Selasa, 09 Juni 2009
Kriteria Pemimpin Ideal
Tidak syak lagi, pemimpin ideal yang pernah ada di atas permukaan bumi adalah: Rasulullah saw. Dialah pemimpin abadi bagi umatnya dan umat manusia umumnya. Tidak ada nama pemimpin besar yang namanya disebut hingga kini sebanyak nama Muhammad saw. Dalam adzan nama beliau disebut, dalam bacaan shalat pun disebut. Demikian juga dalam segala kesempatan acara tertentu, ia disebut namanya. Apalagi dalam buku-buku sejarah, nama beliau tertulis dengan tinta emas dengan keharuman semerbak bagi yang membacanya. Beliaulah Muhammad saw pemimpin abadi karena memiimpin umat dengan hati dan sepenuh hati.
Ada empat kriteria sehingga beliau menjadi pemimpin ideal hingga saat ini:
Shiddiq, artinya benar. Kata dan ucapan yang keluar dari mulut beliau selalu benar dan tak ada kata dusta. Beliau disegani oleh sahabat, umat, kawan, bahkan lawan karena ucapannya sesuai dengan laku perbuatannya. Apa yang diinformasikannya tidak ada sedikitpun kandungan dusta. Beliau tidak pernah memerintah suatu perintah kecuai beliau memulai sendiri melaksanakan perintah itu. Dan tidak pernah melarang akan sesuatu kecuali beliau memulainya pada dirinya sendiri untuk menjauh dari larangan tersebut. Inilah rahasia mengapa kata-kata beliau menjadi “bermutu” di dengar oleh siapapun. Itulah yang menyebabkan keluar kata “sami’na wa atho’na” (kami dengar dan kami taat) dari mulut sahabat bila beliau memeintah atau melarang mereka. Tidak ada reserve, tidak ada protes apalagi demontrasi atas ketidakpercayaan kepemimpinan beliau. Beliau saw pernah bersabda, “Andaikata Fatimah puteri Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Kebenaran kata dan perbuatan inilah yang menyebabkan supremasi hukum berjalan, sehingga hukum berwibawa di hadapan rakyatnya. Hukum tidak hanya berlaku bagi rakyat jelata, namun juga ditegakkan kepada para elite dan pemimpinnya.
Amanah. Artinya adalah jujur. Sejak sebelum menjadi rasul-pun, Muhammad saw remaja telah mendapat gelar al-Amin (yang dipercaya). Sifat amanah telah menjadi darah daging beliau dalam kehidupan sehari—hari, tidak pura-pura dan tidak dibuat-buat. Rasa amanah inilah yang menyebabkan tercipta kemakmuran di kota Madinah. Tidak jarang Rasulullah melakukan operasi pasar untuk melihat tingkat kejujuran para pelaku ekonomi. Suatu saat Rasulullah mencelupkan tangan di atas onggokan gandum dan ditemuinya gandum yang bagian bawahnya basah, sementaa si penjual gandum menghargainya dengan harga gandum kering yang bagus. Maka Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang menipu kami maka bukan termasuk golongan kami”.
Kejujuran Rasulullah saw tidak hanya ditunjukkan kepada sesama kaum muslimin saja, bahkan beliaupun tetap berbuat jujur kepada kaum kafir. Pada saat beliau akan berhijrah ke Madinah, beliau kembalikan dahulu semua amanah dan titipan orang-orang Quraisy kepada pemiliknya masing-masing, padahal para pemilik barang yang dititipkan kepada Rasulullah saw adalah dari golongan non muslim. Padahal jika mau, bisa saja beliau membawa kabur barang-barang itu ke Madinah, apalagi pada saat itu beliau perlu bekal yang tidak sedikit. Akan tetapi beliau tetap mengembalikan semua titipan itu kepada sang pemiliknya.
