”Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS.Al-Mulk: 1-2)
Suatu hari, Imam Ahmad bin Hambal dijebloskan ke dalam penjara karena tidak sejalan dengan kebijakan dan kamauan penguasa. Setelah beberapa lama tinggal di dalam penjara, beberapa murid Imam Ahmad bin Hambal datang mengunjungi sang Imam. Salah seorang muridnya bertanya, ”Wahai tuan guru, bukankah Kita berada di pihak yang benar?” Imam Ahmad bin Hambal menjawab, ”Ya, kita berada di pihak yang benar. Apakah selama ini engkau tidak yakin kita berada di pihak yang benar?”tanya Imam balik bertanya. Muridnya berkata, ”Jika kita berada di pihak yang benar, mengapa kita kalah? Mengapa tuan guru di penjara seperti ini?” Imam Ahmad bin Hambal menjawab, ”kemenangan itu berada saat kita berpegang teguh kepada kebenaran yang kita yakini. Kemenangan itu adalah keistiqomahan dalam mempertahankan suatu kebenaran. Kemenangan itu saat kita tidak bermaksiat kepada Allah SWT. Justru jika kita mengikuti penguasa yang zalim dan tidak mengindahkan lagi cara-cara kemaksiatan, meskipun kita menang, pada hakikatnya kita sudah kalah.”
Ahmad bin al-Hawari meriwayatkan dari Ibrahim bin Abdullah berkata, Ahmad bin Hambal berkata: ”Aku tidak pernah mendengar satu kalimatpun yang lebih dahsyat sejak aku di penjara ini selain ucapan seorang Badui kepadaku, ”Wahai Ahmad !, jika engkau terbunuh karena membela kebenaran, maka engkau akan mati dalam keadaan syahid. Dan jika engkau masih hidup maka engkau hidup dalam kemuliaan.” Dengan ucapan itu hatiku pun menjadi teguh”..
Allah SWT berfirman: ”Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS.Al-Mulk: 1-2)
Dari kisah Ahmad bin Hambal di atas dan juga firman Allah yang mulia tersebut, kita bisa memahami bahwa hakekat kemenangan itu adalah pada saat kita istiqomah dalam perjuangan al-Haq. Orang lain mungkin juga berpendapat sedang memperjuangkan al-Haq. Sama hal-nya dengan khalifah yang memenjarakan Imam Ahmad bin Hambal. Namun jika cara-cara yang dilakukan adalah dengan cara kemaksiatan, baik berupa intimidasi, ancaman, memasung rasa kemerdekaan manusia, pemukulan dan cara kotor lainnya, maka sebenarnya apa yang mereka lakukan adalah sebuah kekalahan. Kekalahan karena mengikuti langkah syaitan, kekalahan karena mengikuti hawa nafsu. Sebaliknya, orang yang istiqomah memperjuangkan sebuah kebenaran serta dengan cara yang benar maka sebenarnya dia lah yang menang, meski di hadapan manusia dia kalah.
Bukan hal yang tidak diketahui oleh Hasan cucu Rasulullah saw bahwa ia akan kalah dan menjadi korban jika datang ke Karbala melawan pasukan Yusuf bin al-Hajjaj al-Tasqofi panglima Yazid bin Muawiyah yang suka minum-minuman keras. Hasan telah dinasehati oleh Thalhah, Aisyah dan para sahabat lainnya agar tidak berangkat melawan pasukan Yazid. Namun ia tetap berangkan ke Karbala bersama para pendukungnya untuk menunjukkan suatu kebenaran, untuk melawan suatu kezaliman. Sebab Yazid telah mengkhianati perjanjian yang telah disepakti bersama dia dan ayahnya yang bernama Muawiyah. Keberangkatan Hasan ke Karbala untuk menunjukkan bahwa kebenaran harus menasehati kekeliruan, atau izharul haq, meskipun harus menanggung resiko kematian. Kenyataannya, cucu Rasulullah dipenggal kepalanya oleh Yusuf bin al-Hajjaj al-Tsaqofi. Namun cucu Rasulullah saw datang untuk memberi pelajaran bahwa kekeliruan harus diluruskan. Peristiwa ini pun bukan tidak diprediksi oleh Rasulullah saw saat beliau masih hidup. Sebagai seorang Nabi, beliau mendapat berita dari Allah akan nasib akhir cucunya ini. Itulah yang membuat beliau sangat sayang kepada kedua cucunya saat beliau masih hidup, hingga beliau tidak tega jika menyakiti cucunya saat menaikki beliau saat bersujud hingga beliau memperpanjang lamanya bersujud agar cucunya merasa puas bermain di atas punggung Rasulullah nan suci. Sabda beliau, ”Bagaimana aku akan menyakiti mereka, sementara aku mengetahui akhir hidup mereka?”
