Tampilkan postingan dengan label Memoar Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memoar Hidup. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2026

Aku dan Syaikhuna Prof. KH. Syukron Makmun

foto saat hadiri hari milad beliau ke 82
Untuk menceritakan kisah tokoh besar seperti Syaikhuna KH. Syukron Makmun, tentu tidak cukup hanya dalam tulisan singkat ini. Selain usia beliau yang begitu panjang menurut kebanyakan orang yang sezamannya, Kehidupan beliau juga dipenuhi dengan kegiatan yang begitu padat setiap hari dan jamnya, bahkan menitnya, serta luas nya pergaulan beliau, baik pergaulannya bersama kalangan pejabat, ulama, tokoh, apalagi bersama kaum santri, bahkan dengan anak-anak yang usianya terpaut jauh dengan beliau.

Dalam tulisan ini, saya hanya membatasi hubungan saya dengan beliau rahimahullah, sekilas yang saya ingat. Bismillah..

Terus terang, saya berasal dari keluarga yang hidup dalam kondisi yang sederhana, tidak banyak mengenal tokoh-tokoh besar seperti beliau. Bahkan mengenal kata 'pesantren' pun hampir tidak pernah. Hingga suatu hari saya diperintah ibu saya untuk mengaji kepada seorang ustadz bernama Ust. Jayadi yang tinggal di depan rumah kami. Usia saya saat itu kisaran 11 tahun dan duduk di kelas 5 SD. "Wi..(panggilan kecil saya: Uwi)..sana kamu ngaji ke ustadz Jayadi, biar kalau Emak meninggal nanti, bisa didoakan kamu.." Begitu pesan sederhana ibu saya. Memang selama ini, sejak usia 6 tahun hingga 1 tahun saya ngaji kepada ibu saya, dengan materi membaca huruf hijaiyah hingga selesai baca (bukan hafal)  juz 'amma. Nah, mungkin selain niatan di atas, ibu saya juga berniat agar ilmu mengaji saya ditingkatkan melalui  melalui ngaji dengan ustdaz yang bertetangga tadi.

Foto saat  hadiri dan resmikan gedung RQM (Rumah
Quran Multazam) di Pesantren TEI Multazam - Rumpin
Setelah saya mengaji sekian lamanya kepada Ustadz Jayadi rahimahullah itu, dan saya masuk di usia kelas 6 SD, suatu hari saya melihat kalender yang terpampang di tembok rumah guru "privat" saya itu. Kalender itu ternyata kalender yang berasal dari Pondok Pesantren Daarul Rahman. Sesekali sebelum guru mengajar, saya diam-diam buka lembaran kalender itu, disana ada foto KH. Syukron Makmun (untuk pertama kalinya saya melihat wajah KH Syuron Makmun via foto kaelnder itu) serta foto-foto kegiatan pesantren Daarul Rahman yang beraneka ragam. Saya pun tertarik dengan isi kalender itu. Lalu saya pun memberanikan diri bertanya-tanya tentang pesantren itu. Sang ustadz pun menjelaskan, bahwa dia mempunyai keponakan yang sedang mondok di pesantren itu. Singkatnya saya telusuri hingga takdir mengantar saya masuk pesantren itu. Kisah tentang mulai masuknya saya ke Daarul Rahman melalui kelender itu, saya tulis dalam tulisan saya "Kalender Itu Telah Memberi Saya Hidayah, Aku Masuk Pesantren" 

Alhamdulillah, dengan taufik dari Allah, saya dapat menuntut dan mengamalkan ilmu di Pondok Pesantren Daarul Rahman selama 10 tahun, terdiri dari masa belajar selama 6 tahun, dan mengabdi menjadi guru selama 4 tahun (antara tahun 1985 sampai 1995).

Foto bersama keluarga besar Yayasan Bani HWK
(Haji Waisul Kurni) di kediaman rumah beliau
Saya banyak menyimak setiap apa yang disampaikan Hadrotus Syaikh KH Syukron Makmun melalui ceramah, pengajian umum, mengajar di kelas, sambutan di setiap event, yang membekas dalam jiwa saya. Dan itu menjadi bekal hidup di masa-masa hidup saya. Beliau bukan hanya guru ilmu, namun juga guru spritual yang nasehat-nasehatnya sangat membekas pada setiap santri dan jamaah yang mendengarnya. Kata-kata hikmah serta bekal hidup beliau itu sering saya catat dalam buku diary saya, lalu saya kumpulkan dalam tulisan saya di "Kata-kata Mutiara dan Nasehat Hadrotus Syaikh KH Syukron Makmun"

Saya juga mendapat optimisme dalam mewujudkan cita-cita saya melanjutkan studi di Tanah Suci dari beliau. Saat itu beliau memanggil saya ke kantor sekolah bertanya kepada saya, "Kamu mau tidak belajar di Makkah kepada Sayid Muhammad Alwi al-Maliki? tapi belajar disitu bisa puluhan tahun lamanya, lulusnya sesuai keinginan Sayid.., bisa 10 tahun, bisa 20 tahun,,?". Saya menjawab, "Insya Allah siap kyai." Qodarullah, setelah itu saya tidak dapat berita lagi (mungkin karena beliau sibuk), saya pun tidak mempertanyakan kembali proses itu, namun alhamdulilllah 4 tahun setelah dipanggil Kyai itu, saya ditakdirkan Allah dapat melanjutkan studi di Universitas Ummul Quro Makkah. Dan selama di Makkah saya dapat sempat  hadir di majlis Sayid Muhammad Alwi al-Maliki di daerah Rushoifah, Makkah al-Mukarramah. Kisah saya ditawari "mondok" di majlis Sayid Muhammad Alwi Maliki di Makkah tersebut, saya tulis di "Saya dan Sayid Muhammad Alwi al-Maliki"

Interaksi saya dengan Hadrotus Syaikh KH. Syukron Makmun terus berlanjut saat saya diminta mengabdi menjadi guru di Daarul Rahman, apalagi saat itu saya juga sambil kuliah di IID (Instutut Islam Daarul Rahman) yang baru beliau dirikan saat itu, dan saya menjadi mahasiswa angkatan pertama IID itu. Interaksi dengan beliau terus berlanjut, terutama kami dan kawan-kawan alumi Daarul Rahman mendirikan sebuah forum pimpinan  pesantren yang terdiri para alumni Daarul Rahman yang melanjutkan dan mengimplentasikan cita-cita  beliau dalam sebuah ceramahnya "Pribahasa yang mengatakan "Mati Satu, Tumbuh Seribu, itu harus diubah menjadi 'Sebelum Mati, Sudah Tumbuh '. Forum itu bernama FORMADA (Forum Kerja Sama Pesantren Alumni Daarul Rahman). Melalu forum itulah Hadrous Syaikh banyak memberikan bekalan lebih kepada kami, selain itu  kami pun sering mengundang beliau, atau kami datang kepada beliau jika ada program atau rencana kegiatan di Forum itu.

Sekali lagi, tulisan singkat ini tidak cukup untuk menampung segala kenangan, kebaikan dan wawasan ilmu Hadrotus Syaikh KH. Syukron Makmun. Namun semoga catatan ini melengkapi apa yang telah ditulis oleh para almuni dan pengamat. 

Ghofarallah lahu wa rohimahu rohmatan waasi'ah, wa askanahu faisiha jannatih. Robbi fan fa'na bi barkati ulumihim wahdina bi hurmatihim

Wallahu a'lam bishsshowab.


Ditulis di Cairo Mesir, pada Senin 1 Nopember 2026 saat mengikuti kegiatan program Pengembangan Wawasan Da'i Internasional (PWDI) yang diadakan oleh Komisi Dakwah MUI tgl 28 Oktober-8 Nopember 2026

Rabu, 18 Maret 2026

Alumni Pesantren Daarul Rahman Angkatan 11: Setelah 36 Tahun, Kembali Beribadah Bersama di Ramadhan 1447 H/2026 ini

Sholat Taraweh Bersama
Tangsel - Para alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman Angkatan ke 11 yang lulus pada tahun 1990 lalu mengadakan serangkaian acara ibadah yakni berupa Bukber (buka puasa bersama), Shalat taraweh, kultum dan khotaman al-Quran bersama pada Sabtu 14 Maret 2026 lalu di Pondok Pessantren Al-Adzkar Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

Acara ini mengingatkan mereka pada 36 tahun lalu saat masih mondok di Pesantten Daarul Rahman Jakarta, saat mereka bertaraweh bersama, berpuasa bersama, mendengar kultum bersama, serta bertadarus al-Quran bersama. Bahkan yang unik dari acara tersebut adalah saat melaksanakan Taraweh bersama, yang menjadi imam pun bergantian, maklum di antara mereka sudah menjadi ustdaz/kiyai/tokoh masyarakat di daaerah masing-masingnya. 

