“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memanggil Rasul seperti kamu memanggil sebagian kamu dengan sebagian lainnya “ (QS. Al-Nahl: ).
Akhir-akhir ini umat Islam sedunia dikejutkan oleh suatu gambar karikatur yang bersifat menghina pribadi Rasulullah saw yang dimuat oleh salah satu harian di Denmark. Dalam gambar nista itu, Raslullah SAW digambarkan seolah-olah seperti seorang teroris. Tidak heran bila kemudian timbul reaksi protes dari umat Islam dunia agar pemerintah Denmark meminta maaf kepada umat Islam. Namun sampai saat ini pemerintah Denmark dengan kesombongannya enggan meminta maaf atas kekeliurannya yang menyinggung perasaan umat Islam tersebut. Bahkan negera Amerika dan negara-negara Eropa dengan sombongnya mendukung sikap Denmark dengan alasan kebebasan berpendapat.
Sikap mereka yang penuh kecongkakan dan arogan itu dikarenakan mereka memiliki sifat phobi (anti) kepada Islam.
Sebagai umat Islam, tentu kita sangat menghormati Nabi Muhammad saw. Bahkan dalam hubungan antar umat beragama, kita tidak pernah menghina agama lain.
Jika kini umat Islam membela kehormatan Nabi dan agamanya, tidak lain karena hal ini pun pernah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW.
Suatu ketika orang-oran Makkah menyeret Zaid bin Dutsnah dari Tanah Haram untuk membunuhnya. Berkatalah Abu sufyan bin Harb, “Demi Allah, wahai Zaid. Bagaimana jika Rasulullah sekarang ada di tempatmu di pedang lehernya, sedang kamu duduk di rumahmu?.”
“Demi Allah,” jawab Zaid mantap, “Bahkan aku tidak rela jika dia di tempatnya kini tertusuk duri sedangkan aku berada di rumahku.”
Pada peristiwa lain, seorang perempuan dari Anshar dtinggal pergi oleh ayah, saudara, dan suaminya ketika perang Uhud meletus. Ketika peperangan sudah usai. Para sahabat menemui beliau dan meyampaikan bahwa ayah, saudara, dan suaminya telah syahid dalam peperangan tersebut. “Bagaimana dengan Rasulullah?” tanyanya. “Alhamdulillah, beliau sebagaimana yang kau inginkan.” jawab sahabat itu. “Mana beliau? Izinkan aku melihatnya.” desak sang perempuan. Tatkala ia berhasil melihat wajah Rasulullah saw, ia berseru dari kedalaman hatinya, “semua musibah terasa ringan setelah melihatmu, wahai Rasulullah saw”.
Kisah lain, tatkala Bilal menghadapi sakaratul maut, keluarga besarnya berkata, “Duhai susahnya!”. Bilal menjawab, “Duhai bahagianya! Esok bertemu kekasih: Rasulullah dan sahabatnya.”
Maha besar Allah. Kisah Zaid bin Dutsnah, Bilal dan seorang perempuan dari Anshar hanyalah sebagian kecil dari potret kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW. Besarnya cinta mereka sampai-sampai mereka rela berpeluh, berdarah-darah bahkan meregang nyawa demi membela Rasulullah SAW. Bagi mereka, Rasulullah SAW bukan sekedar Rasul. Ia adalah pemimpin, sahabat, sekaligus ayah.
Mereka memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Rasululah SAW. Kebaikan, kasih sayang dan perhatian Rasulullah kepada mereka begitu berbekas, sehingga kalau mereka diminta menjelaskan akhlak Rasul, linangan air matalah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Seperti yang dialami oleh Umar bin Khattab, sahabat terkenal galak ini menangis tatkala ada seorang Badui yang bertanya tentang akhlak Rasul.
Subhanallah, seperti apakah sebenarnya akhlak Rasulullah SAW? Istrinya, Aisyah dengan gamblang menggambarkannya sebagai khuluquhul Qur’an. Akhlak beliau itu al-Qur’an. Seakan-akan Aiysah ingin memberitahukan bahwa akhlak Rasulullah itu sangat sempurna, tidak ada cela seperti al-Qur’an. Atau Aisyah ingin menunjukkan bahwa Rasulullah SAW itu al-qur’an berjalan.