Segala sesuatu memang sudah termaktub di Lauhil Mahfudz; kaya, miskin, senang, susah, berkuasa, dan tidak berkuasa, semuanya sudah termaktub di Lauhil Mahfudz.. Namun yang Allah nilai dari segala proses hidup ini adalah, apakah kita mempersembahkan amal yang terbaik? Ataukah kita melakukan cara dan amal yang buruk?.Apakah kita tetap dalam taqwa?, apakah kita lebur dalam maksiat kepada Allah?
Jika kita tetap istiqomah dalam kebenaran, dan tetap memperjuangkan kebenaran tanpa kemaksiatan maka itulah hakikat kemenangan. Semoga Allah SWT meridhoi kita dan tetap mempercayai kita sebagai pejuang agamaNya pada masa-masa mendatang, hingga Allah mewariskan bumi ini kepada orang-orang Sholihin. Amin. ##
Selasa, 04 November 2008
Selasa, 21 Oktober 2008
Sudahkah Daerah Kita Sejahtera? Sejahtera Dalam Pandangan Al-Qur’an
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah)
Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan (QS. Quraisy: 3-4)
Banyak orang yang mendfinisikan kesejahteraan hanya berkutat pada masalah ekonomi saja. Jika seseorang sudah melimpah harta kekayaannya maka disebut sebagai orang yang sejahtera. Jika negara sudah melimpah kekayaan dan pembangunannya maka negara itu sudah sejahtera. Padahal, pada ayat di atas Allah SWT telah menjelaskan bahwa ada tiga sisi sehingga seseorang, daerah atau negara disebut sejahtera. 1) Ia menyembah Allah SWT, 2) Terjamin kebutuhan dasar hidupnya, 3) Terciptanya rasa aman serta tidak diselimuti rasa takut.
Menyembah kepada Allah SWT adalah syarat mutlak untuk menggapai kesejahteraan. Allah SWT berfirman: Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah) (QS. Quraisy: 3). Disebutnya ka’bah dalam ayat ini sebagai simbol pemersatu umat, persaudaraan dan ketundukkan kepada Allah SWT. Tanpa persatuan dan kesatuan umat, mustahil kesejahteraan itu akan tercipta. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman yang artinya: ”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 124)
Ciri lain kesejahteraan adalah terjaminnya kebutuhan dasar hidup. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: ”Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar”. (QS. Quraisy: 4) Meski yang disebut dalam ayat ini adalah makanan, namun kesejahteraan juga dikembangkan kepada pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti makanan, minuman, kesehatan, pendidikan, distrubis energi (BBM) dan lain sebagainya. Dengan demikian negara sejahtera adalah negara yang memberi pelayanan kebutuhan dasarnya secara manusiawi kepada rakyatnya. Seperti pembukaan lapangan kerja, pelayanan kesehatan gratis, pendidikan gratis serta akses mendapatkan kebutuhan bahan bakar dengan mudah dan murah. Karena semua kebutuhan itu adalah termasuk kebutuhan dasar hidup manusia.
