Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juni 2021

Karomah Santri

Suatu hari, salah seorang guru muda di pesantren berkata kepada saya, "Abi (panggilan akrab saya di lingkungan pesantren), sebenarnya saya sudah lama mau ngomong sama abi. Tapi saya malu." . Saya menjawab, "Ngomong aja, tidak usah malu-malu, saya terbuka kok". "Gini bi, saya mau izin kepada Abi mau mencucikan kaki Abi lalu air cuciannya mau saya pakai buat mencuci muka saya." Katanya. Dia beralasan agar mendapat berkah "karomah" saya. Lalu saya meluruskan dan jawab begini, "Kalau Antum lakukan itu dan diketahui oleh orang yang kamu minta (saya), dikhawatirkan orang yang dicucikan kakinya (saya) lalu air cuciannya untuk diusapkan ke wajah Antum itu, atau untuk Antum minum, Ana khawatir akan timbul sikap ujub dan ghurur pada dirinya (saya). 

Lalu saya pun memberi saran kepada guru muda itu. "Kalau ingin mendapat karomah, bersungguh-sungguhlah  mengabdi kepada para santri, mengajar mereka dengan baik dan amanah. layani kebutuhan mereka, penuhi hak-hak mereka, sayangi mereka, beri tauladan yang baik dan arahkan mereka. Maka dengan begitu insya Allah kamu akan mendapat karomah.

Saya memberi alasan kepadanya: karena anak-anak santri ini masih usia muda, baru masuk usia aqil baligh, yang menurut syariat Islam baru mulai dicatat amalnya. Sementara mereka sudah memulai masa aqil balighnya penuh dengan ibadah dan ketaatan di pesantren. Mereka shalat lima waktu dan tak meninggalkannya. Bahkan mereka lakukan dengan berjamaah yang kualitas lebih tingga dari shalat sendiri, mereka juga setiap hari membaca dan menghafal al-Quran, belajar ilmu agama, serta membaca doa dan wirid. Oleh sebab itu, jika seorang guru memuliakan dan melayani muridnya, maka ia akan mendapat karomah (kemuliaan).

Buat apa mencuci kaki kyai lalu air bekas cuciannya diminum atau dibasuhnya, sementara arahan kyai untuk memperhatikan, mengajari dan memberi tauladan kepada para santri tidak diindahkan?

Demikian juga dengan orang tua dan famili santri. Ketika orang tua atau familinya memberi perhatian besar kepada anaknya yang sedang nyantri, baik perhatian finansial, fisik maupun kejiwaan, maka mereka akan mendapat balasan karomah yang besar. Uang yang diinfakkan untuk kebutuhan anaknya yang sedang nyantri sama dengan menginfakkan hartanya di Jalan Allah swt. Bukankah Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang keluar dalam menuntut ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali pulang" (HR: Muslim).? 

Orang tua yang bersungguh-sungguh membiayai anaknya yang sedang nyantri (menuntut ilmu) pun akan dimudahkan rezekinya oleh Allah swt. Saya pernah meyakinkan orang tua dari dua puteranya yang mendapat kesempatan kuliah di Luar Negeri selesai tamat dari pesantren. Orang tua tersebut awalnya berkata, bahwa setelah dihitung-hitung kebutuhan untuk memberangkatkan dua putranya, maka diyakini tidak dapat dipenuhi. Lalu saya meyakinkan berkali-kali. Dan akhirnya sanggup juga untuk memberangkatkan puteranya menuntut ilmu di luar negeri.

Bagi para guru dan pengasuh pesantren pun, jika bersungguh-sungguh memperhatikan pendidikan para santrinya serta memperhatikan keluhan dan kebutuhannya (jasmani dan rohani) akan mendapat berkah karomah mereka. Karena sejatinya  Allah swt sedang melihat dan menilai "Kita Sedang Melayani Para Pejuang di Jalan Allah".

Syeikh Hisyam Al-Burhani ulama Syam, dalam sebuah seminarmya  bercerita kisah nyata tentang karomah santri. 

Ada seorang petugas penggali kubur (dalam bahasa Arabnya : al-Haffar) yang bekerja di satu pemakaman umun di kota Damaskus. Hari itu dia mendapat permintaan dari seorang ibu untuk menggali kuburan untuk puteranya yang sudah wafat. Segera al-Haffar (penggali kubur) itu menggali kuburan. Selang beberapa waktu datang serombongan kecil orang membawa jenazah putra sang ibu tadi yang juga diantar ibunya. Al-Haffar pun masuk ke dalam lubang kubur untuk menerima dan  meletakkan jenazah tersebut. Namun beliau kaget, saat jenazah diletakkan di liang lahad nampak, di dalam kubur itu taman yang indah dan luas, hingga dia pun jatuh pingsan. Prosesi penguburan dilanjutkan oleh orang lain. Dan al-Haffar (si penggali kuburan) pun siuman setelah rombongan keluarga jenazah sudah pulang. Dia tidak sempat menanyakan apa-apa kepada ibu jenazah itu.

Beberapa bulan kemudian, ibu itu kembali memesan satu lobang kuburan untuk jenazah putranya lagi. Sang penggali kuburan sudah siap di dalam lubang kubur saat rombongan keluarga si ibu sudah datang membawa jenazah. Ketika akan menerima jenazah di dalam lubang kubur, penggali kubur ini lagi-lagi melihat pemandangan kuburan bagaikan taman yang indah dan luas. Namun kali ini dia kuatkan jiwanya agar tidak pingsan seperti kejadian pertama. Usai prosesi penguburan, dia segera menemui sang ibu. Lalu dia menceritakan peristiwa yang dia alami saat meletakkan kedua jenazah itu dan bertanya tentang dua jenazah tadi, siapa? dan apa amalnya selama hidup.?

Ibu itu bercerita, "Adapun jenazah pertama dia adalah putraku, dia wafat di tengah-tengah dia sedang menuntut ilmu (nyantri) di  sebuah Jami' (pesantren). Sedangkan jenazah yang kedua adalah kakaknya yang bekerja sebagai tukang kayu. Dia sering memberi bekal dan biaya kepada adiknya yang sedang nyantri itu."

Syeikh Hisyam al-Burhani lalu melanjutkan kisahnya, sejak peristiwa itu si penggali kubur itu resign mengundurkan diri dari kerjanya sebagai petugas penggali kubur dan dia mendaftarkan dirinya kepada seorang imam (Kyai) di sebuah Jami' (masjid dan pesantren) untuk menjadi santri. Saat itu sang imam keheranan karena si penggali itu usianya sudah 51 tahun. Lalu penggali itu menceritakan latar belakang keluar dari pekerjaannya dan ingin menuntut ilmu menjadi santri. Lambat laun si penggali itu belajar dengan baik walau mulai dari ilmu-ilmu dasar. Dan dia ajak anak-anak dan cucunya agar menjadi santri.

