Tampilkan postingan dengan label Inspirasi dan Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi dan Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Maret 2026

Alumni Pesantren Daarul Rahman Angkatan 11: Setelah 36 Tahun, Kembali Beribadah Bersama di Ramadhan 1447 H/2026 ini

Sholat Taraweh Bersama
Tangsel - Para alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman Angkatan ke 11 yang lulus pada tahun 1990 lalu mengadakan serangkaian acara ibadah yakni berupa Bukber (buka puasa bersama), Shalat taraweh, kultum dan khotaman al-Quran bersama pada Sabtu 14 Maret 2026 lalu di Pondok Pessantren Al-Adzkar Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

Acara ini mengingatkan mereka pada 36 tahun lalu saat masih mondok di Pesantten Daarul Rahman Jakarta, saat mereka bertaraweh bersama, berpuasa bersama, mendengar kultum bersama, serta bertadarus al-Quran bersama. Bahkan yang unik dari acara tersebut adalah saat melaksanakan Taraweh bersama, yang menjadi imam pun bergantian, maklum di antara mereka sudah menjadi ustdaz/kiyai/tokoh masyarakat di daaerah masing-masingnya. 

Khotaman al-Quran Bersma
Terekam saat dilaksanakan sholat Isya dan Taraweh, yang menjadi Imam shalat Isya adalah Ust. TB. Masnun. Sedangkan yang menjadi imam taraweh secara bergantian tiap dua rakaat adalah Ust. Andi Awaludin, Ust, Alex Muda, Ust Malhan, Ust. Ma'ruf dan ditutup sholat witir dipimpin oleh Ust. Malhan.

Usai shalat Taraweh diadakan Kultum (Kuliah Terserah Antum) yang disampaikan oleh KH. Muhammad Jamhuri yang mengajak teman-teman yang hadir untuk bersyukur kepada Allah bahwa "Kita masih diberi nikmat sehat dan kesempatan sehingga masih dapat bertemu dengan  bulan Ramadhan tahun ini." Ujarnya sambil berkisah riwayat sahabat Thalhah bin Ubaidillah yang bermimpi melihat dua sahabat lainnya, namun dari dua sahabat itu salah satunya wafat  di medan jihad, Sedangkan yang lainnya selamat dan hidup hingga bertemu dengan Ramadhan kembali, lalu.  Thalhah yang bermimpi melihat kedua sahabatnya tersebut, merasa heran. pasalnya justru sahabat yang wafat bukan karena jihad malah masuk surga di tingkatan yang lebih tinggi dari pada sahabatnya yang wafat fi sabilillah di medan jihad. Saat bertemu Rasulullah saw, dijelaskan, bahwa sahabat yang ikut berjihad namun usianya masih bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, itu mendapat surga yang lebih tinggi, karena kemuliaan Ramdahan dan beliau mengisinya dengan baik. "Itulah kemuliaan Ramdahan yang pahala beribadah di dalamnya dilipat gandakan oleh Allah swt." Tambah Jamhuri. "Maka kita yang dipertemukan kembali dengan Ramadhan patut bersyukur" Katanya

Tempat acara "Reuni Ibadah" diadakan di Pesantren Al-Adzkar Pamulang dengan pimpinannya KH. Ali Rahmat, Lc. MA. yang juga alumni Daarul Rahman Angkatan ke 11 tahun 1990. Beberapa alumni dari angkatan 11 yang hadir dan kini berkicumpang dalam dunia pesantren adalah:

  1. KH. Ali Rahmat, Lc. MA: Pimpinan Pesantren Al-Adzkar Pamulang Tangsel
  2. KH. Muhammad Jamhuri, Lc.MA: Pimpinan Pesantren TEI Multaam Rumpin Bogor
  3. KH. Malhan SA: Pimpinan Pesantren Raudatun Nur, Cibadak Sukabumi
  4. KH. TB Masnus: Pengurus di Pondok Pesantren Nurani Jakarta & Bogor
  5. Ust. Andi Awaludin: Pengurus di Pesantren di Dieng Wonosobo-JawaTengah
  6. Ust. Zakyi Abdul Mutollib; Pengurus di Pondok Pesantren Daarul Rahman
Sedangkan alumni lainnya tersebar di berbagai profesi dan usaha. Alhamdulillah, jadi santri itu berkah..

