Friday, September 13, 2013

Haji Itu Jihad

Suatu hari Aisyah ra merasa iri dengan kaum pria yang disyariatkan jihad (berperang di medan pertempuran), sementara wanita tidak, beliau mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw pun memberi petunjuk bahwa Jihad untuk kaum wanita adalah jihad yang tidak berdarah-darah, yaitu melaksanakan ibadah haji"

Khalifah Harun al-Rasyid adalah khalifah yang selalu ingin mendapat kemuliaan dan keutamaan berjihad, sehingga beliau tidak ketinggalan ikut serta jika ada pasukan yang berjihad. Jika di tahun tersebut tidak ada peperangan (jihad), maka beliau melaksanakan ibadah haji.

Ibadah haji memang mirip dengan berjihad. Sebab, saat akan berangkat, jamaah haji sudah menyiapkan bekalnya. Demikian juga meninggalkan wasiat kepada keluarga yang ditinggalkannya, serta memohon doa dari sanak keluarga dan kawan-kawannya. Seakan, dia khawatir tidak kembali lagi ke Tanah Air jika harus meninggal dunia di tengah menjalankan ibadah haji.

Ada tiga kata yang berasal dari akar kata yang sama, yakni kata jihad, ijtihad dan mujahadah. Dari ketiga kata itu, kata "jihad" lebih bersifat perjuangan yang membutuhkan kekuatan dan fisik. Sedangkan ijtihad lebih berorientasi kepada keilmuan. Dan kata "mujahadah" lebih berkonotasi kepada olah batin. Oleh sebab itu, satu-satunya ibadah mahdhoh yang banyak mengeluarkan tenaga lebih serta  kekuatan fisik adalah ibadah haji.

Dilihat dari kronologis prosesi ibadah haji pun, terlihat ibadah haji bagaikan orang yang sedang berjihad. Mereka berangkat meninggalkan kampung halaman menuju tempat yang jauh. Mereka juga berbekal yang cukup untuk melakukan suatu perjuangan melaksanakan ibadah haji. Setiba di Makkah, mereka mencium hajar aswad atau memberi isyarat pada hajar aswad pada thawaf umroh bagi haji tamattui, dan thawaf haji bagi haji ifrad dan qiron, atau tahawaf qudum. Mencium hajar aswad atau memberi isyarat padanya, adalah bagaikan melakukan baiat atau janji kepada Allah sebelum berangkat ke tempat jihad. Sebab, dalam suatu hadist disebutkan bahwa orang yang mencium hajar aswad bagaikan "bersalaman" dengan Allah. Para mujahidin atau tentara sebelum berangkat ke medan perang biasanya mengucapkan janji setia dalam perjuangan, untuk menegaskan kesungguhan dalam perjuangan.

Setelah itu, mereka berangkat ke Arafah dan menyiapkan tenda-tenda untuk berwukuf. Hal ini sama dengan tentara dan pejuang. Sebelum berperang, mereka menentukan basecamp pasukannya dengan membuat tenda-tenda.

Saat berangkat ke Muzdalifah dan tiba disana untuk bermabit, mereka menyiapkan krikil-krikil yang diperuntukkan melontar jumroh di Mina. Hal ini sama seperti para pejuang yang sedang menyiapkan senjata-senjata mereka dengan jumlah yang cukup untuk melawan musuh.

Selepas dari Muzdalifah, jamaah haji berangkat ke Mina untuk melontar jumroh yang merupakan simbol syetan yang menjadi musuh manusia yang abadi. Hal iini mirip dengan para pejuang yang setelah meyiapkan senjata, mereka mulai bertempur melawan musuh dengan melontarkan peluru ke arah musuh mereka.

Peperangan terkadang tidak cukup sehari. Oleh karena itu para pejuang (baca: jamaah haji) kembali beristirahat di Mina (mabit di Mina) untuk menyiapkan pelontaran pada hari-hari berikutnya. jika hari pertama musuh hanya sedikit, yakni hanya melontar jumroh aqobah, maka pada hari-hari tasyrik, sasaran "musuh" yang dliontar lebih banyak lagi, yakni jumroh ula, jumroh wusto dan jumroh aqobah. Hal ini mirip dengan para pejuang, mereka berisitirahat di tenda-tenda dan menyiapkan serangan berikutnya melawan pihak musuh.