Syeikh Hisyam al-Burhani pun berkata, Kini anak keturunannya dikenal dengan para sebutan imam dan alim (kyai). Dan mereka cukup dikenal di tengah-tengah masyarakat. Maka kini jika ada ulama besar dengan nama akhirnya ada sebutan "Al-Haffar" itu lah keluarga  dan keturunan dari sang penggali kubur itu.

Sumber kisah: Syeikh Hisyam al-Burhani

Minggu, 30 Mei 2021

Pesantren Terbuka dan Nasehat Sang Kyai: "Sarjana Bukanlah Orang Yang Pandai Cari Pekerjaan, Tapi Pandai Membuka Lapangan Pekerjaan"

Bersama KH. Syukron Makmun Saat Peresimian Gedung Rumah Quran
Nasehat ini saya dapatkan dari Kyai dan "Guru Besar" saya, KH. Syukron Makmun. Terutama saat acara wisuda atau Haflatul Wada' para santri. Dan nasehat itu juga yang saya sampaikan kepada para santri-santri saya saat Haflatul Wada'.

Nasehat sang Kyai ini masih sangat relevan di tengah segala hal yang serba instan. Bahkan ada indikasi gelar sarjana pun kini dapat diraih dengan cara instan, tanpa proses ilmiah apalagi khuluqiyah dalam proses pendidikan meraih gelar sarjana.

Mungkin nasehat itulah yang membuat saya selalu ingin hidup mandiri. Usai lulus kuliah dari Umm al-Quro University, Makkah saya tidak canggung dan malu untuk membuat TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang sederhana di Masjid dekat rumah saya. Namun TPA yang saya dirikan berbeda dengan TPA biasa. Sistem yang saya buat mirip dengan pesantren, nyaris para santrinya belajar 24 jam. Kalau dapat diistilahkan TPA yang saya dirikan adalah "Pesantren Terbuka", nyontek dari istilah UT (Universitas Terbuka). Para santri bangun subuh dan shalat subuh, lalu mereka pergi ke sekolah masing-masing. Jam 14.00 mereka mulai ke Masjid hingga pukul 16.30. Lalu menjelang maghrib mereka ke Masjid lagi untuk shalat maghrib, ngaji dan shalat Isya berjamaah. Bakda shalat Isya mereka belajar bersama secara mandiri di masjid mengulang pelajaran sekolah hingga pukul 21.00. Setelah itu mereka tidur di rumah masing-masing, namun ada 3-5 santri diberi tugas sebagai bulis (ronda) di masjid sambil itikaf, tugasnya membangunkan para santri di rumah masing-masing saat menjelang subuh. Sehingga para santri melaknasakan shalat subuh berjamaah. Tiap hari Ahad saya ajak mereka berolah raga ke lapangan atau ke pinggir sungai Cisadane. Ringkasnya, miriplah dengan kehidupan pesantren. Bedanya tidak punya komplek atau asrama. Itu sebabnya saya istilahkan sebagai "Pesantren Terbuka."

Santrinya yang tadinya cuma 20 orang langsung naik menjadi 120 orang. Bahkan anak-anak balita pun mau ikutan. Maklum sejak adanya pesantren terbuka itu, anak-anak balita tidak punya teman bermain karena anak dewasanya semua di masjid. Sehingga yang masih balita pun dibawa orang tuanya daftar ikut TPA. Di saat itulah, saya tidak bisa menaganinya sendiri. Maka saya ajak beberapa teman di kampung dan dari kampung sebelah untuk membantu mengajar dan mendidik anak-anak. Di sini -saat itu- saya merasa sudah melaksanakan nasehat Kyai saya, "Sarjana adalah orang yang pandai membuka lapangan pekerjaan. Bukan pandai mencari pekerjaan".

Di sela waktu kosong saya juga banyak menulis tausiyah-tausiyah ringkas yang kemudian di cetak menjadi bulletin jum'at dan disebar ke mesjid-mesjid. Saat itu saya pun telah "membuka" lapangan pekerjaan kepada teman saya, baik bagian pencetakan maupun distributor ke mesjid-mesjid.

Kisah ini saya sampaikan kepada para santri di acara Wisuda atau Haflatul Wada Lulusan Angkatan 6 Ahad lalu, agar menjadi isnpirasi buat mereka. 

Jadi, mendirikan pesantren tidak harus punya lahan dan bangunan. Dengan potensi dan pengalaman yang dimiliki saat nyantren serta lingkungan kondusif, kita bisa mendirikan pesantren. Yang terpenting ide dan kreatifitas serta semangat jangan mati. Bahkan saat dianugrahi Allah lahan dan fasilitas sekalipun.

Semoga bermanafaat.

Muhammad Jamhuri

Rumpin, 30 Mei 2021.


Kamis, 21 Mei 2020

Mengaktfkan Kembali Pesantren Di Tengah Upaya Pencegahan Wabah Corona


 Oleh: Muhammad Jamhuri
Mukaddimah
Pesantren sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia hingga kini masih eksis. Keberadaannya kini mendapat pengakuan melalui terbitnya Undang-undang No. 18 Tahun 2020 Tentang Pesantren. Dengan demikian pesantren disamakan dengan sistem pendidikan lain di Tanah Air.
Salah satu kegaiatan di pesantren
Sejak mulai merebaknya wabah Corona di bulan Maret, pemerintah daerah dan pusat telah menerbitkan beberapa peraturan terkait pencegahan virus Corona di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya kebijakan social distancing atau fisicaly distancing, yang mengharuskan masyarakat tidak melakukan kerumunan atau perkumpulan, baik di kantor, tempat kerja, pendidikan, sekolah,  bahkan di tempat ibadah. Kondisi ini menyebabkan beberapa tempat tersebut berada dalam pengawasan petugas.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan terkena dampak peraturan tersebut. Sehingga para pimpinan pesantren pun meliburkan santri-santrinya. Kebijakan pesantren-pesantren dalam meliburkan santri nya pun berbeda-beda. Ada pesantren yang sejak peraturan diterbitkan, santri langsung dipulangkan. Namun ada pula pesantren yang meliburkan santrinya beberapa waktu setelah itu. Bahkan ada pula yang tidak meliburkannya sama sekali.

Setelah hampir dua bulan pesantren-pesantren itu meliburkan santrinya, mulai terjadi kegamangan di masyarakat pesantren, baik pimpinan pesantren, santri, maupun orang tua santri. Sampai kapankah para santri dapat kembali ke pesantren? Hal ini terjadi karena sudah beberapa kali dilakukan perpanjangan masa liburan atau Stay Home. Masalahnya, sampai saat ini tidak ada yang dapat memprediksi kapan hilangnya virus Corona? Kapan kondisi boleh normal kembali?.

