Senin, 03 Mei 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE-21: IBADAH PRIORITAS

Banyak orang yang mementingkan sholat tarawih dari pada sholat sunah bakdiyah Isya. Banyak orang yang berupaya untuk berpuasa menahan lapar di bulan Ramadhan, namun ringan dalam meninggalkan shalat fardhu lima waktu. Banyak orang yang berburu mempersiapkan hari raya idul fitri dengan bekerja lembur hingga  meninggalkan puasa di bulan Ramadhan dan ibadah-ibadah sunah lainnya. Banyak orang yang berburu belanja di Mall di sepuluh terakhir Ramadhan dibanding berburu lailatul qodar di masjid.

Padahal hukum taraweh adalah sunah, sedangkan shalat bakdiyah isya hukumnya sunnah muakkadah (sunah yang sangat ditekankan). Padahal berpuasa di bulan Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat, sedangkan sholat fardhu lima waktu adalah rukun Islam yang kedua. Padahal memakai baju baru di hari raya Idul Fitri hukumnya sunah biasa dan durasinya cuma satu hari saat idul fitri, sedangkan meninggal puasa Ramadhan hukumnya haram dan berdosa, dan menyia-nyiakannya Ramadahan dengan meninggalkan banyak kesempatan ibadah adalah sebuah kerugian besar. Padahal Rasulullah saw tidak menganjurkan meramaikan pasar di sepuluh terakhir Ramadhan melainkan menganjurkan meramaikan masjid-masjid. Tapi itulah yang banyak kita saksikan dan temukan di tengah-tengah masyarakat.

Pada saat saya membimbing jamaah haji atau umroh, di Masjidil Haram atau masjid Nabawi seringkali dilaksanakan shalat jenazah setiap bakda shalat fardhu. Tapi banyak jamaah saya yang tidak ikut melaksanakannya bersama imam masjid, tapi mereka malah semangat melaksanakan sholat bakdiyah dan sunnah-sunnah lainnya. Saya katakan kepada mereka bahwa sholat jenazah itu hukumnya fardhu kifayah, sedangkan shalat bakdiyah itu hukumnya sunah. Fardhu kifayah itu lebih tinggi kedudukannya dari pada sunnah.

Bahkan ada juga jamaah yang masih bermasalah dengan shalat fardhunya selama ini di Tanah Air, tapi bersemangat melaksanakan ibadah umroh yang sifatnya sunnah dan harus membayar jutaan rupiah. Bahkan ada yang meyepelekan shalat fardhu saat berada di Tanah Suci.

Be smart Moslem..!. Jadilah muslim yang cerdas. Kita harus pandai memposisikan diri dalam melaksanakan ibadah, mana yang harus diprioritaskan? Meskipun semua ibadah itu kebaikan, namun syariat telah menentukan mana yang urgent, dan mana yang biasa serta tidak urgen?

Dalam urutan tertib hukum taklifi, maka yang paling urgent adalah fardhu ain, kemudiam diikuti fardhu kifayah, sunnah muakkadah, sunah, mustahabb, makruh, dan haram. Jangan sampai kita semangat menghidupkan amalan sunah, sementara yang fardhu ain kita tinggalkan.

Sedang dalam kaidah maqashid syariah (tujuan syariat), urutan tertibnya adalah dharuriyat (primer) yakni perkara-perkara yang sangat urgen dan penting yang jika ditinggalkan akan membahayakan, hajiyat (sekunder) yakni perkara-perkara kebutuhan yang jika ditinggalkan tidak berbahaya bagi keselamatan jiwa. Dan Tahsiniyah (kepantasan) yakni perkara-perkara yang dapat membuat hal menjadi lebih pantas atau indah. Maka jangan memprioritaskan tahsiniyat (keindahan) atas hajiyat (kebutuhan) dan dharuriyat (primer). Sebagaimana jangan memperioritaskan hajiyat (sekunder) di atas dharuriyat (primer).

Demikian pula, amalan yang berlandaskan dalil qothy’ harus diprioritaskan di atas amalan yang berlandaskan dalil zhanny. Serta  mendahulukan amalan yang berdalil shahih di atas amalan yang berdalil dhoif apalagi maudhu’. Wallahu a’lam.

Muhammad Jamhuri, 21 Ramadhan 1442 H.