Ciri ketiga kesejahteraan adalah tercipta dan terjaminnya rasa aman serta tidak diselimuti rasa takut. Dalam hal ini Allah SWT berfirman yang artinya: ”dan mengamankan mereka dari ketakutan” (QS. Quraisy: 4). Rasa aman merupakan syarat mutlak terciptanya kesejahteraan selain terpenuhinya kebutuhan dasar fisik hidup manusia. Sebab, meskipun manusia sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya namun masih dilingkupi rasa ketakutan maka pada hakikatnya mereka belum merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan.
Perasaan aman dan bebas rasa takut meliputi aman dari segala macam bentuk kejahatan kriminal. Disini Negara dan pemimpin wajib menyediakan perangkat keamanan seperti polisi, sistem keamanan lingkungan, perangkat hukum yang berwibawa dan lain-lain. Sehingga mereka aman jika bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Dalam sebuah atsar disebutkan ”Jika Islam berkuasa maka orang akan aman berjalan malam dari Madinah ke San’a (Yaman)”
Perasaan aman juga meliputi aman dari rasa tekanan dan intimidasi serta ancaman. Meskipun fasilitas hidup telah terpenuhi namun masyarakat masih merasa dalam cengkraman rasa takut akibat tekanan, intimidasi dan ancaman, maka negara itu belum dikatakan sebagai negara sejahtera. Apalagi jika negara belum memberi fasilitas kebutuhan dasar hidup manusia dan rasa aman, maka negara itu masih jauh dari sejahtera.
Setiap warga negara mempunyai hak berpendapat dan pilihan hidupnya selama pendapat dan pilihan hidupnya tidak bertentangan dengan undang-undang dan peraturan yang ada. Pada suatu hari, Umar bin Khattab berpidato di hadapan rakyatnya, belum lagi melanjutkan khutbahnya, tiba-tiba seseorang berdiri dan berkata dengan lantang, ”Wahai Amirul Mu’minin, jangan engkau lanjutkan pidatomu sebelum engkau jelaskan dari mana pakaianmu itu? Sebab setahu kami, setiap warga mendapat jatah 1 hasta kain, sedangkan engkau adalah orang dengan poster tubuh tinggi, tidak mungkin jatah kain satu hasta cukup untuk membuat baju seukuranmu”. Mendengar protes warganya, Umar bin Khattab tidak marah meskipun dia seorang Khalifah. Kemudian Umar berkata kepada anaknya yang bernama Abdullah, ”Wahai Abdullah anakku, jelaskanlah kepada mereka tentang jatah kain baju ini”. Kemudian Abdullah berkata, ”Sesungguhnya jatah kain bagianku aku berikan kepada ayahku, karena ayahku berposter tubuh lebih tinggi.” Mendengar jawaban putera Khalifah, orang yang protes tadi berkata, ”Sekarang engkau boleh melanjutkan pidatomu, wahai Amirul Mu’minin”.
Kondisi kebebasan berpendapat dan pilihan yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab adalah model kesejahteraan, karena mereka mendapat hak berpendapat dan dilindungi oleh negara. Jika seorang pemimpin masih melakukan intimidasi, tekanan, ancaman serta warga dihinggapi rasa takut jabatannya dicopot, karirnya dihentikan serta ancaman lainnya, maka sebenarnya pemimpin itu sama sekali belum memberikan kesejahteraan hakiki kepada rakyatnya. Itulah yang dijelaskan dalam sura Quraisy ayat 3 dan 4. ##
Wallahu a’lam
Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan (QS. Quraisy: 3-4)
Banyak orang yang mendfinisikan kesejahteraan hanya berkutat pada masalah ekonomi saja. Jika seseorang sudah melimpah harta kekayaannya maka disebut sebagai orang yang sejahtera. Jika negara sudah melimpah kekayaan dan pembangunannya maka negara itu sudah sejahtera. Padahal, pada ayat di atas Allah SWT telah menjelaskan bahwa ada tiga sisi sehingga seseorang, daerah atau negara disebut sejahtera. 1) Ia menyembah Allah SWT, 2) Terjamin kebutuhan dasar hidupnya, 3) Terciptanya rasa aman serta tidak diselimuti rasa takut.