Komunitas Pesantren Berbeda Dengan Masyarakat Umum Lainnya.
Salah satu sebab perbedaan masa liburan para santri antar beberapa pesantren akibat Corona, adalah para pimpinan pesantren, santri dan orang tua meyakini bahwa justru lingkungan pesantren lebih aman dibanding lingkungan lainnya, termasuk lingkungan rumah. Hal itu disebabkan karena para santri sudah terkarantina secara otomatis di lingkungan pesantren. Sedangkan jika santri di rumah, mereka masih mungkin berpergian keluar serta berinteraksi dengan orang yang rentan tertular. Sementara protocol pencegahan pun belum tentu dilaksanakan di lingkungan rumah. Sedangkan pesantren sebagai lembaga, tentunya akan melakukan protocol pencegahan dengan melengkapi fasilitas pencegahan virus Corona.

Selain itu, ada suatu keyakinan di kalangan orang tua santri bahwa lebih aman tinggal di pesantren dikarenakan anak-anak santri di pesantren dibekali dengan wirid dan doa-doa. Termasuk doa pencegahan dari wabah penyakit.

Sistem pendidikan di pesantren pun berbeda dengan sekolah lain. Di pesantren mereka belajar dan hidup 24 jam dalam lingkungan terbatas. Mereka tidak berinteraksi dengan dunia luar kecuali saat liburan semester atau menjelang hari raya. Jika para santri semua dalam kondisi sehat, maka mereka sudah berada di lingkungan karantina orang-orang sehat dan tidak akan terkapar oleh virus Corona yang penyebabnya adalah penularan dari orang lain.

Berbeda dengan sistem pembelejaran sekolah biasa dengan sistem non boarding. Para siswa setiap harinya pulang pergi dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Sehingga dalam interaksi itu sangat potensial terkapar virus Corona. Baik saat berada di lingkungan sekolahnya, di rumahnya, maupun di luar dengan lingkungan lainya.

Kecendrungan Kebijakan Pemerintah (Pusat)
Institusi pendidikan, termasuk pesantren harus mengupdate perkembangan berita tentang virus Corona dan segala hal yang berhubungan dengannya. Baik berupa peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah pusat dan daerah, maupun beberapa peristiwa di daerah dan negara lain sebagai bahan perbandingan.

Saat ini, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) adalah acuan yang dipakai pemerintah dan masyarakat di masa wabah Corona. Sehingga beberapa daerah membatasi masuknya warga lain ke daerah yang diberlakukannya PSBB, demikian juga sebaliknya. Di tingkat RT dan RW pun dibatasi gerak masyarakat dalam keluar masuk suatu wilayah. Bahkan shalat Jumat dan dan acara-acara yang mengundang kerumunan masa pun dilarang, seperti tabligh/ceramah, pernikahan dan rapat terbuka. Kini semuanya dilakukan via internet.

Namun dengan masa yang panjang dan tidak jelas batas waktu pembatasan ini membuat masyarakat jenuh dan bosan. Belum lagi mereka merasakan dampaknya secara ekonomi, sementara bantuan yang harusnya dipenuhi pemerintah maih menyimpan banyak masalah. Belum lagi beberapa kalangan ingin kembali melaksanakan ibadah ke masjid seperti layaknya keadaan normal, terlebih memasuki bulan Ramadhan, lalu ditambah akan tibanya hari raya Idul Fitri.
Kekecawaan mereka tembah memuncak, saat beberapa kalangan mengadakan konser terbuka hal mana terjadi berkumpulnya manusia, sehingga kebiajakan PSBB tentang social distancing, fisicly distancing terabaikan. Lebih kecewa lagi, justru sebagian pelaku dan pelaksananya adalah oknum pemerintah.

Sebelum Konser yang memancing protes masyarakat ini terjadi, pemerintah telah mewacanakan isu “Relaksasi”. Alasannya, karena kondisi ekonomi negara yang terus menurun serta macetnya sentra-sentra ekonomi. Karenanya diperlukan suasana dikembalikan sehingga perputaran ekonomi berjalan kembali. Ide ini pun mendapat banyak dikritik, terutama dari para ahli kesehatan sebagai garda terdepan dalam peperangan melawah pandemi virus Corona ini.

Terakhir, bergulir wacana “Herd Immunity” di tengah anggapan bahwa Lokcdown dan PSBB tidak berhasil diterapkan di Indonesia. Herd Immunity, adalah suatu situasi dimana manusia akan teruji imunitas masing-masing dan jika dalam populasi tertentu dapat menghentikan penyebaran penyakit. Jika ini diterapkan maka akan banyak kelonggaran-kelonggaran. WHO sendiri tidak merekomendasikan Herd Immunity ini. Namun beberapa negara seperti Swedia telah menerapkannya. Hasilnya, sebagaian tubuh populasi manusia menjadi terbiasa menghadapi virus sehingga immune-nya mampu mengatasinya. Akan tetapi para ahli medis mempredeksi cara ini akan lebih banyak korban virus Corona, terutama mereka yang memiliki daya immun yang kurang. Akibatnya rumah sakit akan dibanjiri korban virus.

Melihat kondisi ekonomi dan sosial, serta beberapa wacana perlonggaran sosial yang berasal pejabat pemerintah akhir-akhir ini, termasuk acara konser belakangann ini, agaknya cepat atau lambat, cara Herd Immunity ini akan diterapkan oleh pemerintah meskipun tidak secara langsung. Seperti isu-isu lainnya, pemerintah biasanya tetap akan melangsungkan apa yang menjadi keinginannya, seperti kenaikan harga BBM, BPJS, Pemindahan Ibu Kota dan lainnya, yang meskipun mendapat banyak kritik, tapi tetap jalan. Terlebih akibat Lokcdown dan PSBB yang dianggap menggoyang roda ekonomi.

