Jumat, 31 Mei 2019

Ucapan “Minal Aidin wal Faizin - Mohon Maaf Lahir Batin” Bukan Bid’ah


Sentilan-Sentilun Ramadhan

Oleh: Muhammad Jamhuri



“Ustadz, saya baca broadcast di WA, katanya mengucapkan kata “Minal Aidin wal Faizin-Mohon Maaf Lahir Batin” di hari raya itu adalah perbuatan bid’ah. Apa betul, ustadz?” Tanya jamaah peserta i’tikaf.

“Kalau perbuatan itu dianggap bid’ah saja, maka jawabannya ‘iya’. Sama dengan protes sahabat-sahabat kepada Umar bin Khattab saat beliau mengumpulkan taraweh dengan berjamaah yang belum pernah dilakukan Nabi saw dan Abu Bakar sebelumnya, “Bukankah ini perbuatan bid;ah?”. Umar menjawab, “Ini bid’ah yang baik”. Bahasa arabnya “Ni’matul bid’ah hadzihi”. Malah kalau diartikan letterlooknya “Sebaik-baik bid’ah, ya inilah”. Jadi ada bid’ah yang bukan sekedar baik tuh, tapi sebaik-sebaik, lebih baik dari yang baik. Ya kan?. Apa itu? Ya..dalam contoh ini shalat taraweh berjamaah yang “dibuat-buat” Umar bin Khattab.” Jawab ustadz santai..

“Tapi kan ustadz, bukankah Rasulullah saw telah mengajarkan ucapan yang sesuai dengan sunnah, yaitu “Taqabbalallahu Minna wa Minkum?” Sanggah jamaah.

“Nah, itu yang terbaik. Apa saja yang datang dari Nabi saw itu yang terbaik. Amalkan dengan rasa semangat dan kecintaan...” Jawab ustadz menyarankan.

“Kalau begitu, ustadz setuju yang mana, ucapan “taqabbalallahu Minna wa Minkum?” atau “Minal Aidin wal Faizin-Mohon Maaf Lahir Batin”? Tanya jamaah minta kepastian.

“Saya gak setuju dengan yang pertama” Jawab ustadz santai..

“Lho?, kan yang pertama itu ucapan dari Nabi, ustadz? Kok ustadz malah gak setuju?” protes jamaah.

“Bukan, Saya gak setuju yang pertama itu, maksudnya, isi statemen dalam pertanyaan Bapak, bahwa mengucapkan kata “Minal Aidin wal Faizin-Mohon Maaf Lahir Batin” itu adalah perbuatan bid’ah. Jika bid’ah itu diartikan sebagai bid’ah yang sesat. Saya gak setuju” . Jawab ustadz.

“Maksud ustadz,?” Tanya jamaah penasaran

“Begini, Ucapan “Minal Aidin wal Faizin-Mohon Maaf Lahir Batin” itu adalah kearifan lokal, bukan mau merubah apalagi menyaingi apa yang disunnahkan Nabi saw. Ucapan ini sudah enak terdengar di telinga orang Indonesia dan mereka memahami maksudnya, ehm..walaupun belum semua masyarakat tahu makna bagian pertama ucapan itu, yakni “minal aidin wal faizin”. Jadi, kearifan lokal jangan dibenturkan dengan sunnah dan bid’ah. Sebagai contoh, khutbah idul fitri atau khutbah idul adha, hampir semua khatib di Tanah Air, selain bacaan rukun khutbah, mereka menggunakan bahasa Indonesia bahkan bahasa daerah untuk menyampaikan pesan-pesan khutbahnya kepada masyarakat. Lalu apakah khutbah dengan bahasa Indonesia atau daerah itu kita sebut bid’ah?. Nggak Kan?, baik Rasulullah saw maupun sahabat dan Tabi’in belum pernah mencontohkan khutbah pakai bahasa selain bahasa Arab kan? . Khutbah kan juga ibadah lho..? Lalu kenapa para ulama membolehkan khutbah dengan bahasa lokal? Karena agar pesan-pesan kebaikan itu sampai kepada jamaah dan masyarakat. Itulah yang saya katakan “kearifan lokal”.
Nah, pada saat kita mengucapkan “Mohon Maaf Lahir Batin” maka pesan ucapan kita sampai kepada orang yang kita ajak bicara. Itu kira-kira” Jelas ustadz

“Tapi kan, kata “Minal Aidin Wal Faizin” juga bahasa Arab, ustadz? Tidak semua masyarakat Indonesia mengerti artinya? Bahkan ada yang salah kaprah, makna “minal aidin wal faizin” diartikan “Mohon Maaf lahir batin” padahal kan artinya “Semoga menjadi orang yang kembali dan beruntung”? Bukankah ini perlu diluruskan, ustasz?” . Sanggah Jamaah

“Nah...itu, bapak ngerti bahasa Arab...hehehe..jangan-jangan bapak juga seorang ustadz nih..? atau setidaknya pernah nyentren di pesantren nih....iya kan?” Tanya ustadz bercanda.

