Rabu, 30 November 2022

Gempa Bumi di Cianjur. Mau Menyumbang Atau Disumbang?

Penyerahan sumbangan terpal kepada pesantren
Pada kesempatan mengisi khutbah Jumát di Jakarta, saya mengungkapkan bagaimana akibat yang diderita saudara-saudara kita di Cianjur yang mengalami bencana gempa bumi. Mereka hidup di tenda-tenda darurat seadanya akitbat rumah-rumah mereka runtuh. Pada saat khutbah itu, saya tawarkan dengan ucapan di atas, "Mau Menyumbang, Atau Mau Disumbang?". Kalimat ini saya maksudkan untuk muhasabah (introspeksi) diri kita masing-masing. Betapa nikmat besar yang dialami sebagaian kita yang tinggal di daerah yang jauh dari pusat gempa. Kita masih bisa tidur nyenyak di atas tempat tidur, sementara kawan-kawan kita di cianjur tidur di bawah tenda-tenda darurat. Belum lagi intensitas hujan yang kerap turun yang tak mengenal waktu, bisa pagi, siang, bahkan di tengah malam. Bahkan mereka masih dihantui gempa susulan yang datang silih berganti

Kita juga masih dapat menikmati makan dengan menu yang kita ingini di rumah, atau bahkan kita sesekali dapat mengunjungi rumah makan favorit kita. Sedangkan saudara-saudara kita untuk makan harus menunggu uluran bantuan dari orang yang mau membantunya, dengan menu seadanya, tidak bisa memilih menu semaunya. Bahkan karena keterbatasan bantuan makanan, mereka harus berbagi makanan yang terbatas itu antara mereka.

Bagi sebagian kita yang memiliki atau mengelola lembaga, sekolah atau pesantren yang aman dari musibah gempa, masih dapat menjalankan proses kegiatan belajar dan mengajar (KBM) dengan normal. Guru dan murid berinteraksi dengan gembira dan ceria. Sementara saudara-saudara kita di Ciajur tidak dapat melakukan kbm-nya dengan normal. Bahkan sebagian murid dan santri harus diliburkan dari KBM karena masih khawatir dengan gempa-gempa susulan yang datang silih berganti. Agenda ujian akhur semester (UAS) atau Penilaian Akhir Semester (PAS) yang sejatinya akan berlangsung pekan-pekan ini pun harus mereka tunda karena situasi yang tidak memungkin.

Lebih parah lagi, bangunan pesantren yang mereka bangun secara "ngareureuyeuh" (sedikit demi sedikit) dengan gotong royong dan patungan donasi selama bertahun-tahun, lalu setelah menjadi gedung, kini harus runtuh dalam hitungan detik akibat gempa bumi ini.

Sebagian santri di beberapa pondok pesantren di Cianjur yang berasal dari luar Cianjur telah dipulangkan dan dijemput orang tua masing-masing karena khawatir dengan kondisi yang ada. Sebagian lagi santri yang  berasal dari daerah Cianjur ada yang harus tetap tinggal di pesantren, karena kondisi kerusakan rumahnya lebih parah, sehingga lebih aman tinggal di pesantren. Dengan demikian pesantren menjadi rumah mereka, dan kyai menjadi orang tua mereka yang yang harus menutupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Namun bagi pesantren-pesantren yang terkena dampak gempa bumi agak lebih ringan, masih tetap tidak dapat menjalankan aktifitas KBM-nya dengan normal juga, karena pesantrennya dijadikan posko-posko bantuan yang berasal dari berbagai element yang menitipkan bantuannya untuk warga terdampak musibah. Bahkan para kyai dan santrinya kini lebih sibuk karena harus mendistibusikan amanah donasi kepada warga yang terdampak musibah. Jadi meskipun pesantren-pesantren ini terlihat menerima sumbangan, namun sebenarnya mereka justru menjadi  lembaga yang paling sibuk menyalurkan bantuan para dermawan kepada warga. Terlihat, proses KBM pun belum berjalan normal. Bahkan kyai dan santrinya ikut sibuk menyalurkan kepada warga-warga sekitar. Bahkan tidak sedikit pesantren-pesantren ini membuat tenda darurat dan dapur umum untuk melayani masyarakat terdampak musibah gempa.