Beberapa langah pelonggraan jika kebijakan Herd Immunity diambil ini antara lain:
  • Pelan-pelan toko, mall, transportasi akan dibuka, walau dengan protocol kebersihan/kesehatan yang tinggi
  • Pelan-pelan sekolah mulai dibuka
  • Pelan-pelan kantor dan aktifitas massal mulai diperbolehkan aktif kembali
Herd Immunity jika diterapkan akan memiliki sisi positif dan negatif. Sisi negatifnya  antara lain: (1) Akan kehilangan penduduk hampir separuh jumlah jiwa (2) Kematian massal (3) Rumah Sakit akan super kewalahan. Sedangkan Sisi positifnya: (1) Pendemi akan cepat berakhir, (2) Akan terbentuk manusia baru yang lebih kebal, beradaptasi dengan penyakit baru (3) Perekenomian tak terhambat perkembangannya

Membuka Kembali Aktifitas Pesantren
Dengan kemungkinan perkembangan kondisi yang ada, terutama pemerintah mulai melakukan pelonggran, Pesantren dapat melakukan membuka kembali aktfitas pesantrennya. Baik di wilayah merah (tingkat penyebaran sangat tinggi), kuning (tingkat penyebaran sedang), maupun hijau (tingkat penyebaran kurang). Pesantren yang berada di wilayah hijau tentunya dapat lebih mudah dan memungkinkan dibuka kembali di banding pesantren yang berada di wilayah kuning dan merah. Akan tetapi, membaca trend kebijakan yang akan diambil pemerintah pusat, maka kebijakan itu akan “melunakkan” peraturan yang diterapkan pemerintah daerah. Oleh sebab itu, pesantren perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Meminta pendapat dan masukan dari para orang tua santri tentang langkah pembukaan kembali aktifitas pesantren di kondisi yang ada. Ini dapat kita minta melalui google doc atau smart phone.
  2. Pesantren selalu berkordinasi dengan perangkat dan pejabat daerah, mulai dari RT, RW, Keluarahan hingga kecamatan serta muspika. Hal itu untuk membangun kesepahaman bersama antara pihak pesantren dan pemerintah setempat. Pihak pesantren hendaknya menyiapkan segala argumentasi yang layak, atau jika diperlukan pesantren melakukan studi kelayakan terlebih dahulu. Terkait dengan pesantren dengan kondisi riil daerah, kondisi masyarakat, santri, wali santri, santri dan institusi pesantren lainnya dan melakukan komparasi dengan lembaga lain atau pusat keramaian lain yang dilonggarkan . Pesantren juga perlu meyakinkan bahwa jika dibuka kembali akan menerapkan protocol kesehatan yang standard dan ketat, meski pun pesantren masih berada di wilayah hijau.
  3. Sebelum kembalinya para santri ke pesantren, mereka diminta untuk mengecek kesehatannya terlebih dahulu 2 hari sebelum kembali ke pesantren, serta 2 pekan sebelum ke pesantren untuk tetap berada di rumah dalam keadaan sehat.
  4. Jika pesantren dibuka kembali maka Pesantren harus membuka lembaran baru dan memulai kebiasaan baru. Antara lain pola hidup dan lingkungan sehat. Ini membutuhkan semacam pembiasaan baru, selain fasilitas baru yang terkait dengan protocoler pencegahan virus. (termometer, hand sanitizer, wastapel untuk cuci tangan, sabun, alat semprot disinfectan dan lain-lain). Adapun pembiasaan baru, dapat dilakukan dengan cara terus menerus diberikan pengarahan dan penyadaran serta penerapan peraturan dan hukuman kepada para santri atau warga pesantren.
  5. Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan  daya imun santri perlu dijadwalkan dan dilakukan secara disiplin seperti berjemur mulai jam 10.00, berolah raga setiap hari serta hanya mengkonsumsi makanan bergizi yang disediakan pesantren, baik makanan dari dapur umum maupun koperasi. Tentunya ini akan merubah jadwal jam mata pelajaran dan lainnya.
  6. Peraturan Kunjungan harus diperbaharui. Ini untuk mengurangi penularan virus yang mungkn terbawa oleh orang yang berkunjung. Jika biasanya kunjungan diperbolehkan tiap pekan atau tiap bulan, kini diubah dengan tidak diadakannya kunjungan. Lalu santri dapat bertemu dengan orang tua/tamunya hanya saat dijemput sakit yang perlu perawatan di rumah dan libur semester atau libur menjelang hari raya. Sedangkan kebutuhan uang saku dan bayaran spp dapat melalui transfer.
  7. Frekwensi piket kebersihan harus ditingkatkan, untuk memastikan kebersihan kamar, kamar mandi, masjid, lapangan, saluran air dan semua lingkungan pesantren.



Wallahu a’lam

Kamis, 18 Agustus 2016

KATA-KATA MUTIARA DAN NASEHAT HADHRATUS SYAIKH KH. SYUKRON MAKMUN



(ditulis kembali oleh Al-Haqir wa Al-Faqir ilaa Robbihil Kabir: al-Tholib: H. Muhammad Jamhuri, Lc, MA.)
Guru Kita: KH. Syukron Makmun

Pengantar:
Alhamdulillah, berkat nikmat yang Allah limpahkan, Saya dapat menyusun kumpulan kata-kata mutiara dan nasehat guru kita Hadratus Syaikh KH. Syukron Makmun hafidzahullah. Sebenarnya banyak nasehat dan kata mutiara beliau yang sudah Saya kumpulkan dalam satu diary khusus, akan tetapi diary itu hilang. Untung saja, masih ada diary lain yang masih ada. Mayoritas kata mutiara dan nasehat ini tertulis di agenda tahun 1988 yang diambil dari berbagai acara selama nyantri di Daarul Rahman, antara lain kuliah subuh, haflatul wada’, pelantikan IP3DR/IP4DR dan lain-lain, kemudian Saya klasifikasikan kepada beberapa kategori. Ana berharap teman-teman bisa menyempurnakan lebih banyak lagi, sehingga pesan Kyai kita dapat terus kita ingat, dan seakan kita merasa masih seperti di Pesantren Daarul Rahman dulu.



Kategori ”GURU”
  1. Orang yang mengajarmu satu huruf yang diperlukan dalam agama adalah bapakmu dalam agamamu.
  2. Hormatmu pada gurumu lebih baik dari pada ilmu yang kau terima darinya
  3. Guru yang tidak berwibawa dan tidak dihormati adalah karena tidak menghormati gurunya sewaktu menjadi murid
  4. Kalau ingin kaya janganlah jadi ustadz, jadilah pedagang.


Kategori ”ILMU DAN ULAMA”
  1. Orang yang tidak berilmu, tidak dipentingkan orang
  2. Orang yang tidak berilmu, tidak diorangkan orang
  3. Ilmu itu bagai lautan, semakin kita dalami semakin dalam lautan itu
  4. Sesuatu, kalau diisi akan penuh, tapi ada yang tidak penuh-penuh kalau diisi, itulah otak
  5. Walaupun ilmu banyak, tapi tidak berakhlak maka akan dikutuk Allah
  6. Kalau kita belajar dengan sejarah maka akan menjadikan jiwa kita dinamis
  7. Sangat penting mempelajari sejarah agar berjiwa patriot
  8. Menuntut ilmu adalah ibadah qalbu
  9. Orang yang bisa baca, tapi tidak mau membaca maka ia sama dengan orang buta huruf
  10. Ilmu itu didapat dengan rajin membaca
  11. Jadikan ilmu sebagai kekasihmu
  12. Nilai 1 yang diuji lebih baik daripada nilai 10 yang tidak diuji
  13. Hargailah dirimu dengan ilmu dan akhlak
  14. Ijazahmu sesungguhnya adalah ilmu dan akhlakmu
  15. Ulama adalah cendikiawan intelektual Islam yang disiplin dengan ilmunya dan mengamalkannya
  16. Kyai diibaratkan penggembala kambing. Kalau penggembala kambing menjaga kambing dari srigala. Bagaimana jika penggembalanya sendiri mempunyai srigala? (khianat pada umat?)
  17. Kyai karbitan adalah orang Islam yang pakai peci, sorban, tasbih tapi ilmunya tidak ada.
  18. Kyai karbitan menyebutkan diri bahwa dia adalah kyai, bukan oleh masyarakat
  19. Ulama akhirat adalah yang tujuannya mencari ridho Allah dan untuk kepentingan agama
  20. Ulama dunia adalah yang tujuannya mencari materil meskipun kerja/mengajarnya sama dengan ulama akhirat, tapi niatnya lain.


Kategori ”PEMIMPIN dan ORGANISASI”
  1. Pimpinlah dirimu sebelum memimpin orang lain
  2. Pemimpin yang tidak mau turun pasti diturunkan
  3. Semua posisi adalah penting dan tidak ada yang terpenting dari lainnya
  4. Orang yang pernah berorganisasi hidupnya tak akan buta.
  5. Kalau biasa meremehkan orang, maka akan diremehkan orang.
  6. Jadilah orang yang siap dipimpin dan siap memimpin
  7. Disiplin dapat ditegakkan bukan dengan kekerasan
  8. Wibawa dengan kekerasan adalah wibawa semu
  9. Yang membuat seseorang tidak berwibawa adalah karena ia memerintah tapi tidak melaksanakan, kemudian melakukan kekerasan untuk mengembalikan wibawa.
  10. Jangan jadi pengurus seperti calo, memerintah anggota tapi ia tidak melaksanakan
  11. Negara yang zalim jika pemerintahannya kehilangan akal akan pendapat rakyat yang kontra maka jalan terakhirnya dengan kekejaman seperti yang terjadi pada namrudz terhadap Ibarhim


Kategori ’PRINSIP HIDUP”
  1. Janganlah kau jadi manusia bermental kerupuk yang cepat layu oleh angin dan hujan
  2. Lauk yang paling enak adalah rasa lapar
  3. Jadilah Pegawai Allah
  4. Orang peragu tidak akan sukses
  5. Orang yang berbudi adalah orang yang tahu budi
  6. Sarjana adalah orang yang pandai membuat lapangan pekerjaan bagi orang lain, bukan orang yang pandai mencari pekerjaan kesana-kemari.
  7. Janganlah jadi orang yang kepalangtanggung
  8. Orang yang berani hidup melarat belum tentu melarat
  9. Orang yang terbiasa hidup sederhana akan siap menghadapi hidup mewah, tetapi orang yang terbiasa hidup mewah tidak siap hidup sederhana.
  10. Berbahagialah orang yang tahu kekurangannya
  11. Merasa sudah sempurna adalah berbahaya
  12. Janganlah lari dari persoalan
  13. Jadilah orang yang serba beres
  14. Yang punya niat dan tekad bulatlah yang akan berhasil
  15. Istirahat adalah berpindahnya seseorang dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain



Kategori ”CINTA”
  1. Cinta itu menyiksa, jika tidak siap tersiksa, jangan coba mencinta
  2. Orang yang tidak pernah bosan pada sesuatu, karena ia mencintai sesuatu itu
  3. Kalau kau mencintai sesuatu (ilmu) pasti kau mencarinya sampai ketemu
  4. Ilmu itu harus dijadikan kecintaannya/hobinya
  5. Korbankanlah apa yang kau cintai demi sesuatu yang lebih kau cintai (Allah SWT)


Kategori ”PERGAULAN”
  1. Jangan jadi orang asing di negerinya sendiri
  2. Ke kandang kambing mengembik, ke kandang kerbau mengaum. Artinya: harus menyesuaikan diri.
  3. Maukah anak-anakku jadi seperti ayam? Nasib ayam jadi susah: Kalau orang kawin, ia mati, kalau ia mati ia juga ikut mati (selalu menjadi objek penderita)
  4. Jangan marah kalau tidak ditolong Allah, sudahkah menolong saudaranya?/muslim
  5. Jadilah seperti ikan hidup, meski hidup di lautan yang asin namun ia tetap tawar (istiqomah). Dan janganlah menjadi seperti ikan mati yang larut dibentuk orang, menjadi ikan asin, dendeng dan lain sebagainya
  6. Jika terjun ke suatu desa, di sana ada macannya, maka dekati dulu macannya baru bergaul dengan masyarakat.
  7. Kalau biasa meremehkan orang, maka akan diremehkan orang.
  8. Jangan melupakan jasa orang yang berjasa
  9. Hormatilah orang lain, maka kau akan dihormati
  10. Orang yang minta dihargai adalah orang yang tidak berharga


Kategori ”PEMAHAMAN KEAGAMAAN”
  1. Pembaharuan Islam adalah mengembalikan agama kepada kebenarannya, bukan merubahnya
  2. Pembaharuan Agama dengan merubah agama berarti penggusuran agama
  3. Perintah Allah bukan sekedar untuk diseminarkan, tapi untuk diamalkan
  4. Membaca ilmu pengetahuan harus dikaitkan dengan nama Tuhanmu
  5. Suatu kewajiban pertama bagi santri adalah mendahulukan kebersihan batinnya dari akhlak yang tercela.
  6. Modernisasi tidak bertentangan dengan Islam. Yang bertentangan adalah westernisasi, seperti berpakaian minim
  7. Kalau wanita setengah telanjang adalah modern, maka kuda lebih modern?
  8. Pergaulan bebas wanita dan pria itu namanya pembinatangan manusia
  9. Modenisasi dalam Islam: Yes, Westernisasi dalam Islam: No.
  10. Modernisasi bukan penghancuran moral
  11. Perkembngan manusia harus sesuai dengan agama, bukan agama yang disesuaikan dengan hawa nafsu manusia.





Jumat, 27 Maret 2015

Pendidikan Model Pesantren Kini Lebih Diminati



Meskipun dewasa ini banyak pihak, termasuk pemerintah, mengindentikkan pesantren dengan radikalisme, namun model pendidikan pesantren justru lebih diminati oleh masyarakat. Hal itu terlihat dengan banyaknya beberapa pesantren yang sudah memenuhi koata penerimaan santri baru, padahal tahun pendidikan dimulai bulan Juli. Beberapa pesantren bahkan membuat iklan pendaftaran “inden” untuk menerima calon santri baru untuk 2, 3, bahkan 4 tahun ke depan, layaknya waiting list dalam sistem pendaftaran ibadah haji. Jika kita mendaftar anak untuk diterima tahun ini, pesantren tersebut sudah tidak bisa menampung, padahal pesantren tersebut sudah menyebarkan calon santri ke beberapa cabangnya.

Ada pula pesantren menerima hampir 1000 calon santri baru, padahal kapasitas untuk menerima calon santri baru hanya 300 orang. Sehingga pada saat diselenggarakan tes masuk santri baru, pesantren ini tidak bisa menampung calon santri baru itu, sampai-sampai untuk mengadakan tes masuk, pesantren tersebut menyewa beberapa ruang convention PUSPIPTEK milik BPPT di kawasan Serpong, Banten.

Kenyataan ini bukan hanya terjadi di daerah jabotabek, di daerah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Pulau Jawa saja, namun terjadi pula di beberapa daerah di luar Jawa. Bahkan beberapa pesantren dengan  spp yang tinggi pun tetap  banyak diminati oleh masyarakat.

Fenomena ini terjadi banyak faktor. Secara internal, pesantren kini banyak berbenah diri. Pesantren kini bukan hanya mengajarkan ilmu agama, namun juga memadukan antara ilmu agama dengan sains. Bahkan memadukan antara ilmu agama dengan kewirausahaan (ekonomi). Itulah sebabnya banyak pesantren menggunakan kata “TERPADU” karena memadukan ilmu agama dengan keterampilan (life skill) yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Selain itu, pesantren juga telah bergeser kepada model modern. Sehingga, pesantren tidak lagi dikesankan dengan situasi kumuh, kotor, dan terbelakang. Di samping itu, secara manajerial pesantren pun tidak kalah dengan sekolah-sekolah elit lainnya. Bobot pengetahuan sains dan agama diberikan secara seimbang sehingga tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan sains. Oleh sebab itu banyak anak pesantren menjadi duta dalam pertukaran pelajar antar negara serta menjuarai berbagai olimpiade di tingkat internasional.

Secara eksternal, sekolah-sekolah umum telah “gagal” membangun karakter siswa yang berbudi pekerti mulia. Faktor inilah yang membuat masyarakat kini kurang memberi kepercayaan kepada sekolah-sekolah umum, baik swasta maupun negeri. Bahkan beberapa sekolah negeri di beberapa daerah kini “kurang laku”, hingga ada pemerintah daerah yang mengeluarkan surat edaran atau perda, bahwa anak daerah harus bersekolah di sekolah yang berada di daerahnya karena kekhawatiran sekolah-sekolah daerah tersebut akan kekurangan murid.

Banyaknya siswa yang terlibat kasus-kasus asusila, narkoba, kriminal, tauran bahkan pergaulan bebas di lingkungan sekolah akhir-akhir ini menunjukkan bahwa sekolah umum tidak lagi memberikan rasa aman kepada siswanya. Kenyataan inilah yang membuat masyarakat mulai melirik psantren. Belum lagi kebijakan pemerintah yang gonta-ganti kurikulum setiap pergantian rezim kekuasaan. Berbeda dengan pesantren, yang sebagian kitab atau buku klasiknya masih eksis menggunakan buku tersebut dan selalu aktual, sehingga jika ada seorang adik yang masuk pesantren, dia masih dapat menggunakan buku kakaknya yang juga dari pesantren. Coba bayangkan dengan buku umum, setiap tahunnya terus berganti tergantung “lobi” penerbit dan bongkar pasang kurikulum oleh pemerintah. Faktor-faktor inilah, sekali lagi, yang menyebabkan model pendidikan pesantren sangat diminati.

Faktor lain adalah jiwa kehidupan pesantren yang dibingkai dengan panca jiwa pesantren, yaitu keikhlasan, ketaatan, kesederhanaan, kemandirian, dan ukhuwah yang diamalkan dalam kehidupan pesantren selama 24 jam sehari. Kebiasaan yang dilakukan berkali-kali, terutama pada usia remaja akan menjadi karakter santri. Ada faktor lain yang mungkin tidak dimiliki oleh sekolah umum. Yaitu dalam masyarakat industri yang serba sibuk, dimana terkadang suami dan isteri sibuk bekerja di luar, maka pilihan tepat untuk “menitipkan” anaknya adalah pesantren. Karena di pesantren, anak dididik dan diawasi selama 24 jam. Sedangkan di sekolah umum, keberadaaan mereka hanya 5-7 jam di dalam suasana pendidikan. Di luar itu, anak di luar pengawasan orang tua dan guru. Sehingga tidak aneh jika anak berada di mall bahkan di dalam jam pelajaran sekalipun.

Muhammad Jamhuri
Pengasuh Pesantren Terpadu Ekonomi Islam MULTAZAM
Jum’at, 27 Maret 2015

Rabu, 18 Maret 2015

Pesantren, Boarding School dan Ruhul Ma’had



Oleh: Muhammad Jamhuri

Suatu kali, saya pernah bertemu dengan salah kepala madrasah yang berada dalam naungan suatu pesantren dalam suatu urusan akreditasi madrasah. Sekolah yang dia pimpin sudah lama berdiri. Karena nama sekolahnya pernah saya dengar bahkan sebelum saya menempuh kuliah dahulu. Setelah berkenalan, saya bertanya, “Ustadz, madrasahnya sudah berapa kali diakreditasi?”, “kalau madrasah saya baru kali ini, karena baru berdir empat tahun lalu.” Tambah saya. Ustadz itu menjawab, “Baru pertama kali juga, ya sekarang ini”. Saya agak heran dan bertanya, “Ustadz, bukankah sekolah ustadz ini sudah lama beridiri? Kok, baru pertama ini diakreditasi?” Dia menjawab, “Sebenarnya sudah berkali-kali diakreditasi, namun sebagai madrasah, baru kali pertama ini diproses akreditasi.” Saya tambah heran lagi. Lalu Dia menjelaskan. “Dulu sekolah kami adalah SMP yang berada dibawah binaan kemendiknas, nah saat statusnya SMP, sekolah kami sudah lama berdiri dan sudah diakreditasi berkali-kali. Namun  sekarang kami ubah menjadi MTs (Madrsah Tsanawiyah). Oleh sebab itu, baru kali ini akreditasinya diproses.”
Saya tambah merasa heran, karena bukankah banyak orang dan wali murid yang gandrung kepada SMP dari pada MTs? Mereka lebih bangga memasukkan anaknya ke SMP daripada MTs (madarsah)?. Teman saya itu menjelaskan, “Setelah kami jalani, ternyata status sekolah juga membentuk karakter anak. Nama SMP membentuk karakter dan sikap anak, dari sebutannya saja mereka disebut “anak SMP”. Berbeda saat sekolah kami diubah menjadi madrasah, sebutan untuk mereka sekarang adalah “anak madrasah”. Tanpa menjelaskan lebih rinci, saya sudah mafhum maksud dari penjelasannya. Kabarnya SMA yang ada di pesantren teman saya itu sedang proses embrio menjadi MA (Madrasah Aliyah).
Anda mungkin bisa tidak setuju dengan kesimpulan di atas. Bukankah tergantung kyai, atau kepala sekolah dan gurunya dalam membentuk karakter anak dari pada sekedar nama Sekolah atau Madrasah? Tapi itulah fenomena yang dialami pesantren teman saya itu. Dia me-reformasi “Sekolah” menjadi “Madrasah” karena menurut pengasuhnya hal itu penting.
Dalam suatu kunjungan ke sebuah lembaga sosial (Charity), saya bertemu dengan salah seorang pimpinan lembaga Charity yang banyak berkeliling ke pesantren-pesantren dalam misi memberi bantuan dan kerja-sama. Dalam diskusi ringan, dia bercerita, bahwa kini sering ditemukan guru-guru (asatidz) di sebagian pesantren mengeluh kepada beliau. Pasalnya, bayaran atau spp yang dikenakan kepada santri begitu tinggi (baca: mahal), namun kesejahteraan yang diterima asatidz tidak sebanding dengan spp tersebut. Lebih ironi lagi, kepuasan batin pun tidak didapatkan oleh para asatidz tersebut. Pasalnya, anak-anak santri dirasa kurang menghormati asatidz-nya. Mungkin –menurut teman saya itu- si santri menyikapi guru seperti orang gajian yang diberi gaji oleh orang tua mereka. Mereka juga tidak mendapatkan asupan tentang pentingnya menghormati guru.
Dua kenyataan di atas itulah yang mendorong saya membuat tulisan ini.


Adakah Perbedaan Antara Pesantren dan Boarding School?
Seringkali “pondok pesantren” diartikan dalam bahasa inggris dengan “Boarding School”, atau dalam bahasa Arabnya “Ma’had Islamy”. Untuk sementara memang kata itulah yang cocok untuk terjemah kata “pondok pesantren”. Namun kata “pesantren’ dalam kontek ke-Indonesiaan memiliki ciri khas yang unik dari sekedar “Boarding School” dan “Ma’had Islamy”.
Namun dengan dua alasan fenomena di atas, saya dapat bedakan antara pesantren dan boarding school. Perbedaan ini ada jika memang yang akan saya sebutkan itu ada. Namun jika tidak ada, maka antara pesantren dan boarding school itu sama saja.
.
1.    Ditinjau dari pendirian
Pesantren lebih sering dibangun dari modal nol, lalu sedikit demi sedikit membangun satu kobong atau satu ruang, kemudian berkembang hingga memiliki banyak gedung dan ruang. Sedangkan boarding school dibangun dengan secara sekaligus memiliki banyak gedung, bahkan sebagian gedungnya pun mewah-mewah, fasilitas pun lengkap
2.    Ditinjau dari pendiri
Pesantren biasanya didirikan oleh perorangan, bahkan langsung oleh sang kyainya, atau keluarga besar kyainya atau dengan beberpa temannya dengan idealismenya. Sedangkan boarding school biasanya dibangun oleh suatu lembaga, baik berupa lembaga charity, yayasan, pemerintah atau beberapa pengusaha atau investor
3.    Ditinjau dari pimpinannya
Pesantren biasanya dipimpin oleh seorang kyai yang gelarnya secara alami diperoleh karena kepercayaan dari masyarakat. Sedangkan boarding school dipimpin oleh seseorang yang diangkat oleh lembaga, yayasan, sekumpulan para pendiri atau para investor.
4.    Ditinjau dari kurikulum
Kurikulum pesantren biasanya berbasis kitab-kitab kuning dan kitab berbahasa Arab. Kalau pun bermetafora dengan sistem modern dengan mangadopsi kurikulum pemerintah, namun ciri khas kitab berbahasa Arab tetap dominan, atau minimal sama dengan muatan kurikulum pemerintah. Sedangkan boarding school lebih dominan menggunakan kurikulum pemerintah. Bahkan sebagian boarding school lebih dominan kurikulum materi umum dari pada materi agama.
5.    Ditinjau dari Orientasi Output
Pesantren biasanya berorientasi melahirkan para ulama dan orang yang memberi pencerahan kepada umat, meskipun kini output mereka banyak yang dapat melanjutkan di perguruan tinggi. Sedangkan boarding school lebih berorientasi kepada output yang dapat bersaing di bidang sains dan dapat melanjutkan ke perguruan tinggi umum, namun mereka tetap dibekali ilmu agama.
6.    Ditinjau dari biaya
Pesantren biasanya menerapkan spp/iuran yang dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Akibatnya, fasilitas penunjang pendidikan disediakan apa adanya, kecuali saat pesantren mendapat sumbangan atau bantuan, barulah beberapa fasilitas dapat dilengkapi. Sedangkan boarding school biasanya telah siap dengan berbagai fasilitas. Oleh sebab itu ia diminati oleh orang-orang yang mampu meskipun dengan iuran atau spp yang tinggi.


Ruhul Ma’had Antara Pesantren dan Boarding School
Pesantren di Indonesia sedikitnya mempunyai lima ciri khas yang kemudian disebut dengan  Panca Jiwa Pesantren (Ruhul Ma’had), yaitu keikhlasan (al-ikhlas), kesederhanaan (al-bisathoh), kemandirian (Al-i’timad ‘alan Nafs), ketaatan (at-Tho’ah), dan persaudaraan (ukhuwah). Lima ruhul ma’had (panca jiwa pesantren) inilah yang menghiasi seluruh komunitas dalam pesantren, mulai dari kyai, guru hingga para santrinya.
1. Al-Ikhlas (Keikhlasan)
Seluruh proses pendidikan di lingkungan pesantren harus dilakukan dengan penuh keikhlasan. Karena keikhlasan adalah energi dalam melakukan sebuah amal. Oleh sebab itu, meski dengan fasilitas yang sederhana, namun proses pendidikan di pesantren dilaksanakan dengan penuh semangat, karena dilandasi dengan keikhlasan.
Keikhlasan juga menjadi barometer berkahnya ilmu yang diajarkan kepada para santri. “Berkah” adalah kebaikan yang terus bertambah. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang terus mendatangkan kebaikan kepada penuntutnya. Oleh sebab itu, perubahan sikkap yang terjadi pada diri santri saat sebelum menyantren dan setelah menyantren sehingga terus membaik adalah buah dari keikhlasan. Oleh sebab itu pula, mengapa antara santri dan pelajar di luar berbeda outputnya dalam sikap dan akhlak? Mungkin karena jiwa keikhlasan itu menjadi jiwa keseharian.
Hampir seluruh pesantren dan boarding school pasti memiliki jiwa keikhlasan. Hanya saja mungkin kadarnya berbeda-beda. Keikhlasan suatu pesantren atau boarding school dapat diukur dari orientasinya. Apakah orientasi hanya dunia? Atau akhirat?...Ada sebagian pesantren dibangun dari dana investor dengan perjanjian deviden tertentu bagi investornya. Jika hal ini tidak diniatkan untuk investasi akhirat, maka boleh jadi akan mengurangi rasa keikhlasan kecuali dibarengi dengan muhasabah (evaluasi diri) dan riyadhoh al-nafs (olah jiwa).

