Tampilkan postingan dengan label Hikmah Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2024

Lailatul Qodar Sudah Tidak Dirahasiakan Lagi?

Oleh : KH. Muhammad Jamhuri, Lc. MA

 Begitulah kesimpulan sementara. Kita sering mendengar bahwa Lailatul Qodar memang tidak diberitakan kapan akan terjadi, atau malam ke berapa dari bulan Ramadhan akan terjadi. Hal itu - menurut para ulama - agar umat ber-taharri (berjaga-jaga) untuk meraihnya dengan segala upaya yang dapat dilakukannya.

Akan tetapi kini Lailatul Qodar  nyaris sudah bukan rahasia lagi? Mengapa? Karena Rasulullah saw dan para ulama Islam nyaris membuka tabir Lailatul Qodar secara terbuka kepada umatnya. Tanda-tanda pembukaan tabir itu dapat diamati dari perilaku dan kebiasaan amalan Rasulullah saw, para sahabat serta ulama yang dikenal alim, zuhud dan taqarrub (kedekatan)nya dengan Allah sangat kuat. Bahkan di antara mereka secara terbuka membuka kapan Lailatul Qodar itu akan tiba berdasarkan pengalaman dirinya dan sahabatnya yang mengalami kedapatan Lailatul Qodar.

Diantara tabir-tabir yang sudah dan mulai diungkap oleh Rasulullah saw, para sahabat dan para ulama adalah sebagai berikut:

Pertama, Rasulullah saw selalu melakukan i'tikaf di 10 terakhir bulan Ramadhan dan nyaris tidak meninggalkannya pada setiap tahunnya, sejak beliau tinggal di Madinah hingga menjelang wafatnya. Fenomena ini menjadi sebuah indikasi, bahwa Lailatul Qodar sering terjadi di antara malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده

Artinya, “Dari Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah wafatnya beliau.” (HR: Bukhori Muslim)

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.” (HR Muslim)

Kedua, Dari 10 malam terakhir Ramadhan, terkuak indikasi, bahwa Lailatul Qodar akan terjadi di malam-malam ganjil 10 malam terakhir Ramadhan itu. Bebarapa kisah di bawah ini membuktikan sebagian kenyataan tersebut:

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk iktikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah. Ketika Rasulullah berdiri sholat, para sahabat juga menunaikan sholat. Ketika beliau menegadahkan tangannya untuk berdoa, para sahabat pun serempak mengamininya. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari bulan Ramadhan.

Di saat Rasulullah SAW dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan sholatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah SAW dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak. Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk ke dalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Rasulullah SAW baru mengangkat kepala dan mengakhiri sholatnya ketika hujan berhenti. Anas bin Malik, sahabat Rasulullah SAW bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW. Namun beliau pun mencegahnya dan berkata: "Wahai Anas, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya."

Dalam riwayat lain diceritakan, Rasulullah SAW bertemu Lailatul Qadar pada malam ke-21 sebagaimana diterangkan dalam Kitab Al-Muwaththa' Hadis No 701 oleh Imam Malik. Dari Abu Said Al-Khudri sesungguhnya dia berkata: "Rasulullah SAW beriktikaf pada puluhan yang kedua dari bulan Ramadhan. Pada suatu tahun setelah beliau sampai pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari iktikaf pada pagi harinya, beliau berkata: "Barangsiapa turut beriktikaf bersamaku, hendaklah beriktikaf pada sepuluh hari yang terakhir. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku Malam Al-Qadar. Kemudian aku dijadikan lupa. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah. Karena itu carilah dia di sepuluh akhir, carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil. Berkata Abu Sa'id: "Maka turunlah hujan pada malam itu, sedangkan masjid diatapi dengan daun kurma dan meneteslah air ke lantai. Kedua mataku melihat Rasulullah SAW kembali dari masjid, sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah, yaitu pada malam 21." Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ini menunjukkan betapa banyak rahasia dan hikmah di balik malam seribu bulan. Ini pun menunjukkan bahwa Lailatul Qadar kerap terjadi malam-malam ganjil di 10 terakhir Ramadhan.

Ketiga, Bahkan Rasulullah saw lebih mengerucutkan lagi dalam menjelaskan kemungkinan kuat datangnya Lailatul Qodar, yaitu di malam-malam ganjil pada 7 hari terakhir  bulan Ramadhan. Berarti malam  25, 27 dan 29. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya, maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir. ” (muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Keempat, Bahkan Imam Ghazali menyampaikan satu kaidah (rumus) tentang datangnya Lailatul Qodar. Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadhan:

 قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر  فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة 1.

Rumus itu adalah (artinya;)

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21

Jika awal Ramadhan  jatuh pada hari Selasa atau Jum'at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23

Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata: “Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah tersebut."

Jadi, jika mengacu kepada kaidah (rumus) yang disampaikan al, Ghazali tersebut, maka karena awal Ramadhan tahun ini jatuh pada hari selasa, maka Lailatul Qodar pada Ramadhan tahun ini (1445 H/ 2024 M) akan terjadi pada malam ke 27 Ramadhan. Wallahu a'lam.

