Sabtu, 28 Desember 2024

Memberi Motivasi Kepada Santri Al-Adzkar; "Fokuslah Dalam Meraih Cita-cita"

Berfoto bersama santri Al-Adzkar sebelum pamit pulang
Bogor - Senin - Selasa, 23- 24 Desember 2024 yang lalu, tepatnya satu - dua hari setelah kepulangan para santri Pesantren TEI Multazam, rumah kami kedatangan tamu-tamu mulia, mereka adalah para santri kelas 11 SMA Pesantren Al-Adzkar Pamulang, Tangsel, Banten, Mereka datang menginap di kediaman rumah kami.

Salah seorang guru mereka mengirim pesan kepada saya melalui WA, "Ustadz, anak-anak santri Al-Adzkar menginap di Multazam, kalau sempat ustdzd berikan motivasi kepada mereka", Saya menjawab, "Insya Allah".

Pagi hari setelah mereka sarapan dan sebelum berpamitan pulang, saya pun memberikan motivasi kepada mereka. Meski bicara saya kurang fasih akibat terkana stroke ringan dan baru kembali dari rumah sakit dua hari sebelumnya, saya pun memberikan motivasi melalui kisah hidup.

Suasna memberi motivasi di kediaman
"Saya ini teman pengasuh pesantren kalian Pesantren Al-Adzkar dan juga salah satu teman guru kalian, yaitu KH. Ali Rahmat Lc. MA dan Ust. Ahmad Supandi. Kami satu angkatan dan pernah satu kelas, bahkan pernah makan satu piring bersama saat mondok di Pesantren Daarul Rahman", Ujar saya memulai pembukaan.

Suatu kali pesantren Daarul Rahman tempat kami mondok kedatangan seorang syaikh yang juga dosen dan pengurus dari Universitas Islam Madinah, lalu sang syaikh melakukan muqobalah (interview) kepada lulusan santri terbaik, saat itu kami masih dalam masa pengabdian setelah lulus, maka dipanggillah 5 lulusann Daarul Rahman, temasuk saya dan KH. Ali Rahmat. Namun dari  5 orang santri, yang diterima hanya 2 orang, yaitu Ali Rahmat (kini pengasuh pesantren Al-Adkar) dan M. Faiz (Gus Faiz putra KH. Syukron Ma'mun).

Setelah mereka berangkat ke Madinah, kami sering saling berkirim surat (dahulu belum ada hp). Salah satu surat yang Ali Rahmat kirim kepada saya adalah, "Jam (panggilan saya Jamhuri), antum lebih pantas kuliah di sini. Usahakan urus bisa kuliah di sini." Dari surat itu, saya pun bersemangat. Saya urus Akte Kelahiran hingga menterjemah surat-surat ijazah, Surat kesehatan, SKKB dan lainnya ke dalama bahasa Arab via penterjemah resmi. Lalu berkas-berkas itu saya kirim ke 3 universitas di Arab Saudi; Universias Islam Madinah, Universitas Ummul Quro Makkah dan Universitas al-Imam di Riyadh.

Namun, bertahun-tahun ditunggu, tidak mendapat panggilan juga. Hingga tahun keempat, guru dan teman  menginformasikan ada kesempatan kuliah di Islamabad Pakistan. Saya pun mengurusnya. Dan akhirnya saya dan teman saya bernama Ali Fikri Noor (masih teman satu angkatan saat di Daarul Rahman) diterima kuliah di International Islamic University Islamabad (IIUI) Pakistan. Namun, setelah kuliah berjalan hampir satu semester, bekal uang saya pun hampir habis, karena bea siswa dari IIUI hanya cukup untuk makan selama sepekan setiap bulannya. Saya bingung, dan hanya bisa berdoa yang saya panjatkan, "Ya, Allah, saya masih mau kuliah, aku berserah diri padaMu, tentang bagaimanapun caranya".

Itulah doa yang saya panjatkan sehari-hari, sambil menawarkan diri dijadwal masak setiap hari bersama teman-teman Indonesia, agar dapat ikut serta makan bersama mereka. 

Pada suatu hari, di papan pegumuman kantor dekan di kampus Universitas ada panggilan untukku. Setelah saya datangi, saya diberi copy fax berbahasa Arab oleh kantor . Ternyata fax itu dikirim oleh keluarga saya yang mungkin mereka tidak paham dengan isi surat tersebut (dikira tulisan wirid dan doa). Ternyata surat itu surat pangggilan dan diterimanya saya di Universitas Ummul Quro Makkah-Saudi Arabia. Aku sempat bahagia bercampur bingung, oh ternyata pengajuan dan lamaran saya yang dikirim 4 tahun dan diajukan, baru diterima sekarang. Saya pun bingung antara lanjut di Islamabad atau Makkah, Istikhoroh pun dilakukan, namun masih belum mendapat keyakinan, apalagi saat bertanya kepada teman-teman dari Indonesia, merekapun ada yang menganjurkan saya agar tetap di Islamabad. Akhirnya saya istisyaroh (minta pendapat) kepada kyai saya. Saya menelpon beliau, dan jawabnya,, "Ambil Makkah, Insya Allah berkah". Akhirnya saya menuruti nasehat guru saya, Alhamdulilah,

"Nah, anak-anak, oleh karena itu fokuslah dalam meraih cita-cita dengan terus rajin belajar. Maka insya Allah kalian akan sukses meraih cita-cita. Kedua, jangan lupakan berdoa dan bertwakkal kepada Allah swt serta taat pada nasehat orang tua dan guru kalian". Ujar saya menutup pembicaraan. 

Jumat, 29 November 2024

“DIPAKSA” JADI CALEG, MALAH JADI PIMPIN PESANTREN?

di pintu kamar rumahku ada stiker
Hari ini saya harus nyoblos Pilkada serentak pertama di Indonesia (27 Nopember 2024). Karena KTP saya masih di Tangerang, maka saya pun menuju TPS di Tangerang, tepatnya di daerah Karawaci dekat rumah saya yang lama.

Usai nyoblos, saya sempatkan lihat rumah lama yang lernah saya diami dulu. Ternyata sudah setengah rumah jadi tampungan barang-barang yg sudah tak terpakai. Saat mau lihat kamar saya dulu, ternyata di pintu kamar saya banyak tempelan stiker, termasuk stiker-stiker kampanye saat akan pemilu 2009. Eh teranyata ada stiker saya saat jadi caleg propinsi Banten.

Awalnya saya gak mau ditawari Partai jadi caleg, karena saya gak punya apa-apa untuk modal jadi caleg. Namun karena “dipaksa” sayapun jadi caleg Proponsi Banten dari PKS utk periode 2009-2014. Dengan niat “Kalo jadi aleg, saya mau nabung untuk bikin pesantren” yang menjadi cita-cita saya.

Qodarallahu, saya pun tidak jadi caleg karena tidak mendapat suara yang cukup. Namun setahun kemudian (2010) Allah mentaqdirkan saya merintis dan membangun pesantren TEI Multazam. Setelah direnungi,, mungkin kalau terpilih jadi aleg, tahun itu (2010) belum berdiri pesantren tersebut.

