Senin, 02 November 2026

Aku dan Syaikhuna Prof. KH. Syukron Makmun

foto saat hadiri hari milad beliau ke 82
Untuk menceritakan kisah tokoh besar seperti Syaikhuna KH. Syukron Makmun, tentu tidak cukup hanya dalam tulisan singkat ini. Selain usia beliau yang begitu panjang menurut kebanyakan orang yang sezamannya, Kehidupan beliau juga dipenuhi dengan kegiatan yang begitu padat setiap hari dan jamnya, bahkan menitnya, serta luas nya pergaulan beliau, baik pergaulannya bersama kalangan pejabat, ulama, tokoh, apalagi bersama kaum santri, bahkan dengan anak-anak yang usianya terpaut jauh dengan beliau.

Dalam tulisan ini, saya hanya membatasi hubungan saya dengan beliau rahimahullah, sekilas yang saya ingat. Bismillah..

Terus terang, saya berasal dari keluarga yang hidup dalam kondisi yang sederhana, tidak banyak mengenal tokoh-tokoh besar seperti beliau. Bahkan mengenal kata 'pesantren' pun hampir tidak pernah. Hingga suatu hari saya diperintah ibu saya untuk mengaji kepada seorang ustadz bernama Ust. Jayadi yang tinggal di depan rumah kami. Usia saya saat itu kisaran 11 tahun dan duduk di kelas 5 SD. "Wi..(panggilan kecil saya: Uwi)..sana kamu ngaji ke ustadz Jayadi, biar kalau Emak meninggal nanti, bisa didoakan kamu.." Begitu pesan sederhana ibu saya. Memang selama ini, sejak usia 6 tahun hingga 1 tahun saya ngaji kepada ibu saya, dengan materi membaca huruf hijaiyah hingga selesai baca (bukan hafal)  juz 'amma. Nah, mungkin selain niatan di atas, ibu saya juga berniat agar ilmu mengaji saya ditingkatkan melalui  melalui ngaji dengan ustdaz yang bertetangga tadi.

Foto saat  hadiri dan resmikan gedung RQM (Rumah
Quran Multazam) di Pesantren TEI Multazam - Rumpin
Setelah saya mengaji sekian lamanya kepada Ustadz Jayadi rahimahullah itu, dan saya masuk di usia kelas 6 SD, suatu hari saya melihat kalender yang terpampang di tembok rumah guru "privat" saya itu. Kalender itu ternyata kalender yang berasal dari Pondok Pesantren Daarul Rahman. Sesekali sebelum guru mengajar, saya diam-diam buka lembaran kalender itu, disana ada foto KH. Syukron Makmun (untuk pertama kalinya saya melihat wajah KH Syuron Makmun via foto kaelnder itu) serta foto-foto kegiatan pesantren Daarul Rahman yang beraneka ragam. Saya pun tertarik dengan isi kalender itu. Lalu saya pun memberanikan diri bertanya-tanya tentang pesantren itu. Sang ustadz pun menjelaskan, bahwa dia mempunyai keponakan yang sedang mondok di pesantren itu. Singkatnya saya telusuri hingga takdir mengantar saya masuk pesantren itu. Kisah tentang mulai masuknya saya ke Daarul Rahman melalui kelender itu, saya tulis dalam tulisan saya "Kalender Itu Telah Memberi Saya Hidayah, Aku Masuk Pesantren" 

Alhamdulillah, dengan taufik dari Allah, saya dapat menuntut dan mengamalkan ilmu di Pondok Pesantren Daarul Rahman selama 10 tahun, terdiri dari masa belajar selama 6 tahun, dan mengabdi menjadi guru selama 4 tahun (antara tahun 1985 sampai 1995).

