "Haram buat tuan, tapi halal buat kami, karena kami dan anak-anak kami sudah tiga hari belum menemukan makanan, sementara kami dalam keadaan darurat diperbolehkan mengkonsumsi bangkai agar kami dapat bertahan hidup." Seketika itu juga hati Abdullah bin Mubarok tertegun, ia pun menyerahkan seluruh harta perbekalan untuk melanjutkan perjalanan menuju Makkah, ia  serahkan semua harta perbekalannya kepada ibu janda beranak tersebut. Abdullah pun kembali ke kampung dan tidak ikut bersama rombongan kefilah haji  ke Tanah Suci. Singkat cerita, para jamaah haji kembali ke rumahnya setelah merampungkan ibadah haji mereka. Salah seorang jamaah haji bersilaturrahmi ke rumah Abdullan bin Mubarok, lalu berkata, "Alhamdulillah ya syaikh (tuan guru), kita sudah bersama-sama pergi haji tahun ini ya? Semoga haji kita haji yang mabrur." Abdullah terheran dan berkata, "ya aamiin. tapi saya tidak jadi berangkat ke Mekkah. Saya kembali ke rumah." Namun sang tamu itu bersikukuh dan yakin, bahwa Abdullah bin Mubarok ikut berhaji ke Tanah Suci. "Saya melihat Anda dan kita sama-sama berthowaf dan berwukuf kan?" Abdullah hanya bisa terdiam. Saat malam tiba dan Abdullah tertidur beliau bermimpin bertemu dengan Rasulullah saw. Dalam mimpi itu Rasulullah mengabarkan bahwa hajinya Abdullah telah dibadal hajikan  (digantikan) oleh malaikat karena harta yang diperuntukkan berhaji diberikan kepada sang janda dan anak-anak yatim yang sedang kelaparan dan membutuhkan pertolongan. Kisah ini menunjukkan pentingnya kepedulian dari pada berkali-kali umroh atau haji namun masih tidak peduli kepada kaum miskin dan dhuafa.
  3. Shilatul Arham (صلة الأرحام) menjadi agen perekat umat. Ciri lain dari kemabruran seorang jamaah haji adalah menjadi unsur perekat umat. Menjadi penyatu dan mendamaikan antara umat Islam. Baik di lingkungan keluarga terdekat, masyarakat serta di tengah-tengah umat. Jamaah haji tidak diperbolehkan menjadi provokator yang memecah belah keluarga, masyarakat dan umat. Sebaliknya ia harus menjadi unsur perekat umat dan bangsa.
Jika para jamaah haji memiliki ciri-ciri tersebut, insya Allah bukan hanya mabrur hajinya, namun menjadi alumni-alumni haji yang dirindukan oleh semua makhluk Allah. Bahkan dirindukan Allah, malaikat, Rasul dan semua kaum muslimin, bahkan seluruh makhluk  yang ada.

Semoga para jamaah haji yang telah melaksankan haji-nya tahun ini benar-benar menjadi haji yang mabrur dengan indikasi dan ciri di atas. Sehingga mereka pulang bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan, bersih dari segala dosa, dan orang-orang yang melihatnya merasa gembira dengan kelahirannya...Amin


Senin, 03 Juli 2023

Seni Menjemput Kematian

Kematian pasti datang pada setiap manusia yang bernyawa. Namun bagaimana cara maut menjemput kita, atau kita menjemput kematian? Itu memiliki seni (baca: cara) tersendiri.

Sebagai contoh almarhum Paimin yang berangkat haji tahun ini (2023). Beliau wafat tepat setelah prosesi wukuf di Arafah usai. Setelah shalat zhuhur-Ashar jamak takdim, khutbah wukuf dan zikir wukuf selesai, dua jam setelah itu beliau dipanggil Allah swt.
Ketika saya melihat istrinya begitu tegar dan kuat menghadapi musibah ini. Isterijya bercerita, “Ini sudah menjadi cita-cita bapak sejak dahulu. Beliau pernah berkata ingin wafat di tempat yang mulia. Saat ibadah haji.”
Jenazah beliau saat dikafani tidak ditutup kepalanya seperti pocong umumnya jenazah, karena beliau dalam kondisi masih ihrom. Dan akan dibangkitkan di alam kuburnya dalam keadaan sedang ihrom. Suatu episode akhir yang baik (husnul khotimah).
Lain lagi dengan almarhumah ibu Narsi, beliau malah diwafatkan Allah setelah merampungkan semua prosesi ibadah hajinya. Tepat beberapa waktu seusai thawaf ifadhoh (rangkaian akhir ibadah haji) beliau pun dipanggil Allah. Sebenarnya, beliau seharusnya pergi haji sejak tahun kemarin bersama suaminya, tapi karena masih dalam keadaan sakit maka tidak bisa berangkat. Hanya suaminya yang bisa haji sendirian tahun lalu. Tahun ini bulat tekadnya untuk berhaji, dan suaminya pun merelakan berangkat tanpa didampinginya. “jannah.....jamnah..…insya Allah..” ujar satpam wanita Arab berpakaian merah kecoklatan di Mall Clock Tower yang membantu evakuasi almarhumah ke rumah sakit Ajyad di hotel Shofwah usai almarhumah thawaf ifadhoh di masjidil Haram dengan menggunakan roda dorong
Ya Allah ikhtim lanaa bi husnil khotimah..

