Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2024

Lailatul Qodar Sudah Tidak Dirahasiakan Lagi?

Oleh : KH. Muhammad Jamhuri, Lc. MA

 Begitulah kesimpulan sementara. Kita sering mendengar bahwa Lailatul Qodar memang tidak diberitakan kapan akan terjadi, atau malam ke berapa dari bulan Ramadhan akan terjadi. Hal itu - menurut para ulama - agar umat ber-taharri (berjaga-jaga) untuk meraihnya dengan segala upaya yang dapat dilakukannya.

Akan tetapi kini Lailatul Qodar  nyaris sudah bukan rahasia lagi? Mengapa? Karena Rasulullah saw dan para ulama Islam nyaris membuka tabir Lailatul Qodar secara terbuka kepada umatnya. Tanda-tanda pembukaan tabir itu dapat diamati dari perilaku dan kebiasaan amalan Rasulullah saw, para sahabat serta ulama yang dikenal alim, zuhud dan taqarrub (kedekatan)nya dengan Allah sangat kuat. Bahkan di antara mereka secara terbuka membuka kapan Lailatul Qodar itu akan tiba berdasarkan pengalaman dirinya dan sahabatnya yang mengalami kedapatan Lailatul Qodar.

Diantara tabir-tabir yang sudah dan mulai diungkap oleh Rasulullah saw, para sahabat dan para ulama adalah sebagai berikut:

Pertama, Rasulullah saw selalu melakukan i'tikaf di 10 terakhir bulan Ramadhan dan nyaris tidak meninggalkannya pada setiap tahunnya, sejak beliau tinggal di Madinah hingga menjelang wafatnya. Fenomena ini menjadi sebuah indikasi, bahwa Lailatul Qodar sering terjadi di antara malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده

Artinya, “Dari Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah wafatnya beliau.” (HR: Bukhori Muslim)

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.” (HR Muslim)

Kedua, Dari 10 malam terakhir Ramadhan, terkuak indikasi, bahwa Lailatul Qodar akan terjadi di malam-malam ganjil 10 malam terakhir Ramadhan itu. Bebarapa kisah di bawah ini membuktikan sebagian kenyataan tersebut:

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk iktikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah. Ketika Rasulullah berdiri sholat, para sahabat juga menunaikan sholat. Ketika beliau menegadahkan tangannya untuk berdoa, para sahabat pun serempak mengamininya. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari bulan Ramadhan.

Di saat Rasulullah SAW dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan sholatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah SAW dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak. Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk ke dalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Rasulullah SAW baru mengangkat kepala dan mengakhiri sholatnya ketika hujan berhenti. Anas bin Malik, sahabat Rasulullah SAW bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW. Namun beliau pun mencegahnya dan berkata: "Wahai Anas, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya."

Dalam riwayat lain diceritakan, Rasulullah SAW bertemu Lailatul Qadar pada malam ke-21 sebagaimana diterangkan dalam Kitab Al-Muwaththa' Hadis No 701 oleh Imam Malik. Dari Abu Said Al-Khudri sesungguhnya dia berkata: "Rasulullah SAW beriktikaf pada puluhan yang kedua dari bulan Ramadhan. Pada suatu tahun setelah beliau sampai pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari iktikaf pada pagi harinya, beliau berkata: "Barangsiapa turut beriktikaf bersamaku, hendaklah beriktikaf pada sepuluh hari yang terakhir. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku Malam Al-Qadar. Kemudian aku dijadikan lupa. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah. Karena itu carilah dia di sepuluh akhir, carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil. Berkata Abu Sa'id: "Maka turunlah hujan pada malam itu, sedangkan masjid diatapi dengan daun kurma dan meneteslah air ke lantai. Kedua mataku melihat Rasulullah SAW kembali dari masjid, sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah, yaitu pada malam 21." Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ini menunjukkan betapa banyak rahasia dan hikmah di balik malam seribu bulan. Ini pun menunjukkan bahwa Lailatul Qadar kerap terjadi malam-malam ganjil di 10 terakhir Ramadhan.

Ketiga, Bahkan Rasulullah saw lebih mengerucutkan lagi dalam menjelaskan kemungkinan kuat datangnya Lailatul Qodar, yaitu di malam-malam ganjil pada 7 hari terakhir  bulan Ramadhan. Berarti malam  25, 27 dan 29. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya, maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir. ” (muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Keempat, Bahkan Imam Ghazali menyampaikan satu kaidah (rumus) tentang datangnya Lailatul Qodar. Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadhan:

 قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر  فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة 1.

Rumus itu adalah (artinya;)

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21

Jika awal Ramadhan  jatuh pada hari Selasa atau Jum'at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25

Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23

Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata: “Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah tersebut."

Jadi, jika mengacu kepada kaidah (rumus) yang disampaikan al, Ghazali tersebut, maka karena awal Ramadhan tahun ini jatuh pada hari selasa, maka Lailatul Qodar pada Ramadhan tahun ini (1445 H/ 2024 M) akan terjadi pada malam ke 27 Ramadhan. Wallahu a'lam.

Kelima, Kemungkinan malam lailatul qodar jatuh pada malam ke 27 dikuatkan pula dengan dalil dan riwayat serta analisa para ulama berikut ini :

Hadist Nabi saw : "(Dia/lailatul qodar adalah) malam ke-27. ” (HR. Abu Dawud, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliyallahu ‘anhuma)

1. Ibnu Katsir ulama ahli tafsir mencoba menguak rahasia surat al-Qodar terkait dengan waktu datangnya malam Lailatul Qodar. Beliau mengungkap penemuannya, bahwa lafazh (ليلة القدر) dalam surat al-Qodar disebut 3 (tiga) kali dalam al-Quran dalam surat tersebut. Dan lafazh tersebut berjumlah 9 huruf. Sehingga jika dikalikan jumlah huruf pada lafazh (ليلة القدر) yang berjumlah 9 huruf itu dengan angka 3 kali penyebutannya, maka keluar hasil angka 9 x 3 = 27. Maka malam Lailatul Qadar akan terjadi di malam ke 27 Ramadhan

Hadist dari Sahabat Ubay bin Ka’b radliyallahu ‘anhu menegaskan

والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

"Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27." (HR. Muslim)

2. Para ulama Hanabilah juga banyak mengikuti riwayat yang menjelaskan bahwa malam lailatul Qadar terjadi pada malam ke 27 Ramadhan. Sehingga tidak heran, jika di malam itu terjadi puncak kepadatan jamaah shalat taraweh dan qiyamullail di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta masjid lainnya di Arab Saudi.

Akan tetapi, meskipun kita dianjurkan ber-taharri (berjaga mendapatkan) Lailatul Qodar dengan dimensi waktu yang telah dijelaskan di atas. Akan tetapi Lailatul Qodar tidak akan turun saat sikap-sikap dan perilaku kita bertentangan dengan apa yang dianjurkan Rasulullah saw.

3. Rasulullah saw pernah sempat diberitahu Jibril as bahwa suatu malam nanti akan ada Lailatul Qadar, akan tetapi Jibril as meralatnya, bahwa Lailatul Qadar tidak jadi turun, karena sikap beberapa kaum muslimin yang tidak mencerminkan sikapnya sebagai muslim yang baik.

4. Diceritakan dalam buku Ringkasan Shahih Bukhari oleh Muhammad Nasir al-Din Albani, pada mulanya, Rasulullah SAW hendak memberitahukan umatnya tentang waktu pasti satu malam terjadinya lailatul qadar. Tapi, hal tersebut tertunda setelah Rasulullah melihat dua umatnya tengah berselisih.

5. Diceritakan Ubadah ibnush-Shamit bahwa ia berkata,

 خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ ليُخْبِرَ بِليلةِ القَدْرِ، فَتَلَاحَى رَجُلاَنِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، فَقَالَ النبيُّ ﷺ: إِنِّيْ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فتلاحَى فُلَانٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ، فَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوْهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

Artinya: Nabi keluar untuk memberitahukan kepada kami mengenai waktu tibanya Lailatul Qadar. Kemudian ada dua orang lelaki dari kaum muslimin yang berdebat. Beliau bersabda, "(Sesungguhnya aku) keluar untuk memberitahu kan kepadamu tentang waktu datangnya Lailatul Qadar, tiba-tiba si Fulan dan si Fulan berbantah-bantahan. Lalu, diangkatlah pengetahuan tentang waktu Lailatul Qadar itu, namun hal itu lebih baik untukmu. Maka dari itu, carilah dia (Lailatul Qadar) pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima (pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan)," (HR Bukhari).

