“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia",kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”
(QS. Al-Nahl: 68-69)
Satu surat dalam al-Quran bernama surat al-Nahl, yang berarti surat “LEBAH”, karena ada penjelasan tentang hewan ini, terutama pada ayat ke 68 dan 69 seperti yang tercantum di atas.
Tentu saja, tatkala Allah menyebutkan cerita, Dia ingin memberi pelajaran kepada hambanya tentang perinsip kerja dan karakter lebah agar dapat dicontoh oleh umat manusia. Mengapa kita harus mencontoh sifat dan karakter lebah?
Pertama, lebah hanya mengkonsumsi sumber makanan yang baik-baik dari tumbuhan, seperti sari pati bunga. Ini memberi pelajaran kepada kita bahwa kita pun harus mengkonsumsi makanan dan minuman yang baik dan halal saja (halalan thoyyiban). Karena makanan yang baik dan halal akan mempengaruhi kesehatan dan karakter seseorang. Makanan yang halal bukan karena makanan itu hanya berlebel halal, tapi juga cara mendapatkan rezeki harus juga dengan cara halal.
Kedua, karena hanya mengkonsumsi yang baik-baik saja, lebah pun hanya akan memproduksi yang baik-baik juga, berupa madu, suatu minuman yang memiliki manfaat besar bagi manusia, bahkan ia menjadi obat bagi manusia. (Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia..) dengan demkian, jika kita seorang muslim hanya mengkonsumsi yang baik dan halal, maka kita akan menghasilkan kerja dan dampak yang positif saja dan berguna bagi lingkungan sekitarnya.
Ketiga, pada ayat di atas, Allah menggunakan redaksi “Awhaa: (mewahyukan) kepada lebah, lalu lebah dengan patuh melaksanakan “wahyu” itu berupa perintah membuat sarang, memakan tumbuhan, menempuh jalan Allah sehingga lebah menghasilkan produk yang baik. Hal ini memberi pelajaran kepada kita bahwa jika kita mengikuti dan komitmen terhadap ajaran Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui wahyu, maka kita pun akan menjadi manusia yang produktif mengahsilkan kebaikan-kebaikan terhadap umat dan bangsa. Sebaliknya jika kita berpaling dari wahyu Allah SWT, maka kita akan menjadi orang-orang perusak, dan produksi atau out put kita akan selalu tidak baik.
Keempat, pada ayat di atas Allah menggunakan redaksi perintah lil muannas (kata perintah untuk jenis wanita) yakni perintah “Buatlah sarang-sarang (ittakhidzi) makanlah (kulii) tempuhlah jalan Tuhanmu (uslukii subula robbiki). Mengapa demikian? Karena peranan wanita dan ibu dalam melahirkan generasi unggul adalah sangat dominan dan signifikan. Dengan demikian, melalui kisah lebah ini, Allah SWT hendak mengajarkan kepada kita agar kita harus memperhatikan pendidikan kaum wanita dan mencetaknya menjadi wanita sholehah, karena kelak mereka akan menjadi ibu dari anak-anaknya, akan menjadi sekolah pertama anak manusia dalam pembentukan generasi mendatang. Jika kaum wanita sudah jauh dari agama sehingga hilang rasa malunya dan tidak menjaga harkat dan martabatnya, maka bagaimana mungkin akan melahirkan umat yang terbaik?
Peran laki-laki dalam kisah madu begitu penting terutama dalam proses pembuahan. Tapi tidak kalah pentingnya juga peran wanita. Karena itu, ayat ini memberi pesan agar calon ibu yang akan melahirkan anak-anak kita haruslah sholehah sehingga akan mempengaruhi anak dan generasi yang akan dilahirkan.
