Jumat, 12 September 2008

Ramadhan dan Pemanfaatan Waktu

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, yakni beberapa hari yang telah ditentukan”. (Al-Baqarah: 183-184)

Ibadah, dalam Islam, telah ditentukan waktu-waktunya. Ditentukannya waktu-waktu ini mengajarkan kepada kita agar memiliki sifat disiplin dalam hidup. Bekerja dan beribadah sesuai dengan waktunya. Sehingga target-target kerja dapat terealisir sesuai waktunya.
Dalam shalat, kita diperintahkan untuk memperhatikan waktu-waktunya. Perputaran matahari dari pagi hingga malam menjadi perhatian kita dalam melaksanakan ibadah shalat.
Dalam zakat, kita juga diperintahkan memperhatikan waktu dan nishab harta yang kita miliki. Haul adalah ukuran waktu setahun harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Demikian juga zakat fitrah; kewajiban mengeluarkannya dimulai sejak malam idul Fitri hingga sebelum selesainya sholat id. Sebagian ulama memperbolehkan mempercepat pembayaran zakat fitrah sebelum malam id untuk mempermudah pendistribusian kepada mustahiq dengan tepat.
Dalam ibadah puasa, Allah telah menentukan waktu berpuasa, yakni selama sebulan Ramadhan penuh. Kecuali bagi mereka yang udzur atau karena sakit dan bepergian. Maka boleh ditunda (qodho) pada hari-hari lain sebanyak hari yang ditinggalkannya.
Dalam ibadah haji, Allah pun menentukan bulan-bulan tertentu sebagai waktu musim haji, yakni pada bulan Syawal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah. Tidak boleh seseorang melaksanakannnya di bulan Muharram misalnya. Selain itu tempat untuk melaksanakan ibadah haji juga telah ditentukan; yakni di Tanah Suci Makkah al-Mukarramah dan padang Arafah. Tidak boleh melaksanakan ibadah haji di tempat lain seperti Lahore, Qodhiyan, Jakarta atau kota lainnya.
Penentuan waktu-waktu dalam ibadah ini disebabkan karena hidup manusia juga terikat dengan waktu. Waktu adalah hidup. Sebagaimana firman Allah SWT, “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah ia adalah waktu-waktu yang disediakan bagi manusia dan ibadah haji”.
Manusia diibaratkan seperti bulan. Pada saat awal bulan, bulan tampak kecil. Kemudian ia membesar pada saat purnama. Dan akhirnya lama kelamaan bulan pun mengecil kembali hingga tidak tampak lagi. Demikian juga manusia. Dahulu kita belum terlahir di dunia, lalu lahir dalam keadaan bayi yang kecil dan lemah. Lalu besar menjadi dewasa dengan segala kekuatannya, setelah itu kita akan memasuki usia tua dengan melemahnya segala tenaga, gigi, rambut serta anggota tubuh lainnya. Dan pada saat ajal tiba, kita pun tidak berada lagi di dunia. Selesailah peran kita di dunia. Tinggal menunggu keputusan Allah, apakah kita akan disiksa atau dimasukkan dalam surga.
Umat Nabi Muhammad seperti kita ini adalah umat yang diberi jatah usia lebih pendek dibanding jatah usia yang diberikan kepada umat Nabi-nabi sebelumnya. Nabi Nuh AS saja berusia 900 tahunan, demikian juga nabi-nabi lainnya. Sedangkan Nabi Muhammad meninggal dunia dalam usia 63 tahun.
Namun berkat rahmat dan karunia Allah kepada Nabi Muhammad saw dan umatnya, Allah menyediakan pahala ibadah berlipat ganda jika dilakukan pada waktu, tempat dan kondisi tertentu. Seperti halnya ibadah puasa dan i’tikaf. Dalam bulan Ramadhan Allah memberi ganjaran setingkat pahala wajib atas amalan sunnah. Allah juga melipat gandakan pahala atas amalan wajib.
Dalam malam Lailatul Qodar, Allah memberi pahala bagi orang yang beribadah pada malam itu senilai ibadah selama 1000 bulan (kurang lebih 83 tahun). Sebagaimana firman Allah SWT, “Lailatul Qodar itu lebih baik dari (ibadah) seribu bulan” (QS; Al-Qodar:3).
Untuk tempat, Allah telah memberi 100.000 kali lipat pahala bagi orang sholat di Masjidil Haram, 10.000 kali lipat di Masjid Nabawi dan 1000 kali lipat di Masjidil aqsha, dibanding sholat di masjid-masjid lain.
Untuk kondisi, Allah akan memberi pahala 27 kali lipat bagi mereka yang melaksanakan sholat dalam kondisi berjamaah, dibanding sholat sendirian (infirodi).
Oleh karena itu, alangkah meruginya kita bila tidak memanfaatkan dengan sebaik-baiknya kesempatan waktu, tempat dan kondisi yang Allah lipatgandakan pahalanya itu.
Mungkin tidak semua dari kita mempunyai kesempatan untuk pergi ke Makkah, Madinah dan Masjidil Aqsha. Namun ada waktu-waktu tertentu yang Allah berikan untuk mendapat ibadah yang pahalanya berlipat ganda. Salah satunya adalah ibadah di bulan Ramadhan. Demikian juga qiyamullail pada malam Lailatul Qodar yang biasanya ada di sepuluh terakhir bulan Ramadhan.
Demikian juga sholat berjamaah yang pahalanya 27 kali lipat dibanding dengan pahala sholat sendirian. Kesempatan-kesempatan itu Allah berikan kepada kita yang memang jatah usia kita tidak sepanjang umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw.
Oleh karena itu, kesempatan Ramadhan kali ini tidak boleh kita sia-siakan. Karena boleh jadi Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita. Boleh jadi kita tidak akan bertemu Ramadhan tahun depan. Sementara ‘tabungan’ pahala kita baru sedikit dibanding dosa yang kita lakukan di dunia. Lalu, apa yang kita siapkan saat kita dibangkitkan dalam kubur nanti untuk menjawab segala pertanyaan malaikat yang Allah utus? Jawaban apa yang kita siapkan untuk menjawab pengadilan Allah di hari kiamat nanti? Bekal pahala apa yang kita siapkan saat menghadap Allah?
Allah telah memberi jamuanNya kepada kita di Ramadhan yang mulia ini. Sambutlah jamuanNya dengan suka cita dengan meningkatkan amal ibadah. ###

