Jumat, 18 Mei 2012

Bersiap Diri Menghadapi Ajal


“Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. Al-A’raf: 34)




Tidak ada yang tahu kapan ajal kita akan tiba. Ajal (kematian) adalah rahasia yang dimiliki Allah swt.  Dia-lah yang menentukan, kapan kematian itu akan datang menghampiri kita.

Tidak ada yang menyangka, demontrasi pesawat Shukoi  sebagai ajang promisi penerbangan berakhir dengan duka yang dalam. Para pramugari dan penumpang  yang berpose dengan riang gembira sesaat sebelum pesawat lepas landas, harus berakhir dengan musibah yang sangat menyedihkan semua manusia. Wajah yang cantik dan tampan beberapa jam yang lalu, kini harus hancur dan nyaris tidak dikenali lagi.

Begitulah ajal. Ia datang secara tiba-tiba dan sulit diprediksi kapan datangnya. Ia akan datang ke semua orang, baik anak kecil maupun orang dewasa, baik lelaki maupun perempuan, baik rakyat maupun penguasa. Semua akan datang ajalnya.

Hidup kita memang dibatasi  oleh ajal dan waktu. Cobalah anda siapkan pena dan secarik kertas, lalu tulislah di atas secarik kertas itu angka tahun berikut: “1940—2060”, lalu tanyakan pada diri Anda, apakah Anda pernah wujud dan terlahir di dunia ini sebelum tahun 1940? Lalui tanyakan kembali pada diri Anda, apakah Anda akan hidup terus hingga tahun 2060? Jawabannya adalah tidak.! Hidup kita benar-benar dibatasi waktu, dan kematian akan selalu datang menghampiri kita kapan saja Allah menghendakinya.

Lalu, persiapan apa yang harus kita lakukan sebelum ajal menjemput kita?.

Hidup adalah ibarat sebuah perjalanan. Jika kita hendak melakukan sebuah perjalanan maka segala sesuatunya harus dipersiapkan. Sebagai contohj: Jika kita ingin melakukan perjalanan menuju Surabaya, maka kita harus mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari biaya (ongkos), pakaian, obat-obatan, bahkan jalan mana yang harus kita lewati sehingga kita selamat sampai tujuan seperti yang kita kehendaki.

Demikian pula dalam hidupi ini, tempat tujuan akhir kita adalah kematian. Lalu apa yang harus kita siapkan menghadapi kematian itu?.

Rasulullah saw bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menahan hawa nafsunya, dan ia beramal untuk persiapan setelah ia meninggal dunia” (HR: Muslim).

Orang yang melakukan perjalanan, akan tetapi orang itu tidak tahu tempat tujuannya maka dia aldah orang bodoh. Dan jika dia sudah tahu tempat tujuannnya, akan tetapi tidak mempersiapkan bekal, maka ia pun termasuk orang bodoh.

Orang cerdas adalah orang yang dalam melakukan suatu perjalanan, mengetahui ke mana tujuannya? Kemudian ia pun mempersiapkan bekal untuk perjalanan tersebut agar tiba di tempat tujuan dengan selamat.

Dengan demikian, jika kita hidup di dunia ini yang diibaratkan seperti melakukan perjalanan, maka kita harus mengerti bahwa tujuan akhir kita adalah akhirat, kemudian kita pun harus mempersiapkan bekal untuk sampai ke akhirat dengan selamat dan bahagia.

Orang yang hanya sibuk dan menyibukkan diri untuk kebahagiaan dunia saja tanpa memikirkan bekal untuk akhirat, naka sama saja dia melakukan sebuah perjalanan akan tetapi dia tidak mengetahui kemana tempat tujuannya dan dimana dia akan berakhir. Demikian pula orang yang mengetahui bahwa tujuan akhir hidup ini  adalah akhirat akan tetapi dia tidak mempersiapkan bekal untuk akhiratnya, maka sama saja dengan orang bodoh.

Oleh sebab itulah, dalam mengarungi bahtera hidup ini, yang pelabuhan akhirnya adalah akhirat, maka kita harus mempersiapkan bekal untuk menuju kampung akhirat itu dengan selamat dan bahagia.