Usai pelontaran ketiga jumroh di hari tasyriq, jamaah haji kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf ifadhoh dengan mencium/memegang atau isyarat di hajar aswad. Hal ini sama dengan pejuang yang telah melaksanakan jihadnya kembali berkumpul di suatu tempat dan melakukan janji setia untuk selalu istiqomah membela tanah air dan agamanya.

Selanjutnya mereka pulang ke kampung halaman disambut oleh sanak keluarga dengan segala kemenangannya melawan "musuh". Semoga para jamaah haji tahun ini mendapat haji yang mabrur. Amin

Muhammad Jamhuri

Sunday, April 28, 2013

Kandungan Lafadz Talbiyah


“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al-Hajj: 27)

 

Konon, saat Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyeru kepada seluruh manusia agar mengerjakan ibadah haji, beliau berkata, “Wahai Tuhan, bagaiimana suaraku akan sampai kepada seluruh manusia? Sedangkan suaraku terbatas jangkauannya?”. Allah swt menjawab, “Tugasmu adalah menyeru kepada seluruh manusia, sedangkan sampai dan tidaknya seruanmu adalah urusan-Ku.”

Kemudian nabi Ibrahim as menaiki sebuah gunung bernama Jabal Abu Qubaisy. Di atas gunung itulah beliau mengeluarkan semua suaranya menyeru manusia melaksanakan ibadah haji.

Para ulama berkata, sejak itulah perintah ibadah haji diserukan hingga menggema ke manusia saat mereka masih di alam ruh. Jika mereka menjawab “Labbaik” (aku penuhi panggilanMu) maka suatu saat mereka akan ditakdirkan oleh Allah swt melaksanakan ibadah haji.

Kata ‘”labbaik” kemudian menjadi lafadz yang dibaca saat jamaah haji melaksanakan ibadah haji dan umrohnya, yang kemudian dinamakan dengan nama ‘Talbiyah”

Bunyi lafadz Talbiyah yang biasa dibaca para jamaah haji dan umroh adalah: “Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik Laa Syarika Laka Labbaik, Innal Hamda WanNi’mata  Laka walMulk, L:aa Syariika Lak.” (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagimu, sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, dan tiada sekutu bagi-Mu)

Jika diperhatikan, lafadz talbiyah di atas berisi pernyataan kita sebagai seorang hamba kepada  Allah swt terhadap tiga hal:

Pertama, Meyakini bahwa kedatangan  kita ke tanah suci adalah  merupakan panggilan dari Allah swt. Dan bukan semata karena kemampuan harta, jabatan dan kekuatan fisik. Sebab, banyak di antara manusia yang secara fisik mampu, harta berlebihan serta memiliki waktu luang, namun toh mereka belum juga melaksanakan ibadah haji atau umroh. Hal yang sama kita temukan dalam perintah ibadah shalat. Tidak seorangpun mampu melaksanakan shalat dengan perasaan ringan kecuali bagi orang yang meyakini bahwa mereka akan bertemu dengan Allah swt. Sebab shalat adalah perkara yang sangat berat. Allah swt berfirman, “Dan sesungguhnya yang demikian itu (sholat) sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah: 45-46)

Itulah sebabnya, kita menjawab adzan dengan lafadz  “Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa biLLah”  (Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah swt)  saat seorang muadzin membaca “Hayya ‘AlasSholah” (Marilah kita menunaikan shalat), dan membaca “Hayya ‘Alal-Falah” (Marilah menuju kesuksesan).  Hal ini menunjukkan kelemahan seorang hamba dan kekuatan Allah swt.

Oleh sebab itu saat kita membaca “Labbaik” pada hakekatnya pengakuan bahwa kedatangan kita ke Tanah Suci merupakan panggilan dari Allah swt.