Foto bersama keluarga besar Yayasan Bani HWK
(Haji Waisul Kurni) di kediaman rumah beliau
Saya banyak menyimak setiap apa yang disampaikan Hadrotus Syaikh KH Syukron Makmun melalui ceramah, pengajian umum, mengajar di kelas, sambutan di setiap event, yang membekas dalam jiwa saya. Dan itu menjadi bekal hidup di masa-masa hidup saya. Beliau bukan hanya guru ilmu, namun juga guru spritual yang nasehat-nasehatnya sangat membekas pada setiap santri dan jamaah yang mendengarnya. Kata-kata hikmah serta bekal hidup beliau itu sering saya catat dalam buku diary saya, lalu saya kumpulkan dalam tulisan saya di "Kata-kata Mutiara dan Nasehat Hadrotus Syaikh KH Syukron Makmun"

Saya juga mendapat optimisme dalam mewujudkan cita-cita saya melanjutkan studi di Tanah Suci dari beliau. Saat itu beliau memanggil saya ke kantor sekolah bertanya kepada saya, "Kamu mau tidak belajar di Makkah kepada Sayid Muhammad Alwi al-Maliki? tapi belajar disitu bisa puluhan tahun lamanya, lulusnya sesuai keinginan Sayid.., bisa 10 tahun, bisa 20 tahun,,?". Saya menjawab, "Insya Allah siap kyai." Qodarullah, setelah itu saya tidak dapat berita lagi (mungkin karena beliau sibuk), saya pun tidak mempertanyakan kembali proses itu, namun alhamdulilllah 4 tahun setelah dipanggil Kyai itu, saya ditakdirkan Allah dapat melanjutkan studi di Universitas Ummul Quro Makkah. Dan selama di Makkah saya dapat sempat  hadir di majlis Sayid Muhammad Alwi al-Maliki di daerah Rushoifah, Makkah al-Mukarramah. Kisah saya ditawari "mondok" di majlis Sayid Muhammad Alwi Maliki di Makkah tersebut, saya tulis di "Saya dan Sayid Muhammad Alwi al-Maliki"

Interaksi saya dengan Hadrotus Syaikh KH. Syukron Makmun terus berlanjut saat saya diminta mengabdi menjadi guru di Daarul Rahman, apalagi saat itu saya juga sambil kuliah di IID (Instutut Islam Daarul Rahman) yang baru beliau dirikan saat itu, dan saya menjadi mahasiswa angkatan pertama IID itu. Interaksi dengan beliau terus berlanjut, terutama kami dan kawan-kawan alumi Daarul Rahman mendirikan sebuah forum pimpinan  pesantren yang terdiri para alumni Daarul Rahman yang melanjutkan dan mengimplentasikan cita-cita  beliau dalam sebuah ceramahnya "Pribahasa yang mengatakan "Mati Satu, Tumbuh Seribu, itu harus diubah menjadi 'Sebelum Mati, Sudah Tumbuh '. Forum itu bernama FORMADA (Forum Kerja Sama Pesantren Alumni Daarul Rahman). Melalu forum itulah Hadrous Syaikh banyak memberikan bekalan lebih kepada kami, selain itu  kami pun sering mengundang beliau, atau kami datang kepada beliau jika ada program atau rencana kegiatan di Forum itu.

Sekali lagi, tulisan singkat ini tidak cukup untuk menampung segala kenangan, kebaikan dan wawasan ilmu Hadrotus Syaikh KH. Syukron Makmun. Namun semoga catatan ini melengkapi apa yang telah ditulis oleh para almuni dan pengamat. 

Ghofarallah lahu wa rohimahu rohmatan waasi'ah, wa askanahu faisiha jannatih. Robbi fan fa'na bi barkati ulumihim wahdina bi hurmatihim

Wallahu a'lam bishsshowab.


Ditulis di Cairo Mesir, pada Senin 1 Nopember 2026 saat mengikuti kegiatan program Pengembangan Wawasan Da'i Internasional (PWDI) yang diadakan oleh Komisi Dakwah MUI tgl 28 Oktober-8 Nopember 2026

Tidak ada komentar: