Rabu, 21 Oktober 2009

Gempa Bumi dan Kita

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat ) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?", pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (QS.Al-Zalzalah: 1-5)

Kutipan ayat di atas sangat relevan dengan kondisi musibah belakangan ini yang menimpa negeri kita. Dalam sepekan saja sudah lima kali terjadi gempa bumi dengan ukuran skala rikhter yang berbeda-beda. Belum selesai recovery korban gempa bumi Jawa Barat, telah terjadi gempa dengan kekuatan 7,6 skala rikhter di Padang sumatera Barat, selang dua hari terjadi lagi di wilayah Papua dengan kekuatan 4 skala rikhter. Disusul kemudian di daerah cilegon Banten, dan kemudian disusul gempa di Gorontalo.

Sementara itu, kasus meluapnya lumpur Lapindo dari perut bumi hingga kini masih menampakkan keatifannya. Maka benarlah apa yang difirmankan Allah SWT di atas dalam surat al-Zalzalah.

Persoalnnya, apa yang harus kita lakukan menghadapi musibah yang datang bertubi-tubi tersebut?

Ada dua tindakan yang kita lakukan; pertama menahan agar musibah itu tidak terjadi lagi. Kedua jika pun terjadi maka harus mempersiapkan diri menghadapi kejadian tersebut.

Untuk menghindari terjadinya peristiwa musibah gempa dan musibah lainnya, seperti banjir, tanah longsor dan gunung meletus, adalah dengan memperbanyak istighfar. Istighfar ini harus menjadi kesepakatan seluruh bangsa agar bangsa ini terhindar dari segala macam marabahaya. Istighafar atas berdiri dan legalnya tempat-tempat maksiat, istighfar atas tindak korupsi yang dilakukan para pejabat dan rakyat, istighfar para ulama dari kesalahan niat dakwahnya, istighfar dari segala macam kecongkakan pada Tuhannya, istighfar dari jual beli hukum yang dilakukan para penegak hukum. Dengan istighfar yang dilakukan bangsa ini maka musibah tidak akan menimpa mereka. Sebagaimana firman Allah SWT:

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun “ (QS. Al-Anfal: 33)

Abu Musa al-’Asy’ari ra ketika mengomentari ayat di atas berkata; “Kami (sahabat) dahulu memiliki dua perisai dari segala macam musibah, yakni masih adanya Rasulullah saw di tengah-tengah kami, dan kami masih rajin beristighfar, sedangkan saat ini kita hanya punya satu perisai, yakni beristighfar, sedang Nabi saw sudah wafat. Maka jika suatu kaum meninggalkan istghfar maka kaum itu tidak dapat menghindar dari musibah”.

Dengan begitu sikap istighafar akan menjadi perisai dari segala macam musibah. Bukankah gempa bumi yang terjadi bukan sekedar gelombang lempengan bumi yang berjalan? Namun dia terjadi karena diperintah Allah? Sebagaimana yang dijelaskan pada ayat di atas.surat al-zalzalah.

Tindakan kedua agar terhindar dari musibah adalah dengan menjaga lingkungan dan bumi tempat kita berpijak. Ebite G Ade pernah menuturkan dalam syairnya; “Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”.

Betapa banyak anak manusia yang menggunduli hutan demi sekeping uang, betapa kita masih membuang sampah sembarangan, betapa kita sering melakukan kerusakan pada alam? Karena itulah bumi ‘melampiaskan amarahnya kepada manusia”

Itulah dua langkah yang kita bisa lakukan agar terhindar dari musibah, atau agar musibah tidak datang lagi kepada kita.

Adapun jika kita sulit terlepas dari intaian musibah, maka dua langkah yang harus kita persiapkan: pertama adalah menyiapkan diri kita agar jika musibah datang kepada kita dan kita diwafatkan oleh Allah, maka kita wafat dalam keadaan husnul khatimah, antaral lain:

Pertama, selalu berzikir kepada Allah SWT, yakni hati dan pikirannya, bahkan lidahnya selalu mengingat Allah. Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah lidahmu basah dengan zikir kepada Allah”. Jika suatu saat musibah gempa atau lainnya menimpa kita dan kita diwafatkan Allah saat berzikir, maka itu termasuk husnul khatimah (kesudahan yang baik).

