Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS: Ar-Ruum: 42)
Merenungi ayat di atas. Sadarlah kita bahwa kerusakan alam yang terjadi akhir-akhir ini adalah akibat perbuatan tangan manusia. Fenomena keluarnya lumpur Lapindo di Sidioarjo adalah bukti akibat perbuatan tangan manusia. Ekploitasi kekayaan alam tanpa mengindahkan dampak negatif akan mengakibatkan bencana yang berkepanjangan. Sudah sekian desa dan kampung terendam lumpur berbahaya ini, bahkan kini, semburan lumpurnya mengalami peningkatan yang lebih besar lagi. Sungai-sungai yang menjadi tempat pembuangan lumpur pun sudah tidak bisa menampung lagi buangan lumpur ini. Jalan porong yang menghubungkan pusat-pusat ekonomi pun kini hamper ditutup.
Lain di Sidoarjo lain pula di daerah lain, peristiwa tanah longsor di berbagai daerah adalah akibat penebangan hutan yang tidak mengindahkan ekosistem alam.
Banyak ayat al-Quran yang telah mengingatkan manusia akan bahaya pengrusakan bumi. Selain ayat tersebut di atas, Allah pun berfirman: “Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (QS, Asy-Syu’ara: 150-152)
Sayangnya, manusia banyak yang tidak mengindahkan teguran al-Quran, bagaimana tidak? Jangankan menyimak al-Quran, memegang dan membaca saja tidak?.
Para ulama berkata, bahwa ayat terbagi menjadi dua, pertama ayat yang berbicara, yakni ayat qur’aniyah. Dan kedua adalah ayat yang berdiam yakni ayat kauniyah (alam). Kini manusia tidak membaca al-Qur’an sehingga kini yang berbicara menegur manusia adalah alam dalam bentuk bencana, agar manusia kembali kepada Allah SWT.
Kalau kita menyimak pada ajaran Islam, maka Islam telah mengajarkan keharmonisan hubungan antara manusia dan alam. Islampun memerintahkan kepada umatnya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan;
Dalam persfektik ilmu Ushuluddin, betapa alam dan manusia sama-sama mempunyai tugas tunduk dan bertasbih kepada sang Khaliq. Allah SWT berfirman: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra: 44)
Dalam persfektif ilmu Tasawuf (etika) pun, diajarkan hubungan yang baik antara alam dan manusia. Rasulullah saw saat melihat gunung Uhud berkata, “Uhud adalah gunung yang mencintai kita, dan kita pun mencintainya” (HR: Bukhori Muslim)
Demikian pula menurut ilmu fiqih, Hubungan ilmu fiqih dengan pemeliharaan lingkungan, pelestarian dan pelindungannya dari segala hal yang membahayakan dan merusak, adalah hubungan yang memilki rambu-rambu dan aturan yang jelas. Sebagaimana diketahui bahwa iimu fiqih adalah ilmu yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan keluarga dan masyarakatnya, dengan alam sekitarnya, sesuai dengan lima hukum syariat yang sudah jelas, yaitu: wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah .
Konsep Islam Dalam Pemeliharaan Alam
Selain semua disiplin ilmu yang mendukung akan adanya pemeliharaan terhdap alam dan lingkungan, kenyataannya, Islam sendiri mempunyai konsep yang jelas dalam pemeliharaan lingkungan. Antara lain:
Pertama, Perintah penanaman pohon dan penghijauan (Go-Green). Rasululullah saw bersabda, Tidaklah seorang muslm yang menanam tanaman atau menggarap ladang, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, atau manusia atau hewan, kecuali dia menjadi sedekah baginya” (HR: Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menanam pepohonan dan menjaganya dengan sabar, serta merawatnya hingga berbuah, maka segala sesuatu yang menimpa buahnya menjadi sedekah di sisi ALLah SWT. (HR: Ahmad).
Perintah menanam pohon pun bukan hanya dilakukan di waktu lapang, bahkan jika akan terjadi kiamat sekalipun, namun masih ada kesempatan menanam, maka Rasulullah saw memerintah menanam. Beliau saw bersabda, “Apabila hari kiamat telah dibangkitkan, dan pada salah seorang dari kamu memegang batang pohon korma, jika ia mampu untuk menanamnya maka lakukanlah.” (HR: Ahmad dan Bukhori )
Kedua, perintah pemeliharaan alam. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman." (QS. Al-A’raf: 85)
Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa perbuatan yang berorientasi hanya kepada ekonomi dan keuntungan namun menghalalkan berbagai cara, maka akan mendapat murka dari Allah karena Allah telah melarangnya dengan keras. Salah satunya adalah ekploitasi kekayaan alam tanpa menghiraukan dampak kerusakan.
Ketiga, perintah menghidupkan lahan mati. Sebagaiimana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa menghidupakan tanah yang sudah mati maka ia menjadi miliknya” (HR: Abu Daud dan Tirmidzi).
Dalam ayat al-Quran, Allah SWT menjelaskan bahwa menghidupkan tanah mati (tidak produktif) adalah merupakan tanda kebesaran Allah SWT. Firman-Nya: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.” (QS. Yasin: 33)
Dalam ayat ini Allah menggunakan dhamir (kata ganti) “Kami” dan bukan “Aku” untuk mengajak kesertaan manusia dalam menghidupkan lahan yang mati.
Menghidupkan tanah yang tidak produktif (sahara) itu bisa juga dengan cara membangun pemukiman, sehingga ada dua manfaat:
1. Menghidupkan padang pasir (gersang) dengan rumah-rumah dan tempat tinggal, sehingga berkembanglah kehidupan di dalamnya dari segala sisi
2. Kemudian ditanam di atasnya tetumbuhan sehingga menyempatkan manusia bercocok tanam
Keempat, perintah menjaga kebersihan lingkungan. Rasulullah saw bersabda, “Kebersihan itu sebagian dari iman”. Bukan hanya itu saja pentingnya kebersihan. Kotoran dan sampah yang membuat aliran sungai terhambat akan mengakibatkan bencana banjir dan menimbulkan wabah penyakit. Bahkan duri yang melintang di jalan akan mengakibatkan kecelakaan pecah ban atau terlukanya seseorang. Karena itu Rasulullah saw memerintahkan untuk menyingkirkan duri dan menjanjikan pahala besar bagi pelakunya. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan duri dari jalan kaum muslimin, akan ditulis baginya satu kebaikan. Dan Barangsiapa mendapat satu kebaikan, ia akan masuk surga” (HR: Ath-Tahbrani dalam al-Kabir )
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasanya ada seorang perempuan berkulit hitam yang rajin membersihkan masjid. Suatu ketika Rasulullah saw tidak melihat perempuan itu lagi. Sesudah beberapa hari, Rasulullah saw menanyakan keberadaannya. Kemudian dikatakan bahwa dia telah meninggal dunia, “kalau begitu, tunjukkan padaku kuburannya.” ujar Rasulullah saw. Lalu belia mendatangi kuburannya dan menyalatkannya disana. (HR: bukhori-Muslim).
Kelima, perintah menjaga sumber kekayaan alam. Allah SWT telah melukiskan bagaimana suatu bangsa yang telah diberi kekayaan alam, kemudian mereka melakukan kerusakan yang mengakibatkan terkikisnya kenikmatan kakayaan alam. Allah SWT berfirman,: “Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun." Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr, Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir” (QS: saba: 15-17) .
Selain itu, Rasulullah saw melarang menebang pohon dengan sembarangan, sebagaimana sabda beliau; “Barangsiapa menebang pepohonan maka Allah akan mencelupkannya ke dalam neraka” (HR: Abu Daud). ## (Jamhuri)
Senin, 24 Mei 2010
Rabu, 14 April 2010
Hukuman Bagi Koruptor
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.Al-Maidah: 38)
Sudah terlalu lelah bangsa ini berwacana tentang tindak pidana korupsi. Dari satu kasus ke kasus lain, tetap saja wacana hanya tinggal wacana, namun tidak lanjut belum juga terselesaikan.
Ada beberapa pelaku korupsi yang sudah masuk penjara memang, tapi ternyata hukuman penjara tidak membuat jera para pelaku. Bahkan semakin hari semakin bertambah. Mulai dari kaiss Bank Century hingga markus (makelar kasus), dan penyelewengan pajak.
M. H. Ainun Najdib, sang budayawan, mengibaratkan negeri ini laksana seorang yang sudah terkena tumor di seluruh tubunya, di kepala, tangan, kaki, dada, perut, punggung hingga alat vital. Menurutnya, tumor itu obatnya amputasi, agar virusnya tidak menular ke bagian tubuh lain. Tapi bagian mana yang harus diamputasi, wong semua tubuhnya sudah terkena tumor?
Mengurai kasus korupsi di tanah air laksana mengurai benang kusut yang sudah akut. Semakin diurai semakin kusut benang itu.
Para ahli hukum sudah tidak menemukan lagi suatu teori atau jurus yang dapat membuat pelaku korupsi jera. Bahkan justru para penegak hukum itu sendiri menjadi makelar hukum demi mendapat bayaran rupiah.
Belakangan, Ketua Mahkamah Konstitusi mengusulkan agar pelaku korupsi dihukum mati, agar pelaku korupsi menjadi jera. Mungkin pernyataan ini diilhami oleh hukum yang diterapkan oleh China. Disana setiap pejabat yang ditengarai melakukan tindak korupsi dihukum tembak mati. Bukan hanya itu, bahkan anggota keluarganya yang ikut menikmati hasil korupsi dengan sadar, pun ikut di “dor” mati.