Menyembah kepada Allah SWT adalah syarat mutlak untuk menggapai kesejahteraan. Allah SWT berfirman: Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah) (QS. Quraisy: 3). Disebutnya ka’bah dalam ayat ini sebagai simbol pemersatu umat, persaudaraan dan ketundukkan kepada Allah SWT. Tanpa persatuan dan kesatuan umat, mustahil kesejahteraan itu akan tercipta. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman yang artinya: ”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 124)
Ciri lain kesejahteraan adalah terjaminnya kebutuhan dasar hidup. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: ”Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar”. (QS. Quraisy: 4) Meski yang disebut dalam ayat ini adalah makanan, namun kesejahteraan juga dikembangkan kepada pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti makanan, minuman, kesehatan, pendidikan, distrubis energi (BBM) dan lain sebagainya. Dengan demikian negara sejahtera adalah negara yang memberi pelayanan kebutuhan dasarnya secara manusiawi kepada rakyatnya. Seperti pembukaan lapangan kerja, pelayanan kesehatan gratis, pendidikan gratis serta akses mendapatkan kebutuhan bahan bakar dengan mudah dan murah. Karena semua kebutuhan itu adalah termasuk kebutuhan dasar hidup manusia.
Ciri ketiga kesejahteraan adalah tercipta dan terjaminnya rasa aman serta tidak diselimuti rasa takut. Dalam hal ini Allah SWT berfirman yang artinya: ”dan mengamankan mereka dari ketakutan” (QS. Quraisy: 4). Rasa aman merupakan syarat mutlak terciptanya kesejahteraan selain terpenuhinya kebutuhan dasar fisik hidup manusia. Sebab, meskipun manusia sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya namun masih dilingkupi rasa ketakutan maka pada hakikatnya mereka belum merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan.
Perasaan aman dan bebas rasa takut meliputi aman dari segala macam bentuk kejahatan kriminal. Disini Negara dan pemimpin wajib menyediakan perangkat keamanan seperti polisi, sistem keamanan lingkungan, perangkat hukum yang berwibawa dan lain-lain. Sehingga mereka aman jika bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Dalam sebuah atsar disebutkan ”Jika Islam berkuasa maka orang akan aman berjalan malam dari Madinah ke San’a (Yaman)”
Perasaan aman juga meliputi aman dari rasa tekanan dan intimidasi serta ancaman. Meskipun fasilitas hidup telah terpenuhi namun masyarakat masih merasa dalam cengkraman rasa takut akibat tekanan, intimidasi dan ancaman, maka negara itu belum dikatakan sebagai negara sejahtera. Apalagi jika negara belum memberi fasilitas kebutuhan dasar hidup manusia dan rasa aman, maka negara itu masih jauh dari sejahtera.
Setiap warga negara mempunyai hak berpendapat dan pilihan hidupnya selama pendapat dan pilihan hidupnya tidak bertentangan dengan undang-undang dan peraturan yang ada. Pada suatu hari, Umar bin Khattab berpidato di hadapan rakyatnya, belum lagi melanjutkan khutbahnya, tiba-tiba seseorang berdiri dan berkata dengan lantang, ”Wahai Amirul Mu’minin, jangan engkau lanjutkan pidatomu sebelum engkau jelaskan dari mana pakaianmu itu? Sebab setahu kami, setiap warga mendapat jatah 1 hasta kain, sedangkan engkau adalah orang dengan poster tubuh tinggi, tidak mungkin jatah kain satu hasta cukup untuk membuat baju seukuranmu”. Mendengar protes warganya, Umar bin Khattab tidak marah meskipun dia seorang Khalifah. Kemudian Umar berkata kepada anaknya yang bernama Abdullah, ”Wahai Abdullah anakku, jelaskanlah kepada mereka tentang jatah kain baju ini”. Kemudian Abdullah berkata, ”Sesungguhnya jatah kain bagianku aku berikan kepada ayahku, karena ayahku berposter tubuh lebih tinggi.” Mendengar jawaban putera Khalifah, orang yang protes tadi berkata, ”Sekarang engkau boleh melanjutkan pidatomu, wahai Amirul Mu’minin”.