Kedua, jika kita tidak sempat untuk selalu berzikir, atau lupa karena kesibukan, maka kita berusaha selalu menjaga kesucian baik dari dosa maupun dari najis serta hadats. Oleh karena itu, usahakan agar kita selalu dalam leadaan suci dengan cara menjaga wudhu. Jika wudhu kita batal karena ingin buang air kecil atau lainnya, maka usahakan untuk berwudhu lagi, agar kondisi kita selalu dalam keadaan suci, bahkan saat kita akan tidur pun sebaiknya bersuci (berwudhu) terlebih dahulu. Allah SWT menyukai orang yang bersuci. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS, al-Baqarah: 222)

Cara lainnya agar kita mendapat husnul khatimah saat kita wafat adalah berjaga-jaga dengan berpuasa sunnah. Ketika Rasulullah saw ditanya kenapa beliau berpuasa di hari senin dan kamis, maka jawab beliau adalah karena hari senin adalah hari kelahiranku, dan hari kamis adalah hari diangkatnya amal dalam sepekan, dan beliau menyukai jika pada saat diangkat amalnya dalam keadaan beribadah (yakni puasa).

Jika suatu saat gempa atau bencana alam datang tiba-tiba dan kita tidak dapat menghindar dari bencana itu, hingga kita diwafatkan akibat musibah itu, maka alangkah bahagianya saat meninggal dunia kita dalam keadaan beribadah (yakni puasa) atau dalam keadaan diri suci dari hadast karena menjaga kesucian berwudhu.. )I(

Kamis, 09 Juli 2009

Urgensi Amal Jama'i

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imran: 103)

Amal Jama’i secara harfiyah berarti bekerja sama, atau bekerja kolektif. Dalam kehidupan, amal jama’i (kerja sama) adalah sebuah kemestian. Tidak ada satu orang pun dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Orang yang kaya membutuhkan si miskin untuk membantu tugas-tugas sehari-harinya. Orang miskin pun membutuhkan orang kaya.

Jika dalam kehidupan saja kita tidak terlepas dari amal jama’i, maka dalam sebuah perjuangan mencapai tujuan tertentu, atau cita-cita tertentu, maka amal jama’i lebih sangat dibutuhkan. Para pendahulu kita dahulu tidak mungkin dapat mewujudkan Indonesia Merdeka tanpa adanya amal jama’i (kerja sama). Demikian juga, sehebat apapun seorang Nabi atau Rasul tidak mungkin dapat mewujudkan negara Madinah tanpa adanya kerja sama antara kaum muslimin, terutama kaum Muhajirin dan Anshar. Oleh karena itu kerja sama atau amal jama’i mutlak dilakukan dalam mewujudkan sebuah cita-cita atau tujuan. Kenapa demikian?

Pertama, karena amal jama’i adalah tabiat alam (natural). Bangsa semut tidak dapat membuat sarang atau menyimpan makanan tanpa adanya kerjasama di antara mereka. Bila kita melihat kehidupan semut, betapa mereka ulet dan saling bergotong royong dalam bekerja. Bahkan bila seekor semut bertemu dengan kawannya dia berhenti sejenak dan saling besalaman. Demikian juga pada kehidupan lebah, mereka mempunyai tugas masing-masing dalam mengembangkan dirinya dan di antara mereka tercipta kerjasama yang harmonis dalam bekerja.

Kedua, karena manusia adalah makhluk sosial. Meskiupun nabi Adam telah disediakan segala kenikmatan surga, namun beliau masih saja merasa kurang jika tidak ada teman dalam hidupnya. Sehingga Allah menciptkan Hawa sebagai teman hidupnya. Demikian pula kita dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat hidup sendiri, melainkan membutuhkan bantuan orang lain.

Ketiga, karena persatuan itu kekuatan dan bercerai berai itu adalah kelemahan. Ibarat lidi, bila dia sendirian, maka dia mudah dipatahkan. Namun jika hidup bersama dalam sebuah jamaah (kumpulan) sapu lidih, maka ia sulit dipatahkan.

Seekor singa tidak akan menerkam seekor rusa yang berkumpul bersama kawanan rusa lainnya. Namun jika rusa itu telah terpisah dari kawanan rusa lainnya, maka ia akan mudah diterkam dan di mangsa oleh singa.

Oleh sebab itu Rasulullah saw telah mengingatkan kepada kita bahwa suatu saat umat Islam akan menjadi santapan umat lain. Padahal pada saat itu jumlah umat Islam begitu banyak. Akan tetapi banyaknya tidak memiliki kekuatan. Mereka bagaikan buih yang terombang-ambing kesana kemari. Hal itu disebabkan karena mereka memiliki penyakit berupa wahan. Para sahabat apakah wahan itu? Rasulullah menjawab wahan adalah cinta dunia dan takut mati.

Cinta dunia akan menimbulkan sikap egois dan jauh dari amal jamai. Cinta dunia juga membuat lemahnya semangat perjuangan meraih pahala surga. Sehingga umat lain dapat mudah menyantap umat Islam seperti kawanan srigala menyantap kambing-kambing.

Keempat, karena kemampuan invidu atau perorangan itu sangat terbatas. Setiap kita bukanlah Superman atau Avatar yang dapat mudah merubah dunia secara sendirian. Ada di antara kita yang hanya mampu menjadi pedagang, namun tidak mampu menjadi politikus. Ada yang mampu menjadi sekretaris yang bekerja di kantor namun tidak mampu menjadi kurir atau marketing di lapangan.

Oleh sebab itu kita membutuhkan bantuan orang lain. Terlebih dalam mewujudkan sebuah cita-cita, karena tidak mungkin dilakukan oleh perorangan. Dengan berhimpunnya manusia-manusia dengan latar belakang dan keahliannya masing-masing maka hal itu akan saling melengkapi, sehingga cita-cita atau tujuan yang dicapai akan terwujud.

Dalam perjuangannya, Rasulullah saw memiliki sahabat-sahabat yang memiliki karakter masing-masing. Abu Bakar dikenal sebagai orang yang paing arif karena kematangan usianya. Umar bin Khattab dikenal sebagai orang yang tegas da berwibawa dalam memutuskan suatu perkara. Utsman bin Affan dikenal sebagai konglomerat yang banyak menginfakkan harta di jalan Allah SWT. Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai anak muda yang cerdas serta penuh hikmah.

Keragaman karakter seperti itu memperkaya khazanah serta saling melengkapi satu sama lainnya, sehingga Islam dapat tersebar luas hampir ke seluruh benua dalam jangka waktu yang singkat.

Kelima, karena umat lain pun bersatu dan bekerja sama dalam menghadapi umat Islam. Allah SWT berfirman yang artinya, Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu (QS. Al-Baqarah: 120)

Oleh sebab itu, umat Islam pun harus bersatu dan tidak boleh terpecah belah. Bukan saatnya lagi umat Islam dipecah-belah karena perbedaan organisasi atau partai, apalagi menghasut dan memfitnah sana sini. Sebagaimana firman Allah SWT: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu -Karena nikmat Allah– menjadi orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imran: 103) . Wallahu a’lam. )I(

Selasa, 30 Juni 2009

Memohon Jalan Yang Lurus

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."(QS. Al-Fatihah: 6-7)