Rabu, 06 Mei 2020

Makkah Lockdown, Tapi Ramadhan ini Dia Sudah 12 kali Melaksanakan Umroh?



Sentilan-sentilun Ramadhan
Oleh :  Muhammad Jamhuri

“Alhamdulillah…. pak ustadz, berkat baca tulisan pak ustadz, akhirnya saya bisa juga melaksanakan ibadah haji dan umroh sebanyak 12 kali….…” ucap seorang jamaah yang bertamu di sela-sela obrolan panjang untuk konsultasi sebuah urusan.

“Apa…?..Kita kan gak jadi berangkat umrohnya, pak?....Makkah masih Lockdown, apalagi berhaji. ‘Kan belum datang musim haji. Minimal haji itu dimulai dari bulan Syawal.” Kata ustadz keheranan.

“Ah….masa ustadz lupa sih..? Tanya jamaah.

“Saya gak lupa… Tadinya kita mau berangkan umroh reuni kan? Bareng dengan jamaah-jamaah lain yang dulu kita pernah pergi hajian bersama?” Tanggal berangkatnya juga saya hafal. Tapi kan kita gak jadi berangkat. Gara-gara Corona. Makkah ditutup untuk ibadah umroh?.Ustadz menjelaskan.

“Ah, ustadz ini bagaimana siiih…?. Kata ustadz kita bisa melaksanakan ibadah haji dan umroh meskipun tidak berangkat ke  Makkah?” Ungkap jamaah menambah heran ustadz.

“Sebentar..sebentar…! Saya gak pernah mengatakan bahwa ibadah haji dan umroh boleh dilakukan di selain Makkah. Bahkan waktu manasik dulu, saya jelaskan, ibadah haji dan umroh di Madinah saja tidak ada dan tidak boleh. Masyair al-Haram atawa tempat pelaksanaan haji itu adanya di Makkah…Adapun di Madinah hanya ziarah ke Makam Rasulullah saw dan para sahabat serta sholat di Masjid Nabawi, bukan ibadah haji….. . Nah,.. kecuali aliran Ahmadiyah yang memperbolehkan ibadah di Lahore, Pakistan. Hmmm apakah bapak sudah jadi pengikut Ahmadiyah nih?” Tanya ustadz.

“Ustadz ini bagaimana sih? Mana mungkin saya ikut aliran sesat ustadz..? Sanggah jamaah.

“Begini ustadz…..” lanjut jamaah. “Ustadz kan pernah tulis status di Facebook, bahwa di musim Corona ini, kita bisa melaksanakan ibadah haji dan umroh, saat Stay Home. Yaitu, dengan sholat subuh di rumah, lalu habis sholat subuh, berdiam di tempat sholatnya sambil berzikir, hingga waktu syuruq, kemudian sholat berjamaah. Nah, kata ustadz, itu sama dengan melaksanakan ibadah haji dan umroh.” Jelas jamaah.

“Ohhhhh…iya..iya..  saya baru ingat.” Kata ustadz sambil kedua matanya melihat ke atas atap rumah mengingat-mengingat status yang pernah ditulisnya di Facebook.

“Waahhh, Alhamdulillah ya..? Bapak mengamalkannya ya..?. Betul, pak. Kata Nabi saw, “Barangsiapa yang sholat subuh, kemudian dia duduk berdiam di tempat sholatnya, sambil berzikir hingga waktu syuruq (terbit matahari agak tinggi) lalu shalat dua rakaat, maka dia mendapat pahala haji dan umroh, sempurna-sempurna-sempurna.” Ucap ustadz melanjutkan.

“Nah..itu dia pak ustadz….tapi, maaf, pak ustdaz, boleh Tanya?, : hadist-nya shahih gak tuh pak ustadz?” Tanya jamaah.

