Tampilkan postingan dengan label Ilmu Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 April 2023

Mentadabburi Lima Unsur Definisi Al-Quran

Para ulama ketika mendefinisikan sesuatu, mereka memasukkan segala sesuatu yang merupakan bagian dari sesuatu itu, serta mengeluarkan sesuatu yang bukan bagian dari sesuatu tersebut. Oleh sebab itu para ulama mendefinisikan al- Quran sebagai:

 القران هو : كلام الله المعجز المنزل على محمد صلى الله عليه و سلم المنقول بالتواتر المتعبد بتلاوته 

Al-Quran adalah firman Allah yang mengandung mukjizat dan diturunkan kepada nabi Muhammad saw, yang diriwayatkan secara mutawatir (otentik) dan membacanya bernilai ibadah.

Dari definisi atau pengertian al-Quran ini, maka al-Quran memiliki lima unsur kekhususan:

Pertama, al-Quran adalah kalamullah (firman Allah), baik secara teks maupun kandungan makna. Pengertian ini mengeluarkan hadist dan hadist qudsi. Karena hadist adalah ucapan atau sabda Nabi, perbuatan dan taqrirnya. Sedangkan hadist qudsi adalah hanya kandungan makna yang berasal dari Allah, sedangkan teks nya berasal dari Nabi Muhammad saw. 

Karena al-Quran adalah kalamullah (firman Allah), maka ia menjadi media (sarana) untuk komunikasi Allah kepada manusia. Jika kita berdoa, maka itu adalah omongan atau ucapan kita kepada Allah. Namun, jika saat kita membaca al-Quran  maka sebenarnya Allah swt sedang "ngobrol" dengan kita. Maka setiap kita membaca al-Quran, kita akan mengetahui apa maunya Allah terhadap kita. Apakah Anda ingin diajak ngobrol oleh Allah swt? Apakah Anda ingin tahu apa maunya Allah terhadap kita? Apakah Anda tidak ingin dicuekin Allah? Maka bacalah al-Quran. 

Apa perasaan kita jika kita diajak ngobrol oleh seorang presiden? Senang dan bangga bukan? Mengapa kita tidak senang dan bangga jika diajak bicara dan ngobrol oleh Allah?. Sekali lagi, kalau kita sholat atau berdoa, itu adalah omongan dan obrolan kita kepada Allah yang boleh jadi Allah cuekin. Tapi jika kita ingin diajak bicara dan ngobrol oleh Allah, maka bacalah al-Quran. Orang yang sering diajak ngobrol oleh Allah (dengan membaca al-Quran), maka Allah akan bertambah senang dan cinta. Bahkan akan mengabulkan permintaan melebihi  isi doa-doa yang diminta para pendoa.

Rasulullah saw bersabda, Dari Abu Sa’id ra bersabda Rasulullah SAW, “Rabb Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa disibukkan dengan Alquran daripada berzikir dan berdoa kepada-Ku, niscaya Aku beri ia sesuatu yang terbaik yang Aku berikan kepada orang yang meminta kepada-Ku. Dan keutamaan Kalamullah terhadap kalam lainnya seperti keutamaan Allah terhadap makhluk-Nya.” (H.R.Tirmidzi)

Kedua, Al-Quran  adalah mukjizat. Dia adalah mukjizat kholidah (yang kekal) hingga hari kiamat. Berbeda dengan mukjizat-mkjizat lain yang diberikan kepada Nabi yang bersifat sementara, seperti mukjizat Nabi saw dapat membelah bulan, jari tangannya dapat mengeluarkan air dan lainnya yang bersifat sementara dan hanya ada saat Nabi saw masih hidup. Namun al-Quran kemukjizatan akan berlaku hingga masa yang akan datang. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika umat Islam meninggalkan al-Quran. 

Dalam kisah-kisah perguruan silat, suatu perguruan akan dianggap paling hebat jika ia dapat melanjutkan dan mewariskan ajaran jurus-jurus silat yang ditinggalkan gurunya dan tertulis dalam buku wasiat. Bahkan para muridnya akan menjadi pendekar yang sakti mandraguna jika dapat menyerap dan mempraktekkan jurus-jurus gurunya tersebut.

Sedangkan al-Quran adalah "Buku Pusaka" yang ditinggalkan "Ayah Rohani" kita, yakni Rasulullah saw sang makhluk termulia. Di dalam buku pusaka itu juga terdapat jurus-jurus yang jitu. Baik jurus berekenomi, jurus bernegara, jurus berkeluarga, jurus berperang, jurus berkemajuan dalam ilmu dan teknologi, serta jurus lainnya. Maka jika umatnya mempelajarinya, mentadabburinya, mengamalkannya, maka dapat dipastikan umatnya akan menjadi paling unggul di atas umat lain. 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah". (QS. Ali Imran: 110)

Ketiga, Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Definisi ini mengeluarkan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-nabi lain. Misal kalamullah yang ditrunkan kepada Nabi Isa as yang disebut disebut Injil, kepada Nabi Musa as yang disebut  Taurat dan kepada Nabi Daud as yang disebut Zabur. 

Ini juga mengkorfirmasi kepada kita bahwa al-Quran tidak diturunkan kepada seorang yang biasa-biasa saja. Akan tetapi seorang yang menjadi piihan Allah swt (al-Mukhtar wa al-Mushtofa). Beliau juga adalah pemimpin para Nabi dan Rasul (imamul anbiya wal mursalin). Seorang yang termulia tidak mungkin akan diberi tugas sesuatu yang kecil, akan tetapi risalah yang diembannya adalah sesuatu yang sangat mulia. 

Oleh sebab itu contoh terbaik dalam meniru jurus-jurus isi al-Quran adalah pengemban wahyu itu sendiri yang memiliki sifat mulia. Yakni Rasulullah saw. Karena ketika Aisyah ditanya seseorang tentang 'Bagaimana Akhlak Rasulullah saw?' Beliau menjawab, "Akhlaknya adalah al-Quran".

Keempat, Al-Quran diriwiyatkan secara otentik. Keaslian al-Quran sudah tidak diragukan lagi. Al-Quran sudah ditulis dan dijaga serta dihafal oleh para sahabat-sahabatnya sejak Rasulullah saw masih hidup. Bandingkan dengan kitab lain yang ditulis setelah ratusan tahun setelah wafat nabinya? Al-Quran sejak di generasi pertama sudah diriwayatkan oleh banyak orang sahabat (mutawatir), lalu diriwayatkan kembali oleh generasi setelah mereka(era tabiin), juga oleh generasi berikutnya (era tabiit tabiin), hingga saat ini. 