Sabtu, 28 Desember 2024

Memberi Motivasi Kepada Santri Al-Adzkar; "Fokuslah Dalam Meraih Cita-cita"

Berfoto bersama santri Al-Adzkar sebelum pamit pulang
Bogor - Senin - Selasa, 23- 24 Desember 2024 yang lalu, tepatnya satu - dua hari setelah kepulangan para santri Pesantren TEI Multazam, rumah kami kedatangan tamu-tamu mulia, mereka adalah para santri kelas 11 SMA Pesantren Al-Adzkar Pamulang, Tangsel, Banten, Mereka datang menginap di kediaman rumah kami.

Salah seorang guru mereka mengirim pesan kepada saya melalui WA, "Ustadz, anak-anak santri Al-Adzkar menginap di Multazam, kalau sempat ustdzd berikan motivasi kepada mereka", Saya menjawab, "Insya Allah".

Pagi hari setelah mereka sarapan dan sebelum berpamitan pulang, saya pun memberikan motivasi kepada mereka. Meski bicara saya kurang fasih akibat terkana stroke ringan dan baru kembali dari rumah sakit dua hari sebelumnya, saya pun memberikan motivasi melalui kisah hidup.

Suasna memberi motivasi di kediaman
"Saya ini teman pengasuh pesantren kalian Pesantren Al-Adzkar dan juga salah satu teman guru kalian, yaitu KH. Ali Rahmat Lc. MA dan Ust. Ahmad Supandi. Kami satu angkatan dan pernah satu kelas, bahkan pernah makan satu piring bersama saat mondok di Pesantren Daarul Rahman", Ujar saya memulai pembukaan.

Suatu kali pesantren Daarul Rahman tempat kami mondok kedatangan seorang syaikh yang juga dosen dan pengurus dari Universitas Islam Madinah, lalu sang syaikh melakukan muqobalah (interview) kepada lulusan santri terbaik, saat itu kami masih dalam masa pengabdian setelah lulus, maka dipanggillah 5 lulusann Daarul Rahman, temasuk saya dan KH. Ali Rahmat. Namun dari  5 orang santri, yang diterima hanya 2 orang, yaitu Ali Rahmat (kini pengasuh pesantren Al-Adkar) dan M. Faiz (Gus Faiz putra KH. Syukron Ma'mun).

Setelah mereka berangkat ke Madinah, kami sering saling berkirim surat (dahulu belum ada hp). Salah satu surat yang Ali Rahmat kirim kepada saya adalah, "Jam (panggilan saya Jamhuri), antum lebih pantas kuliah di sini. Usahakan urus bisa kuliah di sini." Dari surat itu, saya pun bersemangat. Saya urus Akte Kelahiran hingga menterjemah surat-surat ijazah, Surat kesehatan, SKKB dan lainnya ke dalama bahasa Arab via penterjemah resmi. Lalu berkas-berkas itu saya kirim ke 3 universitas di Arab Saudi; Universias Islam Madinah, Universitas Ummul Quro Makkah dan Universitas al-Imam di Riyadh.

Namun, bertahun-tahun ditunggu, tidak mendapat panggilan juga. Hingga tahun keempat, guru dan teman  menginformasikan ada kesempatan kuliah di Islamabad Pakistan. Saya pun mengurusnya. Dan akhirnya saya dan teman saya bernama Ali Fikri Noor (masih teman satu angkatan saat di Daarul Rahman) diterima kuliah di International Islamic University Islamabad (IIUI) Pakistan. Namun, setelah kuliah berjalan hampir satu semester, bekal uang saya pun hampir habis, karena bea siswa dari IIUI hanya cukup untuk makan selama sepekan setiap bulannya. Saya bingung, dan hanya bisa berdoa yang saya panjatkan, "Ya, Allah, saya masih mau kuliah, aku berserah diri padaMu, tentang bagaimanapun caranya".

Itulah doa yang saya panjatkan sehari-hari, sambil menawarkan diri dijadwal masak setiap hari bersama teman-teman Indonesia, agar dapat ikut serta makan bersama mereka. 

Pada suatu hari, di papan pegumuman kantor dekan di kampus Universitas ada panggilan untukku. Setelah saya datangi, saya diberi copy fax berbahasa Arab oleh kantor . Ternyata fax itu dikirim oleh keluarga saya yang mungkin mereka tidak paham dengan isi surat tersebut (dikira tulisan wirid dan doa). Ternyata surat itu surat pangggilan dan diterimanya saya di Universitas Ummul Quro Makkah-Saudi Arabia. Aku sempat bahagia bercampur bingung, oh ternyata pengajuan dan lamaran saya yang dikirim 4 tahun dan diajukan, baru diterima sekarang. Saya pun bingung antara lanjut di Islamabad atau Makkah, Istikhoroh pun dilakukan, namun masih belum mendapat keyakinan, apalagi saat bertanya kepada teman-teman dari Indonesia, merekapun ada yang menganjurkan saya agar tetap di Islamabad. Akhirnya saya istisyaroh (minta pendapat) kepada kyai saya. Saya menelpon beliau, dan jawabnya,, "Ambil Makkah, Insya Allah berkah". Akhirnya saya menuruti nasehat guru saya, Alhamdulilah,

