Tadzkirah Tentang Sābiqah, Keikhlasan, dan Adab Berjamaah
Oleh : KH. Wildan Hakim, Lc. MA,
Saudaraku
di jalan Allah...
Duduklah
sebentar bersama hatimu.
Bukan
bersama jabatanmu.
Bukan
bersama sejarahmu.
Bukan
bersama nama-nama besar yang pernah berjalan bersamamu.
Bukan
bersama kenangan tentang masa ketika engkau berdiri di barisan paling depan.
Duduklah
hanya bersama hatimu.
Lalu
tanyakan kepadanya dengan perlahan:
"Wahai
hati, setelah sejauh ini engkau berjalan... masihkah Allah menjadi satu-satunya
alasan engkau bertahan?"
Sebab ada
penyakit yang tidak datang ketika seorang da‘i baru mengetuk pintu dakwah.
Ia justru
terkadang datang setelah puluhan tahun ia tinggal di dalam rumahnya.
Ia datang
ketika rambut mulai memutih.
Ketika
langkah tidak lagi secepat dahulu.
Ketika
nama mulai dikenal.
Ketika
manusia mulai memanggil kita dengan penghormatan.
Ketika
kita telah melewati begitu banyak musim perjuangan; menyaksikan orang datang
dan pergi, merasakan pahitnya jalan, memikul amanah ketika jumlah manusia masih
sedikit, mengorbankan harta, waktu, tenaga, bahkan mungkin sebagian kehidupan
yang tidak pernah diketahui orang lain.
Semua
itu indah.
Semua
itu adalah sābiqah.
Dan
betapa beruntungnya seseorang yang telah diberi Allah umur panjang dalam
ketaatan dan perjuangan.
Tetapi,
saudaraku...
Justru
ketika perjalanan telah panjang, debu yang menempel pada pakaian semakin
banyak.
Dan tidak
semua debu perjalanan tampak oleh mata.
Ada debu
yang menempel pada hati.
Namanya:
merasa
berjasa.
---
KETIKA
MASA LALU MULAI BERBICARA
Pada
mulanya ia hanya bisikan kecil.
Hampir
tidak terdengar.
"Aku
lebih dahulu daripada mereka."
Kemudian
bisikan itu tumbuh.
"Aku
sudah berada di sini ketika mereka bahkan belum mengenal jalan ini."
Lalu
ia menjadi semakin berani.
"Aku
ikut membangun semua ini."
Kemudian
suatu hari ia berubah menjadi tuntutan yang tidak terucapkan:
"Maka
seharusnya aku lebih didengar."
"Seharusnya
aku lebih dihormati."
"Seharusnya
aku lebih diperhitungkan."
"Bukankah
aku mempunyai jasa?"
Ah...
Pada saat
itulah seorang da‘i seharusnya gemetar.
Bukan
karena masa lalunya buruk.
Justru
karena masa lalunya terlalu indah untuk dirusak oleh perasaan semacam itu.
Bukankah
dahulu engkau memberikan semuanya kepada Allah?
Bukankah
dahulu ketika engkau berjalan malam-malam menuju majelis dakwah, tidak seorang
pun mengetahui kelelahanmu?
Bukankah
dahulu ketika engkau mengeluarkan hartamu, engkau tidak meminta namamu
dituliskan?
Bukankah
dahulu ketika engkau membina manusia, engkau hanya berharap suatu hari mereka
mengenal Rabb mereka?
Lalu
mengapa sekarang engkau membuka kembali buku amal yang dahulu telah engkau
serahkan kepada Allah...
dan mulai
menghitung-hitungnya di hadapan manusia?
Allah berfirman:
«يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ
قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ
هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Mereka
merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, ‘Janganlah kamu
merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah-lah yang
melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu
orang-orang yang benar.’”
(QS
Al-Ḥujurāt: 17)»
Betapa
lembut...
dan
betapa menghancurkan kesombongan ayat ini.
Manusia
berkata:
"Aku
telah memberi."
Langit menjawab:
بَلِ
اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ
"Justru
Allah-lah yang telah memberikan karunia kepadamu."
Engkau
merasa telah menghidupi dakwah?
Tidak,
saudaraku.
Barangkali
dakwahlah yang selama ini menjaga agar hatimu tetap hidup.
Engkau
merasa telah memberikan umurmu kepada jalan ini?