Maka, menjaga sikap yang baik di antara kaum muslimin tidak kalah pentinganya dengan memburu tanggal-tanggal tertentu untuk mendapat Lailatul Qadar.

Semoga kita mendapat ketepatan dengan Lailatul Qodar di bulan Ramadhan tahun ini.



Muhammad Jamhuri, 24 Ramadhan 1445 H/ 4 April 2024 M

Kamis, 28 Maret 2024

Pesan KH. Syukron Makmun Kepada Para Pimpinan Pesantren

Para pimpinan pesantren bersama KH. Syukron Makmun
Pada Selasa 26 Maret 2024 atau 16 Ramadhan 1445 H, KH. Syukron Makmun mengundang para santrinya yang juga para pimpinan pesantren di sekitar Jabodetabek dalam sebuah acara bersama Ifthor Jamaí ataau Buka Puasa Bersama di  Pesantren Daarul Rahman II Lewiliang, tepatnya di Resto Saung Bambu DR 2.

Para bu Nyai bersama KH. Syukron Makmun
Dalam kesempatan itu hadir para pimpinan pesantren yang tergabung dalam FORMADA (Forum Kerja Sama Antar Pesantren Alumni Daarul Rahman), antara lain:

  1. DR. KH. Musyfiq Amrullah, lc. MA. Pengasuh Pesantren At-Tawazun, Subang
  2. KH. Alwan Surya, Pengasuh Pesantren Nurul Falah, Parung Panjang, Bogor
  3. KH. Anwar Wahdi, Pengasuh Pesantren Babus Salam, Comone Tangerang
  4. KH. Musthofa Mughni, Pengasuh Pesantren Daarul Mughni, Cileungsi Bogor
  5. KH. Faisal Ali Nurdin, Pengasuh Pesantren Nurul Ilmi, Bojonggede, Bogor
  6. KH. Ahmad Wildan S, Pengasuh Pesantren Al-Kamil, Doyong Tangerang
  7. KH. Muhammad Jamhuri, Pengasuh Pesantren Multazam, Rumpin Bogor
  8. KH. Abudl Wahid, Pengasuh Pesantren Al-Musyarrofah, Cianjur
  9. KH. Ahmad Al-Ghozali, Pengasuh Pesantren Al Ihya, KH. A, Ghozali
  10. KH. Jamaladdin F Hasyim Adnan, STAI Al-Aqidah, Jakarta
  11. KH. Mulyadi Mughni, Pengasuh Pesantren Baitun Nun, Bogor
  12. KH, M, Farid Ma'ruf, Pengasuh Pesantren Asy-Syarofah
  13. dan kyai lainnya seperti KH. Sumarja, KH. Dimyati dan lainnya
Dalam kesempatan  tersebut Syaikhuna KH. Syukron Makmun memberi pesan-pesan spritual kepada para pimpinan pesentren, agar tidak lupa meningkatkan spritualitas diri, di antaranya selalu qiyamullail atau tahajjud dan sholat witir.  "Seorang kyai itu jangan pernah putus setiap malam untuk selalu shalat tahajjud dan witir, kecuali dalam kondisi tertentu, seperti lelah sekali karena kesibukan yang padat sebelumnya, tapi usahakan sholat malamlah" Ujar KH. Syukron Makmun berulang-ulang disampaikan. "Saat malam itulah, doakan pesantren dan santri-santrinya." tambahnya. "Silakan tanya ke istri saya, kalau saya shalat bersama istri, pasti setelah shalat, saya doakan pesantren, santri-santri saya, bahkan alumni-alumni Daarul Rahman, semuanya saya doakan" Ujarnya meyakinkan.

"Lho?, saya dapat cerita bahkan bu Nyainya pesantren Tremas itu suka berpuasa hampir setiap hari. Ketika ditanya kenapa sampean puasa hampir setiap hari? Jawabnya, karena saya ingin mendoakan agar santri-santri yang belajar kepada suami saya menjadi manusia yang berguna untuk dunia dan akhirat "Tambah KH. Syukron bercerita

Kemudian beliau juga berpesan agar kyai atau pimpinan pesantren tidak meninggalkankan amalan shalat Dhuha setiap harinya, karena shalat ini akan memudahkan datangya rezeki. 

Usai memberi pesan spritual, acara diisi dengan doa yang dipimpin langsung oleh beliau, yang kandungan isi doanya penuh dengan doa untuk santri-santri beliau, alumni-alumni dan orang-orang yang pernah memberikan andil bagi pesantren beliau khususnya Daarul Rahman

Selasa, 11 Juli 2023

Dapat 100 Ribu Pahala Sholat di Masjidil Haram, Pulang Haji Tidak Usah Sholat Lagi?

 

Usai menjelaskan tentang keutamaan sholat di Masjidil Haram, salah seorang jamaah haji bertanya, “Ustadz, kata ustadz tadi, keutamaan sholat di Masjidil Haram itu sama dengan 100 ribu sholat yang dilakukan di tempat lain. Saya sudah hitung ustadz, 100.000 : 5 waktu sholat = 2.000 hari = 666 bulan = 55 tahun. Nah, berarti boleh dong pulang dari umroh atau haji kita gak sholat lagi selama 55 tahun? Kan deposit pahala sholat di Masjidil Haram masih banyak yaitu sebanding 100 ribu kali sholat di tempat lain?.”

 “Sebelum saya jawab, boleh saya tanya tentang pribadi bapak?” Ustadz balik bertanya. “Mmmm, boleh, silakan ustadz.” Jawab jamaah.

 “Pekerjaan bapak apa?” Tanya ustadz.

 “Saya karyawan di sebuah BUMN ustadz.” Jawab jamaah.

 “Maaf, penghasilan bapak perbulannya berapa?.” Tanya ustadz lagi.

 “Yaaahh...sekitar 10 juta-an lah..” jawab jamaah.

“Selain untuk makan sehari-hari, berapa rupiah kebutuhan perbulan bapak? Katakanlah untuk bayar listrik, air, sekolah/kuliah anak, bensin kendaraan,  gaji pembantu, nabung dan lain-lain.?.” Tanya ustadz.

Sambil berfikir sejenak,  jamaah menjawab: “Mmmm..sekitar 6 jutaan, ustadz.”

“Berarti 4 jutaanya untuk kebutuhan makan sehari-hari selama sebulan?” tanya ustadz lagi.

 “Ya, kira-kira segitu lah..” jawab jamaah.

“Nah, jika suatu saat bapak makan bersama keluarga di sebuah restoran hotel mewah yang per pax-nya seharga Rp 1 jt dan jumlah keluarga bapak ada 4 orang. Berarti bapak menghabiskan uang untuk makan di tempat mewah itu Rp.4 juta untuk sekali makan?. Lalu apakah bapak dan keluaga bapak kuat tidak makan selama 1 bulan dikarenakan jatah 4 jutaan tadi dipakai untuk makan di restoran tersebut?” tanya ustadz.

“Maksudnya ustadz?” Jamaah minta diperjelas.

“Begini, tadi kan gaji bapak 10 juta/bulan, lalu kebutuhan selain makan 6 jutaan, dan untuk konsumsi makan perbulan 4 jutaan.. Lalu jika uang 4 jutaan jatah makan sebulan tadi dipakai makan di restoran mewah untuk sekali makan, sehingga uang bapak habis, lalu apakah bapak tidak makan sebulan ke depan. Lalu apakah bapak dan keluarga bapak kuat tidak makan selama sebulan?” tanya ustdaz.

“Kalau tidak makan selama sebulan, mana kuat kami ustadz?” Jawab jamaah.

“Nah, begitu juga dengan shalat di Masjidil Haram. Saat bapak shalat di Masjidil Haram, itu seperti jamuan Allah untuk bapak dalam beribadah, seperti bapak makan di restoran hotel mewah tadi. Tetapi kebutuhan spritual bapak sehari-hari atau shalat 5 waktu sehari-semalam, itu sama dengan  kebutuhan bapak terhadap makanan dan minuman. Kalau bapak bilang abis pulang haji atau umroh kita tidak usah shalat selama 55 tahun. Bapak mau gak? abis makan di hotel itu tidak usah makan minum lagi selama sebulan berturut-turut? Nah, pasti makan juga kan?. Itulah samanya kebutuhan batin kita terhadap gizi shalat sehari-hari.” Jelas ustazd.

 “Jadi, pahala 100 ribu shalat di Masjidil Haram tidak bisa menggugurkan shalat 5 waktu sehari-hari ustadz?” Tanya jamaah minta penegasan.