Kelima, jika kata-kata redaksi di atas menggunakan fiil amr (kata kerja perintah) seperti “Buatlah sarang-sarang (ittakhidzi) makanlah (kulii) tempuhlah jalan Tuhanmu (uslukii subula robbiki), sementara pada saat menjelaskan bahwa lebah mengeluarkan madu menggunakan kata fi’il mudhore’ (present continius tense) yakni kata “Yakhruju” yang berari keluar (Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya). Hal ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah mengikuti perintah Allah SWT dan wahyu-Nya, maka dengan sendirinya dia hanya mengeluarkan dan menghasilkan produk dan output yang terbaik, meski tanpa harus diperintah lagi dengan kata perintah. Mengikuti wahyu dan ajaran ALLAH Swt akan menjadi karakternya, sehingga seseorag hanya akan berbuat yang terbaik.
Keenam, salah satu karakter lebah adalah hidup berjama’ah (bersama) dengan kelompoknya, bekerja sama membuat sarang, dan bekerja sama dalam memproduksi madu. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa hidup ini tidak bisa bersifat egois dan indvidualistik. Kita harus berjama’ah, bersatu dan bekerja sama dalam menghasilkan suatu cita-cita, apalagi cita-cita itu adalah sesuatu yang baik.
Ketujuh, karakter lain dari kehidupan lebah adalah tidak menggangu hewan atau orang lain. Namun jika lebah dan sarangnya diganggu, maka ia akan mengejar hingga ke ujung dunia orang yang mengganggu mereka atau mengusik rumah mereka. Hal ini sejalan dengan sikap kaum muslimin. Karakter kaum muslimin tidak pernah usil dan mengganggu umat atau orang lain. Namun jika ada orang, kelompok atau umat lain usil, mengganggu dan mengusik umat islam, maka umat Islam akan bangkit dan mengejar siapa saja pelaku yang telah mengusik dan mengganggu kehormatan umat Islam dan ajarannya. Apa yang terjadi hari-hari ini dengan pengakuan adanya Nabi Palsu dan kelompok yang menyatakan ada Nabi setelah Nabi Muhammad saw, adalah sangat mengusik ajaran umat islam yang telah baku dan diajarkan oleh wahyu Allah SWT yang mengajarkan bahwa Muhammad saw adalah penutup para Nabi. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi” (QS.Al-Ahzab: 40)
Karena itu jika, ingin hidup aman dan tenteram, jangan coba-coba mengusik lebah dan komunitasnya. Jika coba mengusiknya, maka ia akan dikejar dan disengat hingga ke ujung dunia. #
Senin, 26 Mei 2008
Kamis, 17 April 2008
Kriteria Pengikut Rasulullah saw
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath: 29)
Dari ayat di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pengikut Rasulullah saw mempunyai beberapa kriteria:
Pertama, Bersikap tegas terhadap orang kafir. Tegas dalam aqidah, tidak kompromi dalam keyakinan. Serta keras dalam mempertahankan keyakinannya dan membela ajarannya. (dia adalah keras terhadap orang-orang kafir)
Kedua, Bersikap lemah lembut terhadap sesama kaum muslimin, tawadhu’ dan kasih sayang. (tetapi berkasih sayang sesama mereka) Bukan malah sebaliknya, kepada sesama muslim saling benci dan curiga. Tapi kepada kaum kafir penuh toleransi dan berkompromi.
Ketiga, Rajin dalam melaksanakan ibadah, rajin ruku’ dan bersujud kepada Allah, mendirikan sholat serta aktifitas ibadah ritual lainnya. Sebab ibadah-ibadah tersebut akan melahirkan kecerdasan spritual dan berfungsi penguatan batin dan mental. (Kamu lihat mereka ruku' dan sujud )
Keempat, semangat dalam bekerja untuk mencari karunia Allah, profesional, etos kerja tinggi, amanah, inofatif dan tidak pernah putus asa dalam mencari rezeki Allah. Tidak malas, mangkir dan tidak bekerja semaunya atau tidak disiplin. ((mencari karunia Allah)
Kelima, Selanjutnya, dalam ibadah dan bekerja, tujuan utama dan obsesinya hanyalah dalam rangka mencari ridho Allah SWT. Bukan mencari popularitas atau tujuan-tujuan duniawi belaka. Baginya ridho Allah adalah puncak tujuan hidupnya. (mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya).