Kondisi kebebasan berpendapat dan pilihan yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab adalah model kesejahteraan, karena mereka mendapat hak berpendapat dan dilindungi oleh negara. Jika seorang pemimpin masih melakukan intimidasi, tekanan, ancaman serta warga dihinggapi rasa takut jabatannya dicopot, karirnya dihentikan serta ancaman lainnya, maka sebenarnya pemimpin itu sama sekali belum memberikan kesejahteraan hakiki kepada rakyatnya. Itulah yang dijelaskan dalam sura Quraisy ayat 3 dan 4. ##
Wallahu a’lam
Senin, 29 September 2008
Idul Fitri: Titik Menuju Harapan Baru
Sebulan lamanya umat Islam melaksanakan ibadah puasa. Suatu ibadah yang sarat dengan dimensi makna dan hikmah, mulai hikmah keimanan, kejujuran, sosial, kesehatan, kejiwaan, hingga hikmah ekonomis. Sungguh Maha Besar Allah yang telah menurunkan syariat dan aturan-Nya yang sempurna. Melalui puasa, umat islam di seluruh dunia telah ”ditraining” dengan massif, massal dan spektakuler. Sungguh kita sangat bersyukur memeluk agama fitrah ini. Agama yang ajarannya begitu lengkap dan detail, yang jelas dan terang bagai matahari di siang hari, yang sejuk dan lembut bagai rembulan purnama di malam hari. Tidak ada kata yang layak kita ucapkan di hari fitrah nan suci ini selain ungkapan keagungan Tuhan, ungkapan takbir yang disunnahkan Nabi saw tercinta ”Allahu Akbar, Allahu Akbar” (Allah Maha Besar- Allah Maha Besar!). Sebagaimana perintah Allah SWT dalam firman-Nya:
”Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqarah: 185)
Selama Ramadhan, kita telah dilatih untuk berlaku jujur. Betapa tidak? Meskipun kita berada di suatu tempat yang tidak terlihat oleh anak, isteri, suami bahkan bos dan atasan kita, kita tetap berlaku jujur, kita tidak berani memasukkan makanan atau minuman ke dalam rongga mulut kita di siang hari. Mengapa hal itu terjadi? Karena kita meyakini bahwa Allah SWT melihat kita, Allah mengawasi kita, Allah bersama kita kemanapun kita berada. Betapa indahnya bila perasaan kebersamaan dengan Allah selalu kita bawa di setiap keadaan dan tempat; di kantor, di pasar, di toko, di kampus, di kendaraan dan dimanapun. Mungkin tidak akan kita temukan lagi orang berani curang, korupsi, manipulasi, menguragi timbangan dan takaran, menjual barang yang kadaluwarsa, melanggar lalu lintas meski polisi tidak berada di tempat, serta perbuatan-perbuatan tercela lainnya.
Suatu hari Umar bin Khattab berkeliling kampung mengamati kondisi negerinya, beliau bertemu dengan seorang budak yang sedang menggembala kambing yang banyak jumlahnya. Umar bertanya, ”Milik siapakah kambing-kambing ini?.” Si budak menjawab, ”Milik tuanku, tuan!” ”Berapa ekor jumlahnya?” tanya Umar. ”Sepanjang mata tuan memandang, itulah jumlah kambing tuan kami, tuan!” jawab sang budak. ”Bagaimana jika aku beli satu ekor kambing saja? Ini uangnya.” Rayu Umar seraya menguji keimanan sang budak. ”Maaf, tuan!, saya tidak diperkenankan menjual tanpa seidzin tuan saya.”. jawab sang budak. ”Lho, bukankah tuanmu tidak melihat? Dan lagi, kambing sebanyak ini, mana mungkin tuanmu tahu kalau satu ekor saja dijual?” kata Umar. ”Benar tuan, tuan saya tidak mengetahui, tetapi Allah Maha Mengetahui apa yang hamba lakukan.”. Jawab sang budak yang penggembala itu. Umar pun kagum akan kejujuran budak itu hingga beliau memerdekakan status kebudakannya karena keimanannya.
Alangkah indahnya jika sikap jujur dan amanah yang dimiliki budak tersebut, ada pada setiap kita; baik pejabat maupun rakyat, karyawan maupun atasan, guru maupun siswa, suami maupun isteri.
Dalam Ramadhan pun, kita dilatih untuk bisa mengendalikan hawa nafsu. Kita bahkan dilatih untuk tidak mengkonsumsi barang yang mubah di siang hari selama Ramadhan. Fungsi pengendalian nafsu ini amat penting lagi jika diterapkan di tengah kehidupan yang cenderung hedonistis, sikap konsumer serta matriarlistis. Kita sering mengkonsumsi barang yang tidak perlu, atau tidak seimbang dengan keuangan kita demi mengejar suatu prestise kemewahan. Kita juga sering termakan dengan prestise merek asing tertentu, padahal kualitasnya tidak lebih baik dari karya anak negeri sendiri. Semua demi hawa nafsu prestis. Dengan puasalah kita diajarkan mengendalikan keinginan-keinginan yang berdampak negatif.
Puasa Ramadhan pun mengajarkan kita hidup berdisiplin. Menurut Dr. Musthofa al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi-nya menyatakan, bahwa puasa dapat melahirkan pribadi muslim yang berdisiplin. Sebab, orang yang berpuasa tidak akan makan dan minum sebelum datang waktu berbuka yakni saat maghrib. Sikap disiplin dalam segala hal akan melahirkan keteraturan, bekerja dengan perencanaan, terprogram dan terukur.
Puasa Ramadhan juga melahirkan pribadi-pribadi yang peduli terhadap sesama. Rasa lapar dan dahaga yang kita rasakan sepanjang hari mengingatkan kita pada kondisi kaum dhuafa (lemah) yang tidak menentu hidup dan pemenuhan kebutuhannya. Hal ini akan melahirkan sikap sosial dan kepedulian kepada sesama. Rasulullah saw bersabda, ”Tidaklah beriman salah seorang di antaar kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR: Muslim)
Dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa Ramadhan.
Jika semua hikmah itu dapat dicapai oleh setiap muslim yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan itu, maka akan lahir manusia muslim yang jujur, amanah, profesinal, disiplin, mampu mengendalikan diri, peduli kepada sesama dan sikap rendah hati. Itulah yang disebut Allah SWT sebagai orang-orang yang bertaqwa ”La’allakum tattaqun”. Sebagaimana firman Allah SWT:
”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-baqarah: 183).
Jika suatu negeri telah diisi oleh orang-orang yang bertaqwa yang memilki sifat-sifat positif di atas, bukan tidak mungkin negeri itu akan dipenuhi keberkahan dari segala arah. Perhatikan firman dan janji Allah SWT berikut:
”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al=A’raf: 96)
Idul Fitri berarti kembali kepada fitroh (kesucian). Itulah ciri orang-orang yang bertaqwa, yang menjauhkan diri dari segala sifat-sifat tamak dan serakah, serta kembali kepada sifat kemanusiaannya yang mencintai keharmonisan, kedamaian, keteraturan dan kebaikan. Idul ftri berarti juga kembali kepada nol (zero) sebagai titik awal melangkah ke masa depan dalam menata kehidupan yang lebih cerah. Dengan pola tazkiyah (penyucian) jiwa-lah masyarakat Jahiliyah berubah menjadi masyarakat yang berperdaban dan berilmu pengetahuan. Firman Allah SWT:
”Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah: 2).