“Hadistnya tidak sampai ke derajat shahih, namun sudah derajat “hasan”. Tingkatannya di bawah shahih. Para ulama memperbolehkan mengamalkan hadist hasan. Hadist ini terdapat pada kitab Sunan Tirmidzzi dalam Kitab al-Sholat. Juga di kitab Tuhfah al-Ahwadzi Syarah Sunan at-Trimidzi No. 583. Al-Mubarkafuri menyebut, “Hadist ini dihasankan oleh Imam Tirmidzi.  Syaikh al-Bani pun menyebut hadist ini dalam kitab Shahih al-Jami al-Shaghir No. 6222 dari hadist Anas bin Malik.” Jelas ustadz.

“Alhamdulillah…..pak ustadz.” Ucap jamaah lega. “Tapi kira-kira, kita tetap jadi gak, umroh reuniannya..?” Tanya jamaah.

“Insya Allah, semoga saja wabah Corona ini cepat berlalu…” Harap ustadz.

“Oh ya pak ustadz, ada family teman kita yang akan ikut reuni umroh kita, tapi beliau pekan lalu keburu wafat dipanggil Allah swt. Apakah perlu di-badal-kan umrohnya gak ustadz….? Tanya jamaah lagi.

“Oh ya, umroh itu hukumnya sunnah, bukan wajib. Jika ahli warisnya mampu mengumrohkan almarhumah, maka itu lebih baik. Jika tidak pun, tidak apa-apa.  Nah, kalau keluarganya jadi pergi umroh saat musim Corona berlalu dan Makkah dibuka lagi, maka bisa sekalian mem-badalkan umroh almarhumah yang telah meninggal itu. Di sana kan kita bisa dua-tiga kali umroh? Nah di salah satunya kita dapat meng-umrohkan beliau….”. Jelas ustadz.

“Kalau badal umrohnya borongan boleh gak pak ustadz..?. Tanya jamaah.

“Maksud badal borongan itu bagaimana pak? Ustadz penasaran.

“Kita melaksanakan umroh untuk membadalkan semua keluarga kita yang telah wafat? Kakek, nenek, paman, bibi, orang tua, mertua?” Tanya jamaah.

“Haa..haa..badal umroh atau haji bukan seperti kendurian atau Tahlilan pak, yang sekali duduk dan sekali fatihah bisa kita hadiahkan kepada semua almarhum keluarga kita…. Jadi, satu amalan umroh atau haji hanya berlaku untuk satu orang almarhum atau almarhumah doang…” Jelas ustadz.

“Ohhhh..gitu ya..? Yaudah pak Ustadz, saya pamit. Alhamdulillah, konsultasi urusan kami tadi sudah selesai dijawab ustadz. Saya pamit ya pak Ustdaz. Oh ya, doian juga pak ustadz ya, sisa Ramadhan ini saya bisa istiqomah duduk berzikir abis subuh hingga waktu syuruq. Biar dapat pahala haji dan umroh nya JUMBO”. Ucap jamaah mengakhiri pembicaraannya sambil pamit berjalan menuju mobilnya.

(Rumpin, 6 Mei 2020)

Rabu, 03 April 2019

Keseimbangan Antara Usaha Lahiriyah dan Usaha Batiniyah


Seri Taujih Kemenangan

Mengapa Nabi saw saat berhijrah harus sembunyi-sembunyi? Mengapa beliau repot-repot memulai keberangkatannya menuju Madinah melalui arah selatan sementara Madinah berada di utara Makkah? Mengapa harus bersembunyi dahulu selama tiga hari di Gua Tsur sebelum melanjutkan ke Madinah? Apakah Nabi saw takut kepada manusia? Apakah Nabi tidak yakin bahwa beliau akan dilindungi oleh Allah swt?. Tidak, semua langkah-langkah itu dilakukan untuk memberi pelajaran kepada umatnya bahwa umatnya tidak boleh meninggalkan usaha lahiriyah, sebagaimana tidak boleh juga meninggalkan usaha batiniyah.

Terkadang dalam mencapai suatu cita-cita kita hanya mengandalkan do’a tanpa usaha. Atau mengandalkan usaha dan kerja keras tanpa do’a. Sikap itu tentu saja tidak benar. Karena tidak ada keseimbangan. Sedangkan Allah swt meletakkan alam ini dengan segala keseimbangan. Dan melarang kita melewati neraca keseimbangan. Firman Allah swt:

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ . أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan). Hendaklah kamu jangan melampaui batas tentang neraca (keseimbangan) itu. (QS.al-Rahman 7-8)

Saat seorang sahabat datang ke majlis Rasulullah saw, Nabi saw bertanya padanya, “Di mana kau meletakan unta-mu?”. Sahabat itu menjawab, “Saya lepas di luar?”. Nabi saw bertanya, “Tidakkah kau ikat unta itu?” Sahabat itu menjawab, “Saya sudah tawakkal (berserah diri) pada Allah”. Nabi saw bersabda, “Ikatlah ia, kemudian barulah bertawakkal kepada Allah”. 