Tabligh, artinya menyampaikan. Atau dalam bahasa modernnya adalah transparan (keterbukaan, menyampaikan apa adanya), akuntabel dan bertanggungjawab. Tidak ada satu ayat pun yang beliau korupsi atau sembunyikan. Semuanya disampaikan apa adanya oleh beliau kepada para sahabat. Meskipun ayat tersebut berisi oto-kritik kepada beliau, namun beliau tetap menyampaikan kepada umatnya dengan terbuka, transparan dan semangat tabligh (menyampaikan). Adalah surat “Abasa” berisi kritik keras kepada Rasulullah akan sikapnya saat menerima orang buta miskin yang ingin bergabung dengan Rasulullah. Namun, mesti isinya menyinggung dan mengkritik diri beliau, beliau tetap menyampaikan isi surat ‘abasa itu kepada umatnya. Sikap transparan akuntable dan responsblity inilah yang membuat beliau sukses dalam kepemimpinannya. Hingga hari-hari menjelang wafat beliau pun, beliau masih menanyakan kepada para sahabatnya, “Adakah diantara kalian yang pernah aku zhalimi?” Bahkan dalam khutbah Wada’ di padang Arafah yang terkenal itu bertanya meyakinkan para sahabatnya, “Hal Ballaghtu?” (Sudahkah semua telah aku sampaikan?). Para sahabat menjawab. “Balaa ya Rasulullah” (benar, engkau telah menyampaikan, wahai Rasulullah).
Fathonah, artinya cerdas, smart dan inovatif. Rasulullah saw adalah pemimpin yang cerdas dan inovatif. Banyak strategi dakwah dan perang yang tidak terjangkau oleh pasukan musuh. Demikian juga dalam mendamaikan antar anggota warga Madinah. Penduduk Madinah sebelum datangnya Islam seringkali bertikai, bahkan ratusan tahun mereka dalam pertikaian. Namun setelah memeluk Islam, mereka menjadi bersaudara melebihi cinta mereka kepada saudara kandung mereka sendiri.
Kita merindukan sang pemimpin bagai kepemimpinan Rasulullah saw. Meski tidak mirip benar, setidaknya sifat-sifat itu harus menjadi ciri para pemimpin ke depan, meki tidak sampai 100%. Namun, faktor lain yang membuat suatu kepemimpinan itu berwibawa adalah para pembantunya yang juga memiliki keempat sifat di atas. Jika seorang pemimpin berada di lingkungan para pembantu dan pendukunnya yang shiddiq, Amanah, tabligh dan fathonah maka suasana kepemimpinan seperti itu bukan hanya dirasakan di level tertentu, namun juga di semua level hingga ke pelosok terdalam sekalipun. Wallahu a’lam. )I(
Selasa, 05 Mei 2009
Kedahsyatan Bertawakkal
Tawakkal berasal dari kata wakkala-yuwakkilu, yang berakar dari dari kata wakala. Yang berarti menyerahkan suatu urusan. Jika kita menyerahkan suatu urusan untuk diselesaikan kepada seseorang, maka orang yang diserahkan suatu urusan tersebut disebut al-wakil. Demikian juga saat kita menyerahkan segala urusan kehidupan kita kepada Allah maka Allah disebut Ni’mal Wakiil (sebaik-baik tempat penyerahan diri). Seperti yang disebutkan dalam hadits Rasulullah saw: “Kalimat Hasbunallah wa Ni’mal Wakil pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim as saat beliau dilempar ke dalam bara api” (HR: Bukhori). Hasbunallah wa Ni’mal Wakil sendiri artinya adalah “Cukuplah bagi kami hanya Allah, Dialah sebaik-baik tempat menyerahkan diri”
Perintah bertawakkal kepada Allah terulang dalam al-Qur’an dalam bentuk tunggal (tawakkal) sebanyak 9 kali, dan dalam bentuk jamak (tawakkalu) sebanyak 2 kali. Semuanya didahului oleh perintah melakukan sesuatu, lalu disusul dengan perintah bertawakkal. Ini menunjukkan bahwa makna tawakkal yang benar adalah tawakkal yang didahului oleh suatu action untuk mencapai cita-cita dan harapan, setelah itu barulah kita serahkan hasilnya kepada Allah SWT. Seperti pada ayat-ayat berikut:
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 61)
"Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. Al-Maidah: 23)
Kedua ayat ini menegaskan bahwa sebelum perintah tawakkal, ada perintah melakukan sesuatu atau action, yakni berusaha berdamai dan menerobos memasuki kota, baru kemudian perintah bertawakkal.
Dalam sebuah riwayat dikisahkan, datanglah seorang sahabat yang mengendarai seekor unta ke majelis Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw bertanya kepada sahabat itu, “Mana unta-mu?” Sahabat itu menjawab, “Aku lepas diluar dan aku tawakkalkan kepada Allah”. Rasulullah saw langsung meralat sikap salah sahabat tersebut seraya bersabda, “Ikatlah dulu untamu barulah engkau bertwakkal!”.