Dalam ayat lain dijelaskan bahwa hanya orang yang berusaha mensucikan dirilah yang akan sukses, yakni orang yang senantiasa mengingat nama Allah dan melaksanakan shalat. Sebab merekalah yang mendudukkan diri sebagai hamba Allah yang harus mengabdi sesuai dengan aturan dan pedoman Tuhannya. Firman Allah SWT:
”Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang” (QS. Al-A’la: 14-15)
Marilah kita jadikan moment idul fitri ini sebagai titik awal menuju masa depan yang cerah. Kita yakin bahwa baik-buruk masa depan kita ditentukan oleh kita seberapa kuat kemauan kita untuk menjadi manusia-manusia dengan sifat-sifat kemanusiaannya yang cenderung cinta kebaikan. Allah SWT berfirman:
”Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Al-Ra’d: 11)
Selamat Raya Idul Fitri, selamat kembali kepada fitrah nan suci, minal ’aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin. Semoga seluruh amal kita diterima Allah SWT. Amin ya Rabbal Alamin.
”Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqarah: 185)
Selama Ramadhan, kita telah dilatih untuk berlaku jujur. Betapa tidak? Meskipun kita berada di suatu tempat yang tidak terlihat oleh anak, isteri, suami bahkan bos dan atasan kita, kita tetap berlaku jujur, kita tidak berani memasukkan makanan atau minuman ke dalam rongga mulut kita di siang hari. Mengapa hal itu terjadi? Karena kita meyakini bahwa Allah SWT melihat kita, Allah mengawasi kita, Allah bersama kita kemanapun kita berada. Betapa indahnya bila perasaan kebersamaan dengan Allah selalu kita bawa di setiap keadaan dan tempat; di kantor, di pasar, di toko, di kampus, di kendaraan dan dimanapun. Mungkin tidak akan kita temukan lagi orang berani curang, korupsi, manipulasi, menguragi timbangan dan takaran, menjual barang yang kadaluwarsa, melanggar lalu lintas meski polisi tidak berada di tempat, serta perbuatan-perbuatan tercela lainnya.
Suatu hari Umar bin Khattab berkeliling kampung mengamati kondisi negerinya, beliau bertemu dengan seorang budak yang sedang menggembala kambing yang banyak jumlahnya. Umar bertanya, ”Milik siapakah kambing-kambing ini?.” Si budak menjawab, ”Milik tuanku, tuan!” ”Berapa ekor jumlahnya?” tanya Umar. ”Sepanjang mata tuan memandang, itulah jumlah kambing tuan kami, tuan!” jawab sang budak. ”Bagaimana jika aku beli satu ekor kambing saja? Ini uangnya.” Rayu Umar seraya menguji keimanan sang budak. ”Maaf, tuan!, saya tidak diperkenankan menjual tanpa seidzin tuan saya.”. jawab sang budak. ”Lho, bukankah tuanmu tidak melihat? Dan lagi, kambing sebanyak ini, mana mungkin tuanmu tahu kalau satu ekor saja dijual?” kata Umar. ”Benar tuan, tuan saya tidak mengetahui, tetapi Allah Maha Mengetahui apa yang hamba lakukan.”. Jawab sang budak yang penggembala itu. Umar pun kagum akan kejujuran budak itu hingga beliau memerdekakan status kebudakannya karena keimanannya.
Alangkah indahnya jika sikap jujur dan amanah yang dimiliki budak tersebut, ada pada setiap kita; baik pejabat maupun rakyat, karyawan maupun atasan, guru maupun siswa, suami maupun isteri.