Pesan Nabi saw ini mengisyaratkan kepada kita, tidak cukup bertawakkal tanpa usaha lahiriyah berupa mengikat unta terlebih dahulu.

Ketika serombongan pasukan muslim berjalan akan melewati suatu daerah yang terkena wabah penyakit menular, Umar bin Khattab memerintahkan rombongan untuk melewati jalur lain, agar tidak tertular. Namun ada sebagian sahabat yang berkata dengan penuh keyakinan, “Bukankah kita akan ditentukan oleh takdir. Jika Allah mentakdirkan kita sakit maka sakitlah kita, dan jika tidak ditakdirkan sakit, kita pun akan sehat?”. Namun Umar bin Khattab berkata, “Kita menghindar dari satu takdir ke takdir lain”.

Saudara, dalam suatu perjuangan kita tidak cukup hanya usaha batiniyah. Shalat dan berdoa saja tanpa usaha lahiriyah. Sebagaimana tidak cukup dengan hanya mengandalkan usaha lahiriyah. Strategi dan logistik. Namun keduanya harus kita jalankan dengan keseimbangan.
Ada lima kondisi terkait hubungan antara usaha lahiriyah dan usaha batiniyah:


  1. Jika kita hanya mengambil usaha lahiriyah tanpa usaha batiniyah, maka kita dapati kebahagiaan secara lahiriyah, namun sengsara secara batiniyah 
  2. Jika kita hanya mengambil usaha batiniyah tanpa usaha lahiriyah, maka kita dapati kebahagiaan secara batiniyah, namun sengsara secara lahiriyah. 
  3. Jika kita meninggalkan keduanya, maka akan sengsara secara lahiriyah dan batiniyah. 
  4. Jika kita mengambil keduanya, maka akan bahagia secara lahiriyah dan batiniyah 
  5. Terkadang usaha lahiriyah dikalahkan oleh usaha batiniyah. Terutama di kondisi-kondisi emergency. Sebagaimana diselamatkannya Nabi saw dari usaha pencarian dan pembunuhan saat bersembunyi di Gua Tsur pada peristiwa hijrah. Padahal kaum Quraisy hanya terhalang oleh sarang laba-laba yang rapuh itu untuk mendapatkan dan membunuh Nabi saw dan sahabatnya Abu Bakar Ash-Shddiq di dalam gua tersebut.

Intinya, kita tidak boleh meninggalkan salah satu dari usaha lahiriyah dan usaha batiniyah. Karena dengan usaha lahiriyah dan batiniyah yang maksimal, Allah akan membantu kita di luar jangkauan hukum alam. Terutama di saat dalam kondisi emergency. Allah akan turun membantu kita. Bukankah secara hukum alam, kobaran api seharusnya membakar tubuh Nabi Ibrahim as?. Bukankah laut tidak dapat terbelah saat Musa as dan kaumnya tidak mendapat tempat berlindung dari kejaran Fir’aun? Bukankah rumah laba-laba yang sangat rapuh itu tidak dapat melindungi apalagi membentengi Nabi Muhammad saw dari jangkauan kaum Quraisy?. Apa rahasianya sehingga hukum alam tunduk kepada kemaslahatan manusia? Rahasianya adalah karena mereka para pejuang mengambil dua usaha secara berimbang: usaha lahiriyah dan usaha batiniyah. Jika keduanya dilaksanakan dengan maksimal, maka tangan Allah swt akan ikut membantu dan bergerak menolong kita.

Wallahu a’lam bis showab

Rumpin, 3 April 2019

Muhammad Jamhuri.


Kamis, 15 November 2018

Keutamaan Sholawat; Sebuah Testimoni


Keutamaan Sholawat; Sebuah Testimoni

Menjelang pulang umroh, saya dan jamaah umroh ditempatkan di salah satu hotel di Jeddah. Kebetulan saat itu hari Jum’at. Kami menunaikan shalat Jumat di sebuah masjid yang terletak di belakang hotel tersebut. Sang syeikh meyampaikan khutbah Jum’atnya saat itu, bercerita tentang testimoni keutamaan shalawat. Begini kisahnya;

Ada seorang pemuda berangkat haji bersama ayahnya. Saat di perjalanan, ayahnya wafat. Setelah pengurusan jenazah, pemuda itu pun berangkat bersama kafilah haji melanjutkan perjalanannya ke Tanah Suci. Salah seorang rombongan haji menemui keanehan pada sang pemuda ini, Karena setelah diperhatikan, pemuda ini selalu membaca shalawat. Bahkan dalam setiap putaran thawaf pun hanya shalawat yang dibaca. Bukan hanya saat thawaf, bahkan saat sai, wukuf, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina pun bacaan zikir yang dibaca hanya sholawat. Padahal jamaah haji lain membaca zikir-zikir sesuai putaran dan tempatnya (sekalipun bukan syarat sah nya haji).

