Tampilkan postingan dengan label Tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsaqofah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 September 2024

Rahasia Pesan Ayat Ini Terdapat Dalam Tiga Surat yang Berbeda Namun Saling Berkaitan

KH. DR Musyfiq Amrullah Lc. MA
Bogor - "Ayat ini tercantum dalam tiga surat yang berbeda, menurut sebagian Ulama Tafsir, ada rahasia pesan yang tersirat dalam ayat ini". Demikan salah satu isi ceramah yang disampaikan oleh KH. DR. Musyfiq Amrullah, Lc.MA dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dan Gema Sholawat yang diadakan di Pesantren Modern Perpaduan Daarul Mughni Al-Maliki, Bogor, Kamis, 12 oktober 2024

Ayat yang dimaksud adalah:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

"Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai."

ِAyat seperti ini tercantum pada tiga tempat yang berbeda dalam al-Quran, yaitu; Surat At Taubah ayat 33, surat Al- Afth ayat 28, dan surat As-Shoff ayat 9. "Letak ayat ini mengandung rahasia pesan di dalamnya. Lalu apa pesan rahasia yang terkandung di dalamnya?" Tanya Kyai Musyfiq di hadapan ribuan santri dan jamaah.

Ribuan santri dan masyarakat yang hadir di acara Maulid

Pertama, ayat ini terletak di dalam "surat Taubah", seakan Allah memberi pesan kepada hambanya, bahwa jika ingin agama Islam ini dimenangkan oleh Allah swt, maka umat Islam harus rajin melakukan muhasabah dan instrospeksi secara internal, apakah mereka telah beragama dengan baik? Adakah kesalahan yang selama ini mereka lakukan dalam beragama?. Jika setiap muslim, baik secara individu maupun kolekstif, melakukan muhasbah kemudian dibarengi dengan taubat dan memperbaiki diri maka, insya Allah, agama ini akan dimenangkan oleh Allah swt.

Kedua, ayat ini juga terdapat pada surat As-Shoff (Barisan) yang salah satu kandungan pesannya adalah agar umat Islam bersatu dalam satu barisan yang rapi seperti bangunan yang kokoh. Seakan ini memberi pesan agar umat Islam bersatu dan mengurangi perbedaan yang dapat memecah belah persatuan mereka. Karena tidak mungkin umat Islam akan dimenenangkan, jika dalam tubuh umat masih ada perpecahan. "Saat ini umat Islam sedang di adu domba dan dipecah belah oleh pihak-pihak tertentu. "Kita jangan mau terbawa dengan isu yang hanya akan menimbulkan perperpecahan di dalam tubuh umat Islam". Ajak Kyai Musyfiq kepada para jamaah. "Maka jika ingin agama islam ini  dimenangkan oleh Allah swt, maka hendaklah kita bersatu merapatkan barisan (shaff)". Tambah Kyai pimpinan Pesantren At-Tawazun Subang ini.

Ketuga, ayat ini juga terdapat dalam surat Al-Fath (kemenangan), seakan memberi pesan kepada kita bahwa jika kita selalu rajin bermuhasabah dan taubat, kemudian kita merapatkan barisan (shaff) umat Islam, maka kita akan merasakan al-Fath (kemenangan), sebagaimana yang Allah janjikan pada awal surat al-Fath ini:  "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata" (QS. Al-Fath: 1)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dan Gema Shalawat ini dihadiri oleh Habib Syeikh bin Abdul Qodir As-Segaf dan cucu beliau Muhammad al-Hadi  dari Solo yang memeriahkan acara tersebut dengan lantunan sholawat yang diikuti oleh ribuan santri dan warga Klapa Nunggal dan sekitarnya.

Hadir pula para tokoh masyarakat, dari kalangan pejabat pemerintah serta para pimpinan pesantren se-Jabodetabek dan Jawa Barat.

(laporan M. Jamhuri)

Jumat, 17 November 2023

Kesan-Kesan Berkunjungan ke Spanyol: "Aku temukan Islam di Negara Non Muslim, dan Tak Ku Temukan Islam di Negara Muslim"

Islamic Center di Madrid Spanyol
"Aku temukan Islam di Negara Non Muslim, dan Tak Ku Temukan Islam di Negara Muslim". Begitulah kesan yang pernah diutarakan oleh Syeikh DR. Yusuf al-Qordhowi dalam sebuah tulisannya sekitar dua puluh tahun lalu, saat saya masih kuliah di Makkah. 

Ternyata, kini kesan itu saya rasakan saat saya mengunjungi negeri Spanyol yang merupakan negeri yang ada di bagian barat benua Eropa. Untuk mencapai benua Eropa lewat Spanyol dari Maroko yang letaknya di utara benua Afrika hanya menyeberangi selat Gibraltar yang cuma ditempuh 30 menit saja jika menggunakan ferri penyebrangan. Tepatnya dari daerah Tonjah (Tanger) di Maroko menyeberangi selat Gibraltar ke daerah Tarifah (wilayah Spanyol)

Di depan Stadion Club Real Madrid - Spanyol
Ternyata , padahal di Spanyol, dan umumnya di Eropa di abad pertengahan dahulu dikenal dengan Dark Age (Era Kegeleapan) dimana konidisinya masih sangat primitif dan terkebelakang. Hingga tentara Spanyol dibawah komando raja Ferdinand dan dan ratu Isabella saat melakukan genoside terhadap warga muslim saat itu harus mencirikan warga muslim dengan kepemilikan wc atau kamar mandi di setiap rumahnya. Karena bangsa Eropa belum mengenal kebersihan seperti layaknya kaum muslimin. Jika ada orang muslim dengan diam-diam terpaksa harus mengaku kafir, tetap akan dibantai jika diperiksa di dalam rumahnya terdapat toiket atau kamar mandi.

Namun sekarang berubah 100%, setiap rumah warga Eropa di dalam rumah sudah memiliki wc dan kamar mandi yang justru lebih bagus dan bersih dari pada yang dimiliki oleh umat Islam di negara-negara mayoritas muslim, meskipun saya banyak menemukan wc atau toilet-toilet di rest area yang saya singgahi tidak terdapat wc dengan alat bersuci intinja dengan air, kecuali hanya disediakan tisu-tisu saja. Demikian juga yang terdapat di hotel-hotel di Spanyol. Sehingga kita sebagai orang Indonesia yang biasa beristinja menggunakan air merasa risih dan kesulitasn untuk beristinja setelah BAB atau BAK yang hanya menggunakan tisu saja di sana.

Salah satu kondisi yang patut kita cermati dan contoh adalah kebersihan di setiap sudut kota dan gang yang ada di Spanyol. Kami tidak menemukan sampah-sampah berserakan, baik di tengah jalan maupun di pinggir atau sudut kota. Hingga pada saat kami akan membuang sampah dari apartement yang kami sewa di luar apartement sulit mencari tempat sampah dimana sampah terlihat berantakan kecuali agak jauh kami temukan dan itupun tempat sampahnya dalam kondisi tertutup rapi dalam tempat sampah yang disediakan.

Kemudian budaya antri begitu sangat tertib. Hingga kami saat mohon didahulukan saat chek-in pesawat di Bandara pun, semua pihak, baik petugas bandara maupun calon penumpang tidak memberi izin untuk kami mendahului antrian. Mereka berkata: "Every body olso want to be first". Semua orang juga sama mau duluan. Akibatnya saat akan naik pesawat dari Madrid ke Rabat, saya ketinggalan pesawat padahal pesawat belum benar-benar take off dan saya tidak bisa bernego lagi. akhirnya kami harus membeli tiket pesawat baru dan berangkat malamnya. Jadi di Eropa jangan main-main dalam masalah didisplin waktu dan antri

Kamis, 13 April 2023

Ramadhan dan Optimisme Dunia Menuju Kehidupan yang Islami

Umat Islam AS shalat taraweh di Time Square New York
Seorang jamaah dalam sebuah pengajian bertanya kepada seorang ustadz, "Pak Ustadz, apa yang dimaksud dari sebuah hadist Nabi Muhammad saw yang menyatakan,  bahwa di bulan Ramadhan, syetan-syetan dibelenggu? ". 

