Kamis, 04 April 2019

Isra Mi’roj dan Pesan Pemenangan


Seri Taujih Pemenangan

Salah satu asbabun nuzul (sebab) turunnya surat al-Isra ayat 1 yang berisi peristawa Isra Mi’raj adalah jatuhnya mental Nabi saw dalam perjuangan melanjutkan dakwahnya. Pasalnya, dua tokoh yang selama ini membantu dan menopang dakwah mabi saw telah dipanggil Allah swt. Rasulullah saw merasa sedih, karena ditinggal wafat oleh pamannya bernama Abu Thalib yang menjadi pembela beliau dari usaha kaum Quraisy menyudutkan beliau. Belum usai dari rasa duka, di tahun yang sama, beliau pun ditinggal wafat oleh isteri tercintanya; Khadijah ra. Oleh karena itu, para sejarawan menyebut tahun ke delapan kenabian itu sebagai “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).

Sebagai manusia, wajar nabi saw merasakan kesedihan. Baik karena mereka adalah orang-orang yang sangat membantu dan menopang dakwah nabi, juga timbulnya rasa kekhawatiran akan nasib perjalanan dakwahnya. Sementara para pemgikutnya mayoritas adalah orang-orang miskin, para budak dan hanya sedikit dari kalangan tokoh Makkah. 

Di tengah kegalauan itu, Allah swt “menghibur” nabi saw dengan peristiwa Isra dan Mi’raj. Beliau diajak berjalan dan berkeliling oleh malaikat Jibril untuk melihat dan menyaksikan keMahabesaran Allah swt melalui tanda-tandaNya berupa penciptaan langit dan bumi serta planet-planetnya yang ada. Allah swt menceritakan :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنْ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Israa: 1)

Pada ayat ini, seakan Allah swt berpesan, Hai Muhammad, kamu jangan galau dan bersedih serta khawatir, meski dua orang tokoh yang selama ini menolong dan menopang dakwahmu telah tiada, tapi kamu itu tidak sendirian. Tetapi ada Allah yang memiliki segala kebesaranNya dan kekuasaanNya yang akan menolongmu. Bahkan Allah swt akan terus mendengar curhatmu dan mengabulkan segala permohonanmu. Bahkan Allah akan selalu melihat dan memperhatinkamu.

Saudara, ayat ini dan peritiwa yang melingkupinya penuh dengan hikmah dan pesan. Di antaranya:

  1. Dalam perjuangan, seorang tokoh meskipun sangat penting, tidak boleh kita menyandarkan sepenuhnya kepadanya. Karena dia atau mereka tidak akan selamanya ada dan hidup. Suatu saat tokoh itu akan tiada meninggalkan kita. Karena itu, kita tidak perlu khawatir dengan ketiadaan tokoh. Bersandarlah kepada Allah swt yang tidak pernah mati dan tidak pernah tidur, yang selalu mendengar keluhan dan melihat memperhatikan kita. 
  2. Allah swt tidak merasa kerepotan untuk mendengar keluhan dan permohonan kita meskipun Dia mengatur galaksi dan planet-planet yang lebih besar dari tubuh dan pikiran kita. Surat al-Mujadalah adalah bukti bahwa Allah swt mendengar keluhaan seorang wanita yang tinggal hidup di pinggiran Madinah bernama Haulah tentang peristiwa tentang dirinya dan suamiya. Hingga Allah swt menurunkan surat Al-Mujadalah untuk memberikan solusi (jalan keluar) dari permasalahan keluarga miskin itu dari persoalan dirinya dan suaminya. Jika masalah kecil keluarga pinggiran itu saja didengar dan diperhatikan Allah, apalagi jika kita mengadu padaNya tentang masalah perjuangan dakwah yang kita jalani. 
  3. Untuk mendapat pertolongan dari Allah, dekatkanlah diri padaNya, terutama di malam hari. Bangun malam hari dengan taqarrub padaNya akan menguatkan hati dan mental perjuangan kita. Oleh sebab itu kata “asraa” dalam ayat di atas meski sudah mengandungg arti “berjalan di malam hari”. Akan tetapi dikuatkan lagi dengan kata “Lailan” (di malam hari). Ini menunjukkan bahwa Nabi saw dapat menembus luar angkasa dan mendekat kepada Allah swt terjadi di malam hari. Banyak ayat yang menunjukkan bahwa kemuliaan itu di raih di malam hari.

Dan masih banyak lagi pesan penguatan pemenangan dalam mengemban tugas dakwah dalam peristiwa Isra Mi’raj ini. Semoga kita dapat mengambil hikmah peristiwa ini.