“Ya, betul !, Seperti makan 1 juta di restoran tidak menggugurkan kebutuhan makan kita sehari-hari” tambah Ustadz.

“Berarti kita gak boleh hitung-hitungan kaya perusahaan ya ustadz?” Tanya jamaah

“Boleh sih untuk semangat beramal, atau dalam bahasa Arabnya disebut ‘targhib’ (spirit) ibadah, tapi tidak sepenuhnya selalu diperhitungkan seperti hitungan perusahaan.” Jawab ustadz.

“Kalau ngelola negara seperti ngelola perusahaan, boleh gak ustadz?” tanya jamaah.

 “Sama, tidak selamanya ngelola negara seperti ngelola perusahaan. Perusahaan kan yang dipikirkan untung-ruginya, Jika negara seperti perusahaan atau produsen, sementara rakyatnya adalah konsumen, bisa-bisa yang dipikirkan keuntungan produsen tapi tidak memperhatikan daya beli konsumen/rakyat.” Jelas ustadz.

“Karena itu dalam negara, ada kebijakan subsidi. Kalau semua tanpa subsidi, lalu kemana hasil pajak yg dibayar rakyat dong? Apalagi jika premium mau dihapus, rakyat dipaksa beli pertamak?  Sudah gak dikasih subsidi, dipaksa pula beli pertamak lagi yg mahal...?”Ustadz  menambahkan.


Minggu, 09 Juli 2023

Mengapa Setelah Thawaf Wada’ Tidak Ada Sa’i-nya ?

Masya Allah, Nenek ini, baru dua hari dari pulang haji
 langsung "sa'i" (baca: usaha) di Tokonya di Tanah Abang
Usai thowaf wada’ dan akan bergegas berangkat ke Jeddah, seorang jamaah haji bertanya, “Pak ustadz, kenapa sih thawaf wada’ gak ada sa’i-nya?, padahal thowaf ifadhoh dan thowaf rukun ada sa’i-nya?”

“Siapa bilang gak ada sa’i-nya? Thowaf wada’ juga ada sa’inya, tau…” jawab ustadz santai.

Lho?, tadi, saat ustadz bimbing kami berthawaf wada’,  kok gak ada sa’i-nya?” tanya jamaah menyanggah.

“Nanti !, sa’i-nya di Indonesia.” Jawab ustadz santai.

“Lho? Kok sa’i-nya di Indonesia ustadz? Oh ya, mungkin ustadz alirannya beda ya? Syiah ya ustadz? Yang tanah sucinya di Karbela? Atau Ahmadiyah yang tanah sucinya di Lahore? Atau aliran mazhab al-Zaytun yang tanah sucinya di Tanah Air? Bukankah thowaf dan Sa’i-kan cuma di Tanah suci Makkah ustadz?” Tanya jamaah.

“Huss....jangan nuduh sembarangan, nanti jadi fitnah !” sanggah ustadz.

”Jadi apa dong maksud perkataan ustadz sa’i-nya di Indonesia?” tanya jamaah penasaran.

“Sa’i itu arti bahasanya adalah usaha..kerja keras. Jamaah haji kalau sudah pulang dari ibadah haji, dan kembali ke Tanah Air, harus kerja lagi, harus sa’i. Jangan sampe sebelumnya macul, atau nyopir lalu menjual tanah atau kendaraan, lalu pulang haji nganggur, gak kerja lagi...itu bukan haji mabrur. Nah itulah makna sa’i di Tanah Air.” Jelas ustdaz.

“Ohh..gitu..saya kira sa’i antara Shofa dan Marwah seperti biasa..”celetuk jamaah.

“Memang betul, sa’i itu antara Shofa dan Marwah juga” Ustadz menimpali.

 Jamaah: “Lho? kan di Indonesia gak ada bukit Shofa dan Marwah nya ustadz?”  

Ustdaz: “Sa’i atau usaha itu ,harus dimulai dengan Shofa yang artinya di mulai dengan kejernihan, jernih niat, jernih cara dan jernih tujuan, maka akan berakhir di Marwah  (yang maknanya ‘kepuasan’).”

Jamaah: “Ah, ustadz bisa aja nih....Oh ya ustadz, kalau ada calon presiden pergi haji, apa sehabis tawaf wada’, dia juga sa’i-nya di Tanah Air?”

Ustadz: “harus...! Ingat ya, saí-nya harus bermula dari Shofa (kejernihan). Jernih niat, jernih cara atau proses, dan jernih tujuan. Tanpa itu maka tidak akan sampai ke Marwah (tujuan kepuasan lahir dan batin)”

Jamaah: “Bagaimana dia dapat diketahui sa’i-nya bermula dari shafa”.

Ustadz: “Dari track record-sa'i-nya selama ini”.

Jamaah; “????!!!!!!?????”

 


 

Kamis, 06 Juli 2023

Inilah Ciri Haji Mabrur

Jamaah Haji Pasca Thawaf Wada' (thawaf perpisahan)
Tidak ada bentuk ibadah individual dalam Islam melainkan hasil yang diharapkan darinya adalah kebaikan secara sosial.  Saat seorang muslim patuh melaksanakan ibadah shalat, maka diharapkan dari perbuatan shalatnya itu adalah tercegahnya ia dari perbuatan keji dan mungkar. Saat kita menunaikan zakat, maka yang diharapkan dari kita adalah terhindar dari sifat kikir serta memberi efek kepeduliaan dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Demikian juga saat kita melaksanakan ibadah puasa, diharapkan kita terhindar dari sifat emosi serta dapat menahan hawa nafsu yang akan merugikan pihak lain. Itulah inti dari risalah (misi) diutusnya Rasulullah saw. Sebagaimana beliau bersabda: "Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak (perilaku) yang sempurna." (al-hadist)

Demikian pula dengan ibadah haji yang kita lakukan, hendaknya ibadah haji tersebut memberi efek positif secara sosial.

Para ulama sepakat bahwa salah satu indikasi kemabruran seorang jamaah haji adalah menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari pribadi sebelumnya.

Di antara ciri kemabruran seorang jamaah haji yang yang telah melaksanakan haji adalah:

  1. Thiibul Kalaam (طيب الكلام) tutur katanya menjadi baik, lembut dan ramah. Ucapannya  enak didengar oleh yang mendengarnya. Tidak kasar dan tidak menyakiti lawan bicaranya. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang memiliki sifat sabar dan sopan santun kepada orang lain.
  2. Ithámut Thoám (اطعام الطعام) peduli kepada kaum lemah dan miskin . Berkali-kali melaksanakan umroh atau haji tidak akan berguna jika tidak memberi efek positif bagi lingkungannya, terutama kaum miskin dan dhuafa. Abdulllah bin Mubarok, seorang tabiín, ulama dan waliyullah pernah berhaji unuk kesekian kalinya. Saat berangkat bersama rombongan jamaah haji, rombongan beristirhat di sebuat perkampungan yang dilewatinya. Saat rombongan singgah bersitirahat, Abdullah bin Mubarok berkeliling desa. Didapatinya seorang janda yang memungut  hewan yang sudah mati menjadi bangkai lalu dimasaknya. Abdullah bertanya kepadaya, "Bukankah daging bangkai itu haram dimakan?" Sang Ibu janda menjawab, "Haram buat tuan, tapi halal buat kami, karena kami dan anak-anak kami sudah tiga hari belum menemukan makanan, sementara kami dalam keadaan darurat diperbolehkan mengkonsumsi bangkai agar kami dapat bertahan hidup." Seketika itu juga hati Abdullah bin Mubarok tertegun, ia pun menyerahkan seluruh harta perbekalan untuk melanjutkan perjalanan menuju Makkah, ia  serahkan semua harta perbekalannya kepada ibu janda beranak tersebut. Abdullah pun kembali ke kampung dan tidak ikut bersama rombongan kefilah haji  ke Tanah Suci. Singkat cerita, para jamaah haji kembali ke rumahnya setelah merampungkan ibadah haji mereka. Salah seorang jamaah haji bersilaturrahmi ke rumah Abdullan bin Mubarok, lalu berkata, "Alhamdulillah ya syaikh (tuan guru), kita sudah bersama-sama pergi haji tahun ini ya? Semoga haji kita haji yang mabrur." Abdullah terheran dan berkata, "ya aamiin. tapi saya tidak jadi berangkat ke Mekkah. Saya kembali ke rumah." Namun sang tamu itu bersikukuh dan yakin, bahwa Abdullah bin Mubarok ikut berhaji ke Tanah Suci. "Saya melihat Anda dan kita sama-sama berthowaf dan berwukuf kan?" Abdullah hanya bisa terdiam. Saat malam tiba dan Abdullah tertidur beliau bermimpin bertemu dengan Rasulullah saw. Dalam mimpi itu Rasulullah mengabarkan bahwa hajinya Abdullah telah dibadal hajikan  (digantikan) oleh malaikat karena harta yang diperuntukkan berhaji diberikan kepada sang janda dan anak-anak yatim yang sedang kelaparan dan membutuhkan pertolongan. Kisah ini menunjukkan pentingnya kepedulian dari pada berkali-kali umroh atau haji namun masih tidak peduli kepada kaum miskin dan dhuafa.
  3. Shilatul Arham (صلة الأرحام) menjadi agen perekat umat. Ciri lain dari kemabruran seorang jamaah haji adalah menjadi unsur perekat umat. Menjadi penyatu dan mendamaikan antara umat Islam. Baik di lingkungan keluarga terdekat, masyarakat serta di tengah-tengah umat. Jamaah haji tidak diperbolehkan menjadi provokator yang memecah belah keluarga, masyarakat dan umat. Sebaliknya ia harus menjadi unsur perekat umat dan bangsa.
Jika para jamaah haji memiliki ciri-ciri tersebut, insya Allah bukan hanya mabrur hajinya, namun menjadi alumni-alumni haji yang dirindukan oleh semua makhluk Allah. Bahkan dirindukan Allah, malaikat, Rasul dan semua kaum muslimin, bahkan seluruh makhluk  yang ada.