Sang ustadz menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan hadist itu karena di bulan Ramadhan suasana kehidupan umat Islam di mana-mana lebih religi, sehingga pemandangan kemaksiatan berkurang. Di mana-mana kesadaran umat islam meningkat tinggi dalam mengamalkan ajaran Islam. Hampir semua sektor tersentuh dengan suasana Ramadhan. Entertaitment di televisi-teleivisi berubah menjadi Islami, Toko-toko berbau maksiat tutup, sehingga sulit bagi syetan untuk menggoda manusia ke jalan kemungkaran, karena di sana-sini sudah terkunci baginya untuk menjalankan misinya. Bagaikan seseorang yang terbelenggu, tidak dapat bergerak bebas melakukan program dan tujuannya kepada manusia, kecuali di ruang-ruang yang sempit yang syetan masih dapat melakukan misinya. "Itulah makna terbelenggunya syetan." Jelas sang ustadz.

Pernyataan dan penjelasan sang ustadz di atas selain menjawab pertanyaan yang sering timbul di benak sebagaian kaum muslimin, namun juga memberi angin segar rasa optimisme bagi para aktifis dakwah,  da'i, ulama, ustadz dan umat Islam secara kesuluruhan, bahwa suasana dunia masih dapat diubah dan berubah kepada kondisi kehidupan yang Islami. Betapa wilayah Time Square di kota New York  Amerikat Serikat baru-baru ini telah menghadirkan suasana berbuka puasa bersama dan shalat taraweh yang belum ada sebelumnya dalam tiga tahun terakhir ini. Sebuah pemandangan religi dan Islami yang beritanya mendunia sehingga berdampak pada hampir seluruh penduduk dunia Demikian juga lapangan-lapangan sepakbola dan stadion dari berbagai club-club di Eropa telah nampak mengistirahatkan para pemain sepak bola nya di saat memasuki waktu maghrib demi menghormati pemain muslim berbuka puasa, kepala-kepala negara dari negara-negara non muslim besar secara terbuka menyampaikan selamat beribadah puasa kepada kaum muslimin di seluruh dunia.

Acara-acara di TV, mall-mall dan pusat perbelanjaan yang biasanya berisi hiburan semata berubah menjadi lebih religi dan islami. Di beberapa mall ada acara lomba adzan, MTQ, marawis, hadroh dan ceramah-ceramah keagamaan.

Relawan-relawan penebar kebaikan seperti pembagian ta'jil di jalan-jalan raya atau Ta'jil On The Road (TOR), di mesjid-mesjid umum serta tempat terbuka lainnya semakin marak. Saat ini jika kita berada dalam perjalanan lalu kemasukan waktu maghrib/berbuka puasa di jalan, maka tinggal mampir di masjid manapun, maka pasti masjid tersebut telah menyediakan makanan untuk ta'jil atau berbuka puasa. Belum lagi kegiatan-kegiatan itikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan kini semakin menjamur di berbagai wilayah dan propinsi, sesuatu yang belum terlihat pada dua sekade sebelumnya. 

Jiwa-jiwa kebaikan dalam hati setiap manusia kini semakin semarak di tengah bulan Ramadahan ini. Oleh sebab itu, kondisi ini adalah sebuah fakta bahwa perubahan dunia ke arah suasana berkehidupan Islami itu adalah sebuah keniscayaan.

Ramadhan memang telah memberikan optimisme kepada seluruh umat Islam, karena Ramadhan telah menyatukan seuluruh umat Islam sedunia dalam satu perasaan yang sama, suasana yang sama, kebersamaan yang, kepedulian yang sama serta tanggung jawab yang sama. Mereka bersama-sama menahan rasa lapar di siang hari, mereka bersama berbahagia saat waktu berbuka puasa tiba, mereka saling memberi ta'jil kepada saudara-saudaranya dan bahkan mereka memberi dampak positif bagi saudara-saudara mereka yang masih belum beriman.

Maka bulan Ramadahan yang di dalamnya terdapat syariat berpuasa, taraweh, itikaf dan lain sebagainya adalah sebuah nikmat hidayah yang diberikan Allah swt kepada umat Islam dan umat manusia yang wajib disyukuri. Firman Allah swt :

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185)

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Allahu Akbar..Walillahil Hamd....

Muhammad Jamhuri, 23 Ramadhan 1444 H/12 April 2023 M




Sabtu, 30 Juli 2022

ABRAHIMISME DAN "MILLAH" IBRAHIM

 

Sering kali kata "isme" yang ada di belakang kata dasar diartikan sebagai "ajaran" atau "ideologi". Sebagai contoh kata Leninisme berarti ajaran atau ideologi yang dibawa oleh Lenin. Oleh sebab itu, kaum orintalist dulu sering menyebut "Muhammadisme" yang sebagai ajaran atau ideologi yang dibawa Muhammad. Mereka mensejajarkan dengan isme-isme atau agama yang ada. Yaitu menyebut agama dinisbatkan pada tempat atau pada si pembawa agama. Sebut saja misalnya agama budha (Budhisme) dibawa oleh Sidarta Budha Gautama, Hindu (Hindusme) lahir dan berasal dari Hindustan (India), Yahudi (Yudaisme/Jewis) dibawa oleh Yahuda, Kristen (Christian) dibawa oleh Yesus Kristus dan lainnya. Tentu saja penamaan ini salah jika dinisbatkan kepada Islam. Karena jika Islam disebut Muhammadinisme (ajaran Muhammad) maka akan terindikasi seakan Muhammad lah yang "mengarang" dan ajaran yang dibawanya. Padahal ajarannya adalah Islam yang merupakan wahyu dari Allah swt
Berbeda dengan Islam. nama ajarannya adalah Islam dan penamaan Islam itu datang langsung dari Allah swt. Firman Allah:
ان الدين عند الله الاسلام
Agama yang benar di sisi Allah adalah Islam (Qs. Ali Imron: 19)
ومن يبتغ غير الاسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الاخرة من الخاسرين
Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, maka dia tertolak. Dan dia di akhirat termasuk orang2 yang merugi
(Qs. Ali Imron: 85)

AJAKAN ISRAEL

Kini gaung Abrahimisme mulai digaungkan lagi, terutama oleh pihak Israel. Mereka menjadikan Abrahimisme sebagai alat diplomatik untuk membangun kerjasama dan pembukaan kantor diplomatik di negara-negara Islam. Mereka merayu negara muslim bahwa mereka satu rumpun berasal dari Ibrahim.
Secara sejarah memang benar. Karena Ibrahim adalah Abul Anbiya (bapak moyong para nabi). Ibrahim memiliki putra bernama Ismail yang berketurunan Nabi Muhhammad, dan Ishaq yang berketurunan para Nabi termasuk Musa dan Isa as. Namun kewarisan nasab saja tidak cukup. Kewarisan agama lebih penting dari sekedar kewarisan nasab. Oleh sebab itu dalam ilmu waris anak kafir atau murtad tidak bisa mendapat warisan dari ayahnya yang muslim atau sebaliknya.
Sebagian anak keturunan Ibrahim memang masih melestarikan millah Ibrohim, bahkan ada yang bergelar Nabi dan Rasul. Tapi sebagian besar umatnya telah melenceng dari millah Ibrahim. Bahkan diutusnya nabi rasul dari mereka bertujuan meluruskan aqidah mereka yang salah.
Lalu apa sebenarnya agama yang dianut Ibrahim as? Tidak lain adalah agama Islam. Allah swt berfirman:
ما كان ابراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما وما كان من المشركين
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi juga bukan seorang Nasrani, tapi dia seorang Muslim yang lurus. Juga bukan termasuk yang beragama pagan (musyrik). (Qs. Ali Imran: 67)
ووصى بها ابرهيم بنيه ويعقوب يا بني ان الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن الا وانتم مسلمون
Dan Ibrahim telah berwasiat dengan nya (islam) kepada anak-anaknya dan Ya'kub (Israil), wahai anak-anakku sesungguhnya Allah telah memilih untuk kalian agama (Islam). Maka janganlah kamu sekali2 mati kecuali dalam keadaan muslim. (Qs. Al-Baqarah: 132)
Jadi, mestinya, jika sadar, mereka (Yahudi dan Nasrani) hendaknya mengikuti millah Ibrahim yang tidak lain adalah ajaran tauhid atau Islam dan tidak menyekutukan Allah.
Oleh sebab al-Quran banyak menyebut kata "an ittabi' millata Ibrahim" sebagai pesan bahwa jika benar-benar mengaku sebagai Abrahimiyyun (pengikut ajaran Ibrahim) hendaknya mengikuti ajaran tauhid yang dibawa Ibrahim serta ajaran-ajaran yang dibawanya.

