Monday, March 21, 2016

BERCERMIN PADA PILKADA DKI: UBAH METODE DAKWAH KITA


Ramainya berdebatan ttg siapa calon gubernur DKI Jakarta, membuat sebagian ulama dan kyai gamang. Pasalnya, mayoritas ulama dan kyai tdk setuju dg pemimpin suatu daerah yang mayoritas penduduknya muslim dipimpin oleh seorang non muslim (baca:kafir).

Jika saja pilkada ini terjadi di daerah yang mayoritas penduduknya non muslim, seperti Papua, mungkin para ulama tdk merasa terusik. Meskipun calon kepala daerahnya adalah dari kalangan non muslim.

Kegamangan dan kekhawatiran timbul, selain calon kepala daerahnya non muslim, juga kesadaran umat Islam dalam berpolitik islami yang masih kurang. Itulah sebabnya para ulama dan kyai gamang dan heran, kok bisa-bisanya umat Islam mau memilih calon non muslim. Padahal teks-teks agama, sebagaimana dipahami mayoritas ulama, haram hukumnya memilih calon pemimpin yang non muslim.

Kesemrawutan kondisi inilah yang memerlukan pemikiran kembali metode dakwah para ulama dan kyai. Mengapa kesadaran berislam tdk linear dan tdk seimbang dg kesadaran berpolitik islami.

Mengaca pada pemilu 2014 saja, suara-suara partai islam (PKS,PAN, PPP,PKB) jika diakumulasi tdk mencapai 25 %. Sisanya tersebar ke partai-partai nasionalis dan sekuler. Ini menunjukkan bhw para ulama dan kyai "gagal" dlm meningkatkan kesadaran berpolitik islami pada umat Islam.

Pernah dilakukan survey, bagaimana perilaku kehidupan beragama pd warga DKI. Hasilnya sangat menggembirakan, dari semula 40% meningkat menjadi 65 persen dg jarak survey 5 thn (maaf sy sempat mendengar paparan narasumber, blm dpt ambil data). Artinya, warga Jakarta yang tadinya kesadaran menunaikan sholat, zakat, umroh, puasa, haji cuma 40 persen, kini sdh meningkat pesat. Kita bs saksikan fenomena masjid yang mulai ramai, org yag melaksnakan umroh membludak, bahkan antrian haji sampai 20 thn menunggu koata.

Pada batas ini, kyai dan ulama boleh dianggap "sukses" dalam dakwahnya dalam meningkatkan kesadaran bergama Islam. Namun, apakah hal ini bernading lurus dg kesuksesan kesadaran umat berpolitik Islami?
Inilah yang harus direnungkan kembali oleh ulama dan kyai dalam menyampaikan materi dakwahnya.

Beberapa kendala menyadarkan umat berpolitik islami;

  1. Adanya pemahaman yang sdh mapan di mayarakat, bhw politik itu kotor, sdgkan Islam bersih. Tdk boleh mencampuradukkan islam (baca: dakwah) dg politik
  2. Tertanamnya paham sekulerisme di tengah umat, bahkan di sebagian ulama, yang memisahkan kehidupan beragama dg kehidupan politik.
  3. Kekecewaan umat terhadap pelaku politik partai Islam yang tdk konsisten dgn visi dan misi (sekalipun partai sekuler dan nasional lebih banyak yang mengecewakan dibanding politikus islam, namun media berperan besar dlm upaya deislamisasi partai)
  4. Ajaran bbrpa gerakan Islam yang mengharamkan demokrasi, yang didalamnya pemilu dan pilkada
  5. Sebagian ulama dan kyai dalam dakwahnya hanya berani di wilayah aman dan tdk mau menyentuh politik.
SOLUSI DAN STRATEGI:
Melihat kenyataan diatas, para ulama dan kyai perlu mengubah metode dakwahnya, agar kesadarn berislam dg kesadaran berpolitik islami bisa berjalan beriringan dg baik. Antara lain:
  1. Berikan pemahaman dan penjelasan kpd umat bhw ajaran Islam bersifat komprehensif /menyentuh seluruh aspek kehidupan, mulai thoharah sampai daulah (tata negara). Al-Ghozali berkata: Ad-din ruhud daulah wad daulah yahmihi (agama adalah ruh negara, sdg negara adalah melidungi agama)
  2. Berikan pemahaman bhw demokrasi saat ini -meski blm utuh islami- harus diambil sbg wasilah pemenangan, bukan ghoyah (tujuan akhir).Dgn pemahaman ini, partai Islam Turki (Partai Keadilan dan Pembangunan) mampu didukung oleh seluruh elemen dan ormas-ormas Islam dan meemimpin Turki setidaknya 2 periode sekarang.
  3. Seburuk-buruknya pemimpin muslim, dia masih ke mesjid dan umat Islam dpt mengobrol dan membisiki hal-hal yang bermanfaat buat umat, dibanding yang non muslim. Jelas teman ngobrolnya adalah teman-temannya yang non muslim pula.
  4. Harus ada kurikulum dakwah yang bersifat komprehensif. Tdk melulu materi-materi ibadah, namun juga sosial, budaya dan politik dalam tinjauan Islam.
  5. Jika ulama dan kyai bernaung dlm suatu ormas Islam atau lembaga dakwah, hendaknya menawarkan program utk keberhasilan "kesadaran berpolitik islami" 
  6. Ulama dan kyai harus berani memyampaikan materi politik Islami. Maksudnya bagaimana seharusnya seorang muslim berpolitik dlm tinjauan islam. Meskipun tidak melulu mengarahkan meerka untuk memilih partai atau calon tertentu.
Wallahu a'lam bsi showaf
Al-haqir wal faqir ilaa robbihi kabir
Muhammad Jamhuri Asbar