Allah pun telah menjamin penjagaan al-Quran dari kepalsuan. Firman Allah swt :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. Al-Hijr: 9)

Allah swt pun menjamin bahwa al-Quran tak ada keraguan dalam isi dan kontennya:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ

 Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya (QS. Al-Baqarah : 2)

 Kelima, Membaca al-Quran merupakan bentuk ibadah. Maksudnya, meskipun seseorang tidak mengerti hukum tajwid seperti hukum idghom, ikhfa dan iqlab dan lainnya. Atau tidak mengerti tentang terjemah dari bacaan al-Quran yang dibacanya, maka membacanya dengan benar saja sudah merupakan bentuk ibadah. Bahkan satu huruf yang dibacanya mengandung 10 kebaikan. Rasulullah saw bersabda, 

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا , لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ ( رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْح )

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi, no. 2910. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Tirmidzi, no. 2910. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].

Muhammad Jamhuri, 5 April 2023/ 14 Ramadhan 1444 H

Jumat, 31 Maret 2023

Kita Bisa Mulia Atau Hina Karena Al-Quran

 

Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra berkata : 

ان الله يرفع بهذا الكتاب قوما و يضع به اخرين

Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) suatu bangsa dengan kitab ini (al-Quran) dan merendahkan bangsa lainnya juga dengan kitab ini (al-Quran).

Itulah kenyataan. Bangsa Arab yang semula tidak diperhitungkan dan tidak dilirik sedikit pun oleh bangsa-bangsa lain, menjadi bangsa yang sangat diperhitungkan dalam kancah politik, ekonomi, sosial dan militer. Saat al-Quran diturunkan secara berangsur, cuma ada dua negara super power yang diperhitungkan seluruh bangsa-bangsa dunia. Yakni Romawi dan Persia. Namun dalam perjalanan sejarahnya, dua bangsa besar itu dapat ditaklukkan oleh bangsa Arab dan Kaum Muslimin, yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan oleh bangsa manapun. Apa rahasianya? Karena umat Islam komitmen membaca, mempelajari dan mengamalkan al-Quran secara konsisten.

Kenyataannya, sesuatu yang disandarkan kepada al-Quran, maka sesuatu itu menjadi mulia, bahkan menjadi termulia. Sebagai contoh, Nabi Muhammad saw menjadi Ayroful Anbiya wal mursalin (Nabi dan Rasul termulia) karena beliau diturunkan padanya kitab al-Quran. Malam Lailatul Qodar menjadi malam termulia dan lebih baik dari seribu bulan, karena di malam itu diturunkan al-Quran. Bulan Ramadhan menjadi bulan yang suci dan termulia karena di bulan itulah diturunkannya al-Quran. Jibril menjadi malaikat termulia di antara para malaikat lainnya, karena beliau ditugasi Allah untuk menyampaikan wahyu (al-Quran) kepada Nabi Muhammad saw. Dan Dua kota tersuci yang ada di atas muka bumi, yakni Makkah dan Madinah, menjadi kota mulia lagi suci karena di dua kota itulah Al-Quran diturunkan, sehingga kita mengenal istilah surah Makkiyah dan surah Madaniyah (surat al-Quran yang diturunkan di Makkah/sebelum hijrah dan di Madinah/setelah hijrah).

Saya punya beberapa teman di Sukabumi, mereka semangat untuk membuat Pesantren Tahfizh al-Quran. Mereka merintis mulai dari Rumah Quran dengan menggunakan sebagian space rumahnya untuk para penghafal al-Quran, hingga santrinya bertambah, akhirnya mereka menyewa rumah makan yang sudah tidak berfungsi lagi sebagai rumah makan. Awalnya mereka hanya akan menyewa selama setahun saja karena keterbetasan dana. Namun karena mereka khawatir tahun depan akan ada banyak santri baru sementara jika kontrak sewa habis akan kesulitan mencari tempat lain, akhirnya mereka menyewanya untuk selama dua tahun, sebagai antisipasi di atas. Subhannallah, karena mereka bersungguh-sungguh untuk mensyiarkan dan memasyarakatkan al-Quran, empat bulan sejak menyewa rumah makan tersebut, mereka sudah ditawari orang dengan wakaf sebidang tanah lebih dari 1 hektar lengkap dengan rumahnya yang sudah tidak digunakan pemiliknya. Ini adalah contoh kemberkahan dan kemuliaan memperjuangkan al-Quran. 

Namun di sisi lain, banyak kisah, orang-orang yang konsen kepada al-Quran dengan tujuan keuntungan duniawi semata, atau sekedar menghafal tanpa pengamalan dan pemahaman yang benar sehingga berdampak buruk terjadi pada pelakunya. Kaum Khawarij adalah kelompok sempalan Islam yang anggotanya banyak yang hafal al-Quran. Namun karena pemahaman yang salah terhadap Islam serta berburuk sangka kepada para sahabat, mereka dimasukkan sebagai kelompok sesat oleh mayoritas ulama Islam dan para sahabat. Tidak sedikit juga para penghafal al-Quran yang tidak mengamalkan al-Quran akan berdampak buruk baginya. Kisah seorang yang hafalan al-Qurannya tiba-tiba hilang hanya karena tergoda oleh kecantikan wanita kafir hingga ia menjadi murtad, dan hafalan al-Qurannya hilang. Begitu juga tidak sedikit para penghafal al-Quran yang akhlak dan sikapnya tidak sesuai dengan ajaran al-Quran.

Tidak heran jika ungkapan Umar bin Khattab di atas menjadi kenyataan, "Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) suatu bangsa dengan kitab ini (al-Quran) dan merendahkan bangsa lainnya juga dengan kitab ini (al-Quran)". Dengan kata lain, kita bisa mulia atau hina karena al-Quran . Oleh sebab itu ada doa yang berbunyi, "Allahumma ij'al al-Qur'ana hujjatan lana Laa hujjatan alaina". Ya Allah, jadikanlah al-Quran sebagai penolong bagi kami, bukan sebagai penjurumus atas kami.