“Ah pak ustadz......Memang sih pak ustadz, saya pernah ikut pesantren.” Jawab Jamaah

“di Pesantren mana..?”. Tanya ustadz

”di Pesantren KILAT..!” Jawab Jamaah santai

“Astagfirullah...untung gak kesamber geledek saya.  Kirain pesantren beneran gitu.”. Sahut ustadz

“Jadi, gimana dong ustadz, jawaban pertanyaan saya tadi..?” Jamaah mengalihkan pembicaraan

“Itulah hebatnya orang Indonesia. Saking semangatnya mau menyebarkan dan mensyiarkan bahasa Arab, banyak “moment” yang tidak ada di Arab dan menjadi ciri khas Indoensia lalu di arab-arabkan, dan itu positif untuk pengembangan bahasa Arab. Setidaknya secara vocabulary. Contoh: kata”Halal bi Halal”. Kata ini Cuma ada di Indonesia, pahadal itu bahasa Arab. Dan di Arab sendiri gak ada istilah “Halal bi Halal”. Tapi baik kan isi acaranya? Saling silaturrahmi dan saling memaafkan?. Terus contoh lain. Di Toilet-toilet masjid bahkan di Pom Bensi (SPBU), ada toilet khusus pria dan toilet khusus wanita, namun tulisannya “IKHWAN” untuk toilet pria dan “AKHWAT” untuk toilet wanita. Nah, ini kan hal positif? Masyarakat jadi ngerti dan kenal bahasa Arab?. Begitu juga dengan kata “Minal Aidin wal Faizin” yang berarti “Semoga kembali (kepada fitroh) dan menjadi orang yang beruntung”. Kata ini gak pernah ada dan gak dipergunakan oleh orang-orang Arab, -kebetulan saya pernah tinggal 6 tahun lho di Arab - tapi kata itu dipake oleh orang Indonesia yang semangat “meng-arabkan” Imdonesia. Jadi, ini adalah kearifan lokal yang disemangati oleh bahasa al-quran. Karena itu, ini bukan bid’ah yang disesatkan itu.” Jelas ustadz panjang lebar.

“Tapi, kok masyarakat sering memahami kata “Minal Aidin wal Faizin” dengan makna “Mohon maaf lahir batin, Ustadz?” Sanggah jamaah.

“Gini, kesalahan anggapan makna itu ada. Cuma saya melihat begini... Suatu kata bisa dikatakan indah kalau akhiran-nya antara kata-kata atau kalimat itu sama. Sehingga kata dan kalimat itu bisa bernilai puitis, indah dan enak di dengar. Nah. Pada kalimat “Minal Aidin wal Faizin” itu kan berakhir dengan huruf “I” dan “N” sehingga berbunyi “IN”. Kemudian kata “Mohon maaf lahir batin” pun diakhir dengan “I” dan “N” yang juga berbunyi “IN”. Karena kedua kata berakhiran sama, maka enak didengar. Kalau kalimat “Minal Aidin wal Faizin” kita terjemahkan apa adanya, sepertinya agak sulit membuat kata puitis yang enak didengar.
Belum lagi maksud si pengucap ucapan idul fitri ingin mengumpulkan dua hubungan dalam pergaulan, yakni hubungan dengan Allah berupa doa “Minal Aidin wal Faizin”, juga hubungan sesama manusia berupa permohon maaf “Mohon maaf lahir dan batin”.
Jadi, menurut saya...ini adalah kekayaan dan kearifan lokal yang disemangati oleh ghiroh agamis. Bayangkan kalau disemangati oleh sekuler...apa jadinya?. Jadi, yang namanya budaya, baik-buruknya, dilatar belakangi oleh ‘civilazation dan culture”. Dan alhamdulillah kultur masyarakat kita banyak dilatar belakangi oleh ajaran agama Islam.” Jelas ustadz panjang lebar