Rabu, 03 September 2008

Tak Ada AlasanTak Berpuasa

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tidak sedikit di antara umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Padahal pahalanya begitu besar yang Allah sediakan buat kaum muslimin yang berpuasa. Datangnya bulan Ramadhan seakan tidak membawa nuansa tertentu pada dirinya. Bahkan datangnya bulan Ramadhan - untuk sebagian orang - dianggap sebagai moment yang mempersempit hidupnya, karena tidak bisa makan dan minum secara terbuka, atau bahkan membuat diri merasa lemas sehingga mengganggu aktivitas sehari-harinya.
Oleh karena itu, dalam ayat di atas, Allah hanya memanggil orang-orang yang beriman, yang meyakini bahwa ia akan mengalami pertemuan dengan Allah. Mereka-lah yang Allah wajibkan untuk berpuasa. Hanya orang yang beriman kepada Allah lah yang sanggup melaksanakan ibadah puasa. Makna iman disini tentu saja bukan sekedar percaya, tapi lebih dari itu adalah suatu ketaatan totalitas kepada sang Khaliq.
Oleh karena itu, ibadah puasa Ramadhan berpatokan pada penanggalan bulan (qomariyah), yang terkadang puasa jatuh pada bulan Desember (musim dingin), dan terkadang jatuh pada bulan Juli (musim panas). Hal itu memberikan pesan kepada kita semua bahwa umat Islam dalam kondisi apapun harus siap taat memenuhi seruan Allah SWT, baik musim dingin atau musim panas. Untuk kita yang tinggal di Indonesia dengan cuaca tropis namum lembab, mungkin panas dan dinginnya masih dalam kondisi sedang dan wajar. Namun, di beberapa belahan negara lain, musim panas suhunya bisa mencapai 50 derajat celcius, dan musim dingin bisa mencapai dibawah nol derajat celcius.
Oleh karena itu, jika kita kaum muslimin di Indonesia tidak mau berpuasa di bulan Ramadhan hanya karena alasan musim dingin yang membuat tubuh cepat lapar, atau karena alasan musim panas yang menyebabkan tubuh kekurangan air dan cepat merasa haus, maka alasan itu adalah alasan yang tidak logis. Kenyataannya, kaum muslimin di Timur Tengah dengan kondisi tanahnya yang tandus dan dengan terik matahari yang sangat tinggi, mereka tetap berpuasa. Demikian juga kaum muslimin yang tinggal di Negara-Negara Eropa dan Amerika yang mengalami suhu dingin, toh mereka masih melaksanakan ibadah puasa hingga selesai.
Mungkin sebagian mereka yang enggan melaksanakan ibadah puasa mempunyai banyak alasan untuk tidak berpuasa. Namun Allah SWT telah menepis alasan-alasan tertentu selain alasan sakit dan perjalanan (safar) serta uzur. Sebab –menurut firman Allah– kewajiban puasa bukan hanya dikenakan kepada umat Nabi Muhammad saw saja seperti kita, namun kewajiban puasa itu juga dikenanakan dan diberlakukan kepada umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad saw “Kamaa Kutiba ‘alalladzina min qoblikum” (Sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu). Padahal umat-umat terdahulu berusia panjang-panjang, ada yang usianya bahkan mencapai 900 tahun dan 1000 tahun. Jika masa akil baligh mereka jatuh pada usia 17 tahun saja, maka mereka mengalami puasa spanjang hidupnya selama 983 tahun. Bukankah mereka lebih lama dan lebih lelah menjalani ibadah puasa dibanding dengan kita? Sedangkan salah satu kelebihan dan keutamaan yang diberikan umat Nabi Muhammad adalah dilipatgandakannya pahala ibadah meskipun diberi jatah usia tidak panjang (sekitar 60 hingga 90 tahun).
Coba kita tanyakan kepada kakek atau orang tua kita yang sudah berusia lanjut. Tanyakan tentang perasaan kondisi waktu yang dilewati antara zaman dahulu dengan zaman sekarang. Salah seorang ibu yang berusia 80 tahun pernah bercerita, “Waktu-waktu yang kami jalani di zaman sekarang ini berlalu begitu cepat, berbeda dengan waktu yang kami jalani saat kami muda. Dahulu saat kami muda, setelah bangun tidur, lalu shalat subuh, memasak makanan, mempersiapkan sarapan, memandikan anak, membersihkan rumah dan berbenah, mencuci pakaian, lalu sarapan. Ternyata hal itu semua dilakukan tidak sampai melewati jam 07.00 pagi. Sekarang, zaman sekarang ini, jika kami melakukan hal yang sama, lalu setelah selesai mengerjakan pekerjaan tersebut, maka jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi”.
Cerita ibu tua itu menggambarkan bahwa hari-hari yang dilewatinya di zaman terasa begitu cepat berjalan, terlalu cepat berlalu. Sementara hari-hari yang dilewatinya zaman dahulu begitu lambat berjalan. Fenomena ini menunjukkan bahwa puasa yang kita alamai di zaman sekarang ini sebenarnya tidak begitu terasa kita lewati dilihat dari segi waktu. Sedangkan orang-orang dahulu, waktu-waktu puasa menuju berbuka puasa berjalan begitu lamban dan terasa lama.
Dengan demikian jika ada orang muslim sekarang yang enggan melaksanakan ibadah puasa karena alasan merasa berat, sebenarnya alasan itu tidak logis. Sebab jika kita melaksanakan puasa dengan kondisi waktu yang berjalan terasa cepat seperti di zaman sekarang ini, maka masa puasa pun akan terasa cepat berlalu.
Oleh karena itu, sebenarnya, bukan karana lemas atau tidak mampu yang menjadi alasan orang tidak berpuasa, tapi karena keimanannya yang masih harus diperbaiki. Karena kurang keyakinan terhadap kekuatan yang Allah berikan kepada kita jika beribadah serius kepadaNya. Oleh karena itu, yang dipanggil untuk berpuasa dalam ayat di atas adalah orang-orang beriman (Yaa ayyuhal ldazina Aamanuu) “HAi orang-orang yang beriman”. Kemudian diajaknya orang beriman untuk berpuasa agar mereka menjadi orang bertaqwa (la’allakum tattaqun). Disini berarti derajat taqwa lebih tinggi dari iman. Dan untuk meraih taqwa adalah dengan puasa yang dilakukan orang beriman.
Jika derajat taqwa dapat diraih dengan puasa, lalu puasa hanya bisa dilakukan orang beriman. Bagaimana hal nya dengan orang yang tidak mau berpuasa? Bukankah puasa hanya bisa dilakukan orang beriman?Jangankan derajat taqwa, derajat iman hakiki saja masih belum.
Karena itu marilah berpuasa, karena dengan puasa menunjukkan bahwa kita beriman. Lalu kita tingkatkan ke derajat taqwa dengan ibadah puasa.##