Maka orang yang bersama pemuda yang ditinggal wafat oleh ayahnya di perjalanan ini pun penasaran dan mengajukan pertanyaan, “Wahai anak muda, aku perhatikan, engkau selalu berzikir shalawat dalam setiap putaran thawaf dan sai, bahkan saat wukuf dan mabit? Mengapa tidak membaca bacaan lain seperti jamaah haji lain?”

Pemuda ini menjawab, “Wahai kawan, bukankah engkau mengetahui, bahwa ayahku telah wafat di perjalanan? Ketahuilah bahwa saat beliau wafat aku melihat ayahku kepalanya berubah menjadi kepala seekor keledai. Aku pun panik dan sedih mengapa ayahku akhir hidupnya seperti itu?, padahal beliau boleh dikata rajin shalat, dan wafat dalam keadaan sedang menuju tanah suci untuk melaksanakan rukun islam yang kelima, namun mengapa di akhir hidupnya mengalami seperti ini? Aku terus menangis dan sedih seperti menangisnya anak kecil. Hingga tangisku melelahkanku, dan aku pun tertidur.”

“Saat aku pulas tertidur, tiba-tiba aku bermimpi. Dalam mimpi itu aku didatangi oleh seorang yang berwajah paras bersinar dan berwibawa. Orang itu bertanya, “Hai pemuda, mengapa engkau menangis?” Saya menjawab, “Tuan..., saya menangis karena menyesali akhir hidup ayahku, dia mati dalam kondisi kepalanya berubah seperti kepala seekor keledai, aku tidak tahu dosa apa yang penah dilakukan ayahku semasa hidupnya, padahal ayahku terlihat rajin shalat dan kini sedang dalam perjalanan menuju ke Tanah Suci.”

Kemudian orang itu bertanya, “Di mana sekarang ayahmu?” . “itu Tuan” jawab saya. Lalu orang itu membuka kain yang mentup jenazah ayah saya, kemudian diusapnya wajah ayaku itu, dan seketika kepala ayahku itu kembali menjadi normal kembali seperti biasa, bahkan lebih bercahaya daripada keaadaan semula. Melihat kenyataan itu, saya pun bertanya, “Maaf Tuan, boleh aku bertanya?, siapakah gerangan Tuan? Dan dosa apakah yang telah dilakukan ayahku sewaktu masih hidup?”

Orang itu menjawab, “Aku adalah Muhammad Rasululllah, dan ayah mu pernah meninggalkan shalat, dan jika shalat kadang mendahului imam saat bangun dari ruku atau sujud. Sehingga kepala ayahmu berubah menjadi kepala seekor keledai. Untung saja ada kebiasaan baik yang dilakukan ayahmu setiap akan tidur. Yaitu setiap akan tidur ayahmu selalu membaca shalawat kepadaku tidak kurang seratus kali, sehingga saat ayahmu mengalami akhir hidupnya dalam keadaan seperti itu, aku pun memohon kepada Allah agar aku diberi izin memberi syafaat kepada ayahmu ini, karena telah melazimkan bershalwat untukku.”

Kemudian pemuda itu melanjutkan ceritanya kepada temannya yang bertanya tadi, “Seketika, saat itu, tiba-tiba aku  terbangun dari tidurku. Lalu aku sadar bahwa peristiwa tadi hanyalah berupa mimpi. Namun aku penasaran untuk segera melihat wajah ayahku, karena dalam mimpi itu, orang yang datang kepadaku mengaku Nabi Muhammad saw, aku mendengar hadist bahwa ‘Barangsiapa bertemu Nabi saw dalam mimpi, maka ia benar bertemu beliau, karena syaitan tidak dapat menyeruipai nabi hingga dalam mimpi sekalipun’. Segera ku buka kain penutup wajah jenazah ayahku, dan ternyata benar, kini ayahku wajahnya kembali seperti semula, bahkan terlihat lebih bersinar dari kondisi sebelumnya. Aku bersyukur saat itu. Dan aku pun sadar bahwa memperbanyak shalawat kepada Nabi saw itu akan mendapat syafaat dari beliau. Sejak itulah aku melazimkan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw, bahkan dalam tiap putaran thawaf dan sa’i-ku. Juga saat aku wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah dan Mina. Agar aku mendapat syafaat dari Nabi Muhammad saw, seperti ayahku.”
Begitu kisah pemuda menjawab rasa aneh kawan seperjalanan hajinya ke Tanah Suci.

Kawan, ketahuilah, bershalawat itu sangat penting.  Jika Allah memerintahkan kita akan shalat atau zakat, Allah tidak perlu melaksanakan shalat dan zakat. Namun pada saat memerintahkan kita bershalawat kepada Nabi saw, Allah bahkan memberi contoh bahwa diriNya dan para Malaikat-Nya menyampaikan shalawat pada Nabi saw.
Firman Allah swt; “Sesungguhnya, Allah dan para malaikatNya menyampaikan shalawat kepada Nabi, Hai orang-orang yang beriman, bershalawat dan ber taslim-lah kepada Nabi saw.” (QS. Al-Ahzab: 56)

KH. Muhammad Jamhuri, Lc.MA
Pengasuh Pesantren TEI Multazam – Bogor
Pembimbing Haji dan Umroh

Sabtu, 12 Maret 2016

Hidup Antara Adzan dan Iqomah

Ayyuhal mukminin rahimahulloh...
Hidup kita ini teramatlah singkat, hanya laksana waktu antara adzan dan iqomat.
Karenanya, mari berbekal utk kehidupan yg lebih kekal yakni Akhirat.
Dan sebaik-baik bekal adalah Taqwa...
"wa tazaawadu khoiru zadid taqwa..".
Tidakkah kita perhatikan dalam panggilan muadzin ada dua panggilan yang kita jawab berbeda dg panggilan tersebut.
Ketika muadzin memanggil kita dg panggilan : "Allohu Akbar-Allohu Akbar", kitapun menjawabnya dengan Allohu Akbar. Dan seterusnya.
Namun disaat muadzin panggil kita dengan "Hayya 'Alash-sholah", kita menjawabnya dengan "Laa khawla wala kuwwata illa billah".
Ini menandakan bahwa, kita ini adalah hamba yg lemah, mesti tawadhu, dan senantiasa bersandar kepada Yang Maha Kuat.
Betapa banyak di luaran sana orang2 yg Gagah, Tegap, Kuat fisiknya, berlimpah hartanya. Namun utk berdiri sejenak menghadap Rabbnya dg sholat tiada sanggup.
Allohu Akbar...
Betapa sholat adalah pekerjaan berat luar biasa.
وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِ‌ۚ وَإِنَّہَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَـٰشِعِينَ (٤٥)
Dan mintalah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan [mengerjakan] shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (45)
ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّہُم مُّلَـٰقُواْ رَبِّہِمۡ وَأَنَّهُمۡ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ (٤٦)
[yaitu] orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (46)
Panggilan kedua muadzin yg kita jawab berbeda adalah "Hayya 'Alal Falaah".
Ayyuhal jama'ah...
Setiap kita berharap menjadi orang yg sukses lagi bahagia...
Tapi kita lupa bahwa pemilik sukses & bahagia adalah Alloh SWT.
Kita kerja siang-malam mencari harta berharap bahagia, hingga meninggalkan sholat, atau pun sekedar mengakhirkan sholat. Kita tidak sadar telah menomor sekian kan urusan Alloh SWT.
Padahal, siapa menomor satukan Alloh atas segala urusannya maka Alloh akan mudahkan segala urusannya.
Allohu Akbar....
Saudaraku...
Mari perbaiki cara hidup kita, lebih khusus lagi cara kita berdoa.
Kisah Nabi Yunus as, cukuplah jadi ibroh bagi kita.
Disaat tugas dakwah belum selesai, ia tinggalkan ummatnya yg masih membangkang atas seruannya.
Singkat cerita, ujian Alloh berikan kepadanya. Terperangkap dlm gelap perut 🐋 yang melahapnya saat dilemparkan dari perahu yang ditumpanginya.
Allohu Akbar....
Disaat sperti itu, dg penuh ketundukan dan harap Nabi Yunus as berdo'a diawali dg muhasabah sepenuh pasrah..
"Laaa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin...."
Hingga akhirnya diijabah dan terbebaslah dari masalah...
Subhanalloh....
Kisah lain, dari Hasan Al-Basri..
Tatkala dalam majelis beliau hadir 3 org berbeda profesi mengadukan problematika hidupnya dan berharap dapat solusi.
Orang pertama, sang Petani yg gagal panen terus-terusan... dikasih solusi "perbanyaklah istighfar...".
Orang kedua, sang pedagang yg menuju kebangkrutan karna snantiasa merugi dalam perniagaannya... dikasih solusi oleh syekh Hasan Al-Basri "perbanyaklah istighfar...".
Dan orang ketiga, sudah sekian lama menikah tak kunjung mendapat keturunan....dikasih solusi serupa oleh syekh Hasan Al-Basri "perbanyaklah istighfar...".
Jawaban ini, menggelitik keingin tahuan salah seorang murid beliau yang kmudian memberanikan diri bertanya. "Wahai guru... kenapa setiap permasalahan hidup yg mereka sampaikan engkau jawab dengan "perbanyak istighfar", adakah dalilnya dalam Al-Qur'an.
Sang Murobbi pun tersenyum seraya berkata, "tadaburilah olehmu wahai anakku surat Nuh ayat 10-12".
فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُ ۥ كَانَ غَفَّارً۬ا (١٠)
maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, (10)
يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارً۬ا (١١)
niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, (11)
وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٲلٍ۬ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡہَـٰرً۬ا (١٢)
dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan [pula di dalamnya] untukmu sungai-sungai. (12)
Ayyuhal ikhwah....
Mari berbenah...
Awali munajat sepenuh harap kita dengan do'a muhasabah laksana nabi Yunus as.
Perbanyak istighfar agar terurai segenap keruwetan hidup dan digantiNya dengan kesuksesan dan kebahagiaan.
Wallohu'alam bish-showab..
disarikan‬ oleh @Masigit
Salah seorang jamaah yang menyimak

