Monday, August 21, 2017

Kenapa Surat al-Kahfi Bisa Melindungi Kita Dari Dajjal?

Sentilan-sentilun Ala U.J (Ustadz Jamhuri)

Kenapa Surat al-Kahfi Bisa Melindungi Kita Dari Dajjal?

"Ustafz, dalam hadist disebutkan bhw barangsiapa membaca surat al-Kahfi di hari Jumat maka dia akan dilindungi dari fitnah Dajjal. Saya mau tanya.. Kenapa surat al Kahfi bisa melindungi kita dari Dajjal? Padahal di surat al Kahfi tdk disebut kata2 Dajjal ? " Tanya jamaah dlm suatu kajian Tafsir Bulanan

"Kenapa? Langsung saya jawab ya? Soalnya waktunya udah sempit.
Pertama, Ya karena hadist nabi yg menjelaskan itu.

Kedua. Karena fitnah Dajjal itu bentuknya mirip sekali dgn fitnah-fitnah yg terdapat dalam surat itu.

Ketiga, alquran itu kitab yg relevan dan solutif. Artinya, meskipun kata dajjal itu tdk disebutkan tapi akan selalu relevan dan menjadi solusi di masa kapanpun. Itulah sebabnya banyak kisah-kisah dalam alquran menggunakan "fiil mudhori' (present continius tense) yg menyimpan pesan bhw kejadian yg lalu -esensi dan substansinya-akan tetap terulang di masa sekarang atau masa yg akan datang. Begitu juga solusinya, hanya ada dalam alquran. Saat kita gunakan petunjuk alquran.. maka dpt dipastikan kita akan keluar dari setiap problema" jelas ustadz

"Ustad... maaf.. Masih abstrak kok keterangannya ust? Bisa gak dijelaskan bentuk2 fitnah yg terdapat dlm surat alKahf?". Tanya jamaah penasaran

"Begini.. Dalam surat alKahfi itu ada 4 kisah. Ingat ya tadi.. bahwa meskipun kisah2 itu terjadi pd masa lalu.. tapi ia tetap relevan krn rahasia "fi'il mudhore" ya?

Nah 4 kisah itu adalah , pertama kisah Ashabul Kahfi, kedua kisah Org yg memiliki dua kebun. Ketiga kisah Nabi Musa dan Khidr as. dan Keempat kisah Dzulqornain.

Nah.. dalan kisah2 inilah tersimpan 4 fitnah yg mirip sama dg yg akan ditimbulkan oleh Dajjal nanti. Dalam kisah Ashabul Kahfi diceritakan ttg FITNAH AD DIIN (FITNAH AGAMA) dimana pemuda2 alKahfi yg teguh dlm beragama disweeping dan dicari-cari bahkan dikriminalisasi oleh penguasa. Cuma hanya krn teguh dlm beragama saja, mereka akan ditangkap hingga mereka menyelmatkan diri ke luar negeri....eh salah... ke dalan gua.

Lalu, dalan kisah seorang yg memiliki dua kebun (shohibul jannatain.. bukan shohibul iman ya..? Kalo dlm quran disebut "li ahadihima jannatain") terdapat fitnah harta (FITNAH AL-MAAL) krn org ini mempunyai kekayaan kebun (harta) yg melimpah hingga berkata "Saya yakin hari kiamat itu ndak ada.. ndak akan terjadi" (bahasa quran nya: "wa maa azhunus sa'ata qoimatan"). Ujian di zaman Dajjal adalah :Karena rayuan harta, seseorg sampe rela pidato.. eh.. bicara.. "Hari kiamat gak ada".Bukankah menafikan 1 rukun iman berakibat fatal?

Ketiga, dalam kisah Musa as dan khidr as terdapat FITNAH ILMu. Musa as pernah terbersit di hatinya "Ah..rasa2nya.. di negeri ini cuma aku yg paling pinter dan hebat dlm ilmu.. " hingga Allah menegurnya. "(musa!..) Disana ada hamba dari hamba2Ku yg Ku beri dari sisiKu ilmu (yg lebih) " (bhs qurannya: :abdun min ibadina.... wa allamnahu min ladunna ilma)
Nah.. fitnah ilmu di akhir zaman, adalah lahirnya org2 yg berani berfatwa pdhal ilmunya gak ada shg sesat dan menyesatkan.. berfatwa melawan kitab2 dan pendapat ulama yg sdh mu'tabaroh... atau memahami agama dg dangkal, lalu bom sana bom sini.. ceteknya se cetek sumbu bomnya.. he.. he..