Keenam, Memiliki pembawaan sejuk dan damai karena rajinnya ibadah dan bersujud. Di sisi lain, ibadah yang dilakukannya mempunyai dampak dalam kehidupan sehari-hari. Sholat yang dilakukannya memberi dampak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Tidak sekedar ibadah yang tidak mempunyai dampak dan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. (tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud).
Ketujuh, sikap-sikap kebaikan yang dilakukannya menjadi bukti dan argumentasi bagi kebenaran ajaran Islam. Bukan hanya diakui oleh satu umat saja, tapi juga kualitasnya diakui oleh umat lain. Menjadi Ustadzul ‘Alam (soko guru dunia) dalam memberikan model terbaik sebagai warga dunia yang memiliki nilai (value). (Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil).
Kedelapan, Keberadaannya selalu memberikan manfaat bagi lingkungannya, seperti tanaman yang subur dan memberikan berkah bagi lingkungannya. Suburnya tanaman itu karena kekokohannya dalam iman, selalu melakukan pengkaderan agar lahir tunas dan generasi baru yang melanjutkan perjuangannya. Tunas atau generasi itu menguatkan cita-cita para pendahulunya. (yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya).
Kesembilan, keberadaannya dapat memberi harapan bagi orang-orang yang pro-kebaikan, menjadi harapan baru bagi tatanan dunia, dan dapat membahagiakan mereka. Hal itu disebabkan perilakunya yang baik, perhatiannya kepada sesama manusia dan mempunyai kepeduliaan yang tinggi (tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya)
Kesepuluh, Keberadaannya yang telah memberikan kebaikan kepada dunia, disenangi oleh kelompok pro-kebaikan dan keberpihakannya kepada kebenaran, membuat manusia dari kelompok kebatilan menjadi jengkel. Sebab mereka tidak bisa lagi melakukan misinya dalam menyesatkan manusia, memiskinkan masyarakat karena korupsinya dan tidak bisa menguasai sentra-sentra ekonomi yang biasa berputar di sekitar orang-orang kaya dan tertentu saja dari kalangan kaum elit dan tidak berpihak kepada keadlan. ((karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir)
Kesebelas, pengikut Rasulullah saw adalah golongan kaum mu’min yang kuat, baik kuat akidah, kuat ukhuwah, dan kuat ilmu pengetahuan dan profesionalisme. Kekuatan dan potensi itulah yang membuat jengkel manusia dari kelompok kebatilan dan kaum kafir. (dengan kekuatan orang-orang mukmin)
Keduabelas, Jika kriteria-kriteria sebagai pengikut Rasulullah saw itu terwujud, bukan tidak mungkin, Allah akan memberikan kemenangan di dunia, serta kebahagiaan di akhirat. Dan itu semuanya hanya Allah berikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. (Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar).
Semoga, kita yang hidup di akhir zaman ini menjadi pengikut Rasulullah saw yang setia berjalan di atas jalan dan manhajnya. Sehingga memiliki kriteria seperti yang dimilikipara sahabat yang menyetai pejuangan Rasulullah saw. Amin.
Wallahu a’lam bis showab.#
Dari ayat di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pengikut Rasulullah saw mempunyai beberapa kriteria:
Pertama, Bersikap tegas terhadap orang kafir. Tegas dalam aqidah, tidak kompromi dalam keyakinan. Serta keras dalam mempertahankan keyakinannya dan membela ajarannya. (dia adalah keras terhadap orang-orang kafir)
Kedua, Bersikap lemah lembut terhadap sesama kaum muslimin, tawadhu’ dan kasih sayang. (tetapi berkasih sayang sesama mereka) Bukan malah sebaliknya, kepada sesama muslim saling benci dan curiga. Tapi kepada kaum kafir penuh toleransi dan berkompromi.