Selasa, 03 Maret 2015

Jangan Remehkan Bersuci dan Kesucian



Tahukah Anda ibunda Syekh Abdul Qodir Jailani tidak menyusui beliau saat belaiu masih bayi sebelum dia berwudhu/bersuci?
Tahukah Anda Imam Bukhori, sebelum meriwayatkan sebuah hadits, beliau berwudhu dan sholat sunnah terlebih dahulu?
Tahukah Anda ibunda Badiuzzaman Said Nursi ahli tafsir asal Turki tidak menyusui putra-putrinya sebelum dia berwudhu?
Tahukah Anda, Mirza, ayahanda Badiuzzaman Said Nursi, saat remaja dan menjadi penggembala pantang hewan piaraannya memakan rerumput ladang orang lain?
Tahukah Anda saat Badiuzzaman Said Nursi tinggal selama setahun lebih di rumah sang gubernur yang memiliki gadis-gadis cantik, beliau belum pernah melihat wajah mereka?
Tahukah Anda, Yoyoh Yusroh, Srikandi Dakwah di Tanah Air dan pembela bangsa Palestina di sidang PBB serta anggota DPR dari PKS, jika telah “melayani” suaminya, beliau langsung mandi besar dan tidak menunggu nanti?
Tahukah Anda, seorang teman saya di Pesantren, jika mau makan, dia sempatkan dulu untuk berwudhu sebelum menyantap makanan?
Mereka-mereka adalah bagian terkecil dari umat Muhammad yang mempedulikan bersuci dan kesucian. Tidak heran jika keturunan mereka diberi taufiq oleh Allah swt, dan tidak heran jika kiprah hidup mereka begitu berkah. Karya amal mereka lebih lama dikenang dibanding jatah usia yang dimilikinya.
Saya sendiri seakan baru membaca satu ayat dari firman Allah swt berikut. Padahal, sejak usia remaja di pesantren saya sudah menghafalnya. Namun ketika ada suatu peristiwa yang saya kagum terhadap seorang yang boleh dibilang awam dalam pengetahuan agama, saya merasa baru menghafal ayat itu.
Begini kisahnya:
Saat itu musim haji tahun 2008. Semua jamaah haji sudah bersiap-siap akan wukuf di Padang Arafah. Ada seorang ibu usia baya yang ikut suaminya pergi haji. Suaminya adalah seorang pengusaha dari Makasar. Berangkatlah para jamaah haji ke Arafah, termasuk pasangan suami istri tadi. Saya pun ikut ke Arafah. Usai wukuf di Arafah, para jamaah diberangkatkan ke Muzdalifah. Setelah ambil syarat mabit dan mengambil kerikil di sana, para jamaah dibawa kembali ke syuqqoh/flat/hotel tempat menginap selama hari-hari armina (arafah-muzdalifah-mina) sebelum melaksanakan thowaf ifadhoh.
Di hotel, para jamaah diarahkan untuk berwudhu. Karena mereka akan melaksanakan thowaf ifadhoh. Termasuk ibu itu pun mengambil wudhu (bersuci). Ketika menunggu di ruang loby. Ibu ini merasakan pusing, lalu minta ditemani suaminya. Beberapa saat kemudian beliau minta didengarkan bacaan al-Quran, kemudian dia sempat berkata kepada suaminya, “Pak, semoga jamaah yang berangkat ini menjadi haji mabrur ya?”  “Amin” jawab suami singkat. Lalu ibu itu berkata, “Pak, saya izin berangkat dulu ya?” Lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat, dan tutup usia.
Esoknya, ibu itu dibawa ke Masjidil Haram untuk dishalatkan setelah shalat zhuhur. Sebelum dishalatkan, jenazah di letakkan di Hijir Ismail bersama suami yang ikut mengantarkan. Kemudian jenazah dishalatkan dengan jumlah makmum jutaan jumlahnya. Bayangkan...ibu itu wafat di Tanah Suci, wafat setelah bersuci, wafat di tengah melaksanakan ibadah haji yang suci, dishalatkan oleh juataan jamaah haji yang sedang melaksanakan ibadah nan suci, serta dikebumikan di Tanah Suci.