Kelima, Kemungkinan malam lailatul qodar jatuh pada malam ke 27 dikuatkan pula dengan dalil dan riwayat serta analisa para ulama berikut ini :

Hadist Nabi saw : "(Dia/lailatul qodar adalah) malam ke-27. ” (HR. Abu Dawud, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliyallahu ‘anhuma)

1. Ibnu Katsir ulama ahli tafsir mencoba menguak rahasia surat al-Qodar terkait dengan waktu datangnya malam Lailatul Qodar. Beliau mengungkap penemuannya, bahwa lafazh (ليلة القدر) dalam surat al-Qodar disebut 3 (tiga) kali dalam al-Quran dalam surat tersebut. Dan lafazh tersebut berjumlah 9 huruf. Sehingga jika dikalikan jumlah huruf pada lafazh (ليلة القدر) yang berjumlah 9 huruf itu dengan angka 3 kali penyebutannya, maka keluar hasil angka 9 x 3 = 27. Maka malam Lailatul Qadar akan terjadi di malam ke 27 Ramadhan

Hadist dari Sahabat Ubay bin Ka’b radliyallahu ‘anhu menegaskan

والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

"Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27." (HR. Muslim)

2. Para ulama Hanabilah juga banyak mengikuti riwayat yang menjelaskan bahwa malam lailatul Qadar terjadi pada malam ke 27 Ramadhan. Sehingga tidak heran, jika di malam itu terjadi puncak kepadatan jamaah shalat taraweh dan qiyamullail di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta masjid lainnya di Arab Saudi.

Akan tetapi, meskipun kita dianjurkan ber-taharri (berjaga mendapatkan) Lailatul Qodar dengan dimensi waktu yang telah dijelaskan di atas. Akan tetapi Lailatul Qodar tidak akan turun saat sikap-sikap dan perilaku kita bertentangan dengan apa yang dianjurkan Rasulullah saw.

3. Rasulullah saw pernah sempat diberitahu Jibril as bahwa suatu malam nanti akan ada Lailatul Qadar, akan tetapi Jibril as meralatnya, bahwa Lailatul Qadar tidak jadi turun, karena sikap beberapa kaum muslimin yang tidak mencerminkan sikapnya sebagai muslim yang baik.

4. Diceritakan dalam buku Ringkasan Shahih Bukhari oleh Muhammad Nasir al-Din Albani, pada mulanya, Rasulullah SAW hendak memberitahukan umatnya tentang waktu pasti satu malam terjadinya lailatul qadar. Tapi, hal tersebut tertunda setelah Rasulullah melihat dua umatnya tengah berselisih.

5. Diceritakan Ubadah ibnush-Shamit bahwa ia berkata,

 خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ ليُخْبِرَ بِليلةِ القَدْرِ، فَتَلَاحَى رَجُلاَنِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، فَقَالَ النبيُّ ﷺ: إِنِّيْ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فتلاحَى فُلَانٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ، فَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوْهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

Artinya: Nabi keluar untuk memberitahukan kepada kami mengenai waktu tibanya Lailatul Qadar. Kemudian ada dua orang lelaki dari kaum muslimin yang berdebat. Beliau bersabda, "(Sesungguhnya aku) keluar untuk memberitahu kan kepadamu tentang waktu datangnya Lailatul Qadar, tiba-tiba si Fulan dan si Fulan berbantah-bantahan. Lalu, diangkatlah pengetahuan tentang waktu Lailatul Qadar itu, namun hal itu lebih baik untukmu. Maka dari itu, carilah dia (Lailatul Qadar) pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima (pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan)," (HR Bukhari).

Maka, menjaga sikap yang baik di antara kaum muslimin tidak kalah pentinganya dengan memburu tanggal-tanggal tertentu untuk mendapat Lailatul Qadar.

Semoga kita mendapat ketepatan dengan Lailatul Qodar di bulan Ramadhan tahun ini.



Muhammad Jamhuri, 24 Ramadhan 1445 H/ 4 April 2024 M

Minggu, 02 April 2023

I'tikaf Sebagai "Charge Battery" Spritual Kita

Salah satu amalan yang nyaris tidak pernah diabaikan Nabi Muhammad saw di bulan Ramadhan adalah beliau selalu melakukan ritual i'tikaf di sepuluh terakhir ('asyrul awakahir) dari bulan Ramadahan. Sesibuk apapun beliau, beliau selalu menyiapkan sepuluh hari itu untuk ibadah tersebut. Meskipun beliau sibuk sebagai pendakwah, sebagai kepala negara, sebagai kepala rumah tangga dengan istri lebih dari satu orang, sebagai pembisnis, sebagai panglima perang, sebagai "pengurus" keluarga besar Bani Hasyim, dan sebagai seabrek-abrek urusan lain, tapi sekali lagi, beliau tidak pernah meninggalkan amalan i'tikaf sejak beliau berada di Madinah. Bahkan jika di suatu tahun beliau tidak beritikaf karena perjalanan atau perang, beliau berí'tikaf selama 20 hari di tahun berikutnya.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَسَافَرَ سَنَةً فَلَمْ يَعْتَكِفْ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْماً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Kemudian beliau pernah bersafar selama setahun dan tidak beri’tikaf, akhirnya beliau pun beri’tikaf pada tahun berikutnya selama dua puluh hari.” (HR: Ahmad)

Beliau tinggalkan "kasur" kamarnya lalu tidur dan tinggal di Masjid saja. Bahkan untuk disisirkan Aisyah saja tubuh beliau tetap di area masjid, dan hanya sebagain kepala bagian rambutnya yang disisirnya saja yang berada di area rumah beliau untuk disisirkan Aisyah. Dengan demikian selama 10 hari itu beliau meninggalkan berkumpul dengan isteri (Syadda mi'zarohu/menguatkan ikat kainnya).