Keempat, dalam kisah Zulkarnaen terdapat fitnah kekuasaan (FITNAH AL-SULTHOH) dimana saat itu semua rakyat merasa jika didatangi penguasa dan memasuki sebuah negeri maka mrk selalu akan terancam. Hingga saat Zulkarnaen sbg penguasa barat dan timur datang ke sebuah negeri, maka rakyat itu merasa terancam.. Lalu Zulkatnaen sbg raja muslim yg adil berkata.. bahwa ia hanya akan menyiksa kepada org yg zhalam saja. (wa amma man zholama fa saufa uafzdibuhu adzaban nukro.. ")
Fitnah Kekuasaan di akhir zaman adalah negara2 kuat datang ke negara2 miskin menjajah..mengancam pemimpin dan rakyatnya dan mengeruk kekayaan negeri2 yg didatangimya". Jelas ustafz panjang lebar

"Kok.. spt nya fitnah2 itu sdh ada ust? " jamaah lain menimpali

"He.. he.. Makanya utk jaga2 dari fitnah itu, nabi saw nyuruh kita baca surat al Kahfi tiap malam atau hari Jumat, jangan lupa ye? " Ustadz menimpali

"Oh iye..kebetulan nih pak ustadz.. malam ini malam jumat... " jamaah lain menimpali

"Tapi= Kata ustad tadi, solusinya juga ada dalam quran,?bisa disebutkan Ustad?" Pinta jamaah lain

(Tiba2 terdengar azan isya)

"Maaf.. berhubung sdh adzan isya.. Maka pengajian kali ini kita tutup dulu dan kita lanjutkan bulam depan ya? " ustadz mengakhiri talimnya

"Jgn lupa mlm ini malam jumat.. dan besok hari jumat" Tambah Ustadz mengingatkan lagi..

"Malam jumat ada yg sunnah ye ustdz? ehm.. ehm? " Jamaah sambil senyum

"Iye.... sunah baca al Kahfi...!!!! Subhanakallahumma wa bihamdik..... Wassalamulaikum wr wb.. " Ustadz menutup pengajiannya.

DI MAKKAH BICARA PUN DIGANJAR CASH, HATI-HATI

Banyaknya jamaah haji yg agak manja, membuat dokter petugas haji mengeluhkan jamaah haji yang sebentar-bentar minta obat. Keluhan itu disampaikan dalam rapat evaluasi petugas.

Sebagai "Amirul Hajj", saya ikut prihatin, khawatir ketersediaan obat akan minim sebelum hari puncak ibadah haji tiba, padahal puncak ibadah haji masih panjang.

Lalu saya bilang, "Para petugas/ muthowwif harus memberi pemahaman, bahwa kita jangan menggantungkan kesehatan kita pd obat, krn dlm tubuh kita juga ada obat"

Usai rapat, malamnya sy mengalami sakit yg belum pernah sy alami begitu sangat sakit sekali. Saya mencoba bertahan. Saya tdk mau minum obat. Blm pernah sakit dahsyat ini sy alami sebelumnya. Tapi rasa sakit semakin menjadi-jadi. Akhirnya sy we-a ke dokter petugas haji. "dok, punya obat sakit gigi tdk?". Beliau menjawab "ada". Tapi masih itikaf di masjid. Sy sendiri -saking begitu sakitnya di rahang dan sekitar, tdk berlama-lama di masjidil haram. Usai shalat subuh dan shalat jenazah langsung menuju apotik utk beli obat, krn sdh tdk tahan.

Penjual di apotik menyarankan obat diminum setelah makan. Sy langsung menuju restorant hotel, namun restoran msh blm buka krn masih terlalu pagi. Shg sy blm bisa minum obat.