Ini menunjukkan bahwa perintah tawakkal harus didahului oleh suatu usaha terlebih dahulu.
Ada tiga jenis tingkatan tawakkal kepada Allah: Pertama, Mempercayakan segala sesuatunya kepada Allah, baik tentang jaminan hidupnya maupun perhatiannya. Jenis tawakkal ini adalah serendah-rendahnya tawakkal. Sebab setiap manusia pasti meyakini bahwa Allah-lah yang menjamin dan mengatur hidup kita. Sayangnya, masih banyak di antara kita yang masih menyandarkan jaminan hidup kita kepada selain Allah. Bila demikian, kita belum benar-benar bertawakkal kepada Allah.
Kedua, Menjadikan keadaan dirinya selalu bersama Allah, seperti seorang bayi yang hanya mengenal ibunya saja dan tidak mau dipegang orang lain. Jadi kita hanya menyandar kepada Allah. Seorang bayi, meskipun wanita tetangga lebih cantik dari ibunya sendiri, dia tetap merasa lebih nyaman jika dipegang oleh ibunya dibanding oleh tetangganya. Meskipun tetangganya lebih kaya dan lebih cantik. Demikian pula jika kita bertawakkal kepada Allah. Kita tidak akan tergiur dengan silaunya dunia, gaji besar tapi syubhat apalagi haram. Sebab apa yang ada disisi Allah itu lebih baik secara dunia-akhirat.
Ketiga, Menjadikan setiap geraknya selalu bersama Allah, seperti mayit yang diperlakukan apa saja kepada orang yang mengurusnya. Ini tingkatan tertinggi dari tawakkal. Orang yang bertawakkal pada tingkatan ini selalu ridho dan qona’ah dengan apapun yang Allah berikan kepadanya. Dan tidak tergiur dengan jaminan dari selain Allah SWT.
Manfaat Tawakkal
1. Menghilangkan stress dan defresi.
Orang yang bertawakkal berarti telah menyandarkan dirinya kepada Allah yang Maha Kuat, Maha Kuasa dan Maha Meliputi. Sebagai hamba, kita lemah dalam segala hal, termasuk dalam menghadapi persoalan hidup dan kenyataan hidup, yang terkadang menimbulkan defresi dan stress. Oleh karena itu, jika kita menyandarkan hidup kita kepada Allah yang serba Maha tadi, maka kita akan mendapat kekuatan mental dan spiritual sehingga sanggup menghadapi segala kenyataan.
2. Dicukupkannya Kebutuhan .
Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya” (QS. Ath-Thalaq: 2)
3. Dijaminnya Rezeki.
Rasulullah saw bersabda: •“Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka Dia akan memberikan rezeki padamu seperti Dia memberi rezeki pada burung, berangkat pagi dalam keadaan perut kosong, dan pulang sore hari hari dalam keadaan perut berisi. (HR: Tirmidzi)
4. Dijaganya keselamatan
Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang membaca –yaitu pada saat keluar rumahnya- “bismillahi tawakkaltu ‘alallah wala haula wala quwwata illa billahi. (dengan nama Allah, aku bertawakkal pada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali milik Allah) maka ada malaikat yang berkata padanya, Kamu telah diberi petunjuk, diberi kecukupan, dan dipelihara serta dilindungi dari Syaithan.” (HR: Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasai)“
Wallahu a’lam bish showab #
Senin, 13 April 2009
Filsafat Nahwu
H. Muhammad Jamhuri, Lc. MA. *)
Dalam kitab “Al Kawakib Al Durriyah” diceritakan, Syeikh Imam Al-Sonhaji, pengarang sebuah kitab nahwu, tatkala telah rampung menulis sebuah buku tentang kaidah nahwu yang ditulisnya dengan menggunakan sebuah tinta, beliau mempunyai azam untuk meletakkan karyanya tersebut di dalam air. Dengan segala sifat kewara’annya dan ketawakkalannya yang tinggi, beliau berkata dalam dirinya: “Ya Allah jika saja karyaku ini akan bermanfaat, maka jadikanlah tinta yang aku pakai untuk menulis ini tidak luntur di dalam air”. Ajaib, ternyata tinta yang tertulis pada lembaran kertas tersebut tidak luntur. Dalam riwayat lain disebutkan, ketika beliau merampungkan karya tulisnya tersebut, beliau berazam akan menenggelamkan tulisannya tersebut dalam air mengalir, dan jika kitab itu terbawa arus air berarti karya itu kurang bermanfaat. Namun bila ia tahan terhadap arus air, maka berarti ia akan tetap bertahan dikaji orang dan bermanfaat. Sambil meletakkan kitab itu pada air mengalir, beliau berkata : “Juruu Miyaah, juruu miyaah” (mengalirlah wahai air!). Anehnya, setelah kitab itu diletakkan pada air mengalir, kitab yang baru ditulis itu tetap pada tempatnya.