2. Al-Bisathoh (Kederhanaa)
Kesederhanaan harus menjadi ciri utama pesantren. Kesederhanaan bukan berarti kurangnya fasilitas. Akan tetapi para santri diajarkan hidup sederhana, dan kyai serta para guru memberikan contoh hidup sederhana. Sederhana dalam sikap, dalam berpakaian, dalam kebutuhan. Uang saku tidak boleh melebihi batas kecukupan, karena berlebihan dalam uang saku akan mendidik anak hidup glamor dan hedonis. Disipilin kesederhanaan ini akan menghilangkan gap antara santri kaya dan santri kurang mampu. Ada santri dalam sebuah pesantren minta berhenti kepada orang tuanya, karena santri itu tahu diri, bahwa ayahnya adalah dari kalangan menengah ke bawah, sedangkan teman-temannya mempunyai orang tua dari kalangan orang kaya. Dia melihat, jika teman-temannya berangkat ke sebuah mini market, begitu banyaknya yang ia beli. Sehingga santri itu berkata kepada ayahnya, “Pak, pesantren ini tidak pantas untuk kita, aku minta pindah saja.”

3. Al-I’timad ‘alan-Nafs (Kemandirian)
Kemandirian jelas sangat terlihat di kehidupan pesantren. Para santri hidup jauh dari orang tuanya. Akan tetapi bukan hanya itu mendidik kemandirian. Para santri juga diberi tugas membersihkan kamar, kelas dan asramanya dengan sendirinya. Membersihkan piring dan meletakkannya pada tempatnya setelah digunakan. Bahkan membersihkan sudut-sudut pesantren. Hal itu dilakukan setiap hari agar menjadi pembiasaan. Sehingga kelak di kemudian hari mereka terbiasa melakukan aktifitas itu. Pesantren bukanlah hotel atau motel yang kebersihan dan kerapian kamar, kelas, kamar mandi, halaman harus dikerjakan oleh prtugas cleaning service. Para santrilah yang menjadi cleaning-service. Beberapa pesantren atau boarding school yang dengan spp atau iurannya tinggi menyajikan layanan kebersihan dengan memperkerjakan petugas cleaning service, sehingga santri tidak mendapat pendidikan kemandirian, terutama dalam mengurus kebutuhannya sendiri. Bahkan pada pesantren tradisional, para santri dituntut untuk masak sendiri, mencuci dan menyetrika baju sendiri bahkan mencari rezeki sendiri untuk menghidupi dirinya sendiri. Meski beberapa item ini sudah dihilangkan akibat sistem pesantren modern, namun pembiasaan kemandirian tidak boleh dihilangkan sama sekali.
Santri yang dibiasakan setiap harinya dengan aktifitas peduli pada lingkungannya, akan terlihat saat mereka liburan di rumahnya. Mereka tidak manja dan selalu membantu orang tuanya dalam membersihkan rumah dan lingkungannya. Kemandirian berekenomi juga perlu diajarkan kepada santri, baik dengan magang di koperasi atau berjualan di lingkungan pesantren tanpa harus menganggu pelajaran.

4. At-Tho’ah (ketaatan),
Sikap patuh santri pada guru dan kyai harus menjadi ciri utama sebuah pesantren. Kepatuhan akan hadir jika kyai dan guru memberikan keteladanan kepada para santri. Sebab ketataatan itu akan timbul jika adanya tsiqoh (trust) kepada yang orang yang ditaati. Dan tsiqoh (trust) akan lahir jika kita memberikan keteladanan (uswah). Sebagai contoh, jika santrinya diwajibkan shalat berjamaah, maka kyai dan semua gurunya melaksanakan shalat berjamaah. Sedangkan pelajaran atau kitab tentang akhlak murid kepada gurunya hanyalah penguat saja timbulnya ketaatan murid kepada gurunya. Faktor utamanya adalah keteladanan. Selain itu, para santri pun perlu diajarkan tentang pentingnya ilmu dan kedudukan orang yang berilmu. Sehingga mereka tidak menyikapi para guru seperti orang gajian yang digaji oleh orang tua mereka. Akibatnya sikap hormat mereka kepada guru menjadi kurang. Di samping itu, guru pun jangan bersikap pilih kasih terhadap anak didiknya, apalagi hanya memperhatikan anak orang kaya saja. Hal ini akan menimbulkan sikap kurang penghormatan, baik dari si anak tersebut maupun anak-anak lainnya.

5. Ukhuwah (persaudaraan)
Suasana persaudaraan nampak dalam kehidupan santri. Mereka tidur bersama, makan bersama, belajar bersama, membersihkan tempat bersama. Bahkan mereka menganggap kyai dan guru seperti orang tua mereka sendiri. Tahapan ukhuwah sudah terbentuk dengan sendirinya, mulai dari taaruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), taawun (saling tolong menolong) dan takaful (saling sepenanggungan) serta talahum (seperti sedarah sedaging). Sikap ini diharapkan akan menjadi karakter mereka selamanya. Bukan hanya pada saat di pesantren saja, namun juga ketika mereka sudah terjun di masyarakat.

Penutup
Baik pesantren maupun boarding school, jika kita setuju membedakan keduanya, keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Alangkah baiknya jika pesantren dapat melengkapi dengan sesuatu yang positif yang terdapat pada boarding school. Demikian juga boarding shool melengkapi dengan sesuatu yang positif yang terdapat pada pesantren. Jika titik ini bertemu, maka Pesantren adalah Boarding School, dan Boarding School adalah Pesantren. Wallahu a’lam.
Rumpin, 18 Maret 2015