Sy ke kamar menggerutu betapa baru kali ini sakitnya tak bs diajak kompromi. Sy oleskan gigi dgn odol herbal yg katanya bs obati sakit gigi. Tapi malah terasa sakit.

Sy pun berwudhu sambil muhasabah.. Ya.. Saya ingat bhw semalam dlm rapat itu seakan berpesan secara tersirat. "Kita jgn tergantung pd obat agar obat tdk cepat habis". Sy sadar telah melakukan kesalahan, krn tdk semua org bisa sembuh kecuali hrs ditangani dg obat, meskipun diyakini ALLAH lah yg menyembuhkan dan menyehatkan. Disini sy menelan ludah sendiri. Disini sy menganjurkan utk tdk tergantung pd obat, namun pagi itu sy justru sangat membutuhkan cepat dpt obat.

Sy beristighfar membaca doa nabi Yunus "laa ilaha illa anta inni kuntu minafz dzalimin". Juga doa nabi Adam as, "Robbana zholamna anfusana wa illam tahgfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khosirin"

Dokter pun dtg ke kamar hotel sy memberi obat, sy minum, juga minum obat yg ku beli dari apotik. Tidak cukup sampai situ, tumben-tumbennya sy pun we-a istri di Tanah Air mohon didoakan supaya sgr disehatkan.

Siang bakda zhuhur rasa sakit pun turun....alhamdulillah hingga status ini ditulis, rasa sakit pun terus berkurang, pd sore dan malam hari bahkan bisa makan 2 kali dg lahap krn menemani tamu makan yg datang berbeda waktu.

Saat itu hati kecil berbisik pada ku, "Hei jamhuri, kamu jgn ngomong sembarangan, tdk semua org sama dg mu. Disana ada org yg sepuh, lemah, selalu hrs kontrol rutin. Bukankah engkau skrg pun membutuhkan obat. ?"

Subhanallah. Makkah memang selalu mengajarkan manusia akan arti kehidupan

Makkah 19 Agust 2017

Tuesday, August 23, 2016

Kedudukan Shalawat Kepada Nabi Muhammad saw



Rasanya, alangkah naifnya jika manusia seperti kita hanya mengandalkan amal yang kita persembahkan kepada Allah swt agar kita masuk surga. Karena begitu banyak kekurangan dalam amal-amal kita. Jangankan mengamalkan yang sunnah, yang wajib saja kita sering lalai. Oleh sebab itu, kita membutuhkan apa yang disebut “syafaat” Nabi Muhammad saw. Salah satu cara untuk mengundang turunnya syafa’at Nabi Muhammad saw adalah dengan membaca shalawat kepada beliau.

Dalam ajaran Islam, shalawat memiliki kedudukan yang amat mulia. Bahkan beberapa amal ibadah tidak sah jika tidak ada shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Tulisan ini tidak sedang mengetengahkan tentang keutamaan shalawat, karena hal itu sudah banyak dibahas orang. Akan tetapi tulisan ini akan menyampaikan tentang kedudukan shalawat menurut ajaran Islam. Meskipun, tidak dipungkiri,  antara kedudukan dan keutamaan mempunyai kedekatan makna dan keterikatan antara keduanya.

Beberapa kedudukan shalawat kepada Nabi Muhammad saw dapat diringkas sebagai berikut:
Pertama: Shalawat adalah amalan yang dicontohkan Allah swt langsung. Biasanya,  suatu perintah, hanya dilaksnakan oleh manusia, sedangkan Allah swt tidak melaksanakannya. Contohnya perintah shalat, zakat, puasa dan haji. Keempat perintah ini yang juga menjadi empat rukun Islam, hanya dilaksanakan oleh hambaNya. Dan Allah tidak melaksanakannya, Allah tidak shalat, tidak berzakat, tidak berpuasa, tidak berhaji. Tapi coba bandingkan dengan perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad saw, Allah sendiri memberi contoh dan menegaskan bahwa diriNya bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. Demikian juga dengan para malaikatNya. Perhatikan ayat berikut ini:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب56)
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS: Al-Ahzab: 56)
Ayat ini memberi gambaran bahwa, sebelum Allah memerintahkan orang-orang beriman, Allah swt memberi penjelasan, bahwa Allah swt sendiri beserta para malaikatNya bershalawat kepada Rasulullah saw, baru kemudian memerintahkan orang-orang beriman agar bershalawat kepada beliau.