Umat Islam-lah yang Mewarisi Millah Ibrahim
Kenyatannya secara ilmiah dan empirik, umat Islamlah yang mewarisi Millah Ibrahim. Berikut adalah buktinya:
  1. Ibrahim as membawa agama tauhid yang hanya menuhankan Allah dan tidak ada sekutu baginya, walau berupa anak.
  2. Perintah ibadah haji turun di zaman Nabi Ibrahim as. Dan yang melestarikan ibadah ini hingga kini hanya umat Islam
  3. Ajaran berqurban yang dicontohkan Nabi Ibrahim dahulu, pun yang melestarkannya adalah umat Islam.
  4. Ajaran berkhitan di zaman Nabi Ibrahim pun masih dilestarikan dan dijalankan oleh umat Islam hingga kini.
  5. Shalawat Ibrahimiyah yang dibaca di tahiyat akhir dalam sholat menunjukkan hubungan antara nabi Muhammad saw dengan Nabi Ibrahim alaihissalam
  6. Dzikir dan wirid "Asbahna ala fithrotil Islam wa kalimatil ikhlas, wa ala diini nabiyyina muhammadin shallallahu alaihi wa sallam, wa ala millati ibrohim hanifan wa maa kaana minal musyrikin" adalah pengulangan dan pengakuan akan kesetiaan umat Islam pada millah Ibrahim.
Jadi bersyukurlah kita memeluk agama Islam, karena keaslian ajaran Ibrahim dilanjutkan oleh Nabi Muhammad dan dipeluk dan diamalkan oleh umat Islam hingga kini.
Wallahu a'lam

M. Jamhuri. Mina 12 Dzulhijjah 1443 H/11 Juli 2022 M

Rabu, 21 Juli 2021

Menanamkan jiwa pengorbanan Keluarga Nabi Ibrahim Pada Santri

Semalam, saya ajak santri untuk menyaksikan film kisah Nabi Ibrahim as, tepat di hari kedua hari raya Idul Adha atau Idul Qurban. Saya punya prinsip, "al-Farogh Mafadah" Kekosongan (tanpa kegiatan) adalah kerusakan. Maka dari pada malam libur dan tak ada kegiatan, sedangkan pelarajan pun belum dimulai, maka saya putar film tersebut. Saya terjun langsung memberi ulasan dalam setiap adegan film tersebut, karena kapasitas pengetahuan sejarah para santri berbeda-beda. Bahkan boleh jadi, sebagian orang dewasa pun tidak mengenal sebagian adegan itu.

Durasi kisah tentang raja Namrudz saya lewati. Selain karena panjang, juga tidak ada relevansinya dengan sejarah qurban yang ingin diketengahkan. Maklum, durasi utuhnya panjang sekitar 1 jam 49 menit. Kalau diputar semua, santri bisa-bisa tidur jam setengah sebelas malam. Saya putar mulai di menit ke 50. Langsung dari raja Namrudz yang sedang menunjukkan kehebatannya bisa menghidupkan dan mematikan laksana Tuhan di depan nabi Ibarhim, dengan cara membebaskan seorang yang di penjara dan membunuh yang lainnya. Lalu dengan congkaknya Namrudz berkata, "Ibrahim, lihatlah aku pun mampu menghidupkan dan mematikan manusia". Ibrahim cuma menjawab, "Tuhanku mendatangkan matahari dari Timur". Coba kau datangkan dari barat. Namrudz cuma bisa marah, lalu mengusir Ibrahim dari negeri Babilonia, negeri yang dipimpinnya. Ibrohim migrasi ke Yuressalem.

Raja zhalim itu pun mati hanya oleh seekor nyamuk kecil 

Kisah yang lebih tepat untuk pelajaran bagi para santri, bahkan untuk wali santri bukan di situ, tapi kisah diperintahnya nabi Ibrahim untuk meletakkan istri dan puteranya ke sebuah lembah gersang dan tak ada pepohonan. Siti Hajar sempat bingung akan ditinggal berdua saja di sana. Tapi kemudian ia yakin akan dijamin hidupnya karena sedang melaksanakan perintah dari Allah. Ibrahim as pun bukan tidak yakin, tapi sebagai manusia ia merasa kasihan pada putera yang dikasihinya di tempat yang sepi, gersang, tak ada sumber air, apalagi pepohonan. Nah di titik inilah saya memberi ulasan. "Coba kalian pikirkan -ujar saya pada para santri- Nabi Ismail yang masih kecil ditinggal di tempat yang kondisinya seperti itu, bahkan kelaparan dan kehausan. Toh jika kita yakin kepada Allah swt, Allah tidak akan menyia-nyiakan." Allah kasih air zamzam, yang pada waktu berikutnya, Suku Jurhum yang melewati daerah situ pun ikut menetap, hingga Ibrohim as saat mengunjungi anak-istreinya setelah puluhan tahun ditinggal di Makkah terlihat ramai penduduknya

"Sedangkan kalian diletakkan orang tua kalian di sebuah pesantren, yang masih tersedia makanan dan minuman, tempat istirahat yang layak, bahkan bertemu banyak teman, apakah masih merasa tidak nyaman?"  Percayalah kalian harus bersabar sebagaimana bersabarnya Ismail dan Siti Hajar saat "dipesantrenkan" di tempat yang sepi, gersang, panas, dan tak ada seorang pun di sana.

Bagi orang tua wali santri, kisah ini pun hendaknya menjadi pelajaran, bahwa saat kita ikhlas menjalani hidup untuk meraih ridho Allah, Allah akan menjamin rezekinya. Bahkan rezeki yang Allah berikan kepada Ismail as dan Siti Hajar berupa air zamzam kini melimpah dan dapat dinikmati oleh umat Islam dari seluruh dunia sepanjang zaman. 

Terus terang, saat saya mulai membangun pesantren di tempat terpecil ini pun, termotivasi oleh kisah ini. Jadi, kisah-kisah dari al-Quran itu sebenarnya bukan kisah dongeng. Tapi kisah nyata dan harus memberi motivasi dalam hidup kita.

Secara ilmu ekonomi, sebenarnya saya tidak menerapkan teori pemasaran dalam ilmu ekonomi. Dalam teori pemasaran, yang harus diperhatikan dalam membuka "usaha" adalah 4P (Place, Promotion Price dan Product). P pertama jelas tidak memenuhi syarat. Jangankan lokasi strategis, untuk mencapai tempat ini saja jalannya rusak dan jelek serta di jalan yang buntu. Wajar jika saat tahun pertama pembukaan pesantren hanya ada 13 santri saat itu. 

Orang tua harus yakin, bahwa  memondokkan anak, sebenarnya sedang mengirim mujahid/pejuang. Dan seorang mujahid/pejuang di jalan Allah, maka Allah lah yang akan menjamin rezekinya. Sikap iman yang dalam ini yang harus terpatri dalam jiwa setiap mukmin.

Akhirnya kisah nabi Ibrahim pun ditutup dengan ujian harus menyembelih puteranya bernama Ismail as itu. Ini pun terasa begitu berat bagi orang tua. Apalagi anaknya sholeh, patuh, taat dan bagus rupawan. Ayah mana yang tega akan menyembelih darah dagingnya sendiri? Apalagi diiming-iming Iblis bahwa  Ibrahim sebaiknya meninggalkan Tuhannya, dan coba menjadikan Iblis sebagai Tuhan barunya, niscaya Ibrahim tidak akan dipermalukan ketokohannya hanya karena mengiluti perintah Tuhannya untuk membunuh anaknya.