Semoga para jamaah haji yang telah melaksankan haji-nya tahun ini benar-benar menjadi haji yang mabrur dengan indikasi dan ciri di atas. Sehingga mereka pulang bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan, bersih dari segala dosa, dan orang-orang yang melihatnya merasa gembira dengan kelahirannya...Amin


Senin, 03 Juli 2023

HUKUM SUNAH TIDAK MEMOTONG KUKU DAN MENCUKUR RAMBUT DI 10 HARI PERTAMA DZULHIJJAH HANYA BERLAKU BAGI YANG BERQURBAN DAN TIDAK SEDANG BERHAJI

Saat memberi pengarahan manasik haji di Makkah
Tersebar pesan WA yang menjelaskan anjuran dan sunnahnya TIDAK MEMOTONG KUKU DAN RAMBUT mulai 1 Dzulhijjah hingga 10 Dzulhijjah membuat ragu para jamaah haji, baik yang berqurban maupun yang tidak niat berqurban.

Di sini kami mencoba menjelaskan:
1. Hadist-hadist dan penjelasan tentang anjuran dan sunnahnya TIDAK MEMOTONG KUKU DAN MENCUKUR RAMBUT tersebut berlaku bagi yang berniat dan bermaksud akan berqurban di hari raya Idul Adha dan/atau Ayyamutttasyriq nya (10-11-12-13 Dzulhijjah). Hikmahnya agar mereka merasakan hari-hari itu seperti jamaah haji yang sedang ihrom, karena kebanyakan di 10 hari awal Dzulhijjah adalah puncak jamaah haji berdatangan, baik dalam bentuk haji tamattu’, qiron atau ifrod. Dalam kondisi ihrom jamaah dilarang potong kuku dan cukur rambut. Sehingga orang yang berqurban di Tanah Air ikut merasa membersamai para jamaah haji, walau jika mereka melangggarnya tidak dikenai dam (denda pelanggaran). Karena sifatnya hanya sukarela (sunah/tathowwu')
2. Kesunnahan di atas tidak berlaku bagi orang yang tidak sedang atau akan berqurban. Sebab berqurban terjadi di tanggal 10 DUlhijjah atau setelahnya, juga dirasakan oleh jamaah haji yang telah wukuf dan mabit di Muzdalifah serta melontar jumroh atau tawaf ifadoh dan CUKUR RAMBUT (bertahallul) yang menandakan telah tahallul. Sedangkan orang yang tidak sedang berqurban tidak seperti bersama jamaah haji. Karena orang yang berhaji dapat memulai menyembelih kambingnya (qurban atau hadyu) pd hari nahar (10 Dzulhijjah) juga.
3. Kesunnahan TIDAK MEMOTONG KUKU DAN MENCUKUR RAMBUT di 10 hari pertama Dzulhijjah TIDAK BERLAKU juga BAGI JAMAAH HAJI. Karena ulama sepakat saat akan ihrom haji jamaah haji dianjurkan bersih-bersih dengan potong kuku, cukur rambut (bulu ketiak, bulu kemaluan) dan mandi.
4. Jamaah haji juga TIDAK DISUNNAHKAN BERPUASA DI HARI ARAFAH, bahkan para ulama sepakat bahwa hal ini menjadi makruh bagi jamaah haji, karena hal itu akan mengurangi kekhusyuan ibadah WUKUF yang menjadi INTI HAJI jika dilakukan dalam keadaan berpuasa.
5. Berpuasa Arafah disuannahkan bagi orang yg tidak sedang berhaji, baik dia sdg berqurban atau tidak, agar mrk ikut merasakan saudaranya yang berhaji dan sedang berwukuf di Arafah

Wallahu a’alam

Kamis, 13 April 2023

Ramadhan dan Optimisme Dunia Menuju Kehidupan yang Islami

Umat Islam AS shalat taraweh di Time Square New York
Seorang jamaah dalam sebuah pengajian bertanya kepada seorang ustadz, "Pak Ustadz, apa yang dimaksud dari sebuah hadist Nabi Muhammad saw yang menyatakan,  bahwa di bulan Ramadhan, syetan-syetan dibelenggu? ". 

Sang ustadz menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan hadist itu karena di bulan Ramadhan suasana kehidupan umat Islam di mana-mana lebih religi, sehingga pemandangan kemaksiatan berkurang. Di mana-mana kesadaran umat islam meningkat tinggi dalam mengamalkan ajaran Islam. Hampir semua sektor tersentuh dengan suasana Ramadhan. Entertaitment di televisi-teleivisi berubah menjadi Islami, Toko-toko berbau maksiat tutup, sehingga sulit bagi syetan untuk menggoda manusia ke jalan kemungkaran, karena di sana-sini sudah terkunci baginya untuk menjalankan misinya. Bagaikan seseorang yang terbelenggu, tidak dapat bergerak bebas melakukan program dan tujuannya kepada manusia, kecuali di ruang-ruang yang sempit yang syetan masih dapat melakukan misinya. "Itulah makna terbelenggunya syetan." Jelas sang ustadz.

Pernyataan dan penjelasan sang ustadz di atas selain menjawab pertanyaan yang sering timbul di benak sebagaian kaum muslimin, namun juga memberi angin segar rasa optimisme bagi para aktifis dakwah,  da'i, ulama, ustadz dan umat Islam secara kesuluruhan, bahwa suasana dunia masih dapat diubah dan berubah kepada kondisi kehidupan yang Islami. Betapa wilayah Time Square di kota New York  Amerikat Serikat baru-baru ini telah menghadirkan suasana berbuka puasa bersama dan shalat taraweh yang belum ada sebelumnya dalam tiga tahun terakhir ini. Sebuah pemandangan religi dan Islami yang beritanya mendunia sehingga berdampak pada hampir seluruh penduduk dunia Demikian juga lapangan-lapangan sepakbola dan stadion dari berbagai club-club di Eropa telah nampak mengistirahatkan para pemain sepak bola nya di saat memasuki waktu maghrib demi menghormati pemain muslim berbuka puasa, kepala-kepala negara dari negara-negara non muslim besar secara terbuka menyampaikan selamat beribadah puasa kepada kaum muslimin di seluruh dunia.

Acara-acara di TV, mall-mall dan pusat perbelanjaan yang biasanya berisi hiburan semata berubah menjadi lebih religi dan islami. Di beberapa mall ada acara lomba adzan, MTQ, marawis, hadroh dan ceramah-ceramah keagamaan.

Relawan-relawan penebar kebaikan seperti pembagian ta'jil di jalan-jalan raya atau Ta'jil On The Road (TOR), di mesjid-mesjid umum serta tempat terbuka lainnya semakin marak. Saat ini jika kita berada dalam perjalanan lalu kemasukan waktu maghrib/berbuka puasa di jalan, maka tinggal mampir di masjid manapun, maka pasti masjid tersebut telah menyediakan makanan untuk ta'jil atau berbuka puasa. Belum lagi kegiatan-kegiatan itikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan kini semakin menjamur di berbagai wilayah dan propinsi, sesuatu yang belum terlihat pada dua sekade sebelumnya. 

