Tampilkan postingan dengan label Fiqih Daulah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih Daulah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2022

ABRAHIMISME DAN "MILLAH" IBRAHIM

 

Sering kali kata "isme" yang ada di belakang kata dasar diartikan sebagai "ajaran" atau "ideologi". Sebagai contoh kata Leninisme berarti ajaran atau ideologi yang dibawa oleh Lenin. Oleh sebab itu, kaum orintalist dulu sering menyebut "Muhammadisme" yang sebagai ajaran atau ideologi yang dibawa Muhammad. Mereka mensejajarkan dengan isme-isme atau agama yang ada. Yaitu menyebut agama dinisbatkan pada tempat atau pada si pembawa agama. Sebut saja misalnya agama budha (Budhisme) dibawa oleh Sidarta Budha Gautama, Hindu (Hindusme) lahir dan berasal dari Hindustan (India), Yahudi (Yudaisme/Jewis) dibawa oleh Yahuda, Kristen (Christian) dibawa oleh Yesus Kristus dan lainnya. Tentu saja penamaan ini salah jika dinisbatkan kepada Islam. Karena jika Islam disebut Muhammadinisme (ajaran Muhammad) maka akan terindikasi seakan Muhammad lah yang "mengarang" dan ajaran yang dibawanya. Padahal ajarannya adalah Islam yang merupakan wahyu dari Allah swt
Berbeda dengan Islam. nama ajarannya adalah Islam dan penamaan Islam itu datang langsung dari Allah swt. Firman Allah:
ان الدين عند الله الاسلام
Agama yang benar di sisi Allah adalah Islam (Qs. Ali Imron: 19)
ومن يبتغ غير الاسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الاخرة من الخاسرين
Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, maka dia tertolak. Dan dia di akhirat termasuk orang2 yang merugi
(Qs. Ali Imron: 85)

AJAKAN ISRAEL

Kini gaung Abrahimisme mulai digaungkan lagi, terutama oleh pihak Israel. Mereka menjadikan Abrahimisme sebagai alat diplomatik untuk membangun kerjasama dan pembukaan kantor diplomatik di negara-negara Islam. Mereka merayu negara muslim bahwa mereka satu rumpun berasal dari Ibrahim.
Secara sejarah memang benar. Karena Ibrahim adalah Abul Anbiya (bapak moyong para nabi). Ibrahim memiliki putra bernama Ismail yang berketurunan Nabi Muhhammad, dan Ishaq yang berketurunan para Nabi termasuk Musa dan Isa as. Namun kewarisan nasab saja tidak cukup. Kewarisan agama lebih penting dari sekedar kewarisan nasab. Oleh sebab itu dalam ilmu waris anak kafir atau murtad tidak bisa mendapat warisan dari ayahnya yang muslim atau sebaliknya.
Sebagian anak keturunan Ibrahim memang masih melestarikan millah Ibrohim, bahkan ada yang bergelar Nabi dan Rasul. Tapi sebagian besar umatnya telah melenceng dari millah Ibrahim. Bahkan diutusnya nabi rasul dari mereka bertujuan meluruskan aqidah mereka yang salah.
Lalu apa sebenarnya agama yang dianut Ibrahim as? Tidak lain adalah agama Islam. Allah swt berfirman:
ما كان ابراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما وما كان من المشركين
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi juga bukan seorang Nasrani, tapi dia seorang Muslim yang lurus. Juga bukan termasuk yang beragama pagan (musyrik). (Qs. Ali Imran: 67)
ووصى بها ابرهيم بنيه ويعقوب يا بني ان الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن الا وانتم مسلمون
Dan Ibrahim telah berwasiat dengan nya (islam) kepada anak-anaknya dan Ya'kub (Israil), wahai anak-anakku sesungguhnya Allah telah memilih untuk kalian agama (Islam). Maka janganlah kamu sekali2 mati kecuali dalam keadaan muslim. (Qs. Al-Baqarah: 132)
Jadi, mestinya, jika sadar, mereka (Yahudi dan Nasrani) hendaknya mengikuti millah Ibrahim yang tidak lain adalah ajaran tauhid atau Islam dan tidak menyekutukan Allah.
Oleh sebab al-Quran banyak menyebut kata "an ittabi' millata Ibrahim" sebagai pesan bahwa jika benar-benar mengaku sebagai Abrahimiyyun (pengikut ajaran Ibrahim) hendaknya mengikuti ajaran tauhid yang dibawa Ibrahim serta ajaran-ajaran yang dibawanya.