Itulah kitab matan “Al-Jurumiyah” karya Imam Al Sonhaji yang masih dipelajari hingga kini. Sebuah kitab kecil dan ringkas namun padat yang berisi kaidah-kaidah ilmu nahwu dan menjadi kitab rujukan para pelajar pemula dalam mendalami ilmu nahwu (kaidah bahasa Arab) di berbagai dunia. Selain ringkas, kitab mungil ini juga mudah dihafal oleh para pelajar.
Di sini penulis tidak hendak mengemukakan kaidah ilmu nahwu dengan segala pembagiannya. Yang akan penulis kemukakan adalah, bahwa di dalam kitab yang melulu membahas tata bahasa Arab, ternyata kalau dikaji lebih dalam lagi, ia memiliki filsafat-filsafat hidup dan nasehat yang sangat berharga bagi setiap generasi terutama bagi kita sebagai ummat Islam. Filsafat hidup yang termaktub dalam kitab itu sendiri merupakan “hukum” atas suatu kalam atau kalimat dalam ilmu nahwu. Berikut ini adalah contohnya:
Bersatu Kita Terhormat
Dalam ilmu nahwu, “dhommah” adalah salah satu tanda dari tanda-tanda “rofa’”. Secara lafdziah kata dhommah berarti bersatu. Sedang kata rofa’berarti tinggi. Maksudnya, bila kita dapat bersatu dengan sesama, dapat menjaga kesatuan dan persatuan, dapat mempererat tali ukhuwah, bukan tidak mungkin kita akan menjadi umat yang terhormat dan tinggi (rofa’) di antara bangsa dan umat lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :”Bersatulah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah belah” (Ali Imran: 103). Sementara untuk mendapatkan derajat tinggi harus memenuhi syarat, di antaranya adalah iman. Firman Allah SWT: “Janganlah kalian merasa hina dan sedih, padahal kamu tinggi jika kamu beriman (Ali Imran: 139).
Ada beberapa keriteria sehingga orang bisa mendapatkan derajat rofa’ (tinggi). Sebagaimana dijelaskan dalam Al Jurumiyah, bahwa di antara kedudukan kalimat yang mendapat hukum rofa’ atau marfu’ (yang diberi penghargaan tinggi) adalah: fa’il, naib fa’il, mubtada’, khobar dan tawabi’ marfu’(sesuatu yang mengikuti segala kalimat marfu’) seperti sifat (na’t), badal, taukid dan ‘atof. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Fa’il (aktivis). Bila kita ingin menjadi orang yang dihargai, tinggi dan tidak terhina, maka hendaklah kita berbuat, bekerja dan berusaha, tidak berpangku tangan atau hanya mengharap belas kasih orang lain. Hanya orang yang aktif dan pro aktiflah (fa’il) yang membuahkan karya-karya dan amal dan menjadi terhormat di lingkungannya. Firman Allah SWT: “Dan katakanlah (hai Muhammad): "Bekerjalah kalian! sesungguhnya pekerjaan kalian akan dilihat oleh Allah, RasulNya dan kaum mu’minin” (At Taubah : 105). Sabda Nabi Muhammad SAW: “ tangan di atas (pemberi) lebih baik dari tangan di bawah(peminta)”.
- Naib fa’il (mewakili tugas-tugas aktivis) adalah tipe kedua orang yang mendapat derajat tinggi. Meskipun ia berkedudukan sebagai wakil, tapi ia menjalankan pekerjaan yang dilakukan fa’il walau harus menjadi penderita dalam kedudukannya sebagai kalimat. Sebagai contoh dalam hal ini adalah sahabat Ali ra. Beliau pernah menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya dengan resiko yang tinggi berupa pembunuhan yang akan dilakukan para pemuda musyrikin Makkah saat Rasulullah berencana melaksanakan hijrah ke Madinah. Contoh lain adalah para huffadz yang diutus Rasulullah untuk mengajarkan agama atas permintaan salah satu suku di jazirah Arab, namun nasib mereka naas dikhianati dan dibunuh para pengundang. Mendengar hal itu, Rasulullah pun membacakan do’a qunut nazilah sebagi rasa ta’ziyah. Dengan do’a dari Rasul tersebut, tentu saja mereka yang wafat mendapat kedudukan mulia di sisi Allah, juga oleh sejarah.