Terlebih jika umat sudah jauh dari mempelajari al-Quran. Tidak peduli dengan al-Quran, bahkan membacanya pun tidak, maka dikhawatirkan akan direndahkan Allah sebagaimana bangsa-bangsa lain yang telah direndahkan Allah swt. 

Di bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya al-Quran seperti saat ini, marilah kita kembali akrab dengan al-Quran dan mendudukkan fungsinya sesuai dengan arahan dan firman Allah swt, yakni sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas serta pembeda (furqan) antara yang haq dan batil dengan pemahaman yang lurus dan sebenarnya. Sebagaimana firman Allah swt:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS. Al-Baqarah: 185)

M. Jamhuri, 8 Ramadahan 1444 H/31 Maret 2023 M.


Kamis, 04 Oktober 2018

Bacalah Al-Quran Sebelum Dipersulit Penguasa - laa samahallah-

Judul itu saya ambil, karena ingat dengan kisah nyata yang dialami oleh almarhum KH. Acep Abdul Syakur, rahimahullah, pendiri Yayasan Asy-Syukriyah Tangerang.

KH. Acep Abdul Syakur berkisah. Saat muda dahulu, setelah menyelesaikan pendidikannya di perguruan Asy-Syafi’iyah yang diasuh oleh alm KH. Abdullah Syafi’i  di Jakarta, beliau mendapat panggilan untuk melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Saat berangkat,  beliau memilih berangkat lewat darat, beliau melewati beberapa negara seperti Malaysia, India, Pakistan dan Turki. Saat di Turki beliau bertamu dan menginap di sebuah rumah bapak tua warga Turki yang sudah lanjut usia. Di sela-sela singgah di rumah bapak tua itu, banyak kisah yang diceritakan oleh sang empunya rumah. Termasuk kisah dirinya di masa-masa sulit zaman pemerintahan sekuler Kamal At-Tarturk. Kebetulan bapak tua ini mengalami zaman pemerintahan sekuler Turki era presiden Kamal At-Tarturk. Beliau bercerita bahwa saat itu semua adzan di masjid-masjid harus diganti dengan bahasa Turki. Demikian juga dengan al-Quran, masyarakat Turki tidak diperbolehkan menyimpan mushaf al-Quran dengan tulisan Arab. Semuanya harus ditulis dengan bahasa Turki. Singkat kata, arus sekularisasi begitu dahsyat. Suara adzan –meski dengan bahasa Turki – dibatasi. Ulama-ulama yang tegas dan lurus pun dikriminalisasi.

Acep bercerita, “Saya melihat tangan bapak tua itu ada bekas sobek atau codet agak ke dalam,  saya pun bertanya, kenapa tangan bapak seperti ada bekas luka?”. Pak Tua itu bercerita, “Ini dahulu karena saya mempertahankan sisa mushaf satu-satunya yang saya miliki. Saat itu aparat At-Tartturk setiap malam berkeliling patroli guna menangkap siapa saja yang melakukan perkumpulan atau pengajian. Malam itu mereka menyatroni rumah saya, tapi tidak menemukan saya. Karena saya sedang membaca al-Quran di kandang kambing saya. Saya menyimpan mushaf al-quran satu-satunya di kandang kambing karena khawatir akan disita oleh aparat jika menyatroni rumah saya. Dan dengan lampu minyak saya membaca al-Quran itu di dalam kandang kambing. Saya tidak sadar bahwa beberapa aparat sedang patroli di sekitar rumah saya. Karena mereka tidak menemukan siapa-siapa di rumah saya, mereka pun memeriksa daerah sekitar rumah saya. Karena saya sedang khusyu’ membaca al-Quran, kedatangan mereka mendekati saya tidak saya sadari. Dan tiba-tiba mereka menggebrak pintu kandang kambing saya, dan memaksa saya keluar dari kandang kambing sambil memegang mushaf al-Quran yang masih dalam genggaman tangan saya. Saat aparat itu melihat apa yang saya pegang dan akan merampasnya, saya bertahan memegang al-Quran itu sekuat-kuatnya. Karena itu adalah mushaf berbahasa arab satu-satunya yang masih ada. Mereka terus memaksa ingin merebut mushaf itu dari tangan saya. Saya pun tetap bertahan. Hingga pedang yang dibawa aparat itu mendarat di pergelangan saya dan merobek kulit tngan saya hingga mendekati siku. Tangan saya berdarah dan mulai melemah. Akhirnya mushaf al-Quran itu berpindah ke tangan aparat. Itulah sebabnya tangan bekas sayatan pedang itu masih membekas hingga kini.”

Mendengar kisah almarhum KH. Acep Abdul Syakur tersebut, saya termenung, betapa sulitnya masa-masa itu untuk membaca al-Quran. Bahkan mempertahankan mushaf al-Quran harus berluka-luka. Kemudian saya mengaca ke zaman now. Betapa zaman kita kini, kita masih bisa membaca al-Quran tanpa sembunyi-sembunyi kapanpun kita mau. Namun mengapa kita tidak rajin membacanya?

Saudaraku…saat ini kita mendengar dan membaca berita bahwa adzan mulai dibatasi, ulama dikriminalisasi, juara olah raga lebih dihargai dari pada juara MTQ yang sama-sama membawa nama harum bangsa. Akan kah suatu saat kita pun akan sulit membaca al-Quran?  Wallahu a’lam. Namun yang pasti bukan tidak mungkin apapun dapat saja terjadi.

Sebelum rasa ketakutan itu datang, marilah kita rutin membaca al-Quran. Jangan hanya kita baca saat datang bulan Ramadhan saja. Yakinlah dengan mendawamkan/merutinkan bacaan al-Quran setiap hari,  kita dan negeri kita akan mendapat keberkahan dan kemuliaan. Bahkan Allah akan memenangkan kita dalam segala pertarungan. Wa man nashru illa min indiLLah (Tiada kemenangan kecuali datang dari sisi Allah swt). Umar bin Khattab saat mengutus pasukannya selalu mencari pasukan terdepannya adalah para sahabat yang hafal al-Quran. Karena beliau yakin, kemenangan umat Islam bukan karena banyaknya senjata dan fasilitas, namun karena kedalaman iman dan meninggalkan kemaksiatan.