“Oh ya.. satu hal lagi kearifan lokal kita.... Yaitu budaya memasak ketupat di setiap Idul Fitri. Bahkan, Kepolisiam saja menamai “Operasi Lebarannya” dengan istilah “Operasi Ketupat”. Dikarenakan lebaran atau idul fitri identik dengan suguhan masakan ketupat. Ini juga kan..kearifan lokal? Coba deh.. di Arab sana, ada gak ketupat sebagai makanan khas idul fitri mereka? Ada gak ketupat di zaman Nabi dan para sahabat? Gak kan? Lalu apa kita bilang ketupat di idul fitri itu bidah  yang sesat?...gak kan? Nah, itulah kearifan lokal.” Tambah ustadz

“Dengan penjelasan tentang kelebihan ucapan “minal aidin wal faizin-mohon maaf lahir batin” tadi, berarti pak ustadz setuju kalau ucapan itu lebih baik dari ucapan “Taqabbalallahu Minna wa minkum?” Tanya ustadz penasaran.

“Kan sudah saya sampaikan di awal, bahwa , itu yang terbaik. Apa saja yang datang dari Nabi saw itu yang terbaik. Amalkan dengan rasa semangat dan kecintaan...Jikapun saya jelaskan panjang lebar tentang ucapan “Minal Aidin wal-faizin-mohon maaf lahir batin” untuk menjelaskan bahwa in adalah kearifan dan khazanah lokal yang tidak perlu dibenturkan dengan sunnah-bid’ah. Jadi tetap.. apa yang datang dari Nabi, ambillah! (wa maaa ataakumu al-rasul fa khuzhuuhu, apa yang didatangkan Rasul padamu ambillah !).. tetapi yang tidak dilarang nabi saw serta baik jangan dicegah dan dilarang... karena ayatnya hanya yang dilarang Nabi yang harus dicegah (wa maa nahaakum ‘anhu fantahuuu..), adapaun kearifan yang tidak ada nash yang melarangnya, lalu ia baik dan tidak melanggar agama...tidak usah disebut sesat...Gitu luh...
Selain itu dalam ucapan “Taqabbalallhu Minna wa minkum” juga mengandung dua hubungan vertikal dan horizantal..karena kita pun mendoakan saudara kita.
Usul saya, saat bersalaman di idul fitri nanti, ucapkan tahniah yang diajarkan Nabi, kemudian karena tidak semua orang paham maknanya, silakan tambahin dengan tahniah kearifan lokal. Dan jika Bapak merasa terlalu panjang, ya ucapkan saja tahniah yang diajarkan Nabi. Namun kaalu ada yang mengucapkan tahniah lokal, jangan dituduh ahli bid’ah.....gitu aja repott”  Jelas ustadz.

“Alhamdulillah... jadi jelas ustadz, malam ini saya dapat pencerahan..” Ujar jamaah

“Itulah manfaat dari kita beri’tikaf. Dalam itikaf kita dapat beribadah, dapat ruhiyah, dapat ilmiyah, dapat ukhuwah, dan ayam serta kuwah.....he..he..  Oh ya..ngomong-ngomong Bapak itikafnya full kan sepuluh hari..?” Tanya ustad

“He..he.. maaf pak ustadz,...saya iktikafnya malam doang...kalau siang saya masih harus masuk kantor.” Jawab ustadz

“ini..ni..nih... yang namanya “Itikaf ala kalong alias kampret”, malam nampak- siang gak nampak. Tahun depan niatkan dan ‘azamkan ya itikaf sepuluh hari?, itikaf ala Nabi...jangan itikaf ala kampret melulu...” ujar ustadz menasehati.

Kan, Kearifan lokal, pak ustadz..he..he....i’tikafnya malam doing..hehe,,” Jawab jamaah

“Ha..ha... kampret lokal itu mah..! Ya sudah sana,, tilawah....saya juga mau tadarus nih....” Kata Ustadz.

“Daripada  ceboooong…pak ustadz?hehe” Jamaah menimpali..

“Huss…udah….sana tilawah…” Ustad menutup percakapan.






Kamis, 30 Mei 2019

Mengapa Makan Saat Buka Puasa Lebih Nikmat?


Sentilan-Sentilun Ramadhan

Oleh: Muhammad Jamhuri
 
“Pak ustadz, kenapa ya makan saat buka puasa terasa lebih nikmat, dibanding makan biasa?” Tanya jamaah saat acara bukber.

“Ini nanya atau curhat nih?” Ustadz balik bertanya.