Umat Islam-lah yang Mewarisi Millah Ibrahim
Kenyatannya secara ilmiah dan empirik, umat Islamlah yang mewarisi Millah Ibrahim. Berikut adalah buktinya:
  1. Ibrahim as membawa agama tauhid yang hanya menuhankan Allah dan tidak ada sekutu baginya, walau berupa anak.
  2. Perintah ibadah haji turun di zaman Nabi Ibrahim as. Dan yang melestarikan ibadah ini hingga kini hanya umat Islam
  3. Ajaran berqurban yang dicontohkan Nabi Ibrahim dahulu, pun yang melestarkannya adalah umat Islam.
  4. Ajaran berkhitan di zaman Nabi Ibrahim pun masih dilestarikan dan dijalankan oleh umat Islam hingga kini.
  5. Shalawat Ibrahimiyah yang dibaca di tahiyat akhir dalam sholat menunjukkan hubungan antara nabi Muhammad saw dengan Nabi Ibrahim alaihissalam
  6. Dzikir dan wirid "Asbahna ala fithrotil Islam wa kalimatil ikhlas, wa ala diini nabiyyina muhammadin shallallahu alaihi wa sallam, wa ala millati ibrohim hanifan wa maa kaana minal musyrikin" adalah pengulangan dan pengakuan akan kesetiaan umat Islam pada millah Ibrahim.
Jadi bersyukurlah kita memeluk agama Islam, karena keaslian ajaran Ibrahim dilanjutkan oleh Nabi Muhammad dan dipeluk dan diamalkan oleh umat Islam hingga kini.
Wallahu a'lam

M. Jamhuri. Mina 12 Dzulhijjah 1443 H/11 Juli 2022 M

Jumat, 26 April 2019

Jika Jadi Dilantik, Prabowo Harus Meneladani Ini


Oleh : Muhammad Jamhuri

Siapa yang tidak mengenal Nabi Yusuf as? Semua kita mengenalnya. Allah menceritakan kisah nabi Yusuf as dalam satu surat utuh; surat Yusuf. Allah juga menyebut kisah nabi Yusuf sebagai kisah terbaik (ahsaul qoshosh). 

Tentu saja diceritakannya kisah nabi Yusuf bukan sekedar cerita pengantar tidur, akan tetapi agar menjadi panutan bagi siapapun. Karena ahli bahasa mendefinisikan “kisah” adalah  ‘tatabbu’ maa madho” (mengikuti dan menapak tilasi apa yang telah lewat).

Di mulai dari masa remaja Yusuf as yang mendapat kasih sayang istimewa ayahnya, membuat saudara-saudaranya iri hati dan dengki. Mereka pun berencana ingin melenyapkan Yusuf as. Membunuhnya.  Akan tetapi dicegah oleh  salah seorang dari mereka. Nabi Yusuf as pun dilempar di kedalaman sebuah sumur yang jauh dari kampungnya. Kemudian dengan berita hoax dan pencitraan seolah-olah bersedih kehilangan Yusuf as, saudaranya membawa pakaian Yusuf yang dilumuri darah hoax (dam kadzib), lalu melaporkan nasib Yusuf as dan membohongi ayah mereka bahwa yusuf telah wafat dimakan seekor srigala. Betapa kejinya perbuatan mereka terhadap Yusuf as dan membohongi ayah mereka sendiri.

