
KH. Acep Abdul Syakur berkisah.
Saat muda dahulu, setelah menyelesaikan pendidikannya di perguruan Asy-Syafi’iyah
yang diasuh oleh alm KH. Abdullah Syafi’i di Jakarta, beliau mendapat panggilan untuk
melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Saat berangkat, beliau memilih berangkat lewat darat, beliau
melewati beberapa negara seperti Malaysia, India, Pakistan dan Turki. Saat di
Turki beliau bertamu dan menginap di sebuah rumah bapak tua warga Turki yang
sudah lanjut usia. Di sela-sela singgah di rumah bapak tua itu, banyak kisah
yang diceritakan oleh sang empunya rumah. Termasuk kisah dirinya di masa-masa
sulit zaman pemerintahan sekuler Kamal At-Tarturk. Kebetulan bapak tua ini
mengalami zaman pemerintahan sekuler Turki era presiden Kamal At-Tarturk.
Beliau bercerita bahwa saat itu semua adzan di masjid-masjid harus diganti
dengan bahasa Turki. Demikian juga dengan al-Quran, masyarakat Turki tidak
diperbolehkan menyimpan mushaf al-Quran dengan tulisan Arab. Semuanya harus
ditulis dengan bahasa Turki. Singkat kata, arus sekularisasi begitu dahsyat.
Suara adzan –meski dengan bahasa Turki – dibatasi. Ulama-ulama yang tegas dan
lurus pun dikriminalisasi.
Acep bercerita, “Saya melihat
tangan bapak tua itu ada bekas sobek atau codet agak ke dalam, saya pun bertanya, kenapa tangan bapak seperti
ada bekas luka?”. Pak Tua itu bercerita, “Ini dahulu karena saya mempertahankan
sisa mushaf satu-satunya yang saya miliki. Saat itu aparat At-Tartturk setiap
malam berkeliling patroli guna menangkap siapa saja yang melakukan perkumpulan
atau pengajian. Malam itu mereka menyatroni rumah saya, tapi tidak menemukan
saya. Karena saya sedang membaca al-Quran di kandang kambing saya. Saya
menyimpan mushaf al-quran satu-satunya di kandang kambing karena khawatir akan
disita oleh aparat jika menyatroni rumah saya. Dan dengan lampu minyak saya
membaca al-Quran itu di dalam kandang kambing. Saya tidak sadar bahwa beberapa
aparat sedang patroli di sekitar rumah saya. Karena mereka tidak menemukan
siapa-siapa di rumah saya, mereka pun memeriksa daerah sekitar rumah saya.
Karena saya sedang khusyu’ membaca al-Quran, kedatangan mereka mendekati saya
tidak saya sadari. Dan tiba-tiba mereka menggebrak pintu kandang kambing saya, dan
memaksa saya keluar dari kandang kambing sambil memegang mushaf al-Quran yang
masih dalam genggaman tangan saya. Saat aparat itu melihat apa yang saya pegang
dan akan merampasnya, saya bertahan memegang al-Quran itu sekuat-kuatnya.
Karena itu adalah mushaf berbahasa arab satu-satunya yang masih ada. Mereka
terus memaksa ingin merebut mushaf itu dari tangan saya. Saya pun tetap
bertahan. Hingga pedang yang dibawa aparat itu mendarat di pergelangan saya dan
merobek kulit tngan saya hingga mendekati siku. Tangan saya berdarah dan mulai
melemah. Akhirnya mushaf al-Quran itu berpindah ke tangan aparat. Itulah
sebabnya tangan bekas sayatan pedang itu masih membekas hingga kini.”
Mendengar kisah almarhum KH. Acep
Abdul Syakur tersebut, saya termenung, betapa sulitnya masa-masa itu untuk
membaca al-Quran. Bahkan mempertahankan mushaf al-Quran harus berluka-luka. Kemudian
saya mengaca ke zaman now. Betapa zaman kita kini, kita masih bisa membaca
al-Quran tanpa sembunyi-sembunyi kapanpun kita mau. Namun mengapa kita tidak
rajin membacanya?
Saudaraku…saat ini kita mendengar
dan membaca berita bahwa adzan mulai dibatasi, ulama dikriminalisasi, juara
olah raga lebih dihargai dari pada juara MTQ yang sama-sama membawa nama harum
bangsa. Akan kah suatu saat kita pun akan sulit membaca al-Quran? Wallahu a’lam. Namun yang pasti bukan tidak
mungkin apapun dapat saja terjadi.
Sebelum rasa ketakutan itu
datang, marilah kita rutin membaca al-Quran. Jangan hanya kita baca saat datang
bulan Ramadhan saja. Yakinlah dengan mendawamkan/merutinkan bacaan al-Quran
setiap hari, kita dan negeri kita akan
mendapat keberkahan dan kemuliaan. Bahkan Allah akan memenangkan kita dalam
segala pertarungan. Wa man nashru illa min indiLLah (Tiada kemenangan
kecuali datang dari sisi Allah swt). Umar bin Khattab
saat mengutus pasukannya selalu mencari pasukan terdepannya adalah para sahabat
yang hafal al-Quran. Karena beliau yakin, kemenangan umat Islam bukan karena
banyaknya senjata dan fasilitas, namun karena kedalaman iman dan meninggalkan
kemaksiatan.
Muhammad Jamhuri
4 Oktober 2018