Bukan hanya di mata sahabat, kemuliaan akhlak Rasul juga diakui oleh musuhnya. Terbukti dengan masih saja orang-orang musyrik Quraisy menitipkan barang-barangnya kepada beliau, sehingga ketika beliau hendak berhijrah, barang-barang tersebut dikembalikan oleh Ali bin Abi Thalib.
Sikap-sikap para sahabat yang membela pribadi Rasulullah saw tersebut menunjukkan mulianya kedudukan Rasulullah saw. Bahkan dalam al-Qur’an, kemuliaan Rasulullah diabadikan dan dibuktikan oleh firman-firman Allah SWT. seperti firman Allah SWT, “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qolam)
Bahkan dalam hal perintah, tidak ada perintah dari Allah yang dimulai dengan memberi contoh kecuali perintah bersholawat. Sebab dalam perintah shalat atau zakat umpamanya, Allah langsung mengatakan, “dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat”. Namun dalam perintah bersholawat kepada Nabi, Allah memberitahu dahulu bahwa diri-Nya dan para malaikatpun bersholawat kepadanya. Firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menyampaikan sholawat dan salam kepadanya (nabi)’.
Dalam banyak hadits ditegaskan bahwa kecintaan kepada Rasul adalah salah satu indikator keimanan seseorang. Sabdanya, “Aku bersumpah dengan nama Dia (Allah) yang menggenggam hidupku, tidaklah seseorang di antara kalian dipandang beriman sebelum kecintaannya terhadap diriku melebihi kecintaannya terhadap ayahnya dan anaknya.” (HR: Bukhori)
Perintah Allah dan penegasan Rasulullah yang diajarkan dari kecil ini membuat umat Islam terikat hatinya dengan beliau walau tidak pernah bertemu dan bergaul dengannya. Ditambah dengan informasi akhlak beliau yang ada di catatan sejarah, semakin membuat umat Islam merasa terikat dengannya.
Tidak dikatakan cinta kalau diam saja ketika ada yang mengganggu atau menghina kekasihnya. Begitupun ketika Rasul dihina maka sudah seharusnya kita membela kehormatannya. ##
Rabu, 02 April 2008
Selasa, 18 Maret 2008
Mencintai dan Dicintai Rasulullah saw
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang
(QS. Ali Imran: 31)
Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Rabiul Awwal atau bulan Maulud. Datangnya bulan ini mengingatkan kita pada kelahiran Rasulullah saw. Banyak kisah diceritakan tentang kelahiran Rasulullah saw dan perjalanan hidupnya, namun terkadang kisah-kisah itu lewat begitu saja tanpa perenungan dan pelajaran. Padahal Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah saw adalah sosok pemimpin yang mencintai umatnya. Hingga saat menjelang wafat, beliau masih mengingat umat dengan ucapannya, “ummati, ummati, ummati” (umatku, umatku, umatku). Timbul Pertanyaan; apakah kita bagian umat yang dicintainya? Sehingga akan mendapat syafa’at darinya dengan izin Allah?
Ada beberapa kiat agar kita mencintai dan dicintai Rasulullah saw, antara lain:
Pertama, banyak menyebut dan mengingat namanya. Orang yang mencintai seseorang pasti dia sering mengingat dan menyebut namanya, seperti orang yang mabuk kepayang mencintai orang yang dicintainya, pasti ia akan sering menyebut dan mengingat namanya.
Nah, agar kita mencintai dan dicintai Rasulullah saw, maka kita harus banyak menyebut namanya dengan bacaan sholawat kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Barangsiapa bersholwat kepadaku sekali maka Allah bersholawat padanya sepuluh kali”.