Muhammad  Jamhuri
4 Oktober 2018

Kamis, 31 Mei 2018

Kenapa Wahyu Turun di Gua dan Bukan di Masjid? Bukankah Tempat Terbaik itu Masjid?


Sentilan Sentilun Ala U.J (Ust.Jamhuri)

Kenapa Wahyu Turun di Gua dan Bukan di Masjid? Bukankah Tempat Terbaik itu Masjid?


“Pak ustadz, saya jamaah ustadz, boleh gak ganggu?” Sapa Jamaah di ujung telepon.

“Oh ya..ada yang bisa saya bantu?” Jawab ustadz menawarkan bantuan.

“Gini ustadz, saya baca di medsos, ada akun FB atas nama AFI NIHAYA FARADISA, dia mempertanyakan, mengapa wahyu turunnya di gua? Bukan di masjid? Padahal tempat yang terbaik kan di masjid?” Cerita Jamaah.

“Terus..?” Ustadz balik bertanya

“Ya itu tadi ...apa jawabannya, ustadz?” . Jamaah penasaran.

“Tunggu...tunggu....siapa nama pemilik  akunnya? Kedengarannya punya arti aneh deh..?” Tanya ustadz

“Akunnya AFI NIHAYA FARADISA, pak ustadz...” Jawab jamaah.

“Hmm.. Saya jadi inget ayat yang berbunyi AFI iLLAH SYAKKUN”. Ustadz berseloroh.
“Apa tuh ustadz artinya?” Tanya jamaah

“Itu kalimat sindiran Allah kepada orang-orang yang meragukan adanya Allah, artinya ayat itu adalah ‘apakah terhadap adanya Allah ada keraguan?’ Nah, kata AFI NIHAYA FARADISA kalau itu berasal dari bahasa Arab, artinya adalah ‘Apakah di akhir ada surga?’, jadi sepertinya mirip. Mirip keraguan adanya surga atau tidak?” Jelas ustadz.

“Kaya orang PKI ya ustadz yang tidak percaya adanya hari kiamat, surga dan neraka?” Ujar jamaah,

“Wah...saya tidak tahu...wallahu a’lam.... dah....” jawab ustadz.

“Terus, gimana dong ustadz, jawaban terhadap pertanyaan tadi? Pertanyaannya, kenapa wahyu turun di gua bukan di masjid?, padahal masjid adalah tempat yang paling mulia?” Tanya jamaah mengingatkan.

“Hemmm...bismillah....begini...sebenarnya turunnya wahyu itu terbagi dua;
Pertama, turun secara sekaligus, yakni dari Lauhil Mahfuzh ke langit dunia secara sekaligus, artinya tidak berangsur. Redaksi alquran yang dipakai untuk menjelaskan turunnya al-quran secara sekaligus ini adalah akar kata “ANZALA-YUNZILU”. 

Kedua, al-quran turun dari langit dunia ke bumi secara berangsur dan bertahap. Redaksi alquran yang dipakai untuk menjelaskan turunnya al-quran bertahap ini adalah akar kata “NAZZALA-YUNAZZILU”.

Nah, jadi saat al-quran diturunkan dari langit ke bumi, itu secara bertahap, bukan semua ayat turun di gua. Tapi,  ada ayat yang turun saat di masjid, ada saat di padang Arafah, di perjalanan, di medan perang dan lain-lain.

Mungkin pemilik akun itu bermaksud ayat yang turun di gua itu adalah wahyu pertama yang turun, dan gua yang dimaksud juga adalah gua Hira...

Jika itu yang dimaksud, lalu dia memprotes kenapa turun di gua?Kok tidak di masjid? Maka jawabnya,:  ya..suka-suka Allah-lah...sama halnya dengan protes orang Yahudi saat kiblat umat Islam dialihkan Allah dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram...jawaban Allah; “Wa lillahil masyrriq wal maghrib’ (Kepunyaan Allah arah timur dan Barat)..artinya..ya suka-suka Allah  lah yang punya arah mata angin...Yang punya bumi.. Yang punya masjid...Yang punya gua...he..he...” Jawab ustadz dengan sersan (Serius tapi santai)

“Tapi kan, bukankah masjid adalah tempat yang terbaik, pak ustadz?” Tanya jamaah lagi
“Benar” jawab ustadz.

“Tapi kenapa Allah memilih gua sebagai tempat turun wahyu pertamaNya?” Tanya jamaah penasaran.

“Hadeuh....! kan udah saya jelasin....itu suka-suka Allah yang punya Gua..?” jawab ustadz kesal.
“Maaf pak ustadz, selain jawaban tadi, ada jawaban lain yang bisa logis gitu?” desak jamaah.
“Begini pak....Dulu kondisi masjidil Haram itu agak parah... di dalam Ka’bah dan sekitarnya saja banyak sekali patung-patung dan berhala. Bahkan jumlah patung itu ada 360 biji......Nah, bagaimana Nabi bisa konsentrasi mencari jatidiri dan membersihkan diri? Sementara berhala-berhala dengan berbagai bentuknya ada di sana? Belum lagi kondisi masyarakat jahiliyah saat itu masih mabuk-mabukan hingga masuk ke sekitar Ka’bah? Lha? Nanti, bapak protes lagi, jangan-jangan wahyu itu datang dari patung? Atau dari omongan ngelantur orang mabok? Hah? Bagaimana kalau ada anggapan seperti itu? Kacau kan wahyu nya nanti?, bisa tidak dipercaya? Nah, oleh sebab itu, Allah pilih tempat yang hening, jauh dari hiruk pikuk kejahiliyahan. Paham..?”

Kedua, Nabi saw cuma sekali itu bertahannust (menyendiri untuk mendekatkan diri pada Tuhan) di dalam gua. Setelah itu, nabi tidak pernah ke Gua lagi kecuali saat bersembunyi di gua Tsur. Itu pun bukan untuk ibadah, tapi karena menghindar dari kejaran Quraisy saat Nabi saw berhijrah menuju Madinah. Selebihnya, Nabi banyak beribadah di Masjid. Apalagi saat di Madinah, Nabi saw selalu beri’tikaf di dalam masjid, bukan itikaf di dalam Gua. Paham?.Adakah riwayat Nabi beritikaf di gua? Gak ada kan?

Jadi, memang “Khoirul biqo’ baitun min buyutillah” (sebaik-baik dataran adalah rumah Allah alias masjid), dan Nabi telah mencontohkan sepanjang hidupnya beritikaf di masjid, bukan di gua apalagi di pasar...he..he...