Selasa, 02 September 2008

Mari Sambut Ramadhan

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah: 183)

Ramadhan telah diambang pintu, ada baiknya kita mempersiapkan diri dari sekarang, .
Ada beberapa hal yang harus kita persiapkan agar kita mampu untuk mengisi bulan yang penuh berkah ini dengan kegiatan yang dapat menambah bobot umur kita ketika kita menghadap Allah SWT.? Kenapa kita melakukan persiapan ini ?
Setiap Waktu-waktu yang kita lewati masing-masing mempunyai kelebihan dan keutamaan yang berbeda, maka kita harus bisa memperlakukannya secara proposional dan cerdas. Termasuk dalam menyiapkan kedatangan bulan suci Ramadan yang banyak mempunyai keutamaan.
Karena Ramadan adalah bulan diwajibkannya puasa, dianjurkan memperbanyak amalan sunnah, dianjurkannya memperbanyak memberikan santunan, serta memperbanyak membaca Al-Quran. Disamping itu bulan Ramadhan adalah bulan pengendalian diri dari syahwat perut, dari hawa nafsu serta pengendalian anggota tubuh dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa.
Secara pribadi kita harus mempersiapkan kedatangan bulan ini secara optimal, karena persiapan ini akan mempengaruhi baik tidaknya kita mengisi amaliah ramadhan. Diantara persiapan pribadi yang harus kita lakukan adalah sbb:
Persiapan Secara Ruhi
Ini adalah persiapan yang paling utama karena kekuatan ruh inilah yang akan menjadi motor penggerak segala bentuk ibadah kita sebelum, ketika dan pasca Ramadhan. Maka itu apabila kita membaca sirah Rasululllah SAW, betapa persiapan beliau dari sisi ini sangat luar biasa, yaitu dengan melaksanakan puasa sya'ban. Hal tersebut beliau lakukan dalam rangka mempersiapkan dan menyongsong kedatangan bulan Ramadhan. Disamping itu kita dianjurkan untuk banyak istighfar dan memohon serta memberi maaf agar kedatangan bulan suci kita sambut dengan hati bersih dari segala bentuk dosa dan perselisihan, rasa dengki dan penyakit-penyakit hati yang lainnya.
Dan hal lain yang harus dilakukan dalam persiapan ruhi adalah banyak berdoa kepada Allah agar Dia menyampaikan kita kepada bulan Ramadhan. Ma'la ibn Fadl berkata "Para salafus shaleh berdoa selama 6 bulan agar mereka disampaikan hingga bulan ramadhan dan kemudian berdoa(pasca Ramadhan-pent) selama 6 bulan agar ibadah mereka diterima".
Yahya Ibn Katsir berkata "Diantara doa yang dibaca oleh para salaf adalah Ya Allah selamatkan aku hingga bulan ramadhan dan karuniakan aku ramadhan dan terimalah ibadah-ibadahku pada bulan ramadhan"
Persiapan Secara Fikri
Ramadhan adalah bulan didalamnya diwajibkan bagi kita untuk beribadah puasa yang mana dalam setiap ibadah kita harus mengerti ilmunya agar ibadah yang kita lakukan dapat sesuai dengan aturan yang telah ditentukan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasul-Nya. Maka persiapan ini pun tidak kalah pentingnya, untuk itu kita harus kembali membaca dan menelaah buku-buku yang berbicara tentang puasa agar kita dapat mengetahui syarat dan rukun puasa serta hal-hal yang dapat membatalkan serta menghilang nilai puasa.Disamping itu dengan cara mengirim ucapan "Tahniah"(Selamat) kepada saudara atau teman dalam rangka memberikan image dan kabar gembira dengan akan datangnya bulan yang mulia ini.