- Mubtada (pioneer), orang yang pertama melahirkan ide-ide positif kemudian diaplikasikannya di tengah-tengah masyarakat sehingga berguna bagi kehidupan manusia adalah orang yang pantas mendapat derajat rofa’ (tinggi). Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda: “ Barang siapa memulai sunnah hasanah (ide positif dan konstruktif) maka baginya pahala dan pahala orang yang melakukan ide (sunnah) tersebut”. Ada pepatah Arab mengatakan demikian:
الفضل للمبتدئ وان أحسن المقتدى
“Perhargaan itu hanyalah milik orang pertama memulai, walaupun orang yang datang kemudian dapat melakukannya lebih baik” - Khobar (informasi). Mereka yang memiliki khobar (informasi) itulah orang yang menguasai. Demikian salah satu ungkapan dalam ilmu komunikasi. Di dunia ini sebenarnya tidak ada orang yang lebih banyak ilmunya dari seorang lain. Yang ada adalah karena orang itu lebih banyak mendapatkan dan menyerap informasi dari lainnya. Membaca buku, apapun buku itu, sebenarnya kita sedang menyerap sebuah informasi. Dan sebanyak itu informasi yang kita dapatkan sebesar itu pula kadar maqam kita. Informasi dapat kita peroleh melalui berbagai cara, termasuk di dalamnya pengalaman.
- Tawabi’ Marfu’ (Mereka yang mengikuti jejak langkah orang yang mendapat derajar tinggi). Jelas, siapa saja yang mengikuti langkah dan perjuangan mereka yang mendapat derajat tinggi, maka mereka akan dihargai. Allah berfirman: “Sungguh dalam diri Rasulullah ada suri tauladan yang patut ditiru bagimu”. Ayat ini menegaskan kepada kita untuk mengikuti Rasulullah yang telah mendapatkan maqoman mahmuda (kedudukan terpuji) di sisi Allah agar kita mendapat hal yang sama di sisiNya. Di samping itu, salah satu orang yang akan mendapat derajat tinggi adalah para penuntut ilmu. Firman Allah SWT : “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi ilmu dengan beberapa derajat” (Al Mujadalah: 11). Ilmu adalah warisan para nabi, dan siapa yang mengikuti (tabi’) langkah nabi ia akan mendapat kehormatan (rofa’)
Berpecah Belah Adalah Kerendahan
Tanda kasroh dalam ilmu nahwu adalah salah satu tanda hukum khofadh. Secara harfiah, kata kasroh bermakna pecah atau perpecahan. Sedangkan kata khofadh bermakna kerendahan atau kehinaan. Dengan demikian suatu umat akan mengalami kerendahan dan kehinaan apabila mereka melakukan perpecahan, tidak bersatu dan tidak berukhuwah. Wajar saja bila para musuh menyantap dengan lahapnya kekayaan kaum (muslimin) disebabkan mereka tidak mau bersatu dan menjaga persatuan. Inilah yang pernah dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad SAW empat belas abad lalu, tatkala beliau menyatakan bahwa suatu saat umat Islam akan menjadi santapan umat lain seperti srigala sedang menyantap makanan. Para sahabat bertanya: “Apakah saat itu jumlah kita sedikit ?” Rasul menjawab: “Tidak, justru kalian saat itu menjadi mayoritas, tapi kualitas kalian seperti buih. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari musush-musuh kalian kepada kalian dan Allah akan mencampakkan dalam diri kalian penyakit al-wahan”. Sahabat bertanya: “apakah penyakit al-wahan itu?” Rasul SAW menjawab: “cinta dunia dan takut mati”.
Dengan penyakit itulah, umat Islam mengalami perpecahan. Sebab yang diperjuangkan bukan lagi agama mereka, tetapi materi dan keduniaan yang pada akhirnya tidak lagi mengindahkan kekompakkan dan persatuan di antara sesama ummat Islam.
