Tampilkan postingan dengan label Cerita Hikmah Dari Tanah Suci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hikmah Dari Tanah Suci. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2026

Kisah Aneh Tapi Nyata dari Pekuburan Baqi, Madinah

Fadly Robbi/Obi (ke 2 dari kiri) dan Saya (tengah)

Ditulis Oleh: Muhammad Jamhuri

Ini koreksi atas tulisan sebelumnya yang menyebut lokasi kejadian adalah Masjid Quba, yang benar adalah Perkuburan Baqi Madinah. Namun inti cerita sama dan tidak berbeda.Mohon maaf.

Ini kisah aneh namun benar-benar nyata. Saya mendapatkan kisah  ini dari putera al-marhum KH. Acep Abdul Syakur yang telah wafat  20 tahun lalu atau pada tahun 2006, namun kejadiannya terjadi tahun 2010 atau 16 tahun lalu.

Adalah Fadly Robbi atau yang dipangggil akrab Obi ini menuturkan kisahnya kepada saya saat di Madinah. Obi atau Fadly Robbi adalah putra almarhum KH. Abdul Syakur pendiri Yayasan Pendidikan Islam Asy-Syukriyah di Cipondoh Tangerang.. 

Oby & jamaah haji saat berkunung di hotel Maden Madinah

Hari itu (kamis 7/5/2026 ) beliau Obi dan kakaknya bernama Mukhlisoh (Icoh) dan suami kakaknya bernama Evan  Hamzah yang sedang di Madinah dalam rangka melaksanakan ibadah haji mampir ke hotel tempat saya tinggal di Madinah yang juga sedang berhaji di tahun yang sama  (2026). Di restoran hotel itulah beliau (Obi) bercerita kepada saya.

Begini ceritanya:  Saat itu, di tahun 2010 Obi menjadi mahasiswa baru di Universitas Islam Madinah (UIM). Karena masih menjadi mahasiswa baru, dia mengaku belum banyak kenal dengan mahasiswa  seniornya, bahkan sesama mahasiswa seangkatannya pun belum banyak mengenal karena ada dua gelombang kedatangan mahasiswa baru yang terpisah waktu kedatngannya, maklum, mahasiwa Indonesia yang studi di UIM itu lumayan banyak.

Suatu hari, ada salah satu mahasiswa seniornya bernama Baedowi yang sedang mengambil program S2 (master) di UIM mendapat tugas dari kampus UIM sebagai tenaga penyuluh dan dakwah bagi jamaah haji asal Indonesia, beliau bertugas memberi penerangan kepada jamaah haji asal Indonesia yang sedang ziarah  di Pekuburan makam Baqi', Madinah. Tiba-tiba dia dihampiri oleh jamaah haji Indonesia dan ditanya, "Antum mahasiswa di UIM ya". Baedowi pun menjawab, "Iya benar". Lalu jamaah haji Indonesia itu berkata, "Oo, putra saya juga sedang kuliah di sana, namanya Fadhly Robbi, nama panggilannya Obi asal Tangerang Banten. Kalau bertemu dia salamin ya?" Baedowi pun menjawab, "Insya Allah..pak.."

Sepulang dari Pekuburan makam Baqi' dan kembali ke kampus UIM, Baedowi pun ingat akan amanah  dari jamaah haji asal Indonesia saat di Perkuburan Baqi' itu, yang menurutnya  harus disampaikan kepada Fadly Robbi atau Obi. Karena Obi mahasiswa baru yang belum dikenalnya, akhirnya Baedowi ingat daerah asal yang disebutkan jamaah  haji tersebut, yaitu Tangerang- Banten. Maka ia pun mencari mahasiswa yang berasal dari Banten, maka ingat salah satu mahasiswa yang berasal dari Banten bernama Amin Mujahid.  Setelah itu Baedowi pun bertanya kepada Amin Mujahid, "Apakah Antum mahasiwa berasal dari Tangerang atau Banten?". Amin pun menjawab, "iya". "Adakah mahasiwa yang berasal dari Tangernag Bamten bernama Fadly Robbu?". Karena dari asal daerah yang sama, Amin Mujahid pun menjawab, "ya saya mengenalnya, dia mahasiwa baru." Lalu Baedowi meminta Amin Mujahid untuk mengantar Baedowi menemui Fadly Robby, "Saya ada amanah yang harus saya sampaikan langsung pada Fadly Robby". Katanya serius.