Hal tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabd "Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah yang telah didalamnya diwajibkan bagi kalian berpuasa, disitu Allah membuka pintu-pintu syurga dan menutup pintu-pintu neraka serta para syaitan diikat, didalamnya ada sebuah malam yan lebih mulia dari seribu malam barang siapa yang diharam/dihalangi untuk mendapatkan kebaikan malam itu sesungguhnya ia telah diharamkan dari segala kebaikan" (HR.Nasai dan Baihaqi ).
Imam Ibnu Rajab Al-Hambali ketika mengomentari hadits ini berkata " Hadits ini merupakan landasan agar kaum muslimin saling memberikan selamat dengan datangnya bulan Ramadhan".
Persiapan Secara Jasadi
Badan kita adalah salah satu komponen yang penting yang juga harus kita persiapkan dalam menyongsong bulan ramadhan, karena tanpa badan yang sehat kita tidak akan mampu melaksanakan kegiatan termasuk dalam masalah ibadah puasa, dalam hal ini Rasul SAW bersabda "Seorang mu'min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai dari mu'min dhaif dan didalam kedua ada kebaikan". Dari hadits ini rasul mendorong kita untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh karena ini sangat dicintai oelh Allah, sebab ini merupakan salah satu modal penting dalam melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-NYA. Maka cara yang paling tepat adalah dengan cara mengadakan latihan puasa sunnah menjelang datangnya bulan ramadhan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasul SAW.
Persiapan Secara Materi
Dari Abi Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda "Rasulullah SAW bersumpah tidak ada bulan yang paling baik bagi orang beriman kecuali bulan Ramadhan, dan tidak ada bulan yang paling buruk bagi orang munafik kecuali bulan Ramadhan, dikarenakan pada bulan itu orang beriman telah menyiapkan diri untuk berkonsentrasi dalam beribadah dan sebaliknya orang munafik sudah bersiap diri untuk menggoda dan melalaikan orang beriman dari beribadah" (HR.Imam Ahmad). Sabda Rasul SAW yang berbunyi " dikarenakan orang beriman telah menyiapkan diri untk berkonsentrasi dalam beribadah" diterangkan oleh para ulama sebagai berikut "Hal itu dikarenakan orang beriman telah menyiapkan diri dari sisi materi untuk memberikan nafkah kepada keluarganya karena mereka ingin konsentrasi beribadah, sebab memperbanyak Qiyam lail menyebakan mereka harus banyak tidur diwaktu siang dan memperbanyak I'tikaf menyebabkan mereka tidak bisa untuk beraktifitas diluar masjid, hal ini semua menyebabkan mereka tidak bisa untuk melakukan aktifitas mencari ma'isyah, maka itu mereka mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum datang bulan Ramadhan agar mereka dapat konsern dalam beribadah serta mendapatkan keutamaan bulan yang mulia ini". ##