Jumat, 12 Februari 2021

Berguru Kepada Syaik Abdul Fattah Husein Rawah, Ulama Masjidjil Haram Asal Aceh

PERNAH MENGAJI DAN BERGURU KEPADA SALAH SATU DI ANTARA MEREKA

Segala puji bagi Allah, saya pernah berguru kepada salah
satu di antara mereka, yaitu Syeikh Abdul Fattah Husein Rawah (daftar no 13.) karya beliau “Al-Ifsoh ‘Ala Masail al-Idhoh (Penjelasan atas kitab Al-Idhoh/ fi Manasik al-Hajj wa al-Umroh, karya Imam al-Nawawi). Halaqah pengajiannya saat itu dekat Pintu Bab al-Salam Masjidil Haram antara tahun 1996-2000
Roimahullah wa rohimahumullah rohmatan wasi’ah, nafa’aniyallahu bi ’ulumihi fi al-daaroin. Aamiin
Berikut daftar Ulama Nusantara yang dimakamkan di Jannatul Ma'la Makkah Al-Mukarromah, antara lain:
  1. Syaikh Nawawi bin Umar al-Bantani (w. 25 Syawal 1314 H/ 29 Maret 1879 M.)
  2. Syaikh Ahmad Khatib al-Minkabawi (w. 19 Jumadil Awwal 1334 H/ 13 Maret 1916 M.)
  3. Syaikh Mahfudz al-Tarmasi (w. 1 Rajab 1338 H/ 22 Maret 1920 M.)
  4. Syaikh Abdul Hamid al-Qudsi (w. 9 Rajab 1334 H/ 12 Mei 1915 M.)
  5. Syaikh Ahmad Nahrawi al-Banyumasi (w. 1926 M).
  6. Syaikh Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa (w. 10 Jumadis Tsani 1354 H/ 28 September 1935 M.)
  7. Syaikh Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi (w. 1376 H/ 1956 M.)
  8. Syaikh Ali bin Abdullah al-Banjari (w. 1370 H/ 1950 M.)
  9. Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al-Padani (w. 28 Dzulhijjah 1440 H/ 23 Juli 1990 M.)
  10. Syaikh Abdul Qadir al-Mandaili (w. 20 Rabi'ul Akhir 1385 H/ 18 Agustus 1965 M.)
  11. KH. Abdul Karim bin KH. M. Hasyim Asy'ari (w. 1972 M.)
  12. Syaikh Abdullah Durdum al-Padani (w. 27 Sya'ban 1407 H./ 27 April 1987 M.)
  13. Syaikh Abdul Fattah Rawa (w. 1424 H/ 2003 M.
  14. KH. Maimoen Zubair (w. 5 Dzulhijjah 1440 H. / 6 Agustus 2019 M.)
اللهم امتنا في طريقتهم واحشرنا في زمرتهم والحقنا بهم في دار النعيم

Gambar:
Kitab yg diajar beliau sejak saya membelinya pertama kali, alhamdulillah tiap pergi haji saya bawa selalu. Semoga Allah merahmati beliau dan semua guru-guru kami.

Aku dan Alm. Ust. Taufiq Ridho

Almarhum H. Taufiq Ridho & keluarga

Sudah lama aku mengenal beliau, tapi beliau belum pernah mengenalku. Beliau mengenalku sejak aku bergabung di STEI SEBI yang saat itu kampusnya masih di Cipitat.

Saat silaturahim ke Sekolah Tinggi yang konsen menebar ekonomi syariah di bumi pertiwi ini,, beliau langsung menyambutku dengan ramah. Bahkan aku langsung ditodong untuk mengajar mata kuliah RIBA DAN GHOROR, satu mata kuliah yang belum dilepas Bapak Prof.DR. Didin Hafifudin yang saat itu menjadi Ketua STEI SEBI dikarenakan kesibukan beliau yang juga menjadi ketua program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Kholdun - Bogor .saat itu.

Saat saya tidak percaya diri diberi tugas mengajar Mata Kuliah "Ekonomi Makro Islam" dan "Ekonomi Mikro Islam", beliau-lah yang menguatkan saya bahwa saya mampu melakukannya. Lalu beliau bercerita bahwa saat beliau pulang dari Yordania dahulu pun merasa tidak PD (Percaya Diri), namun sering dengan perjalanannya ternyata bisa dilalui, bahkan lembaganya dipercaya lembaga-lembaga keuangan syariah di Tanah Air.
Sejak itu, bila bertemu beliau pada acara-acara tertentu, beliau masih mengenal saya..Padahal beliau manusia super sibuk. "Jamhuri....!, kaef haluk syeikh?" begitu kalo beliau memanggil saya.
Beliau juga pencipta dan pelantun nasyid-nasyid bersemangat. Melalui grup nasyidnya SHOUTUL HAROKAH saya bisa menangkap suara khas beliau. "Inii Suara Taufiq Ridho nih..." dalam hati saya jika aku putar lagu Shoutul Harokah saat di mobil atau lainnya. Termasuk lagu "KAMPANYE CALON PRESIDEN PRABOWO" pun saya mengenal jelas suara beliau...
Kini beliau meninggalkan kami karena Allah lebih mencintainya. Semoga Allah menerima amal shalehnya serta mengampuni kekhilafannya
. Selamat jalan teman, semoga engkau dikumpulkan bersama para nabi, shoddiqin, syuhada dan sholihin. Aamiin.

Rumpin, 6 Jnauari 2017

Saat Kuliah, Aku Pernah Sanggah Pernyataan Dosenku...

Saya pernah mempunyai dosen saat kuliah pascasarjana (S2) di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta yang menjelekkan penerapan hukum Islam jika hukum Islam diterapkan di Indonesia. Alasannya karena jika hukum Islam diterapkan, maka akan mengubah adat istiadat nusantara yang harus dilestarikan. Salah satunya adalah adat tradisi yang ada di Papua. Dimana, sebagian kaum lelaki di sana menggunakan koteka yang tentu saja auratnya akan kelihatan. 

Saya bilang, Dalam teori ilmu sosial, kemajuan peradaban suatu suku atau negara dilihat dari berbagai aspek, mulai dari peraturan,/ketertibannya, tata kota hingga budaya termasuk budaya berpakaian. Semakin rapi dalam berpakaian maka semakin berbudaya suatu masyarakat. Oleh sebab itu. Islam datang untuk memajukan peradaban manusia. Jika sebelumnya masyarakat tidak mengenal mandi atau mandinya seadanya dan semaunya. Islam datang mengajarkan tata cara mandi dan bersuci. Jika sebelumnya suatu suku tidak mengenal berpakain yang layak dan baik. Islam mengajarkan bepakain yang baik dan menutup aurat. Bahkan mengajarkan memakai wewangian. Singkatnya, Islam datang untuk memajukan perdaban manusia.

Saya menambahkan, sedangkan kaum misionaris kristen yang datang di sana saat ini justru membiarkan mereka sebagian suku Papua terkebalakang dalam budaya dan peradaban, mereka dibiarkan bertelanjang dan hidup primitif, sementara mereka kaum misionaris bekerjasama dengan kaum kapitalis mengeruk kekayaan alam papua, seperti tambang emas, hutan dan lainnya...dan membiarkan masyarakatnya hidup miskin dan keterbelakang dalam segala sisi