IBROH & PELAJARAN:

  1. Bekerjalah untuk akhiratmu, maka dunia akan ikut bersamamu
  2. Niatkanlah kebaikan dalam segala hal, maka Allah akan mendahului meralisasikan apa yang kamu cita-citakan
  3. وما نحن بمسبوقين
Tangerang Rabu 27 Nopember 2024

Minggu, 15 September 2024

Rahasia Pesan Ayat Ini Terdapat Dalam Tiga Surat yang Berbeda Namun Saling Berkaitan

KH. DR Musyfiq Amrullah Lc. MA
Bogor - "Ayat ini tercantum dalam tiga surat yang berbeda, menurut sebagian Ulama Tafsir, ada rahasia pesan yang tersirat dalam ayat ini". Demikan salah satu isi ceramah yang disampaikan oleh KH. DR. Musyfiq Amrullah, Lc.MA dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dan Gema Sholawat yang diadakan di Pesantren Modern Perpaduan Daarul Mughni Al-Maliki, Bogor, Kamis, 12 oktober 2024

Ayat yang dimaksud adalah:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

"Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai."

ِAyat seperti ini tercantum pada tiga tempat yang berbeda dalam al-Quran, yaitu; Surat At Taubah ayat 33, surat Al- Afth ayat 28, dan surat As-Shoff ayat 9. "Letak ayat ini mengandung rahasia pesan di dalamnya. Lalu apa pesan rahasia yang terkandung di dalamnya?" Tanya Kyai Musyfiq di hadapan ribuan santri dan jamaah.

Ribuan santri dan masyarakat yang hadir di acara Maulid

Pertama, ayat ini terletak di dalam "surat Taubah", seakan Allah memberi pesan kepada hambanya, bahwa jika ingin agama Islam ini dimenangkan oleh Allah swt, maka umat Islam harus rajin melakukan muhasabah dan instrospeksi secara internal, apakah mereka telah beragama dengan baik? Adakah kesalahan yang selama ini mereka lakukan dalam beragama?. Jika setiap muslim, baik secara individu maupun kolekstif, melakukan muhasbah kemudian dibarengi dengan taubat dan memperbaiki diri maka, insya Allah, agama ini akan dimenangkan oleh Allah swt.

Kedua, ayat ini juga terdapat pada surat As-Shoff (Barisan) yang salah satu kandungan pesannya adalah agar umat Islam bersatu dalam satu barisan yang rapi seperti bangunan yang kokoh. Seakan ini memberi pesan agar umat Islam bersatu dan mengurangi perbedaan yang dapat memecah belah persatuan mereka. Karena tidak mungkin umat Islam akan dimenenangkan, jika dalam tubuh umat masih ada perpecahan. "Saat ini umat Islam sedang di adu domba dan dipecah belah oleh pihak-pihak tertentu. "Kita jangan mau terbawa dengan isu yang hanya akan menimbulkan perperpecahan di dalam tubuh umat Islam". Ajak Kyai Musyfiq kepada para jamaah. "Maka jika ingin agama islam ini  dimenangkan oleh Allah swt, maka hendaklah kita bersatu merapatkan barisan (shaff)". Tambah Kyai pimpinan Pesantren At-Tawazun Subang ini.

Ketuga, ayat ini juga terdapat dalam surat Al-Fath (kemenangan), seakan memberi pesan kepada kita bahwa jika kita selalu rajin bermuhasabah dan taubat, kemudian kita merapatkan barisan (shaff) umat Islam, maka kita akan merasakan al-Fath (kemenangan), sebagaimana yang Allah janjikan pada awal surat al-Fath ini:  "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata" (QS. Al-Fath: 1)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dan Gema Shalawat ini dihadiri oleh Habib Syeikh bin Abdul Qodir As-Segaf dan cucu beliau Muhammad al-Hadi  dari Solo yang memeriahkan acara tersebut dengan lantunan sholawat yang diikuti oleh ribuan santri dan warga Klapa Nunggal dan sekitarnya.

Hadir pula para tokoh masyarakat, dari kalangan pejabat pemerintah serta para pimpinan pesantren se-Jabodetabek dan Jawa Barat.

(laporan M. Jamhuri)

Sabtu, 24 Agustus 2024

Formada Bertemu Alumni Santri Pesantren Daarul Rahman yang Menjadi Dubes RI di Brunei Darussalam

Prof Dr. Achmad Ubaidlillah (no 4 dari kanan)
bersama pimpinan Pesantren Formada
Bandar Sri Begawan -  Rombongan para Pimpinan Pesantren yang tergabung dalam Formada (forum Kerja Sama Antar Pesantren Alumni Daarul Rahman) dan LKKN (Lembaga Kajian dan Khazanah Nusantra) bertemu dengan Duta Besar RI untuk Negara Brunei Daarus Salam Prof. Dr. Achmad Ubaedillah, M.A di kediamannya di Bandar Sri Begawan pada Jumat 23 Agustus 2024.

Kedatangan rombongan sekitar pukul 20.00 waktu Brunei disambut langsung oleh Bapak Dubes dan Ibu serta para Staff  Kedutaan dengan sangat hangat. Dalam sambutannya, Ahmad Ubaidillah merasa senang dan bahagia karena bertemu dengan para guru-gurunya  saat nyantri di Pesantren Daarul Rahman (1985-1990), antara lain KH, Kosim Susili, KH. Alwan Surya, KH. Faishol Ali Nurdin dan KH. Musyfiq Amrullah serta teman di pengurusan organisasi santri Daarul Rahman (IP3DR) dan teman diskusinya, sepert KH Atoullah, KH. Muhammad Jamhuri, KH. Musthofa Mughni dan KH. Ahmad Wildan. Para guru dan teman beliau itu ikut dalam rombongan Ziarah dan Studu Banding Malaysia-Brunei.

Ngobrol santai di kediaman Dubes RI
untuk Negara Brunei Daarus Salam
Bak sedang reunian antar alumni santri yang lama tak bertemu, obrolan pun tak terasa hingga malam hari yang diselingi kisah-kisah nostalgia masa lalu saat di Pesantren, mulai kisah menjadi bulis (ronda) hingga menjadi dubes dan sukses masing-masing alumni.

Dr. Achmad Ubaedillah, M.A. (lahir 03 Agustus 1967) adalah Alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman Angkatan 10 (Tahun 1989). Beliau aktif  di organisasi IP3DR (Ikatan Pelajar Pondok Pesantren Daarul Rahman) dan menjadi pengusrus bagian Penerangan. Beliau juga aktif dalam jurnaistik, Pada masanya terbit media Bulleetin Santri pertama bernama bulletin ASPIRATIF yang merupakan media cetak pertama dalam lingkungan santri Darul Rahman pada masa itu.