Minggu, 02 Mei 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE-20: DUA SISI KESEMPURNAAN AMAL

Dalam teks-teks al-Quran dan hadist, selalu saja ada dua amal yang saling berkaitan. Satu sama lainnya tidak terpisahkan. Kedua amal itu memang harus ada pada diri setiap muslim. Jika salah satunya tidak ada, maka amalan itu tidak akan sempurna. Kedua amalan itu adalah berdimensi hablun minallah dan hablun minannas (hubungan kepada Allah dan hubungan kepada sesama makhluk). Atau ibadah yang besifat individual dan ibadah bersifat sosial

Kata “sholat” dan kata “zakat” umpanya selalu disebut berdampingan dalam al-Quran, karena sholat berdimensi pribadi dengan Tuhannya, sedang zakat berdimensi sosial. Kata beriman dan beramal sholeh (alladzina aamanu wa amilussholihat) juga selalu berdampingan, karena iman bersifat keyakinan pribadi, sedang amal sholeh berdampak sosial.

Bagaimana dengan perintah puasa? Sama. Dalam puasa,  kita selain dianjurkan banyak shalat malam, juga dianjurkan banyak bersedekah. Rasulullah saw adalah orang yang paling dan bertambah kedermawanannya saat memasuki bulan puasa. Bahkan usai puasa, malam takbir hingga sebelum usai shalat idul fitri kita diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah. Zakat yang harus dikeluarkan oleh inidividu muslim yang mempunyai kelebihan makanan di hari raya. Termasuk yang fakir dan miskin pun, jika dia di hari itu kelimpahan makanan pokok, walau pun awalnya sebagai mustahiq, dia tetap harus berzakat fitrah.

Kedua perintah berdimensi peribadi dan sosial ini menjadi prinsip ajaran Islam. Imam Nawawi dalam kitab Nashoih al-‘Ibad berkata, “Afdholul ‘Amal: Al-iman billahi wa al-naf’u lil muslimin”. Sebaik-baik amal adalah mengimani Allah dan bermanfaat bagi kaum muslimin. Inilah prinsip sekaligus way of Life.

Perkara kepedulian sosial bukan lagi menjadi masalah furuiyah fiqhiyyah (masalah cabang fiqih), akan tetapi menjadi masalah imaniyah. Nabi saw bersabda “Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR: Bukhori). Di sini Nabi saw menyatakan “tidaklah beriman” yang menunjukkan bahwa masalah kepedulian sosial bukan masalah furuiyyah fiqhiyyah, akan tetapi menjadi masalah keimanan.

Bahkan dalam beberapa hadist, menyebut beberapa contoh bahwa rasa peduli kepada sesama (kepedulian sosial) dianggap sebagai yang lebih utama dari pada ibadah individual. Nabi saw bersabda, “Seseorang yang keluar untuk menunaikan kebutuhan saudaranya lebih utama dari pada beri’itikaf di mesjidku.” (HR: at Thabrani)  Bayangkan, i’tikaf di masjid Nabi saw adalah ibadah yang didamba-dambakan. Namun keutamaan itu dikalahkan oleh pergi menunaikan kebutuhan manusia.

Bahkan kisah seorang wanita yang berprofesi “psk” pun, mendapat pahala surga setelah dia memberi minum kepada seekor anjing yang sedang kehausan.

Syeikh DR. Yasir bin Salim Asy-Sayhiri ulama asal Yaman yang baru-baru ini berkunjung ke Indonesia, saat mewisuda para santri dan memberi ijazah sanad hadist musalsal bil awwaliyah berkata, “Mengapa setiap Syeikh saat memberi ijazah sanad hadist, maka ijazah yang pertama diberi adalah hadist  al-musalsal bil awwaliyah?.. Karena agar umat Nabi Muhammad saw selalu menjadi rahmat kepada semua makhluk, sebagai kelanjutan dari tujuan diutusnya Nabi Muhammad saw. ‘Tidaklah Aku utus engkau kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

Hadist al-musalsal bil awaaliyah itu bunyinya adalah: “Orang yang kasih sayang, akan dikasihsayang oleh Dzat yang Maha Kasih Sayang (Ar-Rahman), Sayangilah semua yang di bumi, maka kalian akan disayangi oleh yang di langit.” (HR: Bukhori)

Muhammad Jamhuri, 20 Ramadhan 1442 H.