Jiwa-jiwa kebaikan dalam hati setiap manusia kini semakin semarak di tengah bulan Ramadahan ini. Oleh sebab itu, kondisi ini adalah sebuah fakta bahwa perubahan dunia ke arah suasana berkehidupan Islami itu adalah sebuah keniscayaan.

Ramadhan memang telah memberikan optimisme kepada seluruh umat Islam, karena Ramadhan telah menyatukan seuluruh umat Islam sedunia dalam satu perasaan yang sama, suasana yang sama, kebersamaan yang, kepedulian yang sama serta tanggung jawab yang sama. Mereka bersama-sama menahan rasa lapar di siang hari, mereka bersama berbahagia saat waktu berbuka puasa tiba, mereka saling memberi ta'jil kepada saudara-saudaranya dan bahkan mereka memberi dampak positif bagi saudara-saudara mereka yang masih belum beriman.

Maka bulan Ramadahan yang di dalamnya terdapat syariat berpuasa, taraweh, itikaf dan lain sebagainya adalah sebuah nikmat hidayah yang diberikan Allah swt kepada umat Islam dan umat manusia yang wajib disyukuri. Firman Allah swt :

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185)

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Allahu Akbar..Walillahil Hamd....

Muhammad Jamhuri, 23 Ramadhan 1444 H/12 April 2023 M




Selasa, 11 April 2023

Ibadah Sosial Lebih Utama Dari Ibadah Individual, Agar Sifat ZhahirNya Allah Dirasakan Semua Makhluk

Allah swt tidak membiarkan  ibadah individual yang dilakukan hambaNya kecuali menuntut setelahnya melakukan ibadah sosial. Allah tidak memerintahkan shalat, kecuali setelahnya ada perintah zakat. Allah pun tidak membiarkan hambaNya melaksanakan ibadah puasa, kecuali harus ditutup dengan ibadah zakat fitrah. Shalat dan puasa adalah bentuk ibadah individual, sedangkan zakat adalah bentuk ibadah sosial.

Mengapa demikian? Karena Allah swt adalah ghaib (tidak nampak dengan kasat mata) sehingga salah satu sifat Allah adalah Al-Bathin (Maha Tak Nampak). Namun Allah juga memiliki sifat  yang salah satu asmaul husnaNya adalah Al-Zhahir (Yang Maha Nampak). Sebagaimana firman Allah swt :

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3)

Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud  Yang Zhahir ialah, Yang nyata adanya karena banyak bukti- buktinya. Bukti di sini bukan hanya langit, bumi, planet, laut, sungai dan segala alam yang kita lihat saja. Namun juga bagaimana sifat-sifat baik (asmaul husna) Allah itu dapat dirasakan secara inderawi oleh semua makhluk Allah melalui para khalifahNya di atas muka bumi ini. Siapakah para khalifahNya itu? tidak lain adalah kita sebagai manusia.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30)

Para ulama tafsir bersepakat bahwa yang dimaksud dengan kata khalifah dalam ayat itu adalah manusia, yakni Nabi Adam as.

Maka, agar makhluk-makhluk Allah swt, termasuk manusia, hewan dan lainnya, mengenal sifat-sifat Allah yang baik itu, maka Allah memperkenalkan sebagian kecil sifat-sifatnya melalui para khalifahNya denga tindakan-tindakan zhahir yang mengejewantahkan sebagian kecil dari sifat-sifat Allah yang baik itu, agar makhluk lain, termasuk manusia, mengenal siapa itu Allah. Maka perlu ada tindakan "zhahir" agar para makhluk mengenal Allah.

Oleh sebab itu, ketika seseorang melakukan kebaikan kepada makhluk lainnya -baik kepada manusia, hewan dan lainnya - maka hal itu pahalanya dianggap lebih utama di sisi Allah dari pada ibadah individual. Karena ia sedang mengejewantahkan dan memperkenalkan salah satu atau beberapa sifat baik Allah swt kepada pihak lain, diantaranya sifat rahman dan rahimnya Allah.

Sebagai contoh, kisah ulama bernama Ibnu Mubarok yang mendahulukan membantu seorang ibu miskin yang memiliki anak-anaknya yang sudah yatim karena dia ditinggal wafat suaminya, sehingga tidak memiliki makanan di rumahnya, sang ibu memungut dan memasak daging hewan sang sudah menjadi bangkai. Ketika Ibnu Mubarok bertanya, "Bukankah daging bangkai itu haram? mengapa kau memasak dan memberikannya untuk anak-anakmu?". Sang ibu menjawab, "Ini haram buat Tuan, tapi halal buat kami." Ketika ditanya, "Mengapa bisa begitu?." Sang Ibu Menjawab Karena kami sudah tiga hari belum makan sehingga hidup kami dalam keadaan darurat, . Bukankah daging bangkai menjadi halal dimakan jika dalam keadaan darurat?. Ibnu Mubarok yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji yang ke sekian kalinya bersama kafilah haji lainnya, langsung bersedih dan menyerahkan semua sisa perbekalan hajinya kepada wanita tersebut sehingga beliau tidak jadi berangkat ke Mekkah. Namun di akhir kisah itu, Ibnu Mubarok justru bermimpi bertemu dengan Rasululllah saw dan dikabarinnya bahwa ibadah hajinya yang tidak jadi dilaksanakan itu telah dibadalkan (digantikan) oleh malaikat Allah swt karena kebaikan pada wanita miskin itu. Ini menujukkan bahwa ibadah sosial lebih utama dari ibadah individual.

Demikian juga dengan kisah Alqomah yang tidak memperdulikan panggilan ibunya karena sibuk dengan ibadah individualnya berupa shkat sunnah yang kisahnya berakhir pada kesulitan Alqomah saat sakratul maut pun menjadi contoh betapa kepedulian dan ibadah sosial lebih penting dari pada ibadah individual.

Contoh lain adalah kisah  seorang wanita penzina yang teleh memberi pertolongan kepada seeokor anjing yang sedang kehausan dan berada di samping sebuah sumur. Anjing itu tidak dapat menjangkau air sumur karena kedalamannya, sang wanita itu lalu dengan menanggalkan salah satu sepatunya untuk mengambill air dari dalam sumur tadi agar dapat diberikan kepada seekor anjing yang sedang kehausan itu, Atas perbuatan sosial baiknya itu Allah pun memasukkan wanita tersebut ke dalam surga.

Dari kisah-kisah di atas kita menjadi tahu, bahwa betapa kepedulian kepada sesama makhluk, bahkan kepada anjing sekalipun, dapat menandingi tumpukan kesalahan dan dosanya sebagai penzina sehingga dimasukkannya ke dalam surga. 

Sebaliknya, ada pula kisah seorang wanita yang dimasukkan ke dalam neraka, hanya karena mengurung seekor kucing, dia tidak memberinya makanan dan minuman serta tidak membiarkannya kucing di luar kurungan sehingga kucing itu dapat mencari makanan dan kebutuhannya sendiri.(al-Hadist)

Semua kisah-kisah di atas, menunjukkan bahwa agar sifat  Allah yang Az-Zhahir  dapat dirasakan secara "zhahir" (nyata) melalui makhlukNya berupa manusia.  Maka kita sebagai hamba Allah yang mukmin diperintahkan untuk berbuat baik kepada sesama makhluk Allah agar menjadi bukti adanya Allah swt. 

Itulah sebabnya, setiap kali ada perintah mendirikan shalat, Allah menyandingkannya dengan perintah berzakat:

 وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

Dan dirikan shalat dan tunaikanlah zakat

Puasa juga mengajarkan kepada kita bagaimana rasa lapar yang dirasakan kaum dhuafa, hingga timbul rasa solidaritas dan kepedulian sosial kita.

Hal ini ditegaskan agar kita tidak merasa puas hanya dengan ibadah  individual semata, tanpa ada pengaruh dalam hubungan sosial dan melupakan ibadah sosial (berhubungan dan berbuat baik kepada sesama makhluk Allah). Karena kebaikan Allah dengan sifat-sifat baikNya (asamaul husna) harus dikenal semua makhluk melalui duta-duta kebaikanNya di muka bumi. Dan kita-lah seharusnya yang m menjadi duta-duta Allah dalam mengenalkan sifat-sifat Rahman dan Rahim Allah kepada semua makhluk Allah swt,, dengan sikap dan akhlak sosial kita.