Waallahu a’lam bish showab

Rumpin, 4 April 2019

Muhammad Jamhuri

Rabu, 03 April 2019

Keseimbangan Antara Usaha Lahiriyah dan Usaha Batiniyah


Seri Taujih Kemenangan

Mengapa Nabi saw saat berhijrah harus sembunyi-sembunyi? Mengapa beliau repot-repot memulai keberangkatannya menuju Madinah melalui arah selatan sementara Madinah berada di utara Makkah? Mengapa harus bersembunyi dahulu selama tiga hari di Gua Tsur sebelum melanjutkan ke Madinah? Apakah Nabi saw takut kepada manusia? Apakah Nabi tidak yakin bahwa beliau akan dilindungi oleh Allah swt?. Tidak, semua langkah-langkah itu dilakukan untuk memberi pelajaran kepada umatnya bahwa umatnya tidak boleh meninggalkan usaha lahiriyah, sebagaimana tidak boleh juga meninggalkan usaha batiniyah.

Terkadang dalam mencapai suatu cita-cita kita hanya mengandalkan do’a tanpa usaha. Atau mengandalkan usaha dan kerja keras tanpa do’a. Sikap itu tentu saja tidak benar. Karena tidak ada keseimbangan. Sedangkan Allah swt meletakkan alam ini dengan segala keseimbangan. Dan melarang kita melewati neraca keseimbangan. Firman Allah swt:

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ . أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan). Hendaklah kamu jangan melampaui batas tentang neraca (keseimbangan) itu. (QS.al-Rahman 7-8)

Saat seorang sahabat datang ke majlis Rasulullah saw, Nabi saw bertanya padanya, “Di mana kau meletakan unta-mu?”. Sahabat itu menjawab, “Saya lepas di luar?”. Nabi saw bertanya, “Tidakkah kau ikat unta itu?” Sahabat itu menjawab, “Saya sudah tawakkal (berserah diri) pada Allah”. Nabi saw bersabda, “Ikatlah ia, kemudian barulah bertawakkal kepada Allah”. 

Pesan Nabi saw ini mengisyaratkan kepada kita, tidak cukup bertawakkal tanpa usaha lahiriyah berupa mengikat unta terlebih dahulu.

Ketika serombongan pasukan muslim berjalan akan melewati suatu daerah yang terkena wabah penyakit menular, Umar bin Khattab memerintahkan rombongan untuk melewati jalur lain, agar tidak tertular. Namun ada sebagian sahabat yang berkata dengan penuh keyakinan, “Bukankah kita akan ditentukan oleh takdir. Jika Allah mentakdirkan kita sakit maka sakitlah kita, dan jika tidak ditakdirkan sakit, kita pun akan sehat?”. Namun Umar bin Khattab berkata, “Kita menghindar dari satu takdir ke takdir lain”.

Saudara, dalam suatu perjuangan kita tidak cukup hanya usaha batiniyah. Shalat dan berdoa saja tanpa usaha lahiriyah. Sebagaimana tidak cukup dengan hanya mengandalkan usaha lahiriyah. Strategi dan logistik. Namun keduanya harus kita jalankan dengan keseimbangan.
Ada lima kondisi terkait hubungan antara usaha lahiriyah dan usaha batiniyah:


  1. Jika kita hanya mengambil usaha lahiriyah tanpa usaha batiniyah, maka kita dapati kebahagiaan secara lahiriyah, namun sengsara secara batiniyah 
  2. Jika kita hanya mengambil usaha batiniyah tanpa usaha lahiriyah, maka kita dapati kebahagiaan secara batiniyah, namun sengsara secara lahiriyah. 
  3. Jika kita meninggalkan keduanya, maka akan sengsara secara lahiriyah dan batiniyah. 
  4. Jika kita mengambil keduanya, maka akan bahagia secara lahiriyah dan batiniyah 
  5. Terkadang usaha lahiriyah dikalahkan oleh usaha batiniyah. Terutama di kondisi-kondisi emergency. Sebagaimana diselamatkannya Nabi saw dari usaha pencarian dan pembunuhan saat bersembunyi di Gua Tsur pada peristiwa hijrah. Padahal kaum Quraisy hanya terhalang oleh sarang laba-laba yang rapuh itu untuk mendapatkan dan membunuh Nabi saw dan sahabatnya Abu Bakar Ash-Shddiq di dalam gua tersebut.