Dari fenomena ini, ada dua pendapat ekstrim dalam menangani kasus korupsi dalam hal penjatuhan hukuman. Ada ekstrim hukuman terlalu lemah berupa penjara. Ada pula ekstrim hukuman terlalu keras berupa hukuman mati atau tembak.
Islam adalah agama yang adil dan menengah. Sebagaimana firman Allah SWT; “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS. Al-Baqarah: 143). Keadilan dan sikap moderat dalam Islam terjadi dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam menjatuhkan sangsi kepada pelaku criminal.
Bukan itu saja, penjatuhan sangsi dalam islam, bukan sekedar sangsi, tapi disertai dengan perangkat-perangkat yang mengarah tindakan pencegahan agar manusia tidak jatuh dalam tindak kriminal. Perintah beriman kepada Allah dan balasan akan hari kiamat adalah salah satu dari sekian perangkat sehingga manusia menjauhi tindak kriminal. Pendisiplanan shalat serta perintah berakhlak mulia (akhlakul karimah) adalah dalam upaya menghindarkan manusia dari sikap zalim.
Selain perintah, larangan-larangan juga dimaksudkan untuk menghilangkan tindak kriminal. Seperti larangan mengkonsumsi narkoba, khmar (beer), berzina, berjudi, dan menipu. Karena pada dasarnya satu kemaksiatan yang dilakukan akan menimbulkan kemaksitan lainnya. Contoh: perzinahan yang dibebaskan, membuat pejabat atau pengusaha bebas melakukan perzinahan, sedangkan perzinahan itu membutuhkan biaya, dari mana biayanya jika gajinya pas-pasan, ya dari korupsi.
Nah, jika tindakan-tindakan preventif (pencegahan) yang Islam tawarkan masih juga dilanggar, maka barulah islam memberikan sangsi yang tegas. Semua sangsi itu bukan hanya akan memberikan efek jera kepada pelakunya, tapi juga akan mengurungkan niat jahat bagi orang yang belum melakukan kejahatan.
Salah satunya adalah pelaku korupsi yang disebut sebagai pencuri uang Negara. Dalam al-quran, Allah memerintahkan hukum potong tangan bagi para pencuri. Firman Allah SWT: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.Al-Maidah: 38).
Jika saja hukum potong tangan diterapkan kepada para pelaku koruptor, niscaya orang yang akan berbuat korupsi akan berpikir tujuh kali. Coba bayangkan kemana-mana kondisi tangan buntung, pertanda dia pernah melakukan korupsi. Belum lagi dia tidak bebas melakukan aktifitas jika tangannya tidak sempurna. Inilah amputasi yang dimaksud islam.
Masyarakat islam laksana satu tubuh, maka jika ada salah satu anggota mengidap penyakit semisal tumor atau lainnya yang menyebabkan menjalar ke anggota lain, maka tindakan yang aman adalah dengan mengamputasi anggota tersebut. Lain halnya jika anggota tubuh sakit biasa, maka tubuh lain ikut merasakan apa yang dirasa anggota tubuh yang sakit.
Demikian pula jika anggota masyarakat melakukan tindak pidana berat, maka Islam menerapkan hukuman yang berat, seperti potong tangan bagi pelaku pencurian, qishas bagi pelaku pembunuhan, rajam dan cambuk bagi penzina. Hal itu dilakukan agar perbuatan itu tidak menular kepada anggota masyarakat lainnya. Sebab jika suatu hukuman ringan, padahal kejahatannya besar, maka anggota masyarakat tidak merasa jera, sehingga lambat laut kejahatan akan mudah dilakukan bahkan menjalar, seperti yang kita temukan pada kasus korupsi dan kejahatan narkoba. Bukan semakin berkurang, bahkan data menunjukkan kejahatan tersebut semakin bertambah.
Tidak ada suatu hukum yang telah ditentukan Allah SWT, kecuali untuk kemaslahatan hamba-nya. Jika hamba-Nya melaksanakan hukum tersebut, maka kebahagiaan akan diraihnya. Sebaliknya, jika hukum Allah dilanggar, maka kesengsaran dan ketidakteraturanlah yang muncul.
Mengapa masih banyak orang dan pihak-pihak yang anti hukum Islam?. Boleh jadi karena mereka adalah sebenarnya para koruptor, penzina, pengedar narkoba yang bicara di balik HAM. Mereka takut jika hukum Islam ditegakkan, tidak dapat leluasa melakukan perbuatannya. Boleh jadi mereka mensponsori para intelektual Islam untuk bicara bahwa hukum islam itu tidak relevan. ##
Sudah terlalu lelah bangsa ini berwacana tentang tindak pidana korupsi. Dari satu kasus ke kasus lain, tetap saja wacana hanya tinggal wacana, namun tidak lanjut belum juga terselesaikan.
Ada beberapa pelaku korupsi yang sudah masuk penjara memang, tapi ternyata hukuman penjara tidak membuat jera para pelaku. Bahkan semakin hari semakin bertambah. Mulai dari kaiss Bank Century hingga markus (makelar kasus), dan penyelewengan pajak.
M. H. Ainun Najdib, sang budayawan, mengibaratkan negeri ini laksana seorang yang sudah terkena tumor di seluruh tubunya, di kepala, tangan, kaki, dada, perut, punggung hingga alat vital. Menurutnya, tumor itu obatnya amputasi, agar virusnya tidak menular ke bagian tubuh lain. Tapi bagian mana yang harus diamputasi, wong semua tubuhnya sudah terkena tumor?
Mengurai kasus korupsi di tanah air laksana mengurai benang kusut yang sudah akut. Semakin diurai semakin kusut benang itu.
Para ahli hukum sudah tidak menemukan lagi suatu teori atau jurus yang dapat membuat pelaku korupsi jera. Bahkan justru para penegak hukum itu sendiri menjadi makelar hukum demi mendapat bayaran rupiah.
Belakangan, Ketua Mahkamah Konstitusi mengusulkan agar pelaku korupsi dihukum mati, agar pelaku korupsi menjadi jera. Mungkin pernyataan ini diilhami oleh hukum yang diterapkan oleh China. Disana setiap pejabat yang ditengarai melakukan tindak korupsi dihukum tembak mati. Bukan hanya itu, bahkan anggota keluarganya yang ikut menikmati hasil korupsi dengan sadar, pun ikut di “dor” mati.
Dari fenomena ini, ada dua pendapat ekstrim dalam menangani kasus korupsi dalam hal penjatuhan hukuman. Ada ekstrim hukuman terlalu lemah berupa penjara. Ada pula ekstrim hukuman terlalu keras berupa hukuman mati atau tembak.
Islam adalah agama yang adil dan menengah. Sebagaimana firman Allah SWT; “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS. Al-Baqarah: 143). Keadilan dan sikap moderat dalam Islam terjadi dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam menjatuhkan sangsi kepada pelaku criminal.
Bukan itu saja, penjatuhan sangsi dalam islam, bukan sekedar sangsi, tapi disertai dengan perangkat-perangkat yang mengarah tindakan pencegahan agar manusia tidak jatuh dalam tindak kriminal. Perintah beriman kepada Allah dan balasan akan hari kiamat adalah salah satu dari sekian perangkat sehingga manusia menjauhi tindak kriminal. Pendisiplanan shalat serta perintah berakhlak mulia (akhlakul karimah) adalah dalam upaya menghindarkan manusia dari sikap zalim.
Selain perintah, larangan-larangan juga dimaksudkan untuk menghilangkan tindak kriminal. Seperti larangan mengkonsumsi narkoba, khmar (beer), berzina, berjudi, dan menipu. Karena pada dasarnya satu kemaksiatan yang dilakukan akan menimbulkan kemaksitan lainnya. Contoh: perzinahan yang dibebaskan, membuat pejabat atau pengusaha bebas melakukan perzinahan, sedangkan perzinahan itu membutuhkan biaya, dari mana biayanya jika gajinya pas-pasan, ya dari korupsi.
Nah, jika tindakan-tindakan preventif (pencegahan) yang Islam tawarkan masih juga dilanggar, maka barulah islam memberikan sangsi yang tegas. Semua sangsi itu bukan hanya akan memberikan efek jera kepada pelakunya, tapi juga akan mengurungkan niat jahat bagi orang yang belum melakukan kejahatan.
Salah satunya adalah pelaku korupsi yang disebut sebagai pencuri uang Negara. Dalam al-quran, Allah memerintahkan hukum potong tangan bagi para pencuri. Firman Allah SWT: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.Al-Maidah: 38).
Jika saja hukum potong tangan diterapkan kepada para pelaku koruptor, niscaya orang yang akan berbuat korupsi akan berpikir tujuh kali. Coba bayangkan kemana-mana kondisi tangan buntung, pertanda dia pernah melakukan korupsi. Belum lagi dia tidak bebas melakukan aktifitas jika tangannya tidak sempurna. Inilah amputasi yang dimaksud islam.
Masyarakat islam laksana satu tubuh, maka jika ada salah satu anggota mengidap penyakit semisal tumor atau lainnya yang menyebabkan menjalar ke anggota lain, maka tindakan yang aman adalah dengan mengamputasi anggota tersebut. Lain halnya jika anggota tubuh sakit biasa, maka tubuh lain ikut merasakan apa yang dirasa anggota tubuh yang sakit.
Demikian pula jika anggota masyarakat melakukan tindak pidana berat, maka Islam menerapkan hukuman yang berat, seperti potong tangan bagi pelaku pencurian, qishas bagi pelaku pembunuhan, rajam dan cambuk bagi penzina. Hal itu dilakukan agar perbuatan itu tidak menular kepada anggota masyarakat lainnya. Sebab jika suatu hukuman ringan, padahal kejahatannya besar, maka anggota masyarakat tidak merasa jera, sehingga lambat laut kejahatan akan mudah dilakukan bahkan menjalar, seperti yang kita temukan pada kasus korupsi dan kejahatan narkoba. Bukan semakin berkurang, bahkan data menunjukkan kejahatan tersebut semakin bertambah.
Tidak ada suatu hukum yang telah ditentukan Allah SWT, kecuali untuk kemaslahatan hamba-nya. Jika hamba-Nya melaksanakan hukum tersebut, maka kebahagiaan akan diraihnya. Sebaliknya, jika hukum Allah dilanggar, maka kesengsaran dan ketidakteraturanlah yang muncul.
Mengapa masih banyak orang dan pihak-pihak yang anti hukum Islam?. Boleh jadi karena mereka adalah sebenarnya para koruptor, penzina, pengedar narkoba yang bicara di balik HAM. Mereka takut jika hukum Islam ditegakkan, tidak dapat leluasa melakukan perbuatannya. Boleh jadi mereka mensponsori para intelektual Islam untuk bicara bahwa hukum islam itu tidak relevan. ##
Minggu, 14 Maret 2010
Mendidik Dengan Cinta
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS.Ali Imran: 159).
Mendidik adalah tugas utama orang tua. Keduanya-lah yang akan membuat anak bertumbuh kembang, baik fisik, mental, pengetahuan, bahkan keimanan. Namun, dalam mendidik anak, terkdaang kita sering memarahinya ketimbang mengasihinya. Kalimat perintah dan larangan seakan tidak lepas dari mulut kita. Yang lebih parah kita sering mengeluarkan kata-kata yang membuat perkembangan anak terhambat.
Rasulullah saw telah memberi contoh kepada kita bagaimana mendidik anak dengan cinta.
DR. Maisarah Thahir berkata: Sarana tarbiyah (pendidikan) dengan cinta, atau bahasa cinta, atau abcd cinta, ada delapan, yaitu 1.Kosa kata cinta, 2.Pandang mata cinta, 3.Suapan cinta, 4. Sentuhan cinta, 5.Selimut cinta, 6. Pelukan cinta, 7. Ciuman cinta, 8. Senyum cinta
Pertama: Kosa kata cinta
Berapa kosa kata cinta kita ucapkan kepada anak-anak kita?
Dalam sebuah kajian dikatakan: seorang anak dari bayi sampai ABG telah mendengar tidak kurang dari 16 ribu kosa kata buruk, namun, ia hanya mendengar ratusan kosa kata baik!
Image yang tergambar dalam pikiran seorang anak tentang dirinya merupakan salah satu hasil dari omongan yang didengarnya, seakan sebuah kosa kata adalah sebuah kuas di tangan seorang pelukis, bisa jadi ia melukiskannya dengan warna hitam, bisa juga melukiskannya dengan berbagai warna indah. Jadi, kosa kata-kosa kata yang ingin kita ucapkan kepada anak-anak kita, harus yang baik, kalau tidak baik, jangan kita ucapkan
Sebagian orang tua, sebagian kosa kata mereka merendahkan, menjelek-jelekkan, atau merendahkan ciptaan Allah, akibatnya terhadap anak adalah mengurung diri, permusuhan, ketakutan, tidak percaya diri
Karena itu kita harus selektif dalam memilih kata-kata, karena kata sangat berpengaruh pada jiwa yang mendengarnya.
Kedua: pandang mata cinta
Jadikan kedua mata kita tepat pada kedua mata anak kita, disertai senyuman, dan bergumamlah dengan suara tidak terdengar: “aku mencintaimu wahai si fulan”, sebanyak tiga atau lima atau sepuluh kali, jika hal itu disikapi oleh anakmu celaan, atau merasa aneh, dan ia berkata: “apa yang kamu lakukan wahai ayahku”, maka jawablah: “aku rindu kepadamu wahai fulan”. Jadi, pandangan mata, dan cara ini, mempunyai dampak dan hasil yang luar biasa.