Adapun nabi saw menyendiri di gua saat itu, dan tidak di masjid, karena di masjdil haram (ka’bah) suasananya tidak nyaman, baik karena kebisingan maksiat kaum Jahiliyah maupun karena banyaknya berhala-berhala di sekitar masjid. Begitu pak..sudah jelas?...
maaf Pak,  kuping saya udah panas nih, kelamaan nelpon.” Ustadz mengakhiri penjelasannya.

“Ohh ya ,,pak ustadz,..maaf nelpon kelamaan...terima kasih pak ustadz....atas pencerahannya...assalamu alaikum..?” Ucap jamaah mengakhiri pembicaraannya
“Walaikumussalam..” tutup Ustadz.


Jumat, 25 Mei 2012

Tadabbur Ayat Al-Israa’


“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “ (QS. Al-Israa: 1)



Mengapa Allah  swt memulai ayat  ini dengan kata “subhanalladzi” (Maha Suci Alllah) ? Jawabannya adalah agar kita menyikapi peristiwa Isra Mi’raj ini dengan pendekatan iman, bukan dengan pendekatan logika. Sebab, jika dengan pendekatan logika maka akan sulit dinalar oleh akal untuk suatu peristiwa Isra Mi’raj yang jaraknya jauh itu hanya dilakukan dalam waktu semalam saja.  Orang-orang Quraisy menempuh perjalanan Makkah-Jerussalem  biasa memakan waktu tidak kurang dari sepuluh hari.

Dengan pendekatan iman, maka kita akan mudah menerima peristiwa mukjizat ini. Karena tidak ada yang tidak mungkin di tangan Allah swt . Firman Allah swt, “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia“ (QS. Yasin: 82)

Penjelasan ini dikuatkan dengan kata berikutnya, “asraa” (Yang memperjalankan di malam hari). Dalam tata bahasa Arab, kata “asraa”  merupakan fi’il  maziid (kata kerja yang ditambahkan huruf), asalnya adalah “saraa-yasrii” (berjalan malam). Kata “saraa-yasrii” adalah bentuk fi’il lazim (kata kerja yang tidak membutuhkan objek). Kemudian ditambah dengan hamzah al-qoth’i di awal kata itu menjadi “asraaa’, sehingga berubah menjadi fi’il muta’addi (kata kerja yang membutuhkan objek/maf’ul-bih). Dengan demikian, pada dasarnya perjalanan Nabi saw pada peristiwa ini bukanlah berjalan dengan sendirinya. Akan tetapi beliau diperjalankan oleh Allah swt.

Pada ayat di atas berariti subjeknya adalah Allah, dan objeknya adalah Nabi Muhammad saw. Sehingga,  pada hakekatnya Allah-lah yang memperjalankan beliau di malam hari, bukan jalan dengan kemampuan Nabi sendiri.

Ibarat kisah dua semut. Semut pertama menempel di baju seseorang, sehingga saat baju itu dipakai, semut itu terbawa kemana-mana hingga ke tempat yang jauh mengikuti sang pemilik baju, lalu tiba sebelum malam. Tatkala semut itu turun dari baju dan bertemu semut lainnya, ia bercerita bahwa ia sudah berjalan-jalan ke tempat anu dan anu yang jauh. Tentu saja, jika semut yang kedua berpikir dengan logika semut, maka semut itu tidak mungkin berjalan ke tempat yang jauh, dan kembali sebelum matahari terbenam, sementara langkah-langkah semut begitu kecilnya. Akan tetapi permasalahannya adalah, semut itu bukan jalan sendiri, tapi diperjalankan oleh seorang yang memiliki baju yang telah dihinggapi semut tersebut..

Selanjutnya, Allah swt dalam ayat al-Israa ini menyebut kata “bi ’abdihi” (memperjalankan hambanya). Mengapa tidak menggunakan kata “bi rosulihi”? (memperjalankan rasul-Nya)? Hal ini menunjukkan adanya “isytirok” atau “musyarakah”  atau kesertaan siapapun dari hamba Allah yang ingin mendapat derajat seperti Rasulullah saw ber-mi’roj. Jadi siapa saja yang telah menyembah Allah dengan sebenar-benarnya penghambaan, totalitas hidupnya hanya untuk mengabdi kepada Allah, maka ia dapat bermi’roj (naik) ke hadapan Allah, meskipun tidak secara fisik. Oleh sebab itu, Rasulullah saw  bersabda, “Ash-Sholatu Mi’rojul Mukminin” (Sholat adalah mi’roj-nya orang-orang beriman).. Jadi, mi’roj bisa dilakukan semua hamba Allah swt yang totalitas hidupnya hanya mengabdi demi dan untuk Allah swt.

Kata berikutnya adalah “Lailan” (di malam hari). Mengapa Allah swt menyebut kata “lailan” ini?, padahal kata “saraa” atau “asraa” sudah mengandung makna berjalan di malam hari?. Hal ini untuk memberi pesan, bahwa jika seseorang ingin connect dan online dengan Allah swt tanpa ada gangguan “sinyal”, maka waktu yang tepat adalah beribadah di malam hari melalui qiyamullail atau sholat malam/tahajjud. Firman Allah swt,  “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”  (QS. Al-Muzammil: 6). Betapa banyak wahyu yang Allah turunkan di malam hari? Termasuk wahyu yang pertama surat al-’Alaq 1-5 yang diturunkan saat malam Ramadhan di gua Hira. Begitu pula dengan surat al-Muddatstsir yang merupakan wahyu kedua yang Allah turunkan.

Dan seseorang yang rajin melaksanakan shalat tahajjud, maka ia mendapat kedudukan yang terpuji. Firman Allah swt:  “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji “ (QS. Al-Israa: 79).

Berikutnya, Allah swt menyebut dua masjid; Masjidl Haram dan Masjidil Aqsha. Mengapa? Untuk mengantarkan kepada kita agar hati kita selalu terpaut dengan masjid. Di mana pun kita berada, hendaknya hatinya terpaut dengan masjid. Maksudnya adalah sesibuk apapun kita, di manapun kita berada, usahakanlah saat-saat shalat fardhu di lakukan di masjid. Sehingga jika kita sedang di jalan tol misalnya, lalu datang waktu shalat, maka hendaknya kita sholat di masjid di rest Area. Karena dalam tiap langkah ke masjid akan dihapus satu dosa dan diangkat satu derajat.

