| foto saat hadiri hari milad beliau ke 82 |
Dalam tulisan ini, saya hanya membatasi hubungan saya dengan beliau rahimahullah, sekilas yang saya ingat. Bismillah..
Terus terang, saya berasal dari keluarga yang hidup dalam kondisi yang sederhana, tidak banyak mengenal tokoh-tokoh besar seperti beliau. Bahkan mengenal kata 'pesantren' pun hampir tidak pernah. Hingga suatu hari saya diperintah ibu saya untuk mengaji kepada seorang ustadz bernama Ust. Jayadi yang tinggal di depan rumah kami. Usia saya saat itu kisaran 11 tahun dan duduk di kelas 5 SD. "Wi..(panggilan kecil saya: Uwi)..sana kamu ngaji ke ustadz Jayadi, biar kalau Emak meninggal nanti, bisa didoakan kamu.." Begitu pesan sederhana ibu saya. Memang selama ini, sejak usia 6 tahun hingga 1 tahun saya ngaji kepada ibu saya, dengan materi membaca huruf hijaiyah hingga selesai baca (bukan hafal) juz 'amma. Nah, mungkin selain niatan di atas, ibu saya juga berniat agar ilmu mengaji saya ditingkatkan melalui melalui ngaji dengan ustdaz yang bertetangga tadi.
| Foto saat hadiri dan resmikan gedung RQM (Rumah Quran Multazam) di Pesantren TEI Multazam - Rumpin |
Alhamdulillah, dengan taufik dari Allah, saya dapat menuntut dan mengamalkan ilmu di Pondok Pesantren Daarul Rahman selama 10 tahun, terdiri dari masa belajar selama 6 tahun, dan mengabdi menjadi guru selama 4 tahun (antara tahun 1985 sampai 1995).
![]() |
| Foto bersama keluarga besar Yayasan Bani HWK (Haji Waisul Kurni) di kediaman rumah beliau |
Saya juga mendapat optimisme dalam mewujudkan cita-cita saya melanjutkan studi di Tanah Suci dari beliau. Saat itu beliau memanggil saya ke kantor sekolah bertanya kepada saya, "Kamu mau tidak belajar di Makkah kepada Sayid Muhammad Alwi al-Maliki? tapi belajar disitu bisa puluhan tahun lamanya, lulusnya sesuai keinginan Sayid.., bisa 10 tahun, bisa 20 tahun,,?". Saya menjawab, "Insya Allah siap kyai." Qodarullah, setelah itu saya tidak dapat berita lagi (mungkin karena beliau sibuk), saya pun tidak mempertanyakan kembali proses itu, namun alhamdulilllah 4 tahun setelah dipanggil Kyai itu, saya ditakdirkan Allah dapat melanjutkan studi di Universitas Ummul Quro Makkah. Dan selama di Makkah saya dapat sempat hadir di majlis Sayid Muhammad Alwi al-Maliki di daerah Rushoifah, Makkah al-Mukarramah. Kisah saya ditawari "mondok" di majlis Sayid Muhammad Alwi Maliki di Makkah tersebut, saya tulis di "Saya dan Sayid Muhammad Alwi al-Maliki"
Interaksi saya dengan Hadrotus Syaikh KH. Syukron Makmun terus berlanjut saat saya diminta mengabdi menjadi guru di Daarul Rahman, apalagi saat itu saya juga sambil kuliah di IID (Instutut Islam Daarul Rahman) yang baru beliau dirikan saat itu, dan saya menjadi mahasiswa angkatan pertama IID itu. Interaksi dengan beliau terus berlanjut, terutama kami dan kawan-kawan alumi Daarul Rahman mendirikan sebuah forum pimpinan pesantren yang terdiri para alumni Daarul Rahman yang melanjutkan dan mengimplentasikan cita-cita beliau dalam sebuah ceramahnya "Pribahasa yang mengatakan "Mati Satu, Tumbuh Seribu, itu harus diubah menjadi 'Sebelum Mati, Sudah Tumbuh '. Forum itu bernama FORMADA (Forum Kerja Sama Pesantren Alumni Daarul Rahman). Melalu forum itulah Hadrous Syaikh banyak memberikan bekalan lebih kepada kami, selain itu kami pun sering mengundang beliau, atau kami datang kepada beliau jika ada program atau rencana kegiatan di Forum itu.
Sekali lagi, tulisan singkat ini tidak cukup untuk menampung segala kenangan, kebaikan dan wawasan ilmu Hadrotus Syaikh KH. Syukron Makmun. Namun semoga catatan ini melengkapi apa yang telah ditulis oleh para almuni dan pengamat.
Ghofarallah lahu wa rohimahu rohmatan waasi'ah, wa askanahu faisiha jannatih. Robbi fan fa'na bi barkati ulumihim wahdina bi hurmatihim
Wallahu a'lam bishsshowab.
Ditulis di Cairo Mesir, pada Senin 1 Nopember 2026 saat mengikuti kegiatan program Pengembangan Wawasan Da'i Internasional (PWDI) yang diadakan oleh Komisi Dakwah MUI tgl 28 Oktober-8 Nopember 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar