“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nuur: 2)
Banyak orang yang sinis dengan hukum Islam yang tegas terhadap pelaku kriminial berat, seperti sangsi terhadap pelaku perzinahan, pembunuhan dan pencurian. Mereka –yang mayoritas kaum liberalisdan islamfhobis– selalu mengkritik syariat Islam yang kejam dan bengis. Salah satunya adalah hukum cambuk dan rajam bagi pelaku zina. Mereka tidak melihat syariat dan ajaran Islam yang utuh, lengkap dan sinergis.
Islam tidak begitu saja semena-mena menerapkan hukuman dan sangsi berat bagi pelaku Kriminal, melainkan Islam juga menawarkan perangkat-perangkat pencegahan perbuatan tersebut. Namun, jika perangkat-perangkat itu masih saja tidak diindahkan dan ajaran Islam dilanggar, maka Islam serius dalam menerapkan sangsi berat, demi tertatanya aturan sosial.
Islam telah menawarkan adab dan aturan untuk manusia, sehingga manusia akan terhindar dari perbuatan zina. Adab, aturan dan perangkat yang dapat mencegah dari perbuatan zina antara lain.
Pertama, manusia diperintahkan menutup aurat. Ajaran Islam telah menetapkan, bahwa aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut. Dan aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Jika saja manusia melaksanakan aturan ini dengan konsisten, maka kita yakin manusia akan terhindar dari perbuatan zina. Masalahnya adalah mengumbar aurat kini menjadi tontonan kita sehari-hari, baik lewat media maupun di seluruh tempat kerja, pasar, mall, jalan dan lain-lain. Bahkan membuka aurat menjadi salah satu kebanggaan suatu status sosial. Allah SWT berfirman: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Ahzab: 59)
Kedua, Islam telah mengajarkan adab memandang, yakni agar kita menundukkan pandangan. Perintah ini bukan hanya saat orang yang dipandang terbuka auratnya, namun bahkan kepada yang tertutup auratnya sekalipun (hanya muka dan telapak tangan yang terbuka). Apalagi jika auratnya terbuka, maka perintah menundukkan pandangan lebih luas lagi. Jika setiap kita menjalankan ajaran adab memandang ini, maka kecil kemungkinan terjadi perzinahan. Firman Allah swt: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nur: 30)
Juga firman Allah SWT: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, (QS. Aln-Nuur: 31)
Ketiga, Ajaran Islam mengajarkan kita akan adab memasuki rumah atau bertamu. Yakni tidak diperbolehkan memasuki rumah kecuali dengan memberi salam dan diberi izin masuk. Sebab boleh jadi, pemilik rumah sedang dalam keadaan tidak pantas terlihat, atau sedang istirahat dan tidak boleh diganggu. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat” (QS. An-Nuur: 27)
Keempat, bukan hanya itu, Islam pun mengajarkan kita akan adab memasuki kamar anggota rumah kita sendiri, yakni tidak memasuki kamar anggota rumah tangga di waktu-waktu tertentu. Karena waktu-waktu itu adalah waktu-waktu istirahat yang mungkin saja anggota keluarga sedang terbuka auratnya, atau sedang tidak pantas dipandang. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak/pembantu (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Nuur: 58).
Kelima, ajaran Islam mengajarkan kepada kita akan larangan berduaan berlainan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, karena pihak ketiganya adalah syaitan” (HR: Ibnu Majah)
Begitulah ajaran Islam yang sangat preventif akan terjadi perzinahan. Oleh karena itu, jika masih terjadi perzinahan maka berarti kita tidak pernah mengindahkan ajaran Islam yang sangat sopan itu. Wajar, jika sangsi berat diterapkan Allah bagi pelaku zina. Jadi, ajaran Islam jangan dilihat sangsinya saja, tapi harus dilihat secara utuh dan integral. Wallahu a’lam
(jamhuri)
Rabu, 23 Juni 2010
Selasa, 08 Juni 2010
Sifat-sifat Bani Israel Dalam Al-Qur’an
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar." (QS. Al-Isra: 4)
Peristiwa penembakan dan tindakan brutal Israel pada para relawan Gaza di atas kapal Mavi Maramara baru-baru ini memperjelas kebenaran firman Allah swt di atas, bahwa orang-orang Bani Israel selalu bersikap “menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”
Shadaqollahul Azhim, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Apa yang difirmankan Allah memang selalu benar. Hanya saja, kita yang kurang menyimak ayat-ayat Allah. Banyak informasi yang disampaikan Allah SWT tentang sifat dan sikap Bani Israil (keturunan Israil) atau bangsa yahudi dahulu yang masih rekevan dengan era sekarang.
Anehnya, justru orang Yahudi meyakini adanya kebenaran sifat mereka dalam al-Quran, sementara sebagian umat Islam malah mendukukng sikap Yahudi. Dalam sebuah usaha diplomasi perdamaian melalui jalur budaya dan agama, guru besar Universitas Al-Azhar Cairo, Syeikh Mutawalli Sya’rawi saat diutus Mesir sebagai delegasi perundingan menceritakan, bahwa syarat mutlak yang diajukan Israel untuk menciptakan perdamaian adalah agar ulama Islam menghapus ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan peneyebutan sifat dan sikap Bani Israiil yang terdapat dalam al-Quran. Tentu saja permintaan ini tidak akan pernah diterima umat Islam. Ini menunjukkan bahwa orang Yahudi sendiri sadar bahwa sikap dan sifat mereka yang terdapat dalam al-Quran diakui mereka sendiri.
Beberapa sifat kaum yahudi atau Bani Israil yang diceritakan al-Qur’an cukup banyak. Dalam tulisan ini hanya disebutkan sebagian kecilnya. Antara lain:
Pertama, sering melakukan kerusakan, arogan dan berlaku sombong, sebagaimana yang disebutkan pada ayat di atas (QS. Al-Isra: 4)
Kedua, melakukan pembunuhan. Jangankan hanya sekedar membunuh para relawan kemanuisaan dan bangsa Palestina, membunuh para Nabi yang mulia pun bagi mereka bukan suatu kesalahan. Firman Allah SWT: “Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas” (QS. Al-Baqarah: 61)
Ketiga, selalu menyalakan api peperangan. Sebelum kedatangan Muhajirin ke kota Madinah, yang saat itu bernama Yatsrib, kondisi di sana selalu kacau dan terjadi permusuhan antara suku Aus dan Khozroj. Kaum Yahudi-lah yang selalu mengadu domba mereka karena mempunyai kepentingan menjual senjata kepada mereka, selain ekonomi Madinah pun saat itu dapat dikuasai kaum Yahudi. Allah SWT berfirman: “Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Maidah: 64)
Keempat, orang Yahudi tidak berani melawan kaum muslimin jika sama-sama mengangkat senjata dengan seimbang. Mereka berani hanya dengan orang lemah dan bertempur di balik benteng kokoh serta tembok-tembok besar. Firman Allah SWT: “Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok” (QS. Al-Hasyr: 14)
Penyerangan kepada para relawan yang tidak membawa senjata adalah bukti kebenaran firman Allah, dan pembangunan tembok “rasial” yang dibangun Yahudi akhir-akhir ini juga semakin memperkuat kebenaran firman Allah SWT.