Namun semua godaan dan iming-iming itu dienyahkannya demi melaksanakan perintah Allah swt. Dari situlah Allah swt menjadikannya sebagai pemimpin bagi umat manusia. Karena pemimpin sesungguhnya adalah pemimpin yang telah melewati berbagai ujian dengan baik. Bukan pemimpin yang dihiasi dan dipoles dengan pencitraan yang semu. 

Allah swt berfirman:

وَإِذْ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". (QS. Al-BAqarah: 123) 


Selasa, 06 Juli 2021

Membersamai Amalan Para Jamaah Haji Dari Tanah Air

 
Oleh: Muhammad Jamhuri

Tahun ini, umat Islam Indonesia tidak bisa berangkat melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci. Pemerintah sudah mengumumkan bahwa Indonesia tidak mengirimkan jamaahnya untuk melaksanakan ibadah haji dengan alasan yang masih menjadi kontraversi.

Sebagai muslim, sebenarmya kita masih punya kesempatan mendapatkan pahala “ibadah haji” dalam bentuk ibadah lain, salah satunya adalah duduk berdiam diri sambil berzikir setelah sahalat subuh hingga waktu syuruq lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw:

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Dari Anas bin Malik RA dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang sholat Subuh berjamaah, kemudian dia duduk, dalam riwayat lain: dia menetap di masjid, untuk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia sholat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna.” (HR Tirmidzi).

Amalan yang berpahala haji dan umroh ini dapat dilaksanakan setiap hari. Namun ada amalan-amalan yang dilaksanakan di hari-hari haji, sebagaimana para jamaah haji melaksanakan ibadahnya di Tanah Suci. Ibadah-ibadah ini juga merupakan kemuliaan ibadah haji. Seakan umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji “diperintah” untuk menyertai ibadah yang dilakukan para jamaah haj sebagai penghormatan atas pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan para jamaah haji. Sehingga saat kita melaksanakan ibadah-ibadah ini seakan menyertai mereka yang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Beberapa ibadah sunnah yang seakan membersamai para jamaah haji dalam proses ibadah haji adalah:

Pertama

Disunnahkan bagi muslim yang akan berqurban di tahun ini, untuk tidak memotong kuku dan rambut mulai tanggal 1 Dzulhijjah hingga 10 Dzulhijjah. Amalan ini tentu saja menyerupai jamaah haji yang telah berihrom, dilarang untuk memotong kuku dan rambut. Dalam fiqih haji disebut bahwa jamaah haji yang sudah mulai ihrom haji (niat haji), maka dilarang untuk memotong rambut dan kuku serta larangan lainnya. Karena itu amalan ini seakan membersamai amalan yang dilakukan para jamaah haji. Adapun masalah tidak memakai wewangian, atau memakai pakaian ihrom bagi kita yang tidak melaksanakan haji tidaklah dilarang. Ini pendapat yang rajih (kuat).

 Rasulullah saw bersabda :

إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره

“Jika kamu melihat hilal bulan DzulHijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya“.

Dalam riwayat lain :

 فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي

 “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban“.

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah:

  وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه

“….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [al-Baqarah/2 : 196].

 

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

Kedua

Memperbanyak zikir, seperti tasbih, tahmid, tahlil dan takbir di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Amalan inه mirip dengan bacaan thawaf yang dilakukan para jamaah haji. Seperti diketahui, mendekati prosesi ibadah haji, kondisi masjidil haram mulai dipadati para jamaah haji yang melaksanakan ibadah thawaf, baik thawaf qudum, thawaf sunnah, mapun thawaf umroh. Saat itu bacaan-bacaan zikir itu dilantunkan. Oleh karena itu, kita yang di Tanah Air dan belahan negeri lainnya dianjurkan memperbanyak zikir, membersamai suasana di Tanah Suci Makkah.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala;

  وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

 “…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj/22 : 28].

 Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

  فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

 “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid“. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya.

Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor) selain pada hari ke 10 Dzulhijjah dan Ayyamut Tsayriq. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain. Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

 Ketiga

Berpuasa pada hari-hari pertama bulan Dzulhijjah, terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Sebagaimana diketahui bahwa puncak prosesi ibadah haji adalah wukuf di Arafah yang terjadi pada tanggal 9 Dzlulhijjah atau satu hari sebelum hari raya Idul Adha. Para jamaah haji pada saat itu berkumpul di padang Arafah dalam rangka melaksanakan rukun haji yang utama, yakni wukuf. Oleh sebab itu, kita yang di Tanah Air disunnahkan puasa Arafah di hari itu (9 Dzulhijjah) dalam rangka membersamai suasana ibadah dan suasana spritual sebagaimana yang dirasakan oleh para jamaah haji yang sedang wukuf di Padang Arafah.

 Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

  صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده

 “Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

 Keempat 

Berqurban. Rasulullah saw saat berhaji membawa hewan untuk diqurbankan. Beliau menyembelihnya di pagi hari tanggal 10 Dzulhijjah usai melontar jumroh di Mina. Hal itu pun diikuti oleh para jamaah haji dari kalangan sahabat. Demikan juga oleh para jamaah haji saat ini, mereka melaksanakan ibadah qurban di tengah-tengah melaksanakan ibadah haji. Oleh karena itu, saat kita di Tanah Air melaksanakan ibadah qurban, maka seakan-akan kita membersamai para jamaah haji yang sedang melaksanakan ibadah yang sama, yaitu melaksanakan ibadah qurban.

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 من صلى صلاتنا، ونسك نسكنا، فقد أصاب النسك. ومن نسك قبل الصلاة فلا نسك له

“Barangsiapa yang shalat seperti kita shalat, dan berkurban seperti kita berkurban, maka sungguh dia telah mengerjakan kurban dengan benar. Dan barangsiapa yang menyembelih kurbannya sebelum shalat ‘Idul Adh-ha, maka kurbannya tidak sah.” (HR. Al Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa ibadah kurban itu merupakan kekhususan dan syi’ar yang hanya terdapat di dalam bulan Dzulhijjah

 Kelima      

Perintah melakukan segala amal kebaikan, terutama di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Hal ini karena saat-saat inilah puncak kegiatan ibadah haji dilakukan. Oleh sebab itu pahala yang disediakan Allah swt pun begitu besar. Ini karena dikaitkan prosessi tahunan yang besar dan melibatkan seluruh bangsa dan departemen-departemen terkait dalam prosesi ibadah haji. Karena itu umat Islam yang tidak berhaji seperti kita yang sedang di Tanah Air ini, diajak terlibat dengan suasana haji ini. Dan pahala yang disediakan Allah swt pun sangat besar.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر. قالوا ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذالك بشيء. (رواه البخاري

 “Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah –pen).” Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid –pen).” (HR. Al Bukhari)

Keenam

Memberi manfaat kepada orang lain, seperti membantu orang, terutama mereka yang terdampak covid 19 dan memperbanyak sedekah. Bahkan berqurban pun sudah merupakan manifestasi memberi manfaat kepada orang lain. Hal ini senafas dengan hikmah manfaat dari ibadah haji.

 ليشهدوا منافع لهم

 “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka …” (Qs. Al Hajj: 28)

 Demikianlah jenis-kenis ibadah yang membersamai ibadah para jamaah haji.

Marilah kita membersamai amalan para jamaah haji yang sedang di Tanah Suci, meskipun tahun ini kita tidak dapat melaksanakan ibadah haji di sana. Semoga amalan ini, dicatat sebagai pahala ibadah haji kita, atau kita segera dipanggil ke Tanah Suci pada waktu-waktu mendatang. Aamiin.

Senin, 03 Mei 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE-21: IBADAH PRIORITAS

Banyak orang yang mementingkan sholat tarawih dari pada sholat sunah bakdiyah Isya. Banyak orang yang berupaya untuk berpuasa menahan lapar di bulan Ramadhan, namun ringan dalam meninggalkan shalat fardhu lima waktu. Banyak orang yang berburu mempersiapkan hari raya idul fitri dengan bekerja lembur hingga  meninggalkan puasa di bulan Ramadhan dan ibadah-ibadah sunah lainnya. Banyak orang yang berburu belanja di Mall di sepuluh terakhir Ramadhan dibanding berburu lailatul qodar di masjid.