Dengan senang hati Amin pun mengantarkan kakak seniornya itu menemui Fadly Robbi (Obi). Setelah saling bertemu dan berkenalan, Baedowi pun menyampaikan amanahnya kepada Obi, "Kemarin, saat ana bertugas menyampaikan penyuluhan (tau'iyyah) kepada jamaah haji asal Indonesia sekitar Perkuburan Baqi', ada seorang jamaah menitipkan salam buat Antum, kata dia, salam ya buat putra ana yang sedang kuliah di UIM juga, namanya Fadly Robbi, asal  dari Tangerang Banten." Mendengar penuturan Baedowi, Obi pun terheran, "Ana adalah anak orang itu?. Orang itu berkata salam buat putranya yang sedang kuliah di UIM..?" Baedowi berkata: "iya, makanya ana sampaikan langsung amanah ini kepada Antum". Obi pun tidak percaya seraya berkata, "Ayah ana sudah meninggal empat tahu lalu alias tahun 2006 !!"Lha sekarang sudah tahun 2010?. Tapi Baedowi menyampaikan isi amanah apa adanya. Lalu Obi pun penasaran hingga menanyakan ciri-ciri fisik sosok yang datang di Baqi' itu kepada Baedowi saat bertemu sosok yang mengaku ayahnya itu. Kemudian Baedowi menyampaikan ciri-ciri fisik yang sempat dia lihat saat bertemu dengan "orang asing" itu. Obi pun merasa ciri-ciri yang disebutkan Baedowi sama dengan ciri-ciri sosok ayahnya, termasuk saat Beedowi ditanya tentang ciri gaya bicara dan bahasanya pun mirip dengan ayah Obi.

Obi pun masih penasaran, lalu ia mengambil foto almarhum ayahnya yang ia bawa ke Medinah saat keberangkatannya dari Indonesia ke Arab Saudi. Begitu Obi perlihatkan foto bergambar ayahnya kepada Baedowi, Baedowi pun tambah yakin bahwa orang yang datang di Baqi' itu sama  mirip dengan gambar dalam foto itu. "Iya ini orangnya yang datang ke saya saat di Baqi' dan menitip salam buat putranya di UIM yang ternyata adalah Antum sendiri". (cerita pun selesai)

Lalu Obi berkata kepada saya (penulis cerita): "Oleh karena itu ustadz..(memanggil saya ustazd), ana jadi berteman sangat akrab dengan Amin Abdullah, berkat perantara kejadian tersebut. Amin Abdullah kini sedang melanjutkan kuliah di program S3 (doktoral). Dan saat ana menelpon dia di Madinah ini, langsung dia menjemput ana dan keluarga serta teman yang berhaji saat ini, semenajak ana jalan-jalan keliling Madinah. Dan saat kami mengobrol di dalam mobilnya , kami masih mengenang ngobrolin  awal berkenalan dan menjadi kawan akrab hingga sekarang.

Catatan:

  • Peristiwa Obi, Baedowi dan Amin terjadi tahun 2010
  • Wafatnya KH, Abdul Syakur (ayah Obi) terjadi tahun 2006
  • Obi tamat dari UIM sampai S1 kini mengelola yayasan Asyukriyah 
  • Amin Abdullah kini melanjutkan studinya di program S3 di UIM
  • Baedowi selesai S3 dan kini sudah berkarir di Indonesia
(Madinah. Hotel Maden Ar-Rawda, Ahad 10 Mei 2026)





Selasa, 01 April 2025

Kisah Nyata: Wanita Pembenci Poligami Nabi, Langsung Ditegur Nabi

Seperti biasa, menjelang bis tiba di Madinah, sang ustadz pembimbing jamaah umroh mengumumkan dalam bis bahwa esok pagi agenda acaranya adalah ziarah ke makam Rasulullah saw dan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab ra serta shalat di Raudhah. 