Ketiga, Rajin dalam melaksanakan ibadah, rajin ruku’ dan bersujud kepada Allah, mendirikan sholat serta aktifitas ibadah ritual lainnya. Sebab ibadah-ibadah tersebut akan melahirkan kecerdasan spritual dan berfungsi penguatan batin dan mental. (Kamu lihat mereka ruku' dan sujud )
Keempat, semangat dalam bekerja untuk mencari karunia Allah, profesional, etos kerja tinggi, amanah, inofatif dan tidak pernah putus asa dalam mencari rezeki Allah. Tidak malas, mangkir dan tidak bekerja semaunya atau tidak disiplin. ((mencari karunia Allah)
Kelima, Selanjutnya, dalam ibadah dan bekerja, tujuan utama dan obsesinya hanyalah dalam rangka mencari ridho Allah SWT. Bukan mencari popularitas atau tujuan-tujuan duniawi belaka. Baginya ridho Allah adalah puncak tujuan hidupnya. (mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya).
Keenam, Memiliki pembawaan sejuk dan damai karena rajinnya ibadah dan bersujud. Di sisi lain, ibadah yang dilakukannya mempunyai dampak dalam kehidupan sehari-hari. Sholat yang dilakukannya memberi dampak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Tidak sekedar ibadah yang tidak mempunyai dampak dan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. (tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud).
Ketujuh, sikap-sikap kebaikan yang dilakukannya menjadi bukti dan argumentasi bagi kebenaran ajaran Islam. Bukan hanya diakui oleh satu umat saja, tapi juga kualitasnya diakui oleh umat lain. Menjadi Ustadzul ‘Alam (soko guru dunia) dalam memberikan model terbaik sebagai warga dunia yang memiliki nilai (value). (Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil).
Kedelapan, Keberadaannya selalu memberikan manfaat bagi lingkungannya, seperti tanaman yang subur dan memberikan berkah bagi lingkungannya. Suburnya tanaman itu karena kekokohannya dalam iman, selalu melakukan pengkaderan agar lahir tunas dan generasi baru yang melanjutkan perjuangannya. Tunas atau generasi itu menguatkan cita-cita para pendahulunya. (yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya).
Kesembilan, keberadaannya dapat memberi harapan bagi orang-orang yang pro-kebaikan, menjadi harapan baru bagi tatanan dunia, dan dapat membahagiakan mereka. Hal itu disebabkan perilakunya yang baik, perhatiannya kepada sesama manusia dan mempunyai kepeduliaan yang tinggi (tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya)
Kesepuluh, Keberadaannya yang telah memberikan kebaikan kepada dunia, disenangi oleh kelompok pro-kebaikan dan keberpihakannya kepada kebenaran, membuat manusia dari kelompok kebatilan menjadi jengkel. Sebab mereka tidak bisa lagi melakukan misinya dalam menyesatkan manusia, memiskinkan masyarakat karena korupsinya dan tidak bisa menguasai sentra-sentra ekonomi yang biasa berputar di sekitar orang-orang kaya dan tertentu saja dari kalangan kaum elit dan tidak berpihak kepada keadlan. ((karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir)
Kesebelas, pengikut Rasulullah saw adalah golongan kaum mu’min yang kuat, baik kuat akidah, kuat ukhuwah, dan kuat ilmu pengetahuan dan profesionalisme. Kekuatan dan potensi itulah yang membuat jengkel manusia dari kelompok kebatilan dan kaum kafir. (dengan kekuatan orang-orang mukmin)
Keduabelas, Jika kriteria-kriteria sebagai pengikut Rasulullah saw itu terwujud, bukan tidak mungkin, Allah akan memberikan kemenangan di dunia, serta kebahagiaan di akhirat. Dan itu semuanya hanya Allah berikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. (Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar).
Semoga, kita yang hidup di akhir zaman ini menjadi pengikut Rasulullah saw yang setia berjalan di atas jalan dan manhajnya. Sehingga memiliki kriteria seperti yang dimilikipara sahabat yang menyetai pejuangan Rasulullah saw. Amin.
Wallahu a’lam bis showab.#
Rabu, 02 April 2008
Membela Kehormatan Rasulullah
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memanggil Rasul seperti kamu memanggil sebagian kamu dengan sebagian lainnya “ (QS. Al-Nahl: ).