 

 

 

 

Sabtu, 01 Mei 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE-19: 10 TERAKHIR RAMADHAN, ANTARA NASIB MASJID DAN MALL

Orang-orang tua kita di Jakarta (Betawi) dan Tangerang dulu, setiap datang pertengahan Ramadhan selalu membuat menu ketupat untuk disedekahkan ke surau/musholla. Anak-anak pun senang membawa-bawa ketupat, baik ketupat yang masih dalam bentuk cangkangnya maupun sudah berisi. Kadang kita pakai untuk bermain seolah-olah berdagang ketupat “kupat-kupat..” layaknya pedagang ketupat. Lalu apabila kita akan membuka ketupat dengan cara mempreteli anyaman daun-daunya secara satu persatu, spontan dilarang orang tua. Ketika ditanya alasannya, orang tua hanya menjawab, “Gak boleh, itu pamali”. Lalu orang tua memerintahkan, kalau membuka ketupat harus dari tengahnya dengan cara membelahnya dengan pisau.

Lalu jika datang tanggal 20 Ramadahan, orang-orang tua membuat menu kue ketimus atau clorot (jawa) dalam bentuk seperti ekor cecak tetapi ukurannya sebesar pisang,  atau dalam bentuk kerucut. Kemudian saat kita akan memakannya, lagi-lagi orang tua kita melarang apabil cara makannya dimulai dari bagian besarnya, harusnya memakannya dari ujung terkecilnya dahulu. Sekali lagi, jika ditanya kenapa? Jawabannya sama, “gak boleh, pamali !.”

Setelah dewasa, saya baru mengerti, bahwa larangan di atas memberi pesan yang sangat dalam. Para Wali Songo memberi pesan dalam simbol menu makanan yang dibuat. Larangan membuka ketupat dengan cara dipereteli anyaman daunnya, dan hanya boleh dengan cara dibelah dengan pisau mengisyaratkan pesan kepada kita, bahwa Ramadhan sudah di pertengahan. Artinya, separuh Ramadhan sudah berakhir, dan yang tersisa separuhnya lagi. Ini memberi pesan kepada kita, agar jangan sia-sia kan separuh Ramadahan yang masih ada. Amalan harus ditingkatkan, target-target tilawah serta amalan baik lainnya harus tercapai.

Kemudian, larangan memakan kue ketimus berbentuk kerucut dimulai dari yang besarnya dan berakhir dengan yang kecilnya, dan hanya diperbolehkan memakan dari yang kecil dan berakhir di bagian yang paling besar, ialah berisi pesan juga bahwa puncak keutamaan ibadah di Ramadhan ada di 10 terakhir Ramadahan. Maka ibadah di hari-hari terakhir ini harus ditingkatkan dan dibesarkan porsinya. Karena di dalamnya terdapat satu malam yang mulia. Yaitu lailatul qodar.

Rasulullah saw sendiri telah mencontohkan, selama 10 tahun hidup di Madinah sejak hijrahnya hingga wafatnya tidak meninggalkan kebiasaan (sunah) I’tikaf (berdiam) di dalam masjid di sepuluh hari terakhir bulan Ramadahan. Bahkan di tahun beliau meninggal dunia, beliau beri’tikaf di masjid selama 20 hari.  Rasulullah saw juga bahkan pernah mengqadha i’tikaf 10 harinya, jika tidak sempat i’tikaf saat terjadi peperangan di bulan Ramadhan.

Ini menunjukkan pentingnya taharri (berjaga-jaga) di sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Saudaraku, Ramadhan segera akan meninggalkan kita. Ia akan berakhir beberapa hari lagi ke depan. Maka di sisa hari yang ada, hendaknya kita meningkatkan amaliyah Ramadhan. Salah satunya dengan beri’tikaf di masjid. Mengapa di masjid? Karena agar ibadah yang kita laksanakan lebih kosnsentrasi dan tidak disibukkan dengan aktifitas keduniaan. Selain itu, Rasulullah saw bersabda yang arinya, “Sebaik-baik dataran bumi adalah masjid, dan seburuk-buruknya adalah pasar/mall.”

Akan tetapi fenomena yang nampak adalah, setiap mmenjelang akhir Ramadahan umat lebih memilih berbondong-bondong ramai mendatangi pasar/mall dan dari pada meramaikan masjid... . Yuk kita ubah balik, dengan 3 M; Mulai dari kita, Mulai dari sekarang, dan Mulai dari yang kita bisa.

Muhammad Jamhuri, 19 Ramadhan 1442 H.