Lalu kita, -meminjam ungkapan ustadaz Adi Hidayat- Kita nabi bukan, pemimpin negara juga bukan, sebagai pendakwah pun tidak full time, sebagai pemimpin keluarga pun tidak serepot beliau, pembisnis pun bukan. Kemudian kita merasa repot dan tidak sempat menyiapkan waktu untuk beri'tikaf dan berkomtempelasi selama 10 hari di Masjid, sementara kita ingin masuk surga bersama Rasulullah saw?

Saudaraku, i'tikaf bukan sekedar sunnah biasa. Akan tetapi ia merupakan sarana untuk men-charge battery ruhiyah (spritual) kita yang sudah lowbatt karena dipakai selama 11 bulan lalu atau bertahun-tahun lalu dengan ghoflah (kelalaian), ringkihnya amal, bahkan lowbatt rohani karena tergerus dengan maksiat dan perbuatan sia-sia. Bagaikan handphone yang dinyalakan terus menerus tanpa keperluan yang berguna.

Spritual atau ruhiyah adalah modal diri kita untuk selalu on di sebelas bulan ke depan dalam setahun kehidupan kita. Jika ruhiyah kita ringkih, kurang charge, dan lowbatt, maka bisa dipastikan fungsi produktifitas hidup kita tidak akan optimal.

Oleh karena itu Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan moment-moment mencharge battery iman dan spritual di Ramadhan ini dengan berbagai amalan. Salah satunya adalah i'tikaf. Karena sebagai Rasul, pemimpin negara, panglima perang dan tokoh yang memberi solusi pada umatnya perlu modal ruhiyah/spritual yang prima. Bukan hanya i'tikaf saja, bahkan Rasulullah melazimkan  qiyamullail  demi kesiapan menerima "qoulan tsaqilan" (tugas yang sangat berat). 

يَاأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ . قُمْ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا . نِصْفَهُ أَوْ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا . أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلْ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا . إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا 

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. (QS. Al-Muzzammil: 1-5)

Oleh karena itu ada ungkapan dari seorang ahli dakwah "Al-Ibadah Tsumma al-Qiyadah" (Bereskan dulu ibadah baru bisa memimpin)

Kalau kita bermuhasabah (instrospeksi diri). Sudah berapakah usia kita saat ini?. 30, 40, 50 tahun?Namun, pernahkah kita dalam setiap tahunnya menyisihkan waktu selama 10 hari saja untuk totalitas hidup bersama Allah di rumah-Nya (masjid) dan meninggalkan kenikmatan empuknya kasur di rumah kita?, sejuknya AC di kamar kita?, serta tidur bersama pasangan kita? Alangkah egoisnya kita. Padahal Allah sudah berlipat-lipat kali memberi kita nikmat yang terhingga. Hingga Allah pun menantang kita untuk menghitung 1 (satu) nikmat Allah pun kita tidak sanggup menghitungnya. Allah swt berfirman:

 وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya."(QS. Ibrahim: 34).

Dalam ayat ini Allah menyebut "nikmat" tidak dengan bentuk plural (jamak). Akan tetapi menggunakan lafadz singular (mufrod). Jadi untuk menghitung satu nikmat pun kita tidak akan sanggup menghitungnya. Lalu jika Allah sudah begitu banyak menganugerahkan nikmat kepada kita, mengapa kita tidak bersedia menyiapkan waktu untuk Allah? paling tidak di 10 hari terakhir bulan Ramadhan?.

Mudah-mudahan, Ramadhan tahun ini, kita diberikan kesehatan dan kelapangan waktu untuk melakukan sunnah tahunan Rasulullah saw ini, yaitu beri'tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Dan semoga kita dapat menggapai malam kemuliaan (Lailatul Qodar) Satu malam yang lebih baik dari ibadah 1000 bulan. Aamiin.

Muhammad Jamhuri, 11 Ramadhan 1444 H/2 April 2023


Rabu, 12 Mei 2021

HIKMAH HARI KE 30: RAMADHAN 'KAN TINGGALKAN KITA..


RAMADHAN DAN KITA..

Jangan sesalkan perpisahan.
Tapi sesalkan pertemuan yang disia-siakan..

Ramadhan akan kembali.
Tapi diri belum tentu ada lagi.

Mudik adalah fitrah dan fitri
Karena fitrah selalu ingin kembali...

Kembali ke asal muasal lagi.
Melihat kampung asal dan orang tua lagi.

Mudik tahun ini belum pasti..
Tapi mudik kepada Ilahi sudah pasti.

Idul fitri adalah jiwa suci yg kembali.
Kembali suci sampai menghadap ilahi...

Ya Rabbi... ya Ilahi...
Pertemukan kami dengan Ramadahan-Mu kembali..


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

تقبل الله منا ومنكم صالح الاعمال
كل عام وأنتم بخير
جعلنا الله واياكم من العائدين والفائزين
موهون معاف ظاهر دان باطن

اخوكم الفقير الى ربه الكبير
محمد جمهوري

Selasa, 11 Mei 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE 29: FITRAH MUDIK

Dalam bahasa Sunda, kata “udik” berarti kampung. Mungkin dari kata inilah lahir kata “mudik” yang berarti pulang kampung. Isu mudik belakangan ini menjadi kontraversi di masyarakat. Hal itu karena berkaitan dengan peraturan pembatasan pergerakan masayarakat di masa pandemi Corona yang telah berlangsung dua tahun belakangan ini. Tahun-tahun sebelumnya, kegiatan mudik berjalan normal.