Ketiga: suapan cinta
Cara ini tidak bisa dilakukan kecuali seluruh anggota keluarga berkumpul di satu meja makan. janganlah menempatkan tv di ruang makan], agar terjadi interaksi dan pertukaran pandangan mata. Dan saat menikmati santapan makan, hendaklah orang tua berusaha menyuapkan beberapa suap ke mulut anaknya [dengan catatan, anak kelas V atau VI SD ke atas, pasti merasa bahwa cara ini tidak bisa mereka terima], jika sang anak menolak menerima suapan itu di mulutnya, maka letakkan pada sendok atau piringnya. Hendaklah saat menyuapi disertai dengan pandangan mata cinta diiringi senyuman, kosa kata indah dan suara pelan: “demi Allah wahai anakku, saya sangat ingin menyuapimu dengan suapan ini, ini adalah kurir cintaku wahai sayangku”, setelah ini, pasti dia mau menerimanya.
Keempat: sentuhan cinta
DR. Maisarah berkata: saya nasihatkan agar orang tua memperbanyak sentuhan terhadap anaknya. Bukan sebuah kebijakan jika seorang ayah berbicara dengan anaknya pada dua kursi yang berbeda. Sebaiknya sang anak ada di sampingnya, dan hendaklah tangan sang ayah menempel di bahu anaknya (tangan kanan ada di bahu kanan). Kemudian DR. Maisarah menjelaskan cara nabi SAW menghadapi lawan bicaranya: “Nabi Muhammad SAW menempelkan kedua lututnya dengan lutut lawan bicaranya, dan meletakkan kedua tangan beliau di atas kedua paha lawan bicaranya, dan posisi menghadap secara penuh”. Sekarang terbukti bahwa sekedar sentuhan seseorang merasa dicintai dan kehangatan hubungan meningkat ke puncak tertinggi. Karenanya, jika hendak berbicara dengan sang anak, atau hendak menasihatinya, janganlah duduk berjauhan, sebab, dengan begini, terpaksa harus bersuara keras, dan [suara keras membuat sang anak lari, dan jika sang anak itu laki-laki, maka peganglah bagian pahanya, dan jika sang anak perempuan, maka peganglah bahunya, dan peganglah tangannya dengan penuh kasih sayang, letakkan kepala sang anak pada bahu sang ayah, agar ia merasa dekat, aman, dan tersayang, sambil katakan: “Aku bersamamu, aku akan memohonkan pengampunan untukmu jika kamu bersalah”.
Kelima: selimut cinta
Hendaklah setiap malam seorang ayah atau ibu melakukannya, jika sang anak telah tidur, maka datangilah ia dan ciumlah, niscaya dia akan merasakan kehadiranmu, karena jenggot wajahmu yang biasa engkau bercanda dengannya, jika ia membuka satu matanya sedangkan yang lainnya masih terpejam dan ia berkata: “engkau datang wahai ayahku?”
Maka katakan kepadanya: “Betul, aku datang wahai sayangku!”. Dan selimutilah dia
Dalam pemandangan ini, sang anak akan berada dalam kondisi setengah sadar antara tidur dan tidak, dan pemandangan tadi akan tetanam dalam pikirannya, dan saat ia terbangun pada esok harinya, ia akan teringat bahwa semalam ayahnya datang dan melakukan ini dan itu.
Dengan perbuatan seperti ini, menjadi dekatlah jarak antara orang tua dan anak, dan kita wajib dekat dengan anak dengan pisik dan hati kita.
Keenam: dekapan cinta
Janganlah kita pelit dengan dekapan terhadap anak. Sebab, keperluan anak kepada dekapan sama dengan keperluannya kepada makanan, minuman dan udara, setiap kali ada yang terkonsumsi, niscaya diperlukan yang lainnya.
Ketujuh: ciuman cinta
Rasulullah SAW mencium salah seorang cucunya; Hasan atau Husain. Perbuatan ini terlihat oleh al-Aqra’ bin Habis, maka ia berkata: “Apakah engkau mencium anak-anak kecil?!! Demi Allah, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka!! Maka Rasulullah SAW bersabda: “Kalau saja aku mempunyai kemampuan untuk mencabut kasih sayang dari dalam hatimu”
Wahai para orang tua, ciuman kepada anak merupakan satu ekspresi kasih sayang, betul, kasih sayang yang menjadi focus ajaran Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa ia merupakan rahasia ketertarikan manusia kepada suatu keyakinan, dan jika kasih sayang ini hilang dari perilaku kita terhadap anak-anak kita, berarti kita telah menjauhkan mereka dari kita, baik kita sebagai perseorangan maupun kita sebagai para da’i, da’i Islam. Firman Allah SWT yang artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS.Ali Imran: 159).
Kedelapan: Senyum cinta
Senyum yang kita pancarkan pada anak kita memiliki energi kuat dalam hatinya. Di dalamnya terkandung optomimisme, doa, bahkan sedekah. Penularan energy positif inilah sehingga seyum disamakan dengan sedekah.
Inilah sarana-sarana cinta, siapa yang menerapkannya, niscaya mendapatkan cinta dari mereka yang berinteraksi dengannya.
Sebagian orang tua saat dinasihati demikian berkomentar: “Kami tidak terbiasa”.