Kelima, Orang Yahudi membangun dan mengembangkan system ekonomi ribawi. Sehingga mereka dapat menguasai ekonomi dunia, dan dunia bertekuk lutut karena dililit hutang dan bunganya. Firman Allah SWT, “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih” (QS. An-Nisaa: 61)
Para ahli sejarah menganalisa, bahwa terjadinya perang dunia I dan II adalah akibat provokasi kaum Yahudi. Kemudian tatkala bangsa-bangsa dunia sibuk dengan peperangan, diam-diam mereka mengumpulkan dan menyimpan emas. Usia perang, banyak negera-negara dunia hancur lebur dan membutuhkan pembagunan kembali Negara mereka, sementara ekonomi mereka terpuruk. Jadilah Negara-Negara tersebut –terutama Negara berkembang- meminta pinjaman dana asing yang mayoritas telah dikuasai bangsa yahudi yang berada di Eropa dan Amerika. #
Wallahu a’alam
Peristiwa penembakan dan tindakan brutal Israel pada para relawan Gaza di atas kapal Mavi Maramara baru-baru ini memperjelas kebenaran firman Allah swt di atas, bahwa orang-orang Bani Israel selalu bersikap “menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”
Shadaqollahul Azhim, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Apa yang difirmankan Allah memang selalu benar. Hanya saja, kita yang kurang menyimak ayat-ayat Allah. Banyak informasi yang disampaikan Allah SWT tentang sifat dan sikap Bani Israil (keturunan Israil) atau bangsa yahudi dahulu yang masih rekevan dengan era sekarang.
Anehnya, justru orang Yahudi meyakini adanya kebenaran sifat mereka dalam al-Quran, sementara sebagian umat Islam malah mendukukng sikap Yahudi. Dalam sebuah usaha diplomasi perdamaian melalui jalur budaya dan agama, guru besar Universitas Al-Azhar Cairo, Syeikh Mutawalli Sya’rawi saat diutus Mesir sebagai delegasi perundingan menceritakan, bahwa syarat mutlak yang diajukan Israel untuk menciptakan perdamaian adalah agar ulama Islam menghapus ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan peneyebutan sifat dan sikap Bani Israiil yang terdapat dalam al-Quran. Tentu saja permintaan ini tidak akan pernah diterima umat Islam. Ini menunjukkan bahwa orang Yahudi sendiri sadar bahwa sikap dan sifat mereka yang terdapat dalam al-Quran diakui mereka sendiri.
Beberapa sifat kaum yahudi atau Bani Israil yang diceritakan al-Qur’an cukup banyak. Dalam tulisan ini hanya disebutkan sebagian kecilnya. Antara lain:
Pertama, sering melakukan kerusakan, arogan dan berlaku sombong, sebagaimana yang disebutkan pada ayat di atas (QS. Al-Isra: 4)
Kedua, melakukan pembunuhan. Jangankan hanya sekedar membunuh para relawan kemanuisaan dan bangsa Palestina, membunuh para Nabi yang mulia pun bagi mereka bukan suatu kesalahan. Firman Allah SWT: “Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas” (QS. Al-Baqarah: 61)
Ketiga, selalu menyalakan api peperangan. Sebelum kedatangan Muhajirin ke kota Madinah, yang saat itu bernama Yatsrib, kondisi di sana selalu kacau dan terjadi permusuhan antara suku Aus dan Khozroj. Kaum Yahudi-lah yang selalu mengadu domba mereka karena mempunyai kepentingan menjual senjata kepada mereka, selain ekonomi Madinah pun saat itu dapat dikuasai kaum Yahudi. Allah SWT berfirman: “Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Maidah: 64)
Keempat, orang Yahudi tidak berani melawan kaum muslimin jika sama-sama mengangkat senjata dengan seimbang. Mereka berani hanya dengan orang lemah dan bertempur di balik benteng kokoh serta tembok-tembok besar. Firman Allah SWT: “Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok” (QS. Al-Hasyr: 14)
Penyerangan kepada para relawan yang tidak membawa senjata adalah bukti kebenaran firman Allah, dan pembangunan tembok “rasial” yang dibangun Yahudi akhir-akhir ini juga semakin memperkuat kebenaran firman Allah SWT.
Kelima, Orang Yahudi membangun dan mengembangkan system ekonomi ribawi. Sehingga mereka dapat menguasai ekonomi dunia, dan dunia bertekuk lutut karena dililit hutang dan bunganya. Firman Allah SWT, “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih” (QS. An-Nisaa: 61)
Para ahli sejarah menganalisa, bahwa terjadinya perang dunia I dan II adalah akibat provokasi kaum Yahudi. Kemudian tatkala bangsa-bangsa dunia sibuk dengan peperangan, diam-diam mereka mengumpulkan dan menyimpan emas. Usia perang, banyak negera-negara dunia hancur lebur dan membutuhkan pembagunan kembali Negara mereka, sementara ekonomi mereka terpuruk. Jadilah Negara-Negara tersebut –terutama Negara berkembang- meminta pinjaman dana asing yang mayoritas telah dikuasai bangsa yahudi yang berada di Eropa dan Amerika. #
Wallahu a’alam
Senin, 24 Mei 2010
Islam Ramah Lingkungan
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS: Ar-Ruum: 42)
Merenungi ayat di atas. Sadarlah kita bahwa kerusakan alam yang terjadi akhir-akhir ini adalah akibat perbuatan tangan manusia. Fenomena keluarnya lumpur Lapindo di Sidioarjo adalah bukti akibat perbuatan tangan manusia. Ekploitasi kekayaan alam tanpa mengindahkan dampak negatif akan mengakibatkan bencana yang berkepanjangan. Sudah sekian desa dan kampung terendam lumpur berbahaya ini, bahkan kini, semburan lumpurnya mengalami peningkatan yang lebih besar lagi. Sungai-sungai yang menjadi tempat pembuangan lumpur pun sudah tidak bisa menampung lagi buangan lumpur ini. Jalan porong yang menghubungkan pusat-pusat ekonomi pun kini hamper ditutup.
Lain di Sidoarjo lain pula di daerah lain, peristiwa tanah longsor di berbagai daerah adalah akibat penebangan hutan yang tidak mengindahkan ekosistem alam.
Banyak ayat al-Quran yang telah mengingatkan manusia akan bahaya pengrusakan bumi. Selain ayat tersebut di atas, Allah pun berfirman: “Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (QS, Asy-Syu’ara: 150-152)
Sayangnya, manusia banyak yang tidak mengindahkan teguran al-Quran, bagaimana tidak? Jangankan menyimak al-Quran, memegang dan membaca saja tidak?.
Para ulama berkata, bahwa ayat terbagi menjadi dua, pertama ayat yang berbicara, yakni ayat qur’aniyah. Dan kedua adalah ayat yang berdiam yakni ayat kauniyah (alam). Kini manusia tidak membaca al-Qur’an sehingga kini yang berbicara menegur manusia adalah alam dalam bentuk bencana, agar manusia kembali kepada Allah SWT.
Kalau kita menyimak pada ajaran Islam, maka Islam telah mengajarkan keharmonisan hubungan antara manusia dan alam. Islampun memerintahkan kepada umatnya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan;
Dalam persfektik ilmu Ushuluddin, betapa alam dan manusia sama-sama mempunyai tugas tunduk dan bertasbih kepada sang Khaliq. Allah SWT berfirman: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra: 44)
Dalam persfektif ilmu Tasawuf (etika) pun, diajarkan hubungan yang baik antara alam dan manusia. Rasulullah saw saat melihat gunung Uhud berkata, “Uhud adalah gunung yang mencintai kita, dan kita pun mencintainya” (HR: Bukhori Muslim)
Demikian pula menurut ilmu fiqih, Hubungan ilmu fiqih dengan pemeliharaan lingkungan, pelestarian dan pelindungannya dari segala hal yang membahayakan dan merusak, adalah hubungan yang memilki rambu-rambu dan aturan yang jelas. Sebagaimana diketahui bahwa iimu fiqih adalah ilmu yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan keluarga dan masyarakatnya, dengan alam sekitarnya, sesuai dengan lima hukum syariat yang sudah jelas, yaitu: wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah .
Konsep Islam Dalam Pemeliharaan Alam
Selain semua disiplin ilmu yang mendukung akan adanya pemeliharaan terhdap alam dan lingkungan, kenyataannya, Islam sendiri mempunyai konsep yang jelas dalam pemeliharaan lingkungan. Antara lain:
Pertama, Perintah penanaman pohon dan penghijauan (Go-Green). Rasululullah saw bersabda, Tidaklah seorang muslm yang menanam tanaman atau menggarap ladang, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, atau manusia atau hewan, kecuali dia menjadi sedekah baginya” (HR: Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menanam pepohonan dan menjaganya dengan sabar, serta merawatnya hingga berbuah, maka segala sesuatu yang menimpa buahnya menjadi sedekah di sisi ALLah SWT. (HR: Ahmad).