Friday, March 11, 2016

Hidup Antara Adzan dan Iqomah

Ayyuhal mukminin rahimahulloh...
Hidup kita ini teramatlah singkat, hanya laksana waktu antara adzan dan iqomat.
Karenanya, mari berbekal utk kehidupan yg lebih kekal yakni Akhirat.
Dan sebaik-baik bekal adalah Taqwa...
"wa tazaawadu khoiru zadid taqwa..".
Tidakkah kita perhatikan dalam panggilan muadzin ada dua panggilan yang kita jawab berbeda dg panggilan tersebut.
Ketika muadzin memanggil kita dg panggilan : "Allohu Akbar-Allohu Akbar", kitapun menjawabnya dengan Allohu Akbar. Dan seterusnya.
Namun disaat muadzin panggil kita dengan "Hayya 'Alash-sholah", kita menjawabnya dengan "Laa khawla wala kuwwata illa billah".
Ini menandakan bahwa, kita ini adalah hamba yg lemah, mesti tawadhu, dan senantiasa bersandar kepada Yang Maha Kuat.
Betapa banyak di luaran sana orang2 yg Gagah, Tegap, Kuat fisiknya, berlimpah hartanya. Namun utk berdiri sejenak menghadap Rabbnya dg sholat tiada sanggup.
Allohu Akbar...
Betapa sholat adalah pekerjaan berat luar biasa.
وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِ‌ۚ وَإِنَّہَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَـٰشِعِينَ (٤٥)
Dan mintalah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan [mengerjakan] shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (45)
ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّہُم مُّلَـٰقُواْ رَبِّہِمۡ وَأَنَّهُمۡ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ (٤٦)
[yaitu] orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (46)
Panggilan kedua muadzin yg kita jawab berbeda adalah "Hayya 'Alal Falaah".
Ayyuhal jama'ah...
Setiap kita berharap menjadi orang yg sukses lagi bahagia...
Tapi kita lupa bahwa pemilik sukses & bahagia adalah Alloh SWT.
Kita kerja siang-malam mencari harta berharap bahagia, hingga meninggalkan sholat, atau pun sekedar mengakhirkan sholat. Kita tidak sadar telah menomor sekian kan urusan Alloh SWT.
Padahal, siapa menomor satukan Alloh atas segala urusannya maka Alloh akan mudahkan segala urusannya.
Allohu Akbar....
Saudaraku...
Mari perbaiki cara hidup kita, lebih khusus lagi cara kita berdoa.
Kisah Nabi Yunus as, cukuplah jadi ibroh bagi kita.
Disaat tugas dakwah belum selesai, ia tinggalkan ummatnya yg masih membangkang atas seruannya.
Singkat cerita, ujian Alloh berikan kepadanya. Terperangkap dlm gelap perut 🐋 yang melahapnya saat dilemparkan dari perahu yang ditumpanginya.
Allohu Akbar....
Disaat sperti itu, dg penuh ketundukan dan harap Nabi Yunus as berdo'a diawali dg muhasabah sepenuh pasrah..
"Laaa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin...."
Hingga akhirnya diijabah dan terbebaslah dari masalah...
Subhanalloh....
Kisah lain, dari Hasan Al-Basri..
Tatkala dalam majelis beliau hadir 3 org berbeda profesi mengadukan problematika hidupnya dan berharap dapat solusi.
Orang pertama, sang Petani yg gagal panen terus-terusan... dikasih solusi "perbanyaklah istighfar...".
Orang kedua, sang pedagang yg menuju kebangkrutan karna snantiasa merugi dalam perniagaannya... dikasih solusi oleh syekh Hasan Al-Basri "perbanyaklah istighfar...".
Dan orang ketiga, sudah sekian lama menikah tak kunjung mendapat keturunan....dikasih solusi serupa oleh syekh Hasan Al-Basri "perbanyaklah istighfar...".
Jawaban ini, menggelitik keingin tahuan salah seorang murid beliau yang kmudian memberanikan diri bertanya. "Wahai guru... kenapa setiap permasalahan hidup yg mereka sampaikan engkau jawab dengan "perbanyak istighfar", adakah dalilnya dalam Al-Qur'an.
Sang Murobbi pun tersenyum seraya berkata, "tadaburilah olehmu wahai anakku surat Nuh ayat 10-12".
فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُ ۥ كَانَ غَفَّارً۬ا (١٠)
maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, (10)
يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارً۬ا (١١)
niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, (11)
وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٲلٍ۬ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡہَـٰرً۬ا (١٢)
dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan [pula di dalamnya] untukmu sungai-sungai. (12)
Ayyuhal ikhwah....
Mari berbenah...
Awali munajat sepenuh harap kita dengan do'a muhasabah laksana nabi Yunus as.
Perbanyak istighfar agar terurai segenap keruwetan hidup dan digantiNya dengan kesuksesan dan kebahagiaan.
Wallohu'alam bish-showab..
disarikan‬ oleh @Masigit
Salah seorang jamaah yang menyimak