Nah, dalam khutbah itu saya sampaikan, Apakah kita mau menjadi pihak yang menyumbang  atau mau menjadi pihak yang disumbang? Jika mau disumbang berarti kita menyiapkan diri untuk menjadi pihak yang terkena bencana?. Jika mau menyumbang, maka bersyukurlah kita sedang tidak terkena bencana. Mungkin hari-hari ini Cianjur-lah yang mendapat giliran bencana. Tetapi bukan tidak mungkin bencana itu akan datang kepada kita. Karena itu sebelum kita mendapat giliran terkena bencana, marilah kita sisihkan sebagian rezeki kita untuk meringankan penderitaan saudara-saudara kita yang terkena musibah. Kita berharap sedekah yang kita keluarkan dapat menolak bala dan bencana yang akan menimpa kita, sebagaimana yang banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw di banyak hadistnya.

Semoga Allah swt segera mengangkat penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur, semoga Allah berikan pahala kesabaran mereka, dan tetap menguatkan iman yang ada di dada mereka serta segera diberikan jalan kelar dan kemudahannya. Aamiin.

Sabtu, 30 Juli 2022

KAPASITAS PRIBADI IBRAHIM AS

 

ان ابرهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين
Sesungguhnya Ibrahim adalah suatu umat yang patuh pada Allah, lurus dan bukan termasuk orang-orang musyrik.(QS. An-Nahl: 120)
Allah swt menggambarkan pribadi Nabi Ibrahim as sebagai suatu umat. Ini menunjukkan bahwa kapasitas pribadi beliau sama dengan suatu umat. Tapi umat bukan sembarang umat. Dia adalah umat dengan ciri yang taat kepada Allah, lurus dan istiqomah dalam ketaatannya serta bukan kelompok orang yang beragama pagan (animisme-dinamisme).
Dalam sejarah tipe kepemimpinan - sebagaimana digambarkan dalam juz pertama, Al-Quran mengkisah tiga bentuk tipe kepemimpinan:
  1. Tipe Pemimpin yang pernah salah, namun mau bertaubat dan menyesali perbuatannya serta mau memperbaiki diri. Jenis pemimpin ini diwakili dengan personifikasi Nabi Adam as. Beliau pernah bersalah, namun beliau mau memperbaiki diri dengan taubat dan perbaikan. Ending tipe pemimpin ini tetap baik. Bahkan beliau menjadi Nabi dan Rasul utusan Allah swt.
  2. Tipe pemimpin yang pernah bersalah, namun tetap melakukan keaalahan dan tidak mau memperbaiki diri. Tipe ini dipersonifikasikan dengan karakter kaum Bani Israel. Berkali-kali melakukan kesalahan dan diberi kesempatan memperbaiki, namun tetap tidak berubah dalam tindakan dan kebijakannya yang salah. Meskipun berulang Allah utus Rasul dari kalangan bangsanya, sebagai ruang kesempatan memperbaiki diri, namun tetap tidak menginndahkan kesempatan yang diberi, bahkan beberapa ulama dan nabinya dibunuhnya, karena tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu bangsa dan kelompoknya. Tipe jenis ini dipotret jelas oleh al-quran sebagai tipe kepemimpinan yang salah. Dan al-quran banyak menceritakannya secara panjang lebar agar umat Islam tidak meniru dan jatuh ke dalam lubang keasalahan yang sama.
  3. Tipe pemimpin yang istiqamah dalam ketaatan serba sabar dalam menghadapi segala ujian. Tipe ini dipersonifikasikan dengan pribadi nabi Ibrahim as.
Salah satu kunci sukses Ibrahim adalah dia tetap istiqomah walau diuji dengan berbagai ujian. Baik ujian pribadi, keluarga bahkan ujian kekuasaan.
Ujian pribadi saat beliau "mencari tuhan". Dengan cara ilmiah beliau berkesimpulan bahwa Tuhan sebenarnya bukanlah bintang, bulan atau matahari. Tetap Allah zat yang menciptakan semua.
Ujian Keluarga terjadi saat beliau menikahi siti Hajar. Beliau diperintah Allah agar "mengasingkan" Siti Hajar dan puteranya Ismal yang dicintainya di lembah tandus, yaitu setelah timbul rasa cemburu dari Sarah yang belum juga melahirkan anak untuk suaminya.
Bukan hanya itu, beliau juga diuji dengan perintah menyembelih putera satu-aatunya saat itu.
Ujian kekuasaan terjadi saat beliau dibakar oleh raja yang zhalim: Namruz. Beliau tetap sabar hingga pertolongan Allah datang dab api yang dikobarkan Namruz tidak mencelakakannya.
Dengan lulusnya Ibrahim as melewati berbagai ujian itulah, beliau diberi Allah kepemimpinan. Allah swt berfirman:
واذ ابتلى ابرهيم ربه بكلمات فاتمهن قال اني جاعلك للناس اماما
Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) maka beliau.melaksanaknnya dengan sempurna. Allah berkata: Sungguh Aku jadikan kamu sebagai pemimpin bagi umat manusia. (QS. Al-Baqarah: 124)
Jadi, calon pemimpin yang berkualitas dan berkapasitas adalah ketika dia telah melewati aneka ujian dan dapat melewati nya dengan baik dan lurus/hanif. Bukan calon pemimpin yang dibangun dengan pencitraan semu.
M. Jamhuri
Mina, 10 Dzulhijjah 1443 H/9 Juli 2022 M