“Ini pertanyaan ustadz, apa sih hikmahnya?” Tanya jamaah

“Kalau ditanya kenapa makan saat buka puasa itu lebih nikmat?, maka jawabannya bisa macam-macam. Boleh jadi karena seharian kita tidak makan dan minum, sehingga pada saat berbuka puasa maka makanan terasa enak. Bisa juga karena saat berbuka puasa, menu makanannya special dibanding saat suasana selain buka puasa.” Jawab ustadz

“Oh ya benar, tapi mungkin ada hikmah lain pak ustadz? Kan katanya ada hadist mengatakan, “bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Pertama bahagia saat berbuka puasa, dan bahagia saat bertemu dengan Tuhannya.” Maksud hadist itu apa ustadz.?” Tanya jamaah lagi penasaran.
“Nah.... pertanyaannya bagus nih. Begini, karena puncak kebahagiaan itu hanya ada setelah melewati perjuangan.” Tegas ustadz singkat.

“Maksudnya...?” Tanya jamaah penasaran.

“Saya tanya, mana yang lebih nikmat antara saat buka puasa dengan santap sahur?” Tanya ustadz.
“Mmmmmm...(sambil mikir membandingkan). Santap sahur memang nikmat, tapi masih lebih nikmat santap buka puasa, pak ustadz.” Jawab jamaah.

“Nah..mengapa demikian? Karena saat berbuka puasa kita telah melewati perjuangan. Yaitu perjuangan melawan hawa nafsu. Kita tidak makan dan minum. Pada saat kita telah melewati perjuangan itu dengan baik, maka kita akan merasa puas dan bahagia. Dan kebahagiaan itu bukan hanya enak di tenggorokan atau lidah kita, tapi kebahagiaan itu menyerap sampai ke batin kita. Itulah sebabnya, kenikmatan berbuka puasa hanya dirasakan oleh oleh orang yang melewati ujian dan perjuangan. Coba tanyakan kepada yang hadir dalam acara bukber ini. Nah, di sana hadir tuh orang yang tidak sedang berpuasa. Apakah mereka merasakan kenikmatan yang dirasa oleh orang yang sedang berpuasa? Pasti tidak. Padahal menunya sama, porsinya sama. Namun kebahagiaan dan kenikmatan dia hanya sampai mulut dan tenggorokan. Namun bagi orang yang berpuasa, rasa nikmat dan bahagia menyerap sampai ke dalam batin. Intinya, PUNCAK KENIKMATAN ITU ADA PADA PASCA MELEWATI PERJUANGAN. Itulah rahasia hadits tadi. Belum lagi kebahagiaan saat bertemu dengan Allah.” Ustadz menjelaskan panjang lebar .

“Lalu, yang dimaksud dengan bahagia saat bertemu dengan Tuhannya, apa pak ustadz?” Tanya jamaah lagi.

“Begini, satu-satunya ibadah yang amalannya tidak terlihat orang lain adalah puasa. Iya kan? Coba deh kalau kita shalat, masih kelihatan orang kan? Apalagi ibadah haji? Iya gak?. Nah oleh sebab itu dalam hadits Qudsi Allah swt menyatakan bahwa ibadah puasa spesial untuk-Ku, dan aku senidiri yang urus balasannya. Ini menunjukkan keagungan ibadah puasa ini. Nah, jika Bapak disuruh secara rahasia oleh atasan bapak untuk melakukan tugas, lalu cuma bapak dan atasan yang tahu tentang misi rahasia itu, kemudian bapak melaksanakannya dengan baik. Kira-kira apa yang bapak dapatkan dari atasan bapak? Pasti sesuatu yang istimewa kan?dan bagaimana perasaan bapak saat menerima hadiah atau imbalan yang istemewa itu? Pasti bahagia dong..? Nah...begitu juga dengan orang yang berpuasa, dia dengan segala kepatuhannya melaksanakan tugas rahasia dari tuhannya, maka saat bertemu dengan Allah Sang Pencipta Alam pastinya orang itu akan bahagia, terlebih mendapat balasan dari Tuhannya yang Maha Pengasih dan Penyayang itu. “ Ustadz menerangkan panjang lebar..

“Pak ustdaz, sudah iqomat tuh..Yuk kita shalat maghrib. Oh ya pak ustadz, sering-sering ngundang bukber lagi ya?, buka puasanya nambah satu lagi hikmahnya.” Ujar jamaah sebelum sambil menju masjid.