Lulus dari Pesantren Daarul Rahman, beliau melanjutjkan pendidikannya ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini UIN) dan menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana di Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN Jakarta) pada tahun 1995 kemudian melanjutkan program magister di tempat yang sama pada 2002. Ia mengawali kariernya sebagai dosen Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) di FISIP UIN Jakarta.[9] Achmad mendapatkan kesempatan mengambil program master kajian Asia Tenggara di Ohio University, Athens, Amerika Serikat. Setelah lulus dari Ohio University pada tahun 2004, setahun kemudian ayah tiga putri ini melanjutkan program doktor di bidang Sejarah Asia Tenggara di University of Hawaii at Manoa, Honolulu, AS sekaligus sebagai peserta fellowship program East-West Center (EWC), sebuah lembaga riset dan kajian strategis pada kampus tersebut. Setelah memperoleh gelar doktor dengan disertasi tentang gerakan tarekat di Sulawesi Selatan pada 2011, ia kemudian kembali mengabdi di almamaternya dengan tetap menekuni bidang yang selama ini menjadi perhatiannya: Civic Education (Pendidikan Kewarganegaraan), Islam dan Demokrasi, serta gerakan Islam kontemporer, khususnya tarekat di Indonesia.

Saat ini beliau sebagai Duta Besar (Dubes) Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Brunei Darussalam berkedudukan di Bandar Seri Begawan. Ia dilantik oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Senin (26/06/2023) di Istana Negara. Sebelumnya Ubaedillah merupakan Atase Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Atdikbudristek) KBRI Riyadh, KSA (2017-2021)

(Laporan: Jamhuri)


Kamis, 22 Agustus 2024

Pengasuh Pesantren Multazam Bersama Formada dan LKKN Adakan Studi Banding ke Malaysia

Para pengasuh Pesantren di Sekola Brainy Bunch- Malaysia
Para Pimpinan Pondok Pesantren yang tergabung dalam FORMADA (Forum Kerja Sama Antar Pesantren Alumni Daarul Rahman) bersama LKKN (Lembaga Kajian Khazanah Nusantra) mengunjungi BRAINY BUNCH ISLAMIC MONTESSORI SCHOOL di Kuala Lumpur Malaysia hari Selasa 20 Agustus 2024.

Sekolah ini didedikasikan untuk membentuk pribadi muslim yang berwawasan internasional, karena itu percakapan Bahasa Inggris diterapkan di sini sejak  tingkat sekolah dasar, namun juga dikuatkan dengan pengetahuan agama. Karena kami melihat orang tua mereka banyak lulusan universitas di Eropa dan Amerika, namun terlihat kurang dalam hal spiritual.

Aden pimpinan sekolah ini menyebut alumninya sudah tersebar di hampir lima benua di dunia, dan mereka masih merasa keterikatan dengan sekolahnya dalam beberapa event. Dan bahkan aktif.

Salah satu kekhasan sistem yang dibangunnya adalah SPICE yang diberlakukan kepada semua civitas sekolah,  baik murid, guru dan staf, yaitu:

1. SPRITUAL, kami ajarkan hal yang dasar yang biasa dilakukan setiap hari. Mulai cara yang benar, pemahaman, hingga kekhusyuan dalam shalat. Itu hanya salah satu contoh saja. Termasuk dalam penanaman spiritual juga penanaman tauhid, sehingga mereka merasa hidup merasa mawas diri karena diperhatikan dan dilihat Allah swt.

2. PHYSIC: Bagaimana anak- anak dan guru fisiknya itu sehat. Mulai diperhatikan pola makannya hingga kebiasaan olah raga. Sehingga diharapkan anak dan guru tdk mengalami obessitas (kegemukan). Kita tahu saat ini anak-anak generasi kini banyak mengkonsumsi makanan yang kurang sehat karena banyak mengandung bahan kimia dan pengawet, ditambah dengan kurangnya kebiasaan bergerak fisik.

3. INTELECTUAL. Jika spritual sudah lurus dan bagus lalu fisiknya sehat, maka saat menerima ilmu, mereka akan mendapatkan ilmu dengan dengan baik dan optimal sehingga mendapat pemahaman yang baik dan benar.

4. CREATIFITY. Selain tiga hal di atas, kami juga memberi kegiatan yang merangsang kreatifitas. Mereka pernah kami libatkan dalam suatu usaha (misal menjual hasil perkebunen duren) dan lain-lain

5. EMOSIONAL. Ini kami bangun dengan pola sosialisasi dan interaksi, dan karena kami full day dengan mereka sehingg kami dapat memantau dan menilai emosional mereka yang pada akhirnya kami perbaiki jika secara emosional ada yg kurang. Ke depan kami tidak hanya full day, namun akan melangkah mendirikan sekola berasrama seperti pesantren, agar pembentukan spiritual, emosional dan lainnya dapat dikontrol dengan baik

Rabu, 03 Juli 2024

Allah Lebih Berbahagia Dari Pada Seseorang Yang Kehilangan Barangnya Lalu Dipertemukan Kembali

 (Mengambil hikmah dari setiap peristiwa)

Tas koper yang kembali
Suatu kali, saya pernah membawa rombongan jamaah umroh, dengan rute Jakarta-Madinah-Makkah. Saat tiba di hotel di Madinah, ternyata ada dua koper yang tidak sampai ke hotel kami alias “raib”. Salah satu koper itu adalah milik saya. Bukan hanya saya yang bingung, namun seorang jamaah yang tidak menemukan kopernya pun lebih bingung lagi dan lebih mengkhawatirkannya. Saya dan beliau sama-sama kebingungan terutama semua pakaian salinan ada di koper bagasi itu.  Sebagai pembimbing ibadah umroh, saya mencoba menenangkan jamaah itu tentang kondisi ini. “Pak, koper saya pun belum ada, yuk untuk sementara pakaian salinan kita belanja saja di Madinah ini, anggap saja sama dengan membeli oleh-oleh pakaian, tapi kita pakai dulu di sini”. Alhamdulillah kami sama-sama merasa tenang untuk sementara. Namun setelah ditunggu di hari kedua, kabar tentang koper itu belum ada kejelasannya. Meskipun para petugas handling kami telah menghubungi pihak bandara dan maskapai penerbangan yang kami tumpangi, namun hasilnya nihil.

Malam Hari ketiga di Madinah, kami harus chek out menuju Makkah esok hari untuk memulai perjalanan ibadah umroh. Kabar tentang koper itu masih belum ada titik terang. Hingga usai melaksanakan shalat Isya di Masjid Nabawi, handphone saya berbunyi, tanda ada pesan whatsapp yang masuk. “Pak ini ini petugas Malika ya? Ada dua koper Malika ada di hotel kami”. Begitu pesan wa dari seorang petugas umroh travel lain. Langsung saya datangi hotel tersebut dan saya bawa menuju hotel kami. Dan segera saya hubungi dan datangi jamaah yang kehilangan koper tadi sambil saya antarkan kopernya ke kamarnya. Bukan main rasa bahagianya jamaah itu saat menemukan dan menerima koper miiknya kembali. Apalagi di dalam koper itu terdapat juga pakaian ihromnya yang akan segera dipakai besok menuju Makkah. Saya ikut merasakan bahagia, karena saya pun merasakan sekali rasa bahagia luar biasanya setelah menemukan koper kembali tersebut. Memang dalam kepadatan jamaah umroh hal-hal seperti ini sering terjadi, meskipun koper berbeda dengan grup travel lain, namun ada saja keserupaan, dan petugas potter Bandara terkadang lengah dalam pemilahannya.

Dari peristiwa itu dan menyaksikan diri dan jamaah tadi yang merasa sangat bahagia setelah kembalinya koper yang hilang, sejenak saya merenung, bahwa saya dulu pernah belajar suatu hadist dalam kitab Riyadus Shalihin Bab Taubat, yang mengisahkan bahwa ada seorang lelaki yang sedang dalam perjalanan di tengah padang pasir yang tandus dan membawa semua barang perbekalannya di atas unta yang ditungganginya. Dalam perjalanan itu, dia menemukan suatu oase (sumber mata air di tengah padang pasir), lalu lelaki itu  turun dari untanya dan segera meminum air oase yang jernih dengan tangannya beberapa kali hingga puas dan hilang dahaganya. Namun ia kaget, di tengah padang pasir itu ternyata untanya pergi hilang entah kemana? Setelah kelelahan mencarinya dan tak menemukannya, ia pun putus asa dan tertidur pulas di bawah sebuah pohon dekat oase tersebut. Namun Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia kaget seraya bergembira, karena unta dan barang bawaaanya kini datang di hadapannya. Ia merasa sangat berbahagia sekali atas kejadian itu dan ia merasa bersyukur kepada Allah. Namun saking bahagianya, ia tak sadar kalau doa Syukur itu terbalik diucapakannya, “Ya Rabb, sungguh Engkau adalah hambaku, dan Aku adalah Tuhanmu” (seharusnya, Ya Rabb, sungguh Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hambaMu)

Lalu Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya, “Sungguh Allah lebih berbahagia jika seorang hamba yang berbuat dosa kemudian dia kembali mendekat (bertaubat) kepada Allah, Allah lebih berbahagia dari pada berbahagianya seorang lelaki yang kehilangan barang perbekalannya, kemudian dia menemukannya kembali” 

Berikut bunyi hadist tersebut:

وَفي روايةٍ لمسلمٍ : « اللهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدي وَأَنَا رَبُّكَ ، أَخْطَاءَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ » .

 Artinya:

“Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat salah seorng dari kalian tatkala ia bertaubat kepadaNya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada diatas tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut  lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada tunggangannya tersebut. ia pun putus asa untuk mendapatkan ontanya.

Maka ia mendatangi suatu pohon dan berbaring dibawah naungan pohon tersebut dan ia sungguh telah berputus asa.

Ditengah keadaan itu, ternyata ontanya telah ada berdiri didekatnya. Segera iapun mengambil tali ontanya seraya berkata lantaran sangat gembiranya ( “wahai Allah kamu adalah hambaku dan aku adalah Rabb mu) keliru berucap karena terlalu gembira” (HR: Muslim)

Muhammad Jamhuri

Bogor, 3 Juli 2024/27 Dzulhijjah

Rabu, 19 Juni 2024

Ini Dia "ORDAL" Kita di Akhirat

Di belakang gambar makam Nabi saw
Istilah ORDAL (Orang Dalam) biasanya berkonotasi negatif. Itu benar jika dikaitkan dengan urusan dunia saja. Namun jika dikaitkan dengan akhirat istilah tersebut menjadi berkonotasi positf.

Orang yg berhaji saja jika tujuannya duniawi ansich, maka dia merugi (negatif), namun jika dikaitkan dengan akhirat, maka dunia di dapat, dan akhirat pun di dapat.

Firman Allah swt:

Diantara manusia ada yang berdoa, Rabbana berikan kami di dunia, tetapi tdk mendapat apa2 di akhirat, dan di antara mereka ada yang berdoa, Robbana, berikan kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat. Dan lindungi kami dai azab neraka. (al Baqarah: 201)

Seorang yg sekedar makan dan minum hanya mendapat hukum mubah, namun makan-minun jika diniatkan untuk ibadah maka ia mendapat pahala sunnah

Demikian juga dengan istilah ORDAL AKHIRAT, maka bisa dipastikan akan berkonotasi positif.

Siapa yang dimaksud dengan ORDAL AKHIRAT? Tidak lain beliau adalah baginda yang mulia: Rasulullah saw.

Beliaulah satu-satu manusia yang sudah dipastikan diberi hak oleh Allah untuk memberi syafaat (pertolongan) di alhirat.

Nah bagaimana saat kita wafat dan dibangkitkan di akhirat nanti beliau bisa kenal kita? Atau kita kenal beliau? Padahal jangankan di akhirat yg luas dan belum pernah terbayangkan itu, di suatu daerah asing saja, jika kita baru masuk ke daerah situ, sudah merasakan kebingungan?

Nah, salah satu caranya adalah kita mencintainya dengan sepenuh hati. Caranya?

  1. Banyak menyebut nama beliau melalui sholawat kepadanya. Bagaimana kita disebut mencintainya? , sedangkan lidah kita kelu untuk bersholawat padanya. Seberapa Nabi akan mengenal kita tergantung sholawat yg kita lantunkan dan bacakan setiap harinya
  2. Senang menghidupkan sunnah-sunnah dan kebiasaan baik beliau dalam kehidupan sehari-hari kita. Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaku. Dan siapa yang mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga
  3. Memperjuangkan risalah dan ajaran yang dibawanya, baik dengan harta, ilmu, pikiran, tenaga, ide bahkan nyawa, sesuai kemampuan kita
  4. Mencintai keluarga beliau (ahlul bait) dan para sahabat-sahabatnya, termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga.
  5. Senantiasa berwudhu dan melaksanakan shalat fardhu lima waktu dan sunnah

Dalam sebuah hadist, Sahabat pernah bertanya, “Jika di hari kiamat nanti, bagaimana Engkau mengenal umatmu yang sholeh?. Rasulullah saw menjawab, “jika di tengah kerumunan kuda-kuda hitam terdapat kuda putih, bukankah kuda putih itu akan tercirikan?

(Makkah, 6 Juni 2024)

Ibadah, Waktu, dan Keistimewaan Haji

Umroh:  Rangkaian dari Ibadah Haji

 يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِ ۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, "Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji."  

(QS. Al-Baqarah: 189)

Mengapa cuma kata “Haji” yang disebut dalam ayat ini? Bukankah semua ibadah utama terkait dengan waktu?

Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi berkata, bahwa ibadah mahdhoh (ritual) dalam Islam terbagi kepada 4 jenis/bentuk:

  1. Ibadah dzikir, ibadah ini tidak membutuhkan tenaga fisik dan harta. Seperti mengucap kalimat “La Ilaaha Illah” atau “Subhanallah” dan lainnya. Bentuk ibadah ini termasuk ibadah yangs paling ringan dilakukan
  2. Ibadah yang membutuhkan tenaga fisik. Seperti shalat  yang mengandung rukun berdiri (qiyam), ruku, sujud dan lainnya.
  3. Ibadah yang perlu mengeluarkan biaya/harta, seperti zakat, sedekah, hibah dan lainnya.
  4. Ibadah yang bersifat menahan hawa nafsu (emosi), seperti puasa

Nah, sedangkan ibadah haji mengandung 4 bentuk ibadah di atas, karena dalam ibadah ini terdapat ibadah zikir (bacaan talbiyah), ada ibadah fisik (thawaf, sa’i, mabit, dan melontar jumroh), ada ibadah harta (membayar ONH atau BPIH) dan ada ibadah menahan hawa nafsu (saat ihram dilarang berfarfum dan melakukuan hubungan biologis)

Itulah sebabnya pada ayat di atas  hanya di sebut “haji” saja untuk semua ibadah yang terkait waktu (mawaqit)

Kemudian kaitan antara ibadah dengan waktu dan tempat (dimensi ruang dan waktu) terbagi kepada 4 bagian:

  1. Ibadah yang tidak terkait dengan waktu dan tempat; seperti zikir, baca Quran dan sedekah. Silakan beribadah ini di mana dan di kapan saja (selain di toilet tentunya)
  2. Ibadah yang terkait dengan waktu, tetapi tidak terkait dengan tempat. Seperti sholat wajib 5 waktu dengan waktu-waktunya yang telah ditentukan. Adapun tempat pelaksanaannya boleh di man saja, asal tdk bernajis
  3. Ibadah yang terkait dengan tempat saja, dan tidak dikaitkan dengan waktu. Seperti ibadah umroh, berupa ibadah thowaf, sa’i dan tahallul, yang tentunya harus dilakukan di tempat Tanah Suci yakni Makkah/Masjidil Haram
  4. Ibadah yang ditentukan waktu dan tempatnya secara bersamaan. Seperti ibadah haji. Ia harus dilakukan di tempat-tempat tertentu (Masya’ir Muqoddasah) seperti Arafah, Muzdalifah, Mina dan Masjidil Haram. Sedangkan waktunya juga telah ditentukan yaitu Syawal, Dzulqodah dan Dzulhijjah (Asyhurun Ma’lumat). Terutama di tanggal 8, 9, 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah

Dengan demikian, ibadah haji dilakukan dengan menggabungkan dua unsur: Unsur Ruang dan Unsur Waktu

Jadi, ibadah haji ditinjau dari bentuknya telah menggabungkan 4 bentuk ibadah: ibadah zikir, fisik, harta, emosianal dan spritual

Sedangkan ditinjau keterkaitannya dengan waktu dan tempat, ibadah haji juga menggabungkan unsur ruang dan waktu secara bersamaan.

Wallahu a’lam

H. Muhammad Jamhuri

Makkah, Rabu 12 Juni 2024/6 Dzulhijjah 1445 H

Makna Tarwiyah di Mina Pada 8 Dzulhijjah

Bersama Ust Abdul Somad di Mina
Ada dua pendekatan dalam memaknai arti Tarwiyah:

  1. Kata Tarwiyah berasal dari fiil mujarrod rowiya-yarwa, yang berarti memuaskan dari dahaga. Karena para jamaah haji dahulu menyiapkan air yang banyak untuk persiapaan mabit selama 2-3 hari setelah wukuf di Arafah.
  2. Kata Tarwiyah berasal dari ru’yah, artinya bermimpi, karena pada tanggal 8 Dzulhijjah Nabi Ibrahim bermimpi diperintah Allah swt untuk menyembelih putra bernama Ismail.

Allah swt menceritakan peristiwa ini dg firmannya, “Dan tatkala Ismail telah sampai dewasa, Ibrahim berkata, wahai putraku, aku bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih dirimu, bagaimana pendapat kamu? Ismal menjawab: Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan padamu, engkau akan dapati termasuk orang-orang yang bersabar (QS: as-Shoffat:102)

Suasana Tarwiyah di Mina
Perintah ini adalah ujian berat bagi loyalitas Ibrahim. Mana yang lebih dia cintai?, putranya yg sejak dahulu ditunggu kelahirannya? Atau kah lebih mencintai dan taat akan perintah Tuhannya : Allah swt ?

Pada akhirnya Nabi Ibrahim memilih loyalitas pada sang Pencipta: Allah swt. Namun demikian, setelah Allah melihat kejujuran loyalitasnya, Allah pun menganggap Ibrahim telah lulus melewati ujiannya. Dan sebagai gantinya, digantinya Ismail dengan seekor domba yg dipersembahkannya melalui Malaikat sebagai rezeki atas kesabaran dan loyalitas keduanya.

Foto: Suasana Tarwiyah di Mina Mekkah pd tgl 8 Dzulhijjah 1445 H/Jumat 14 Juni 2024

Arafah: Upaya Mengenal Diri Untuk Mengenal Allah (Ma'rifatullah)

Sunset di Arafah
Banyak sebab sehingga kawasan padang yang menjadi tempat wukuf para jamaah haji ini dinamakan ARAFAH;

  1. Dinamakan Arafah karena ia tempat pertemuan nabi Adam as dan Siti Hawa pasca dikeluarkan dari surga. Adam diturunkan di wilayah India, dan Siti Hawa diletakkan di Jeddah, setelah keduanya merantau saling mencari, bertemulah mereka di padang Arafah ini. Saat saling bertemu, Adam bertanya kepada Siti Hawa, “HAL ‘AROFTINI?” Hawa pun bertanya, “HAL AROFTANI?” (apakah engkau mengenalku?). Jadilah daerah itu disebut ARAFAH
  2. Dinamakan ARAFAH diambil dari kata I’TIRAF (pengakuan) karena di tempat inilah, para jamaah haji mengakui kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya sembari memohon ampunan Allah swt
  3. Dinamakan AROFAH diambil dari kata AROFA (mengenal), sebagaimana ungkapan kata hikmah: “MAN AROFA NAFSAHU AROFA ROBBAHU (Siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya)

Mengenal dirinya artinya “tahu diri”, dari apa dia diciptakan?, untuk apa diciptakan? dan akan kemana dia berakhir?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka dia akan menyimpulkan bahwa dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Seluruh keberadaannya, aktifitas dan keberhasilannya adalah karena adanya zat yang maujud yang menggerakannya, kemudian pada masanya ia akan dikembalikan kepada zat yang maha Maujud itu.

Sehingga akan timbul rasa “kehambaan” yang maksimal dan totalitas dalam setiap gerak hidupnya. “Dan tidaklah diciptakannya manusia dan jin kecuali hanya untuk menghamba/mengabdi kepadaKu” (Qs.Adz Dzariyat: 56)

Muhammad Jamhuri

Sabtu, 15 Juni 2024/ 9 Dzulhijjah 1445 H

Foto:

Pemandangan sunset di sore Arafah

Jumat, 31 Mei 2024

Haji Adalah Training Mati Dengan Bekal "Two Key Words of Life"

H. Ahmad Multazam direktur PT. Malika serahkan bendera
Kebarangkatan Jamaah Haji Khusus PT. Malika Tour & Travel dtandai dengan acara Pelepasan Jamaah Haji di hotel Azana, Jakarta Barat, Ahad 24 Mei 2024. Hadir dan memberi sambutan Direktur PT. Malika Tour and Travel H. Ahmad Multazam, SE. Beliau juga menyerahkan amanah secara simbolis berupa bendera Malika kepada KH. Muhammad Jamhuri sebegai Amirul Haji Malika (Ketua Rombongan Jamaah Haji Malika 2024).