Paginya setelah sarapan,  jamaah pun sudah berkumpul di lobby hotel bersiap untuk berangkat ke masjid Nabawi.  Sambil menunggu jamaah lain,  seorang wanita muda yg merupakan salah satu jamaah umroh yang berangkat tanpa suami dan keluarganya mendekati sang ustadz pembimbing,  seraya berkata seloroh,  "Pak ustadz,  sebenarnya saya tidak mau berziarah ke makam Nabi nih.. 

Dengan rasa heran,  sang ustadz itu berkata,  "Kenapa bu?, justru sebelum kita ziarah ke mana-mana,  kita ziarah ke makam Nabi dulu. "

"Saya tidak suka Nabi karena Nabi berpoligami, pak ustadz.  Saya tidak setuju laki-laki berpoligami. Tapi... Ya... Karena ini umroh pertama saya,  saya ikut aja sekalian pengalaman pertama. " Jawab wanita itu. 

Jamaah pun berangkat. Yang pria dibimbing ustadz,  dan yang wanita dibimbing ustadzah dari muqimin di sana. 

Setelah antri di Raudhah yang melelahkan,  jamaah pun berhasil shalat di Raudah dan berziarah ke makam Rasulullah saw dan dua sahabat beliau ; Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang makam bersandingan.

Saat pulang ke hotel,  wanita ini izin tidak pulang dan ingin duduk-duduk di dalam masjid hingga terkantuk-kantuk dan tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi didatangi Rasulullah saw dan menasehatinya agar jangan lagi menghina atau membenci ajaran Allah dan Rasul-Nya.  Dalam mimpi itu juga Rasulullah saw menyampaikan bahwa setiap mukmin yang membaca salam kepadanya maka akan dijawab oleh beliau. 

Singkat cerita,  usai menunaikan umroh, ziarah Madinah dan kembali ke Tanah Air, wanita ini bercerita kepada suaminya bahwa ia sempat bertemu dengan Nabi dalam mimpinya.  Suaminya yang sudah mengetahui watak istrinya itu, meragukan mimpi istrinya itu,  dan dianggapnya guyon atau mengarang. Sebab suaminya tahu bahwa istrinya sangat benci dengan poligami termasuk poligami Rasulullah yang memiliki istri lebih dari satu. 

Wanita itu berkata,  "Kalau kau mau bukti,  Rasulullah saw akan datang kesini menjawab salamku. " Mendengar tantangan itu,  suaninya mempersilakannya. 

Wanita itu pun membaca salam kepada Rasulullah saw,   "Assalamu alaika ya Rasullah... ". Dan tidak lama berselang, tiba-tiba suaminya jatuh pingsan. Setelah beberapa waktu diistirahatkan, suaminya kembali bangun dan sadar.  Ketika ditanya,  kenapa kamu pingsan tadi?  Dia menjawab, "Aku melihat seorang lelaki berparas putih dan ganteng yang bersinar-sinar menjawab salam-mu"

(diceritakan oleh pembimbing umroh kepada sesama pembimbing umroh)

Jamhuri,  Madinah 13 Nopember 2017

Rabu, 03 Juli 2024

Allah Lebih Berbahagia Dari Pada Seseorang Yang Kehilangan Barangnya Lalu Dipertemukan Kembali

 (Mengambil hikmah dari setiap peristiwa)

Tas koper yang kembali
Suatu kali, saya pernah membawa rombongan jamaah umroh, dengan rute Jakarta-Madinah-Makkah. Saat tiba di hotel di Madinah, ternyata ada dua koper yang tidak sampai ke hotel kami alias “raib”. Salah satu koper itu adalah milik saya. Bukan hanya saya yang bingung, namun seorang jamaah yang tidak menemukan kopernya pun lebih bingung lagi dan lebih mengkhawatirkannya. Saya dan beliau sama-sama kebingungan terutama semua pakaian salinan ada di koper bagasi itu.  Sebagai pembimbing ibadah umroh, saya mencoba menenangkan jamaah itu tentang kondisi ini. “Pak, koper saya pun belum ada, yuk untuk sementara pakaian salinan kita belanja saja di Madinah ini, anggap saja sama dengan membeli oleh-oleh pakaian, tapi kita pakai dulu di sini”. Alhamdulillah kami sama-sama merasa tenang untuk sementara. Namun setelah ditunggu di hari kedua, kabar tentang koper itu belum ada kejelasannya. Meskipun para petugas handling kami telah menghubungi pihak bandara dan maskapai penerbangan yang kami tumpangi, namun hasilnya nihil.

Malam Hari ketiga di Madinah, kami harus chek out menuju Makkah esok hari untuk memulai perjalanan ibadah umroh. Kabar tentang koper itu masih belum ada titik terang. Hingga usai melaksanakan shalat Isya di Masjid Nabawi, handphone saya berbunyi, tanda ada pesan whatsapp yang masuk. “Pak ini ini petugas Malika ya? Ada dua koper Malika ada di hotel kami”. Begitu pesan wa dari seorang petugas umroh travel lain. Langsung saya datangi hotel tersebut dan saya bawa menuju hotel kami. Dan segera saya hubungi dan datangi jamaah yang kehilangan koper tadi sambil saya antarkan kopernya ke kamarnya. Bukan main rasa bahagianya jamaah itu saat menemukan dan menerima koper miiknya kembali. Apalagi di dalam koper itu terdapat juga pakaian ihromnya yang akan segera dipakai besok menuju Makkah. Saya ikut merasakan bahagia, karena saya pun merasakan sekali rasa bahagia luar biasanya setelah menemukan koper kembali tersebut. Memang dalam kepadatan jamaah umroh hal-hal seperti ini sering terjadi, meskipun koper berbeda dengan grup travel lain, namun ada saja keserupaan, dan petugas potter Bandara terkadang lengah dalam pemilahannya.

Dari peristiwa itu dan menyaksikan diri dan jamaah tadi yang merasa sangat bahagia setelah kembalinya koper yang hilang, sejenak saya merenung, bahwa saya dulu pernah belajar suatu hadist dalam kitab Riyadus Shalihin Bab Taubat, yang mengisahkan bahwa ada seorang lelaki yang sedang dalam perjalanan di tengah padang pasir yang tandus dan membawa semua barang perbekalannya di atas unta yang ditungganginya. Dalam perjalanan itu, dia menemukan suatu oase (sumber mata air di tengah padang pasir), lalu lelaki itu  turun dari untanya dan segera meminum air oase yang jernih dengan tangannya beberapa kali hingga puas dan hilang dahaganya. Namun ia kaget, di tengah padang pasir itu ternyata untanya pergi hilang entah kemana? Setelah kelelahan mencarinya dan tak menemukannya, ia pun putus asa dan tertidur pulas di bawah sebuah pohon dekat oase tersebut. Namun Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia kaget seraya bergembira, karena unta dan barang bawaaanya kini datang di hadapannya. Ia merasa sangat berbahagia sekali atas kejadian itu dan ia merasa bersyukur kepada Allah. Namun saking bahagianya, ia tak sadar kalau doa Syukur itu terbalik diucapakannya, “Ya Rabb, sungguh Engkau adalah hambaku, dan Aku adalah Tuhanmu” (seharusnya, Ya Rabb, sungguh Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hambaMu)

Lalu Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya, “Sungguh Allah lebih berbahagia jika seorang hamba yang berbuat dosa kemudian dia kembali mendekat (bertaubat) kepada Allah, Allah lebih berbahagia dari pada berbahagianya seorang lelaki yang kehilangan barang perbekalannya, kemudian dia menemukannya kembali” 

Berikut bunyi hadist tersebut:

وَفي روايةٍ لمسلمٍ : « اللهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدي وَأَنَا رَبُّكَ ، أَخْطَاءَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ » .

 Artinya:

“Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat salah seorng dari kalian tatkala ia bertaubat kepadaNya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada diatas tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut  lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada tunggangannya tersebut. ia pun putus asa untuk mendapatkan ontanya.

Maka ia mendatangi suatu pohon dan berbaring dibawah naungan pohon tersebut dan ia sungguh telah berputus asa.

Ditengah keadaan itu, ternyata ontanya telah ada berdiri didekatnya. Segera iapun mengambil tali ontanya seraya berkata lantaran sangat gembiranya ( “wahai Allah kamu adalah hambaku dan aku adalah Rabb mu) keliru berucap karena terlalu gembira” (HR: Muslim)

Muhammad Jamhuri

Bogor, 3 Juli 2024/27 Dzulhijjah

Senin, 03 Juli 2023

Seni Menjemput Kematian

Kematian pasti datang pada setiap manusia yang bernyawa. Namun bagaimana cara maut menjemput kita, atau kita menjemput kematian? Itu memiliki seni (baca: cara) tersendiri.