Khotaman al-Quran Bersma
Terekam saat dilaksanakan sholat Isya dan Taraweh, yang menjadi Imam shalat Isya adalah Ust. TB. Masnun. Sedangkan yang menjadi imam taraweh secara bergantian tiap dua rakaat adalah Ust. Andi Awaludin, Ust, Alex Muda, Ust Malhan, Ust. Ma'ruf dan ditutup sholat witir dipimpin oleh Ust. Malhan.

Usai shalat Taraweh diadakan Kultum (Kuliah Terserah Antum) yang disampaikan oleh KH. Muhammad Jamhuri yang mengajak teman-teman yang hadir untuk bersyukur kepada Allah bahwa "Kita masih diberi nikmat sehat dan kesempatan sehingga masih dapat bertemu dengan  bulan Ramadhan tahun ini." Ujarnya sambil berkisah riwayat sahabat Thalhah bin Ubaidillah yang bermimpi melihat dua sahabat lainnya, namun dari dua sahabat itu salah satunya wafat  di medan jihad, Sedangkan yang lainnya selamat dan hidup hingga bertemu dengan Ramadhan kembali, lalu.  Thalhah yang bermimpi melihat kedua sahabatnya tersebut, merasa heran. pasalnya justru sahabat yang wafat bukan karena jihad malah masuk surga di tingkatan yang lebih tinggi dari pada sahabatnya yang wafat fi sabilillah di medan jihad. Saat bertemu Rasulullah saw, dijelaskan, bahwa sahabat yang ikut berjihad namun usianya masih bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, itu mendapat surga yang lebih tinggi, karena kemuliaan Ramdahan dan beliau mengisinya dengan baik. "Itulah kemuliaan Ramdahan yang pahala beribadah di dalamnya dilipat gandakan oleh Allah swt." Tambah Jamhuri. "Maka kita yang dipertemukan kembali dengan Ramadhan patut bersyukur" Katanya

Tempat acara "Reuni Ibadah" diadakan di Pesantren Al-Adzkar Pamulang dengan pimpinannya KH. Ali Rahmat, Lc. MA. yang juga alumni Daarul Rahman Angkatan ke 11 tahun 1990. Beberapa alumni dari angkatan 11 yang hadir dan kini berkicumpang dalam dunia pesantren adalah:

  1. KH. Ali Rahmat, Lc. MA: Pimpinan Pesantren Al-Adzkar Pamulang Tangsel
  2. KH. Muhammad Jamhuri, Lc.MA: Pimpinan Pesantren TEI Multaam Rumpin Bogor
  3. KH. Malhan SA: Pimpinan Pesantren Raudatun Nur, Cibadak Sukabumi
  4. KH. TB Masnus: Pengurus di Pondok Pesantren Nurani Jakarta & Bogor
  5. Ust. Andi Awaludin: Pengurus di Pesantren di Dieng Wonosobo-JawaTengah
  6. Ust. Zakyi Abdul Mutollib; Pengurus di Pondok Pesantren Daarul Rahman
Sedangkan alumni lainnya tersebar di berbagai profesi dan usaha. Alhamdulillah, jadi santri itu berkah..

Sabtu, 28 Desember 2024

Memberi Motivasi Kepada Santri Al-Adzkar; "Fokuslah Dalam Meraih Cita-cita"

Berfoto bersama santri Al-Adzkar sebelum pamit pulang
Bogor - Senin - Selasa, 23- 24 Desember 2024 yang lalu, tepatnya satu - dua hari setelah kepulangan para santri Pesantren TEI Multazam, rumah kami kedatangan tamu-tamu mulia, mereka adalah para santri kelas 11 SMA Pesantren Al-Adzkar Pamulang, Tangsel, Banten, Mereka datang menginap di kediaman rumah kami.

Salah seorang guru mereka mengirim pesan kepada saya melalui WA, "Ustadz, anak-anak santri Al-Adzkar menginap di Multazam, kalau sempat ustdzd berikan motivasi kepada mereka", Saya menjawab, "Insya Allah".

Pagi hari setelah mereka sarapan dan sebelum berpamitan pulang, saya pun memberikan motivasi kepada mereka. Meski bicara saya kurang fasih akibat terkana stroke ringan dan baru kembali dari rumah sakit dua hari sebelumnya, saya pun memberikan motivasi melalui kisah hidup.

Suasna memberi motivasi di kediaman
"Saya ini teman pengasuh pesantren kalian Pesantren Al-Adzkar dan juga salah satu teman guru kalian, yaitu KH. Ali Rahmat Lc. MA dan Ust. Ahmad Supandi. Kami satu angkatan dan pernah satu kelas, bahkan pernah makan satu piring bersama saat mondok di Pesantren Daarul Rahman", Ujar saya memulai pembukaan.

Suatu kali pesantren Daarul Rahman tempat kami mondok kedatangan seorang syaikh yang juga dosen dan pengurus dari Universitas Islam Madinah, lalu sang syaikh melakukan muqobalah (interview) kepada lulusan santri terbaik, saat itu kami masih dalam masa pengabdian setelah lulus, maka dipanggillah 5 lulusann Daarul Rahman, temasuk saya dan KH. Ali Rahmat. Namun dari  5 orang santri, yang diterima hanya 2 orang, yaitu Ali Rahmat (kini pengasuh pesantren Al-Adkar) dan M. Faiz (Gus Faiz putra KH. Syukron Ma'mun).

Setelah mereka berangkat ke Madinah, kami sering saling berkirim surat (dahulu belum ada hp). Salah satu surat yang Ali Rahmat kirim kepada saya adalah, "Jam (panggilan saya Jamhuri), antum lebih pantas kuliah di sini. Usahakan urus bisa kuliah di sini." Dari surat itu, saya pun bersemangat. Saya urus Akte Kelahiran hingga menterjemah surat-surat ijazah, Surat kesehatan, SKKB dan lainnya ke dalama bahasa Arab via penterjemah resmi. Lalu berkas-berkas itu saya kirim ke 3 universitas di Arab Saudi; Universias Islam Madinah, Universitas Ummul Quro Makkah dan Universitas al-Imam di Riyadh.

Namun, bertahun-tahun ditunggu, tidak mendapat panggilan juga. Hingga tahun keempat, guru dan teman  menginformasikan ada kesempatan kuliah di Islamabad Pakistan. Saya pun mengurusnya. Dan akhirnya saya dan teman saya bernama Ali Fikri Noor (masih teman satu angkatan saat di Daarul Rahman) diterima kuliah di International Islamic University Islamabad (IIUI) Pakistan. Namun, setelah kuliah berjalan hampir satu semester, bekal uang saya pun hampir habis, karena bea siswa dari IIUI hanya cukup untuk makan selama sepekan setiap bulannya. Saya bingung, dan hanya bisa berdoa yang saya panjatkan, "Ya, Allah, saya masih mau kuliah, aku berserah diri padaMu, tentang bagaimanapun caranya".

Itulah doa yang saya panjatkan sehari-hari, sambil menawarkan diri dijadwal masak setiap hari bersama teman-teman Indonesia, agar dapat ikut serta makan bersama mereka. 

Pada suatu hari, di papan pegumuman kantor dekan di kampus Universitas ada panggilan untukku. Setelah saya datangi, saya diberi copy fax berbahasa Arab oleh kantor . Ternyata fax itu dikirim oleh keluarga saya yang mungkin mereka tidak paham dengan isi surat tersebut (dikira tulisan wirid dan doa). Ternyata surat itu surat pangggilan dan diterimanya saya di Universitas Ummul Quro Makkah-Saudi Arabia. Aku sempat bahagia bercampur bingung, oh ternyata pengajuan dan lamaran saya yang dikirim 4 tahun dan diajukan, baru diterima sekarang. Saya pun bingung antara lanjut di Islamabad atau Makkah, Istikhoroh pun dilakukan, namun masih belum mendapat keyakinan, apalagi saat bertanya kepada teman-teman dari Indonesia, merekapun ada yang menganjurkan saya agar tetap di Islamabad. Akhirnya saya istisyaroh (minta pendapat) kepada kyai saya. Saya menelpon beliau, dan jawabnya,, "Ambil Makkah, Insya Allah berkah". Akhirnya saya menuruti nasehat guru saya, Alhamdulilah,

"Nah, anak-anak, oleh karena itu fokuslah dalam meraih cita-cita dengan terus rajin belajar. Maka insya Allah kalian akan sukses meraih cita-cita. Kedua, jangan lupakan berdoa dan bertwakkal kepada Allah swt serta taat pada nasehat orang tua dan guru kalian". Ujar saya menutup pembicaraan. 

Jumat, 29 November 2024

“DIPAKSA” JADI CALEG, MALAH JADI PIMPIN PESANTREN?

di pintu kamar rumahku ada stiker
Hari ini saya harus nyoblos Pilkada serentak pertama di Indonesia (27 Nopember 2024). Karena KTP saya masih di Tangerang, maka saya pun menuju TPS di Tangerang, tepatnya di daerah Karawaci dekat rumah saya yang lama.

Usai nyoblos, saya sempatkan lihat rumah lama yang lernah saya diami dulu. Ternyata sudah setengah rumah jadi tampungan barang-barang yg sudah tak terpakai. Saat mau lihat kamar saya dulu, ternyata di pintu kamar saya banyak tempelan stiker, termasuk stiker-stiker kampanye saat akan pemilu 2009. Eh teranyata ada stiker saya saat jadi caleg propinsi Banten.

Awalnya saya gak mau ditawari Partai jadi caleg, karena saya gak punya apa-apa untuk modal jadi caleg. Namun karena “dipaksa” sayapun jadi caleg Proponsi Banten dari PKS utk periode 2009-2014. Dengan niat “Kalo jadi aleg, saya mau nabung untuk bikin pesantren” yang menjadi cita-cita saya.

Qodarallahu, saya pun tidak jadi caleg karena tidak mendapat suara yang cukup. Namun setahun kemudian (2010) Allah mentaqdirkan saya merintis dan membangun pesantren TEI Multazam. Setelah direnungi,, mungkin kalau terpilih jadi aleg, tahun itu (2010) belum berdiri pesantren tersebut.

IBROH & PELAJARAN:

  1. Bekerjalah untuk akhiratmu, maka dunia akan ikut bersamamu
  2. Niatkanlah kebaikan dalam segala hal, maka Allah akan mendahului meralisasikan apa yang kamu cita-citakan
  3. وما نحن بمسبوقين
Tangerang Rabu 27 Nopember 2024

Minggu, 19 Mei 2024

Aku Dan Almarhum Arif Besari

Arief Besari bin Prasetyo Tamat
wafat hari Jumat 16 Mei 2024 Pkl. 15.20 di usia 54 Tahun.
 
Usai shalat qiyamullail di malam Sabtu menjelang subuh, saya membuka beberapa pesan di WA, dan di salah  satu WAG saya membaca satu pesan yang membuat saya kaget "Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un. Telah meninggal dunia Ust. Arif Besari Jam +- 15.20. Semoga Almarhum diterima di sisiNya dan keluarga yang ditinggal di beri kesabaran sudah . Lokasi menyusul".

Bagaimana tidak kaget? sehari sebelumnya beliau mengirim lampiran materi KKP UPA dengan pesannya, "Materi KKP ust" beserta gambar telunjuk yang yang menunjuk ke lampiran materi berupa hadist Riyadus Sholihin. Saya pun membalasnya "thoyib".

Rencana UPA (Unit Pembinaan  Anggota) yang berisi materi kajian hadist dari kitab Riyadussholihin itu, diamanahkan beliau kepada saya untuk disampaikan pada hari Sabtunya (18 Mei 2024), namun ternyata beliau telah dipanggil Allah sehari sebelumnya, Jumat 17 Mei 2024.

Kemudian waktu Ashar Jumat, saya mendapat berita bahwa almarhum akan disemayamkan di rumah ibunya di bilangan Ciputat setelah dibawa dari Rumah Sakit Sari Asih. Saya pun berangkat takziyah ke rumah duka di Ciputat setelah sebelumnya mengisi pengajian kitab Mukhtar Ahadist dan shalat Isya terlebih dahulu di Pesantren.

Saya sempat membina beliau di bilangan Cisauk beberapa tahun lalu, karena rumah beliau berada di kelurahan pagedangan. Namun dengan berjalannya waktu, beliau bersama saya ikut dalam suatu kajian, dan beliau termasuk peserta yang sangat aktif. Bahkan beliaulah yang sering mengingatkan dan menelpon saya secara japri jika 5 menit saja saya belum hadir di dalam kajian, baik secara online maupun offline.

Saya meyakini bahwa beliau wafat dalam kondisi husnul khotimah- insya Allah, Sebab, beliau wafat di hari Jumat, dan pada saat menjelang waktu Ashar akan tiba,  beliau sudah berada di Musholla/Masjid menunggu waktu Ashar tiba. Dalam CCTV musholla/masjid Al-Abror yang tidak jauh dari tempatnya bekerja di Yayasan Prasetya Karya/belakang Sekolah Bunayya Pasar Kamis Tangerang, nampak beliau sudah berada di masjid sebelum jamaah lain tiba dan beliau rebahan atau tiduran. Selang beberapa menit, beliau seperti tertidur, dan tidak lama kemudian datanglah seorang muadzin. Karena sudah masuk waktu ashar, sang muadzin langsung menuju mic masjid untuk melantunkan adzan. Usai melantunkan adzan sang muadzin lansung menuju amarhum yang nampak sedang tiduran, dan katika dibangunkan dengan menggerak-gerakkan tubuhnya, almarhum sudah tidak bergerak.  Dan saat itulah para jamaah lain mengerumungi almarhum untuk memastikan kondisi. Karena tidak bergerak juga, akhirnya almarhum dibawa ke rumah sakit Sari Asih untuk memastikan kondisi. Akan tetapi pihak Rumah Sakit pun berkesimpulan bahwa beliau sudah wafat.

Beliau wafat di hari Jumat, saat sedang menunggu waktu shalat Ashar, dan bahkan seakan memilih akhir hidupnya di tempat yang mulia di muka bumi, yaitu masjid/musholla). Orang mukmin yang wafat di hari Jumat mendapat keutamaan, seperti yang dijelaskan hadits Nabi riwayat Imam al-Tirmidzi:

 مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الجُمُعَةِ أوْ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ إلّا وَقَاهُ الله تَعَالَى فِتْنَةَ القَبْر

"Tidaklah seorang Muslim di meninggal dunia di hari atau malam Jum'at, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur" (HR: Tirmidzi).

Ada pula hadist lain riwayat Humaid dari Ilyas bin Bukair yang menyatakan, Barangsiapa meninggal dunia di hari Jumat, ia dicatat mendapat pahala syahid dan selamat dari siksa kubur.

Sedangkan pahala orang yang menunggu shalat, maka seakan ia sedang shalat, Sabda Nabi saw:

لا يَزَالُ أَحَدُكُمْ في صَلاةٍ مَا دَامتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ

“Seseorang di antara kamu tetap berada dalam keadaan shalat selama dia ditahan oleh shalat. (HR:Bukhori-Muslim)

Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan orang yang shalat kemudian tetap di masjid menunggu datangnya waktu shalat

Semoga Allah swt mengampuni segala kesalahannya, menerima iman, Islam dan amal sholehnya serta dicatat sebagai salah seorang syuhada. Aamiin.

Berikut detik-detik wafatnya almarhum Ust. Arif Besari di Musholla/masjid al-Abror





 

Senin, 03 Juli 2023

Seni Menjemput Kematian

Kematian pasti datang pada setiap manusia yang bernyawa. Namun bagaimana cara maut menjemput kita, atau kita menjemput kematian? Itu memiliki seni (baca: cara) tersendiri.

Sebagai contoh almarhum Paimin yang berangkat haji tahun ini (2023). Beliau wafat tepat setelah prosesi wukuf di Arafah usai. Setelah shalat zhuhur-Ashar jamak takdim, khutbah wukuf dan zikir wukuf selesai, dua jam setelah itu beliau dipanggil Allah swt.
Ketika saya melihat istrinya begitu tegar dan kuat menghadapi musibah ini. Isterijya bercerita, “Ini sudah menjadi cita-cita bapak sejak dahulu. Beliau pernah berkata ingin wafat di tempat yang mulia. Saat ibadah haji.”
Jenazah beliau saat dikafani tidak ditutup kepalanya seperti pocong umumnya jenazah, karena beliau dalam kondisi masih ihrom. Dan akan dibangkitkan di alam kuburnya dalam keadaan sedang ihrom. Suatu episode akhir yang baik (husnul khotimah).
Lain lagi dengan almarhumah ibu Narsi, beliau malah diwafatkan Allah setelah merampungkan semua prosesi ibadah hajinya. Tepat beberapa waktu seusai thawaf ifadhoh (rangkaian akhir ibadah haji) beliau pun dipanggil Allah. Sebenarnya, beliau seharusnya pergi haji sejak tahun kemarin bersama suaminya, tapi karena masih dalam keadaan sakit maka tidak bisa berangkat. Hanya suaminya yang bisa haji sendirian tahun lalu. Tahun ini bulat tekadnya untuk berhaji, dan suaminya pun merelakan berangkat tanpa didampinginya. “jannah.....jamnah..…insya Allah..” ujar satpam wanita Arab berpakaian merah kecoklatan di Mall Clock Tower yang membantu evakuasi almarhumah ke rumah sakit Ajyad di hotel Shofwah usai almarhumah thawaf ifadhoh di masjidil Haram dengan menggunakan roda dorong
Ya Allah ikhtim lanaa bi husnil khotimah..

Kamis, 23 Maret 2023

Aku dan Almarhum. Ust. H. Amrozi M. Rais

Almarhum Ust. H. Amrozi M. Rais
Oleh : Muhammad Jamhuri

Saat itu waktu menunjukkan  pukul 18.30, Usai shalat maghrib berjamaah, Kami mengambil ponselku untuk membaca al-Quran digital melalui ponsel. Namun Kami buka dahulu seleweran WA yang masuk begitu banyak, terutama pada sebuah grup whats App, ternyata di salah satu WAG tertulis sebuah share berita, "...Inna Lillahi wa inna ilaihi raajiun..Telah berpulang guru kita ust. Amrozi jam 18.00 di RS Primaya. Sekarang sdg persiapan pulang ke rumah...". Saya diam termenung sambil berdoa dalam hati "Allahummaghfirlahu warhamhu wa'fu 'anhu....dst".

Seorang Mujahid Pembela Rakyat Palestina dari Indonesia Ust. Amrozi M. Rais, Lc telah dipanggil oleh Kekasihnya di malam pertama bulan Ramadhan Tahun ini (2023). Kami bergumam, "Kawan,..engkau telah diundang untuk taraweh dan berRamadhan di surga bersama para syuhada dan sholihin". 

Dialah ust. H. Amrozi M, Rais Lahir  pada tanggal 17 Juli 1970 dan wafat 22 Maret 2023 (usia 52 tahun). Selama hidupnya Beliau sangat gigih dalan memberitakan dan membela nasib bangsa Palestina. Beliau tidak mengenal lelah berkeliling Nusantara memberitakan pentingnya membela Palestina. Melalui LSM yang diasuhnya bernama SPM (Sahabat Palestina Memanggil) beliau berkeliling dari masjid ke mesjid, dari sekolah ke sekolah, pesantren ke pesantren, kampus ke kampus untuk memperkenalkan kepada generasi muda sejarah Al-Quds dan Masjid al-Aqshanya serta keutamaannya di dalam ajaran agama Islam yang banyak dilupakan kaum generasi muda (bahkan tua). Tidak aneh, jika berbagai pihak mengundang beliau sebagai nara sumber dalam berbagai seminar di dalam negeri maupun di luar negeri tentang Al-Quds dari dahulu hingga yang terupdate. 

Al-Marhum menjadi salah satu nara sumber Seminar
Luasnya pengetahuan tentang kePalestinaan bukan hanya sekedar dari membaca, namun beliau pernah langsung berkunjung dan berdialog dengan warga Palestina, bahkan pernah mengunjungi kawasan Gaza. Beliau pernah terkesan dengan anak-anak Palestina. Kata beliau, meskipun anak-anak Palestina dalam kondisi miskin, namun mereka tidak mengemis atau meminta-minta jika ada warga asing yang berkunjung ke sana. Namun mereka menawarkan teh hangat lalu mereka barulah mau menerima uang orang yang meminum tehnya sebagai jual-beli. "Jadi mereka sudah dididik tidak bermental pengemis apalagi pencuri". Kenangnya..

Nama "Amrozi" memang sempat tidak mengenakkan walau jadi terkenal, akibat peristiwa Bom Bali. Namun Amrozi M. Rais yang satu ini berbeda dengan pelaku bom. Amrozi ini Orangnya tenang dan humoris namun tegas. Satu hal yang kami kagum kepada almarhum adalah hafal sebagain besar anak-anak dari murid yang beliau bina, termasuk menanyakan kabar semua anak-anak kami jika membahas qadhoya dan rowai (probelmatika dan kabar gembira) dalam sebuah halaqah pengajian.  Hal lain yang baik dari beliau adalah mencatat segala masalah dan peristiwa para muridnya, keluarga dan binanaannya selama sepekan dalam buku agenda catatatannya yang selalu dibawanya. Sehingga jika ada pertemuan pekan berikutnya, beliau selalu menanyakan masalah-masalah yang disampaikan pada pekan sebelumnya. Lalu bertanya, Bagaimana malasah ini dan masalah itu?..lalu mencatatnya lagi.

Almarhum Amrozi M. Rais wafat pada hari Rabu malam Kamis tanggal 22 Maret 2023 pukul 18.00 wib di Rumah Sakit Primaya Tangerang setelah selama kurang lebih selama delapan bulan menderita kangker darah. Kemudian disemakayamkan selama satu malam dikediamannya di Daerah Batu Jaya-Batu Ceper. Kemdian esok harinya Kamis 23 Maret 2023 (1 Ramadhan 1444 H) dimakamkam di Perkuburan Keraba- Kober (sekitar 1,5 km dari kediamannnya). Almarhum meninggalkan seorang isteri, lima anak serta seorang cucu, juga segudang amal da'awai, jihadi, tarbawi dan khoiroot....

Hadir dalam pemakamaman antara lain beberapa warga Palestina yang tingga di beberapa negara Asia, Ketua DPW PKS Banteng Bpk. Gembong Sumedi, ulama Banten KH. Sudarman, Bonny Mufidjar (anggota DPRD I Banten). H. Syamsuri (Anggota DPRD II Kota Tangerang), para kader PKS dan lapisan masyarakat.

Semoga al-Marhum dikumpulkan bersama para Syahada al-Aqsha karena almarhum  telah banyak membantu rakyat dan anak-anak Palestina yang orangtuanya banyak  wafat sebagai Syuhada,  Sebagaimana hadist NAbi Muhammad saw "Anda akan bersama orang yang Anda Cintai".

Semoga keluarga yang dtinggalkan diberti pahala katabahan atas kepergiannya, dan kita yang hidup dapat melanjutkan isnpirasi perjuangannya.. Aamin.

Bogor, 23 Maret 2023

Senin, 23 Agustus 2021

Aku dan Almarhum Bapak Lendo Novo

Di tengah mencari jati diri tentang konsep pesantren yang mulai saya dirikan saat itu, tahun 2010, saya dikenalkan kawan saya Badrul Ulum untuk coba studi banding ke School of Universe (Sekolah Alam).

Saya dan beberapa guru mencoba datang ke lokasi tersebut. Sayang, kami tak dapat bertemu langsung dengan Pak Lendo pimpinan Sekolah Alam. Karena beliau sedang rapat dengan para wali murid. Namun kami mendapat beberapa informasi tentang kekhasan sekolah tersebut dari para stafnya yang menerima kami.

Tak disangka, beberapa waktu kemudian, bersama kawan saya Badrul Ulum, ia datang mengunjungi pesantren kami yang saat itu masih sangat sederhana. Kelas pun masih berupa saung bambu. Santri pun masih dapat dihitung jari. Saat menerima beliau sebagai tamu pun, kami duduk di saung yang kolongnya masih berupa kolam lele. Jalan? Masih tanah merah yang becek atau berdebu.