Sementara itu, KH. Muhammad Jamhuri sebelum keberangkatan memberi tausiyah singkat sebagai berikut:

KH. M. Jamhuri sebagai Amirul Hajj Malika memberi arahan
“Haji itu Training Mati, Menurut sebauah dikatakan bahwa jika seseorang mati atau meninggal dunia maka akan ikut  bersamanya tiga hal. Namun  dari tigal itu cuma ada dua hal akan kembali pulang, dan satu hal  saja yang akan ikut serta bersama sang mayit ke dalam kuburan. 

Dua hal yang mengantar mayit dan akan kembali adalah keluarga yang mengantar ke kuburan, dan harta (kendaraan) yang ikut mengantar para pelayat. Keduanya akan kembali lagi ke rumahnya. Sedangkan satu hal yang akan ikut bersama jenazah di dalam kuburan, ia adalah amal. 

Maka mirip dengan ibadah haji. Hari ini kita di antar oleh keluarga dan kendaraan kita di hotel Bandara ini, namun saat kita berangkat ke Tanah Suci, mereka semua akan kembali ke rumahnya masing-masing . Dan tinggal hanya jamaah haji dengan amalnya yang akan dilaporkan di Tanah Suci.”.  Demikian arahan Muhammad Jamhuri saat acara Pelepasan Jamaah Haji Malika thn 2024 di hotel Azana Style Life, dekat Bandara Soekarno Hatta, Jakarta Ahad 26 Mei 2024

Pada bagian lain, Muhammad Jamhuri menyampaikan bahwa Hidup itu hanya menghadapi dua hal:

  1. Pertama, kita menghadapi hal yang kita senangi dan inginkan.
  2. Kedua, kita menghadapi hal yang kita tidak senangi dan tidak diingankan

Cuma itu.

Dan dua kata kunci untuk menghadapinya pun hanya dua, yaitu SYUKUR dan SABAR

Kondisi pertama, kita hadapi dengan syukur, dan kondisi kedua kita hadapi dengan sabar. Sabda Nabi saw: “Aku heran mengapa semua urusan orang muslim itu selalu baik. Jika ia mendapat nikmat lalu bersyukur maka itu kebaikan baginya. Dan Jika dia mendapat hal yang tidak diinginkan (keburukan) lalu ia bersabar, maka itupun kebaikan baginya". (al hadist)

Dalam ibadah haji pun akan kita temukan dua hal itu, dan cara menyikapinya pun dengan dua hal juga, maka insya Allah haji kita menjadi haji mabrur.”

Demikian disampaikan saat acara Pelepasan Jamaah Haji PT. Malika Ahad 26 Mei 2024 lalu di hotel Azana Life Style Jakarta


Minggu, 19 Mei 2024

Aku Dan Almarhum Arif Besari

Arief Besari bin Prasetyo Tamat
wafat hari Jumat 16 Mei 2024 Pkl. 15.20 di usia 54 Tahun.
 
Usai shalat qiyamullail di malam Sabtu menjelang subuh, saya membuka beberapa pesan di WA, dan di salah  satu WAG saya membaca satu pesan yang membuat saya kaget "Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un. Telah meninggal dunia Ust. Arif Besari Jam +- 15.20. Semoga Almarhum diterima di sisiNya dan keluarga yang ditinggal di beri kesabaran sudah . Lokasi menyusul".

Bagaimana tidak kaget? sehari sebelumnya beliau mengirim lampiran materi KKP UPA dengan pesannya, "Materi KKP ust" beserta gambar telunjuk yang yang menunjuk ke lampiran materi berupa hadist Riyadus Sholihin. Saya pun membalasnya "thoyib".

Rencana UPA (Unit Pembinaan  Anggota) yang berisi materi kajian hadist dari kitab Riyadussholihin itu, diamanahkan beliau kepada saya untuk disampaikan pada hari Sabtunya (18 Mei 2024), namun ternyata beliau telah dipanggil Allah sehari sebelumnya, Jumat 17 Mei 2024.

Kemudian waktu Ashar Jumat, saya mendapat berita bahwa almarhum akan disemayamkan di rumah ibunya di bilangan Ciputat setelah dibawa dari Rumah Sakit Sari Asih. Saya pun berangkat takziyah ke rumah duka di Ciputat setelah sebelumnya mengisi pengajian kitab Mukhtar Ahadist dan shalat Isya terlebih dahulu di Pesantren.

Saya sempat membina beliau di bilangan Cisauk beberapa tahun lalu, karena rumah beliau berada di kelurahan pagedangan. Namun dengan berjalannya waktu, beliau bersama saya ikut dalam suatu kajian, dan beliau termasuk peserta yang sangat aktif. Bahkan beliaulah yang sering mengingatkan dan menelpon saya secara japri jika 5 menit saja saya belum hadir di dalam kajian, baik secara online maupun offline.

Saya meyakini bahwa beliau wafat dalam kondisi husnul khotimah- insya Allah, Sebab, beliau wafat di hari Jumat, dan pada saat menjelang waktu Ashar akan tiba,  beliau sudah berada di Musholla/Masjid menunggu waktu Ashar tiba. Dalam CCTV musholla/masjid Al-Abror yang tidak jauh dari tempatnya bekerja di Yayasan Prasetya Karya/belakang Sekolah Bunayya Pasar Kamis Tangerang, nampak beliau sudah berada di masjid sebelum jamaah lain tiba dan beliau rebahan atau tiduran. Selang beberapa menit, beliau seperti tertidur, dan tidak lama kemudian datanglah seorang muadzin. Karena sudah masuk waktu ashar, sang muadzin langsung menuju mic masjid untuk melantunkan adzan. Usai melantunkan adzan sang muadzin lansung menuju amarhum yang nampak sedang tiduran, dan katika dibangunkan dengan menggerak-gerakkan tubuhnya, almarhum sudah tidak bergerak.  Dan saat itulah para jamaah lain mengerumungi almarhum untuk memastikan kondisi. Karena tidak bergerak juga, akhirnya almarhum dibawa ke rumah sakit Sari Asih untuk memastikan kondisi. Akan tetapi pihak Rumah Sakit pun berkesimpulan bahwa beliau sudah wafat.

Beliau wafat di hari Jumat, saat sedang menunggu waktu shalat Ashar, dan bahkan seakan memilih akhir hidupnya di tempat yang mulia di muka bumi, yaitu masjid/musholla). Orang mukmin yang wafat di hari Jumat mendapat keutamaan, seperti yang dijelaskan hadits Nabi riwayat Imam al-Tirmidzi:

 مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الجُمُعَةِ أوْ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ إلّا وَقَاهُ الله تَعَالَى فِتْنَةَ القَبْر

"Tidaklah seorang Muslim di meninggal dunia di hari atau malam Jum'at, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur" (HR: Tirmidzi).

Ada pula hadist lain riwayat Humaid dari Ilyas bin Bukair yang menyatakan, Barangsiapa meninggal dunia di hari Jumat, ia dicatat mendapat pahala syahid dan selamat dari siksa kubur.