Muhammad Jamhuri 20 Ramadahan 1444 H/ 11 April 2023 M



Minggu, 09 April 2023

Puasa Sebagai Sarana Meraih Husnul Khotimah

Bencana gempa bumi yang baru-baru ini menimpa daerah Cianjur, kemudian disusul dengan bencana yang sama di negara Turki, mengkorfirmasi kepada kita bahwa ratusan bahkan ribuan jiwa telah melayang dalam waktu yang singkat, baik karena tertimbun bangunan maupun yang tidak diselamatkan saat tiba rumah sakit.

Peristiwa ini, dan peristiwa lainnya mengingatkan kepada kita bahwa kematian dan ajal akan datang kapan saja. Kematian hanya satu, sedangkan sebab bisa bermacam-macam. (الموت واحد و تعددت الأسباب). Ada yang wafat karena kecelakaan di jalan, ada pula yang wafat karena jatuh disebabkan darah tinggi, stroke atau lain sebagainya. 

Apa pun jenis sebab kematian itu, yang terpenting bagi seorang muslim adalah saat wafat berada dalam keadaan husnul khotimah (kesudahan yang baik). Salah satu sarana terpenting agar wafat dalam keadaan husnul khotimah adalah puasa. Sebab jika seseorang sedang kondisi berpuasa kemudian ia wafat, maka ia wafat keadaan sedang beribadah kepada Allah swt. Oleh sebab itu, puasa adalah satu-satunya jenis ibadah yang meskipun kita dalam keadaan tidur atau fisik kita sedang non aktif, maka tidur kita tetap bernilai ibadah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

  نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ

“Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni” (HR Baihaqi).

Tentu saja bukan tidurnya yang ibadah, namun karena kondisi orang tidur itu dalam keadaan berpuasa, maka meskipun fisiknya sedang non aktif atau dalam kondisi tidur, maka tetap orang itu sedang dalam kondisi melaksanakan ibadah, yakni puasa.

Alangkah indahnya jika seseorang ditakdirkan dalam kondisi beribadah puasa lalu ia harus menemui ajalnya, baik karena musibah gempa bumi, kecelakaan kendaraan, atau dalam kondisi wafat mendadak.

Ketika Rasulullah saw ditanya alasan mengapa beliau  sering melaksanakan ibadah puassa di hari Senin dan Kamis, maka beliau memberi jawaban, bahwa kedua hari itu adalah hari dilaporkannya amal seorang hamba, dan Nabi saw menyukai jika saat dilaporkan, kondisi beliau dalam keadaan sedang beribadah. 

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda, seluruh amal hamba itu dilaporkan di hadapan Allah pada hari Senin dan hari Kamis. Aku senang sekali jika amalku diperlihatkan di saat aku sedang berpuasa. (HR Turmudzi dan lainnya)

Di sini semakin jelas, bahwa ibadah puasa itu adalah ibadah yang dapat dilakukan sambil melakukan aktifitas lain sepanjang hari. Berbeda dengan ibadah shalat misalnya, yang dibatasi hanya oleh aktifitas antara takbirotul  ihram hingga salam saja.

Jika dalam kondisi hidup saja, saat amal manusia dilaporkan dalam kondisi ibadah puasa itu disukai, tentu saja manusia akan lebih bahagia lagi jika saat wafat tiba, diri dalam kondisi sedang beribadah , yakni puasa. Maka ibadah puasa dapat dikatakan menjadi sarana seseorang mendapat husnul khotimah (kesudahan hidup yang baik).

Cara lainnya untuk menadapat husnul khotimah adalah menjaga wudhu. Seseorang yang diwafatkan Allah swt dalam kondisi dia sedang suci (tidak memiliki hadas), maka dia dalam kondisi sedang dicintai Allah swt. Berdasarkan firman Allah swt :

 إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al=Baqarah: 222)

Oleh sebab itu, menjaga wudhu atau menjaga kesucian adalah satu amalan yang sering dilakukan oleh orang-orang sholeh

Di kondisi saat ini - yang menurut sebagian orang sebagai hidup di akhir zaman, dimana salah satu tandanya adalah banyaknya fenomena orang mati mendadak, maka amalan berpuasa (baik yang bersifat wajib maupun sunah) serta rajin menjaga kesucian (berwudhu),  adalah sangat penting kita amalkan, agar kita dapat mencapai akhir hidup dalam kondisi terbaik (husnul khotimah)

Hadits Anas bin Malik menyebutkan, Nabi Muhammad SAW bersabda:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال : إن من أمارات الساعة أن يظهر موت الفجأة

"Salah satu tanda akhir zaman adalah munculnya kematian secara mendadak." (HR Ath-Thabrani)

Semoga Allah swt memberi kita karunia husnul khotimah. Aamiin

Muhammad Jamhuri, 18 Ramadhan 1444 H/ 9 April 2023 M


Jumat, 07 April 2023

Antara "Falah" dan "Wail" Dalam Shalat Taraweh Kita

Akhir-akhir ini media sosial dan elektronik dihebohkan oleh berita dan fenomena yang begitu viral tentang shalat taraweh kilat. Bahkan sebuah rekaman film di youtube berjudul "Shalat Taraweh Tercepat di Dunia". Ada pula komunitas tertentu melakukan shalat taraweh sebnayak 23 rakaat hanya diselesaikan dalam waktu 15 menit. Menyaksikan film dan video ini, banyak netizen menyampaikan komentarnya. Ada yang pro dan kontra.

Dalam tulisan ini, kami tidak membahas dan menyinggung tentang berapa rakaat shalat taraweh itu seharusnya, karena hal itu sudah dibahas panjang oleh para ulama. Ada yang melaksanakan Taraweh dengan 8 rakaat, 20 rakaat, 36 rakaat. Bahkan ada yang melaksanakan taraweh dengan 100 rakaat. Namun bahasan dalam tulisan ini lebih menyentuh tentang kualitas shalat taraweh kita yang selalu berlangsung sebulan setiap tahunnya.

Dalam pembahasan ini, ada dua ayat dalam al-Quran yang berkaitan dengan kondisi shalat untuk kita renungkan bersama, yaitu dalam surat al-Mu'minun:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ 

Sesungguhnya beruntunglah (falah) orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya (QS. Al-Mu'minun: 1-2)

Dan dalam surat Al-Ma'un:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ  وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ 

Maka kecelakaanlah (wail) bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna (QS. Al-Maa'un: 4-6).

Ayat pertama menjelaskan bahwa orang-orang yang melaksanakan shalat dengan khusyu' adalah orang-orang yang beruntung (mendapat falah), sementara ayat kedua menjelaskan bahwa orang yang melaksanakan shalat dengan lalai (tidak khusyu') dan melaksanakannya dengan riya, maka dia akan mendapat wail (celaka).

Para ulama fiqih bersepakat bahwa thuma'nah (ketenangan) adalah salah satu rukun dari rukun-rukun shalat. Kedudukannya sama dengan rukun lain, seperti membaca al-Fatihah, ruku', sujud, tasyahhud dan lainnya. Jika seseorang tidak melaksanakan rukun di antara rukun-rukun tersebut, termasuk thumaninah, maka batallah (sia-sia) shalatnya.

Sedangkan terkait dengan ukuran batas thuma'ninah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama:

Pendapat pertama mengatakan, bahwa batas thumaninah adalah sedikit-sedikitnya membaca "subhanallah robbiyal a'la" misalnya dalam sujud atau ruku. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa batas minimal thumaninah dalam sujud dan ruku' adalah tiga kali bacaan tasbih tadi. Sedangkan hadist-hadits Nabi saw lebih menyebut membaca tiga kali tasbih. Maka sebaiknya durasi saat kita sujud dan ruku' sebaiknya sama durasi tiga kali bacaan tasbih tadi.

Dr. Yusuf al-Qordhowi menyebut bahwa khusyu' itu ada dua macam, yaitu Khusyu' Badan dan Khusyu' Hati (qolbu). Khusyu' Badan adalah badan atau tubuh dalam kondisi tenang, tidak bergerak dan tidak tungak-tengok. Tidak bergerak tungak-tengok seperti gerak kepala srigala atau  seperti patuk-mematuk nya seekor  ayam (baca; gerak sujud terlalu cepat). Sehingga shalat yang benar adalah adalah shalat dengan kondisi Khusyu' badan.

Sedangkan Khusyu' Hati adalah menghadirkan keagungan Allah swt di dalam hati, Hal itu dapat dicapai dengan merenungi makna bacaan dan ayat yang dibaca tatkala menunaikan shalat, serta merasa bahwa orang yang sedang shalat itu sedang menghadap Allah swt yang Maha Agung. 