Rasulullah saw dalam sebuah hadits menyebutkan bahwa salah satu golongan yang akan mendapat naungan di hari Kiamat yang tidak ada naungan kecuali nanungan Allah, adalah rojulun qolbuhu mu’allaqun bil masajid (seorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid). Ada dua kemungkinan makna hati yang terpaut dengan masjid ini. Pertama, orang itu tetap di masjid menunggu shalat setelah shalat (intizhar sholat ba’da shalat). Kedua, boleh jadi orang itu keluar dan melakukan aktifitas sehari-hari, namun setiap mendekati waktu shalat, dia bersiap-siap untuk melaksanakannya di masjid,, bukan di rumah, kantor atau lainnya.

Pesan kedua adanya penyebutan masjidil Aqsha pada ayat ini adalah, seakan ayat ini berpesan bahwa masjidil Aqsha adalah bagian dari sejarah peninggalan umat Islam. Dia adalah tempat di-israami’roj-kannya Nabi saw, dan dia juga merupakan kiblat pertama kaum muslimin. Sehingga keberadaan dan nasib masjid itu merupakan tanggung jawab seluruh kaum muslimin, dan bukan hanya menjaidi tanggung jawab bangsa Palestina saja. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang tidak memperdulikan urusan kaum muslimin, maka dia bukan termasuk golongan mereka.” (al-hadits).

Jika kita tidak bisa berjihad secara fisik membebaskan Masjidil Aqsha, maka hendaklah berjuang dengan harta kita. Jika masih belum dapat membantu dengan harta, maka paling tidak kita membantu mereka dengan doa-doa. Adakah kita pernah mendo’akan mereka?

Selanjutnya Allah swt menyebut kata “alladzi baarokna haulahu” (yang Kami berkahi sekelilingnya). Para ulama menyebut bahwa bentuk keberkahan Juressalem dan daaerah sekitarnya adalah bahwa di tanah itu banyak diutus para Nabi dan Rasul.  Imam al-Syafi’i menyebut bahwa keberkahan Masjidil Aqsha lebih luas dibanding keberkahan Makkah. Sebab, saat Allah menyebut keberkahan Masjidil Aqsha, Allah menyebutnya dengan ”Baarokna Haulahu” (Kami berkahi sekitarnya). Sedangkan pada saat menyebut Bakkah (Makkah), Allah hanya menyebut “bi bakkata mubaarokan” (di Makkah yang diberkahi) (QS. Ali Imran 96). Oleh sebab itu, Imam Syafi’i lebih menyukai beri’tikaf di Masjidil Aqsha dari pada di Masjidil Haram.

Lalu, di akhir ayat al-Israa ini, Allah berfirman, “Untuk Kami perlihatkan kepadanya (Muhammad) sebagian tanda-tanda kebesaran Kami, sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mendengar dan Maha Melihat (mengetahui)”.

Kalimat terakhir pada ayat ini memberi pesan kepada Nabi Muhammad saw dan kita semua agar tidak takut dalam menghadapi menjalankan tugas dakwah, karena backingnya adalah Allah yang Maha Kuasa, dan Dia melihat dan mendengar kita, tidak membiarkan kita sendirian.

Sebab turunnya ayat ini adalah, pada tahun kedelapam kemabian, Rasulullah mengalami musibah yang membuat beliau merasakan kesedihan. Sehingga tahun itu dalam kitab-kitab tarikh disebut ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan). Sebab, pada tahun itu beliau berturut-turut ditinggal mati oleh dua orang yang sangat dicintainya dan menolong dakwahnya, yaitu Khadijah binti Khuwailid sang isteri tercinta, dan paman beliau bernama Abu Thalib.

Keduanya berpihak membela dan membantu dakwah Rasulullah saw. Mereka adalah pemuka Quraisy yang sangat disegani oleh kaumnya.

Nah, dengan kematian mereka, Rasulullah saw merasa berdakwah sendiri. Tidak ada lagi yang dapat menolong beliau dari intimidasi kaum Quraisy dan beliau mengkhawatirkan dakwahnya dan para pengikutnya.

Untuk menghibur Nabi saw dan menguatkan hatinya itulah, Allah swt ‘mengundang’ Nabi saw melihat-lihat kekuasan-Nya menyaksikan tanah Jerussalem tempat banyak nabi diutus di sana, bahkan nabi diperlihatkan ciptaan Allah yang spektakuler, yaitu berupa planet dan galaksi yang teratur rapi, bahkan beliau bisa naik ke langit yang ketujuh.

Hal ini seakan memberi pesan, “Hai para da’i, janganlah engkau takut pada orang-orang durjana, engkau berjuang tidak sendiri, engkau akan dibela dan ditolong Allah swt yang memiliki kekuasan di langit dan di bumi. Allah tidak membiarkan engkau berjuang sendiri, tapi Allah tetap memantau, melihat dan mendengar segala aduanmu. Oleh karena itu, janganlah engkau bersedih, meskipun harus ditinggal oleh orang-orang yang engkau cintai dan telah membantu engkau.”

Perjalanan rohani Isra Mi’rtaj ini menambah spritual  dan kestabilan jiwa Rasulullah saw dalam melanjutkan tugas dakwahnya. Begitupun bagi siapa saja yang ingin kestabilan jiwa, hendaklah mendekatkan Allah di malam hari. Karena hanya dengan mengingat Allah sajalah hati akan stabil (tenang). “Ketahuliah, hanya dengan mengingat Allah hati akan tenang.” (QS.Al-Ra’d: 28). Wallahu a’lam bish-showab.                                   
  Jamhuri


Senin, 15 September 2008

Nuzulul Qur’an

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil )”
(QS: al-Baqarah: 185)