Ketika Allah akan memerintahkan kita untk bersholawat kepada Nabi saw, Allah dan Malaikatnya memberi contoh terlebih dahulu, baru kemudian memerintahkan kita membaca sholawat. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS.Al-Ahzab: 56). Ayat ini menunjukkan pentingnya bersholawat kepada Nabi saw.
Kedua, agar kita mencintai dan dicintai Rasulullah saw, maka kita harus mengikuti dan menghidupkan sunnah Rasulullah saw, baik berupa ibadah beliau maupun dalam muamalahnya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menghidupkan sunnahku maka berarti ia telah mencintaiku, dan barangsiapa mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga.”
Begitu banyak sunnah Rasulullah saw yang dapat kita ikuti dan hidupkan. Dalam hal ibadah seperti sholat tahajjud, dhuha, puasa senin kamis, ayyamul bidh, bersedekah dan lain sebagainya.
Sunnah dalam hal muamalah di antaranya, jujur dalam berbisnis, berbuat baik pada tetangga, makan tidak berdiri, makan dan minum dengan tangan kanan serta dimulai dengan menyebut bismillah atau do’a dan lain sebagainya.
Ketiga, resep berikutnya agar dicintai dan mencintai Rasulullah saw adalah dengan sering membaca dan mempelajari sejarah atau sirohnya. Pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Bagaimana mungkin kita sebagai umat Islam akan sayang dan mencintai Rasulullah kalau kita tidak mengenal beliau? Bagaimana cara mengenal beliau? tentu dengan membaca sejarahnya. Sebaliknya, kita bahkan lebih mengenal sosok seleberiti atau tokoh politik tertentu dari pada mengenal Nabi kita sendiri, padahal beliau adalah sosok tauladan umat.
Bagaimana mungkin anak-anak kita mencintai Rasulullah saw jika mereka tidak pernah diceritakan tentang sikap heroik Rasulullah saw? Jangankan cinta, kenal saja tidak. Bahkan saat ini anak-anak kita lebih mengenal tokoh-tokoh pahlawan kartunnya dibanding mengenal sikap kepahlawanan Rasulullah saw dan sahabatnya serta keluruhan budi pekerti mereka. Jika kita ingin menjadikan masyarakat ber-Akhlakul Karimah, maka mau tidak mau masyarakat harus mengenal Rasulullah saw, karena beliau adalah sumber Akhlakul Karimah. Firman Allah SWT yang artinya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qolam: 4)
Keempat, agar kita mencintai dan dicintai Rasulullah saw, maka kita harus membela ajaran dan agamanya. Pepatah pribahasa mengatakan. “Cinta membutuh pengorbanan, pengorbanan membutuhkan ketulusan.”
Bagaimana mungkin kita akan mencintai dan dicintai Rasulullah saw, jika kita membiarkan agama ini dinodai oleh orang tertentu? Dihina dan dikotori?. Tanda cinta adalah melakukan pembelaan terhadap yang dicintainya, apalagi jika ia dihina dan disakiti.
Pembelaan terhadap ajaran Rasulullah saw disesuaikan dengan kemampuan kita. Bila kita punya power dan kekuasaan, jadikanlah kekuasaan itu untuk membela dan melestarikan ajaran dan agama Rasulullah saw, baik melalui aturan dan perundang-undangan maupun bentuk lainnya. Jika kita memiliki harta, maka pergunakanlah harta untuk membela dan melestarikan ajaran Nabi saw, demikian juga jika yang dimiliki adalah ilmu, waktu, tenaga dan lain sebagainya.
Firman Allah SWT yang artinya, “Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)# jmh
Pengampun lagi Maha Penyayang
(QS. Ali Imran: 31)
Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Rabiul Awwal atau bulan Maulud. Datangnya bulan ini mengingatkan kita pada kelahiran Rasulullah saw. Banyak kisah diceritakan tentang kelahiran Rasulullah saw dan perjalanan hidupnya, namun terkadang kisah-kisah itu lewat begitu saja tanpa perenungan dan pelajaran. Padahal Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah saw adalah sosok pemimpin yang mencintai umatnya. Hingga saat menjelang wafat, beliau masih mengingat umat dengan ucapannya, “ummati, ummati, ummati” (umatku, umatku, umatku). Timbul Pertanyaan; apakah kita bagian umat yang dicintainya? Sehingga akan mendapat syafa’at darinya dengan izin Allah?