Meski normal, sering saja terjadi kecelakaan di tengah kegiatan mudik ini. Tidak sedikit banyak jatuh korban karena mudik. Namun demikian, hal itu tidak menyurutkan keinginan masyarakat untuk tetap mudik. Apapun resikonya. Termasuk tahun ini, meski dari pemerintah daerah hingga pusat telah melarang kegiatan mudik di masa liburan lebaran ini, animo masyarakat untuk mudik tetap tinggi. Ada masayarakat yang diberhentikan karena dihadang oleh petugas, tapi tetap rela berjalan kaki sejauh 15 km untuk menuju kampung yang ditujunya. Padahal mereka adalah kaum ibu dan anak-anak. Ada juga yang pergi berkelompok dan konvoi hingga tak bisa dibendung oleh para petugas, seperti yang terjadi di perbatasan Bekasi dan Karawang baru-baru ini. Rombongan kendaran motor bersorak sorai saat petugas tidak mampu membendung arus konvoi para pemudik. Singkatnya, keinginan mudik tetap ada meski harus menerobos tapal batas petugas.

Oleh sebab itu, mudik adalah fitrah setiap manusia. Apalagi sebelumnya jiwa mereka telah dibersihkan dengan puasa, maka fitrah itu semakin tumbuh di dalam jiwa manusia. Sehingga mudik adalah efek dari sprtualitas yang tumbuh dalam jiwa setelah puasa.

Salah satu bentuk fitrah adalah ingin kembali ke asal. Para perantau di kota-kota besar adalah berasal dari kampung mereka masing-masing. Mereka ingin kembali ke asal-muasal. Asal mereka dilahirkan, dan asal manusia yang telah melahirkan, yaitu orang tua. Ada ketengan batin yang dirasa saat jiwa manusia berada di samping asal manusia yang melahirkan.

Orang tua adalah tempat kita dilahirkan. Allah yang telah menciptakan kita telah “mewakilkan” orang tua sebagai wadah proses keberadaan kita. Oleh sebab itu Allah telah menempatkan kedudukan orang tua sebagai urutan kedua untuk diberikan bakti dan pengabdiannya. Akkag swt berfirman: ”Allah telah menetapkan agar kamu tidak menyembah selain kepada Allah dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orangtua”. (QS. Al-Isra: 26)

Selain mudik untuk kembali ke asal muasal, ada lagi kegiatan “mudik akbar” yang semua muslim merindukan terwujudnya keinginan itu. Yaitu ibadah haji. Jika mudik ke kampung asal adalah ingin bertemu dengan “wakil” Tuhan, maka berangkat untuk berhaji adalah keinginan kembali dan bertemu dengan sang Penciptanya, yaitu Allah swt. Oleh sebab itu, apapun berita tentang banyaknya jatuh korban dalam pelaksanaan ibadah haji, keinginan umat Islam untuk hadir di rumah Allah tetap tinggi dan besar. Hingga melebihi koata yang telah ditentukan.

Selain dua mudik di atas, ada mudik lain yang lebih dahsyat. Dia adalah kematian. Ini lah mudik yang pasti akan kita lewati. Suka atau tidak suka, di lockdown atau di open. Kita akan kembali menemui Sang Pencipta.

Apapun lika-liku mudiknya, kita berharap semoga kita berbahagia saat "mudik" menemui Sang Pencipta. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang berpuasa itu diberi dua kebahagiaan. Bahagia saat berbuka (berhari raya), dan bahagia saat bertemu Tuhannya” (HR: Muslim).

Wallahu a’lam.

Muhammad Jamhuri, 29 Ramadhan 1422 H

Senin, 10 Mei 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE 28: ANTARA LEBARAN DAN IDUL FITRI*

Waktu kita masih kanak-kanak dan mulai belajar berpuasa, sering terdengar kalimat dari orang tua atau dewasa, “orang yang tidak berpuasa tidak boleh ikut lebaran.”. Tapi kenyataannya saat hari lebaran tiba, kita tetap dibelikan dan dipakaikan baju baru, dipresen dan bersenang-senang berasama anak-anak lain bermain kembang api atau petasan. Ternyata lebaran bisa diikuti oleh siapapun, termasuk orang yang tidak berpuasa Ramadhan.

Dari mana asal-usulnya kata “lebaran” menjadi padanan atau murodif dari kata idul fitri? Wallahu a’lam. Mungkin kata “lebaran” berasal dari kata “liburan”. Karena saat berlebaran, kita semua berlibur, jalan-jalan, bertamasya atau siluturrahim. Negara juga meliburkan kegiatan kantornya di hari itu dengan memerahkan tanggal kelender,

Boleh jadi juga kata “lebaran” berasal dari kata “lebar” yang berarti luas. Karena setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang penuh dengan perjuangan menahan lapar dan dahaga, kini menjadi terasa plong, lega atau lebar. Sehingga dada dan hati terasa lebara-an (luas-an).

Oleh sebab itu, tidak benar perkataan, “Orang yang tidak puasa tidak boleh ikut lebaran”. Karena kenyataannya anak-anak yang tak berpuasa tetap boleh ikut lebaran. Bahkan orang dewasa yang tidak berpuasa ikut merayakan hari lebaran. Bahkan di zaman Corona seperti sekarang ini pun, orang kafir ikut merayakan hari lebaran. Buktinya, orang-orang non muslim asal Cina bebas terbang ke Imdonesia, sementara orang muslim pribumi dilarang mudik.

Karena itu yang dapat merasakan spirit idul fitri hanyalah orang-orang yang berpuasa dan beribadah dengan baik selama Ramadhan. Karena kata “Idul Fitri” mengandung arti “Perayaan Berbuka”. Itu sebabnya di hari itu diharamkan berpuasa. Dan yang dapat merasakan Perayaan Berbuka hanyalah orang-orang yang berpuasa.