Sedangkan pahala orang yang menunggu shalat, maka seakan ia sedang shalat, Sabda Nabi saw:

لا يَزَالُ أَحَدُكُمْ في صَلاةٍ مَا دَامتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ

“Seseorang di antara kamu tetap berada dalam keadaan shalat selama dia ditahan oleh shalat. (HR:Bukhori-Muslim)

Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan orang yang shalat kemudian tetap di masjid menunggu datangnya waktu shalat

Semoga Allah swt mengampuni segala kesalahannya, menerima iman, Islam dan amal sholehnya serta dicatat sebagai salah seorang syuhada. Aamiin.

Berikut detik-detik wafatnya almarhum Ust. Arif Besari di Musholla/masjid al-Abror





 

Selasa, 09 April 2024

KHUTBAH IDUL FITRI TAHUN 2024

Oleh : KH. Muhammad Jamhuri, Lc MA*)

 

ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا, لا اله الا الله ولا نعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون, لا اله الا الله وحده صدق وعده  ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده, لا اله الا الله والله أكبر ولله الحمد.

الحمد لله الذي جعل اليوم عيدا للمسلمين  والمسلمات والصائمين والصائمات, والصلاة والسلام على سيد نا محمد سيد السادات, وعلى آله وصحبه ومن تبعه باحسان الى يوم الميعاد. أشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين وسلم تسلبما كثيرا.

أما بعد, فيا عباد الله, اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وأنتم مسلمون قال الله تعالى: ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون.

 

Kaum muslimin wa muslimat yang berbahagia

 

Kalimat “Allahu Akbar adalah simbol umat Islam di seluruh dunia. Sejak malam tadi, kalimat ini terus menggema-membahana hingga menembus ke ruang angkasa...

Di kota-kota, desa-desa, bahkan daerah terpencil, selama masih ada seorang muslim, suara ini terus menggema, menandakan rasa kesyukuran kepada Allah swt atas apa yang telah dicapai selama Ramadhan, sekaligus sebagai bukti kelemahan Hamba di hadapan Allah yang Maha Besar. Kebesaran Allah juga tidak hanya terlihat dari kekuasaan di alam raya, namun juga Allah memberi nikmat berupa hidayah dan syariat Islam, terutama syariat puasa di bulan Ramadhan. Tidak ada agama yang selengkap dan seindah ajaran agama Islam. Di bulan Ramadhan inilah selama sebulan lamanya terjadi “Mega Training” secara massif bagi umat manusia dalam memperbaiki tubuhnya, memperbaiki akhlaknya, memperbaiki mentalnya, memperbaiki sikapnya, memperbaiki pola hidupnya, memperbaiki hubungan spritualnya dengan Tuhan, memperbaiki hubungan sosialnya, memperbaiki kondisi ekonominya, bahkan memperbaiki barisan persatuan dan ukhuwahnya. Itulah sebabnya, di akhir ayat shiyam, Allah swt berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.

 

“Dan hendaklah engkau menyempurnakan bilangan puasa dan hendaklah membesarkan nama Allah atas petunjuk(ajaran)Nya kepadamu dan agar kamu bersyukur” (QS.al-Baqarah: 185)

 

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd

Tentu saja, perasaan rasa syukur ini hanya bisa dirasakan oleh kaum muslimin dan muslimat yang telah melaksanakan ibadah selama bulan Ramadhan. Mengapa? Karena mereka telah mampu taat dan patuh melaksanakan perintah Allah swt. Dengan puasa dan diiringi dengan membayar zakat, manusia akan kembali kepada fitrah dan kesucian. Inilah makna yang terkandung dalam kata “Idul Fitri”

Berbeda dengan kata “lebaran” yang lebih dekat dengan kata “liburan”. Semua orang boleh ikut berlebaran dan berliburan, baik orang yang berpuasa maupun orang yang tidak berpuasa, bahkan orang-orang non muslim pun ikut berliburan lebaran. Mereka sama-sama memakai baju baru mereka, mereka sama-sama bertamasya, mereka sama-sama memakan hidangan yang enak. Semuanya ikut merasakan liburan lebaran. Bahkan –boleh saya katakan- non muslim adalah mengambil bagian terbanyak dari tradisi lebaran ini. Mereka mendapat keuntungan dari situasi Ramadhan, terutama di bidang ekonomi. Siapakah yang memiliki sentra-sentra produksi selama Ramadahan?, siapakah pemilik produk kecap?sirop?garmen, mall-mall?mini market-mini market? Mereka mayoritas adalah saudara kita dari kalangan non muslim. Mereka telah ber”lebaran” dengan keuntungan Ramadhan yang mereka raih, bahkan mereka dapat berlibur ke luar negeri di masa-masa liburan lebaran ini.

Namun, meskipun merasakan lebaran, apakah mereka juga merasakan “idul fitri”? Tidak. !. Yang dapat merasakan idul ftiri adalah mereka kaum muslimin yang telah berpuasa dengan iman dan ikhlas, yang mengisi Ramadhan dengan aktifitas ibadahnya, mereka lah yang hanya dapat merasakan idul fitri (kembali kepada fitrah dan kesucian)

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd

Kaum Muslimin wal muslimiat rahimakumullah

Selain rasa gembira dan bahagia karena telah melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya, kita juga merasakan kesedihan ditinggal oleh bulan Ramadhan. Ibarat seorang tamu yang datang sekali setahun, dan setiap datang selalu menebar kebahagiaan kepada kita. Maka kedatangannya selalu dirindukan dan kepergiannya selalu ditangisi. Begitu pula dengan Ramadhan, kepergiannya membuat sedih hati kaum muslimin yang taat. Mereka khawatir tamu itu tidak akan bertemu lagi dengan mereka, karena mereka tidak tahu kapan ajal akan menjemput mereka.

Oleh sebab itu, orang yang kedatangan tamu yang menyenangkan ini, tidak ingin kemesraan yang indah ini cepat berlalu, mereka tidak ingin tamu ini berpisah begitu saja. Mengapa mereka merasakan rindu yang mendendam seperti ini? Karena mereka mengetahui bahwa di dalamnya penuh dengan nikmat dan kebahagiaan. Mereka yang mengerti hal ini hanyalah sedikit saja. Sedangkan sebagian besar umat ini melewati ramadahan dengan biasa-biasa saja. Rasulullah saw bersabda:

لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِيْ مَا فِي َرمَضَانَ لَتَمَّنَّوْا اَنْ تَكُوْنَ السَّنَةُ كُّلُّهَا رَمَضَان

“Andaikata umatku mengetahui apa yang terdapat dalam bulan Ramadhan, maka mereka pasti berangan-angan agar setahun itu semuanya adalah ramadhan.”

 

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd..

 

Selain rasa bahagia dan sedih, kita pun perlu mengevaluasi ibadah kita selama Ramadhan:

Pertama, Sudah seberapa besarkah pengaruh ibadah yang kita lakukan, baik sholat, zakat maupun puasa? Sudahkah sholat dan puasa kita membuat kita hidup berdisiplin dan berkarakter? Sudahkah kita selalu merasakan kebersamaan dengan Allah di luar puasa sebagaimana yang kita rasakan saat berpuasa? Kita tidak berani minum atau makan barang sedikitpun jika belum datang waktu berbuka dan meskipun tidak ada orang yang melihat kita. Namun apakah hal yang sama bisa kita lakukan, dengan tidak berani memakan milik orang lain, apalagi harta milik rakyat banyak? Atau tidak berani makan barang haram? Karena selalu merasa disaksikan Allah swt?