Tuesday, February 23, 2016

AGAMA KASIH SAYANG



Menagapa kata “bismillahirrohmanirrohim” selalu tercantum di setiap permulaan surat? Mengapa setiap memulai suatu pekerjaan atau aktifitas yang baik disunnahkan membaca “bismillahirrohmanirrohim”?

Karena dalam kata itu mengandung pesan bahwa sifat Allah swt adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan Allah swt menginginkan kita agar bersifat kasih dan sayang. Rasulullah saw bersabda,
الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من فى الارض يرحمكم من فى السماه
Orang yang berkasih sayang akan dikasihi oleh Allah yang Maha Pengaish, maka kasihilah mereka yang ada di bumi, maka engkau akan dikasihi oleh yang ada di langit.

Hadist ini memerintahkan kita agar menebar kasih sayang. Bukan hanya kepada sesama muslim, bahkan kepada siapa saja yang ada di bumi, termasuk kepada orang kafir yang tidak memerangi. Bukan hanya kepada manusia, bahkan kepada hewan. Bukankah seorang pelacur dimasukkan surga akibat karena mengasihi seekor anjing yang sedang kehausan?

Suatu hari, setelah Rasulullah saw wafat dan selesai dikebumikan, Abu Bakar ra bertanya kepada putrinya yang juga isteri Rasulullash saw; Aisyah, “Wahai putriku, adakah kebiasaan Rasulullah saw yang belum pernah aku lakukan selama ini?” pertanyaan itu diajukan karena Abu Bakar ingin mengikuti segala sunnah Nabi saw. Aisyah ra menjawab, “Wahai ayahanda, sepertinya... segala perbuatan dan kebiasaan Nabi saw telah engkau ikuti dan jalankan. Hanya saja ada satu kebiasaan beberapa hari sebelum beliau wafat yang belum ayahanda lakukan.” Abu Bakar penasaran bertanya, “Kebiasaan apa itu wahai putriku?” Aisyah ra menjawab, “Rasulullah setiap sore mengunjungi seorang pengemis buta Yahudi di ujung jalan. Beliau selalu membawa roti dan menyuapkannya kepada orang tua buta pengemis itu. Meskipun sang Yahudi pengemis kita selalu berkata pada setiap orang yang melintasnya “Awas! Muhammad itu penyhir, awas ! Muhammad itu pendusta”. Namun Rasulullah saw terus mendatangi dan menyuapi orang tua pengemis itu.”