Akhir-akhir ini umat Islam sedunia dikejutkan oleh suatu gambar karikatur yang bersifat menghina pribadi Rasulullah saw yang dimuat oleh salah satu harian di Denmark. Dalam gambar nista itu, Raslullah SAW digambarkan seolah-olah seperti seorang teroris. Tidak heran bila kemudian timbul reaksi protes dari umat Islam dunia agar pemerintah Denmark meminta maaf kepada umat Islam. Namun sampai saat ini pemerintah Denmark dengan kesombongannya enggan meminta maaf atas kekeliurannya yang menyinggung perasaan umat Islam tersebut. Bahkan negera Amerika dan negara-negara Eropa dengan sombongnya mendukung sikap Denmark dengan alasan kebebasan berpendapat.
Sikap mereka yang penuh kecongkakan dan arogan itu dikarenakan mereka memiliki sifat phobi (anti) kepada Islam.
Sebagai umat Islam, tentu kita sangat menghormati Nabi Muhammad saw. Bahkan dalam hubungan antar umat beragama, kita tidak pernah menghina agama lain.
Jika kini umat Islam membela kehormatan Nabi dan agamanya, tidak lain karena hal ini pun pernah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW.
Suatu ketika orang-oran Makkah menyeret Zaid bin Dutsnah dari Tanah Haram untuk membunuhnya. Berkatalah Abu sufyan bin Harb, “Demi Allah, wahai Zaid. Bagaimana jika Rasulullah sekarang ada di tempatmu di pedang lehernya, sedang kamu duduk di rumahmu?.”
“Demi Allah,” jawab Zaid mantap, “Bahkan aku tidak rela jika dia di tempatnya kini tertusuk duri sedangkan aku berada di rumahku.”
Pada peristiwa lain, seorang perempuan dari Anshar dtinggal pergi oleh ayah, saudara, dan suaminya ketika perang Uhud meletus. Ketika peperangan sudah usai. Para sahabat menemui beliau dan meyampaikan bahwa ayah, saudara, dan suaminya telah syahid dalam peperangan tersebut. “Bagaimana dengan Rasulullah?” tanyanya. “Alhamdulillah, beliau sebagaimana yang kau inginkan.” jawab sahabat itu. “Mana beliau? Izinkan aku melihatnya.” desak sang perempuan. Tatkala ia berhasil melihat wajah Rasulullah saw, ia berseru dari kedalaman hatinya, “semua musibah terasa ringan setelah melihatmu, wahai Rasulullah saw”.
Kisah lain, tatkala Bilal menghadapi sakaratul maut, keluarga besarnya berkata, “Duhai susahnya!”. Bilal menjawab, “Duhai bahagianya! Esok bertemu kekasih: Rasulullah dan sahabatnya.”
Maha besar Allah. Kisah Zaid bin Dutsnah, Bilal dan seorang perempuan dari Anshar hanyalah sebagian kecil dari potret kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW. Besarnya cinta mereka sampai-sampai mereka rela berpeluh, berdarah-darah bahkan meregang nyawa demi membela Rasulullah SAW. Bagi mereka, Rasulullah SAW bukan sekedar Rasul. Ia adalah pemimpin, sahabat, sekaligus ayah.
Mereka memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Rasululah SAW. Kebaikan, kasih sayang dan perhatian Rasulullah kepada mereka begitu berbekas, sehingga kalau mereka diminta menjelaskan akhlak Rasul, linangan air matalah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Seperti yang dialami oleh Umar bin Khattab, sahabat terkenal galak ini menangis tatkala ada seorang Badui yang bertanya tentang akhlak Rasul.
Subhanallah, seperti apakah sebenarnya akhlak Rasulullah SAW? Istrinya, Aisyah dengan gamblang menggambarkannya sebagai khuluquhul Qur’an. Akhlak beliau itu al-Qur’an. Seakan-akan Aiysah ingin memberitahukan bahwa akhlak Rasulullah itu sangat sempurna, tidak ada cela seperti al-Qur’an. Atau Aisyah ingin menunjukkan bahwa Rasulullah SAW itu al-qur’an berjalan.
Bukan hanya di mata sahabat, kemuliaan akhlak Rasul juga diakui oleh musuhnya. Terbukti dengan masih saja orang-orang musyrik Quraisy menitipkan barang-barangnya kepada beliau, sehingga ketika beliau hendak berhijrah, barang-barang tersebut dikembalikan oleh Ali bin Abi Thalib.