"Nah, anak-anak, oleh karena itu fokuslah dalam meraih cita-cita dengan terus rajin belajar. Maka insya Allah kalian akan sukses meraih cita-cita. Kedua, jangan lupakan berdoa dan bertwakkal kepada Allah swt serta taat pada nasehat orang tua dan guru kalian". Ujar saya menutup pembicaraan. 

Kamis, 22 Agustus 2024

Pengasuh Pesantren Multazam Bersama Formada dan LKKN Adakan Studi Banding ke Malaysia

Para pengasuh Pesantren di Sekola Brainy Bunch- Malaysia
Para Pimpinan Pondok Pesantren yang tergabung dalam FORMADA (Forum Kerja Sama Antar Pesantren Alumni Daarul Rahman) bersama LKKN (Lembaga Kajian Khazanah Nusantra) mengunjungi BRAINY BUNCH ISLAMIC MONTESSORI SCHOOL di Kuala Lumpur Malaysia hari Selasa 20 Agustus 2024.

Sekolah ini didedikasikan untuk membentuk pribadi muslim yang berwawasan internasional, karena itu percakapan Bahasa Inggris diterapkan di sini sejak  tingkat sekolah dasar, namun juga dikuatkan dengan pengetahuan agama. Karena kami melihat orang tua mereka banyak lulusan universitas di Eropa dan Amerika, namun terlihat kurang dalam hal spiritual.

Aden pimpinan sekolah ini menyebut alumninya sudah tersebar di hampir lima benua di dunia, dan mereka masih merasa keterikatan dengan sekolahnya dalam beberapa event. Dan bahkan aktif.

Salah satu kekhasan sistem yang dibangunnya adalah SPICE yang diberlakukan kepada semua civitas sekolah,  baik murid, guru dan staf, yaitu:

1. SPRITUAL, kami ajarkan hal yang dasar yang biasa dilakukan setiap hari. Mulai cara yang benar, pemahaman, hingga kekhusyuan dalam shalat. Itu hanya salah satu contoh saja. Termasuk dalam penanaman spiritual juga penanaman tauhid, sehingga mereka merasa hidup merasa mawas diri karena diperhatikan dan dilihat Allah swt.

2. PHYSIC: Bagaimana anak- anak dan guru fisiknya itu sehat. Mulai diperhatikan pola makannya hingga kebiasaan olah raga. Sehingga diharapkan anak dan guru tdk mengalami obessitas (kegemukan). Kita tahu saat ini anak-anak generasi kini banyak mengkonsumsi makanan yang kurang sehat karena banyak mengandung bahan kimia dan pengawet, ditambah dengan kurangnya kebiasaan bergerak fisik.

3. INTELECTUAL. Jika spritual sudah lurus dan bagus lalu fisiknya sehat, maka saat menerima ilmu, mereka akan mendapatkan ilmu dengan dengan baik dan optimal sehingga mendapat pemahaman yang baik dan benar.

4. CREATIFITY. Selain tiga hal di atas, kami juga memberi kegiatan yang merangsang kreatifitas. Mereka pernah kami libatkan dalam suatu usaha (misal menjual hasil perkebunen duren) dan lain-lain

5. EMOSIONAL. Ini kami bangun dengan pola sosialisasi dan interaksi, dan karena kami full day dengan mereka sehingg kami dapat memantau dan menilai emosional mereka yang pada akhirnya kami perbaiki jika secara emosional ada yg kurang. Ke depan kami tidak hanya full day, namun akan melangkah mendirikan sekola berasrama seperti pesantren, agar pembentukan spiritual, emosional dan lainnya dapat dikontrol dengan baik

Kamis, 28 Maret 2024

Pesan KH. Syukron Makmun Kepada Para Pimpinan Pesantren

Para pimpinan pesantren bersama KH. Syukron Makmun
Pada Selasa 26 Maret 2024 atau 16 Ramadhan 1445 H, KH. Syukron Makmun mengundang para santrinya yang juga para pimpinan pesantren di sekitar Jabodetabek dalam sebuah acara bersama Ifthor Jamaí ataau Buka Puasa Bersama di  Pesantren Daarul Rahman II Lewiliang, tepatnya di Resto Saung Bambu DR 2.