Kedua,  lafadz Talbiyah berisi pengakuan kita sebagai hamba, bahwa Allah swt tidak memiliki sekutu (Laa Syarika lak). Disini kita diajak untuk memurnikan kembali aqidah dan ideologi kita.  Menyambut segala seruan Allah swt serta mendahulukannya dalam segala hal. Sebab dalam ibadah haji terdapat totalitas dalam memenuhi panggilan Allah. Hal ini ditunjukkan dengan meninggalkan kampung halamannya, keluarga, dan pekerjaannya. Belum lagi biaya yang dikeluarkannya untuk memenuhi panggilan Allah swt. Sikap totalitas untuk dan hanya karena Allah ini hendaknya menjadi sikap setiap muslim, terutama mereka yang telah melaksanakan ibadah haji, karena Allah telah mengajarkannya secara praktek dalam ibadah mulia ini.

Ketiga, lafadz Talbiyah berisi pengakuan bahwa segala pujian, nikmat dan kekuasaan adalah milik Allah. (Innal Hamda wan-Ni’mata laka walMulk). Allah-lah pemilik segala pujian, pemilik segala kenikmatan dan pemilik segala kekuasaan.

Disini kita diajak menyadari bahwa manusia tidak pantas mendapat pujian secara mutlak. Sebab, manusia yang tergila-gila dengan pujian maka ia akan bersikap sombong, dan sikap sombong adalah sikap Iblis yang telah dilaknat oleh Allah swt.

Pada lafazd ini juga kita diajari bahwa segala kenikmatan adalah milik Allah swt. Mulai nikmat panca indera, tubuh yang sehat serta nikmat berkemampuan melaksanakan ibadah haji dan umroh, semua itu adalah milik Allah yang diberikan kepada manusia. Hal ini untuk mengingatkan kita, apakah selama ini kita telah menempatkan nikmat-nikmat itu di jalan yang diridhoi Allah swt? Ataukah kita belum menempatkan nikmat-nikmat itu sesuai tempatnya?

Kemudian kita pun diingatkan bahwa segala kekuasan adalah milik Allah. Jabatan dan status sosial serta kekuasaan yang kita pegang pada hekekatnya adalah amanah yang Allah berikan kepada kita agar kita dapat menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya. Firman Allah swt, “Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imran: 26)

Bagian akhir dari lafadz Talbiyah diakhiri dengan pengulangan kata “Laa syariika lak” (Tiada sekutu bagi-Mu). Hal ini untuk mengeaskan kembali perlunya pemurnian aqidah dan orientasi hidup. Yakni semata-mata karena dan untuk Allah swt.

Sebab,  tidak jarang dalam ibadah haji dan umroh terselip tujuan-tujuan selain Allah, seperti  tujuan ingin dipuji  (riya), tujuan agar mendapat  gelar “Haji”, atau bahkan untuk tujuan-tujuan ekonomis tanpa mengindahkan tujuan-tujuan suci.

Secara ringkas, lafadz talbiyah berisi pesan-pesan sebagai berikut:

1. Ketundukan sebagai hamba di hadapan Tuhannya, karena segala kesuksesan hidup dan kemampuan melaksanakan ibadah adalah semata-mata berkat kekuatan yang Allah berikan kepada kita. Itulah sebabnya Rasulullah saw mengajarkan kepada kita doa, “Ya Allah, bantulah aku untuk selalu berdzikir padaMu, bersyukur padaMu dan melakukan sebaik-baik ibadah kepadaMu”

2. Pemurnian aqidah dengan menjadikan orientasi hidup dan ibadah kita hanya karena dan untuk Allah

3. Menyadari bahwa kita adalah hamba yang tidak pantas mendapat pujian jika tidak karena Allah menutup aib dan cela kita. Karena segala pujian pada hakekatnya adalah milik Allah swt. Dengan begitu kita tidak bersikaf sombong

4. Menempatkan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita pada jalan yang mendatangkan keridhoan Allah

5. Meyakini bahwa segala jabatan , status dan pangkat adalah amanah yang telah Allah berikan kepada kita, agar kita dapat menajalankan amanah itu denagn sebaik-baiknya serta mendatangkan keriodhoan Allah dan manfaat kepada hamba-hambaNya. Bukan malah jabatan itu mendatangkan kemurkaan Allah kerena merugikan umat manusia.

6. Hendaknya dalam segala ibadah, terlebih ibadah haji dan umroh, tidak disisipi dengan tujuan duniawi yang hina, seperti agar dipuji dengan mendapat gelar haji atau riya.

Semoga Allah swt menerima amal ibadah kita, dan menjadikan haji dan umroh kita sebagai haii yang mabrur dan umroh yang maqbulah. Amin.

 

Saturday, April 20, 2013

Karakteristik Ekonomi Islam


Dr. Yusuf al-Qordhowi dalam kitabnya berjudul “Daul al-Qiyam Wa al-Akhlaq fi al-Iqtishad al-Islamy” menyebutkan empat ciri khas sistem ekonomi Islam, yaitu:
1.      Ekonomi Robbani (bersumber dan berorientasi pada Tuhan)
2.      Ekonomi Insani (menjunjung hak dan fitrah manusia)
3.      Ekonomi Akhlaqi (menjunjung moralitas)
4.      Ekonomi Wasathi (bersifat moderat atau menengah)

                                     
A.    Ekonomi Robbani (berketuhanan)

Yang dimaksud dengan ekonomi robbani adalah bahwa dalam aktifitas berekonomi haruslah berdasarkan tuntunan Allah swt dengan segala aturanNya, mulai dari barang dan jasa sebagai objek transaksi ekonomi, cara bertransaksi serta tujuan bertransaksi ekonomi. Barang dan jasa yang bersifat robbani adalah barang dan jasa yang halal saja yang boleh dijadikan objek transaksi, sedangkan caranya tidaklah mengandung unsur riba, maysir (judi) dan gharar (ketidakjelasan). Sedangkan tujuannnya adalah tujuan yang diperbolehkan. Oleh sebab itu, tidak diperkenankan menjual senjata untuk memerangi kaum muslimin, demikian juga tidak diperkenankan menjual mushaf al-Quran kepada kaum kafir untuk dihinakan.

B.     Ekonomi Insani (Berperikemanusiaan)

Yang dimaksud dengan ekonomi Insani adalah ekonomi yang sesuai dengan fitrah dan hak asasi manusia serta bersifat perikemanusiaan. Oleh sebab itu tidak diperkenankan melakukan transaksi barang atau jasa yang menginjak-nginjak perikemanusiaan, seperti menjual diri atau usaha pengadaan wanita tuna susila,  perdagangan manusia serta praktek usaha lainnya yang bertentangan dengan perikemanusiaan.

C.     Ekonomi Akhlaqi (bermoral)

Yang dimaksud dengan ekonomi akhlaqi adalah ekonomi yang menjunjung tinggi moralitas dan etika. Tidak diperkenankan melakukan transaksi barang dan jasa yang tidak sesuai dengan akhlak atau etika. Seperti pada jaman Jahiliyah, yang menjadikan thawaf dengan cara telanjang. Hal ini tidak sesuai dengan akhlak dan moral. Oleh karena itu, Islam datang dengan mengembalikan cara thawaf susuai dengan akhlak dan moral. Di zaman sekarang pun perlu upaya membuka bisnis pariwisata tidak selalu harus melanggar norma dan moral dengan kesenian yang bertentangan dengan akhlak dan budaya bangsa.

D.    Ekonomi Washati (moderat)

Yang dimaksud dengan ekonomi wasathi adalah sistem ekonomi yang bersifat moderat dan menengah, ia tidak bersifat individualistik seperti yang ditemukan dalam sistem ekonomi kapitalis, tidak juga menafikan kepemilikan pribadi seperti yang ditemukan pada sistem komunis. Sistem ekonomi Islam adalah sistem yang mengakui hak kepemilikian private sebagaimana ia juga mengakui hak kepemilikian publik. Oleh sebab itu, dalam sistem ekonomi Islam diperkenankan untuk maju dan berinovasi sehingga ada kompetisi dalam dunia bisnis secara sehat, akan tetapi Islam pun mengarahkan umatnya untuk peduli kepada orang-orang yang tidak mampu.