Perintah menanam pohon pun bukan hanya dilakukan di waktu lapang, bahkan jika akan terjadi kiamat sekalipun, namun masih ada kesempatan menanam, maka Rasulullah saw memerintah menanam. Beliau saw bersabda, “Apabila hari kiamat telah dibangkitkan, dan pada salah seorang dari kamu memegang batang pohon korma, jika ia mampu untuk menanamnya maka lakukanlah.” (HR: Ahmad dan Bukhori )
Kedua, perintah pemeliharaan alam. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman." (QS. Al-A’raf: 85)
Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa perbuatan yang berorientasi hanya kepada ekonomi dan keuntungan namun menghalalkan berbagai cara, maka akan mendapat murka dari Allah karena Allah telah melarangnya dengan keras. Salah satunya adalah ekploitasi kekayaan alam tanpa menghiraukan dampak kerusakan.
Ketiga, perintah menghidupkan lahan mati. Sebagaiimana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa menghidupakan tanah yang sudah mati maka ia menjadi miliknya” (HR: Abu Daud dan Tirmidzi).
Dalam ayat al-Quran, Allah SWT menjelaskan bahwa menghidupkan tanah mati (tidak produktif) adalah merupakan tanda kebesaran Allah SWT. Firman-Nya: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.” (QS. Yasin: 33)
Dalam ayat ini Allah menggunakan dhamir (kata ganti) “Kami” dan bukan “Aku” untuk mengajak kesertaan manusia dalam menghidupkan lahan yang mati.
Menghidupkan tanah yang tidak produktif (sahara) itu bisa juga dengan cara membangun pemukiman, sehingga ada dua manfaat:
1. Menghidupkan padang pasir (gersang) dengan rumah-rumah dan tempat tinggal, sehingga berkembanglah kehidupan di dalamnya dari segala sisi
2. Kemudian ditanam di atasnya tetumbuhan sehingga menyempatkan manusia bercocok tanam
Keempat, perintah menjaga kebersihan lingkungan. Rasulullah saw bersabda, “Kebersihan itu sebagian dari iman”. Bukan hanya itu saja pentingnya kebersihan. Kotoran dan sampah yang membuat aliran sungai terhambat akan mengakibatkan bencana banjir dan menimbulkan wabah penyakit. Bahkan duri yang melintang di jalan akan mengakibatkan kecelakaan pecah ban atau terlukanya seseorang. Karena itu Rasulullah saw memerintahkan untuk menyingkirkan duri dan menjanjikan pahala besar bagi pelakunya. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan duri dari jalan kaum muslimin, akan ditulis baginya satu kebaikan. Dan Barangsiapa mendapat satu kebaikan, ia akan masuk surga” (HR: Ath-Tahbrani dalam al-Kabir )
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasanya ada seorang perempuan berkulit hitam yang rajin membersihkan masjid. Suatu ketika Rasulullah saw tidak melihat perempuan itu lagi. Sesudah beberapa hari, Rasulullah saw menanyakan keberadaannya. Kemudian dikatakan bahwa dia telah meninggal dunia, “kalau begitu, tunjukkan padaku kuburannya.” ujar Rasulullah saw. Lalu belia mendatangi kuburannya dan menyalatkannya disana. (HR: bukhori-Muslim).
Kelima, perintah menjaga sumber kekayaan alam. Allah SWT telah melukiskan bagaimana suatu bangsa yang telah diberi kekayaan alam, kemudian mereka melakukan kerusakan yang mengakibatkan terkikisnya kenikmatan kakayaan alam. Allah SWT berfirman,: “Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun." Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr, Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir” (QS: saba: 15-17) .
Selain itu, Rasulullah saw melarang menebang pohon dengan sembarangan, sebagaimana sabda beliau; “Barangsiapa menebang pepohonan maka Allah akan mencelupkannya ke dalam neraka” (HR: Abu Daud). ## (Jamhuri)
Merenungi ayat di atas. Sadarlah kita bahwa kerusakan alam yang terjadi akhir-akhir ini adalah akibat perbuatan tangan manusia. Fenomena keluarnya lumpur Lapindo di Sidioarjo adalah bukti akibat perbuatan tangan manusia. Ekploitasi kekayaan alam tanpa mengindahkan dampak negatif akan mengakibatkan bencana yang berkepanjangan. Sudah sekian desa dan kampung terendam lumpur berbahaya ini, bahkan kini, semburan lumpurnya mengalami peningkatan yang lebih besar lagi. Sungai-sungai yang menjadi tempat pembuangan lumpur pun sudah tidak bisa menampung lagi buangan lumpur ini. Jalan porong yang menghubungkan pusat-pusat ekonomi pun kini hamper ditutup.
Lain di Sidoarjo lain pula di daerah lain, peristiwa tanah longsor di berbagai daerah adalah akibat penebangan hutan yang tidak mengindahkan ekosistem alam.
Banyak ayat al-Quran yang telah mengingatkan manusia akan bahaya pengrusakan bumi. Selain ayat tersebut di atas, Allah pun berfirman: “Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (QS, Asy-Syu’ara: 150-152)
Sayangnya, manusia banyak yang tidak mengindahkan teguran al-Quran, bagaimana tidak? Jangankan menyimak al-Quran, memegang dan membaca saja tidak?.
Para ulama berkata, bahwa ayat terbagi menjadi dua, pertama ayat yang berbicara, yakni ayat qur’aniyah. Dan kedua adalah ayat yang berdiam yakni ayat kauniyah (alam). Kini manusia tidak membaca al-Qur’an sehingga kini yang berbicara menegur manusia adalah alam dalam bentuk bencana, agar manusia kembali kepada Allah SWT.
Kalau kita menyimak pada ajaran Islam, maka Islam telah mengajarkan keharmonisan hubungan antara manusia dan alam. Islampun memerintahkan kepada umatnya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan;
Dalam persfektik ilmu Ushuluddin, betapa alam dan manusia sama-sama mempunyai tugas tunduk dan bertasbih kepada sang Khaliq. Allah SWT berfirman: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra: 44)
Dalam persfektif ilmu Tasawuf (etika) pun, diajarkan hubungan yang baik antara alam dan manusia. Rasulullah saw saat melihat gunung Uhud berkata, “Uhud adalah gunung yang mencintai kita, dan kita pun mencintainya” (HR: Bukhori Muslim)
Demikian pula menurut ilmu fiqih, Hubungan ilmu fiqih dengan pemeliharaan lingkungan, pelestarian dan pelindungannya dari segala hal yang membahayakan dan merusak, adalah hubungan yang memilki rambu-rambu dan aturan yang jelas. Sebagaimana diketahui bahwa iimu fiqih adalah ilmu yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan keluarga dan masyarakatnya, dengan alam sekitarnya, sesuai dengan lima hukum syariat yang sudah jelas, yaitu: wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah .
Konsep Islam Dalam Pemeliharaan Alam
Selain semua disiplin ilmu yang mendukung akan adanya pemeliharaan terhdap alam dan lingkungan, kenyataannya, Islam sendiri mempunyai konsep yang jelas dalam pemeliharaan lingkungan. Antara lain:
Pertama, Perintah penanaman pohon dan penghijauan (Go-Green). Rasululullah saw bersabda, Tidaklah seorang muslm yang menanam tanaman atau menggarap ladang, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, atau manusia atau hewan, kecuali dia menjadi sedekah baginya” (HR: Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menanam pepohonan dan menjaganya dengan sabar, serta merawatnya hingga berbuah, maka segala sesuatu yang menimpa buahnya menjadi sedekah di sisi ALLah SWT. (HR: Ahmad).