Namun seiring perjalanan waktu, Nabi Yusuf as mendapat jabatan penting di negara Mesir. Tidak tanggung-tanggung, beliau menjabat sebagai menteri perbendahaaraan negara. Semua kebijakan keuangan dan logistik berada dalam genggamannya. Di tengah-tengah kekuasaan yang paling tinggi itu, tiba-tiba saudara-saudara Yusuf as minta belas kasih karena kehabisan pangan akibat musim peceklik selama tujuh tahun. Apakah Nabi Yusuf as lantas mendendam kepada saudara-saudaranya yang telah menghinakannya dan menjerumuskannya ke dalam lubang sumur dahulu? Apakah Nabi Yusuf as mengusir mereka dari Istana? Tidak, bahkan beliau menjamu mereka dengan baik, menempatkan mereka dan ayahnya di posisi yang mulia. Subhanallah. Kekuasaan tidak menjadikannya lupa diri. Namun tetap santun dan pemaaf.

Senada dengan Yusuf as, Nabi Muhammad saw saat di Mekkah sering dihinakan, dicaci-maki, dilempari kotoran bahkan dituduh berkali-kali sebagai tukang sihir dan orang gila. Bahkan setelah wafatnya Khadijah dan Abu thalib, beliau direncakan akan dilenyapkan dan dibunuh. Bahkan saat akan datang beribadah umroh pun beliau dicegahnya masuk ke Makkah. Akan tetapi, apakah saat beliau di puncak kekuasaannya dan saat Makkah dapat ditaklukkannya beliau membabat habis penduduk Makkah? Tidak, beliau malah mendeklarasikan hari itu sebagai hari kasih sayang. Beliau berkata, “Al-Yaum yaum al-marhamah” (Hari ini adalah hari kasih sayang). Padahal saat itu kaum Quraisy sudah menduga-duga bahwa mereka akan dihabisi sehabis-habisnya mengingat kezhaliman yang mereka telah lakukan kepada beliau. Hingga mereka menduga hari itu adalah Hari Pembantaian (Yaum al-Malhamah). Namun Rasulullah saw malah mendeklarasikan hari itu sebagai Yaum al-Marhamah (hari kasih sayang).

Para pengamat menilai, bahwa dahulu Prabowo lah yang mengangkat dan mengantarkan Jokowi dan Ahok menjadi Gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Namun kali ini mereka justru berusaha menjegal Prabowo naik kursi presiden dengan cara-cara kecurangan yang ramai diberitakan. Meski demikian, jika suatu saat beliau diumumkan sebagai pemenang dalam pilpres ini, hendaklah meneladani kedua Nabi di atas. Tetap santun dan pemaaf. Meski sudah berada di puncak kekuasaan. Meski secara manusiawi beliau merasakan sakit dan pedih. Namun, seorang negarawan dan pemimpin bangsa, adalah seorang yang mengayomi seluruh anak bangsa. Menghilangkan rasa dendam dan menata negeri ini kembali baik. Kecuali mereka akan tetap melakukan kejahatan lagi.

Wallahu a’lam bish showab
Rumpin, 28 April 2019.
Muhammad Jamhuri

Senin, 08 April 2019

Menang Dengan Keberkahan


Seri Taujih Pemenangan

Setiap gerak dan amal yang tidak diorientasikan kepada akhirat, maka tidak akan mendapat keberkahan dan kebahagiaan di akhirat. Boleh jadi dia mendapat apa yang diinginkan di dunia, tetapi tidak mendapat apa-apa di akhirat. Oleh karena itu usaha yang tidak dioreintasikan pada akhirat –dalam alquran- tidak dibarengi dengan “hasanah” (kebaikan). Sementara usaha duniawi yang dikaitkan dengan akhirat, maka “hasanah” (kebaikan) akan menyertainya. Allah swt berfirman:

فَمِنْ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ . وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami di dunia", dan tiadalah baginya bahagian  di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami hasanah (kebaikan) di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Al-Baqarah: 200-201)

Beramal dengan orientasi akhirat lebih sulit dibanding dengan beramal dengan orientasi dunia. Karena beramal dengan orientasi akhirat harus mengikuti jalan-jalannya (wa sa’a sa’ya-ha). Dia harus memperhatikan rambu-rambu yang telah ditetapkan agama. Sedangkan beramal dengan orinetasi dunia lebih mudah, karena tidak perlu mengindahkan aturan-aturan agama Allah swt.  Yang penting tujuannya tercapai dan berhasil, masalah berdusta, tipu-tipu, curang tidak perlu diperhatikannya lagi, asal dihadapan manusia bebas hukum, meskipun Allah swt menyaksikan kecurangannya. Perhatikan firman Allah swt:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا . وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Israa: 18-19).

Saudara, dalam memperjuangkan agama dan bangsa, bahkan dalam berjuang bertahan hidup yang bersifat pribadi, kita perlu mengorientakan segala kerja-kerja kita kepada akhirat. Karena dari sinilah keberkahan-keberkahan itu akan hadir. Dalam suatu sholawat yang disebut sholawat  al-fatih (pembuka) yang sering dibaca oleh kalangan umat Islam Indonesia, disebutkan bahwa Rasulullah saw  pun berjuang dan menolong kebenaran dengan cara yang benar (nashiril haq bil haq) bukan dengan cara batil dan curang.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق ةالخاتم لما سبق, ناصر الحق بالحق .والهادي الى صراطك المستقيم . وعلى اله وصحبه حق قدره ومقداره العظيم
Ya Allah, berilah shalawat dan salam kepada pemimpin kami nabi Muhammad saw sang pembuka untuk segara yang tertutup, yang mengakhiri (para nabi) yang terdahulu, sang pembela kebenaran dengan cara yang benar, yang memberi petunjuk ke jalanMu yang lurus, dan semoga (sholawat) salam juga tercurah kepada para keluarga dan sahabatnya, dengan sebenar-sebenar kedudukan dan keutamaannya yang agung.

Dalam suatu ungkapan disebutkan:
انصر الحق بالحق
Belalah kebenaran dengan cara yang benar

Kekalahan memang suatu hal yang sangat dikhawatirkan oleh setiap pejuang, bahkan setiap manusia. Sehingga tidak sedikit manusia yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya dan terhindar dari kekalahan. Akan tetapi mereka tidak menyadari  bahwa segala kemenangan datangnya dari dari sisi Allah swt. (Wa man nashru illa min 'indillah). Dan Allah swt hanya memperhatikan dan menilai suatu proses dari pada sekedar hasil. Untuk apa suatu hasil dapat diperoleh, jika prosesnya dimurkai oleh Allah swt?

Saudara, Teruslah kita memperjuangkan kebenaran dengan cara yang benar. Jika Allah swt memenangkan kita dalam perjuangan menegakkan kebenaran, maka kemengan itu akan menghasilkan keberkahan di segala aspek kehidupan. Bahkan keberkahan itu bukan hanya terlimpah bagi bangsa dan negara Indonesia tercinta saja, namun juga akan menebarkan keberkahan bagi penduduk dunia yang lebih luas.

Semoga Allah karuniakan kita kemenangan yang pernuh berkah.




Wallahu a’lam bish showab

Rumpin, 8 April 2019

Muhammad Jamhuri

Selasa, 02 April 2019

Maksiat Dalam Perjuangan

Seri Taujih Pemenangan
Umar bin Khattab ra pernah mengirim surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, paglima pasukannya.: Isinya, “Amma ba’du: Kuperintahkan dirimu dan pasukanmu untuk bertakwa kepada Allah dalam setiap kondisi. Takwa kepada Allah adalah persiapan terbaik untuk menghadapi musuh dan strategi paling jitu di medan perang. Kuperintahkan dirimu dan pasukanmu untuk lebih berusaha menjauhi maksiat dibanding musuh. Sebab dosa yang dilakukan pasukan kita itu lebih mengkhawatirkan daripada kekuatan musuh. Umat Islam diberi kemenangan lewat maksiat yang dilakukan musuh. Kalau bukan karena itu, kita tidak mempunyai kekuatan melawan mereka. Pasalnya, jumlah kita kalah dengan jumlah mereka. Perlengkapan kita juga kalah dengan perlengkapan mereka. Bila kita sama-sama bermaksiat, maka mereka lebih unggul dalam hal kekuatan daripada kita”