Tak disangka orang sepenting beliau mau menyempatkan datang ke pesantren kami saat itu. Sebagai pesantren yang masih serba kekurangan fasilitas, tentu kami merasa malu sekaligus bangga kedatangan tamu yang note bone sibuk mengisi berbagai acara seminar di dunia pendidikan.

Dalam obrolan kami dengan beliau. ada beberapa point yang bisa kami petik dan sebagian kami terapkan di pesantren kami. Menurut beliau:

1. Perkuliahan di universitas internasional seperti Harvard sekalipun tidak akan pernah melahirkan seorang Intrepreneur dan Owner. Namun hanya mampu melahirkan director yang note bone sebagai worker (pekerja) bagi pemillik perusahaan. Kita ingin melahirkan para owner yang berjiwa entrepreur.

2. Satu cara untuk melahirkan para entrepreuneur (pengusaha) adalah dengan melatih siswa (santri) menjalankan usaha/bisnis nya sejak remaja.

3. Itulah sebabnya para pengusaha banyak lahir dari suku Minang dan Tionghoa. Kenapa? Karena sejak remaja bahkan masih belia, sudah terlatih berbisnis (dagang).

4. Sebenarnya jika kita melihat siroh Nabi saw, beliau pun sejak remaja sudah mandiri, yakni dengan usaha mengembala kambing dan ikut pelajaran praktek berbisnis dengan pamannya, bahkan hingga ke luar  negari (Syam). Tidak heran jika ia menjadi saudagar kaya saat meminang Khadijah ra. Terlihat dari mas kawin beliau yang mencampai hampir  0,5 miliar. 

5. Alumni sekolah kami -meskipun baru tamat SMA - sudah banyak yang berbisnis di otomotif, properti dan lain-lain.

6. Itu karena kami biasakan mereka untuk berbisnis di lingkungan sekolah dengan produk/komoditas unggulan mereka masing2.

Demikian pelajaran yang kami dapat saat ngobrol dengan beliau (almarhum)

Kini Pak Lendo Novo telah meninggalkan kita. Peninggalan amal sholehnya berupa konsep Sekolah Alam sudah banyak ditiru dan bermanfaat. 

Semoga Allah menerima Iman, islam dan amal sholeh beliau serta mengampuni segala khilafnya. Dan semoga beliau dikumpulkan bersama para syuhada dan sholihin.

غفر الله له ورحمه رحمة واسعة وادخله فسيح جنته..  امين.

Kamis, 22 Juli 2021

Aku dan Almarhum KH. Taufiq Hulaimi, MA.

Kamis dini hari 22-07-2021, usai qiyamullail menjelang subuh, aku buka hp dan wa yang masuk. Alangkah sedihnya saat membaca berita duka wafatnya teman dan sahabat-ku, KH. Taufiqul Azhar bin KH. Hulaimi Hatami yang wafat malam kamis 21 Juli 2021 jam 23.55 di RS. Yarsi Jakarta. Air mata saya pun terasa menetes, mengingat dan mengenang saat-saat berkawan dan bergaul dengan beliau walau hanya beberapa bulan intens.

Beliau adalah putra almarhum KH. Hulaimi Hatami, guru di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Leuwiliang Bogor. Aku mengenal almarhum Taufiq Hulaimi saat beliau bergabung menjadi mahasiswa di Insitut Islam Darul Rahman (IID) dan termasuk angkatan pertama saat itu sekelas bersama-ku. Beliau sebelumnya adalah alumni Pesantren Daarus Salam Gontor Ponorogo. Orangnya humoris dan berjiwa pembelajar, kutu buku dan serius dalam menuntu ilmu.

Kami berpisah saat beliau mendapat panggilan kuliah di Universitas Al-Azhar sebelum genap setahun di IID. Sejak saat itu kami tidak tahu kabar beliau lagi. Tiga tahun kemudian saya yang mendapat panggilan kulian di Umm al-Quro Makkah setelah sebelumnya sempat kuliah di International Islamic University Islamabad (IIUI), Pakistan.

Pada saat aku kuliah di Makkah, aku kembali bertemu dengan beliau saat beliau menunaikan ibadah umroh di bulan Ramadhan bersama kawannya bernama Ahmad yang juga keluarga Abdurrahman an-Naidy pewakaf tanah Pesantren Daarul Rahman. Ahmad adalah kawan almarhum saat di Gontor dan bersama-sama kuliah di Mesir. Saat itu aku sedang melakukan kegiatan  i'tikaf di 10 terakhir bulan Ramadhan di Masjidil Rahman, dan bertemu di tempat i'tikaf di bagian lantai bawah tanah (Badrom) masjidil haram di pintu/Bab al-Fath. Tentu saja saat masjidil haram belum direnovasi seperti saat ini.

Setelah kami bertiga ngobrol sana-sini, mereka pun kembali ke hotel sederhana di sekitar masjidil haram. Esoknya Taufiq kembali menemuiku di tempat itikafku. Dia bercerita bahwa dia sedang beradu argumen (berdebat) dengan temannya itu. Yaitu masalah mana yang lebih utama, apakah orang yang berjihad di Palestina atau Raja Fahd yang telah berjasa membangun dua Masjidil Haram dan memakmurkankannya untuk kemaslahatan dan kenyamanan jutaan muslim beribadah?. Taufiq pegang pendapat jihad lebih utama, dan Ahmad pegang raja Saudi yang telah membangun masjidil haram. Dia minta pendapatku. Lalu aku cuma menyodorkan ayat al-Quran yang berbunyi:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah (QS. At-Taubah: 19)

Setelah mendapat dalil itu, ia merasa mendapat amunisi untuk mendebat temannya itu. Sejak peristiwa itu, aku tidak tahu, beliau sangat ta'zhim sekali kepadaku. Meskipun aku lebih menta'zhimi beliau. Sebab jangankan secara keturunan yang beliau anak seorang kyai. Dari segi pendidikan pun beliau jauh di atas aku. Karena beliau saat menyelesaikan pendidkan S1-nya di Al-Azhar Mesir, beliau langsung melanjutkan pendidikan S2 dan S3 nya di Univeritas Omm Durman, Sudan hingga menggondol gelar Doktor. 

Pertemuan ketiga kalinya -setelah lama tak berjumpa- adalah saat di Bandara Sokerna-Hatta Jakarta. Saat itu beliau sudah sepekan tiba di Indoseia, Namun akan menjemput kawannya yang datang menyusul dan membawa ijazah S3 yang belum sempat dibawanya. Kebetulan saat itu aku sebagai Ketua STAI Asy-Syukriyah yang membutuhkan ijazah doktor untuk pengajuan izin pembukaan prodi baru Sekolah Tinggi-ku. Akhirnya kami janjian di Airport dan di sana almarhum langsung menyerahkan ijazah yang dibawa kawannya untuk keperluan pembukaan prodi baru di Sekolah Tinggi yang aku pimpin. Luar biasa, begitu ikhlas dan percaya nya beliau kepada kami.

Akhirnya, aku mendengar kabar beliau menjadi mudir (ketua) Ma'had An-Nuamy Jakarta, semacam Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan bahasa Arab (LIPIA).  Ma'had An-Nuamy menggunakan sistem semi pesantren. Disediakan asrama bagi mahasiswa. Bahasa pengantar pembelajarannya pun menggunakan bahasa Arab.

Suatu saat beliau menelpon ku, dan menceritakan akan membuka prodi ekonomi Islam di lembaganya. Karena beliau tahu bahwa aku lulusan prodi Ekonomi Islam baik saat di Umm al-Quro Makkah hingga UIN Syarif Hidayatullah, maka dia minta ijazah ku untuk mengurus pembukaan prodi tersebut. Ingat akan kebaikan beliau padaku, aku langsung datang ke lembaganya dan menyerahkan copy ijazahku.

Beliau adalah salah satu ulama yang membela dan mempertahankan aqidah dan amalan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Meskipun keberadaan beliau di PKS sering disikapi kecurigaan teman-teman yang menganggapnya sebagai wahabi. Beliau sempat curhat padaku seperti itu. Aku hanya menanggapi, ah itu biasa, yang penting kita harus yakin dan teguh serta lurus dalam memperjuangkan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah dan tetap menghormati guru-guru seta selalu berpihak kepada umat. Karena saat berpihak kepada umat, maka sebenarnya kita sedang membela hak-hak umat mayoritas yang beraliran Ahlus Sunnah wal Jamaah. Insya Allah waktu yang akan menjawabnya.