Ada beberapa kiat agar kita mencintai dan dicintai Rasulullah saw, antara lain:
Pertama, banyak menyebut dan mengingat namanya. Orang yang mencintai seseorang pasti dia sering mengingat dan menyebut namanya, seperti orang yang mabuk kepayang mencintai orang yang dicintainya, pasti ia akan sering menyebut dan mengingat namanya.
Nah, agar kita mencintai dan dicintai Rasulullah saw, maka kita harus banyak menyebut namanya dengan bacaan sholawat kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Barangsiapa bersholwat kepadaku sekali maka Allah bersholawat padanya sepuluh kali”.
Ketika Allah akan memerintahkan kita untk bersholawat kepada Nabi saw, Allah dan Malaikatnya memberi contoh terlebih dahulu, baru kemudian memerintahkan kita membaca sholawat. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS.Al-Ahzab: 56). Ayat ini menunjukkan pentingnya bersholawat kepada Nabi saw.
Kedua, agar kita mencintai dan dicintai Rasulullah saw, maka kita harus mengikuti dan menghidupkan sunnah Rasulullah saw, baik berupa ibadah beliau maupun dalam muamalahnya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menghidupkan sunnahku maka berarti ia telah mencintaiku, dan barangsiapa mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga.”
Begitu banyak sunnah Rasulullah saw yang dapat kita ikuti dan hidupkan. Dalam hal ibadah seperti sholat tahajjud, dhuha, puasa senin kamis, ayyamul bidh, bersedekah dan lain sebagainya.
Sunnah dalam hal muamalah di antaranya, jujur dalam berbisnis, berbuat baik pada tetangga, makan tidak berdiri, makan dan minum dengan tangan kanan serta dimulai dengan menyebut bismillah atau do’a dan lain sebagainya.
Ketiga, resep berikutnya agar dicintai dan mencintai Rasulullah saw adalah dengan sering membaca dan mempelajari sejarah atau sirohnya. Pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Bagaimana mungkin kita sebagai umat Islam akan sayang dan mencintai Rasulullah kalau kita tidak mengenal beliau? Bagaimana cara mengenal beliau? tentu dengan membaca sejarahnya. Sebaliknya, kita bahkan lebih mengenal sosok seleberiti atau tokoh politik tertentu dari pada mengenal Nabi kita sendiri, padahal beliau adalah sosok tauladan umat.
Bagaimana mungkin anak-anak kita mencintai Rasulullah saw jika mereka tidak pernah diceritakan tentang sikap heroik Rasulullah saw? Jangankan cinta, kenal saja tidak. Bahkan saat ini anak-anak kita lebih mengenal tokoh-tokoh pahlawan kartunnya dibanding mengenal sikap kepahlawanan Rasulullah saw dan sahabatnya serta keluruhan budi pekerti mereka. Jika kita ingin menjadikan masyarakat ber-Akhlakul Karimah, maka mau tidak mau masyarakat harus mengenal Rasulullah saw, karena beliau adalah sumber Akhlakul Karimah. Firman Allah SWT yang artinya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qolam: 4)
Keempat, agar kita mencintai dan dicintai Rasulullah saw, maka kita harus membela ajaran dan agamanya. Pepatah pribahasa mengatakan. “Cinta membutuh pengorbanan, pengorbanan membutuhkan ketulusan.”
Bagaimana mungkin kita akan mencintai dan dicintai Rasulullah saw, jika kita membiarkan agama ini dinodai oleh orang tertentu? Dihina dan dikotori?. Tanda cinta adalah melakukan pembelaan terhadap yang dicintainya, apalagi jika ia dihina dan disakiti.