Sikap-sikap para sahabat yang membela pribadi Rasulullah saw tersebut menunjukkan mulianya kedudukan Rasulullah saw. Bahkan dalam al-Qur’an, kemuliaan Rasulullah diabadikan dan dibuktikan oleh firman-firman Allah SWT. seperti firman Allah SWT, “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qolam)
Bahkan dalam hal perintah, tidak ada perintah dari Allah yang dimulai dengan memberi contoh kecuali perintah bersholawat. Sebab dalam perintah shalat atau zakat umpamanya, Allah langsung mengatakan, “dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat”. Namun dalam perintah bersholawat kepada Nabi, Allah memberitahu dahulu bahwa diri-Nya dan para malaikatpun bersholawat kepadanya. Firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menyampaikan sholawat dan salam kepadanya (nabi)’.
Dalam banyak hadits ditegaskan bahwa kecintaan kepada Rasul adalah salah satu indikator keimanan seseorang. Sabdanya, “Aku bersumpah dengan nama Dia (Allah) yang menggenggam hidupku, tidaklah seseorang di antara kalian dipandang beriman sebelum kecintaannya terhadap diriku melebihi kecintaannya terhadap ayahnya dan anaknya.” (HR: Bukhori)
Perintah Allah dan penegasan Rasulullah yang diajarkan dari kecil ini membuat umat Islam terikat hatinya dengan beliau walau tidak pernah bertemu dan bergaul dengannya. Ditambah dengan informasi akhlak beliau yang ada di catatan sejarah, semakin membuat umat Islam merasa terikat dengannya.
Tidak dikatakan cinta kalau diam saja ketika ada yang mengganggu atau menghina kekasihnya. Begitupun ketika Rasul dihina maka sudah seharusnya kita membela kehormatannya. ##
Akhir-akhir ini umat Islam sedunia dikejutkan oleh suatu gambar karikatur yang bersifat menghina pribadi Rasulullah saw yang dimuat oleh salah satu harian di Denmark. Dalam gambar nista itu, Raslullah SAW digambarkan seolah-olah seperti seorang teroris. Tidak heran bila kemudian timbul reaksi protes dari umat Islam dunia agar pemerintah Denmark meminta maaf kepada umat Islam. Namun sampai saat ini pemerintah Denmark dengan kesombongannya enggan meminta maaf atas kekeliurannya yang menyinggung perasaan umat Islam tersebut. Bahkan negera Amerika dan negara-negara Eropa dengan sombongnya mendukung sikap Denmark dengan alasan kebebasan berpendapat.
Sikap mereka yang penuh kecongkakan dan arogan itu dikarenakan mereka memiliki sifat phobi (anti) kepada Islam.
Sebagai umat Islam, tentu kita sangat menghormati Nabi Muhammad saw. Bahkan dalam hubungan antar umat beragama, kita tidak pernah menghina agama lain.
Jika kini umat Islam membela kehormatan Nabi dan agamanya, tidak lain karena hal ini pun pernah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW.
Suatu ketika orang-oran Makkah menyeret Zaid bin Dutsnah dari Tanah Haram untuk membunuhnya. Berkatalah Abu sufyan bin Harb, “Demi Allah, wahai Zaid. Bagaimana jika Rasulullah sekarang ada di tempatmu di pedang lehernya, sedang kamu duduk di rumahmu?.”
“Demi Allah,” jawab Zaid mantap, “Bahkan aku tidak rela jika dia di tempatnya kini tertusuk duri sedangkan aku berada di rumahku.”
Pada peristiwa lain, seorang perempuan dari Anshar dtinggal pergi oleh ayah, saudara, dan suaminya ketika perang Uhud meletus. Ketika peperangan sudah usai. Para sahabat menemui beliau dan meyampaikan bahwa ayah, saudara, dan suaminya telah syahid dalam peperangan tersebut. “Bagaimana dengan Rasulullah?” tanyanya. “Alhamdulillah, beliau sebagaimana yang kau inginkan.” jawab sahabat itu. “Mana beliau? Izinkan aku melihatnya.” desak sang perempuan. Tatkala ia berhasil melihat wajah Rasulullah saw, ia berseru dari kedalaman hatinya, “semua musibah terasa ringan setelah melihatmu, wahai Rasulullah saw”.
