Thursday, May 24, 2018

Mengapa Makan Saat Buka Puasa Lebih Nikmat?


Mengapa Makan Saat Buka Puasa Lebih Nikmat?
Sentilan-Sentilun Ala UJ (Ustadz Jamhuri)

“Pak ustadz, kenapa ya makan saat buka puasa terasa lebih nikmat, dibanding makan biasa?” Tanya jamaah sambil menikmati buka puasa pada acara bukber di sebuah Kantor.

“Ini nanya atau curhat nih?” Ustadz balik bertanya.

“Ini pertanyaan ustadz, apa sih hikmahnya?” Tanya jamaah

“Kalau ditanya kenapa makan saat buka puasa itu lebih nikmat?, maka jawabannya bisa macam-macam. Boleh jadi karena seharian kita tidak makan dan minum, sehingga pada saat berbuka puasa maka makanan terasa enak. Bisa juga karena saat berbuka puasa, menu makanannya special dibanding saat suasana selain buka puasa.” Jawab ustadz

“Oh ya benar, tapi mungkin ada hikmah lain pak ustadz? Kan katanya ada hadist mengatakan, “bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Pertama bahagia saat berbuka puasa, dan bahagia saat bertemu dengan Tuhannya.” Maksud hadist itu apa ustadz.?” Tanya jamaah lagi penasaran.

“Nah.... pertanyaannya bagus nih. Begini, karena puncak kebahagiaan itu hanya ada setelah melewati perjuangan.” Tegas ustadz singkat.

“Maksudnya...?” Tanya jamaah penasaran.

“Saya tanya, mana yang lebih nikmat antara saat buka puasa dengan santap sahur?” Tanya ustadz.

“Mmmmmm...(sambil mikir membanding). Santap sahur memang nikmat, tapi masih lebih nikmat santap buka puasa, pak ustadz.” Jawab jamaah.

“Nah..mengapa demikian? Karena saat berbuka puasa kita telah melewati perjuangan. Yaitu perjuangan melawan hawa nafsu. Kita tidak makan dan minum. Pada saat kita telah melewati perjuangan itu dengan baik, maka kita akan merasa puas dan bahagia. Dan kebahagiaan itu bukan hanya enak di tenggorokan atau lidah kita, tapi kebahagiaan itu menyerap sampai ke batin kita. Itulah sebabnya, kenikmatan berbuka puasa hanya dirasakan oleh oleh orang yang menjalaninya. Coba tanyakan kepada yang hadir dalam acara bukber ini. Nah, di sana hadir non muslim yang tidak berpuasa, atau muslim yang tidak sedang berpuasa. Apakah mereka merasakan kenikmatan yang di rasa oleh orang yang sedang berpuasa? Pasti tidak. Padahal menu-nya sama, porsinya sama. Namun kebahagiaan dan kenikmatan mereka hanya sampai mulut dan tenggorokan. Namun bagi orang yang berpuasa, rasa nikmat dan bahagia menyerap sampai ke dalam batin. Intinya, PUNCAK KENIKMATAN ITU ADA PADA PASCA MELEWATI PERJUANGAN. Itulah rahasia hadits tadi. Belum lagi kebahagiaan saat bertemu dengan Allah.” Ustadz menjelaskan panjang lebar .

“Lalu, yang dimaksud dengan bahagia saat bertemu dengan Tuhannya, apa pak ustadz?” Tanya jamaah lagi.

“Begini, satu-satunya ibadah yang amalannya tidak terlihat orang lain adalah puasa. Iya kan? Coba deh kalau kita shalat, masih kelihatan orang kan? Apalagi ibadah haji? Iya gak?. Nah oleh sebab itu dalam hadits Qudsi Allah swt menyatakan bahwa ibadah puasa spesial untuk-Ku, dan aku sendiri yang urus balasannya. Ini menunjukkan keagungan ibadah puasa ini. 

Nah, jika Bapak disuruh secara rahasia oleh atasan bapak untuk melakukan tugas, lalu cuma bapak dan atasan yang tahu tentang misi rahasia itu, kemudian bapak melaksanakannya dengan baik. Kira-kira apa yang bapak dapatkan dari atasan bapak? Pasti sesuatu yang istimewa kan?dan bagaimana perasaan bapak saat menerima hadiah atau imbalan yang istemewa itu? Pasti bahagia dong..? 

Nah...begitu juga dengan orang yang berpuasa, dia dengan segala kepatuhannya melaksanakan tugas rahasia dari Tuhannya, maka saat bertemu dengan Allah Sang Pencipta Alam pastinya orang itu akan bahagia, terlebih mendapat balasan dari Tuhannya yang Maha Pengasih dan Penyayang itu. “ Ustadz menerangkan panjang lebar..

“Pak ustdaz, sudah iqomat tuh..Yuk kita shalat maghrib. Terima kasih pak ustadz atas penjelasannya.” Ujar jamaah mengakhiri dialog.

Wednesday, May 23, 2018

Syetan Dibelenggu Selama Bulan Puasa, Kok Masih Banyak Yang Bermaksiat?