Para bu Nyai bersama KH. Syukron Makmun
Dalam kesempatan itu hadir para pimpinan pesantren yang tergabung dalam FORMADA (Forum Kerja Sama Antar Pesantren Alumni Daarul Rahman), antara lain:

  1. DR. KH. Musyfiq Amrullah, lc. MA. Pengasuh Pesantren At-Tawazun, Subang
  2. KH. Alwan Surya, Pengasuh Pesantren Nurul Falah, Parung Panjang, Bogor
  3. KH. Anwar Wahdi, Pengasuh Pesantren Babus Salam, Comone Tangerang
  4. KH. Musthofa Mughni, Pengasuh Pesantren Daarul Mughni, Cileungsi Bogor
  5. KH. Faisal Ali Nurdin, Pengasuh Pesantren Nurul Ilmi, Bojonggede, Bogor
  6. KH. Ahmad Wildan S, Pengasuh Pesantren Al-Kamil, Doyong Tangerang
  7. KH. Muhammad Jamhuri, Pengasuh Pesantren Multazam, Rumpin Bogor
  8. KH. Abudl Wahid, Pengasuh Pesantren Al-Musyarrofah, Cianjur
  9. KH. Ahmad Al-Ghozali, Pengasuh Pesantren Al Ihya, KH. A, Ghozali
  10. KH. Jamaladdin F Hasyim Adnan, STAI Al-Aqidah, Jakarta
  11. KH. Mulyadi Mughni, Pengasuh Pesantren Baitun Nun, Bogor
  12. KH, M, Farid Ma'ruf, Pengasuh Pesantren Asy-Syarofah
  13. dan kyai lainnya seperti KH. Sumarja, KH. Dimyati dan lainnya
Dalam kesempatan  tersebut Syaikhuna KH. Syukron Makmun memberi pesan-pesan spritual kepada para pimpinan pesentren, agar tidak lupa meningkatkan spritualitas diri, di antaranya selalu qiyamullail atau tahajjud dan sholat witir.  "Seorang kyai itu jangan pernah putus setiap malam untuk selalu shalat tahajjud dan witir, kecuali dalam kondisi tertentu, seperti lelah sekali karena kesibukan yang padat sebelumnya, tapi usahakan sholat malamlah" Ujar KH. Syukron Makmun berulang-ulang disampaikan. "Saat malam itulah, doakan pesantren dan santri-santrinya." tambahnya. "Silakan tanya ke istri saya, kalau saya shalat bersama istri, pasti setelah shalat, saya doakan pesantren, santri-santri saya, bahkan alumni-alumni Daarul Rahman, semuanya saya doakan" Ujarnya meyakinkan.

"Lho?, saya dapat cerita bahkan bu Nyainya pesantren Tremas itu suka berpuasa hampir setiap hari. Ketika ditanya kenapa sampean puasa hampir setiap hari? Jawabnya, karena saya ingin mendoakan agar santri-santri yang belajar kepada suami saya menjadi manusia yang berguna untuk dunia dan akhirat "Tambah KH. Syukron bercerita

Kemudian beliau juga berpesan agar kyai atau pimpinan pesantren tidak meninggalkankan amalan shalat Dhuha setiap harinya, karena shalat ini akan memudahkan datangya rezeki. 

Usai memberi pesan spritual, acara diisi dengan doa yang dipimpin langsung oleh beliau, yang kandungan isi doanya penuh dengan doa untuk santri-santri beliau, alumni-alumni dan orang-orang yang pernah memberikan andil bagi pesantren beliau khususnya Daarul Rahman

Rabu, 15 November 2023

Dari SIlaturrahi dengan Mahasiswa/i Indonesia di Maroko : "Tawwakkal Adalaha Modal Utama"

 Catatan Rihlah

Bersama mahasiswa/i Indonesia di Maroko
Dalam perjalanan rihlah kami ke Maroko dan Spanyol, kami menyempatkan bersilaturrahmi bersama para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menunut ilmu di Casabalnca Maroko. Peretemuan itu di adakan pada Selasa, 14 Nopember 2023 usai shalat maghrib di  sebuah syuqqoh/flat salah seorang mahasiswa bernama  Fauzi Azhar (disana sering dipanggil Fauzi). Berbarengan dengan acara beliau karena beliau juga bermaksud mengadakan syukuran walimatus safar karena akan berangkat ibadah umroh esoknya Rabu, 15 Nopember 2023.

Dalam pertemuan itu, saya diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutan atau motivasi kepada para mahasiswa Indonesia di sana. Saya hanya menyampaikan cerita pengalaman pribadi saat saya kuliah di Islamabad Pakistan hingga kuliah di Makkah Arab Saudi. Cerita ini sama seperti cerita yang sampaikan saat memberi motivasi kepada mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Al-Azhar Mesir saat kunjungan saya ke Cairo beberapa tahun lalu.

Begin cerita saya, bahwa setiap kita sebagai musafir atau perantau di negeri orang, mesti akan berjumpa dengan segala persoalan. Terutama persoalan finansial di negeri rantau. Terlebih sebagai seorang yang sedang menunutut ilmu. Namun jangan khawatir, karena para penunut ilmu  di negeri orang itu adalah sama dengan seorang mujahid (pejuang) di jalan Allah, yang rezekinya, akan dijamin oleh Allah swt.

Dahulu, saat saya kuliah di Pakistan  saya mendapat beasiswa yang ternyata tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Beasiswa yang diterima hanya dapat bertahan untuk kebutuhan seminggu. Sehingga bekal yang dibawa dari rumah lambat laun menipis terpakai. Hingga akhirnya sampai ke titik zero. Saat itu kami urunan masak dan bergantian masaknya dengan teman-teman dari Indonesia. Namun sejak bekal saya habis, saya tau diri, sehingga saya menawarkan diri untuk memasak setiap hari tidak perlu bergantian karena tidak bisa ikut urunan dana untuk kebutuhan masak lagi.

Hingga saya berusaha untuk datang terlebih dahulu ke hostel (asrana) sebelum teman-teman tiba dari kampus, agar saya dapat memasak dan mempersiapakan makan unuk teman-teman. Sebagai orang yang ikut makan bersama teman-teman, maka saya pun lambat laun merasa malu kepada mereka. Namun bagaimana lagi, saya tak bisa berbuat apa-apa, karena berada di rantau jauh. Saat itu keluarga pun tidak lagi mengirim uang karena kondisi ekonomi sedang susah sejk wafatnya ayah. Saya -saat itu- cuma bisa tawakkal (berserah diri) dengan sepenuhnya. Saya berdoa dengan sepasrah-pasrahnya "Ya Allah, saya masih mau kuliah dan belajar, terserah Engkau mau diapakan saya ini". Ujar saya sejadinya dalam doa. Saat itu memang terasa sekali kepasrahan itu dirasakan dalam doa-doa saya.

Subhanallah, sepekan setelah itu, kejadian yang tak di duga-duga terjadi. Saya mendapat fax yang berlogo Universitas Ummul Quro Makkah yang memberi kabar kepada saya, bahwa pengajuan permohonan saya menjadi calon mahasiswa Ummul Quro Makkah yang pernah saya ajukan empat tahun lalu, diterima dan dimohon segera hadir di Makkah. Padahal sebelumnya saya sudah menunggu lama hingga saya anggap pengajuan saya sudah ditolak karena tidak ada panggilan selama 4 tahun. Hingga akhirnya saya berangkat ke Pakistan segera setelah mendengar ada kesempatan ke sana.

Ketika saya konsultasi kepada kyai saya KH. Syukron Makmun untuk memohon pertimbangan, apakah saya lanjutkan kuliah di Pakistan yang sedang berlangsung? atau saya ambil panggilan dari Makkah? Beliau menjawab, "Ambil Makkah, insya Allah berkah". Sejak itulah saya berangkat ke Tanah Suci, dan alhamdulillah hingga telah lulus kuliah pun, Allah masih memberi kesempatan ke Tanah Suci berkali-kali.

Allah swt berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya". (QS. At-Tholaq: 3)

Senin, 11 Oktober 2021

Salamku Pada Nabi saw Mengantarkanku Ke Madinah

Setahun setelah lulus pendidikan di pesantren aku diminta untuk mengabdi mengajar di sana. Di tengah masa pengabdian, salah seorang syeikh (dosen) dari Universitas Islam Madinah datang berkunjung ke pesantren. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh pimpinan pesantrenku untuk muqobalah (interview) para  alumni yang mungkin dapat diajukan sebagai penerima beasiswa kuliah di Universitas Islam Madinah. Saat itu ada beberapa alumni yang diajukan muqobalah, termasuk diriku.. 