Pembelaan terhadap ajaran Rasulullah saw disesuaikan dengan kemampuan kita. Bila kita punya power dan kekuasaan, jadikanlah kekuasaan itu untuk membela dan melestarikan ajaran dan agama Rasulullah saw, baik melalui aturan dan perundang-undangan maupun bentuk lainnya. Jika kita memiliki harta, maka pergunakanlah harta untuk membela dan melestarikan ajaran Nabi saw, demikian juga jika yang dimiliki adalah ilmu, waktu, tenaga dan lain sebagainya.
Firman Allah SWT yang artinya, “Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)# jmh
Rabu, 12 Maret 2008
Istiqomah Dalam Setiap Kondisi
"Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik"
(QS.Yusuf; 60)
Ayat di atas menceritakan hasil akhir dari cerita perjalanan Nabi Yusuf as. Beliau mendapat pahala atas ketakwaan dan kesabaran. Beliau telah menjaga keistiqomahan dalam setiap kondisi, baik dalam kondisi sulit maupun senang, kondisi miskin maupun kondisi kaya, kondisi terhina dan kondisi terhormat. Beliau tetap bertakwa kepada Allah SWT.
Kisah nabi Yusuf as memang sangat unik, hingga para cerpenis dan penulis cerita kagum dengan kisah Yusuf as yang dipaparkan oleh al-Qur’an. Tiap episodenya asyik untuk disimak. Beberapa keunikan kisah antara lain dimulainya dengan cerita mimpi melihat sebelas bintang dan bulan, dan kisah diakhiri dengan tafsir mimpi itu saat sebelas saudaranya tunduk pada Yusuf as yang telah menjadi pejabat Mesir. Keunikan lainnya adalah tentang baju Yusuf as yang dijadikan alat penyembuh kebutaan ayahnya, tapi justru baju itu pula menjadi bukti akan perbuatan makar yang dilakukan saudara-saudara Nabi Yusuf terhadap beliau.
Keunikan kisah nabi Yusuf juga tercermin dari gelombang kondisi yang dialami nabi Yusuf as. Laksana roda yang berputar, nabi Yusuf as mengalami berbagai kondisi; kadang di atas kadang di bawah.
Itulah keunikan kisah yang diakui para penulis cerita sebagai cerita atau kisah terbaik. Sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui” (QS.Yusuf: 3)
Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah nabi Yusuf adalah bahwa kondisi sulit justru akan mengantarkan seseorang kepada kondisi senang. Sebaliknya, di balik kondisi senang justru mengantarkan kepada kondisi sulit.
Curahan kasih sayang dan cinta ayah Yusuf as kepada Yusuf melebihi cintanya kepada saudara-saudara lainnya adalah sebuah kondisi menyenangkan. Tapi justru di balik kesenangan itu, timbul kecemburuan dari saudara-saudara Yusuf as, sehingga saudara-saduara Yusuf as mengajak ke hutan dan melemparnya ke sebuah sumur.
Kondisi di dalam sumur sendirian selama tiga hari adalah kondisi sulit dan tidak menyenangkan. Tapi, justru kondisi itu mengantarkan Yusuf as kepada kondisi menyenangkan. Melalui orang yang mengambilnya, Yusuf dijual di mesir dan dibeli raja Mesir, sehingga beliau tinggal di istana yang lebih lengkap fasilitas hidupnya.
Hidup di dalam istana adalah kondisi menyenangkan. Namun justru kondisi itu pula yang mengantarkan Yusuf as dipenjarakan oleh raja akibat fitnah sang ratu terhadap Yusuf as.
Kemudian, kondisi di dalam penjara adalah kondisi sulit dan tidak menyenangkan, tapi justru keberadaannya di penjara mengantarkan beliau menjadi pejabat Negara. Melalui informasi teman sepenjaranya yang sudah bebas bahwa Yusuf as adalah orang baik dan dapat menafsirkan mimpi, raja membutuhkan nasehat tafsiran mimpinya sehingga musim paceklik selama tujuh tahun dapat diatasi atas masukan strategi ekonomi yang disampaikan nabi Yusuf as.