Segera setelah mendengar cerita Aisyah, Abu Bakar di sore hari membawa roti dan mendatangi pengemis tua itu di tempat biasa duduk. Sampai disana, Abu Bakar langsung menyuapi pengemis itu dengan roti yang dibawanya. Pengemis itu kaget, karena dia merasa orang yang menyuapinya saat ini berbeda dengan yang biasa datang. Maka pengemis itu bertanya, “Siapakah Anda? Sepertinya Anda bukan orang yang biasa datang?” Abu Bakar menjawab, “Benar, aku bukan orang yang biasa datang, tapi aku ingin mengikuti kebiasaan dia.” Yahudi pengemis bertanya, “Jika demikian siapa Anda ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya adalah sahabat orang yang biasa datang ke sini.”. Pengemis bertanya penasaran, “Mengapa orang yang biasa datang ke sini tidak datang hari ini?. Dia –sebelum menyuiapiku- terlebih dahulu melumatkan rotinya. Sedangkan engkau tidak seperti dia.” Abu Bakar menjawab, “Orang yang biasa datang kepadamu telah wafat belum lama ini.” Pengemis Yahudi bertanya lagi, “Memang siapa sebenarnya orang yang biasa datang itu?.” Abu Bakar ra menjawab, “Beliau adalah Muhammad Rasulullah saw.” Mendengar kata “Muhammad” disebut Abu Bakar, pengemis itu bergetar seluruh tubuhnya. Dia merasa bersalah, sebab orang yang biasa dia fitnah dan caci, ternyata dia adalah Rasulullah saw yang sangat mengasihinya dan peduli padanya. Setiap sore hari membawakan roti, melumatkannya lalu menyuapi pengemis tua itu. Jantung pengemis itu berdegup kencang, hatinyanya bergetar. Lalau dia berkata kepada Abu Bakar, “Wahai sahabat Muhammad, saksikanlah aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Yahudi pengemis itu bersyahadat masuk ke dalam agama Islam.

Pada saat posisi Rasulullah saw di atas angin mengahadapi penduduk Makkah pada peristiwa penaklukkan Makkah, Rasulullah saw tidak merendahkan bahkan tidak membalas dendam kezaliman mereka. Meskipun dahulu Rasulullah saw dilempari kotoran unta, dicaci-maki dan dihinakan bahkan sebagian pengikut beliau disiksa dengan keji, namun saat peristiwa Fathu Makkah (penakulkkan Makkah) beliau justru berkata dengan kata-kata yang sangat bijak, “Al-Yaum yaumul marhamah” (hari ini adalah hari kasih sayang). Dan beliau berkata di hadapan seluruh penduduk Makkah, “Antum al-Thulaqo” (kalian bebas merdeka).

Kisah-kisah di atas menepis anggapan bahwa Islam adalah agama radikal dan ekstrim. Karena Islam bukan hanya mengajarkan akhlak dalam pergaulan sehari0hari saja, bahkan mengajarkan akhlak saat berperang. Baik terhadap ibu dan anak-anak, orang tua renta serta para pendeta dan rumah ibadah. Tidak boleh dibunuh dan dihancurkan meski dalam peperangan sekalipun.

Kasih Sayang Sesama Muslim.

Bila mengasihi seluruh makhluk saja begitu diperintah, maka terlebih lagi mengasihi sesama muslim. Rasulullah saw bersabda,
“Perumpamaan orang-orang muslim dalam kecintaan dan saling kasih-sayangnya bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dan tidak bisa tidur (empati).”

Sebelum peristiwa hijrah, penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan suku Khojroj, selama ratusan tahun lamanya selalu bermusuhan dan berperang. Namun sejak peristiwa hijrah, bukan hanya sesama mereka menjadi bersaudara, bahkan antara mereka dengan kaum Muhajirin yang berasal dari Makkah pun hidup dalam suasana saling menyayangi dan mengasihani. Bahkan  dengan kaum yang berasal dari Persia dan Ethiopia seperti sahabat Salman al-Fairisi dan Bilal bin Rabah al-Habasti pun mereka dapat saling menyayangi.

Allah swt menggambarkan suasana persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin dengan firmanNya:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan (QS, Al-Hasyr: 9)

Dewasa ini masalah pengungsi menjadi masalah dunia. Hingga PBB membetuk badan khusus yang menangani masalah pengungsi (UNHCR). Problema yang ditimbulkan akibat pengungsian adalah pengadaan tempat tinggal, bahan makanan dan pakaian serta unemployment atau job loss. Masalah itu akan timbul saat terjadi hijrah (pengungsian), namun dengan kasih sayang dan persaudaraan yang ditanamkan oleh Rasulullah saw kepada setiap muslim, maka masalah ekonomi yang ditimbulkan akibat pengungsian tidak terjadi. Karena para sahabat Anshar menyambut kaum Muhajirin seperti saudara mereka sendiri. Mereka tinggal di rumah-rumah penduduk Madinah, makan bersama mereka dan memakai pakaian yang disediakan penduduk Madinah. Tidak perlu tenda darurat atau jatah makanan tertentu atau pembagian pakaian layak pakai. Mereka hidup seperti di tengah-tengah saudara sendiri.

Semoga di zaman ini muncul kaum muslimin yang saling mengaishi seperti yang terjadi di zaman para Sahabat Rasulullah saw. Amin.