Barangkali
jalan inilah yang menyelamatkan umurmu agar tidak habis untuk sesuatu yang
tidak akan engkau bawa ke kubur.
Engkau
merasa telah membesarkan jamaah?
Barangkali
jamaah inilah yang dahulu menjadi madrasah tempat Allah membesarkan jiwamu.
Di
sinilah seorang da‘i harus mengubah cara memandang sejarahnya.
Bukan:
"Berapa
banyak yang telah kuberikan kepada dakwah?"
Tetapi:
"Ya
Allah... betapa banyak yang Engkau berikan kepadaku melalui dakwah."
---
SĀBIQAH
BUKANLAH SINGGASANA
Saudaraku...
Pengalaman
adalah cahaya apabila dibawa dengan tawadhu‘.
Tetapi ia
dapat berubah menjadi hijab apabila dibawa dengan kesombongan.
Sābiqah
adalah kemuliaan apabila membuat kita semakin lembut.
Tetapi ia
menjadi ujian ketika membuat kita merasa memiliki hak lebih besar daripada
saudara kita.
Maka
jangan bangun singgasana dari tahun-tahun pengabdianmu.
Jangan
jadikan luka-luka lama sebagai mahkota.
Jangan
jadikan pengorbananmu sebagai kuitansi yang suatu hari engkau sodorkan kepada
jamaah.
Sebab
sesuatu yang telah engkau jual kepada Allah...
jangan
engkau jual untuk kedua kalinya kepada manusia.
Semakin
panjang umurmu dalam dakwah, semestinya semakin sedikit engkau berbicara
tentang jasamu.
Semakin
banyak manusia yang pernah engkau bina, semakin sering engkau bertanya dalam
sunyi:
"Ya
Allah, apakah aku benar-benar membawa mereka kepada-Mu... atau diam-diam
membuat mereka terikat kepadaku?"
Semakin
tinggi engkau pernah berdiri dalam struktur, semakin dalam engkau bertanya:
"Apakah
aku dahulu seorang khādim bagi dakwah... atau perlahan aku mulai berharap
dakwah menjadi khādim bagi diriku?"
Dan
pertanyaan itu sakit.
Biarkan
ia sakit.
Sebab ada
luka yang justru menyelamatkan hati.
---
KETIKA
KITA MENCINTAI TEMPAT KITA LEBIH DARIPADA RISALAH KITA
Ada suatu
hari ketika Allah menguji seorang da‘i bukan dengan memberinya amanah...
tetapi
dengan mengambil amanah itu darinya.
Dahulu ia
menangis:
"Ya
Allah, gunakanlah aku."
Lalu
Allah menggunakannya.
Bertahun-tahun.
Namanya
dikenal.
Pendapatnya
didengar.
Langkahnya
diikuti.
Kemudian
datanglah masa ketika Allah memindahkan amanah itu kepada pundak yang lebih
muda.
Dan
tiba-tiba hatinya terluka.
Di
sinilah sebuah pertanyaan turun seperti hujan malam ke dalam jiwa:
Apa
sebenarnya yang selama ini engkau cintai?
Dakwah?
Atau
tempatmu di dalam dakwah?
Risalah?
Atau
peranmu dalam risalah?
Allah?
Atau
perasaan bahwa engkau dibutuhkan dalam perjuangan menuju Allah?
Pertanyaan
terakhir itu sangat halus.
Sebab
nafsu terkadang rela mengenakan pakaian dakwah.
Ia
berbicara tentang maslahat.
Tentang
pengalaman.
Tentang
sejarah.
Tentang
penghormatan kepada senior.
Padahal
jauh di sebuah sudut hati, mungkin hanya ada seorang manusia tua yang takut
tidak lagi dianggap penting.
Saudaraku...
Jangan
takut menjadi tidak penting di mata manusia.
Takutlah
menjadi tidak bernilai di sisi Allah.
---
BIARKAN
MEREKA TUMBUH MELEBIHIMU
Seorang
murabbi sejati seperti pohon tua.
Ia tidak
marah ketika tunas-tunas kecil tumbuh lebih tinggi daripada rantingnya.
Ia justru
memberikan tanahnya.
Memberikan
teduhnya.
Memberikan
buahnya.
Dan
ketika musimnya selesai, ia rela daun-daunnya gugur agar tunas baru mendapatkan
cahaya.
Begitulah
seharusnya generasi dakwah bertemu.