Di samping itu sifat buih, seberapa banyak dan sebesar apapun, ia akan terombang-ambing oleh angin yang meniupnya. Itulah tamsil umat Islam yang tidak memperkokoh persatuan.
Hal inilah yang diisyaratkan oleh Al-Sonhaji, bahwa penyebab segala isim (nama) menjadi makhfudh (rendah dan hina) adalah karena tunduk dan ikut-ikutan terhadap huruf khofad (faktor kerendahan). Atau dalam istilah nahwu lain, isim menjadi majrur (objek yang terseret-seret/mengikuti arus) karena disebabkan mengikuti huruf jar (faktor yang menyeret-menyeretnya) . Karena itu, hendaknya ummat Islam selalu menjadi ikan hidup di tengah samudera. Meskipun air samudera terasa asin, namun sang ikan hidup tetap terasa tawar. Sebaliknya, jika ummat ini bagaikan ikan mati, maka ia dapat diperbuat apa saja sesuai keinginan orang lain. Bila diberi garam ia akan menjadi ikan asin dan lain sebagainya.
Berusahalah, Maka Jalan Akan Terbuka
Dalam kaidah ilmu nahwu, di antara tanda nashob adalah fathah. Secara lafdziah, kata nashob bermakna bekerja dan berpayah-payah. Sedang kata fathah bermakna terbuka. Dalam hal ini, maka mereka yang mau bekerja dan berupaya serta berpayah-payah (nashob) dalam usaha, maka mereka akan mendapatkan jalan yang terbuka (fathah). Sesulit apapun problem yang dihadapi, jika berusaha dan berpayah-payah untuk mengatasinya, maka insya Allah akan menemukan jalan keluarnya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang berbuat di antara kalian dari laki-laki dan wanita”. (Ali Imran: 195). Dalam Kitab Diwan As-Syafi’i. Imam Syafi’i pernah menulis bait syair sebagai berikut:
سافر تجد عوضا عمن تفارقه # وانصب فان لذيذ العيش فى النصب
اني رأيت وقوف الماء يفسده # ان سال طاب وان لم يجري لم يطب
Pergilah bermusafir, maka anda akan dapatkan pengganti orang yang anda tinggalkan
Bersusah payahlah !, karena kenikmatan hidup ini didapat dengan bersusah payah (nashob).
Sungguh aku menyaksikan mandeg-nya air dapat merusakkan dirinya
Namun bila ia mengalir ia menjadi baik. Dan jika menggenang ia jadi tidak baik.
Dalam bait syair ini, Imam Syafi’i ingin menegaskan, bahwa orang yang berpangku tangan dan tidak mau bekerja keras akan menjadi rusak, bagaikan rusaknya air yang tergenang sehingga menjadi comberan yang kotor dan bau. Sebaliknya, bila ia mau bersusah payah dan bergerak maka ia bagaikan air jernih yang mengalir. Indahnya kenikmatan hidup ini terletak pada bersusah payah.
Bahkan al-Quran mengisyaratkan kepada kita untuk tidak berpangku tangan di tengah waktu-waktu senggang kita. Bila usai melakukan satu pekerjaan, cepatlah melakukan hal lain. Firman Allah SWT:
فاذا فرغت فانصب
“Dan jika kamu selesai (melakukan tugas), maka lakukanlah tugas lain (nashob)” (Al Insyiroh: 7).
Kepastian Akan Menimbulkan Rasa Tenang
Kaidah lain yang terdapat dalam ilmu nahwu adalah, bahwa di antara tanda jazm adalah sukun. Secara lafdziah, kata jazm bermakna kepastian. Sedang kata sukun berarti ketenangan. Ini mengajarkan kepada kita, bahwa kepastian (jazm) akan melahirkan rasa ketenangan (sukun). Orang yang tidak mendapatkan kepastian dalam suatu urusan biasanya akan merasakan kegelisahan. Sebagai contoh seorang remaja yang ingin melamar seorang gadis kemudian tidak mendapatkan kepastian, dia akan mengalami kegelisahan. Demikian juga orang yang hidupnya sendiri, ia tidak mendapatkan ketenangan. Oleh karena itu Allah SWT mengisyaratkan kita agar mempunyai teman pendamping dalam hidup ini agar mendapat ketenangan. Firman Allah SWT:
ومن آياته ان خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا اليها
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah Ia menjadikan bagimu pasangan dari jenismu (manusia) agar kalian merasa tenteram kepadanya” (Ar Rum: 21).
Wallahu’alam