Setelah beberapa bulan, pengumuman hasil muqobalah pun disampaikan. Dari sekitar 6 (enam) alumni yang dimuqobalah, hanya dua orang yang diterima. Yaitu putra sang Kyai dan satu lagi teman seangkatan denganku. Aku dan temanku lainnya yang dimuqobalah belum mendapat nasib baik saat itu.

Waktu pun berlalu. Namun aku disupport dan disugesti oleh temanku yang diterima kuliah di Madinah itu, bahwa aku sebenarnya lebih pantas menerima kesempatan itu. Akhirnya aku kirim pengajuan (apply) dengan mengirim beberapa berkas ke tiga universitas di Arab Saudi, yaitu Universitas Islam Madinah, Universitas Ummul Quro Mkkah, dan Universitas Imam Ibnu Saud Riyadh. Namun setelah sekian lama, tidak ada jawaban.

Sejak temanku berangkat kuliah ke Madinah, kami sering saling berkirim kabar melalui surat pos. Maklum, saat itu belum belum ada teknologi seluler seperti saat ini. Surat yang dikirim melalui pos baru diterima setelah sepuluh hari. 

Suatu hari, di perpustakaan aku membaca buku "Mafahim Yajib An-Tusohah" karya Sayid Alwi al-Maliki, ulama Makkah yang sangat terkenal dan pernah mengajar di Masjidil Haram. Dalam buku itu terdapat keterangan bahwa, "Menulis sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw, maka tulisan itu akan terus bersholawat dan bersalam kepada beliau selama tulisan itu masih ada." Penjelasan ini lalu menginspirasiku untuk membubuhi kalimat salam untuk Rasulullah saw pada amplop surat yang biasa akan aku kirim ke temanku yang sedang kuliah di Madinah.

Aku pun mulai menulis surat. Setelah aku tulis amplop surat itu dengan nama dan alamat temanku yang sedang kuliah di Madinah, lalu aku tambahi tulisan "Assalamu'alaika ya Rasulullah, Assalamualaika Ya Nabiyullah" di pojok kanan atas amplop surat itu. Dengan rasa husnuzzhon dan tafaul (optimis), saat surat ini masuk ke daerah kota Madinah, bahkan sejak ditulis di tanah air pun, pasti nabi saw akan menjawab salam dalam surat itu. 

Waktu berjalan, aku pun masih tetap mengajar di pesantren, hingga pimpinan pesantrenku membawa berita gembira, yaitu terbukanya kesempatan kuliah di Pakistan setelah beliau pulang dari lawatannya di Pakistan dalam sebuah acara pertemuan ulama internasional di sana. Aku pun mengambil kesempatan itu. Dan kuliah di Pakistan, karena penantian selama 4 tahun dari Universitas Arab Saudi belum mendapatkan hasil.

Ternyata, kuliah di Pakistan tidak berbeasiswa full, hingga menjelang akhir semester pertama, aku kehabisan bekal untuk kebutuhan hidup. Di saat kebingungan itu, aku hanya pasrah dan berdo'a, "Ya Allah, aku masih ingin menuntut ilmu. Ada pun bagaimana caranya, aku serahkan padaMu."

Tepat setelah ujian semester, aku membaca pengumuman di papan pengumuman Dekan tempatku kuliah. Ada namaku disebut untuk mengambil kiriman fax di kantor Dekan. Ternyata fax itu adalah surat panggilan kuliah di Universitas Ummul Quro Makkah. Padahal sudah tidak terpikirkan lagi olehku akan diterima di universitas di Arab Saudi.

Aku pun langsung mengurus keberangkatan. Mulai dari mengambil visa hingga tiket. Akhirnya untuk pertamakalinya aku menginjakkan kaki pertamaku di Tanah Suci Makkah pada 1 Syawwal, tepat pada hari Raya Idul Fitri siang. Setelah tinggal di asrama kampus selama sepekan, aku pun menghubungi kawanku yang masih kuliah di Madinah, Saat itu mereka sudah semester-semester akhir. Sampai di Madinah aku diajak menunaikan sholat di Masjid Nabawi. Dan saat menunggu waktu sholat, ada duduk tepat di Raudhoh yang tepat di samping rumah dan kuburan Nabi saw. Saat-saat seperti itulah jiwa ini merinding dan bergetar bercampur rasa syukur, perasaanku serasa sedang dielus-elus Nabi saw dari arah rumahnya, dan aku merasa beliau menjawab salamku yang pernuh ku tulis di amplop surat dulu dengan beliau mengundangnya mengunjungi berziarah ke makam beliau
di Madinah.