Tulisan-tulisan dan ceramah-ceramah beliau di medsos menunjukkan keberpihakan dan pembelaannya kepada ahlus sunnah wal jamaah.  Meski pun mendapat hujatan dari golongan Salafi Wahabi. Aku termasuk yang menshare beberapa tulisan dan ceramah youtube beliau.Beliau terakhir menjadi pengurus DSP Dewan Syariah Pusat PKS.  yang bertugas mengawasi kebijakan partai agar tak keluar dari koridor syariah Islam.

Beliau juga sedang mendirikan pesantrennya yang belum rampung semuanya.

Kini beliau dipanggil Allah swt yang Maha Pengasih dan Penyayang . Semoga Allah swt mengampuni kesalahannya, dan menerima iman-islamnya serta amal sholeh dan kebaikannya. Selamat jalan kawan, semoga bertemu dengan para syuhada dan orang-orang sholeh di taman surga Allah swt. Aamiin.

Senin, 22 Maret 2021

Aku dan Syeikh Muhammad Ali Ash-Shobuni

Oleh: Muhammad Jamhuri

Meski tidak aku menyadari, sebenarnya aku sudah mempelarai buku karya Syaikh Muhammad Ali Ash-Shobuni sejak aku duduk di kelas 6 atau 3 Aliyah saat nyantri di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta asuhan KH. Syukron Makmun. Saat itu aku belajar mata pelajaran Tafsir dengan guru pengajar DR. KH, Abul Muhith Abdul Fattah - Allahu yarhamuh-, alumni Universitas Ummul Quro Makkah.  Beliau mengajari kami surat An-Nuur yang ternyata dikutip dari kitab "Rowai' al-Bayan" karya Syeikh Muhammad Ali Ash-Shobuni. Hanya saja saat itu kami tidak menyadarinya. Setelah aku kuliah di Makkah, barulah  tahu, bahwa kitab itu karya almarhum Syeikh.Muhammad Ali Ash-Shobuni , ulama besar.

Setelah kuliah di Makkah, aku banyak melihat dan menggandurngi karya-karya beliau lainnya. Di antaranya Harokatul Alrd fil Qur'an (Pergerakan Bumi menurut al-Quran), "Hikmah Ta'addud Zaujatin Nabi Shallalllhu alihi wa salllam" (Hikmah Poligami Nabi saw), 'Rowai' al-Bayan" (Keindahan Penjelasan Al-Quran), "Syarah Riyaduhs Sholihin" (Syarah hadis-hadis dalam Kitab Riyaduhs Sholihin) dan lainnya.

Kitab "Harokatul Ardl fi Quran" beliau tulis karena masih banyaknyadikalangan  umat yang meragukan, apakah bumi itu bulat atau datar? Dalam buku itu beliau meyakinkan bahwa bumi ini bulat dan bergerak. Beliau mengutip surat An-Naml ayat 88

 وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ 

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Selain dosen dan ulama, beliau juga menjabat sebagai ketua Komite I'jaz al-Quran al-Ilmi di World Moslem League (Liga Muslim Dunia). Tidak heran banyak tulisan beliau yang berkaitan dengan astronomi. Salah satunya karya di atas.

Sedangkan kitab "Hikmah Ta'addud Zaujatin Nabi saw" yang aku baca dalam bentuk buku kecil (kutaib),  ternyata adalah bagian dari isi kitab tafsir "Rowai al-Bayan" beliau. Saya mengutip tulisan thema ini dan menyampaiakannya di acara Diskusi Pekanan di hadapan para mahasiswa Ummul Quro Makkah yang biasa diadakan setiap hari kamis. Kemudian, saat rame-rame berita isu Poligami AA Gym, tulisan saya ini diminta oleh wartawan harian Satelite News yang terbit di Tangerang, dan dimuat dalam satu halaman penuh harian tersebut. (lihat konten tulisan tersebut : : https://muhammadjamhuri.blogspot.com/2018/12/poligami-dalam-islam.html )

Meskiupun aku hampir tidak perneh bertemu dengan Syaikh Muhammad Ali Ash-Shobuni, namun karya-karya beliau sering aku santap. Kami bertemu beliau hanya sekali saat hadir di Majelis Abuya Muhammad Alwi Al-Maliki di kediaman beliau di distrik Al-Rusaifah.-Makkah,. Almarhum datang sebagai tamu beliau.

Kini ulama yang ilmunya mendunia ini telah meninggalkan kita. Beliau wafat pada hari Jumat pagi di Turki dalam usia 91 Tahun Masehi atau 93 tahun Hijriyah. Beliau dilahirkan di kota Halb (Aleppo) Syria pada tahun 1930 M, Menyelesaikan studinya di Universitas Al-Azhar, Cauro hingga level Takhassus 1954 M.

Beliau menghabiskan lebih dari 30 tahun hidupnya untuk mengajar di Makkah al-Mukarramah. Banyak murid-muridnya yang menjadi kyai, ulama dan tokoh agama di negerinya, termasuk murid-murid beliau di Indonesia,

Beliau tidak pernah mau berbaris sedikitpun bersama mereka yang mendukung kezaliman. Karyanya cukup banyak diantaranya adalah: "Shafwatut Tafasir" dan Tafsir "Rowai al-Bayan."

Semoga Allah swt merahmati beliau dengan rahmatNya yang luas, membalas seluruh khidmahnya, jihadnya dan jasanya untuk umat Islam, serta menempatkan beliau dalam kenikmatan dan keabadian surgaNya. Aamiin

Berikut link Proses Pemakanan jenazah Syaikh Muhammad Ali Ash-Shobunii di Turki berdekatan dengan makam Necmettin Erbakan (mantan perdana menteri Turki):

https://www.youtube.com/watch?v=PRZ5L96bNtQ

https://www.youtube.com/watch?v=bYWqpdAIaEk

Jumat, 12 Februari 2021

STRATEGI BISNIS DI MASA PANDEMI (PART 2)


Cafe, biasanya identik dengan kopi dengan segala aneka rasanya, seperti cappucino, American Coffe, White Coffe, Vanilla coffe dan lainnya.

Namun di masa pandemi, pembisnis harus dapat mengambil peluang dalam segala kondisi.
Cafe di sebuah mini market ini memberi pilihan "coffe" nya. Ia menawarkan minuman "Jahe Kunyit" dan "Jus Bawang Putih". Jelas tidak ada hubungannya dengan kopi atau coffe, atau untuk sebuah cafe.
Dengan harga promo, istri saya mencoba yang Jahe Kunyit. Begitu disedot, asli rasa jamu gendong. Dia meringis mukanya saat mencoba. Saya pun kurang nyaman menikmatinya.
Tapi dari info kejadian di cafe itu. Istri saya mencoba membuat minuman "Jus Bawang Putih" dengan modifikasi madu, untuk disuguhkan kepada saya. Wow luar biasa rasanya. Gak bau, dan manisnya aman. Manis madu.
Besoknya saya ketagihan, dan minta disediakan tiap pagi sebelum sarapan serta malam sebelum tidur. Badan pun terasa segar.

STRATEGI BISNIS DI MASA PANDEMI (PART-1)

Saya tidak sedang beriklan suatu merek dagang. Tapi memang ada dua (2) fenomena yang menjadi pelajaran "strategi bisnis" saat saya mengajak putra--putri saya buka puasa sunah senin lalu di rumah makan.

Di masa pandemi ini. Pemerintah daerah membatasi jam usaha rumah makan hanya hingga pukul. 20.00 wib, karena dikhawatirkan semakin malam semakin banyak pengunjung. Sehingga akan terjadi kerumunan. Namun rumah makan ini punya strategi untuk memperpanjang aktifitas bisnisnya. Yaitu tidak melayani makan di tempat, namun melayani makan di mobil dengan tambahan jam buka. Tentu ini suatu strategi sendiri.