Perintah menanam pohon pun bukan hanya dilakukan di waktu lapang, bahkan jika akan terjadi kiamat sekalipun, namun masih ada kesempatan menanam, maka Rasulullah saw memerintah menanam. Beliau saw bersabda, “Apabila hari kiamat telah dibangkitkan, dan pada salah seorang dari kamu memegang batang pohon korma, jika ia mampu untuk menanamnya maka lakukanlah.” (HR: Ahmad dan Bukhori )
Kedua, perintah pemeliharaan alam. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman." (QS. Al-A’raf: 85)
Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa perbuatan yang berorientasi hanya kepada ekonomi dan keuntungan namun menghalalkan berbagai cara, maka akan mendapat murka dari Allah karena Allah telah melarangnya dengan keras. Salah satunya adalah ekploitasi kekayaan alam tanpa menghiraukan dampak kerusakan.
Ketiga, perintah menghidupkan lahan mati. Sebagaiimana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa menghidupakan tanah yang sudah mati maka ia menjadi miliknya” (HR: Abu Daud dan Tirmidzi).
Dalam ayat al-Quran, Allah SWT menjelaskan bahwa menghidupkan tanah mati (tidak produktif) adalah merupakan tanda kebesaran Allah SWT. Firman-Nya: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.” (QS. Yasin: 33)
Dalam ayat ini Allah menggunakan dhamir (kata ganti) “Kami” dan bukan “Aku” untuk mengajak kesertaan manusia dalam menghidupkan lahan yang mati.
Menghidupkan tanah yang tidak produktif (sahara) itu bisa juga dengan cara membangun pemukiman, sehingga ada dua manfaat:
1. Menghidupkan padang pasir (gersang) dengan rumah-rumah dan tempat tinggal, sehingga berkembanglah kehidupan di dalamnya dari segala sisi
2. Kemudian ditanam di atasnya tetumbuhan sehingga menyempatkan manusia bercocok tanam
Keempat, perintah menjaga kebersihan lingkungan. Rasulullah saw bersabda, “Kebersihan itu sebagian dari iman”. Bukan hanya itu saja pentingnya kebersihan. Kotoran dan sampah yang membuat aliran sungai terhambat akan mengakibatkan bencana banjir dan menimbulkan wabah penyakit. Bahkan duri yang melintang di jalan akan mengakibatkan kecelakaan pecah ban atau terlukanya seseorang. Karena itu Rasulullah saw memerintahkan untuk menyingkirkan duri dan menjanjikan pahala besar bagi pelakunya. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan duri dari jalan kaum muslimin, akan ditulis baginya satu kebaikan. Dan Barangsiapa mendapat satu kebaikan, ia akan masuk surga” (HR: Ath-Tahbrani dalam al-Kabir )
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasanya ada seorang perempuan berkulit hitam yang rajin membersihkan masjid. Suatu ketika Rasulullah saw tidak melihat perempuan itu lagi. Sesudah beberapa hari, Rasulullah saw menanyakan keberadaannya. Kemudian dikatakan bahwa dia telah meninggal dunia, “kalau begitu, tunjukkan padaku kuburannya.” ujar Rasulullah saw. Lalu belia mendatangi kuburannya dan menyalatkannya disana. (HR: bukhori-Muslim).
Kelima, perintah menjaga sumber kekayaan alam. Allah SWT telah melukiskan bagaimana suatu bangsa yang telah diberi kekayaan alam, kemudian mereka melakukan kerusakan yang mengakibatkan terkikisnya kenikmatan kakayaan alam. Allah SWT berfirman,: “Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun." Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr, Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir” (QS: saba: 15-17) .
Selain itu, Rasulullah saw melarang menebang pohon dengan sembarangan, sebagaimana sabda beliau; “Barangsiapa menebang pepohonan maka Allah akan mencelupkannya ke dalam neraka” (HR: Abu Daud). ## (Jamhuri)
Langganan:
Postingan (Atom)