Sebagai contoh almarhum Paimin yang berangkat haji tahun ini (2023). Beliau wafat tepat setelah prosesi wukuf di Arafah usai. Setelah shalat zhuhur-Ashar jamak takdim, khutbah wukuf dan zikir wukuf selesai, dua jam setelah itu beliau dipanggil Allah swt.
Ketika saya melihat istrinya begitu tegar dan kuat menghadapi musibah ini. Isterijya bercerita, “Ini sudah menjadi cita-cita bapak sejak dahulu. Beliau pernah berkata ingin wafat di tempat yang mulia. Saat ibadah haji.”
Jenazah beliau saat dikafani tidak ditutup kepalanya seperti pocong umumnya jenazah, karena beliau dalam kondisi masih ihrom. Dan akan dibangkitkan di alam kuburnya dalam keadaan sedang ihrom. Suatu episode akhir yang baik (husnul khotimah).
Lain lagi dengan almarhumah ibu Narsi, beliau malah diwafatkan Allah setelah merampungkan semua prosesi ibadah hajinya. Tepat beberapa waktu seusai thawaf ifadhoh (rangkaian akhir ibadah haji) beliau pun dipanggil Allah. Sebenarnya, beliau seharusnya pergi haji sejak tahun kemarin bersama suaminya, tapi karena masih dalam keadaan sakit maka tidak bisa berangkat. Hanya suaminya yang bisa haji sendirian tahun lalu. Tahun ini bulat tekadnya untuk berhaji, dan suaminya pun merelakan berangkat tanpa didampinginya. “jannah.....jamnah..…insya Allah..” ujar satpam wanita Arab berpakaian merah kecoklatan di Mall Clock Tower yang membantu evakuasi almarhumah ke rumah sakit Ajyad di hotel Shofwah usai almarhumah thawaf ifadhoh di masjidil Haram dengan menggunakan roda dorong
Ya Allah ikhtim lanaa bi husnil khotimah..

Rabu, 08 Maret 2023

Karena Rajin Bersuci, Wafatnya pun di Tanah Suci

 

Jenazah di Kota Suci Makkah
Oleh : 

Muhammad Jamhuri

Saat itu musim haji tahun 2008. Semua jamaah haji sudah bersiap-siap akan wukuf di Padang Arafah. Ada seorang ibu usia baya yang ikut suaminya pergi haji. Suaminya adalah seorang pengusaha dari Makasar. Berangkatlah para jamaah haji ke Arafah, termasuk pasangan suami istri tadi. Saya pun ikut ke Arafah. Usai wukuf di Arafah, para jamaah diberangkatkan ke Muzdalifah. Setelah ambil syarat mabit dan mengambil kerikil di sana, para jamaah dibawa kembali ke syuqqoh/flat/hotel tempat menginap selama hari-hari armina (arafah-muzdalifah-mina) sebelum melaksanakan thowaf ifadhoh. Karena sebelum thowaf disyaratkan dalam keadaan suci (berwudhu), sementa jika berwudhu di Masjidil Haram akan terjadi antrian, maka para jamaah di arahkan menuju hotel untuk berwudhu di sana sebelum berangkat ke Masjidil Haram.

Di hotel, para jamaah pun diarahkan untuk berwudhu.. Termasuk ibu itu pun mengambil wudhu (bersuci). Ketika menunggu di ruang loby. Ibu ini merasakan pusing, lalu memohon ditemani suaminya. Beberapa saat kemudian beliau minta didengarkan bacaan al-Quran, kemudian beliau sempat berkata kepada suaminya, “Pak, semoga jamaah yang berangkat ini menjadi haji mabrur ya?”  “Amin” jawab suami singkat. Lalu ibu itu berkata, “Pak, saya izin berangkat dulu ya?” Lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat, dan tutup usia.