Kedua, Banyak di antara kita yang hanya berkonsentrasi pada tanggal 1 syawal, namun melupakan 30 hari bulan Ramadhan. Kita sibuk mencari harta demi tanggal 1 syawal, namun kita melewatkan hari-hari selama bulan Ramadhan. Kita sibuk bekerja untuk baju baru, hingga kita meninggalkan taraweh, membaca al-Quran, qiyamullail, itikaf, bahkan ada yang meninggal ibadah puasa yang menjadi inti ibadah di bulan Ramadhan.

Ketiga, kita sibuk memperdebatkan kapan hari raya idul fitri? Rabu atau Kamis? Sehingga kita melupakan sisa-sisa akhir Ramadhan yang merupakan puncak dari turunnya malam lailatul qodar. Bagaikan seorang murid atau mahasiswa yang memperdebatkan kapan pengumuman hasil ujian, atau kapan liburan tiba? Tetapi mereka melupakan pelajaran ujian itu sendiri.

Keempat, tentang zakat fitrah yang salah satu fungsinya adalah membuat bahagia kaum dhuafa, sehingga tidak ada lagi pemandangan orang-orang yang masih meminta belas kasihan di hari raya, semuanya harus menunjukkan kebahagiaan. Namun kenyataannya, masih banyak kaum fakir miskin bertebaran di mesjid-mesjid meminta belas kasihan. Bahkan fenomenanya adalah justru lebih banyak penampakan kaum miskin di tengah-tengah kaum muslimin melaksanakan shalat ied. Hal ini terjadi karena ada dua kemungkinan, kemungkinan distribusi zakat belum maksimal serta tidak tepat sasaran, dan kemungkinan karena mental pengemis yang menghinggapi sebagian jiwa kaum muslimin. Mengemis dijadikan sebagai sebuah profesi. Padahal Rasululllah saw bersabda,

اليَدُ الْعُلْيَ خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلىَ

“Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”.

Muhasabah ini harus selalu kita lakukan, agar dari tahun ke tahun, umat Islam, pasca gemblengan Ramadhan, terus mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Jangan sampai Ramadhan hanya rutinitas yang kita lewati begitu saja, tanpa perubahan yang positif bagi kemajuan umat Islam.

 

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd..

Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah..

Setelah kita melewati Ramadahan dengan serangkaian ibadah, kita berharap semoga seluruh ibadah kita diterima oleh Allah swt. Hal yang akan meringankan diri kita saat dihisab di hari kiamat. Namun, meskipun dosa kita diampuni oleh Allah swt, akan tetapi dosa yang kita lakukan kepada sesama manusia haruslah kita mintakan maafnya kepada setiap manusia yang pernah kita zalimi. Oleh sebab itu, momen idul fitri ini merupakan momen yang tepat untuk kita saling bermaaf-maafan. Sehingga ibadah Ramadhan kita menjadi sempurna.

Allah swt berfirman:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمْ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنْ النَّاسِ ُ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia” (QS: Ali Imran: 112)

Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa kehinaan akan menimpa seseorang jika tidak melakukan hubungan yang baik kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan baik sesama manusia (hablum minannas).

Orang yang pertama kali yang harus kita mintakan maafnya adalah kedua orang tua. Karena merekalah yang telah melahirkan kita serta mendidik kita. Betapa pun sederhananya mereka dan serba kekurangannya dibanding kita, mereka adalah makhluk yang harus kita hormatه, bahkan meskipun mereka berbeda agama keyakinan dengan kita.

 

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd..

Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah..

Saat ini kita memasuki bulan Syawal, dan Ramadhan tahun depan masih 11 bulan lagi. Kita tidak mengetahui apakah kita akan berjumpa lagi dengan Ramadhan tahun depan atau tidak?. Namun, meskipun kita sudah berada di luar bulan ramadhan, janganlah kita meninggalkan semangat ramadhan. Kita harus tetap jaga predikat “takwa” di luar ramadhan. Oleh sebab itu kalimat “la’allakum tattaqun” dalam ayat 183 surat al-Baqarah menggunakan fi’il mudhore (present countinue tense) “Tattaqun”, yang dalam bahasa Arab mengandung pesan “lil hadir wal mustaqbal”, yakni untuk masa kini dan masa mendatang, atau “lil istimror wat tajaddud” untuk terus menerus dan berkesinambungan. Sehingga kalimat “la’allakum tattaqun” mengandung pengertian agar engkau bertakwa terus menerus dan memperbaharui hingga masa-masa yang akan datang. Taqwa jangan hanya terjadi di bulan Ramadhan saja, akan tetapi juga terus berlanjut di masa-masa yang akan datang.

Salah satu ibadah terdekat yang bisa kita lakukan di bulan syawal ini adalah berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Rasulullah saw bersabda:

منْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ فَكَأنهُ صَامَ الدَّهْرَ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian dilanjutkan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama setahun lamanya.” (HR: Muslim)

 

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd..

Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah..

Akhirnya, marilah sama-sama kita berdoa kepada Allah swt, semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya diterima oleh Allah swt.

Semoga Allah swt menerima sholat kita, puasa kita, tahajjud kita, zikir kita, khusyu’ kita dan menyempurnakan segala kekurangan dan kelalaian kita. Amin Yaa Rabbal alamin..

 

باَرَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الكَرِيْم. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآياتِ وَالذكْرِ الحَكِيْمِ.  وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْم, أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلمِيْن مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ  فَاسْتَغْفِرُوه, اِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 

 

KHUTBAH  KEDUA

 

 

ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبر, ألله أكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا, . أشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له ارغاما لمن جحد به وكفر, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الخلائق والبشر, اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد وسلم تسليما كثيرا

أما بعد, فيا أيها الناس اتقوا الله ولازموا الصلاة على خير خلقه عليه الصلاة والسلام, فقد أمركم الله بذلك ارشادا وتعليما فقال:

 ان الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين وعلى بقية الصحابة و التابعين وعلى تابعي التابعين ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين وعلينا برحمتك يا أرحم الراحمين, اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات, انك سميع قريب مجيب الدعوات, يا قاضي الحاجات, اللهم تقبل منا صلاتنا وصيامنا وقيامنا و ركوعنا وسجودنا وتخشعنا وتضرعنا وتمم تقصيرنا  يا رب العالمين, , ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

 

عباد الله, ان الله يأمر بالعدل والاحسان وايتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي, يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم وادعوه يستجب لكم ولذكر الله أكبر.

 

 

SELESAI

*) Pengasuh Pesantren Terpadu Ekonomi Islam Multazam – Rumpin Bogor. Khutbah disampaikan pada shalat Idul Fitri 1 Syawal 1445 H/10 April 2024 M  di Masjid al-Muhajirin Cluster Catalina, Gading Serpong Tangerang