Padahal hukum taraweh adalah sunah, sedangkan shalat bakdiyah isya hukumnya sunnah muakkadah (sunah yang sangat ditekankan). Padahal berpuasa di bulan Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat, sedangkan sholat fardhu lima waktu adalah rukun Islam yang kedua. Padahal memakai baju baru di hari raya Idul Fitri hukumnya sunah biasa dan durasinya cuma satu hari saat idul fitri, sedangkan meninggal puasa Ramadhan hukumnya haram dan berdosa, dan menyia-nyiakannya Ramadahan dengan meninggalkan banyak kesempatan ibadah adalah sebuah kerugian besar. Padahal Rasulullah saw tidak menganjurkan meramaikan pasar di sepuluh terakhir Ramadhan melainkan menganjurkan meramaikan masjid-masjid. Tapi itulah yang banyak kita saksikan dan temukan di tengah-tengah masyarakat.

Pada saat saya membimbing jamaah haji atau umroh, di Masjidil Haram atau masjid Nabawi seringkali dilaksanakan shalat jenazah setiap bakda shalat fardhu. Tapi banyak jamaah saya yang tidak ikut melaksanakannya bersama imam masjid, tapi mereka malah semangat melaksanakan sholat bakdiyah dan sunnah-sunnah lainnya. Saya katakan kepada mereka bahwa sholat jenazah itu hukumnya fardhu kifayah, sedangkan shalat bakdiyah itu hukumnya sunah. Fardhu kifayah itu lebih tinggi kedudukannya dari pada sunnah.

Bahkan ada juga jamaah yang masih bermasalah dengan shalat fardhunya selama ini di Tanah Air, tapi bersemangat melaksanakan ibadah umroh yang sifatnya sunnah dan harus membayar jutaan rupiah. Bahkan ada yang meyepelekan shalat fardhu saat berada di Tanah Suci.

Be smart Moslem..!. Jadilah muslim yang cerdas. Kita harus pandai memposisikan diri dalam melaksanakan ibadah, mana yang harus diprioritaskan? Meskipun semua ibadah itu kebaikan, namun syariat telah menentukan mana yang urgent, dan mana yang biasa serta tidak urgen?

Dalam urutan tertib hukum taklifi, maka yang paling urgent adalah fardhu ain, kemudiam diikuti fardhu kifayah, sunnah muakkadah, sunah, mustahabb, makruh, dan haram. Jangan sampai kita semangat menghidupkan amalan sunah, sementara yang fardhu ain kita tinggalkan.

Sedang dalam kaidah maqashid syariah (tujuan syariat), urutan tertibnya adalah dharuriyat (primer) yakni perkara-perkara yang sangat urgen dan penting yang jika ditinggalkan akan membahayakan, hajiyat (sekunder) yakni perkara-perkara kebutuhan yang jika ditinggalkan tidak berbahaya bagi keselamatan jiwa. Dan Tahsiniyah (kepantasan) yakni perkara-perkara yang dapat membuat hal menjadi lebih pantas atau indah. Maka jangan memprioritaskan tahsiniyat (keindahan) atas hajiyat (kebutuhan) dan dharuriyat (primer). Sebagaimana jangan memperioritaskan hajiyat (sekunder) di atas dharuriyat (primer).

Demikian pula, amalan yang berlandaskan dalil qothy’ harus diprioritaskan di atas amalan yang berlandaskan dalil zhanny. Serta  mendahulukan amalan yang berdalil shahih di atas amalan yang berdalil dhoif apalagi maudhu’. Wallahu a’lam.

Muhammad Jamhuri, 21 Ramadhan 1442 H.

Minggu, 02 Mei 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE-20: DUA SISI KESEMPURNAAN AMAL

Dalam teks-teks al-Quran dan hadist, selalu saja ada dua amal yang saling berkaitan. Satu sama lainnya tidak terpisahkan. Kedua amal itu memang harus ada pada diri setiap muslim. Jika salah satunya tidak ada, maka amalan itu tidak akan sempurna. Kedua amalan itu adalah berdimensi hablun minallah dan hablun minannas (hubungan kepada Allah dan hubungan kepada sesama makhluk). Atau ibadah yang besifat individual dan ibadah bersifat sosial

Kata “sholat” dan kata “zakat” umpanya selalu disebut berdampingan dalam al-Quran, karena sholat berdimensi pribadi dengan Tuhannya, sedang zakat berdimensi sosial. Kata beriman dan beramal sholeh (alladzina aamanu wa amilussholihat) juga selalu berdampingan, karena iman bersifat keyakinan pribadi, sedang amal sholeh berdampak sosial.

Bagaimana dengan perintah puasa? Sama. Dalam puasa,  kita selain dianjurkan banyak shalat malam, juga dianjurkan banyak bersedekah. Rasulullah saw adalah orang yang paling dan bertambah kedermawanannya saat memasuki bulan puasa. Bahkan usai puasa, malam takbir hingga sebelum usai shalat idul fitri kita diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah. Zakat yang harus dikeluarkan oleh inidividu muslim yang mempunyai kelebihan makanan di hari raya. Termasuk yang fakir dan miskin pun, jika dia di hari itu kelimpahan makanan pokok, walau pun awalnya sebagai mustahiq, dia tetap harus berzakat fitrah.

Kedua perintah berdimensi peribadi dan sosial ini menjadi prinsip ajaran Islam. Imam Nawawi dalam kitab Nashoih al-‘Ibad berkata, “Afdholul ‘Amal: Al-iman billahi wa al-naf’u lil muslimin”. Sebaik-baik amal adalah mengimani Allah dan bermanfaat bagi kaum muslimin. Inilah prinsip sekaligus way of Life.

Perkara kepedulian sosial bukan lagi menjadi masalah furuiyah fiqhiyyah (masalah cabang fiqih), akan tetapi menjadi masalah imaniyah. Nabi saw bersabda “Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR: Bukhori). Di sini Nabi saw menyatakan “tidaklah beriman” yang menunjukkan bahwa masalah kepedulian sosial bukan masalah furuiyyah fiqhiyyah, akan tetapi menjadi masalah keimanan.

Bahkan dalam beberapa hadist, menyebut beberapa contoh bahwa rasa peduli kepada sesama (kepedulian sosial) dianggap sebagai yang lebih utama dari pada ibadah individual. Nabi saw bersabda, “Seseorang yang keluar untuk menunaikan kebutuhan saudaranya lebih utama dari pada beri’itikaf di mesjidku.” (HR: at Thabrani)  Bayangkan, i’tikaf di masjid Nabi saw adalah ibadah yang didamba-dambakan. Namun keutamaan itu dikalahkan oleh pergi menunaikan kebutuhan manusia.

Bahkan kisah seorang wanita yang berprofesi “psk” pun, mendapat pahala surga setelah dia memberi minum kepada seekor anjing yang sedang kehausan.

Syeikh DR. Yasir bin Salim Asy-Sayhiri ulama asal Yaman yang baru-baru ini berkunjung ke Indonesia, saat mewisuda para santri dan memberi ijazah sanad hadist musalsal bil awwaliyah berkata, “Mengapa setiap Syeikh saat memberi ijazah sanad hadist, maka ijazah yang pertama diberi adalah hadist  al-musalsal bil awwaliyah?.. Karena agar umat Nabi Muhammad saw selalu menjadi rahmat kepada semua makhluk, sebagai kelanjutan dari tujuan diutusnya Nabi Muhammad saw. ‘Tidaklah Aku utus engkau kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

Hadist al-musalsal bil awaaliyah itu bunyinya adalah: “Orang yang kasih sayang, akan dikasihsayang oleh Dzat yang Maha Kasih Sayang (Ar-Rahman), Sayangilah semua yang di bumi, maka kalian akan disayangi oleh yang di langit.” (HR: Bukhori)

Muhammad Jamhuri, 20 Ramadhan 1442 H.

 

 

 

 

Jumat, 30 April 2021

*HIKMAH RAMADHAN HARI KE-18: AL-QURAN ADALAH KITAB “PUSAKA”

Jika Anda memiliki seorang ayah yang sangat baik hati, sangat perhatian kepada keluarga dan masayarakatnya, sehingga dia dicintai semua orang, sukses dalam segala bidang hidupnya, disegani orang, dicintai banyak orang termasuk oleh kaum miskin dan anak-anak yatim, bijak dan kharismatik dalam memimpin, penuh perhatian, termasuk kepada diri Anda. Maka pastinya Anda pun sangat menyayangi beliau. Lalu ketika ayah Anda itu terbaring sakit, panas tinggi dan menjelang ajalnya, dia memanggil Anda, lalu membisikkan wasiat kepada Anda, “Nak. Ayah mungin tidak akan lama lagi tinggal di dunia, ayah akan pergi selama-lamanya. Hanya saja, sebelum ayah pergi, ayah pesan kepadamu, ada dua buku yang ayah simpan di dalam  sebuah kotak kayu dalam lemari, ayah simpan dengan rapi agar dapat dibaca dan dipraktekkan olehmu. Dia berisi jurus sukses hidup. Ambillah olehmu, pelajari dan praktekkan, maka engkau pasti akan sukses nak.” Usai berpesan dengan wasiat itu itu, sang ayah wafat.

Nah, bagaimana perasaan Anda bila hal itu kejadian nyata dalam hidup Anda? Pastinya sangat sedih yang mendalam. Rasa sedih itu akan lama, karena kenangan bersamanya yang begitu indah. Namun, di tengah kesedihan itu, pastinya Anda akan teringat dengan wasiat terakhir ayah yang diucapkan sebelum kematiannya, yakni dua buku kiat sukses yang harus Anda baca.

Nah, kira-kira begitulah gambaran saat Rasulullah saw beberapa hari sebelum meninggal, beliau mewasiatkan kepada kita semua dua hal, yang apabila kita pelajari dan amalkan maka kita tidak akan pernah sesat dan gagal hidup selama-selamanya dan kita pasti akan sukses. Dua hal itu adalah kitab Allah (al-Quran) dan sunnah Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, yang jika kalian berpegang teguh kepada kedua hal tersebut, kalian tidak akan sesat selamanya, yakni kitab Allah dan sunnah ku”.

Tentu saja Rasulullah saw lebih mulia dari ayah kita, lebih berwibawa dan sukses dari semua manusia. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya dan seharusnya kita menjaga, memelihara dan mengamalkan apa yang beliau wasiatkan kepada kita semua.

Dalam kisah-kisah kependekaran atau persilatan, sering dikisahkan bahwa kedigjayaan dan kehebatan seorang pendekar terletak dalam sebuah “buku pusaka”, yang sering disimpan rahasia di sebuah gua atau gunung oleh orang sakti atau sang master. Jika para pendekar dari setiap perguruan silat mendengarnya, mereka pasti berusahan untuk mendapatkannya, walau harus mengarungi lautan, memasuki hutan, melewati lembah dan ngarai bahkan mendaki gunung, untuk mendapatkan “buku pusaka” itu. Karena kitab itu berisi keunggulan semua jurus-jurus yang dimilki para pendekar di dunia. Jika buku wasiat itu dimiliki dan isinya dikuasai oleh seorang pendekar, maka pendekar itu dipastikan akan mengungguli ilmu yang dimiliki semua pendekar di seluruh jagad raya.

Nah, kini kita tidak perlu menyeberangi sungai dan lautan, tidak perlu melewati lembah dan mendaki gunung untuk mendapat “kitab pusaka” . Cukup membelinya, lalu membaca, mempelajari, dan mengamalkannya, maka “kesaktian” kita akan mengugguli umat-umat lain. Karena di dalam kitab pusaka (al-Quran) ini mengandung semua jurus di jagad raya ini, bahkan di alam ghoib, ada jurus ekonomi, jurus bernegara, jurus pendidikan, jurus berkeluarga, jurus etika, jurus hubungan luar negeri, jurus berperang dan jurus-jurus lainnya.

Dan ketahuilah, bahwa seluruh mukjizat (baca: kedigjayaan) para nabi sirna bersamaan wafatnya mereka, baik berupa tongkat Nabi Musa as, perahu nabi Nuh as, dan lain-lain. Akan tetapi kemukjizatan (kedigjayaan) nabi Muhammad asw bersifat abadi “mukjizat kholidah” (mukjizat yang kekal). Jadi mari kita kembali kepada al-Quran, back to al-Quran.

Saudaraku, bulan Ramadahan adalah momen untuk kembali membaca, menelaah dan mempelajari al-Quran, untuk kemudian kita amalkan jurus-jurusnya. Bukankah Allah telah memilih bulan Ramadhan ini sebagai bulan diturunkannya al-Quran?.  “Bulan Ramadhan yang diturunkan di dalam al-Quran, sebagai guidance (petunjuk) bagi manusia, dan sebagai penjelas dari petunjuk itu serta sebagai al-fuqon (pembeda antara kebenaran dan kebatilan)”. (QS. Al-Baqarah: 184)


Muhammad Jamhuri,
18 Ramadhan 1442 H.

Kamis, 29 April 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE-17: PUASA; PENYIAPAN UMAT SIAP DALAM SEGALA KONDISI

Puasa Ramadhan yang dijalankan umat Islam yang beriman sesungguhnya suatu proses peyiapan umat agar siap dalam segala kondisi. Hal ini terlihat dari bulan Ramadhan yang dijadikan sebagai waktu berpuasa. Bulan Ramadhan dan bulan lainnya dalam Islam adalah bulan yang berlandaskan pada perputaran bulan, dan bukan matahari. Berbeda dengan bulan-bulan tahun masehi yang perhitungannya berdasarkan perputaran matahari. Kalau bulan masehi yang menjadi standar, maka berpuasa sebulan pada setiap tahunnya akan mengalami satu musim yang sama. Sehingga tidak ada tantangan perubahan. Misalnya, jika puasa adalah bulan Desember saja, maka kita mengalami puasa hanya merasakan di musim dingin atau penghujan saja. Akan tetapi dalam bulan Ramadhan, setiap perputaran 4-5 tahun akan berganti musim, bisa musim dingin, panas, semi, dan musim gugur. Inilah yang disebut puasa merupakan penyiapan umat dalam segala kondisi.

Andaikata seorang muslim mengalami puasa Ramadhan selama 20 tahun, maka keempat musim dalam berpuasa akan dia alami. Dan setiap musim punya karakter dan dampak tersendiri bagi kehidupan muslim yang sedang berpuasa. Musim dingin relatif ringan namun badan terasa cepat lapar, namun jika puasa di musim panas, maka sangat terasa lebih sulit. Bukan hanya udara yang panas, namun durasi masa puasa sehari bisa lebih lama, bisa sampai 18 jam berpuasanya, alias menunggu maghribnya sangat lama. Memang, kondisi ini lebih dirasakan kaum muslim di negeri yang memilki empat musim di atas.

Yang jelas, puasa mendidik umat siap menghadapi kondisi apapun serta dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terjadi. Sehingga dapat melakukan ibadahnya dengan fleksibel. Apalagi didukung oleh syariat dan ajarannya yang sangat fleksibel. Salah satu kaidah fiqih berbunyi “Idza dhoqot ittasa’at, wa idza ittasa’at dhoqot’ (jika sempit maka dapat lapang, dan jika lapang maka akan dipersempit/ketat). Luas dan luwes.