“Apa tuh? nambah satu lagi hikmahnya,” Tanya ustadz

“Gratiistiiiiiiiiiis….pak ustadz”..seloroh sambil jalan ke masjid.


Rabu, 29 Mei 2019

Bolot : Orang Yang Gak Puasa Gak Boleh Ikut Lebaran


Sentilan-Sentilun Ramadhan

Oleh: Muhammad Jamhuri
“Pak ustadz, apa benar orang yang tidak berpuasa  itu tidak boleh ikut lebaran?” Tanya seorang peserta itikaf

“Boleh” Jawab ustadz tenang.

“Lho? Waktu saya kecil, orang tua saya dan guru saya bilang, orang yang gak puasa gak boleh ikut lebaran?” Tanya jamaah penasaran.

“Boleh !, wong jangankan orang yang gak puasa, orang Cina, orang kafir aja pada ikut lebaran kok?, iya toh?” ustadz meyakinkan. “Bahkan, yang memanfaatkan dan merayakan lebaran justru orang-orang kafir”. Tambah ustadz

“Maksud pak ustadz?” Jamaah tanya lagi penasaran.

“Lha, adanya ramadhan dan lebaran, yang paling merayakan keuntungan siapa? Mayoritas orang kafir kan? Yang punya pabrik kecap siapa? Pabrik sirop? Garmen? Mall-mall?mini market? Kan mayoritas pemiliknya orang kafir? Dan dagangan mereka laku keras kan?” Ustdaz mencoba meyakinkan.

“Hmm..iya sih....Tapi ustadz, bukan itu maksud saya, nanti di hari lebaran itu lho, yang boleh merayakan lebaran hanya yang berpuasa kan?” kata jamaah minta penegasan.

“Tetap.......saat lebaran juga orang kafir boleh  merayakan, bahkan mereka paling lama merayakannya. Buktinya, sebelum lebaran mereka sudah berliburan dan berlebaran  jalan-jalan dan tamasya ke luar negeri menikmati keuntungan selama ramadhan. Kalau kita yang muslim, paling kuat jalan-jalan ke kuburan, ziarah”  Ustadz menyanggah sekaligus menegaskan bahwa lebaran itu milik semua.

“Kalau semua boleh merayakan lebaran, kalau gitu apa dong keistimewaan orang yang berpuasa? Kalau yang ikut lebaran boleh siapa saja, apa gunanya kita berpuasa kalau begitu?” Tanya jamaah pasrah dengan wajah yang nampak muram

“Begini, harus dibedakan dulu antara” Lebaran” dan “Idul Fitri”. Lebaran itu adalah tradisi yang bisa dilakukan siapa saja, baik orang yang puasa atau yang tidak puasa, baik  muslim maupun kafir. Tapi yang namanya “idul fitri” adalah kembali kepada kesucian, setelah dosa-dosanya diampuni dan amal ibadahnya diterima Allah swt.  Seseorang menjadi seperti seorang bayi yang kembali kepada kesucian. Nah, idul fitri dalam makna inilah hanya dapat dirayakan dan dirasakan oleh orang yang beribadah dengan baik selama bulan Ramadhan. Sedangkan orang yang tidak berpuasa tanpa uzur, apalagi dia kafir, mereka tidak merasakan dan merayakan idul fitri.” Jelas ustadz panjang lebar.

“Nah..itu tuh  maksud pertanyaan saya tadi pak ustadz” Tutur jamaah sambil mulai tersenyum.

“Harusnya dari awal pertanyaan bapak tuh begini, ‘orang yang gak puasa bisa ikut idul fitri gak?. Gitu, pak” Ustadz meluruskan.

“Kan dari awal juga saya tanya begitu ustadz..?” ujar jamaah mengeles.

“Maaf,  bapak pernah menyaksikan aksi pelawak bernama BOLOT gak?” kini ustadz yang bertanya.

“Pernah, pak ustadz.” Jawab jamaah, “Memang kenapa, pak ustadz..” tanya lagi

“Nanti malam, ada acara Opera Van Java,  kata iklan TV,  Bolot akan menjadi bintang tamu..” Ustadz memberi informasi

“Terus?” tanya jamaah.

“Tonton sampai abis ya?  Dan perhatiin, dia ngomong “lebaran” atau “idul fitri”?

“Baik ustadz....” jawab jamaah..

“Lha...bukannya bapak sedang  i’tikaf?kok mau nonton TV? ” Tanya ustadz.

“Oh iya, saya bolot eh lupa amat ya?” jawabnya..