SENTILAN-SENTILUN ALA UJ (Ust Jamhuri)

Syetan Dibelenggu Selama Bulan Puasa, Kok Masih Banyak Yang Bermaksiat?

“Ustadz, kata ustadz dalam tausiyah tadi, di bulan Ramadhan ini, syetan-syetan dibelenggu sehingga tidak bisa menggoda manusia, tapi kok kenyataannya, masih banyak orang yang tidak berpuasa? Bahkan masih banyak orang yang berbuat maksiat?” Tanya seorang jamaah usai sholat taraweh.

“Pernyataan bahwa  syetan dibelenggu di bulan Ramadhan itu bukan ucapan saya, itu ucapan Nabi saw, saya mah hanya meneruskan saja..” jawab ustadz.

“Iya pak ustadz, itu hadits Nabi saw, nah bagaimana pak ustadz menjawab pertanyaan saya?” Desak Jamaah.

“Begini, itu kan hadits Nabi saw panjang sekali, intinya semua yang dikabarkan Nabi saw dalam hadist itu bersifat hal-hal yang ghaib, seperti dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dilipatkannya pahala amal shaleh, amalan sunnah diganjar dengan pahala wajib dan pahala ibadah wajib dilipatgandakan, iya kan?” Ustadz balik bertanya.

“Hmmm..maksudnya ustadz?”. Jamaah penasaran.

“Lha? Pahala..., surga.., neraka.. kan perkara ghaib..? Iya gak?” Tanya ustadz lagi.

“Iya ustadz !” jawab Jamaah.

“Nah, begitu juga dengan kalimat ”syetan” yang ada dalam hadist tersebut. Kata “syetan” dalam hadist itu adalah syetan yang ghaib, yang gak kelihatan mata”. Tambah ustadz.

“Lha? Terus, apa hubungannya dengan pertanyaan saya ustadz? Kok syetan dibelenggu, tapi masih banyak manusia yang bermaksiat?” Tanya Jamaah kembali.

“Di dalam al-Quran, syetan itu ada dua: “setan jin” dan “setan manusia”, istilah quran-nya “syayathinal insi wal jinn”, atau “minal jinnati wan naas”. Nah, selain syetan ghaib yang selalu menyuruh kepada keburukan, dalam diri manusia juga terdapat nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan (innan nafsa la-ammarotun bis-suu’). Nah, karena yang disebut hadits itu adalah perkara-perkara yang ghaib, maka syetan yang dibelenggu dalam hadist itu adalah syetan yang ghaib, yang tidak terlihat, yang dari bangsa jin. Sedangkan Syayatinal insi atau setan manusia itu masih bebas berkeliaran. Bahkan ada yang menjadi MBAH-nya SYETAN !” Kata ustadz sambil melototkan matanya ke arah jamaah tersebut.

“Apa? MBAHnya setan? Memangnya ada ustadz, mbahnya setan manusia?” Tanya jamaah.

“Lha banyaak...”Talbis Iblis” itu kan artinya adalah tipuan iblis...sejarah pertama tipuannya adalah, statemen Iblis kepada nabi Adam dan Hawa bahwa buah yang dilarang itu dia sebut syajaroh khuldi (pohon keabadian). Iblis itu mengemas suatu yang dilarang dan keji dengan nama yang indah-indah...contohnya: pornografi dia sebut seni ekspresi, LGBT disebutnya kebebasan HAM, malah sekarang ada pula yang membolak-balikkan sesuatu yang sudah pakem. Contohnya, dulu ada himbauan “Hormatilah Orang Yang Sedang Berpuasa”, Sekarang dibalik menjadi “Hormatilah Orang Yang Tidak Puasa”. Dahulu orang yang sedang berisik di sekitar mesjid diingatkan dengan tulisan, “Hormatilah Orang Yang Sedang Shalat” , sekarang berubah menjadi “Hormatilah orang yang tidak sholat, maka jangan adzan pake speaker”...Dulu, penjual makanan di siang hari di bulan Ramadhan gak berdagang karena menghormati orang yang puasa, sekarang malah didukung oleh LSM dan Tokoh...” Jelas ustadz secara panjang lebar.

“Ohh..gitu..bener juga ya pak ustadz?” ujar jamaah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. “Tapi, pak ustadz, LGBT bukannya diperbolehkan dalam Islam? Bukankah Islam tidak membedakan warna kulit manusia?, yang penting taqwanya?” Tanya jamaah protes.

“Memangnya LGBT itu singkatan apa? ” Tanya ustadz pura-pura tidak tahu.

“Saya pernah dapat broadcast WA di HP saya, LGBT itu singkatan dari Laki Gelap Bini Terang?” jawab jamaah polos.

 “Eeit, bapak nyinggung saya ya?” Ustadz menimpal (kebetulan ustadznya kulitnya warna hitam, dan isterinya bening....hehe)

 “LGBT itu siangkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transexual...tauuuu?” tambah ustadz  sambil sedikit kesal namun senyum...

Tuesday, May 22, 2018

Puasa; Semakin Mulutnya Bau, Semakin Wangi Kaya Kesturi? Masa sih...?