Yang kedua, di depan rumah makan itu ada penjual asongan poster religi, seperti poster Ancaman Menìnggalkan Sholat, Tanda-tanda Kiamat dan lainnya (dalam foto orangnya buram sedang berjalan di belakang mobil). Anak saya ingin membeli. Ketika ditanya, berapa harganya? Penjual itu menjawab, "seikhlasnya". Tentu saja saat saya membayar, malu minta kembalian sisanya, meskipun saya yakin harganya tidak sebesar itu. Apalagi penjual itu penampilannya berjubah dan berjanggut yang identik dengan orang ahli ibadah. Yaa.. itung2 sedekah buat orang soleh.

Rawa Buntu 21 Januari 2021

Pelajaran:
1. Pembisnis harus bisa beradaptasi dan mencari peluang yg tepat di perubahan kondisi.
2. Bisnis dg cara langit, hasilnya bisa lebih dari yg diperkirakan.

Berguru Kepada Syaik Abdul Fattah Husein Rawah, Ulama Masjidjil Haram Asal Aceh

PERNAH MENGAJI DAN BERGURU KEPADA SALAH SATU DI ANTARA MEREKA

Segala puji bagi Allah, saya pernah berguru kepada salah
satu di antara mereka, yaitu Syeikh Abdul Fattah Husein Rawah (daftar no 13.) karya beliau “Al-Ifsoh ‘Ala Masail al-Idhoh (Penjelasan atas kitab Al-Idhoh/ fi Manasik al-Hajj wa al-Umroh, karya Imam al-Nawawi). Halaqah pengajiannya saat itu dekat Pintu Bab al-Salam Masjidil Haram antara tahun 1996-2000
Roimahullah wa rohimahumullah rohmatan wasi’ah, nafa’aniyallahu bi ’ulumihi fi al-daaroin. Aamiin
Berikut daftar Ulama Nusantara yang dimakamkan di Jannatul Ma'la Makkah Al-Mukarromah, antara lain:
  1. Syaikh Nawawi bin Umar al-Bantani (w. 25 Syawal 1314 H/ 29 Maret 1879 M.)
  2. Syaikh Ahmad Khatib al-Minkabawi (w. 19 Jumadil Awwal 1334 H/ 13 Maret 1916 M.)
  3. Syaikh Mahfudz al-Tarmasi (w. 1 Rajab 1338 H/ 22 Maret 1920 M.)
  4. Syaikh Abdul Hamid al-Qudsi (w. 9 Rajab 1334 H/ 12 Mei 1915 M.)
  5. Syaikh Ahmad Nahrawi al-Banyumasi (w. 1926 M).
  6. Syaikh Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa (w. 10 Jumadis Tsani 1354 H/ 28 September 1935 M.)
  7. Syaikh Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi (w. 1376 H/ 1956 M.)
  8. Syaikh Ali bin Abdullah al-Banjari (w. 1370 H/ 1950 M.)
  9. Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al-Padani (w. 28 Dzulhijjah 1440 H/ 23 Juli 1990 M.)
  10. Syaikh Abdul Qadir al-Mandaili (w. 20 Rabi'ul Akhir 1385 H/ 18 Agustus 1965 M.)
  11. KH. Abdul Karim bin KH. M. Hasyim Asy'ari (w. 1972 M.)
  12. Syaikh Abdullah Durdum al-Padani (w. 27 Sya'ban 1407 H./ 27 April 1987 M.)
  13. Syaikh Abdul Fattah Rawa (w. 1424 H/ 2003 M.
  14. KH. Maimoen Zubair (w. 5 Dzulhijjah 1440 H. / 6 Agustus 2019 M.)
اللهم امتنا في طريقتهم واحشرنا في زمرتهم والحقنا بهم في دار النعيم

Gambar:
Kitab yg diajar beliau sejak saya membelinya pertama kali, alhamdulillah tiap pergi haji saya bawa selalu. Semoga Allah merahmati beliau dan semua guru-guru kami.

Aku dan Alm. Ust. Taufiq Ridho

Almarhum H. Taufiq Ridho & keluarga

Sudah lama aku mengenal beliau, tapi beliau belum pernah mengenalku. Beliau mengenalku sejak aku bergabung di STEI SEBI yang saat itu kampusnya masih di Cipitat.

Saat silaturahim ke Sekolah Tinggi yang konsen menebar ekonomi syariah di bumi pertiwi ini,, beliau langsung menyambutku dengan ramah. Bahkan aku langsung ditodong untuk mengajar mata kuliah RIBA DAN GHOROR, satu mata kuliah yang belum dilepas Bapak Prof.DR. Didin Hafifudin yang saat itu menjadi Ketua STEI SEBI dikarenakan kesibukan beliau yang juga menjadi ketua program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Kholdun - Bogor .saat itu.

Saat saya tidak percaya diri diberi tugas mengajar Mata Kuliah "Ekonomi Makro Islam" dan "Ekonomi Mikro Islam", beliau-lah yang menguatkan saya bahwa saya mampu melakukannya. Lalu beliau bercerita bahwa saat beliau pulang dari Yordania dahulu pun merasa tidak PD (Percaya Diri), namun sering dengan perjalanannya ternyata bisa dilalui, bahkan lembaganya dipercaya lembaga-lembaga keuangan syariah di Tanah Air.
Sejak itu, bila bertemu beliau pada acara-acara tertentu, beliau masih mengenal saya..Padahal beliau manusia super sibuk. "Jamhuri....!, kaef haluk syeikh?" begitu kalo beliau memanggil saya.
Beliau juga pencipta dan pelantun nasyid-nasyid bersemangat. Melalui grup nasyidnya SHOUTUL HAROKAH saya bisa menangkap suara khas beliau. "Inii Suara Taufiq Ridho nih..." dalam hati saya jika aku putar lagu Shoutul Harokah saat di mobil atau lainnya. Termasuk lagu "KAMPANYE CALON PRESIDEN PRABOWO" pun saya mengenal jelas suara beliau...
Kini beliau meninggalkan kami karena Allah lebih mencintainya. Semoga Allah menerima amal shalehnya serta mengampuni kekhilafannya
. Selamat jalan teman, semoga engkau dikumpulkan bersama para nabi, shoddiqin, syuhada dan sholihin. Aamiin.

Rumpin, 6 Jnauari 2017

Saat Kuliah, Aku Pernah Sanggah Pernyataan Dosenku...

Saya pernah mempunyai dosen saat kuliah pascasarjana (S2) di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta yang menjelekkan penerapan hukum Islam jika hukum Islam diterapkan di Indonesia. Alasannya karena jika hukum Islam diterapkan, maka akan mengubah adat istiadat nusantara yang harus dilestarikan. Salah satunya adalah adat tradisi yang ada di Papua. Dimana, sebagian kaum lelaki di sana menggunakan koteka yang tentu saja auratnya akan kelihatan. 

Saya bilang, Dalam teori ilmu sosial, kemajuan peradaban suatu suku atau negara dilihat dari berbagai aspek, mulai dari peraturan,/ketertibannya, tata kota hingga budaya termasuk budaya berpakaian. Semakin rapi dalam berpakaian maka semakin berbudaya suatu masyarakat. Oleh sebab itu. Islam datang untuk memajukan peradaban manusia. Jika sebelumnya masyarakat tidak mengenal mandi atau mandinya seadanya dan semaunya. Islam datang mengajarkan tata cara mandi dan bersuci. Jika sebelumnya suatu suku tidak mengenal berpakain yang layak dan baik. Islam mengajarkan bepakain yang baik dan menutup aurat. Bahkan mengajarkan memakai wewangian. Singkatnya, Islam datang untuk memajukan perdaban manusia.

Saya menambahkan, sedangkan kaum misionaris kristen yang datang di sana saat ini justru membiarkan mereka sebagian suku Papua terkebalakang dalam budaya dan peradaban, mereka dibiarkan bertelanjang dan hidup primitif, sementara mereka kaum misionaris bekerjasama dengan kaum kapitalis mengeruk kekayaan alam papua, seperti tambang emas, hutan dan lainnya...dan membiarkan masyarakatnya hidup miskin dan keterbelakang dalam segala sisi

Rabu, 09 Desember 2020

AKU DAN DAN ALMARHUM UST. DR. MUINUDINILLAH BASHRI

Aku mengenal beliau, saat aku, beliau dan DR. Mawardi menjadi pemakalah dalam acara seminar Silaturrahim Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Saudi Arabia. Aku ditunjuk sebagai pemakalah utusan Mahasiswa dari Makkah (Umm al-Quro University), Ust. Muinuddin (almarhum) utusan dari Riyadh (Jamiah al-Imam) dan Ust. Mawardi utusan dari Madinah (Islamic Unibersity).

Aku mengenal almarhum semasa hidupnya sebagai sosok yang sederhana, supel, mudah menolong orang, namun juga istiqomah dan tegas dalam prinsip Islam.
Setiap beliau pergi umroh ke Makkah aku dan kawan-kawan di Mekkah tak melewatkan untuk bertemu/sowan dan silaturrahim ke hotelnya, atau ke tempat beliau menginap.

Kalau sudah membantu orang, beliau kesampingkan keperluan pribadinya. Beliau fokus agar masalah orang yg dibantunya dapat segera selesai.

Ada musibah besar datang kepada beliau. Disertasi doktoralnya yang sudah rampung, hilang terhapus di komputernya. Tak ada backup. Namun dengan sabar beliau mengulang kembali menulisnya dan merampungkannya.

Terakhir aku bertemu beliau di musiim haji tahun 2019 sebelum Corona. Di hari-hari Mina kami dan beberapa asatidz pembimbing haji bersilatirrahim di gedung Restoran Turki (al-Madzaq al-Turky) yg bersebarangan dengan hotel tempat aku menginap Funduq Muna dan bersebarangan dengan Super Market Bin Dawood Syisyah dekat Mina dan Jamarot.

Kini Beliau sudah kembali ke rahmatullah. Memang kita tak bisa bertemu fisik lagi, tapi ruh orang sholeh akan saling bertemu..insya Allah.

Selamat jalan Guru dan sahabatku..
Engkau telah mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepadamu sebagai mujahid..
Engkau adalah Sabiqun bil Khoir..
Engkau sedang istirahat dengan tenang setelah berjibaku berjihad selama hiduo di dunia.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه واجعل الجنة مأواه

(Jamhuri, 9 Desember 2021)

Senin, 07 Desember 2020

KALENDER ITU TELAH MEMBERI "HIDAYAH" AKU MASUK PESANTREN.


(Lanjutan Kisah : "Emakku Ajari Aku Kitab ini" /Turutan)

Aku tamat ngaji TURUTAN pd Emakku saat duduk di kelas 4 SD (Sekolah Dasar). Aku mulai naik ke level ngaji "Quran Besar". Mulai dari al-Fatihah hingga alif lam mim (saat itu belum tahu namanya surat al baqarah). Emakku bukan seorang ustazah. Jadi gak detail ngajari surat apanya?. Bahkan dulu sewaktu ngaji TURUTAN gak kenal surat al-ihlas, tahunya surat Qulhu. Yg penting aku ikutin apa yang Emakku tuntun.

Menjelang naik ke kelas 5, ada seorang ustadz ngontrak rumah yang terletak di depan rumahku. Emakku menyarankan supaya ngaji kepadanya. Tapi bukan umtuk belajar Quran, tapi belajar agar aku bisa mendoakan atau mengirim tahlil dan doa kepada orang tua. "Belajar sama ust Jayadi ya? Biar Emak dan Bapak kalau mati nanti bisa dikirimin tahlil dan Yasin." Begitu pesan Emakku. Tapi, dalam perjalanannya, aku diajari quran juga secara privat oleh ustadz itu. Terus demikian berjalan, hingga menjelang aku lulus SD. 

Di tengah ngaji dengan ustadz itulah aku jadi mengenal istilah "pesantren". Maklum kawasan Angke Sawah lio x Jakarta Barat tidak ada anak situ yang dipesantrenkan. Aku.mengenal pesantren, karena setiap aku ngaji,  aku melihat kalender yang ada di dinding sandaran ustadz ku itu di rumahnya tiap kali datang mengaji. Diam-diam jika sang ustadz sedang ke kamar atau toilet, aku berdiri untuk melihat-lihat gambar kalender. Ternyata itu kalender Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta. Ada gambar pimpinannya KH.Syukron Makmun. Tentu, saat itu aku belum mengenal siapa beliau?

Akhirnya aku pun memberanikan bertanya-tanya tentang pesantren itu. Ustadz itu malah mengantarkan ku ke rumah keponakannya yang kebetulan sedang mondok di sana dan kebetulan saat itu sedang liburan. Ponakan ustadz aku itu  sedang duduk di kelas 3 tsnawiyah di pesantreb. (sayangnya, dia berhenti sebelum naik kls 4).

Waktu berjalan. Aku pun tamat dari SD, aku sudah bertekad masuk pesantren. Karena di kalender itu terdapat informasi semua kegiatan sudah ada. Itu yang menarik bagiku. Namun Kepala madrasahku  menyesalkan aku jika tidak ikut tes SMPN. Akhirnya aku tetap didaftarkan di 3 SMPN favorit kotaku. Aku manut. Dan aku pun lulus ujian di salah satu SMPN favorit. Namun aku tidak ambil. Karena aku tetap bertekad ke pesantren.

Ah, Entah apa jadinya aku? Jika saat itu tidak ada "hidayah" menuju pesantren melalui satu eksemplar kalender? Karena masa kecilku tak ada yang mengenalkan tentang pesantren. 

Maklum  zamanku dahulu belum ada medsos dan internet. Dan pesantren pun nasibnya masih dinomor sekiankan oleh masyarakat

Hidayah Allah bisa datang lewat apa saja.. tangkap dan syukuri...

(M. Jamhuri  7/12/2021)

Sabtu, 05 Desember 2020

EMAK-KU YANG MENGAJARIKU BUKU INI

Saya bangga punya Emak yang terus mengajariku tiap malam buku ini. Dulu kami menyebutnya buku "TURUTAN". Entah mengapa dinamai seperti itu. Padahal tulisan di covernya "Juz Amma, 'Ala at-Thoriqoh al Baghdadiyah", yg setelah besar saya baru tahu artinya adalah "Juz Amma Metode Baghdad".

Saat kecil, saya melihat teman-teman mengaji di rumah pengajian seorang ustazah. Hampir semua anak2 tetangga sebaya saya mengaji di sana. Banyak muridnya, karena selain ngaji juga diajari lagu dan tari, sehingga menarik buat anak-anak. Saya sempat mermohon pada Emak saya agar didaftarkan di pengajian ustazah tersebut. Tapi Emak saya berkata "Sudah, disini saja belajar sama Emak, di sana kita harus bayaran". Emak saya tukang jahit di pasar, menerima tambalan baju atau celana orang di pasar. Saya hanya cuma bisa mengeluarkan air mata permohonan saya ditolak.
Saya ngaji di hadapan Emak, Emak mengajariku sambil melakukan pekerjaan jahitannya. Kadang pasang kancing, atau memutus jahitan2 pakaian yg akan diperbersar sesuai keinginan pelanggannya.
Habis ngaji, saya pergi ke pengajian ustazah. Tp hanya bisa berdiri melihat dari luar jendela berkawat krn saya bukan murid resmi. Sy lihat di sana diajari kitab Babul.Minan yaitu kitab bertuliskan Arab melayu tentang rukun Islam. Esoknya saya minta Emak sy mengajariku kitab yg sama. Sehingga, setelah ngaji TURUTAN lalu dlanjut dg BABUL MINAN.
Alhamdulillah dg bekal diajari kitab bertulis arab melayu itu, saya bisa berkomunikasi kepada Emak saya melalui surat yg saya tulis dengan bahasa Arab Melayu, saat saya kuliah.di Makkah Arab Saudi. Karena Emak saya tidak bisa membaca tulisan latin dari kecil hingga wafatnya. Tapi kalau membaca buku yg bertuliskan Arab melayu, beliau bisa membacanya. Seperti kitab "Perukunan Melayu" berisi amalan dan doa2 harian.
Ketika tamat ngaji TURUTAN, saya meminta Emak saya agar mengdakan selamatan dengan nasi kuning. Karena itulah yg saya lihat di pengajian ustazah tempat teman2 saya mengaji. Emak pun mengabulkan.. Saya angkut sendiri nasi kuning yg diletakkan baskom besar ke musholla untuk didoakan.
Kini, setiap kali aku membaca Al-Quran, aku selalu ingat Emak ku. Dalam hati kecil ku memdoakan " Ya Allah, semoga setiap huruf dari Quran yg kubaca, pahalanya terkirim buat almarhumah Emak-ku. Aamiin"