Ada pula yang mengartikan Idul fitri dengan makna “kembali kepada kesucian”. Jika pun makna ini benar. Maka tetap saja yang dapat merasakan ‘kembali kepada fitrah’ (kesuciaan) adalah orang-orang yang berpuasa dan beribadah optimal selama Ramadhan. Oleh sebab itu Allah swt telah menjelaskan urutan tipe orang yang sukses (falah) dengan firmannNya; Qod Alflaha Man Tazakka wa Dzakaro ismahu fa Sholla”. Orang sukses pasca Ramadhan itu adalah 1) orang yang tazakka (mensucikan diri dengan puasa, dan mensucikan harta dengan zakat), 2. Orang yang dzkaro ismahu (menyebut nama Allah dengan bertakbir di malam idul fitri), dan 3. Orang yang fa sholla (melaksanakan sholat Id).

Jadi dengan kata lain. Lebaran bisa dirasakan oleh semua orang. Namun Idul Fitri hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang berpuasa dengan iman dan ikhlas. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa berpuasa karena dorongan iman dan ikhlas, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR: Bukhori). Alias kembali kepada fitri (kesucian).

 Jamhuri, 28 Ramadhan 1422 H

Sabtu, 08 Mei 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE 27: QOBLIYAH DAN BAKDIYAH RAMADHAN SERTA SHOLAT ARBAIN

Biasanya kita mengenal kata qobliyah dan bakdiyah hanya dalam sholat saja. Ternyata istilah itu secara amaliyah (praktek) terdapat juga pada ibadah puasa Ramadhan. Bahkan ibadah haji.

Dalam ibadah sholat, kita mengenal sholat sunnah qobliyah yang dilakukan sebelum sholat wajib yang bertujuan sebagai mukoddimah atau pengantar meraih kekhusyu’an saat melaksanakan sholat wajib –sebagaimana penjelalasan ulama.  Maka qobliyah Ramadhan juga bertujuan yang sama. Agar puasa dan ibadah selama Ramadahan menjadi optimal dan berkualiatas serta ringan dilakukan. Lalu apakah yang dimaksud dengan Qobliyah Ramadhan? Dialah puasa sunnah Rajab dan Sya’ban. Karena setiap kali nabi saw memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, beliau berdo’a “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan”. Isi doa Nabi saw ini menyimpan pesan bahwa Rajab, Sya’ban dan Ramadhan bagailan satu paket amalan. Hanya saja puasa Rajab dan Sya’ban sifatnya sunnah. Sama dengan qobliyah zhuhur atau ashar yang sifatnya sunnah. Banyak riwayat yang menyebut Nabi saw melaksanakan puasa sunnah Sya’ban. Bahkan satu riwayat menyebut nabi saw tidak melaksanakan puasa sunnah sebanyak puasa di bulan Sya’ban. “Adalah Nabi saw berpuasa Sya’ban sepenuhnya kecuali meninggalkan beberapa hari saja”. Demikian pula Nabi saw memperbanyak sholat malam di bulan Sya’ban. Nabi saw menyebut keutamaan nisfu Sya’ban. Amalan-amalan nabi saw tersebut memberi kesan beliau menyiapkan Ramadahan dengan ibadah qoliyah sebelum melaksanakan ibadah puasa fardhu di bulan Ramadahan dan amalan lainnya. Ibarat akan bertarung, beliau melakukan warming up atau pemanasan sebelum tiba bulan Ramadham. Sehingga ibadah puasa dan qiyam Ramadahan menjadi ringan karena telah melakukan latihan di bulan Sya’ban.

Lalu apa yaang dimaksud Bakdiyah Ramadhan?. Dialah puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapat pahala seperti berpuasa setahun lamanya.”

Jika shalat qobliyah berfunsgi sebagai pengantar dan pembuka agar diri menjadi lebih khusyu’ saat melasanakan shalat fardhu, maka shalat bakdiyah berfungsi menambal kekurangan dan bolong selama pelaksanaan sholat fardhu. Demikian juga dengan puasa sunnah Syawal, ia berfungsi menambal kekurangan puasa yang kita lakukan selama bulan Ramadahan. Oleh sebab itu kita sangat dianjurkan untuk melakukan “Bakdiyah Ramadhan” ini, kerena boleh jadi selama Ramadhan, puasa dan ibadah kita masih tidak optimal dan khusyuk. Selain keutamaan puasa Syawal juga mendapat pahala seperti berpuasa selama setahun.

Ada beberapa orang yang melakukan “qobliyah dan bakdiyah Ramadahan” dengan cara lain, yaitu dengan melaksanakan apa yang disebutnya “arbain”. Istilah ini diambilnya dari “arbain” saat pergi umroh dan berkunjung ke Madinah. Yaitu berusaha melaksanakan shalat fardhu berjamaah sebanyak 40 waktu tanpa “batal” (baca: luput) satu waktu shalat pun. Meskipun hadistnya dhoif, tapi shalat lima waktu berturut-berturut selama berada di Madinah delapan hari sehingga berjumlah 40 waktu shalat fardhu adalah baik. Terutama bagi mereka yang belajar menghidupakan sunnah berjamaah lima waktu sepanjang hidupnya.

Oleh sebab itu, saat saya membimbing jamaah umroh atau haji, saya sering mengajak jamaah umroh atau haji, untuk tidak membatasi sholat fardhu berjamaah hanya 40 waktu dan di Madinah saja. Saat di Makkahpun tetap lakukan arbain. Gak ada haditsnya? Lakukan saja, karena hadist umum tentang keutamaan shalat berjamaah bisa dijadikan dalil targhib (spirit) dalam menjalankan ibadah sunnah. Bahkan bila perlu lakukan arbain berkali-kali di Tanah Air.