Beberapa pekan yang lalu, Presiden Kanada mengucapkan rasa terima kasihnya kepada umat Islam. Dan itu disiarkan di semua televisi nasional. Alasannya umat Islam sangat disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan di masa pandem ini meskipun dalam suasana ibadah puasa Ramadhan. Karena umat Islam bisa melakukan ibadahnya di rumah, baik shalat tarawehnya, maupun puasanya. Sebaliknya, akahir-akhir ini Pemerintah Kanada  agak  keras kepada kaum Nasrani, karena mereka agak kurang disiplin dalam menjaga protocol kesehatan. Pasalnya berkumpulnya jemaat gereja banyak menimbulkan cluster baru dalam penularan corona. Bahkan menurut penelitian, berkumpul dan melantunkan lagu-lagu secara bersama dan dalam durasi lama akan lebih cepat menularkan corona. Sehingga banyak gereja di sana dipagari besi atau polisi line oleh oleh pihak berwajib lantaran sikap antisipasi pemerintah. Hal ini tentu saja membuat jemaat gereja kecewa, bahkan beberapa di antara mereka memprotes tindakan polisi ini. Kekecewaan mereka terjadi, karena dalam ajaran mereka tidak ada ibadah sendiri-sendiri, walau pun ada sifatnya pribadi. Saat mereka ingin beribadah seacara bersama di gereja yang dalam konsep ajaran mereka dilakukan dalam sepekan sekali, pun tidak diperbolehkan, maka timbullah kekecewaan dan protes. Berbeda dengan umat Islam yang ibadahnya bisa dilakukan berjamaah di rumah atau di masjid. Bahkan sistem gereja ada yang mengharuskan jemaatnya hanya beribadah di gereja tertentu saja dan dengan pendeta tertentu saja. Sehingga mereka menemukan kesempitan dalam menjalankan agamanya di masa-masa pandemi ini. Banyak gereja nganggur sepanjang pandemi corona ini. Sedangkan ajaran Islam sangat fleksibel, sehingga wajar jika mendapat pujian dari Presiden Kanada karena umat Islam dianggap mematuhi aturan pemerintah.

Lain di Kanada, lain pula di India, hari-hari ini India mengalami tsunami covid-19. Dalam hitungan 1 x 24 jam lonjakan angka terpapar covid 19 mencapai 300.000 orang. Penyebabnya antara lain yang utama adalah adanya kerumunan dalam pelaksanaan ibadah Hindu di sungai Gangga yang mereka anggap suci. Pelaksanaan ibadah yang terjadi 12 tahun sekali ini di dukung oleh Pemerintah India dari partai yang disinyalir didukung kaum Hindu Ekstrimis. Kaum Hindu ektrimis ini yang telah menghancurkan Mesjid bersejarah milik umat Islam di Ayodha dua tahun lalu dan didukung penuh pemerintah India.

Pemerintah India yang sangat pro kaum Hindu ekstrimis dilema antara melarang pengikutnya melakukan upacara peribadatan di Sungai Gangga atau membiarkan?. Tapi demi memuaskan konstituen dan rakyatnya yang bergama Hindu itu, upacara pun dibiarkan bahkan didukungnya. Akibatnya, beberapa hari setelah acara itu, tsunami covid 19 pun menerjang India, maklum saat itu prokes sama sekali tidak diterapkan, mereka tidak memakai masker dan terjadi kerumunan yang besar sehingga tidak ada jarak sosial lagi. Bahkan saat mandi sungai tersebut, mereka bertelanjang badan, karena di antara mereka bahkan meyakini, bahwa sungai dianggap suci ini dapat menghalau pandemi corona. Namun yang terjadi malah sebalaiknya.

Adakah ini yang dinamakan “tentara Allah”? wallahu a’lam. Namun kita patut bersyukur dengan ajaran Islam yang fleksibel dan sempurna ini. Wajar Allah mengingatkan kita dalam ayat puasanya yang artinya “Dan hendaklah kamu mengagungkan nama Allah atas apa yang telah Dia hidayahkan kepadamu, dan agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Muhammad Jamhuri, 17 Ramadhan 1442 H.

 

Selasa, 27 April 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE-15: RAMADHAN MENJADI BULAN PERUBAHAN

Tidak disangkal lagi, datangnya bulan Ramadhan telah banyak merubah segala sektor kehidupan. Dari yang skala kecil dan bersifat pribadi, hingga skala besar dan bersifat komunal bahkan negara dan dunia. Dalam skala kecil misalnya, gaya hidup tiap muslim terjadi perubahan. Mulai dari jadwal tidur hingga kehidupan ibadah. Usai shalat isya kaum muslimin tidak langsung tidur atau pulang ke rumah, akan tetapi melaksanakan taraweh secara massal yang tidak dilakukan di bulan lainnya. Intensitas membaca al-Quran pun meningkat dibanding di bulan lain. Dalam skala komunal dan negara, terlihat perputaran ekonomi pun cepat dan menggeliat. Produksi barang dan jasa pun meningkat di bulan Ramadhan. Di bidang media dan telekomunikasi pun, konten-konten acara pun berubah. Acara penuh nuansa religi, bahkan hingga konten iklan pun bernuansa religi.

Namun. perubahan-perubahan di atas bersifat masih parsial dan hanya menyentuh pinggiran-pinggirannya saja dari kehidupan. Perubahannya tidak menyentuh sesutau yang fundamental dan substansial. Sehingga setelah Ramadhan usai, usai pula tradisi kebiasaan yang telah baik itu.

Sebenarnya, ketika Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai satu-satunya nama bulan yang disebut kitabNya, itu karena kemuliaan bulan ini. Dan kemuliaan bulan ini disebabkan karena di bulan ini diturunkannya al-Quran, kitab yang mulia. Jadi, tersebab al-Quran-lah Ramadhan ini menjadi mulia. Sementara itu al-Quran adalah kitab perubah manusia. Dengan al-Quran lah masyarakat yang tadinya masih berada di zaman gelap gulita, menjadi masyarakat yang tercerahkan dan mencerahkan, dari masyarakat terkebelakang menjadi masyarakat yang maju, dari masyarakat yang masih jahiliyah menjadi masyarakat yang berperadaban maju. Jadi, sebenarnya melalui Ramadhan ini Allah menghendaki kita perubahan yang essensial. Yakni terwujudnya masyarakat yang serba keterbelakang menjadi masyarakat yang maju, masyarakat yang dungu menjadi masayarakat yang berakal sehat. Sehingga tercipta peradaban besar yang dapat menegakkan dan menebarkan kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan di atas muka bumi. Jadi, bulan Ramadahan hanyalah wasilah (sarana) untuk suatu perubahan besar yang diinginkan oleh misi turunnya al-Quran. “Dan bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya  al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelas dari petunjuk itu serta sebagai pembeda antara yang haq dan batil (al-furqon)”. (QS. Al-Baqarah: 184)

Amirul Mukminim Umar bin Khattab berkata, “Innallaah rofa’a bi hadzal kitaab qouman wa yadho’u bihil aakhoriin”. Sesungguhnya Allah telah meninggikan suatu bangsa dengan sebab kitab (al-Quran) ini, dan dengannya juga Allah merendahkan bangsa lain.”

Sejak dahulu bangsa Arab dipandang sebagai bangsa terbelakang. Tak ada peradaban apalagi potensi alam yang dilirik oleh bangsa lain. Sebaliknya, bangsa-bangsa besar yang dikenal maju peradabannya saat itu adalah Romawi dan Persia serta sisa-sisa peradaban bangsa lainnya, seperti Yunani, China, dan India. Bangsa Arab benar-benar bangsa yang tak diperhitungkan sama sekali. Namun berkat al-Quran, bangsa Arab menjadi bangsa yang diperhitungkan dalam kancah percaturan dunia.

Kini, Ramadhan yang kita alami saat ini memang telah banyak merubah sisi kehidupan kita sehari-hari, mulai dari jadwal bangun tidur, kondisi ibadah yang meningkat hingga perubahan sektor ekonomi. Tapi itu hanya bersifat temporer dan sementara. Padahal, Ramadahan yang didalamnya diturunkan al-Quran sejatinya menghendaki kita perubahan dalam kehidupan sehari-hari kita kepada yang lebih baik lagi di setiap waktu. Dan itu hanya bisa terjadi saat kita kembali kepada al-Quran sang Kitab Perubah Semua Bangsa dan umat manusia. Sementara Ramadhan adalah sebagai entry point-nya saja.

Muhammad Jamhuri, 15 Ramadhan 1442 H.

Kamis, 18 Februari 2021

Keunggulan Wudhu Dalam Mencegah Virus Corona

Oleh : Muhammad Jamhuri


Tak ada syariat yang Allah turunkan kecuali untuk kemaslahatan hambaNya. Tidak terkecuali syariat wudhu yang menjadi syarat sahnya ibadah shalat.

Dalam wudhu, bagian tubuh yang dibasuh adalah bagian anggota tubuh yang sering terlihat. Seperti muka, tangan, telinga, hidung, kaki, dan kepala. Dalam wudhu, tidak ada perintah  membasuh anggota tubuh yang tertutup pakaian, seperti paha, betis, perut, dada atau punggung. Mengapa? Karena bagian tubuh yang terlihat itulah yang lebih rentan terserang virus dari luar.  Oleh sebab itu peru dibersihkan minimal lima kali setiap akan shalat.