Apa yang dapat kita ambil pelajaran dari kisah nabi Yusuf as di atas? Kita kadang cepat berprasangka buruk kepada Allah SWT saat kita mendapat kondisi yang sulit, padahal bisa jadi kondisi itulah yang akan mengantarkan kita kepada kondisi yang lebih menyenangkan dari sebelumnya. Sebaliknya, kita kadang lupa diri saat mendapat karunia dan kondisi yang menyenangkan, padahal bisa jadi kondisi itulah yang akan mengantarkan kita kepada kondisi tersulit dari sebelumnya. Sebaimana yang diingat Allah dalam ayat yang artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216)
Karena itu dalam kondisi apapun, kita tidak boleh melupakan Allah SWT. Kita harus tetap istiqomah dalam kondisi apapun; baik kondisi sulit maupun kondisi senang.
Nabi Yusuf as telah memberi contoh kepada kita. Sekalipun beliau dalam puncak kesenangan tapi tetap tidak melupakan Allah SWT. Saat beliau diajak berbuat mesum oleh sang ratu nan cantik, beliau menolaknya karena takut Allah. Bahkan beliau memilih di penjara dari pada hidup dalam lingkungan yang akan mengantarkan pada kemaksiatan. Demikian juga saat beliau berada di puncak kepemimpinan di Mesir, beliau tidak menaruh dendam kepada saudara-saudaranya yang jatuh miskin karena paceklik dan meminta-minta makanan kepada Yusuf as yang saat itu menjabat jabatan tertinggi di kerajaan. Padahal mereka dahulunya pernah mencampakkan Yusuf as ke dalam sumur. Bahkan Yusuf as memboyong mereka dan keluarganya untuk tinggal bersama di istananya menikmati kenikmatan yang diberikan Allah SWT.
Dalam kondisi sulit pun beliau tetap sabar dan terus berbuat baik kepada orang. Saat menjadi budak raja, beliau patuh dan menurut sesuai dengan ketentuan hukum perbudakan yang siap diperintah Tuannya sekalipun beliau anak seorang Nabi.
Untuk itulah Allah SWT telah menjanjikan baginya pahala karena telah lulus dalam berbagai ujian, baik ujian sulit maupun ujian senang. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: "Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" (QS.Yusuf; 60). #
M.Jamhuri
(QS.Yusuf; 60)
Ayat di atas menceritakan hasil akhir dari cerita perjalanan Nabi Yusuf as. Beliau mendapat pahala atas ketakwaan dan kesabaran. Beliau telah menjaga keistiqomahan dalam setiap kondisi, baik dalam kondisi sulit maupun senang, kondisi miskin maupun kondisi kaya, kondisi terhina dan kondisi terhormat. Beliau tetap bertakwa kepada Allah SWT.
Kisah nabi Yusuf as memang sangat unik, hingga para cerpenis dan penulis cerita kagum dengan kisah Yusuf as yang dipaparkan oleh al-Qur’an. Tiap episodenya asyik untuk disimak. Beberapa keunikan kisah antara lain dimulainya dengan cerita mimpi melihat sebelas bintang dan bulan, dan kisah diakhiri dengan tafsir mimpi itu saat sebelas saudaranya tunduk pada Yusuf as yang telah menjadi pejabat Mesir. Keunikan lainnya adalah tentang baju Yusuf as yang dijadikan alat penyembuh kebutaan ayahnya, tapi justru baju itu pula menjadi bukti akan perbuatan makar yang dilakukan saudara-saudara Nabi Yusuf terhadap beliau.
Keunikan kisah nabi Yusuf juga tercermin dari gelombang kondisi yang dialami nabi Yusuf as. Laksana roda yang berputar, nabi Yusuf as mengalami berbagai kondisi; kadang di atas kadang di bawah.
Itulah keunikan kisah yang diakui para penulis cerita sebagai cerita atau kisah terbaik. Sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui” (QS.Yusuf: 3)
Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah nabi Yusuf adalah bahwa kondisi sulit justru akan mengantarkan seseorang kepada kondisi senang. Sebaliknya, di balik kondisi senang justru mengantarkan kepada kondisi sulit.