Kedua, shalawat menjadi rukun di antara rukun-rukun shalat. Hal ini disepakati para imam madzhab. Mereka berkata bahwa membaca shalawat adalah bagian rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Barangsiapa meninggalkannya, maka shalat seseorang menjadi batal. Bahkan, tatkala membaca al-fatihah masih bisa ditinggalkan oleh seorang makmum dalam shalat berjamaah, baik karena ketidak kesempatan membacanya atau karena telah ditanggung imam, para fuqoha sedikit membahas tentang hukum bolehnya meninggalkan bacaan shalawat meskipun dalam keadaan seseorang sedang bermakmum. Kalau dalam meninggalkan bacaan al-fatihah maka ulama banyak membahas tentang hukum meninggalkan bacaan surat al-fatihah yang juga merupakan rukun shalat. Kesimpulan pendapat mereka adalah: bahwa yang diwajibkan membaca al-fatihah adalah hanyalah imam dan munfarid (orang yang shalat sendiri), sedangkan makmum masih diperbolehkan meninggalkan bacaan surat al-fatihah. Sedangkan shalawat yang dibaca saat tahiyat atau tasyahud para ulama mewajibkan membaca shalawat, baik pada imam, makmum maupun munfarid. Ini tentu saja boleh dikatakan bahwa membaca shalawat mendapat kedudukan penting dalam ibadah shalat.

Ketiga: Membaca shalawat masuk dalam urutan tata cara shalat jenazah. Dalam bacaan shalat jenazah hanya ada empat bacaan dalam empat takbir berbeda. Yaitu, membaca al-fatihah setelah takbir pertama, membaca shalawat setelah takbir kedua, membaca doa untuk mayit setelah takbir ketiga, dan membaca doa untuk diri kita dan kaum mukimin setelah takbir keempat. Disini, shalawat menempati urutan kedua setelah membaca surat al-fatihah. Dalam al-fatihah terkandung pujian kepada Allah. Sedangkan  dalam shalawat terkadung ungkapan cinta kita kepada nabi Muhammad saw dengan mendoakan beliau. Penyebutan nama Rasulullah saw setelah pujian kepada Allah swt mirip dengan ungkapan dua kalimat syahadat, yaitu; Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Keempat: Para ulama sepakat, bahwa salah satu adab dalam berdoa harus disertakan bacaan shalawat kepada nabi Muhammad saw. Tegasnya adalah, sebelum memohon dan meminta kepada Allah sebaiknya memulai dengan puji-pujian kepada Allah, kemudian shalawat kepada Rasulullah saw, barulah kemudian menyampaikan doa dan keinginannya kepada Allah. Karena doa yang dimulai dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi sangat dekat dengan kemungkinan diijabahnya suatu doa. Hal yang sama terjadi pada shalat jenazah. Sebelum mendoakan mayit pada takbir ketiga, maka pada takbir pertama dan kedua dimulai dengan pujian pada Allah swt dan shalawat kepada Rasulullah saw.

Kelima: para ulama sepakat pula, bahwa membaca shalawat adalah bagian dari rukun khutbah Jum’at. Rukun khutbah itu ada lima : Memuji Allah (hamdalah), bershalawat kepada Rasulullah saw, membaca kutipan ayat al-Quran, berwasiat akan ketakwaan, dan mendoakan kaum mukminin dan mukninat. Disni, membaca shalawat masuk pada urutan kedua rukun khutbah. Bahkan, meskipun sebagian ulama membolehkan menyampaikan isi khutbah dengan bahasa yang dimengerti masyarakat setempat, namun saat membaca kelima rukun tersebut –termasuk membaca shalawat – haruslah menggunakan bahasa Arab.
Jadi, janganlah meremehkan urusan bershalawat kepada Nabi Muhammad saw, karena Allah swt Nabi-Nya serta para ulama telah mendudukan shalawat pada tempat yang mulia dari urusan agama.

Semoga bermanfaat.
Muhammad Jamhuri
Madinah, 20 Dzulqo’dah 1437 H/ 23 Agustus 2016