Kisah lain, tatkala Bilal menghadapi sakaratul maut, keluarga besarnya berkata, “Duhai susahnya!”. Bilal menjawab, “Duhai bahagianya! Esok bertemu kekasih: Rasulullah dan sahabatnya.”
Maha besar Allah. Kisah Zaid bin Dutsnah, Bilal dan seorang perempuan dari Anshar hanyalah sebagian kecil dari potret kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW. Besarnya cinta mereka sampai-sampai mereka rela berpeluh, berdarah-darah bahkan meregang nyawa demi membela Rasulullah SAW. Bagi mereka, Rasulullah SAW bukan sekedar Rasul. Ia adalah pemimpin, sahabat, sekaligus ayah.
Mereka memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Rasululah SAW. Kebaikan, kasih sayang dan perhatian Rasulullah kepada mereka begitu berbekas, sehingga kalau mereka diminta menjelaskan akhlak Rasul, linangan air matalah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Seperti yang dialami oleh Umar bin Khattab, sahabat terkenal galak ini menangis tatkala ada seorang Badui yang bertanya tentang akhlak Rasul.
Subhanallah, seperti apakah sebenarnya akhlak Rasulullah SAW? Istrinya, Aisyah dengan gamblang menggambarkannya sebagai khuluquhul Qur’an. Akhlak beliau itu al-Qur’an. Seakan-akan Aiysah ingin memberitahukan bahwa akhlak Rasulullah itu sangat sempurna, tidak ada cela seperti al-Qur’an. Atau Aisyah ingin menunjukkan bahwa Rasulullah SAW itu al-qur’an berjalan.
Bukan hanya di mata sahabat, kemuliaan akhlak Rasul juga diakui oleh musuhnya. Terbukti dengan masih saja orang-orang musyrik Quraisy menitipkan barang-barangnya kepada beliau, sehingga ketika beliau hendak berhijrah, barang-barang tersebut dikembalikan oleh Ali bin Abi Thalib.
Sikap-sikap para sahabat yang membela pribadi Rasulullah saw tersebut menunjukkan mulianya kedudukan Rasulullah saw. Bahkan dalam al-Qur’an, kemuliaan Rasulullah diabadikan dan dibuktikan oleh firman-firman Allah SWT. seperti firman Allah SWT, “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qolam)
Bahkan dalam hal perintah, tidak ada perintah dari Allah yang dimulai dengan memberi contoh kecuali perintah bersholawat. Sebab dalam perintah shalat atau zakat umpamanya, Allah langsung mengatakan, “dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat”. Namun dalam perintah bersholawat kepada Nabi, Allah memberitahu dahulu bahwa diri-Nya dan para malaikatpun bersholawat kepadanya. Firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menyampaikan sholawat dan salam kepadanya (nabi)’.
Dalam banyak hadits ditegaskan bahwa kecintaan kepada Rasul adalah salah satu indikator keimanan seseorang. Sabdanya, “Aku bersumpah dengan nama Dia (Allah) yang menggenggam hidupku, tidaklah seseorang di antara kalian dipandang beriman sebelum kecintaannya terhadap diriku melebihi kecintaannya terhadap ayahnya dan anaknya.” (HR: Bukhori)
Perintah Allah dan penegasan Rasulullah yang diajarkan dari kecil ini membuat umat Islam terikat hatinya dengan beliau walau tidak pernah bertemu dan bergaul dengannya. Ditambah dengan informasi akhlak beliau yang ada di catatan sejarah, semakin membuat umat Islam merasa terikat dengannya.
Tidak dikatakan cinta kalau diam saja ketika ada yang mengganggu atau menghina kekasihnya. Begitupun ketika Rasul dihina maka sudah seharusnya kita membela kehormatannya. ##
Langganan:
Postingan (Atom)