Yang tua
tidak berdiri di depan matahari sehingga generasi muda hidup dalam
bayang-bayangnya.
Yang muda
tidak mencabut akar karena merasa daun-daunnya lebih hijau.
Yang tua
memberikan hikmah tanpa mendominasi.
Yang muda
membawa tenaga tanpa kehilangan adab.
Lalu
keduanya berjalan bersama.
Sebab
dakwah bukan tentang siapa yang paling lama berada di dalam perahu.
Dakwah
adalah tentang apakah perahu itu tetap menuju Allah.
Maka
apabila suatu hari orang yang dahulu engkau bina berdiri lebih tinggi darimu...
tersenyumlah.
Apabila
ia berbicara lebih baik darimu...
bersyukurlah.
Apabila
ia memimpin sementara engkau duduk mendengarkan...
doakanlah.
Dan
bisikkan kepada hatimu:
"Bukankah
dahulu inilah yang aku minta kepada Allah—lahirnya generasi yang mampu
melanjutkan perjalanan?"
Janganlah
engkau menanam pohon lalu bersedih ketika orang lain memakan buahnya.
Bukankah
seorang penanam sejati memang menanam untuk hari yang mungkin tidak sempat ia
saksikan?
---
JANGAN
RUSAK AMAL LAMA DENGAN PENYAKIT YANG DATANG BELAKANGAN
Saudaraku...
Ada
sesuatu yang lebih menyedihkan daripada tidak memiliki sejarah perjuangan.
Yaitu
memiliki sejarah perjuangan yang panjang...
kemudian
menjadikannya alasan untuk membesarkan diri.
Dahulu
engkau datang tanpa nama.
Jangan
sampai setelah memiliki nama, engkau kehilangan hati yang dahulu membawamu
datang.
Dahulu
engkau bersedia duduk di mana saja.
Jangan
sampai setelah lama berjalan, engkau hanya mau duduk di kursi yang sesuai
dengan perasaan tentang siapa dirimu.
Dahulu
engkau bahagia ketika dakwah maju.
Jangan
sampai sekarang engkau hanya bahagia apabila dakwah maju melalui tanganmu.
Dahulu engkau berkata:
نَحْنُ
جُنُودُ الدَّعْوَةِ
"Kita
adalah prajurit dakwah."
Maka
tetaplah menjadi prajurit.
Di depan,
bekerjalah.
Di
belakang, bekerjalah.
Disebut
namamu, bekerjalah.
Dilupakan
namamu, bekerjalah.
Dipandang
manusia, bekerjalah.
Tidak
seorang pun melihatmu, tetaplah bekerja.
Sebab
mata yang dahulu engkau cari bukan mata manusia.
Ia adalah
mata langit.
---
DI PUNCAK
KEMENANGAN, ALLAH MENGAJARKAN ISTIGHFAR
Ketika
perjalanan Rasulullah ﷺ
sampai pada kemenangan...
ketika
manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah...
ketika
perjuangan panjang itu memperlihatkan buahnya...
Allah
tidak memerintahkan beliau menghitung jasa.
Allah berfirman:
«إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ
بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan
kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh,
Dia Maha Penerima tobat.”
(QS An-Naṣr: 1–3)»
Betapa menakjubkan.
Di ujung kemenangan ada istighfar.
Di puncak keberhasilan ada ketundukan.
Ketika
bumi seakan berkata, “Engkau telah berhasil,” langit mengajarkan:
وَاسْتَغْفِرْهُ
"Mohonlah ampun kepada-Nya."
Seakan Allah mendidik para pemikul dakwah
sepanjang zaman:
"Ketika
manusia menghitung jasamu, hitunglah kekuranganmu."
"Ketika
manusia menyebut namamu, sebutlah nama Tuhanmu."
"Ketika
manusia mengangkatmu, rebahkan jiwamu di hadapan-Ku."
"Dan
ketika engkau melihat buah perjuanganmu, jangan berkata: ini karena aku.
Katakanlah: ini karena rahmat-Nya."
---
WAHAI
PARA PENDAHULU JALAN...
Engkau
yang rambutnya telah memutih bersama dakwah...
Engkau
yang pernah berjalan ketika jalan ini masih sunyi...
Engkau
yang mengenal pahitnya hari-hari pertama...
Engkau
yang mungkin telah kehilangan harta, waktu, kesempatan, bahkan sebagian
kenyamanan hidupmu...
Jangan
kotori keindahan semua itu dengan meminta manusia mengenangnya.