Lalu, bekal apa yang ideal dalam hidup kita ini? Allah swt berfirman, “Dan, berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal “ QS. Al-Baqarah: 197)

Jadi, takwa-lah sebaik-baik bekal dalam hidup ini. Takwa adalah perasaan takut melakukan perbuatan dosa, takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Takwa adalah seperti engkau berjalan di sebuah jalan yang oenuh dengan onak-duri lalu engkau berhati-hati agar tidak terluka oleh duri itu. Takwa adalah perasaan selalu diawasi oleh Allah dimanapun kita berada.

Dengan takwa itulah, kebahagiaan akan dapat kita raih, bukan hanya kebahagiaan abadi di akhirat saja yang memang menjadi ujung perjalanan hidup kita, akan tetapi kebahagiaan juga akan kita rasakan saat dalam perjalanan hidup kita di dunia.

Firman Allah swt,  “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dari segala masalah) dan akan memberi rezeki yang tidak diduga-duga” (QS. At-Thalaq: 2-3

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf: 96)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur dan gadis-gadis remaja yang sebaya dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (QS. An-Naba’: 31-36).

M. Jamhuri


Minggu, 13 Mei 2012

Agar Tidak Terlilit Hutang


Ya Allah aku berlindung padaMu dari kegelisahan dan kesedihan, dan aku berlindung padaMu dari kelemahan dan sikap malas, dan aku berlindung padaMu dari sikap pengecut  dan kikir, dan aku berlindung padamu dari lilitan hutang dan paksaan orang” (HR: Abu Daud)



Dari sahabat Abu Said al-Khudry ra, Rasulullah saw, pada suatu hari masuk ke dalam masjid, ternyata di dalam masjid ada seorang dari kalangan Anshor bernama Abu Umamah. Rasulullah saw bertanya, “Wahai Abu Umamah, mengapa aku masih melihatmu di dalam masjid bukan pada waktu shalat?”

Abu Umamah menjawab, “Saya sedang dirundung kegelisahan dan terlilit hutang, wahai Rasulullah !”

Rasulullah saw bertanya, “Maukah engkau aku ajarkan doa yang jika engkau membacanya, maka Allah akan menghilangkan kegelisahanmu dan menyelesaikan hutangmu?”.

Abu Umamah menjawab, “Ya, mau ya Rasulullah, “

Rasulullah saw bersabda, bacalah di waktu pagi dan sore doa ini:  Ya Allah aku berlindung padaMu dari kegelisahan dan kesedihan, dan aku berlindung padaMu dari kelemahan dan sikap malas, dan aku berlindung padaMu dari sikap pengecut  dan kikir, dan aku berlindung padamu dari lilitan hutang dan paksaan orang”

Kemudian Abu Umamah bercerita, “Maka aku pun melaksanakan hal itu, kemudian Allah menghilangkan dariku kegelisahan dan menyelesaikan hutangku.” (HR: Abu Daud)

Dari hadist di atas, dapat kita ambil beberapa pelajaran, antara lain:

Do’a dan isi yang terkandung di dalamnya mengandung pesan kepada pemohonnya sehingga dia tergerak untuk bersikap menuju sesuatu apa yang diinginkannya. Terkabulnya doa seseorang bukanlah semata lafadz-lafadz yang dia baca. Akan tetapi kesesuaian sikap dengan isi doa yang dia baca.

Sejak dia membaca doa, maka sikap-sikapnya harus disesuaikan dengan isi doa yang terkandung di dalamnya. Jika hanya lafadz-lafadz saja yang dibaca,  dan tanpa ada perubahan sikap dari orang yang memohon, maka doa itu tidak akan ampuh.

Dari doa itu, maka kita harus menghilangkan 8 (delapan) penyakit jiwa yang saling berkaitan.

1. Berlindung dari penyakit gelisah. Gelisah adalah penyakit yang akan merontokkan semangat hidup. Kuncinya adalah selalu merasa tsiqoh (percaya) dan yakin kepada Allah, sehingga apapun yang menimpa diri kita, kita selalu hadapi dengan sikap optimis. Sikap gelisah akan mengakibatkan sikap sedih dan lemah.