Sebanyak tujuhbelas kali –dalam sehari semalam– minimal kita memohon jalan yang lurus. Betapa tidak? Setiap kita melaksanakan shalat lima waktu, maka surat al-Fatihah harus kita baca dalam setiap rakaatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw “Tidaklah sah shalat bagi orang yang tidak membaca surat al-Fatihah (pembuka kitab)”.
Mengapa surat al-Fatihah begitu penting kita baca dalam shalat kita? Mengapa dia menjadi rukun shalat sehingga jika ditinggal maka akan batal shalat kita? Karena al-Fatihah adalah inti isi al-qur’an seluruhnya. Dia adalah pokok seluruh ajaran al-Quran. Di dalamnya ada kandungan akidah, ibadah, sejarah, serta manhaj (sistem) hidup bagi manusia. Al-fatihah, di dalamnya ada doa yang selalu kita panjatkan “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(QS. Al-Fatihah: 6-7).
Dalam ayat itu, kita selalu memohon jalan yang lurus. Sebenarnya, apa sih jalan yang lurus itu? Dijelaskan bahwa jalan yang lurus itu adalah jalan yang pernah ditapaki oleh orang-orang yang telah Allah beri nikmat pada mereka, dan bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalam orang yang sesat. Pertanyaannya, siapakah orang yang pernah diberi nikmat oleh Allah SWT? Siapa pula orang yang pernah dimurkai? Dan siapa orang yang pernah sesat itu?
Dalam surat An-Nisaa ayat 69 Allah SWT berfirman yang artinya: 69. “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman baiknya.
Dalam ayat diterangkan bahwa orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah Para Nabi, shiddiqin (orang yang teguh dan jujur keimananannya), orang yang berjuang membela agama Allah hingga mati syahid dan orang-orang shaleh. Dengan kata lain, bahwa jika kita menghendaki jalan yang lurus yang selalu kita mohonkan kepada Allah, maka kita harus berusaha mengikuti dan menapaki jalan yang pernah ditempuh oleh empat tipe manusia di atas:
Pertama, jalan yang pernah ditapaki para Nabi. Yakni jalan dakwah. Tugas para Nabi saw di dunia ini adalah berdakwah dan mengajak manusia kepada jalan kebaikan. Tugas mulia ini tentu saja bukan jalan mulus yang dihamparkan permadani. Melainkan jalan yang penuh dengan onak dan duri. Kesabaran dalam menjalani jalan dakwah ini adalah sebuah kemestian. Jika kita bisa melewati dengan baik dan sabar, maka kita akan selalu berada dalam jalan yang lurus. Para Nabi juga tidak segan-segan untuk memberikan peringatan kepada para penguasa yang keluar dari jalan kebenaran. Oleh karena itu tugas ini sangat berat, apalagi dituntut istiqomah dalam ajaran agama. Banyak di antara manusia yang berteriak membela agama, namun justru mereka menjual agama setelah mengetahui gemerlapnya dunia. Keistiqomahan dalam beragama sekaligus istiqomah dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah berat, namun jika bisa dilaluinya maka ia akan mencapai derajat para nabi.
Kedua, jalan yang pernah ditapaki para shiddiqin. Shiddiqin adalah orang-orang jujur dan teguh akan keimanannya. Abu Bakar mendapat gelar ash-shiddiq karena begitu kuat dan jujurnya keimanan beliau. Tidak ada secuil ruang pun dalam hatinya keraguan akan kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Tidak ada sedikit pun ruang keraguan kepada Allah SWT, hingga saat Rasulullah dan umat membutuhkan biaya besar dalam sebuah pertempuran, Abu Bakar meng-infakkan seluruh kekayaannya untuk perjuangan Islam. Ketika beliau diitanya Nabi “Lalu apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab dengan segala kemantapan, “Allah dan Rasulnya”.
Shiddiq secara bahasa adalah orang jujur. Kenapa dalam ayat itu tidak disebut orang alim atau pintar? Karena orang pintar itu banyak, namun sedikit sekali orang berlaku jujur. Banyak sarjana hukum, tapi tidak jujur dalam memutuskan perkara hukum,.Banyak sarjana ekonomi dengan segala rumus matematikanya tapi sering dengan sengaja memanipulasi angka, kok bisa angka di mark-up? Banyak sarjana pendidikan yang menjadi guru, namun saat menulis angka raport atau ijazah tidak sesuai dengan angka nilai sebenarnya.
Ketiga, jalan yang pernah ditapaki para syuhada. Syuhada adalah bentuk jamak dari kata syahid, yang berarti “saksi”. Mereka yang berjuang menegakkan Allah itulah disebut saksi (syahid). Hingga jika mereka wafat dikebumikan apa adanya, sebagai saksi di hadapan Allah nanti. Merekalah yang pantas menjadi pahlawan. Pahlawan adalah mereka yang bekerja dan berjuang dengan penuh ikhlas, dedikasi, serta semangat yang tinggi, sehingga menghasilkan karya-karya yang bermanfaat dan dikenang banyak orang. “Karya”nya menjadi saksi dan pelajaran untuk generasi berikutnya.
Keempat, jalan orang-orang shaleh. Jika kita tidak mampu berdakwah seperti para nabi, atau berkorban harta seperti Abu Bakar, atau tidak bisa berjuang hingga menjadi syahid, maka minimal kita memiliki sifat-sifat orang yang shaleh. Mereka adalah orang selalu baik, menebar kebaikan serta tidak melakukan sesuatu yang kontra kebaikan.
Sudahkah kita mengikuti jalan salah satu dari empat jalan yang ditempuh mereka? Jika belum, berarti permohonan kita akan petunjuk jalan yang lurus cuma main-main, bacaan al-fatihah yang kita baca tujuh belas kali sehari semalam baru sampai tenggorokan, dan belum masuk ke dalam relung hati, belum menggetarkan tulang dan sumsum kita, belum menggetarkan kulit kita, dan belum menggetarkan anggota tubuh kita sehingga ia tergerak untuk menampilkan sikap seperti yang ditampilkan oleh empat tipe manusia di atas;
Mulailah melangkah menapaki jalan yang lurus, ikuti langkah mereka, jika tidak mampu, setidaknya ikuti jalan orang-orang yang shaleh. )I(