Nah, untuk Arbain qobliyah Ramadahan dan bakdiyahnya, bisa dilakukan sebelum atau pasca Ramadhan. Kita tahu, bahwa di Ramadhan ini susana shalat berjamaah itu sangat kondusif. Hampir di tiap rest area, masjid, pom bensin banyak orang menunggu waktu shalat. Oleh karena itu sangat memungkinkan kita menjaga sholat berjamaah. Jika saja selama Ramadhan kita dapat istiqomah menjalanan sholat berjamaah fardhu tanpa henti, maka kita telah mendapatkan 30 hari shalat berjamaah fardhu tanpa henti selama Ramadhan. Nah, sisanya dapat dilanjutkan di 10 hari di Syawal, atau 10 hari di Sya’ban. Atau 5 hari di Sya’ban, 30 Hari di Ramadahan dan 5 hari di Syawal. Dengan begitu, kita sempat melaksanakan shalat berjamaah selama 40 hari tanpa batal (baca: henti). Biarlah kita belajar dari 40 (arbain) dulu, insya Allah ke depan amal kita semakin membaik hingga bisa shalat berjamaah hingga 40 tahun tanpa “batal” seperti yang pernah dilakukan para sahabat.

Jadi, mari mulai latih shalat berjamaah dari 40 waktu berturut-turut (arbaina waqtan), lalu meningkat 40 hari (arbaina yauman), kemudian 40 pekan (arbaina usbu’an), lanjut 40 bulan (arbaina syahron), dan jika Allah memanjangkan usia kita melanjut ke 40 tahun (arbaina sanatan) mendawamkan shalat berjamaah. Sehingga kita menjadi sebaik hamba Allah yang usianya bertambah bersama dengan amalnya pun yang semakin bertambah kualitasnya. Aamiin.

Muhammad Jamhuri, 27 Ramadhan 1422 H

HIKMAH RAMADAHAN HARI KE-26: Ucapan “Minal Aidin wal Faizin - Mohon Maaf Lahir Batin” Bukan Bid’ah

“Ustadz, saya baca broadcast di WA, katanya mengucapkan kata “Minal Aidin wal Faizin-Mohon Maaf Lahir Batin” di hari raya itu adalah perbuatan bid’ah. Apa betul, ustadz?” Tanya jamaah peserta i’tikaf.

“Kalau perbuatan itu dianggap bid’ah saja, maka jawabannya ‘iya’. Sama dengan protes sahabat-sahabat kepada Umar bin Khattab saat beliau mengumpulkan taraweh dengan berjamaah yang belum pernah dilakukan Nabi saw dan Abu Bakar sebelumnya, “Bukankah ini perbuatan bid;ah?”. Umar menjawab, “Ini bid’ah yang baik”. Bahasa arabnya “Ni’matul bid’ah hadzihi”. Malah kalau diartikan letterlooknya “Sebaik-baik bid’ah, ya inilah”. Jadi ada bid’ah yang bukan sekedar baik tuh, tapi sebaik-sebaik, lebih baik dari yang baik. Ya kan?. Apa itu? Ya..dalam contoh ini shalat taraweh berjamaah yang “dibuat-buat” Umar bin Khattab.” Jawab ustadz santai..

“Tapi kan ustadz, bukankah Rasulullah saw telah mengajarkan ucapan yang sesuai dengan sunnah, yaitu “Taqabbalallahu Minna wa Minkum?” Sanggah jamaah.

“Nah, itu yang terbaik. Apa saja yang datang dari Nabi saw itu yang terbaik. Amalkan dengan rasa semangat dan kecintaan...” Jawab ustadz menyarankan.

“Kalau begitu, ustadz setuju yang mana, ucapan “taqabbalallahu Minna wa Minkum?” atau “Minal Aidin wal Faizin-Mohon Maaf Lahir Batin”? Tanya jamaah minta kepastian.

“Saya gak setuju dengan yang pertama” Jawab ustadz santai..

“Lho?, kan yang pertama itu ucapan dari Nabi, ustadz? Kok ustadz malah gak setuju?” protes jamaah.

“Bukan, Saya gak setuju yang pertama itu, maksudnya, isi statemen dalam pertanyaan Bapak, bahwa mengucapkan kata “Minal Aidin wal Faizin-Mohon Maaf Lahir Batin” itu adalah perbuatan bid’ah. Jika bid’ah itu diartikan sebagai bid’ah yang sesat. Saya gak setuju” . Jawab ustadz.

“Maksud ustadz,?” Tanya jamaah penasaran

“Begini, Ucapan “Minal Aidin wal Faizin-Mohon Maaf Lahir Batin” itu adalah kearifan lokal, bukan mau merubah apalagi menyaingi apa yang disunnahkan Nabi saw. Ucapan ini sudah enak terdengar di telinga orang Indonesia dan mereka memahami maksudnya, ehm..walaupun belum semua masyarakat tahu makna bagian pertama ucapan itu, yakni “minal aidin wal faizin”. Jadi, kearifan lokal jangan dibenturkan dengan sunnah dan bid’ah. Sebagai contoh, khutbah idul fitri atau khutbah idul adha, hampir semua khatib di Tanah Air, selain bacaan rukun khutbah, mereka menggunakan bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah untuk menyampaikan pesan-pesan khutbahnya kepada masyarakat. Lalu apakah khutbah dengan bahasa Indonesia atau daerah itu kita sebut bid’ah?. Nggak Kan?, baik Rasulullah saw maupun sahabat dan Tabi’in belum pernah mencontohkan khutbah pakai bahasa selain bahasa Arab kan? . Khutbah kan juga ibadah lho..? Lalu kenapa para ulama membolehkan khutbah dengan bahasa lokal? Karena agar pesan-pesan kebaikan itu sampai kepada jamaah dan masyarakat. Itulah yang saya katakan “kearifan lokal”.