Biarkan
Allah yang mengingatnya.
Sungguh...
Allah
tidak pernah lupa.
Mungkin
manusia lupa malam ketika engkau menangis.
Allah
tidak lupa.
Mungkin
generasi sesudahmu tidak tahu berapa banyak yang dahulu engkau korbankan.
Allah
tahu.
Mungkin
namamu tidak disebut dalam sejarah.
Tetapi
langit tidak membutuhkan buku sejarah manusia untuk mengenali hamba yang
ikhlas.
Maka
mengapa hatimu gelisah ketika manusia lupa...
jika
Allah tidak pernah lupa?
---
DAN SUATU
HARI, SENJA ITU AKAN DATANG
Saudaraku...
Suatu
hari kita semua akan menjadi cerita.
Kursi
yang dahulu kita duduki akan ditempati orang lain.
Nomor
kita tidak lagi dihubungi ketika keputusan besar hendak dibuat.
Nama kita
perlahan menghilang dari percakapan.
Generasi
baru datang.
Mereka
membawa bahasa mereka sendiri.
Cara
mereka sendiri.
Mungkin
mereka tidak mengenal kita.
Mungkin
mereka duduk di ruangan yang dahulu kita bangun, tanpa mengetahui siapa yang
dahulu mengangkat batu pertama.
Tidak
mengapa.
Sungguh...
tidak
mengapa.
Biarkan
mereka tidak mengenal nama kita.
Asalkan
mereka mengenal Allah.
Biarkan
mereka tidak mengetahui siapa yang menanam pohonnya.
Asalkan
mereka masih dapat memakan buahnya.
Biarkan
mereka tidak pernah mendengar cerita tentang air mata kita.
Asalkan
air mata itu dahulu benar-benar jatuh karena Allah.
Sebab
bukankah sejak awal kita berkata bahwa perjalanan ini adalah milik-Nya?
Lalu
mengapa pada penghujung perjalanan kita ingin mengambil sedikit darinya untuk
nama kita sendiri?
---
SEBELUM
MALAM TURUN
Kelak
akan datang suatu malam ketika kita tidak lagi menghadiri rapat.
Tidak
lagi memberikan taujih.
Tidak
lagi dimintai pandangan.
Tidak
lagi memimpin.
Tidak
lagi membina.
Tidak
lagi berjalan menuju majelis UPA.
Orang-orang
akan membawa tubuh kita menuju sebuah tempat yang sangat sunyi.
Tidak ada
struktur di sana.
Tidak ada
jabatan.
Tidak ada
senior dan junior.
Tidak ada
tepuk tangan.
Tidak ada
orang yang berdiri ketika kita memasuki ruangan.
Tidak ada
lagi gelar yang membuat dada terasa hangat.
Yang ada
hanyalah seorang hamba...
sebuah
kubur...
dan amal
yang dahulu pernah ia lakukan.
Pada hari
itu, mungkin kita akan berharap:
"Ya
Allah... andaikan dahulu aku tidak pernah menceritakan jasaku."
"Andaikan
dahulu aku lebih banyak menyembunyikan amal daripada memperlihatkannya."
"Andaikan
dahulu ketika amanah berpindah kepada orang lain, aku tersenyum dan berkata:
alhamdulillāh."
"Andaikan
dahulu aku tidak terlalu ingin dikenang."
Maka
sebelum malam itu datang...
selesaikanlah
urusanmu dengan hatimu.
Kembalikan
seluruh jasa kepada Allah.
Kembalikan
seluruh kemenangan kepada Allah.
Kembalikan
seluruh manusia yang pernah engkau bina kepada Allah.
Kembalikan
jamaah kepada Allah.
Kembalikan
dakwah kepada Allah.
Dan
akhirnya...
kembalikan
dirimu sendiri kepada Allah.
Lalu katakanlah dalam kesunyian:
لَيْسَ
لِي عَلَى هَذِهِ الدَّعْوَةِ مِنَّةٌ، بَلْ لِلَّهِ عَلَيَّ الْمِنَّةُ أَنْ
جَعَلَنِي يَوْمًا مِنْ خُدَّامِهَا.
"Aku tidak mempunyai jasa yang dapat
kutagihkan kepada dakwah ini. Justru Allah-lah yang telah memberikan karunia
kepadaku karena pernah mengizinkanku menjadi salah seorang pelayannya."
Saudaraku...