"Sholaatan wa salaaman alaika yaa Rasulullah wa rohmatullahi wa barokatuh."



Kamis, 04 April 2019

Isra Mi’roj dan Pesan Pemenangan


Seri Taujih Pemenangan

Salah satu asbabun nuzul (sebab) turunnya surat al-Isra ayat 1 yang berisi peristawa Isra Mi’raj adalah jatuhnya mental Nabi saw dalam perjuangan melanjutkan dakwahnya. Pasalnya, dua tokoh yang selama ini membantu dan menopang dakwah mabi saw telah dipanggil Allah swt. Rasulullah saw merasa sedih, karena ditinggal wafat oleh pamannya bernama Abu Thalib yang menjadi pembela beliau dari usaha kaum Quraisy menyudutkan beliau. Belum usai dari rasa duka, di tahun yang sama, beliau pun ditinggal wafat oleh isteri tercintanya; Khadijah ra. Oleh karena itu, para sejarawan menyebut tahun ke delapan kenabian itu sebagai “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).

Sebagai manusia, wajar nabi saw merasakan kesedihan. Baik karena mereka adalah orang-orang yang sangat membantu dan menopang dakwah nabi, juga timbulnya rasa kekhawatiran akan nasib perjalanan dakwahnya. Sementara para pemgikutnya mayoritas adalah orang-orang miskin, para budak dan hanya sedikit dari kalangan tokoh Makkah. 

Di tengah kegalauan itu, Allah swt “menghibur” nabi saw dengan peristiwa Isra dan Mi’raj. Beliau diajak berjalan dan berkeliling oleh malaikat Jibril untuk melihat dan menyaksikan keMahabesaran Allah swt melalui tanda-tandaNya berupa penciptaan langit dan bumi serta planet-planetnya yang ada. Allah swt menceritakan :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنْ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Israa: 1)

Pada ayat ini, seakan Allah swt berpesan, Hai Muhammad, kamu jangan galau dan bersedih serta khawatir, meski dua orang tokoh yang selama ini menolong dan menopang dakwahmu telah tiada, tapi kamu itu tidak sendirian. Tetapi ada Allah yang memiliki segala kebesaranNya dan kekuasaanNya yang akan menolongmu. Bahkan Allah swt akan terus mendengar curhatmu dan mengabulkan segala permohonanmu. Bahkan Allah akan selalu melihat dan memperhatinkamu.

Saudara, ayat ini dan peritiwa yang melingkupinya penuh dengan hikmah dan pesan. Di antaranya:

  1. Dalam perjuangan, seorang tokoh meskipun sangat penting, tidak boleh kita menyandarkan sepenuhnya kepadanya. Karena dia atau mereka tidak akan selamanya ada dan hidup. Suatu saat tokoh itu akan tiada meninggalkan kita. Karena itu, kita tidak perlu khawatir dengan ketiadaan tokoh. Bersandarlah kepada Allah swt yang tidak pernah mati dan tidak pernah tidur, yang selalu mendengar keluhan dan melihat memperhatikan kita. 
  2. Allah swt tidak merasa kerepotan untuk mendengar keluhan dan permohonan kita meskipun Dia mengatur galaksi dan planet-planet yang lebih besar dari tubuh dan pikiran kita. Surat al-Mujadalah adalah bukti bahwa Allah swt mendengar keluhaan seorang wanita yang tinggal hidup di pinggiran Madinah bernama Haulah tentang peristiwa tentang dirinya dan suamiya. Hingga Allah swt menurunkan surat Al-Mujadalah untuk memberikan solusi (jalan keluar) dari permasalahan keluarga miskin itu dari persoalan dirinya dan suaminya. Jika masalah kecil keluarga pinggiran itu saja didengar dan diperhatikan Allah, apalagi jika kita mengadu padaNya tentang masalah perjuangan dakwah yang kita jalani. 
  3. Untuk mendapat pertolongan dari Allah, dekatkanlah diri padaNya, terutama di malam hari. Bangun malam hari dengan taqarrub padaNya akan menguatkan hati dan mental perjuangan kita. Oleh sebab itu kata “asraa” dalam ayat di atas meski sudah mengandungg arti “berjalan di malam hari”. Akan tetapi dikuatkan lagi dengan kata “Lailan” (di malam hari). Ini menunjukkan bahwa Nabi saw dapat menembus luar angkasa dan mendekat kepada Allah swt terjadi di malam hari. Banyak ayat yang menunjukkan bahwa kemuliaan itu di raih di malam hari.