Esoknya, ibu itu dibawa ke Masjidil Haram untuk dishalatkan setelah shalat zhuhur. Sebelum dishalatkan, jenazah di letakkan di Hijir Ismail di samping bangunan Ka’bah bersama suaminya yang ikut mengantarkan. Kemudian jenazah itu dishalatkan dengan jumlah makmum jutaan jumlahnya. Bayangkan...ibu itu wafat di Tanah Suci, wafat setelah bersuci, wafat di tengah melaksanakan ibadah haji yang suci, dan dishalatkan oleh juataan jamaah haji yang sedang melaksanakan ibadah nan suci, serta dikebumikan di Tanah Suci.

Saya penasaran akan kehormatan ‘husnul khotimah’ yang Allah berikan kepada almarhumah ibu seperti ini. Esoknya saya menemui suaminya dan bertanya kepadanya, “Pak, apa amalan istri bapak sehingga beliau mendapat kemuliaan dari Allah di akhir hayatnya?, apakah isteri bapak seorang ustazah?” Suaminya menjawab, “Tidak pak, isteri saya hanya seorang ibu rumah tangga...usianya kini sekitar 52 tahun. Sejak saya berkeluarga dengan beliau, beliau tidak pernah sakit, apalagi berobat di rumah sakit. Tidak pernah. Saat menjelang wafat pun tidak ada tanda-tanda dia sakit.”

“Lalu apa amalan isteri bapak sehingga beliau mendapat kemuliaan husnul khotimah?.” Tanya saya. Bapak itu menjawab, “Ada dua amalan yang saya kagum terhadap isteri saya.”

Saya bertanya, “Apa dua amalan itu pak?” Bapak itu menjawab, “Isteri saya hatinya suci pak, saya kan pengusaha yang minimal sepekan sekali pergi keluar kota untuk menjalankan bisnis saya. Akan tetapi setiap saya dating pulang ke rumah –meskipun malam hari- dia selalu menjadi orang yang pertama membukakan pintu rumah, dia juga yang menyiapkan minum dan air hangat untuk saya, dan dia tidak pernah bertanya ‘dari mana?’ atau ‘kenapa datang malam’?.dia tidak bertanya curiga. Itu pak yang membuat saya kagum pada almarhumah”. Tambah suaminya.

“Lalu amalan yang kedua apa pak? Tanya saya. “Nah, isteri saya setiap kali akan bepergian pak –jangankan bepergian jauh, dia mau pergi ke pasar saja, pasti isteri saya itu berwudhu dahulu pak.” Jawab bapak itu.

Sampai titik inilah, saya tertegun, hati saya bergetar, bulu kuduk berdiri, sekaligus merasa malu kepada perempuan almarhumah ini. Padahal dia hanya seorang ibu rumah tangga, bukan seorang ustazah, namun dia melaksanakan ayat yang sangat sederhana, ayat yang dahsyat efek dan pengaruhnya. Dan disinilah saya seakan-akan baru membaca ayat yang sudah pernah saya hafal saat remaja belajar di Pesantren dahulu. Ayat itu adalah:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS: al-Baqarah: 222)

Pantas jika Allah swt telah mencintai dan merindukannya, hingga Allah swt mengundang kehadiran dan pertemuannya di Tanah Suci dan dalam keadaan bersuci.

Senin, 06 Maret 2023

Arwah Ibu Ini Disambut Para Isteri Nabi saw. Apa Rahasianya?

Di belakang tong sampah kuning ini
terdapat makam ibu yang arwahnya
disambut para isteri Nabi saw (Baqi') 
Seorang ibu berasal dari Indonesia yang sedang melaksanakan ibadah Umroh wafat di Madinah, dan arwahnya disambut oleh para isteri Nabi Muhammad saw. Begini ceritanya...

Setelah menabung lama dan terkumpul dana, seorang wanita, sebut saja bernama  Fitri (nama samaran), akhirnya dapat juga berangkat melaksanakan ibadah umroh di Tanah Suci Makkah. Dia berangkat sendiri tanpa anggota keluarga bersama rombongan jamaah umroh lainnya melalui salah satu travel umroh. Sayangnya, perusahaan travel umroh ini tidak menyertakan TL (Tour Leader) atau pembimbing dari Tanah Air. Travel umroh ini hanya memerintahkan perwakilannya di Makkah untuk menjemput dan membimbing ibadah umroh mereka selama di Tanah Suci Makkah dan Madinah. Dan TL yang menjemput mereka hanyalah seorang muqim yang tercatat sebagai TKI dengan job supir.