Jika
dahulu engkau datang sebagai seorang pemuda dengan mata yang menyala...
dan hari
ini rambutmu telah memutih di jalan yang sama...
maka
jangan meminta dunia membayar perjalananmu.
Cukuplah
Allah.
Jika
dahulu tanganmu kuat mengangkat beban dakwah...
dan hari
ini tangan itu mulai gemetar...
jangan
bersedih ketika tangan-tangan muda mengambil beban itu darimu.
Lepaskanlah
dengan cinta.
Berikan
kepada mereka bekalmu.
Berikan
kepada mereka doamu.
Kemudian
berdirilah sedikit ke belakang...
dan
pandanglah mereka berjalan menuju ufuk yang mungkin tidak akan sempat engkau
capai.
Lalu
tersenyumlah.
Barangkali
itulah salah satu bentuk kemenangan terindah seorang murabbi:
ketika ia
tidak lagi dibutuhkan di depan, tetapi doanya masih mengawal barisan dari
belakang.
Dan
apabila pada akhirnya tidak seorang pun mengingat bahwa engkau pernah berada di
jalan ini...
jangan
takut.
Sebab
kita tidak menempuh perjalanan sepanjang ini agar nama kita tinggal di bumi.
Kita
menempuhnya dengan satu harapan:
agar
ketika seluruh nama kita telah dilupakan manusia...
nama kita
masih disebut dengan rahmat di langit.
Maka
datanglah kepada Allah tanpa membawa daftar jasa.
Datanglah
seperti dahulu engkau pertama kali memasuki jalan ini:
dengan
tangan kosong...
dengan
hati yang membutuhkan...
dengan
mata yang basah...
dan
dengan satu pengakuan:
يَا
رَبِّ، مَا خَدَمْتُ دَعْوَتَكَ، وَلَكِنَّكَ أَكْرَمْتَنِي بِأَنْ جَعَلْتَنِي
مِنْ خُدَّامِهَا.
"Wahai
Rabbku, bukan aku yang berjasa melayani dakwah-Mu. Engkaulah yang telah
memuliakanku dengan memberi kesempatan kepadaku menjadi salah seorang
pelayannya."
Kemudian
biarkan air mata menyelesaikan apa yang tidak mampu lagi dikatakan oleh
kata-kata.
اللَّهُمَّ
اجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا صَالِحَةً، وَاجْعَلْهَا لِوَجْهِكَ خَالِصَةً،
وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهَا شَيْئًا.
Ya Allah,
jadikan seluruh amal kami amal yang saleh. Jadikan semuanya ikhlas semata-mata
mengharap wajah-Mu. Dan jangan Engkau jadikan di dalamnya bagian untuk siapa
pun selain-Mu.
اللَّهُمَّ
إِنْ أَطَلْتَ بِنَا الطَّرِيقَ، فَلَا تَجْعَلْ طُولَ الطَّرِيقِ يُورِثُنَا
عُجْبًا، بَلْ زِدْنَا بِكُلِّ خُطْوَةٍ افْتِقَارًا إِلَيْكَ وَتَوَاضُعًا بَيْنَ
يَدَيْكَ.
Ya Allah,
jika Engkau panjangkan perjalanan kami di jalan ini, jangan jadikan panjangnya
perjalanan melahirkan kekaguman kepada diri kami. Tetapi jadikan setiap langkah
semakin menambah rasa fakir kami kepada-Mu dan ketundukan kami di hadapan-Mu.
Sebab
pada akhirnya...
bukan
siapa yang paling dahulu memasuki jalan ini yang paling kita khawatirkan.
Bukan
pula siapa yang paling lama bertahan di dalamnya.
Yang kita
mohonkan hanyalah satu:
semoga
ketika langkah terakhir kita berhenti, hati kita masih sebersih hati yang
dahulu membuat kita mengambil langkah pertama.
Dan
semoga ketika Allah bertanya tentang perjalanan panjang itu...
kita
tidak datang membawa kebanggaan karena merasa telah berjasa kepada dakwah.
Kita
datang dengan kepala tertunduk...
membawa
hati yang pecah...
dan
berbisik:
"Ya
Allah... semuanya adalah karunia-Mu."
.....
Senandung
Hujan Diiringi Dzikir Di Suatu Senja Di Bumi Allah Cipanas Cianjur
Alfaqier
Ilaa 'Afwi Rabbih
Wildan
Hakim