Ayat di atas menjelaskan dengan tegas bahwa bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT di bulan yang agung, yakni Ramadhan. Bulan Ramadhan yang merupakan bulan agung menjadi tambah keagungannya dengan dipilihnya sebagai waktu turunnya al-Quran. Dalam ayat lain dijelaskan pula bahwa al-Quran diturunkan pada malam kemuliaan (lailatul qodar). Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (QS.al-Qodar: 1). Malam kemuliaan adalah malam yang penuh berkah atau malam yang diberkati Allah SWT. Hal ini ditegaskan lagi oleh Allah SWT dengan firmanNya yang artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[ dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan” (QS. Al-Dukhon: 2)
Ada dua model turunnya al-Qur’an: Pertama, al-Qur’an turun secara sekaligus berjumlah 30 juz dan 114 surat, yang Allah turunkan dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia. Redaksi al-Qur’am saat menjelaskan turunnya al-Qur’an secara sekaligus itu menggunakan lafadz “anzala” dan sejenisnya. Sebagai contoh ayat-ayat yang disebutkan di atas adalah model turunnya al-Quran secara sekaligus.
Kedua, al-Qur’an diturunkan secara bertahap, dari langit dunia ke bumi. Dalam hal menerangkan turunnya al-Quran menurut model ini, al-Qur’an menggunakan redaksi “nazzala” dan sejenisnya. Seperti firman Allah SWT yang artinya, “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS.Al-Isra: 82). Juga firman Allah SWT yang artinya: “Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. Al-Furqon: 32). Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah: Al Quran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan cara demikian hati nabi Muhammad s.a.w menjadi kuat dan tetap, serta kuat hafalannya.
Pada tahap turunnya al-Quran secara berangsur atau bertahap, maka ada ayat yang turun di bulan Ramadhan, ada pula ayat yang turun di bulan Syawal, Dzulhijjah dan bulan-bulan lainnya, sesuai dengan peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat tersebut. Itulah yang disebut dengan dengan asbabun nuzul (sebab turunnya ayat).
Meskipun pada tahapan turunnya ayat al-quran secara berangsur terjadi pada berbagai bulan, namun ayat dan wahyu pertama yang diturunkan ke bumi, yakni surat al-Alaq ayat 1-5, adalah ayat yang diturunkan pada malam bulan Ramadhan, tepatnya pada malam ke 17 bulan Ramadhan. Demikian menurut pendapat sebagian ulama
Jika mengamati ayat-ayat di atas, maka jelas bagi kita bahwa ada hubungan dan korelasi antara turunnya al-Qur’an dengan bulan Ramadhan. Oleh sebab itu Ramadhan sering pula dijuluki sebagai “Syahrul Qur’an” (bulan al-Qur’an). Selain karena al-Qur’an turun pada bulan Ramadhan, Nabi saw pun banyak mengulang bacaan al-Qur’an (tasmi’) di hadapan malaikat Jibril di bulan Ramadhan. Oleh sebab itu, banyak umat Islam memperbanyak baca al-Quran pun di bulan Ramadhan. Bahkan tidak sedikit para sahabat mengkahatamkan al-Qur’an dalam sehari sebanyak tiga kali khatam, ada pula yang sehari sekali khatam, ada pula yang khatam dalam waktu tiga hari.
Al-Qur’an berfungsi sebagai hudan (petunjuk), bayyinat (penjelas) dan furqon (pembeda antara kebenaran dan kebatilan). Tiga fungsi ini tidak akan berdaya apa-apa jika umat Islam tidak kembali mempelajarinya, memahaminya dan mengamalkannya. Betapa masih banyak umat Islam tidak mengerti akan ajaran Islam itu sendiri. Betapa masih banyak umat Islam yang tidak menggunakan al-Quran sebagai petunjuk dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam skala individu, masyarakat maupun Negara. Betapa banyak umat islam masih bingung untuk membedakan antara hak dan batil, antara kebenaran dan kebatilan akibat serangan media yang bertubi-tubi dalam memberikan fakta dan informasi yang bias. Oleh sebab itu tidak ada kata lain agar al-Quran dapat berfungsi sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Baqarah ayat 185 kecuali umat Islam harus mempelajari dan mengamalkan isi ajaran al-Qur’an.
Dewasa ini, masih banyak umat Islam yang memperlakukan al-Quran pada tataran kulitnya saja. Mereka menggunakan al-Quran hanya dalam acara-acara ceremonial saja, seperti pada peringatan hari-hari besar Islam, saat selamatan kematian sanak saudara serta saat pernikahan. Dalam acara pernikahan bahkan al-Qur’an dijadikan sebagai mas kawin atau mahar bagi calon pengantin. Setelah mereka menikah dan memiliki banyak anak, terkadang al-quran sudah tidak disentuh lagi, diletakkan di lemari hingga berdebu-debu. Padahal seharusnya ia dibaca setiap hari. Sebab, setiap kali Allah SWT menyebut kata “membaca” selalu menggunakan redaksi fiil mudhore (present continius tense) yakni “yatluu aayatiihi” (membaca ayat-ayatNya). Penggunaan kata kerja present continius tense mengisyaratkan bahwa al-qur’an hendaknya dibaca secara kontinyu dan terus menerus, setidaknya ia dibaca setiap hari.
Seorang pengamat mengatakan, “Umat Islam dapat maju jika dia berpegang teguh dan mengamalkan Kitabnya, sementara umat lain dapat maju dengan meninggalkan kitabnya (sekulerisme)”. Jika analisa pengamat itu benar, maka tidak ada kata lain agar umat Islam maju selain kembali kepada al-Qur’an, yakni dengan cara mempelajari, memahami dan mengamalkannya.##

Kamis, 19 Juni 2008

Menghindar Dari Fitnah Dajjal

Dari Tsauban , dari Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca membaca sepuluh ayat terakhir surat al-Kahfi, maka dia akan selamat dari fitnah Dajjal” (HR: an-Nasai))