Subhanallah!! Adakah kebiasaan itu tidak bisa diirubahnya? Bukankah Qur’an yang turun dari langit yang dapat merubah kaum Jahiliyah tidak bisa merubah sikap kita? Seberapa imankah kita dengan al-Qur’an?
Sarana-sarana ini ibarat air, dengannya tanaman cinta akan tumbuh di dalam hati. Dan jika kita ingin dibaiki oleh anak kita, baikilah anak kita, dan sayangilah mereka.
Perlu diketahui bahwa cinta tidak sama dengan tutup mata atau membiarkan kesalahan. Cinta justru peduli terhadap kesalahan dan kebaikan anak. Mulailah mencinta maka kita akan dicinta.
Wallahu a’lam.#
Mendidik adalah tugas utama orang tua. Keduanya-lah yang akan membuat anak bertumbuh kembang, baik fisik, mental, pengetahuan, bahkan keimanan. Namun, dalam mendidik anak, terkdaang kita sering memarahinya ketimbang mengasihinya. Kalimat perintah dan larangan seakan tidak lepas dari mulut kita. Yang lebih parah kita sering mengeluarkan kata-kata yang membuat perkembangan anak terhambat.
Rasulullah saw telah memberi contoh kepada kita bagaimana mendidik anak dengan cinta.
DR. Maisarah Thahir berkata: Sarana tarbiyah (pendidikan) dengan cinta, atau bahasa cinta, atau abcd cinta, ada delapan, yaitu 1.Kosa kata cinta, 2.Pandang mata cinta, 3.Suapan cinta, 4. Sentuhan cinta, 5.Selimut cinta, 6. Pelukan cinta, 7. Ciuman cinta, 8. Senyum cinta
Pertama: Kosa kata cinta
Berapa kosa kata cinta kita ucapkan kepada anak-anak kita?
Dalam sebuah kajian dikatakan: seorang anak dari bayi sampai ABG telah mendengar tidak kurang dari 16 ribu kosa kata buruk, namun, ia hanya mendengar ratusan kosa kata baik!
Image yang tergambar dalam pikiran seorang anak tentang dirinya merupakan salah satu hasil dari omongan yang didengarnya, seakan sebuah kosa kata adalah sebuah kuas di tangan seorang pelukis, bisa jadi ia melukiskannya dengan warna hitam, bisa juga melukiskannya dengan berbagai warna indah. Jadi, kosa kata-kosa kata yang ingin kita ucapkan kepada anak-anak kita, harus yang baik, kalau tidak baik, jangan kita ucapkan
Sebagian orang tua, sebagian kosa kata mereka merendahkan, menjelek-jelekkan, atau merendahkan ciptaan Allah, akibatnya terhadap anak adalah mengurung diri, permusuhan, ketakutan, tidak percaya diri
Karena itu kita harus selektif dalam memilih kata-kata, karena kata sangat berpengaruh pada jiwa yang mendengarnya.
Kedua: pandang mata cinta
Jadikan kedua mata kita tepat pada kedua mata anak kita, disertai senyuman, dan bergumamlah dengan suara tidak terdengar: “aku mencintaimu wahai si fulan”, sebanyak tiga atau lima atau sepuluh kali, jika hal itu disikapi oleh anakmu celaan, atau merasa aneh, dan ia berkata: “apa yang kamu lakukan wahai ayahku”, maka jawablah: “aku rindu kepadamu wahai fulan”. Jadi, pandangan mata, dan cara ini, mempunyai dampak dan hasil yang luar biasa.
Ketiga: suapan cinta
Cara ini tidak bisa dilakukan kecuali seluruh anggota keluarga berkumpul di satu meja makan. janganlah menempatkan tv di ruang makan], agar terjadi interaksi dan pertukaran pandangan mata. Dan saat menikmati santapan makan, hendaklah orang tua berusaha menyuapkan beberapa suap ke mulut anaknya [dengan catatan, anak kelas V atau VI SD ke atas, pasti merasa bahwa cara ini tidak bisa mereka terima], jika sang anak menolak menerima suapan itu di mulutnya, maka letakkan pada sendok atau piringnya. Hendaklah saat menyuapi disertai dengan pandangan mata cinta diiringi senyuman, kosa kata indah dan suara pelan: “demi Allah wahai anakku, saya sangat ingin menyuapimu dengan suapan ini, ini adalah kurir cintaku wahai sayangku”, setelah ini, pasti dia mau menerimanya.
Keempat: sentuhan cinta
DR. Maisarah berkata: saya nasihatkan agar orang tua memperbanyak sentuhan terhadap anaknya. Bukan sebuah kebijakan jika seorang ayah berbicara dengan anaknya pada dua kursi yang berbeda. Sebaiknya sang anak ada di sampingnya, dan hendaklah tangan sang ayah menempel di bahu anaknya (tangan kanan ada di bahu kanan). Kemudian DR. Maisarah menjelaskan cara nabi SAW menghadapi lawan bicaranya: “Nabi Muhammad SAW menempelkan kedua lututnya dengan lutut lawan bicaranya, dan meletakkan kedua tangan beliau di atas kedua paha lawan bicaranya, dan posisi menghadap secara penuh”. Sekarang terbukti bahwa sekedar sentuhan seseorang merasa dicintai dan kehangatan hubungan meningkat ke puncak tertinggi. Karenanya, jika hendak berbicara dengan sang anak, atau hendak menasihatinya, janganlah duduk berjauhan, sebab, dengan begini, terpaksa harus bersuara keras, dan [suara keras membuat sang anak lari, dan jika sang anak itu laki-laki, maka peganglah bagian pahanya, dan jika sang anak perempuan, maka peganglah bahunya, dan peganglah tangannya dengan penuh kasih sayang, letakkan kepala sang anak pada bahu sang ayah, agar ia merasa dekat, aman, dan tersayang, sambil katakan: “Aku bersamamu, aku akan memohonkan pengampunan untukmu jika kamu bersalah”.
Kelima: selimut cinta
Hendaklah setiap malam seorang ayah atau ibu melakukannya, jika sang anak telah tidur, maka datangilah ia dan ciumlah, niscaya dia akan merasakan kehadiranmu, karena jenggot wajahmu yang biasa engkau bercanda dengannya, jika ia membuka satu matanya sedangkan yang lainnya masih terpejam dan ia berkata: “engkau datang wahai ayahku?”
Maka katakan kepadanya: “Betul, aku datang wahai sayangku!”. Dan selimutilah dia
Dalam pemandangan ini, sang anak akan berada dalam kondisi setengah sadar antara tidur dan tidak, dan pemandangan tadi akan tetanam dalam pikirannya, dan saat ia terbangun pada esok harinya, ia akan teringat bahwa semalam ayahnya datang dan melakukan ini dan itu.
Dengan perbuatan seperti ini, menjadi dekatlah jarak antara orang tua dan anak, dan kita wajib dekat dengan anak dengan pisik dan hati kita.
Keenam: dekapan cinta
Janganlah kita pelit dengan dekapan terhadap anak. Sebab, keperluan anak kepada dekapan sama dengan keperluannya kepada makanan, minuman dan udara, setiap kali ada yang terkonsumsi, niscaya diperlukan yang lainnya.
Ketujuh: ciuman cinta
Rasulullah SAW mencium salah seorang cucunya; Hasan atau Husain. Perbuatan ini terlihat oleh al-Aqra’ bin Habis, maka ia berkata: “Apakah engkau mencium anak-anak kecil?!! Demi Allah, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka!! Maka Rasulullah SAW bersabda: “Kalau saja aku mempunyai kemampuan untuk mencabut kasih sayang dari dalam hatimu”
Wahai para orang tua, ciuman kepada anak merupakan satu ekspresi kasih sayang, betul, kasih sayang yang menjadi focus ajaran Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa ia merupakan rahasia ketertarikan manusia kepada suatu keyakinan, dan jika kasih sayang ini hilang dari perilaku kita terhadap anak-anak kita, berarti kita telah menjauhkan mereka dari kita, baik kita sebagai perseorangan maupun kita sebagai para da’i, da’i Islam. Firman Allah SWT yang artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS.Ali Imran: 159).
Kedelapan: Senyum cinta
Senyum yang kita pancarkan pada anak kita memiliki energi kuat dalam hatinya. Di dalamnya terkandung optomimisme, doa, bahkan sedekah. Penularan energy positif inilah sehingga seyum disamakan dengan sedekah.
Inilah sarana-sarana cinta, siapa yang menerapkannya, niscaya mendapatkan cinta dari mereka yang berinteraksi dengannya.
Sebagian orang tua saat dinasihati demikian berkomentar: “Kami tidak terbiasa”.
Subhanallah!! Adakah kebiasaan itu tidak bisa diirubahnya? Bukankah Qur’an yang turun dari langit yang dapat merubah kaum Jahiliyah tidak bisa merubah sikap kita? Seberapa imankah kita dengan al-Qur’an?
Sarana-sarana ini ibarat air, dengannya tanaman cinta akan tumbuh di dalam hati. Dan jika kita ingin dibaiki oleh anak kita, baikilah anak kita, dan sayangilah mereka.
Perlu diketahui bahwa cinta tidak sama dengan tutup mata atau membiarkan kesalahan. Cinta justru peduli terhadap kesalahan dan kebaikan anak. Mulailah mencinta maka kita akan dicinta.
Wallahu a’lam.#
Langganan:
Postingan (Atom)