Sentilan Sentilun Ala U.J. (Ust. Jamhuri)
Puasa; Semakin Mulutnya Bau, Semakin Wangi Kaya Kesturi? Masa sih...?

“Ustadz, saya bingung dengan hadist Nabi saw, katanya, bau mulutnya orang puasa itu wangi bagaikan kesturi disisi Allah? Berarti, semakin bau mulut kita, semakin wangi dong di sisi Allah?” Tanya jamaah usai shalat taraweh.

“Yang bikin bingung memang apanya?” Ustadz balik tanya.
“Begini pak ustadz, Islam kan mengajarkan kita hidup bersih, bahkan kita dianjurkan memakai wewangian, kok di puasa mulut yang bau sama dengan wanginya kesturi? Berarti kita mendingan gak sikat gigi aja...biar mulut semakin bau sehingga semakin wangi di sisi Allah?.” Jamaah menjelaskan.

“Itu disebabkan bentuk kepasrahan dan ketundukan” jawab ustadz singkat.
“Maksudnya apa ustadz?” tanya jamaah penasaran.

“Semakin tunduk dan pasrah pada perintah Allah, semakin dimuliakan Allah, betapapun kondisinya” ustadz mulai menjelaskan.

“Bisa diperjelas lagi ustadz?” tanya jamaah.

“Bapak pernah ikut pramuka atau kepanduan? Atau ikut Outbond?” Tanya ustadz.

“Pernah dulu di SMA ustadz, Outbound juga pernah waktu perusahaan mengadakan Training Leadership” Jawab jamaah.

“Nah, saat bapak ikut kemah atau outbond, kita pernah kan seharian gak mandi, bahkan kita diperintah merangkak di selokan air yang kotor, baju kita kotor, gak mandi, gak bersih-bersih sampai menjelang maghrib baru selesai dan baru boleh bersih-bersih? Iya kan?” Tanya ustadz.

“Betul, ustadz.” Jawab jamaah.

“Nah, saat itu kita lakukan karena kita taat pada perintah komandan atau ketua regu, dan tak seorang pun membantah perintah mereka, karena kita takut sangsi atau tidak mau dikatakan sebagai peserta yang membandel, sehingga kita rela berkotor-kotor dan gak mandi seharian, apalagi sikat gigi, bahkan kadang kita tidak sempat ganti pakaian selama 2 hari, walaupun pakaian kita sudah terasa bau dengan keringat. Iya kan?, Nah demikian juga dengan kita terhadap Allah, Allah suka kepada kita jika kita mentaatinya walaupun resiko keadaan yang tidak kita inginkan. Sebagai contoh, dalam ibadah haji, selama ihrom, jamaah dilarang memakai baju berjahit bagi lelaki, tidak boleh pakai wewangian dalam bentuk apapun, agar mereka sadar akan jati dirinya bahwa saat wafat, mereka hanya berpakaian kain kafan, jenazah akan bau seperti bangkai. Sehingga mereka akan merenung tentag akhir hidup ini. Mereka rela meninggalkan kemewahan pakaian dan wewangian karena tunduk akan perinah Allah sehingga Allah menyukai mereka karena mereka tunduk akan perintah Allah, Hingga dalam hadist qudsi Allah swt berkata pada Malaikat, “Wahai para Malaikat, lihatlah hamba-hambaku, mereka datang dari jauh dalam keadaan pakain berkumal-kumal dengan debu  semata-mata ingin mendapat ampunanKu, saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni dosa mereka.”. Di sini Allah membanggakan orang seperti itu di hadapan para malaikatNya.” Ustadz menjelaskan panjang lebar.

“Tapi ustadz, berarti sejak pagi kita gak usah sikat gigi kalau sedang puasa, supaya tambah bau?” Tanya jamaah lagi.

 “Bukan baunya yang dinilai, tapi kepatuhannya kepada Allah. Sebab orang puasa yang tidak makan dan minum biasanya akan terjadi perubahan dalam mulutnya sehingga tidak sedap,  sementara ada segolongan manusia –terutama orang elit- tidak mau puasa karena alasan takut bau mulutnya sedangkan mereka tidak terbiasa.  Ada pula orang yang terbiasa merokok atau “ahli hisap” jika gak merokok, mulut terasa asem, lalu benci pada puasa, maka hadist itulah menjadi jawabannya. Dan oleh sebab itu, para ulama pun tidak menyarankan sepanjang hari tidak bersiwak atau bersikat gigi. Mereka membolehkan bersiwak atau bersikat gigi di pagi hari hingga waktu zhuhur (zawal). Artinya disini Islam tetap menganjurkan kebersihan dan keindahan, tapi di sisi lain, Allah juga menguji ketundukan dan kepatuhan hamba-hambaNya,” Ujar Ustadz menambah keterangannya.  

“Ohh...begitu...artinya Islam menjaga keseimbangan ya ustadz?” tanya jamaah meyakinkan. “Benar” jawab ustadz. “Udah yah saya pamit pulang, rumah saya jauh, takut kemalaman dan ngantuk di kendaraan.” Tambah ustadz menutup dialognya. (Oleh: Muhammad Jamhuri)