Masih banyak hadits lain yang sama dengan hadits di atas. Di antaranya: “Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at maka ia dijaga dari fitnah Dajjal”, “Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama surat al-Kahfi maka ia selamat dari fitnah Dajjal”, “Barangsiapa membaca sepuluh terakhir dari surat al-Kahfi maka ia terpelihara dari fitnah Dajjal”. Dan masih banyak lagi hadist-hadits lainnya yang senada dengan itu.
Mengapa surat al-Kahfi dikaitkan dengan pemeliharaan dari fitnah Dajjal? Apa kaitannya surat al-Kahfi dengan fitnah Dajjal? Seperti apa fitnah Dajjal itu sebenarnya?
Secara bahasa, kata “Dajjal” berarti kadzdzab atau pendusta. Ada dua jenis Dajjal; “Dajjal besar” dan “Dajjal kecil”. Dajjal besar adalah adalah Dajjal yang dikabarkan oleh Rasulullah saw, bermata satu dan dikeningnya tertulis kalimat Dajjal, mempunyai kelebihan dari manusia normal, pembawa fitnah, dan mengajak manusia kepada kekafiran. Sedangkan “Dajjal kecil” manusia biasa namun bersifat pendusta besar. Sebagaian ulama memasukkan Musailamah al-Kadzdzab, sang tokoh yang mengaku sebagai Rasul pada zaman Abu Bakar, sebagai “Dajjal Kecil”. Dia telah membuat al-Qur’an tandingan dan menghilangkan syariat kewajiban zakat. Atas kesesatannya itulah Abu Bakar dan para sahabat memeranginya karena dianggap telah murtad.
Jadi meski “Dajjal besar” belum ada sekarang, namun Dajjal-Dajjal kecil sudah banyak berkeliaran di setiap tempat dan negara. Mereka adalah para pendusta, membolak-balikkan fakta sebenarnya dengan menggunakan media, yang benar jadi salah, yang salah jadi benar, bahkan mereka mengaku-ngaku sebagai Nabi baru atau pengikutnya.
Lalu apa kaitannya dengan surat al-Kahfi? Dajjal selalu mengembangkan fitnah di tengah-tengah manuisia, terutama fitnah agama, fitnah harta, fitnah ilmu, dan fitnah kedudukan. Empat fitnah inilah yang diceritakan Allah dalam surat al-Kahfi agar kita berlindung padaNya.
Pertama, fitnah agama. Ini tercantum pada saat Allah mencerita para pemuda Ashabul Kahfi, mereka adalah pendakwah, namun masyarakat dan negara memusuhinya bahkan mencarinya untuk ditangkap dan disiksa. Seluruh warga negara “disihir” dan diopinikan bahwa para pemuda muslim itu adalah para pengacau dan selalu melakukan keonaran di tengah-tengah masyarakat, sehingga semua warga memusuhinya. Untung saja Allah menyelamatkan mereka masuk ke sebuah gua (al-kahfi) dan terttidur di sana hingga 309 tahun lamanya.
Kedua, fitnah harta. Ini disebutkan saat Allah menceritakan shohibul jannatain (pemilik dua kebun). Kebun yang telah ranum dan panen tersebut sebenarnya merupakan nikmat Allah yang patut disyukuri oleh pemiliknya dengan melakukan ketaatan dan menyantuni fakir miskin. Namun sayang, pemilik kedua kebun yang tumbuh subur dan ranum itu kini lupa kepada Allah. Bahkan dia berkata bahwa suburnya kebun itu adalah semata-mata hasil kerjanya sendiri dan tidak ada campur tangan Tuhan padanya.
Ketiga, firnah ilmu. Ini Allah ceritakan pada saat nabi Musa as merasa dalam dirinya, seperti juga didukung oleh pengikutnya, bahwa Musa-lah saat ini manusia ter-alim dan terpandai di dunia ini. Tidak ada manusia yang secerdas dan sehebat Nabi Musa as di bidang ilmu pengetahuan. Lalu Allah menegurnya, bahwa masih ada hamba Allah yan lebih alim, cerdas, pintar dari pada nabi Musa as. Lalu Allah tunjukkan bahwa hamba Allah yang dimaksud itu adalah nabi Khidir. Ketika nabi Musa penasaran dengan kehebatan ilmu nabi Khidir, ternyata nabi Musa tidak bisa menandinginnya disemua peristiwa yang beliau lalui bersama nabi Khidir.
Keempat, fitnah kedudukan. Ini Allah ceritakan sebagai bukti kebalikan dari fitnah tersebut. Yakni saat Allah menceritakan kehebatan Dzulqarnain yang kekuasaannya dari timur hingga ke barat. Namun, meski beliau mempunyai kekuasaan, beliau tidak sombong pada Allah, beliau mengikuti sebab-sebab suatu kemenangan dengan usaha dan tawakkal kepada Allah. Negeri-negeri yang dilalui tidak dibuatnya tambah rusak seperti halnya yang dilakukan negeri adikuasa sekarang ini yang menjajah Irak dan Afghanistan yang tambah menimbulkan kesengsaraan dan kehancuran pada rakyat dan negara yang dijajahnya.
Keempat fitnah itulah yang kita memohon perlindungannya kepada Allah agar kita terjaga dari fitnah tersebut dengan membaca surat al-Kahfi seperti yang disabdakan Rasulullah saw.
Betapa saat ini kita diserang dengan keempat fitnah tersebut: Fitnah agama terbukti dengan beredarnya film “FITNA” karya pejabat Belanda, sokongan negara-negara kafir terhadap aliran sesat seperti Ahmadiyah dan lain-lain.
Fitnah harta terbukti dengan melambungnya harga kebutuhan pokok yang mengakibatkan frustasi di tengah masyarakat dan menimbulkan gejolak sosial, masuknya kaum misionaris untuk memurtadkan umat Islam dengan berkedok “bantuan sosial” dan lain-lain.
Fitnah ilmu tebukti dengan banyaknya orang yang mengaku ulama, kyai dan cendikiawan Islam, tapi pernyataan dan pendapatnya selalu meragukan dan merugikan umat Islam.
Fitnah kekuasaan terbukti dengan lahirnya negara adikuasa yang seenaknya mendikte negara lain dengan kezalimannya. Saat ribuan nyawa umat Islam hilang, mereka diam seribu bahasa. Tapi saat satu orang saja nyawa mereka hilang, semua dunia ribut menuntut.
Jika kita kurang iman, maka kita akan tergilas dengan empat fitnah itu. Dan boleh jadi, lambat-laun iman kita akan melayang dan menjadi kufur. Rasulullah saw mengibaratkan saat kita berpegang kepada agama Islam yang benar bagaikan memegang bara api, jika dipegang panas, tapi jika tidak dipegang itu agama kita.
Oleh sebab itulah Rasulullah saw berwasiat kepada para sahabat untuk jangan meninggal doa terhindar dari fitnah Dajjal setiap selesai bacaan tahiyat saat tasyahud akhir, juga dengan membaca surat al-Kahfi ini , terutama settiap hari Jum’at.. “jagalah diri kamu dan keluargamu dari siksa api neraka” (Qs. At-Tahrim: 6)#