Selain itu dalam wudhu ada aktifitas berkumur untuk membersihkan mulut dan istinsyaq berupa memasukan air ke dalam hidung. Itupun memiliki banyak manfaat. Selain membersihkan virus yang terdapat dalam mulut, juga membersihkan kuman yang masuk lewat hidung. Dua anggota tubuh ini adalah jalan masuk menuju bagian penting tubuh kita berikutnya, seperti paru-paru dan alat pencernaan, serta jaringan darah yang megalir ke otak.  Wudhu, menjadi penting dalam menjaga imunitas masuknya virus ke dalam tubuh. Alangkah sempurnanya syariat Allah swt.

Wudhu, sebenarnya bukan hanya diperuntukkan untuk shalat saja. Tetapi juga digunakan (sunnah/baik dilakukan) saat akan membaca al-Quran, saat akan tidur, makan, bahkan untuk sekedar menjaga kondisi agar selalu dalam kondisi suci. Sebab, orang yang selalu mensucikan dirinya akan dicintai Allah swt. Firman Allah swt:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. Al-Baqarah: 22)

Menjaga kesucian sangat penting, terlebih di kondisi dimana sering terjadi musibah yang tak bisa diperkirakan serta dapat merenggut nyawa kita kapan saja. Seperti gempa bumi, banjir, longsor, kecelakaan lalu lintas, bahkan virus Corona itu sendiri. Sehingga, akahir-akhir ini, hampir setiap hari kita mendengar atau membaca berita kematian yang disebabkan oleh hal-hal tersebut di atas. Lalu apa pentingnya dengan kesucian? Agar kita -walau harus meninggal dunia- tetap dalam keadaan husnul khotimah dan dicintai Allah swt, sesuai firman Allah swt di atas. Alangkah bahagianya, andaikata saat ruh kita menghadap Allah swt, kita dalam keadaan suci..?!

Testimoni Keunggulan Wudhu.

Banyak kisah tentang keunggulan berwudhu. Syeikh Abdul Qodir al-Jailani saat bayi, tidak pernah diberi susuan oleh ibunya, kecuali ibunya berwudhu terlebih dahulu, atau menyusuinya dalam keadaan kondisi suci dari hadast. Tidak heran jika anaknya menjadi wali di antara wali-wali Allah.

Seorang wanita yang pulang dari kerja lembur, merasa khawatir akan dirinya di perjalanan malam hari. Namun ia berwudhu sebelum berangkat pulang. Ia selamat sampai rumahnya meski melewati sebuah jalan yang dikenal sering terjadi tindak criminal. Paginya ia menyaksikan berita live di TV, diberitakan bahwa di jalan yang ia lewati semalam telah terjadi pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang wanita lain. Ia langsung menuju kantor Polisi tempat pelaku kriminal itu diamankan. Ia bertanya kepada pelaku tersebut, “Bukankah 10 menit sebelum peristiwa itu, aku melintas di hadapanmu? Kenapa engkau tidak melakukan kejahatan apapun kepadaku?. Sang pelaku menjawab, “Aku takut, karena di kiri-kanan mu ada dua laki-laki berjubah putih mengawalmu.”.Wanita itu terheran karena dia merasa jalan sendirian tanpa pengawal atau teman.

Seorang ustadz pergi menuju sebuah masjid di luar kota untuk mengisi pengajian kuliah subuh. Ia berangkat dalam kondisi sudah berwudhu setelah sebelumnya shalat qiyamullail. Di jalan terjadi tabrakan, Kendaraan mobil ringsek berat, tapi sang ustad hanya tergaget seperti bangun tidur, dan tak ada terluka sedikitpun. Senentara penumpang dalam mobil lain terluka berdarah.

Makhluk Ghaib dan Wudhu

Dipercayai, bahwa orang yang menjaga kondisi suci karena wudhu, akan dijaga oleh Allah. Baik langsung atau melalui para malaikatnya. Baik dari godaan makhluk ghaib (syetan) maupun nyata. Pernah seorang lelaki yang sejak kecil dibiasakan orang tuanya sebelum tidur untuk berwudhu. Kebiasaan itu berlanjut hingga dia berumah tangga. Suatu kali dia terpesona dengam wanita cantik sekantornya. Wanita itu pun menyukainya. Dan singkat cerita, kedua manusia itu berjanji untuk saling bertemu di suatu kamar hotel. Sang lelaki pun mulai berbohong menelpon istrinya bahwa ia ada pekerjaan lembur. Padahal dia akan bertemu dengan wanita sekantornya di suatu kamar hotel. Keduanya sudah bersiap di atas tempat tidur. Namun, karena sudah terbiasa berwudhu sebelum tidur, lelaki itu meminta izin kepada wanita itu untuk berwudhu dulu. Aneh, setelah wudhu, gejolak syahwat yang sebelum berwudhu menggebu-gebu, ternyata hilang. Kini tak imbul sedikitpun hasrat dan gairah lagi. Akhirnya ia sadar bahwa apa yang akan dilakukannya adalah sebuah kemaksiatan yang tidak disukai Allah. Ia pun pamit meninggalkan wanita itu di hotel dan pulang ke rumah. Di rumah ia menemui istrinya di kamar. Keadaan pun terasa aneh, ternyata setelah melihat istrinya gairah syahwat timbul kembali bahkan semakin besar. Ternyata Allah telah melindunginya dari perbuatan yang haram dan hanya memberinya kepada istrinya yang halal.

Wudhu dan Corona

Corona secara kasat mata memang tak kelihatan. Berarti dapat dikategorikan sebagai makhluk ghaib. Meskipun ia juga dapat terlihat dengan menggunakan alat mikrosof, sehingga tidak boleh dikatakan bahwa Corona itu tidak ada. Baik ghaib maupun nyata. Maka kita harus selalu mendekatkan diri pada Allah swt yang Maha Melihat dan Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Salah satunya adalah dengan selalu berwudhu atau menjaga wudhu. Kita harus meyakini bahwa Allah maha berkuasa atas segala sesuatu. Untuk itu, jangan lupakan 3M Plus, yaitu Menjaga Iman, Menjaga Imun, dan Menjaga Aman. Menjaga Iman agar timbul ketenangan batin akan yang beimplikasi pada kuatnya Imun. Para ahli kesehatan sepakat bahwa menurunnya imun sehingga timbul penyakit adalah disebabkan karena pikiran. Sementara pikiran yang tenang dan stabil idapat dicapai melalui zikrulllah. Wudhu adalah sarana mengkaitkan diri setiap saat kepada Allah swt. Ini tidak berarti usaha zhahir kita tinggalkan, seperti menjaga jarak dan memakai masker. Karena Nabi saw pun saat mendengar terjadi wabah Tho’un di suatu daerah, beliau memberi arahan, “Yang terkena wabah jangan keluar dari daerahnya dan Yang belum terkena wabah jangan masuk daerah itu”

Penutup.

Jadi, sudah saatmya kita melakukan “New Normal” yaitu Kebiasaan Baru membiasakan diri dengan berwudhu sepanjang hidup, atau setidaknya menjaga wudhu (kesuciaan). Karena bukan hanya dapat mencegah dari virus yang ghaib dan nyata, ia juga merupakan ibadah dan kebiasaan yang disukai Allah swt.

Oleh sebab itu, jika kita buang hajat besar atau kecil, maka lanjutkan dengan berwudhu. Jika kita mampir ke toilet SPBU, jangan lupa berwudhu sesaat sebelum meninggalkan SPBU. Jika perlu shalat dhuha atau shalat sunnah lain sambil berdoa memohon perlindungan Allah swt. Jika kita akan makan, atau tidur, sementara kondisi dalam keadaan hadast, maka berwudhulah. Bahkan saat kita pulang dari pergi keluar, hendaklah bukan sekedar cuci tangan, tetapi lebih sempurna dari itu, yaitu berwudhu. Jadi New Normal kita selain 3M adalah “MEMBIASAKAN WUDHU”.