Isi surat Umar bin Khattab itu memberi pesan kepada paglima dan pasukannya beberapa hal:
  1. Kemenangan dalam perjuangan tidak bergantung kepada banyaknya pasukan dan fasilitas, akan tetapi sebesar apa rasa takut pasukan kepada Allah swt dari berbuat maksiat 
  2. Kemaksiatan yang dilakukan pasukan lebih sanagat dikhawatirkan dari pada sedikitnya jumlah pasukan, dana dan fasilitas yang dimiliki. 
  3. Kekalahan lebih banyak diakibatkan karena ketidaktaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Bukan semata kehebatan strategi semata. (belajar dari perang Uhud)_

Kemaksiatan terjadi bukan hanya kita tidak meksanakan shalat atau ibadah lain yang berhubungan dengan Allah swt. Akan tetapi kemaksiatan juga dapat terjadi karena kesalahan yang dilakukan sesama manusia. Rasulullah saw hampir saja malam itu akan diberitahu Malaikat bahwa malam itu akan turun lailatul qodar dan beliau akan memberitahukan kabar baik ini kepada para sahabat. Akan tetapi pemberitahuan itu ditunda hanya karena ada dua sahabat yang masih berselisih hati di antara mereka. Dapat dibayangkan, hanya karena berselisih hati saja, dapat menunda turunnya keutamaan malam kemuliaan itu.

Berselisih dan menyelisih jika sampai tanazu” (saling bertikai/ribut) maka akan memperlemah kekuatan dan wibawa di hadapan musuh-musuh. Sebagaimana penjelasan Allah swt;

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal: 46)

Saudara, ayat ini, diakhiri dengan kata sabar, bahwa Allah akan bersama dan berpihak kepada orang-orang yang sabar. Bahwa perbedaan pendapat dan berselisih pandangan adalah sesuatu yang wajar. Asal saja perselisihan dan perbedaan pandangan itu jangan sampai terjadi pertikaian dan berbantah-bantahan. Oleh sebab itu, sikap bersabar dengan menahan dari komentar atau tindakan yang akan menimbulkan pertikaian di dalam barisan pejuang adalah sangat disukai oleh Allah. Dan Allah akan bersama dan berpihak kepada orang-orang sedemikian sabar.

Jadi, jika kita ingin menang, hendaklah selalu menjauhi perbuatan maksiat. Baik maksiat kepada Allah dan rasulNya, maupun maksiat kepada sesama manusia yang akan mendatangkan perselisihan dan kelemahan. Semoga Allah swt melindungi kita semua dari maksiat-masksiat tersebut. Aamiin.

Wallahu’alam
Rumpin, 2 April 2019
Muhammad Jamhuri


Senin, 01 April 2019

Menjadi Pejuang yang Smart dan Politik Gagasan


Seri Taujih Pemenangan

Saat itu, pasukan kaum muslimin tidak menyangka, bahwa pasukan musuh yang akan dihadapinya adalah pasukan yang dilengkapi kendaraan yang besar dan kuat. Ya, merekalah pasukan gajah Persia. Ratusan gajah dan penunggangnya dikerahkan oleh Persia untuk menghadapi kaum Muslimin. Panglima pasukan Persia; Rustum, sangat percaya bahwa mereka akan sangat mudah mengalahkan kaum muslimin. Pasalnya, pasukan muslimin hanya menggunakan kuda sebagai kendaraan perangnya. Sedangkan secara psikis, kuda merasa takut menghadapi gajah yang tinggi dan besar. Belum lagi, pasukan muslim sulit untuk menyerang penunggangnya yang duduk di atas gajah yang tinggi.

Dalam kondisi yang sedemikian rupa, kaum muslimin menguras pikirannya untuk mencari stretegi menghadapi musuh. Timbul gagasan, mereka membuat patung-patungan atau boneka besar yang mirip dengan gajah. Lalu boneka besar gajah itu di putar-putarinya, sementara kuda-kuda ditunggangi dilatih kaum muslimin berputar mengelilingi boneka tersebut. Awalnya kuda-kuda itu tidak mau mendekati karena merasa takut dengan boneka gajah, namun lambat laut kuda-kuda itu berani mendekati boneka gajah. Walhasil, saat perang berkecamuk, kuda-kuda itu tidak takut menghadapi dan mendekati gajah-gajah asli pasukan Persia.