Curahan kasih sayang dan cinta ayah Yusuf as kepada Yusuf melebihi cintanya kepada saudara-saudara lainnya adalah sebuah kondisi menyenangkan. Tapi justru di balik kesenangan itu, timbul kecemburuan dari saudara-saudara Yusuf as, sehingga saudara-saduara Yusuf as mengajak ke hutan dan melemparnya ke sebuah sumur.
Kondisi di dalam sumur sendirian selama tiga hari adalah kondisi sulit dan tidak menyenangkan. Tapi, justru kondisi itu mengantarkan Yusuf as kepada kondisi menyenangkan. Melalui orang yang mengambilnya, Yusuf dijual di mesir dan dibeli raja Mesir, sehingga beliau tinggal di istana yang lebih lengkap fasilitas hidupnya.
Hidup di dalam istana adalah kondisi menyenangkan. Namun justru kondisi itu pula yang mengantarkan Yusuf as dipenjarakan oleh raja akibat fitnah sang ratu terhadap Yusuf as.
Kemudian, kondisi di dalam penjara adalah kondisi sulit dan tidak menyenangkan, tapi justru keberadaannya di penjara mengantarkan beliau menjadi pejabat Negara. Melalui informasi teman sepenjaranya yang sudah bebas bahwa Yusuf as adalah orang baik dan dapat menafsirkan mimpi, raja membutuhkan nasehat tafsiran mimpinya sehingga musim paceklik selama tujuh tahun dapat diatasi atas masukan strategi ekonomi yang disampaikan nabi Yusuf as.
Apa yang dapat kita ambil pelajaran dari kisah nabi Yusuf as di atas? Kita kadang cepat berprasangka buruk kepada Allah SWT saat kita mendapat kondisi yang sulit, padahal bisa jadi kondisi itulah yang akan mengantarkan kita kepada kondisi yang lebih menyenangkan dari sebelumnya. Sebaliknya, kita kadang lupa diri saat mendapat karunia dan kondisi yang menyenangkan, padahal bisa jadi kondisi itulah yang akan mengantarkan kita kepada kondisi tersulit dari sebelumnya. Sebaimana yang diingat Allah dalam ayat yang artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216)
Karena itu dalam kondisi apapun, kita tidak boleh melupakan Allah SWT. Kita harus tetap istiqomah dalam kondisi apapun; baik kondisi sulit maupun kondisi senang.
Nabi Yusuf as telah memberi contoh kepada kita. Sekalipun beliau dalam puncak kesenangan tapi tetap tidak melupakan Allah SWT. Saat beliau diajak berbuat mesum oleh sang ratu nan cantik, beliau menolaknya karena takut Allah. Bahkan beliau memilih di penjara dari pada hidup dalam lingkungan yang akan mengantarkan pada kemaksiatan. Demikian juga saat beliau berada di puncak kepemimpinan di Mesir, beliau tidak menaruh dendam kepada saudara-saudaranya yang jatuh miskin karena paceklik dan meminta-minta makanan kepada Yusuf as yang saat itu menjabat jabatan tertinggi di kerajaan. Padahal mereka dahulunya pernah mencampakkan Yusuf as ke dalam sumur. Bahkan Yusuf as memboyong mereka dan keluarganya untuk tinggal bersama di istananya menikmati kenikmatan yang diberikan Allah SWT.
Dalam kondisi sulit pun beliau tetap sabar dan terus berbuat baik kepada orang. Saat menjadi budak raja, beliau patuh dan menurut sesuai dengan ketentuan hukum perbudakan yang siap diperintah Tuannya sekalipun beliau anak seorang Nabi.
Untuk itulah Allah SWT telah menjanjikan baginya pahala karena telah lulus dalam berbagai ujian, baik ujian sulit maupun ujian senang. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: "Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" (QS.Yusuf; 60). #
M.Jamhuri
Langganan:
Postingan (Atom)