Dalam Ramadhan pun, kita dilatih untuk bisa mengendalikan hawa nafsu. Kita bahkan dilatih untuk tidak mengkonsumsi barang yang mubah di siang hari selama Ramadhan. Fungsi pengendalian nafsu ini amat penting lagi jika diterapkan di tengah kehidupan yang cenderung hedonistis, sikap konsumer serta matriarlistis. Kita sering mengkonsumsi barang yang tidak perlu, atau tidak seimbang dengan keuangan kita demi mengejar suatu prestise kemewahan. Kita juga sering termakan dengan prestise merek asing tertentu, padahal kualitasnya tidak lebih baik dari karya anak negeri sendiri. Semua demi hawa nafsu prestis. Dengan puasalah kita diajarkan mengendalikan keinginan-keinginan yang berdampak negatif.
Puasa Ramadhan pun mengajarkan kita hidup berdisiplin. Menurut Dr. Musthofa al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi-nya menyatakan, bahwa puasa dapat melahirkan pribadi muslim yang berdisiplin. Sebab, orang yang berpuasa tidak akan makan dan minum sebelum datang waktu berbuka yakni saat maghrib. Sikap disiplin dalam segala hal akan melahirkan keteraturan, bekerja dengan perencanaan, terprogram dan terukur.
Puasa Ramadhan juga melahirkan pribadi-pribadi yang peduli terhadap sesama. Rasa lapar dan dahaga yang kita rasakan sepanjang hari mengingatkan kita pada kondisi kaum dhuafa (lemah) yang tidak menentu hidup dan pemenuhan kebutuhannya. Hal ini akan melahirkan sikap sosial dan kepedulian kepada sesama. Rasulullah saw bersabda, ”Tidaklah beriman salah seorang di antaar kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR: Muslim)
Dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa Ramadhan.
Jika semua hikmah itu dapat dicapai oleh setiap muslim yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan itu, maka akan lahir manusia muslim yang jujur, amanah, profesinal, disiplin, mampu mengendalikan diri, peduli kepada sesama dan sikap rendah hati. Itulah yang disebut Allah SWT sebagai orang-orang yang bertaqwa ”La’allakum tattaqun”. Sebagaimana firman Allah SWT:
”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-baqarah: 183).
Jika suatu negeri telah diisi oleh orang-orang yang bertaqwa yang memilki sifat-sifat positif di atas, bukan tidak mungkin negeri itu akan dipenuhi keberkahan dari segala arah. Perhatikan firman dan janji Allah SWT berikut:
”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al=A’raf: 96)
Idul Fitri berarti kembali kepada fitroh (kesucian). Itulah ciri orang-orang yang bertaqwa, yang menjauhkan diri dari segala sifat-sifat tamak dan serakah, serta kembali kepada sifat kemanusiaannya yang mencintai keharmonisan, kedamaian, keteraturan dan kebaikan. Idul ftri berarti juga kembali kepada nol (zero) sebagai titik awal melangkah ke masa depan dalam menata kehidupan yang lebih cerah. Dengan pola tazkiyah (penyucian) jiwa-lah masyarakat Jahiliyah berubah menjadi masyarakat yang berperdaban dan berilmu pengetahuan. Firman Allah SWT:
”Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah: 2).
Dalam ayat lain dijelaskan bahwa hanya orang yang berusaha mensucikan dirilah yang akan sukses, yakni orang yang senantiasa mengingat nama Allah dan melaksanakan shalat. Sebab merekalah yang mendudukkan diri sebagai hamba Allah yang harus mengabdi sesuai dengan aturan dan pedoman Tuhannya. Firman Allah SWT:
”Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang” (QS. Al-A’la: 14-15)
Marilah kita jadikan moment idul fitri ini sebagai titik awal menuju masa depan yang cerah. Kita yakin bahwa baik-buruk masa depan kita ditentukan oleh kita seberapa kuat kemauan kita untuk menjadi manusia-manusia dengan sifat-sifat kemanusiaannya yang cenderung cinta kebaikan. Allah SWT berfirman:
”Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Al-Ra’d: 11)
Selamat Raya Idul Fitri, selamat kembali kepada fitrah nan suci, minal ’aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin. Semoga seluruh amal kita diterima Allah SWT. Amin ya Rabbal Alamin.
Langganan:
Postingan (Atom)