Sementara itu, untuk menyerang para pasukan pengendara gajah yang duduk di atas gajah, pasukan muslim tidak memiliki senjata yang dapat menjangkau mereka selain panah. Karena jika hanya menggunakan pedang di tengah perang face to face, hal itu sulit dilakukan. Timbullah gagasan baru. Yaitu pasukan muslimin membuat tombak runcing yang berukuran panjang, agar dapat menyerang pasukan gajah dari dekat. 

Saat itu, strategi pun diatur. Pasukan muslimin yang hanya bersenjata pedang dan panah berada di barisan terdepan. Melihat kondisi ini, pasukan Persia bernafsu ingin menerjang barisan pasukan muslim bersenjatakan pedeng itu dengan gajah-gajahnya. Akan tetapi setelah, pasukan gajah mulai menedekati pasukan berpedang, pasukan pedang mundur dan digantikan dengan majunya pasukan bertobak panjang, sehingga para penunggang gajah terkena tombak yang diarahkan pasukan muslimin. Belum lagi banyak gajah yang matanya terkena sasaran tombak, sehingga mengamuk dan menjatuhkan para penunggangnya.

Walhasil pasukan muslimin pun dengan gilang gemilang dapat memenangkan pertempuran yang disebut dalam buku sejarah sebagai perang “Al-Qodisiyah” itu. Bahkan mereka bisa memasuki istana raja Persia yang megah dan indah, dan membawa ghanimah yang banyak untuk dilaporkan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Namun, datangnya harta ghanimah berupa pakaian sutera dan perobat rumah istana yang terbuat dari emas itu, malah membuat Umar bin Khattab menangis mengeluarkan air mata. Kaum muslimin dan pasukan yang membawa ghanimah pun terheran. Ketika seseorang bertanya kepada Umar bin Khattab tentang sebab ia menangis, Umar menjawab, “Sungguh yang aku takutkan dari umat ini adalah terbukanya pintu kekayaan dunia, sehingga mereka melupakan akhiratnya”.

Saudara, kita sedang menghadapi “pasukan gajah”. Mereka dilengkapi aparat, media, dana, konglomerat dan berbagai fasilitas lainnya. Kita sebagai pasukan muslimin haruslah smart. Harus lahir ide-ide dan gagasan-gagasan cemerlang. Para petinggi partai kita sudah memberikan contoh. Di tengah-tengah kebuntuan partai-partai karena konsentrasi masyarakat terfokus pada pemilihan presiden dan wakilnya yang membuat partai-partai dan calegnya termarjinalkan dan terlupakan, PKS hadir dengan “Politik Gagasan”. PKS memberikan warna baru dalam keberpihakan kepada rakyat kecil dan ulama. Empat program yang realistis yang akan diwujudkan jika PKS yang bernomor 8 ini menang, yaitu (P)erlindungan ulama dan tokoh agama melalui penyusunan undang-undang, (K)endaraan cc kecil bebas pajak, (S)im berlaku seumur hidup, dan (8) juta penghasilan bebas pajak. Keempat ini program ini sangat berpihak kepada rakyat kecil. Diringkas menjadi “PKS-8”. Setelah empat program ini dilaunching ke masyarakat, alhamdulillah mendapat sambutan yang luas, bahkan akan ditiru oleh partai dan calon lain meskipun terkesan hanya sekedar meraup suara karena program mereka tidak logis dan tidak realistis.

Jika para pimpinan pusat kita telah memberi contoh dalam mengedepankan “Politik Gagasan” maka alangkah baiknya jika hal itu dapat kita tiru di daerah-daerah. Baik gagasan program, gagasan cara berkampanye, dan gagasan menedekatkan masyarakat agar memilih PKS dan calegnya, sehingga kemenangan akan semakin kita raih. Jadilah Pejuang yang Smart.

Wallahu a’lam bish showab

Rumpin 1 April 2019

Muhammad Jamhuri