Saya penasaran akan kehormatan yang Allah berikan yang diraih ibu seperti ini. Saya pun menemui suaminya dan bertanya, “Pak, apa amalan istri bapak sehingga beliau mendapat kemuliaan dari Allah di akhir hayatnya?, apakah isteri bapak seorang ustazah?” Suaminya menjawab, “Tidak pak, isteri saya hanya seorang ibu rumah tangga...usianya kini sekitar 52 tahun. Sejak saya berkeluarga dengan beliau, beliau tidak pernah sakit, apalagi berobat di rumah sakit. Tidak pernah. Saat menjelang wafat pun tidak ada tanda-tanda dia sakit.”
“Lalu apa amalan isteri bapak sehingga beliau mendapat kemuliaan husnul khotimah” tanya saya. Bapak itu menjawab, “Ada dua amalan yang saya kagum terhadap isteri saya.”
Saya bertanya, “Apa dua amalan itu pak?” Bapak itu menjawab, “Isteri saya hatinya suci pak, saya kan pengusaha yang minimal sepekan sekali pergi keluar kota. Akan tetapi setiap saya datang –meskipun malam hari- dia selalu yang membukakan pintu rumah, dia juga yang menyiapkan minum dan air hangat untuk saya, dan dia tidak pernah bertanya ‘dari mana?’ atau ‘kenapa datang malam’?.dia tidak bertanya curiga. Itu pak yang membuat saya kagum”. Tambah suaminya.
“Lalu amalan yang kedua apa pak? Tanya saya. “Nah, isteri saya setiap kali akan bepergian pak –jangankan bepergian jauh, dia mau pergi ke pasar saja, pasti isteri saya itu berwudhu dahulu pak.” Jawab bapak itu.
Sampai titik inilah, saya tertegun, hati saya bergetar, sekaligus merasa malu kepada perempuan almarhumah ini. Padahal dia hanya seorang ibu rumah tangga, bukan seorang ustazah, namun dia melaksanakan ayat yang sangat sederhana, ayat yang dahsyat efek dan pengaruhnya. Dan disinilah saya seakan-akan baru membaca ayat yang sudah pernah saya hafal saat remaja di Pesantren dahulu. Ayat itu adalah:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS: al-Baqarah: 222)
Pantas jika Allah swt telah mencintai dan merindukannya, hingga Allah swt mengundang kehadiran dan pertemuannya di Tanah Suci dan dalam keadaan bersuci.
Pantas jika para ibu yang menjaga kesucian melahirkan tokoh-tokoh yang diberi taufiq dalam hidupnya.
Dalam kitab al-Barzanji, disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw terjaga garis keturunannya. Sejak zaman Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw, garis nasab bapak dan ibu moyang beliau bebas dari perbuatan yang kotor, kesucian nasabnya dijaga oleh Allah swt.
Al-Barzanji berkata:
تركوا السفاح فلم يصبهم عاره   #   من آدم والى أبيه وأمه
“Nasab mereka meninggalkan perbuatan mesum, hingga tidak terkena cela
Sejak nabi Adam hingga kepada ayah dan ibu beliau (Muhammad saw)”

Yuk kita berusaha untuk mengamalkan ayat yang  sederhana itu....
Mau makan...wudhu dulu
Mau Tidur...wudhu dulu
Mau Menyusui anak...Wudhu dulu
Mau pergi...wudhu dulu
Mau kerja....wudhu dulu
Mau mengajar...wudhu dulu
Mau nulis karya ...wudhu dulu
Mau facebokan...wudhu dulu
Mau twitteran...wudhu dulu
Singkatnya, kita ikuti lagu Mbah Surif yang sudah digubah Ust.Jamhuri (UJ)

“Bangun lagi..Tidur lagi..bangung lagi..tidur lagi..banguuuun..tidur lagi.(Mbah Surif)
“Wudhu lagi...batal lagi....wudhu lagi...batal lagi.....bataaaaal...wudhu lagi... (UJ)
“Ta’ gendong...kemana-mana...Ta’ gendong..kemana-mana (Mbah Surif)
“Ta’ Wudhu...kemana-mana....Ta’ wudhu...kemana-mana (UJ)
Ta’ dalam bahasa Jawa bermakna “pasti akan”
Moga almarhum Mbah Surif iman dan amalnya diterima Allah swt...Aamiin