Dan masih banyak lagi pesan penguatan pemenangan dalam mengemban tugas dakwah dalam peristiwa Isra Mi’raj ini. Semoga kita dapat mengambil hikmah peristiwa ini.

Waallahu a’lam bish showab

Rumpin, 4 April 2019

Muhammad Jamhuri

Kamis, 16 Agustus 2018

INSPRIRASI HAJI: HAJI DAN KAPASITAS KEPEMIMPINAN

INSPRIRASI HAJI

HAJI DAN KAPASITAS KEPEMIMPINAN

Tidak bisa disangkal, bahwa pelaksanaan haji adalah pelaksanaan yang berskala  internasioanal dan komprehensif. Berskala internasional karena melibatkan seluruh negara dan bangsa. Komprehensif karena terkait dengan berbagai sisi kehidupan dan bidang.

Bayangkan, ratusan negara dunia ikut terlibat dalam ibadah haji ini, mulai negara maju dan besar seperti Amerika, hingga negara kecil dan berkembang seperti Maldive. Mulai dari negara minoritas muslim hingga negara mayoritas muslim. Event haji boleh dikata lebih besar dan lebih massif dari pada event olimpiade dunia. Sebab yang datang ke Tanah Suci adalah berstatus “peserta”. Sedangkan dalam ajang olimpiade, peserta olimpiade hanya sekitar 10 persen dari jumlah lainnya. Selebihnya adalah panitia, penonton dan supporter.

Haji juga bersifat koprehensif, karena terkait dengan berbagai bidang; mulai dari ibadah, pembinaan dan pendidikan, keuangan, keimigrasian, penerbangan, kesehatan, perhotelan, keamanan, kebersihan, hubungan diplomatik, sosio-kultural, dan lain sebagainya.

Singkat kata, haji merupakan event yang sangat spektakuler yang melibatkan seluruh element, bidang, negara dan bangsa.

Itu sebabnya, kewajiban haji pertama kali turun kepada Nabi Ibrahim as. Seorang yang memiliki kapasitas kejiwaan umat yang besar, kuat menghadapi tantangan, serta siap melaksanakan perintah Tuhan dengan ikhlas dan sabar serta lurus.  Allah swt berfirman:

ان إبراهيم كان امة قانتا لله حنيفا وما كان من المشركين

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat yang taat kepada Allah, hanif, tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS, 16: 120)

Dalam ayat ini, individu Ibrahim disebut sebagai “ummat”. Padahal ia adalah seorang diri. Hal itu dikarenakan ia memiliki kapasitas yang sama dengan ummat. Ia menjadi teladan dalam sikap, istiqomah, lurus, sabar, taat pada Allah, dan teruji dalam segala ujian hidup dan perjuangan, serta tidak terbawa arus untuk meyakini Tuhan lain (tidak musyrik).

Sehingga, tatkala Allah swt menilai bahwa Ibrahim as telah lulus menghadapi berbagai ujian, dan melaksanakan segala perintah Allah dan menjahi larangannya, maka Allah mengangkatnya sebagai Pemimpin Seluruh Manusia. Allah swt menegaskan:

وإذ ابتلى إبراهيم ربه بكلمات فأتمهن قال اني جعلك للناس اماما  قال ومن ذريتي قال لا ينال عهدي الظالمين

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), maka ia melaksanakannya dengan sempurna. Allah berfirman: “Sungguh Aku jadikan engkau pemimpin bagi umat manusia.” Ibrahim berkata: “(berikan juga) dari keturunan keluargaku”. Allah berfirman: “Janjiku tidak mengena kepada orang-orang Zhalim’. (QS.2: 124)

Kepemimpinan yang Allah berikan kepada Ibrahim as tentu setelah menguji Ibrahim dengan perintah dan larangan. Dan Ibrahim melaksanakannya dengan sempurna. Dan permintaan nabi Ibrahim dikabul, yaitu estapet kepemimpinan turun kepada anak keturunannya, terutama kepada Nabi Muhammad saw yang merupakan keturunan nabi Ismail bin Ibrahim as.  Namun demikian, janji Allah memberi kepemimpinan ini tidak diberikan kepada orang-orang yang berbuat zhalim.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Terdiri dari beribu suku dan pulau. Maka diperlukan seorang pemimpin yang mempunyai kapasitas kuat, ulet, sabar, lurus, tegas berkarakter, mengenal dan memahami kultur-sosial serta teritorial, memahami persoalan serta dapat memberi solusi bagi persoalan. Karena pemimpin adalah cermin dari suatu bangsa.

Jamhuri
Makkah, 16 Agustus 2018