Nah, pada saat kita mengucapkan “Mohon Maaf Lahir Batin” maka pesan ucapan kita sampai kepada orang yang kita ajak bicara. Itu kira-kira” Jelas ustadz

“Tapi kan, kata “Minal Aidin Wal Faizin” juga bahasa Arab, ustadz? Tidak semua masyarakat Indonesia mengerti artinya? Bahkan ada yang salah kaprah, makna “minal aidin wal faizin” diartikan “Mohon Maaf lahir batin” padahal kan artinya “Semoga menjadi orang yang kembali dan beruntung”? Bukankah ini perlu diluruskan, ustadz?” . Sanggah Jamaah

“Nah...itu, bapak ngerti bahasa Arab...hehehe..jangan-jangan bapak juga seorang ustadz nih..? atau setidaknya pernah nyentren di pesantren nih....iya kan?” Tanya ustadz bercanda.

“Ah pak ustadz......Memang sih pak ustadz, saya pernah ikut pesantren.” Jawab Jamaah

“di Pesantren mana..?”. Tanya ustadz

”di Pesantren KILAT..!” Jawab Jamaah santai

“Astagfirullah...untung gak kesamber geledek saya.  Kirain pesantren beneran gitu.”. Sahut ustadz

“Jadi, gimana dong ustadz, jawaban pertanyaan saya tadi..?” Jamaah mengalihkan pembicaraan

“Itulah hebatnya orang Indonesia. Saking semangatnya mau menyebarkan dan mensyiarkan bahasa Arab, banyak “moment” yang tidak ada di Arab dan menjadi ciri khas Indoensia lalu di arab-arabkan, dan itu positif untuk pengembangan bahasa Arab. Setidaknya secara vocabulary. Contoh: kata”Halal bi Halal”. Kata ini cuma ada di Indonesia, pahadal itu bahasa Arab. Dan di Arab sendiri gak ada istilah “Halal bi Halal”. Tapi baik kan isi acaranya? Saling silaturrahmi dan saling memaafkan?. Terus contoh lain. Di Toilet-toilet masjid bahkan di Pom Bensi (SPBU), ada toilet khusus pria dan toilet khusus wanita, namun tulisannya “IKHWAN” untuk toilet pria dan “AKHWAT” untuk toilet wanita. Nah, ini kan hal positif? Masyarakat jadi ngerti dan kenal bahasa Arab?. Begitu juga dengan kata “Minal Aidin wal Faizin” yang berarti “Semoga kembali (kepada fitroh) dan menjadi orang yang beruntung”. Kata ini gak pernah ada dan gak dipergunakan oleh orang-orang Arab, -kebetulan saya pernah tinggal 6 tahun lho di Arab - tapi kata itu dipakai oleh orang Indonesia yang semangat “meng-arabkan” Imdonesia. Jadi, ini adalah kearifan lokal yang disemangati oleh bahasa al-Quran. Karena itu, ini bukan bid’ah yang disesatkan itu.” Jelas ustadz panjang lebar.

“Tapi, kok masyarakat sering memahami kata “Minal Aidin wal Faizin” dengan makna “Mohon maaf lahir batin, Ustadz?” Sanggah jamaah.

“Gini, kesalahan anggapan makna itu ada. Cuma saya melihatnya begini... Suatu kata bisa dikatakan indah kalau akhiran-nya antara kata-kata atau kalimat itu sama. Sehingga kata dan kalimat itu bisa bernilai puitis, indah dan enak di dengar. Nah. Pada kalimat “Minal Aidin wal Faizin” itu kan berakhir dengan huruf “I” dan “N” sehingga berbunyi “IN”. Kemudian kata “Mohon maaf lahir batin” pun diakhir dengan “I” dan “N” yang juga berbunyi “IN”. Karena kedua kata berakhiran sama, maka enak didengar. Kalau kalimat “Minal Aidin wal Faizin” kita terjemahkan apa adanya, sepertinya agak sulit membuat kata puitis yang enak didengar.

Belum lagi maksud si pengucap ucapan idul fitri ingin mengumpulkan dua hubungan dalam pergaulan, yakni hubungan dengan Allah berupa doa “Minal Aidin wal Faizin”, juga hubungan sesama manusia berupa permohon maaf “Mohon maaf lahir dan batin”.

Jadi, menurut saya...ini adalah kekayaan dan kearifan lokal yang disemangati oleh ghiroh agamis. Bayangkan kalau disemangati oleh sekuler, komunis...apa jadinya?. Jadi, yang namanya budaya, baik-buruknya, dilatar belakangi oleh ‘civilazation and culture”. Dan alhamdulillah kultur masyarakat kita banyak dilatar belakangi oleh ajaran agama Islam.” Jelas ustadz panjang lebar.