Intinya, kita tidak boleh meninggalkan salah satu dari usaha lahiriyah dan usaha batiniyah. Karena dengan usaha lahiriyah dan batiniyah yang maksimal, Allah akan membantu kita di luar jangkauan hukum alam. Terutama di saat dalam kondisi emergency. Allah akan turun membantu kita. Bukankah secara hukum alam, kobaran api seharusnya membakar tubuh Nabi Ibrahim as?. Bukankah laut tidak dapat terbelah saat Musa as dan kaumnya tidak mendapat tempat berlindung dari kejaran Fir’aun? Bukankah rumah laba-laba yang sangat rapuh itu tidak dapat melindungi apalagi membentengi Nabi Muhammad saw dari jangkauan kaum Quraisy?. Apa rahasianya sehingga hukum alam tunduk kepada kemaslahatan manusia? Rahasianya adalah karena mereka para pejuang mengambil dua usaha secara berimbang: usaha lahiriyah dan usaha batiniyah. Jika keduanya dilaksanakan dengan maksimal, maka tangan Allah swt akan ikut membantu dan bergerak menolong kita.

Wallahu a’lam bis showab

Rumpin, 3 April 2019

Muhammad Jamhuri.


Selasa, 02 April 2019

Maksiat Dalam Perjuangan

Seri Taujih Pemenangan
Umar bin Khattab ra pernah mengirim surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, paglima pasukannya.: Isinya, “Amma ba’du: Kuperintahkan dirimu dan pasukanmu untuk bertakwa kepada Allah dalam setiap kondisi. Takwa kepada Allah adalah persiapan terbaik untuk menghadapi musuh dan strategi paling jitu di medan perang. Kuperintahkan dirimu dan pasukanmu untuk lebih berusaha menjauhi maksiat dibanding musuh. Sebab dosa yang dilakukan pasukan kita itu lebih mengkhawatirkan daripada kekuatan musuh. Umat Islam diberi kemenangan lewat maksiat yang dilakukan musuh. Kalau bukan karena itu, kita tidak mempunyai kekuatan melawan mereka. Pasalnya, jumlah kita kalah dengan jumlah mereka. Perlengkapan kita juga kalah dengan perlengkapan mereka. Bila kita sama-sama bermaksiat, maka mereka lebih unggul dalam hal kekuatan daripada kita”

Isi surat Umar bin Khattab itu memberi pesan kepada paglima dan pasukannya beberapa hal:
  1. Kemenangan dalam perjuangan tidak bergantung kepada banyaknya pasukan dan fasilitas, akan tetapi sebesar apa rasa takut pasukan kepada Allah swt dari berbuat maksiat 
  2. Kemaksiatan yang dilakukan pasukan lebih sanagat dikhawatirkan dari pada sedikitnya jumlah pasukan, dana dan fasilitas yang dimiliki. 
  3. Kekalahan lebih banyak diakibatkan karena ketidaktaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Bukan semata kehebatan strategi semata. (belajar dari perang Uhud)_

Kemaksiatan terjadi bukan hanya kita tidak meksanakan shalat atau ibadah lain yang berhubungan dengan Allah swt. Akan tetapi kemaksiatan juga dapat terjadi karena kesalahan yang dilakukan sesama manusia. Rasulullah saw hampir saja malam itu akan diberitahu Malaikat bahwa malam itu akan turun lailatul qodar dan beliau akan memberitahukan kabar baik ini kepada para sahabat. Akan tetapi pemberitahuan itu ditunda hanya karena ada dua sahabat yang masih berselisih hati di antara mereka. Dapat dibayangkan, hanya karena berselisih hati saja, dapat menunda turunnya keutamaan malam kemuliaan itu.

Berselisih dan menyelisih jika sampai tanazu” (saling bertikai/ribut) maka akan memperlemah kekuatan dan wibawa di hadapan musuh-musuh. Sebagaimana penjelasan Allah swt;

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal: 46)

Saudara, ayat ini, diakhiri dengan kata sabar, bahwa Allah akan bersama dan berpihak kepada orang-orang yang sabar. Bahwa perbedaan pendapat dan berselisih pandangan adalah sesuatu yang wajar. Asal saja perselisihan dan perbedaan pandangan itu jangan sampai terjadi pertikaian dan berbantah-bantahan. Oleh sebab itu, sikap bersabar dengan menahan dari komentar atau tindakan yang akan menimbulkan pertikaian di dalam barisan pejuang adalah sangat disukai oleh Allah. Dan Allah akan bersama dan berpihak kepada orang-orang sedemikian sabar.

Jadi, jika kita ingin menang, hendaklah selalu menjauhi perbuatan maksiat. Baik maksiat kepada Allah dan rasulNya, maupun maksiat kepada sesama manusia yang akan mendatangkan perselisihan dan kelemahan. Semoga Allah swt melindungi kita semua dari maksiat-masksiat tersebut. Aamiin.

Wallahu’alam
Rumpin, 2 April 2019
Muhammad Jamhuri