Dalam sebuah Hadist Qudsi, Allah swt berfirman:.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي – فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل. (رواه مسلم)

  • Allah berfirman, “Saya membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta.
  • Apabila hamba-Ku membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”
  • Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.”
  • Apabila hamba-Ku membaca, “Ar-rahmanir Rahiim.”
  • Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.”
  • Apabila hamba-Ku membaca, “Maaliki yaumid diin.”
  • Apabila hamba-Ku membaca, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.”
  • Apabila hamba-Ku membaca, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.”
  • Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”
  • Apabila hamba-Ku membaca, “Ihdinas-Shirathal mustaqiim….dst. sampai akhir surat.”
  • Allah Ta’ala berfirman, “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.”(HR. Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya)
Dari hadist ini kita dapat menyimpulkan bahwa Allah tidak membiarkan orang yang shalat dengan bacaannya  begitu saja, akan tetapi Allah swt merespon setiap bacaan kita. Maka sikap terbaik kita adalah kita pun merespon jawaban Allah swt, dan menghadirkan hati kita dalam setiap bacaan dan gerakan sholat yang kita lakukan serta menunaikan segala rukun-rukun shalatnya.

Janganlah - saat kita menunaikan shalat- kita menganggap shalat itu sebagau beban, sehingga kita ingin segera terbebas dari beban itu, dan kita ingin segera selesai dan bebas dari beban itu dengan tanpa memperhatikan rukun shalatnya, terutama thuma'ninah (tenang) dalam setiap gerakan.

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, manakah yang ingin kita dapatkan dalam shalat (qiyam) kita? falah (keburuntungan) atau wail (celaka) ?

Rasulullah saw bersabda:

من قام رمضان ايماناواحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه. (رواه البخاري)

Barang siapa shalat pada malam Ramadhan karena iman dan semata-mata taat kepada Allah maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Al-bukhari).

Muhammad Jamhuri, 16 Ramadhan 1444 H/ 7 April 2023 M


Kamis, 06 April 2023

Lailatul Qodar Sudah Tidak Dirahasiakan Lagi?

Begitulah kesimpulan sementara. Kita sering mendengar bahwa Lailatul Qodar memang tidak diberitakan kapan akan terjadi, atau malam ke berapa dari bulan Ramadhan akan terjadi. Hal itu - menurut para ulama - agar umat ber-taharri (berjaga-jaga) untuk meraihnya dengan segala upaya yang dapat dilakukannya. 

Akan tetapi kini Lailatul Qodar  nyaris sudah bukan rahasia lagi? Mengapa? Karena Rasulullah saw dan para ulama Islam nyaris membuka tabir Lailatul Qodar secara terbuka kepada umatnya. Tanda-tanda pembukaan tabir itu dapat diamati dari perilaku dan kebiasaan amalan Rasulullah saw, para sahabat serta ulama yang dikenal alim, zuhud dan taqarrub (kedekatan)nya dengan Allah sangat kuat. Bahkan di antara mereka secara terbuka membuka kapan Lailatul Qodar itu akan tiba berdasarkan pengalaman dirinya dan sahabatnya yang mengalami kedapatan Lailatul Qodar.

Diantara tabir-tabir yang sudah dan mulai diungkap oleh Rasulullah saw, para sahabat dan para ulama adalah sebagai berikut:

Pertama, Rasulullah saw selalu melakukan i'tikaf di 10 terakhir bulan Ramadhan dan nyaris tidak meninggalkannya pada setiap tahunnya, sejak beliau tinggal di Madinah hingga menjelang wafatnya. Fenomena ini menjadi sebuah indikasi, bahwa Lailatul Qodar sering terjadi di antara malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن عائشة رضي الله عنها زوج النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده

Artinya, “Dari Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Muhammad SAW beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah wafatnya beliau.” (HR: Bukhori Muslim)

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.” (HR Muslim)

Kedua, Dari 10 malam terakhir Ramadhan, terkuak indikasi, bahwa Lailatul Qodar akan terjadi di malam-malam ganjil 10 malam terakhir Ramadhan itu. Bebarapa kisah di bawah ini membuktikan sebagian kenyataan tersebut:

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Rasulullah SAW sedang duduk iktikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah. Ketika Rasulullah berdiri sholat, para sahabat juga menunaikan sholat. Ketika beliau menegadahkan tangannya untuk berdoa, para sahabat pun serempak mengamininya. Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari bulan Ramadhan. 

Di saat Rasulullah SAW dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan sholatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah SAW dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak. Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk ke dalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi. Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kapalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Rasulullah SAW baru mengangkat kepala dan mengakhiri sholatnya ketika hujan berhenti. Anas bin Malik, sahabat Rasulullah SAW bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW. Namun beliau pun mencegahnya dan berkata: "Wahai Anas, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya." 

Dalam riwayat lain diceritakan, Rasulullah SAW bertemu Lailatul Qadar pada malam ke-21 sebagaimana diterangkan dalam Kitab Al-Muwaththa' Hadis No 701 oleh Imam Malik. Dari Abu Said Al-Khudri sesungguhnya dia berkata: "Rasulullah SAW beriktikaf pada puluhan yang kedua dari bulan Ramadhan. Pada suatu tahun setelah beliau sampai pada malam 21 yang seharusnya beliau keluar dari iktikaf pada pagi harinya, beliau berkata: "Barangsiapa turut beriktikaf bersamaku, hendaklah beriktikaf pada sepuluh hari yang terakhir. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku Malam Al-Qadar. Kemudian aku dijadikan lupa. Aku bersujud pada paginya di air dan tanah. Karena itu carilah dia di sepuluh akhir, carilah dia di tiap-tiap malam yang ganjil. Berkata Abu Sa'id: "Maka turunlah hujan pada malam itu, sedangkan masjid diatapi dengan daun kurma dan meneteslah air ke lantai. Kedua mataku melihat Rasulullah SAW kembali dari masjid, sedangkan pada dahinya nampak bekas air dan tanah, yaitu pada malam 21." Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ini menunjukkan betapa banyak rahasia dan hikmah di balik malam seribu bulan. Ini pun menunjukkan bahwa Lailatul Qadar kerap terjadi malam-malam ganjil di 10 terakhir Ramadhan.

Ketiga, Bahkan Rasulullah saw lebih mengerucutkan lagi dalam menjelaskan kemungkinan kuat datangnya Lailatul Qodar, yaitu di malam-malam ganjil pada 7 hari terakhir  bulan Ramadhan. Berarti malam  25, 27 dan 29. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya, maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir. ” (muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Kelima, Bahkan Imam Ghazali menyampaikan satu kaidah (rumus) tentang datangnya Lailatul Qodar. Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadhan:

 قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر  فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة 1.

Rumus itu adalah (artinya;)

  1. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29 
  2. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21 
  3. Jika awal Ramadhan  jatuh pada hari Selasa atau Jum'at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 
  4. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25 
  5. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23

Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata: “Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah tersebut." 

Jadi, jika mengacu kepada kaidah (rumus) yang disampaikan al, Ghazali tersebut, maka karena awal Ramadhan tahun ini jatuh pada hari kamis, maka Lailatul Qodar pada Ramadhan tahun ini (1444 H/ 2023 M) akan terjadi pada malam ke 25 Ramadhan. Wallahu a'lam.

Keenam, Namun untuk kehati-hatian, kita juga dianjurkan berjaga-jaga/mencarinya di malam ke 27. Hal itu beradasarkan beberapa riwayat sebagai berikut: 

  1. Hadist Nabi saw : "(Dia/lailatul qodar adalah) malam ke-27. ” (HR. Abu Dawud, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliyallahu ‘anhuma)
  2. Ibnu Katsir ulama ahli tafsir mencoba menguak rahasia surat al-Qodar terkait dengan waktu datangnya malam Lailatul Qodar. Beliau mengungkap penemuannya, bahwa lafazh (ليلة القدر) dalam surat al-Qodar disebut 3 (tiga) kali dalam al-Quran dalam surat tersebut. Dan lafazh tersebut berjumlah 9 huruf. Sehingga jika dikalikan jumlah huruf pada lafazh (ليلة القدر) yang berjumlah 9 huruf itu dengan angka 3 kali penyebutannya, maka keluar hasil angka 9 x 3 = 27. Maka malam Lailatul Qadar akan terjadi di malam ke 27 Ramadhan
  3. Hadist dari Sahabat Ubay bin Ka’b radliyallahu ‘anhu menegaskan
  • والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين
  •  "Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam (Lailatul Qadar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat padanya, yaitu malam ke-27." (HR. Muslim)
Para ulama Hanabilah juga banyak mengikuti riwayat yang menjelaskan bahwa malam lailatul Qadar terjadi pada malam ke 27 Ramadhan. Sehingga tidak heran, jika di malam itu terjadi puncak kepadatan jamaah shalat taraweh dan qiyamullail di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta masjid lainnya di Arab Saudi. 

Akan tetapi, meskipun kita dianjurkan ber-taharri (berjaga mendapatkan) Lailatul Qodar dengan dimensi waktu yang telah dijelaskan di atas. Akan tetapi Lailatul Qodar tidak akan turun saat sikap-sikap dan perilaku kita bertentangan dengan apa yang dianjurkan Rasulullah saw. 

Rasulullah saw pernah sempat diberitahu Jibril as bahwa suatu malam nanti akan ada Lailatul Qadar, akan tetapi Jibril as meralatnya, bahwa Lailatul Qadar tidak jadi turun, karena sikap beberapa kaum muslimin yang tidak mencerminkan sikapnya sebagai muslim yang baik.

Diceritakan dalam buku Ringkasan Shahih Bukhari oleh Muhammad Nasir al-Din Albani, pada mulanya, Rasulullah SAW hendak memberitahukan umatnya tentang waktu pasti satu malam terjadinya lailatul qadar. Tapi, hal tersebut tertunda setelah Rasulullah melihat dua umatnya tengah berselisih.

 Diceritakan Ubadah ibnush-Shamit bahwa ia berkata,

 خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ ليُخْبِرَ بِليلةِ القَدْرِ، فَتَلَاحَى رَجُلاَنِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، فَقَالَ النبيُّ ﷺ: إِنِّيْ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فتلاحَى فُلَانٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ، فَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوْهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

Artinya: Nabi keluar untuk memberitahukan kepada kami mengenai waktu tibanya Lailatul Qadar. Kemudian ada dua orang lelaki dari kaum muslimin yang berdebat. Beliau bersabda, "(Sesungguhnya aku) keluar untuk memberitahu kan kepadamu tentang waktu datangnya Lailatul Qadar, tiba-tiba si Fulan dan si Fulan berbantah-bantahan. Lalu, diangkatlah pengetahuan tentang waktu Lailatul Qadar itu, namun hal itu lebih baik untukmu. Maka dari itu, carilah dia (Lailatul Qadar) pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima (pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan)," (HR Bukhari).

Maka, menjaga sikap yang baik di antara kaum muslimin tidak kalah pentinganya dengan memburu tanggal-tanggal tertentu untuk mendapat Lailatul Qadar.

Semoga kita mendapat ketepatan dengan Lailatul Qodar di bulan Ramadhan tahun ini.

Muhammad Jamhuri, 15 Ramadhan 1444 H/ 6 April 2023 M

Minggu, 02 April 2023

I'tikaf Sebagai "Charge Battery" Spritual Kita

Salah satu amalan yang nyaris tidak pernah diabaikan Nabi Muhammad saw di bulan Ramadhan adalah beliau selalu melakukan ritual i'tikaf di sepuluh terakhir ('asyrul awakahir) dari bulan Ramadahan. Sesibuk apapun beliau, beliau selalu menyiapkan sepuluh hari itu untuk ibadah tersebut. Meskipun beliau sibuk sebagai pendakwah, sebagai kepala negara, sebagai kepala rumah tangga dengan istri lebih dari satu orang, sebagai pembisnis, sebagai panglima perang, sebagai "pengurus" keluarga besar Bani Hasyim, dan sebagai seabrek-abrek urusan lain, tapi sekali lagi, beliau tidak pernah meninggalkan amalan i'tikaf sejak beliau berada di Madinah. Bahkan jika di suatu tahun beliau tidak beritikaf karena perjalanan atau perang, beliau berí'tikaf selama 20 hari di tahun berikutnya.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَسَافَرَ سَنَةً فَلَمْ يَعْتَكِفْ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْماً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Kemudian beliau pernah bersafar selama setahun dan tidak beri’tikaf, akhirnya beliau pun beri’tikaf pada tahun berikutnya selama dua puluh hari.” (HR: Ahmad)

Beliau tinggalkan "kasur" kamarnya lalu tidur dan tinggal di Masjid saja. Bahkan untuk disisirkan Aisyah saja tubuh beliau tetap di area masjid, dan hanya sebagain kepala bagian rambutnya yang disisirnya saja yang berada di area rumah beliau untuk disisirkan Aisyah. Dengan demikian selama 10 hari itu beliau meninggalkan berkumpul dengan isteri (Syadda mi'zarohu/menguatkan ikat kainnya).

Lalu kita, -meminjam ungkapan ustadaz Adi Hidayat- Kita nabi bukan, pemimpin negara juga bukan, sebagai pendakwah pun tidak full time, sebagai pemimpin keluarga pun tidak serepot beliau, pembisnis pun bukan. Kemudian kita merasa repot dan tidak sempat menyiapkan waktu untuk beri'tikaf dan berkomtempelasi selama 10 hari di Masjid, sementara kita ingin masuk surga bersama Rasulullah saw?

Saudaraku, i'tikaf bukan sekedar sunnah biasa. Akan tetapi ia merupakan sarana untuk men-charge battery ruhiyah (spritual) kita yang sudah lowbatt karena dipakai selama 11 bulan lalu atau bertahun-tahun lalu dengan ghoflah (kelalaian), ringkihnya amal, bahkan lowbatt rohani karena tergerus dengan maksiat dan perbuatan sia-sia. Bagaikan handphone yang dinyalakan terus menerus tanpa keperluan yang berguna.

Spritual atau ruhiyah adalah modal diri kita untuk selalu on di sebelas bulan ke depan dalam setahun kehidupan kita. Jika ruhiyah kita ringkih, kurang charge, dan lowbatt, maka bisa dipastikan fungsi produktifitas hidup kita tidak akan optimal.

Oleh karena itu Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan moment-moment mencharge battery iman dan spritual di Ramadhan ini dengan berbagai amalan. Salah satunya adalah i'tikaf. Karena sebagai Rasul, pemimpin negara, panglima perang dan tokoh yang memberi solusi pada umatnya perlu modal ruhiyah/spritual yang prima. Bukan hanya i'tikaf saja, bahkan Rasulullah melazimkan  qiyamullail  demi kesiapan menerima "qoulan tsaqilan" (tugas yang sangat berat). 

يَاأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ . قُمْ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا . نِصْفَهُ أَوْ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا . أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلْ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا . إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا 

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. (QS. Al-Muzzammil: 1-5)

Oleh karena itu ada ungkapan dari seorang ahli dakwah "Al-Ibadah Tsumma al-Qiyadah" (Bereskan dulu ibadah baru bisa memimpin)

Kalau kita bermuhasabah (instrospeksi diri). Sudah berapakah usia kita saat ini?. 30, 40, 50 tahun?Namun, pernahkah kita dalam setiap tahunnya menyisihkan waktu selama 10 hari saja untuk totalitas hidup bersama Allah di rumah-Nya (masjid) dan meninggalkan kenikmatan empuknya kasur di rumah kita?, sejuknya AC di kamar kita?, serta tidur bersama pasangan kita? Alangkah egoisnya kita. Padahal Allah sudah berlipat-lipat kali memberi kita nikmat yang terhingga. Hingga Allah pun menantang kita untuk menghitung 1 (satu) nikmat Allah pun kita tidak sanggup menghitungnya. Allah swt berfirman:

 وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya."(QS. Ibrahim: 34).

Dalam ayat ini Allah menyebut "nikmat" tidak dengan bentuk plural (jamak). Akan tetapi menggunakan lafadz singular (mufrod). Jadi untuk menghitung satu nikmat pun kita tidak akan sanggup menghitungnya. Lalu jika Allah sudah begitu banyak menganugerahkan nikmat kepada kita, mengapa kita tidak bersedia menyiapkan waktu untuk Allah? paling tidak di 10 hari terakhir bulan Ramadhan?.

Mudah-mudahan, Ramadhan tahun ini, kita diberikan kesehatan dan kelapangan waktu untuk melakukan sunnah tahunan Rasulullah saw ini, yaitu beri'tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Dan semoga kita dapat menggapai malam kemuliaan (Lailatul Qodar) Satu malam yang lebih baik dari ibadah 1000 bulan. Aamiin.

Muhammad Jamhuri, 11 Ramadhan 1444 H/2 April 2023