“Oh ya.. satu hal lagi kearifan lokal kita.... Yaitu budaya memasak ketupat di setiap Idul Fitri. Bahkan, Kepolisiam saja menamai “Operasi Lebarannya” dengan istilah “Operasi Ketupat”. Dikarenakan lebaran atau idul fitri identik dengan suguhan masakan ketupat. Ini juga kan..kearifan lokal? Coba deh.. di Arab sana, ada gak ketupat sebagai makanan khas idul fitri mereka? Ada gak ketupat di zaman Nabi dan para sahabat? Gak kan? Lalu apa kita bilang ketupat di idul fitri itu bidah  yang sesat?...gak kan? Nah, itulah kearifan lokal.” Tambah ustadz

“Dengan penjelasan tentang kelebihan ucapan “minal aidin wal faizin-mohon maaf lahir batin” tadi, berarti pak ustadz setuju kalau ucapan itu lebih baik dari ucapan “Taqabbalallahu Minna wa minkum?” Tanya ustadz penasaran.

“Kan sudah saya sampaikan di awal, bahwa , itu yang terbaik. Apa saja yang datang dari Nabi saw itu yang terbaik. Amalkan dengan rasa semangat dan kecintaan...Jikapun saya jelaskan panjang lebar tentang ucapan “Minal Aidin wal-faizin-mohon maaf lahir batin” untuk menjelaskan bahwa ini adalah kearifan dan khazanah lokal yang tidak perlu dibenturkan dengan sunnah-bid’ah. Jadi tetap.. apa yang datang dari Nabi, ambillah! (wa maaa ataakumu al-rasul fa khuzhuuhu, apa yang didatangkan Rasul padamu ambillah !).. tetapi yang tidak dilarang nabi saw serta baik jangan dicegah dan dilarang... karena ayatnya hanya yang dilarang Nabi yang harus dicegah (wa maa nahaakum ‘anhu fantahuuu..), adapaun kearifan yang tidak ada nash yang melarangnya, lalu ia baik dan tidak melanggar agama...tidak usah disebut sesat...Gitu luh...

Selain itu dalam ucapan “Taqabbalallhu Minna wa minkum” juga mengandung dua hubungan vertikal dan horizantal..karena kita pun mendoakan saudara kita.

Usul saya, saat bersalaman di idul fitri nanti, ucapkan tahniah yang diajarkan Nabi, kemudian karena tidak semua orang paham maknanya, silakan tambahin dengan tahniah kearifan lokal. Dan jika Bapak merasa terlalu panjang, ya ucapkan saja tahniah yang diajarkan Nabi. Namun kalau ada yang mengucapkan tahniah lokal, jangan dituduh ahli bid’ah.....gitu aja repott”  Jelas ustadz.

“Alhamdulillah... jadi jelas ustadz, malam ini saya dapat pencerahan..” Ujar jamaah

 

“Itulah manfaat dari kita beri’tikaf. Dalam itikaf kita dapat beribadah, dapat ruhiyah, dapat ilmiyah, dapat ukhuwah, dan ayam serta kuwah.....he..he..  Oh ya..ngomong-ngomong Bapak itikafnya full kan sepuluh hari..?” Tanya ustad

“He..he.. maaf pak ustadz,...saya iktikafnya malam doang...kalau siang saya masih harus masuk kantor.” Jawab ustadz

“ini..ni..nih... yang namanya “Itikaf ala kalong alias kampret”, malam nampak- siang gak nampak. Tahun depan niatkan dan ‘azamkan ya itikaf sepuluh hari?, itikaf ala Nabi...jangan itikaf ala kampret melulu...” ujar ustadz menasehati.

“Kan, Kearifan lokal juga, pak ustadz..he..he....i’tikafnya malam doang..hehe,,” Jawab jamaah

“Ha..ha... kampret lokal itu mah..! Ya sudah sana,, tilawah....saya juga mau tadarus nih....” Kata Ustadz.

“Daripada  ceboooong…pak ustadz?hehe” Jamaah menimpali..

“Huss…udah….sana tilawah…” Ustad menutup percakapan.

 

 Muhammad Jamhuri 26 Ramadhan 1442 H

Selasa, 13 April 2021

Hikmah Ramadhan Hari Ke-1 : Fadhilah Memuliakan Ramadhan

Dikisahkan seorang anak kecil Yahudi sedang bermain sambil makan di siang hari di bulan Ramadhan tanpa menghiraukan kaum muslimin sedang berpuasa. Ketika orang tua Yahudi melihat anaknya melakukan hal itu, segera ia melarang anaknya dan menyuruh anak itu untuk makan di dalam rumah, sebagai ungkapan menghormati kaum muslimin yang sedang melaksanakan puasa.

Waktu pun berjalan, dan Ayah Yahudi itu sakit. Saat itu dia menyatakan masuk Islam, dan kemudian wafat menemui ajalnya dalam keadaan muslim. Subhanallah.. hanya karena menghormati bulan Ramadhan orang tua Yahudi itu husnul khotinah. "AI-Islamu yajubbu maa qoblahu" keislamannya menghapus dosa sebelum keislamannya.Itu lah pahala seorang muallaf.
Saudaraku. Kini justru umat Islam sendiri yg menghinakan agamanya. Makan minum bebas di siang Ramadhan. Bahkan ada ungkapan "Hormatilah orang yg tidak puasa", suatu kalimat benar tapi untuk kebatilan. Ada pula yang membuat statemen yg menyakiti kaum muslim dg ungkapan bahwa islam adalah sarang teroris dan radikal dan ungkapan sampah menjijikan lainnya.
Amal baik itu sebenarnya mudah. Lakukan saja apa yg dititahkan Rasulullah saw..pahala akibatnya adalah kebaikan. Spt yg dilakukan Yahudi itu. Bukan kah ada ungkapan, "Siapa yg berbahagia dengan datangnya Ramadhan, maka jasadnya diharamkan dari api neraka.?"
Jamhuri 1 Ramadhan 1442 H