KETAHANAN KELUARGA IBRAHIM AS

Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim as tidak terpisahkan dengan prosesi ibadah haji berupa pelontaran jumroh di Mina.
Ibadah Qurban dapat dilakukan di mana saja. Namun ibadah pelontaran jumroh hanya dilakukan di kawasan Mina saja. Akan tetapi sumber kedua peristiwa itu sama-sama terjadi di Mina. Peristiwa qurban di sekitar jabal (bukit) Qurban. Sedangkan pelontaran jumroh ada di bukit Aqobah dan sekitarnya. Keduanya berada di kawasan Mina.
Pada saat Ibrahim akan melaksanakan penyembelihan putranya atas perintah Allah, Iblis tidak tinggal diam. Dia berkata kepada Ibrahim as, " Bagaimana engkau akan menyembelih putra mu sedangkan engkau dulu mengharap kelahirannya? bahkan engkau harus menikahi Hajar untuk mendapatkan anak? Sebaiknya, engkau acuhkan saja perintah Tuhanmu". Begitu Iblis merayu. Namun Ibrahim as dengan keteguhan imannya berkata, "Dahulu Allah jua yang memberiku keturunan padaku. Dan sekarang Allah juga memintanya. Aku tetap akan melaksanakan perintah dan permintaan Tuhan sang Pemilik segala". Dan Ibrahim as pun mengusir iblis dengan lontaran krikil.
Merasa gagal merayu Ibrahim, Iblis pun mendatangi Hajar. Seraya berkata, "Hai Hajar, bukankah engkau yang melahirkan putramu dalam kesusahan yang sangat. Mengapa kau biarkan suami mu menyembelih putramu. Tidakkah engkau cegah dia?". Dengan keteguhan iman dan keikhlasan yang dalam, St Hajar menjawab, "Jangankan putraku yang menjadi qurban. Jika ini perintah Allah, aku pun bahkan siap menjadi qurban." Sanggah Hajar sambil melontar Iblis dengan krikil.
Iblis tidak tinggal diam. Dia pun menghampiri Ismail seraya berkata, "Ismail, engkau masih muda, engkau punya masa depan yang cerah. Kenapa kau biarkan ayahmu akan menyembelihmu? Bukan kah kau bisa menghindar dan lari ke tempat yang jauh?". Dengan tegas Ismail menjawab. "Tidak. Jiwa dan ragaku adalah milik Tuhanku. Dan kini Dia sang Pencipta meminta kembali diriku." Jawab Ismail sambil melontar Iblis dengan batu krikil.
Ibrahim melanjutkan tugasnya untuk menyembelih puteranya. Namun ketika iman ketiganya dianggap lulus, Allah swt menggantikan Ismail dengan seekor kambing kibas sebagai balasan atas keteguhan iman mereka.
Dari peristiwa ini dapat kita petik beberapa ibroh (pelajaran)
Pertama, Iblis tidak mempunyai cita-cita dan obesei apapun kecuali ingin menjerumuskan manusia ikut ke dalam neraka. Pikirannya hanya itu.
Kedua, kita harus mendudukkan Iblis sebagai musuh manusia yang nyata (aduwwun mubin). Jangan mau sedikitpun berkompromi dengan bujuk rayu iblis. Apapun alasannya.
Ketiga, setiap kali Iblis gagal merayu lewat satu pintu, dia akan berusaha menggagalkan manusia lewat pintu lainnya. Bila gagal lewat ayah maka akan masuk lewat anggota keluarga lainnya.
Keempat, perlunya membentengi semua anggota keluarga kita dengan iman yang kokoh. Ketahanan keluarga yang dicontohkan Ibrahim adalah model terbaik agar terhindar dari bujuk-rayu syaitan.
Keteguhan iman dan ketahanan keluarga Ibrahim as menjadi suri tauladan buat kita semua. Allah swt berfirman:
قد كانت لكم اسوة حسنة في ابرهيم و الذين معه
Telah ada buat kalian suri tauladan pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya. (Qs. Al-Mumtahanah: 4)
M. Jamhuri, Mina 11 Dzulhijjah 1443 H/10 Juli 2022.

Foto:
Lokasi Jamarot di Mina.