2. Berlindung dari kesedihan. Dan kesedihan lahir karena sikap gelisah di atas. Obat kesedihan adalah istiqomah dan komitmen. Firman Allah swt: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."  (QS. Fushilat: 30)

3. Berlindung dari sikap lemah. Ada tiga macam sikap lemah yang harus kita hindari; lemah fisik, lemah mental dan lemah ide. Orang-orang robbani (yang selalu berorientaisi hidupnya untuk Allah) tidak akan pernah terkena tiga penyakit lemah ini. Dan orang yang seperti itu dalam al-Qur’an disebut orang yang sabar. Firman Allah swt: “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146) . Jadi, menurut ayat ini, sabar bukanlah mengalah dan lemah, tetapi tangguh dalam menghadapi segala masalah serta sanggup mengatasinya.

4. Berlindung dari sikap malas. Sikap malas ini lahir dari rasa lemah di atas. Orang yang sudah lemah fisik, mental dan ide, tidak akan produktif, sehinga tidak dapat menyelasaikan masalah. Solusinya adalah dengan mujahadah atau sungguh-sungguh dalam mengisi kehidupan iini sambil mengharap ridho Allah swt. Allah hanya akan berpihak kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh (jihad).  Firman Allah swt: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Ankabut: 69)

5. Berlindung dari sikap pengecut. Sikap pengecut ini lahir dari rasa malas tadi. Sehingga dalam diri orang pengeceut tidak ada keberanian menghadapi segala problema. Solusinya adalah selalu istiqomah dalam keimanan, sebagaimana firman Allah pada surat Fushiat: 30 yang disebutkan di atas. Bahwa jika kita beriman dan beristiqomah (lurus), malaikat berkata, “Janganlah kamu takut”. Di sini, akan lahir jiwa pemberani lawan dari sikap pengecut.

6. Berlindung dari sikap kikir. Biasanya orang yang takut dan pengecut mempunyai sikap takut melarat, akhirnya tidak mau menggunakan kekayaannya untuk keperluannya sendiri, lebih baik berhutang dari pada pakai uang sendiri, apalagi dia mau berderma dan memberi kepada sesama.

7. dan 8 adalah berlindung dari sikap berhutang. Sikap ini timbul dari sikap kikir di atas. Lebih baik berhutang daripada memakai uangnya sendiri. Jika sikap berhutang menjadi kebiasaan, maka dia bisa dikendalikan (dibawah pemaksaan dan kemauan) orang-orang. Seperti negeri kita yang banyak hutang mudah dikendalikan pihak asing.

Semoga kita terlindung dari sifat-sifat tersebut. Amiin.

Muhammad Jamhuri


Jumat, 11 Mei 2012

Mukjizat Wudhu

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki “ (QS. Al-Maidah; 6)
 Wudhu adalah akrifitas rutin yang dilakukan seorang Muslim yang taat kepada ajaran agamanya. Dalam sehari-semalam, tidak kurang berwudhu sebanyak lima kali seperti  halnya melaksanakan shalat lima waktu. Boleh jadi berwudu lebih dari lima kali dalam sehari semalam, sebab jika seorang akan melaksanakan shalat dhuha, tahajjud atau memegang alQuran untuk dibaca, maka dia harus berwudhu terlebih dahulu. Ada pula orang yang sengaja berwudhu hanya ingin menjaga kesucian diri. Bagi orang ini, setiap kali terasa batal wuduhunya, ia segera berwudhu kembali agar dalam aktifitasnya selalu dalam keadaan suci, baik dalam shalat atau pun di dalam shalat. Bahkan saat sebelum tidur pun, ia berwudhu agar ia tidur dalam keadaan telah bersuci. Orang seperti ini ingin mendapat kecintaan dari Allah swt, karena Allah swt mencintai orang-orang yang mennyucikian dirinya. Sebagaimana firman Allah swt, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dirinya” (QS. Al-Baqarah: 222).

Kenapa kita dianjurkan untuk berwudhu? Karena dalam wudhu ada beberapa manfaat, baik manfaat lahiriyah maupun manfaat batiniyah (ruhiyah), Adapun manfaat ruhiyah antara lain:

1. Diampuninya dosa-dosa. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakannya, maka semua dosa keluar dari jasadnya, hingga dari ujung kuku-kukunya.” (HR; Muslim)

2. Wajah, tangan dan kaki orang yang berwudhu akan bercahaya. Rasulullah saw bersabda, “Sungguh, umatku akan dipanggil  pada hari Kiamat dalam keadaan bercahaya di sekitar wajah, tangan dan kaki karena bekas wudhu” (HR: Bukhori Muslim)

3. Diangkatnya derajat/kewibawaan. Rasulullah saw bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang menyebabkan Allah menghapus dosa dan meninggikan derajat kalian?” Para Sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah”. Rasululah saw bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada hal-hal yang tidak disukai” (seperti pada saat cuaca dingin) (HR: Muslim)

4. Dibukakan pintu surga. Rasulullah saw bersabda, “Tidak seorang pun di antara kalian yang berwudhu dengan sempurna, lalu mengucapkan “Asyhadu alla ilaaha illahu wahdahu laa syarika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluhu” kecuali dia dibukakan delapan pintu surga. Dia bisa masuk dari mana pun dia suka.” (HR: Muslimk)

Dan  masih banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan manfaat wudhu dari sisi ruhiyah (spritual).

Sedangkan manfaat wudhu dari sisi lahiryiah pun tidak kalah pentingnya. Antara lain:

1. Ketenangan jiwa. Orang yang berdosa akan terasa jiwanya tidak tentram. Dan tatkala ia berwudhu sehingga dosa-dosanya akan terhapus maka hal ini akan menimbulkan ketenangan jiwa. Ketenangan jiwa ini akan mempengaruhi fungsi otak dan peredaran darah, sehingga tubuh akan menjadi lebih sehat.

2. Kulit akan selalu bersih. Karena wajah, tangan, dan kaki adalah bagian tubuh yang tidak terlindungi oleh pakaian. Sehingga ia lebih sering tersengat sinar matahari secara langsung. Selain itu tiga bagian tubuh itu paling rentan terkena kotoran dan debu karena tidak tertutup pakaian. Oleh sebab itu, wudhu dapat membersihkan kotoran yang menempel pada tiga bagian tubuh wudhu tersebut. Dengan bersihnya kulit pada ketiga bagian anggota tubuh itu, maka akan terhindar dari kanker kulit.

3. Berpenampilan fresh (segar) dan menggairahkan aktifitas. Sebab saat wajah dibasuh dengan air wudhu, maka penampilan pun akan terlihat  fresh dan segar.. Selain itu wudhu juga dapat menyegarkan sel-sel tubuh sehingga dapat menggairahkan tubuh untuk beraktifitas. Di Prancis telah dilakukan penelitian tentang seberapa besar produktifitas para pekerja di sebuah pabrik/perusahaan. Ternyata, pekerja muslim lebih tinggi produktifitasnya dibanding pekerja non muslim, karena pekerja muslim saat istirahat siang mereka berwudhu dan melaksanakan shalat, sehingga hal ini melahirkan semangat kembali setelah setengah hari lelah bekerja.

4. Berkumur saat berwudhu dapat membersihkan gigi dan mulut dari bakteri-bakteri. Selain itu, berwudhu pun dapat mencegah bau mulut.

5. Memasukkan air ke dalam hidung saat berwudhu dapat menjaga kebersihan lubang hidung, sehingga bakteri yang masuk ke dalam hidung dapat dibersihkan. Memasukkan air ke dalam hidung pun dapat mengindari diri dari penyakit polip. Selain itu, dengan mubalaghoh (menyempurnakan) berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung akan mencegah mudahnya terjangkit penyakit influlenza. Karena penyakit flu banyak diakibatkan masuknya virus melalui jalur hidung dan mulut.

6. Mengusap kepala dengan air saat berwudhu dapat membersihkan rambut dan kulit rambu dari kotoran dan bakteri yang menempelnya. Selain itu, penampilan rambut pun terlihat lebih fresh dan terhindar dari pemandangan kusam. Hal ini sesuai dengan anjuran Rasulullah saw agar kita merawat rambut. Sabda Rasulullah saw, “ Barangsiapa yang memilki rambut, hendaklah ia menghirmatinya (merapikannya)” (HR: Abu Daud).

Dan masih banyak lagi rahasia dan mukjizat wudhu. )I(