(Mengambil hikmah dari setiap peristiwa)
![]() |
Tas koper yang kembali |
Malam Hari ketiga di Madinah, kami harus chek
out menuju Makkah esok hari untuk memulai perjalanan ibadah umroh. Kabar tentang koper itu masih belum ada titik
terang. Hingga usai melaksanakan shalat Isya di Masjid Nabawi, handphone saya
berbunyi, tanda ada pesan whatsapp yang masuk. “Pak ini ini petugas Malika ya?
Ada dua koper Malika ada di hotel kami”. Begitu pesan wa dari seorang petugas
umroh travel lain. Langsung saya datangi hotel tersebut dan saya bawa menuju
hotel kami. Dan segera saya hubungi dan datangi jamaah yang kehilangan koper tadi
sambil saya antarkan kopernya ke kamarnya. Bukan main rasa bahagianya jamaah
itu saat menemukan dan menerima koper miiknya kembali. Apalagi di dalam koper
itu terdapat juga pakaian ihromnya yang akan segera dipakai besok menuju
Makkah. Saya ikut merasakan bahagia, karena saya pun merasakan sekali rasa bahagia
luar biasanya setelah menemukan koper kembali tersebut. Memang dalam kepadatan
jamaah umroh hal-hal seperti ini sering terjadi, meskipun koper berbeda dengan
grup travel lain, namun ada saja keserupaan, dan petugas potter Bandara terkadang lengah
dalam pemilahannya.
Dari peristiwa itu dan menyaksikan diri dan
jamaah tadi yang merasa sangat bahagia setelah kembalinya koper yang hilang, sejenak
saya merenung, bahwa saya dulu pernah belajar suatu hadist dalam kitab Riyadus
Shalihin Bab Taubat, yang mengisahkan bahwa ada seorang lelaki yang sedang
dalam perjalanan di tengah padang pasir yang tandus dan membawa semua barang
perbekalannya di atas unta yang ditungganginya. Dalam perjalanan itu, dia
menemukan suatu oase (sumber mata air di tengah padang pasir), lalu lelaki itu turun dari untanya dan segera meminum air oase
yang jernih dengan tangannya beberapa kali hingga puas dan hilang dahaganya.
Namun ia kaget, di tengah padang pasir itu ternyata untanya pergi hilang entah
kemana? Setelah kelelahan mencarinya dan tak menemukannya, ia pun putus asa dan tertidur
pulas di bawah sebuah pohon dekat oase tersebut. Namun Ketika ia terbangun dari
tidurnya, ia kaget seraya bergembira, karena unta dan barang bawaaanya kini
datang di hadapannya. Ia merasa sangat berbahagia sekali atas kejadian itu dan ia
merasa bersyukur kepada Allah. Namun saking bahagianya, ia tak sadar kalau doa
Syukur itu terbalik diucapakannya, “Ya Rabb, sungguh Engkau adalah hambaku, dan
Aku adalah Tuhanmu” (seharusnya, Ya Rabb, sungguh Engkau adalah Tuhanku dan aku
adalah hambaMu)
Lalu Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya,
“Sungguh Allah lebih berbahagia jika seorang hamba yang berbuat dosa kemudian
dia kembali mendekat (bertaubat) kepada Allah, Allah lebih berbahagia dari pada
berbahagianya seorang lelaki yang kehilangan barang perbekalannya, kemudian dia
menemukannya kembali”
Berikut bunyi hadist tersebut:
وَفي روايةٍ لمسلمٍ : « اللهُ
أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ
كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا
طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في
ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها
قَائِمَةً عِنْدَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ ،
اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدي وَأَنَا رَبُّكَ ، أَخْطَاءَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ » .
“Sungguh
Allah lebih gembira dengan taubat salah seorng dari kalian tatkala ia bertaubat
kepadaNya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada diatas
tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada
tunggangannya tersebut. ia pun putus asa untuk mendapatkan ontanya.
Maka ia
mendatangi suatu pohon dan berbaring dibawah naungan pohon tersebut dan ia
sungguh telah berputus asa.
Ditengah keadaan itu, ternyata ontanya telah
ada berdiri didekatnya. Segera iapun mengambil tali ontanya seraya berkata
lantaran sangat gembiranya ( “wahai Allah kamu adalah hambaku dan aku adalah
Rabb mu) keliru berucap karena terlalu gembira” (HR: Muslim)
Muhammad Jamhuri
Bogor, 3 Juli 2024/27 Dzulhijjah