Selama di Makkah, perjalanan umroh pun berjalan lancar dan tiada kendala. Demikian pula pada saat awal kedatangan di Madinah, proses ibadah seperti sholat di Raudhah dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah di Madinah berjalan dengan lancar.

Akan tetapi hari-hari kemudian, Fitri jatuh sakit. Ia pun dibawa ke rumah sakit. Namun hingga saat hari kepulangan para jamaah lainnya ke Tanah Air, Fitri masih juga belum sembuh, bahkan penyakitnya bertambah parah. Di Arab Saudi, jika pasien sudah masuk rumah sakit, maka tidak akan dikeluarkan  hingga dia sembuh. Singkat cerita sang ibu ini wafat di rumah sakit di Madinah.

Akan tetapi sang TL (Tour Leader) tadi tidak berani untuk mengurus jenazah di rumah sakit tempat Fitri disemayamkan di sana. Fitri disemayamkan di kulkas peti jenazah rumah sakit hingga sepekan lamanya. Pihak rumah sakitpun tidak ingin melakukan tindakan hingga ada pihak yang bertanggung jawab atas jenazah ini. Sedangkan TL yang membimbing jamaah haji tidak berani berurusan dengan rumah sakit, sebab peraturan iqomah disana mengharuskan seseorang sebagai pekerja harus sesuai dengan jenis pekerjaannya sesuai surat keterangan pada iqomah. Karena bila tidak sesuai, maka dianggap melanggar izin tinggal di Saudi Arabia, yang resikonya dapat dideportasi ke negeri asalnya.

Sang jenazah terbujur kaku di rumah sakit selama sepuluh hari lamanya.

Suatu hari TL ini bertemu dengan kawan saya yang berprofesi sebagai TL Resmi. Dia pun minta tolong padanya agar bersedia membantu mengurus jamaahnya yang sudah terbujur kaku lama di rumah sakit. Kawan saya pun bersedia. Dia menelpon keluarga almarhumah di Tanah Air, namun keluarga tidak dapat berangkat ke Tanah Suci karena keterbatasan ekonomi. Keluarganya mempercayakan pengurusannya kepeda kawan saya yang TL Resmi itu. Singkat cerita kawan saya yang TL Resmi itu mengurus jenazah tersebut, mulai dari proses pemandian oleh petugas rumah sakit, menshalatkannya di Masjid Nabawi, hingga menguburkannya di Perkuburan Baqi di Madinah.

Usai proses Tajhiz Mayit selesai, ia pun kembali ke apartemen tempat tinggalnya. Saat ia tidur di sana, ia bermimpi didatangi oleh jenazah Fitri yang siang tadi diurus pemakamannya. Dalam mimpi tersebut, ibu Fitri berkata kepada kawan saya, "Pak ustadz, saya mengucapkan terima kasih kepada pak ustadz atas bantuannya mengurus jenazah saya tadi. Alhamdulillah, saya disambut isteri-isteri Nabi Muhammad saw.....". Tiba-tiba kawan saya itu bangun dari tidurnya. Dia langsunng menelpon keluarga almarhumah yang di Indonesia dan mengabarkan berita gembira mimpinya kepada putri almarhumah. Kemudian kawan saya itu bertanya padanya, "Mbak, apa sih amalan almarhumah sehingga arwahnya disambut para isteri Nabi saw. Karena saya tahu, karena di Baqi itu ada makam-makam para isteri Nabi saw?". Putri almarhumah berdiam sebentar, lalu menjawab, "Oh anu. ibu saya dalam  sepuluh terakhir ini suka menyisihkan uang jajan untuk diberikan kepada anak-anak yatim setiap harinya."

Saya yang mendengar kisah itu bergumam, "Pantas, almarhumah mendapat kemuliaan itu, karena nabi Muhammad saw sendiri seorang yatim dan beliau juga diberi gelar 'Ábul Yatama' (Bapak anak-anak Yatim)

*Kisah TL Resmi Ust Zainuddin kepada Saya di Madinah Th 2014