Saturday, November 15, 2014

Santri PTE) Multazam Raih 2 Juara

Bogor - Santri Pesantren Terpadu Ekonomi Islam MULTAZAM meraih juara dalam dua kategori lomba, yakni lomba kalighrafi dan lomba Panorama dalam Pekan PORSENI yang diadakan di Pesantren Raudhah Tauhid, Bogor.

Untuk kategori kalighrafi dimenangkan oleh tim putra (banin), sedangkan kategori panorama dimenagkan oleh tim putri (banat). Mendengar pengumuman, santri Multazam serentak melakukan sujud  syukur di lapangan pesantren tersebut.

Ust. Althof dan Ustzh Nayla yang bertindak sebagai pembimbing para santri saat lomba merasa bersyukur para santri binaan mereka dapat menggondol piala. Mereka juga mengucapkan terima kasih kepada dewan guru yang ikut mensupport santri yang ikut dalam lomba tersebut.

Mudah-mudahan PTEI Multazam dapat mempertahankan dan meningkatkan prestasinya. Amin

Tuesday, August 5, 2014

Perjuangan Tidak Cukup Hanya Ikhlas dan Semangat Saja

Perjuangan tidak hanya cukup bermodalkan niat dan semangat saja, namun juga perlu dibekali dengan fiqh-al-Waqi (kemampuan untuk menganalisa realita) dan prinsip sunnatut tadarruj (sunah pentahapan)

Banyak di kalangan umat yang hanya punya semangat dan keikhlasan tinggi dalam melakukan suatu perjuangan namun tidak dibekali dengan fiqih realita (pemahaman realita suatu fenomena). Akibatnya, perjuangan umat yang sudah melangkahi sekian banyak langkah harus mundur kembali akibat sebagian kelompok yang hanya mudah terpancing oleh fenomena.

Kita banyak belajar dari masa lalu, baik perjuangan umat di Tanah Air maupun perjuangan umat di tingkat Internasional, sering sekali mengalami setback lantaran hanya bermodal niat yang ikhlas dan semangat yang tinggi. Niat ingin syahid dan cepat semangat saat disulut. Niat mati syahid memang menjadi cita-cita setiap muslim, akan tetapi tindakan yang salah akibat tidak membaca situasi dan tahapan perjuangan, akibatnya yang mengalami kerugian bukan individu namun seluruh tubuh umat Islam di seluruh dunia. Sebab, umat Islam bagaikan satu tubuh, jika salah satu angggota tubuh mengalami sakit, maka yang lain pun akan mengalaminya.

Fiqih al-Waqi' (fiqih realita) sangat penting dalam menentukan suatu langkah perjuangan. Bahkan para ulama membuat kaidah; hukmu al-syai hukmun bi wasailihi (hukum suatu perkara adalah juga hukum sarana-sarananya), Jika seseorang belum mengetahui benar suatu fenomena atau berita dengan valid maka dia tidak boleh gegabah melakukan suatu tindakan. Boleh jadi suatu amalan yang dikira benar bisa menjadi salah karena kurangnya pemahaman lapangan dan relaita. Dan hasilnya adalah penyesalan. Allah swt telah menginatkan kita dalam firmanNya:

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
 "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" (QS.Al-Hujurot:6)

Selain itu, dalam memperjuangkan suatu cita-citapun harus memilki bekal sabar dengan mengikuti sunnatut tadarruj (sunah pentahapan). Tidak boleh kita bertindak sesegara mungkin tanpa informasi yang dalam akan suatu persoalan, karena hal itu akan berakibat fatal dan jauh dari harapan yang dicita-citakan. Apalagi ingin terburu-buru mewujudkan cita-cita dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kaidah Fiqih menyatakan,
من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه
Barangsiapa yang cepat-cepat ingin mendapat sesuatu sebelum waktunya maka ia diberi sangsi diharamkan (tidak mendapat) sesuatu itu.
Sebagai contoh dalam ilmu waris, seorang anak jika ayah wafat maka anak itu menjadi ahli waris, akan tetapi jika anak itu membunuh dengan sengaja pada ayahnya karena ingin cepat-cepat mendapat harta warisan, maka anak itu tidak berhak mendapat warisan.

Jadi, marilah dalam suatu memperjuangan cita-cita harus terukur, terencana, terprogram dan  sabar serta memiliki pemaham yang utuh, selain niat ikhlas dan semangat yang tinggi



Saturday, July 26, 2014

Kembali Kepada Fitrah

"Idul Fitri" sering diartikan sebagai "kembali kepada fitrah". Sedangkan fitrah itu sendiri diartikan kesucian. Fitrah juga bermakna hukum dan ketetapan Allah yang berlaku bagi manusia.

Mengapa kembali kepada fitrah? karena manusia, sejak asal kejadian dan saat dilahirkan berada dalam kesucian. Hal ini dapat kita lihat dari 3 (tiga) argumentasi:
  1. Hadits Nabi saw yang menyatakan, "Setiap manusia terlahir berada di atas fitrah (suci), hanya saja, kedua orang tuanya-lah yang mempengaruhinya berperilaku Yahudi, Nasrani dan Majusi"
  2. Sumpah Allah swt dengan 3 (tiga) tempat suci saat berfirman "Sungguh kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk" (QS. At-Tin: 1-4). "Demi buah Tin dan Zaitun (buah yang banyak tumbuh di Yerusalem tempat suci kelahiran Nabi Isa as) dan demi bukit Tursina (bukit suci yang pernah dinaiki oleh Musa as saat bercakap-cakap dengan Allah swt), dan demi negeri yang aman ini (Makkah: kota suci tempat dilahirkannya nabi Muhammad saw)
  3. Bahan pembuatan manusia dari "turob" (tanah) dan dari "Maa" (Air) atau "Thin" (campuran tanah dan air). Air dan tanah menjadi alat untuk bersuci saat akan melakukan beberapa aktifitas ibadah (Wudhu atau tayammum)
Jadi, manusia itu asal muasalnya fitrah (suci). Hanya saja karena pengaruh lingkungan, literatur serta informasi yang didapatnya setelah menginjak dewasa, maka manusia mulai "kotor". 
Oleh sebab itu, Allah swt telah menyediakan sarana-sarana untuk menjaga dan melestarikan kesucian manusia. Antara lain:
  1. Pemeliharaan Kesucian Harian, yakni dengan wudhu dan shalat. Dengan wudhu dan shalat, manusia diharapkan dapat menjaga kestabilan kesuciannya sehingga dengan kedua ibadah itu tidak terdorong untuk melakukan perbuatan keji dan mungkar sebagaimana tujuan dari diwajibkannya shalat itu sendiri. Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat, "Jika ada seseorang yang bertempat tinggal di samping sungai yang jernih, lalu orang itu mandi lima kali sehari di sungai itu, apakah kira-kira kotoran masih melekat pada dirinya?" Sahabat menjawab, "Tidak ada, pasti dia selalu bersih". Rasulullah saw bersabda, "Nah, demikian juga orang yang menunaikan shalat lima kali sehari, maka dia akan bersih dari segala dosa." 
  2. Pemeliharaan Kesucian Harta: Jenis menjaga kesucian ini ditunaikan melalui ibadah zakat. Zakat setidaknya mempunyai dua fungsi pembersihan, yakni membersihkan harta dan membersihkan jiwa pemiliknya dari sifat kikir dan individualis.  
  3. Pemeliharaan Kesucian Sikap; Jenis penjagaan kesucian ini ditunaikan melalui ibadah puasa. Puasa bukan hanya mengajarkan diri kita menahan lapar dan dahaga, namun juga diajarkan untuk menahan hawa nafsu dan emosi.

Jika semua pelaksanaan pensucian itu sesuai tuntunan Allah swt, maka manusia akan kembali kepada fitrah (kesucian). Jadi, kembali kepada kesucian, bukan hanya terletak pada ibadah puasa saja, namun keseluruhan ibadah diatas yang dilakukan secara simultan dan komprehensif.

Di atas sudah dijelaskan, bahwa makna "fitrah" bukan hanya 'suc'i saja, namun mengandung arti hukum dan ketetapan Allah yang berlaku bagi manusia. Oleh sebab itu, salah satu hukum alam yang berlaku kepada manusia adalah kerinduan menemui asal penciptaan dan eksistensinya. Ketika manusia pada tingkat kesucian tertentu, terutama setelah menjalankan ibadah shalat, zakat dan puasa di bulan Ramadhan, maka manusia akan merindukan tempat asal keberadaannya. Itulah kemudian manusia di hari raya ingin mudik alias pulang kampung, ingin menemui tempat asalnya. Atau setidaknya, menemui asal kelahirannya, yaitu kedua orang tua. Dan oleh karena itu, dalam pemenuhan fitrah yang juga merupakan salah satu pemenuhan kepuasan batiinnya, manusia berusaha dan bersemangat untuk melakukan pulang kampung (mudik), meskipun  harus mengeluarkan biaya dan bahkan menghadapi bahaya maut di jalan raya dan lalu lintas.

Jadi, puncak kesucian jiwa manusia adalah terletak pada kesadaran diri akan asal muasalnya. Dan salah satu asal muasal keberadaan manusia adalah orang tua yang melahirkannya. Oleh sebab itu, kebahagiaan bertemu dengan orang dan kampung halamannya adalah nilai yang tidak bisa dihargakan dengan kepingan uang. Kepuasan batin yang terpenuhi rasa fitrah mengalahkan segala resiko dan beban.

Dan puncak kerinduan kepada asal muasal selanjutnya adalah ditunjukkan dengan kerinduan umat Islam kepada sang Khaliq, yang 'rumah'Nya ada di Makkah. Dan oleh sebab itu, animo masyarakat muslim yang rindu dan ingin bertemu Allah di Tanah Suci selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan karena jiwa dan rohani begitu haus untuk menemui sumber asal muasal manusia. yaitu Allah swt Dan saat berada di hadapan Allah di Tanah Suci, seluruh sendi, tulang dan bulu bergetar melampiaskan rasa rindu bertemu dengan Allah swt....

Jadi, "kembali kepada fitrah" adalah pengakuan kembali secara totalitas bahwa Allah swt lah yang wajib disembah, tidak menyekutukaNya, dan memprioritas perintahNya diatas perintah lain...dan itulah esensi saat kita ditanya oleh Allah st di masa alam ruh, "Alastu birobbikum?" (Bukankah Aku adalah Tuhanmu?) Lalu kita yang masih dalam bentuk ruh menjawab, "Balaa syahidna.." (Ya, kami bersaksi atas hal itu).