Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Maret 2024

Pesan KH. Syukron Makmun Kepada Para Pimpinan Pesantren

Para pimpinan pesantren bersama KH. Syukron Makmun
Pada Selasa 26 Maret 2024 atau 16 Ramadhan 1445 H, KH. Syukron Makmun mengundang para santrinya yang juga para pimpinan pesantren di sekitar Jabodetabek dalam sebuah acara bersama Ifthor Jamaí ataau Buka Puasa Bersama di  Pesantren Daarul Rahman II Lewiliang, tepatnya di Resto Saung Bambu DR 2.

Para bu Nyai bersama KH. Syukron Makmun
Dalam kesempatan itu hadir para pimpinan pesantren yang tergabung dalam FORMADA (Forum Kerja Sama Antar Pesantren Alumni Daarul Rahman), antara lain:

  1. DR. KH. Musyfiq Amrullah, lc. MA. Pengasuh Pesantren At-Tawazun, Subang
  2. KH. Alwan Surya, Pengasuh Pesantren Nurul Falah, Parung Panjang, Bogor
  3. KH. Anwar Wahdi, Pengasuh Pesantren Babus Salam, Comone Tangerang
  4. KH. Musthofa Mughni, Pengasuh Pesantren Daarul Mughni, Cileungsi Bogor
  5. KH. Faisal Ali Nurdin, Pengasuh Pesantren Nurul Ilmi, Bojonggede, Bogor
  6. KH. Ahmad Wildan S, Pengasuh Pesantren Al-Kamil, Doyong Tangerang
  7. KH. Muhammad Jamhuri, Pengasuh Pesantren Multazam, Rumpin Bogor
  8. KH. Abudl Wahid, Pengasuh Pesantren Al-Musyarrofah, Cianjur
  9. KH. Ahmad Al-Ghozali, Pengasuh Pesantren Al Ihya, KH. A, Ghozali
  10. KH. Jamaladdin F Hasyim Adnan, STAI Al-Aqidah, Jakarta
  11. KH. Mulyadi Mughni, Pengasuh Pesantren Baitun Nun, Bogor
  12. KH, M, Farid Ma'ruf, Pengasuh Pesantren Asy-Syarofah
  13. dan kyai lainnya seperti KH. Sumarja, KH. Dimyati dan lainnya
Dalam kesempatan  tersebut Syaikhuna KH. Syukron Makmun memberi pesan-pesan spritual kepada para pimpinan pesentren, agar tidak lupa meningkatkan spritualitas diri, di antaranya selalu qiyamullail atau tahajjud dan sholat witir.  "Seorang kyai itu jangan pernah putus setiap malam untuk selalu shalat tahajjud dan witir, kecuali dalam kondisi tertentu, seperti lelah sekali karena kesibukan yang padat sebelumnya, tapi usahakan sholat malamlah" Ujar KH. Syukron Makmun berulang-ulang disampaikan. "Saat malam itulah, doakan pesantren dan santri-santrinya." tambahnya. "Silakan tanya ke istri saya, kalau saya shalat bersama istri, pasti setelah shalat, saya doakan pesantren, santri-santri saya, bahkan alumni-alumni Daarul Rahman, semuanya saya doakan" Ujarnya meyakinkan.

"Lho?, saya dapat cerita bahkan bu Nyainya pesantren Tremas itu suka berpuasa hampir setiap hari. Ketika ditanya kenapa sampean puasa hampir setiap hari? Jawabnya, karena saya ingin mendoakan agar santri-santri yang belajar kepada suami saya menjadi manusia yang berguna untuk dunia dan akhirat "Tambah KH. Syukron bercerita

Kemudian beliau juga berpesan agar kyai atau pimpinan pesantren tidak meninggalkankan amalan shalat Dhuha setiap harinya, karena shalat ini akan memudahkan datangya rezeki. 

Usai memberi pesan spritual, acara diisi dengan doa yang dipimpin langsung oleh beliau, yang kandungan isi doanya penuh dengan doa untuk santri-santri beliau, alumni-alumni dan orang-orang yang pernah memberikan andil bagi pesantren beliau khususnya Daarul Rahman

Rabu, 15 November 2023

Dari SIlaturrahi dengan Mahasiswa/i Indonesia di Maroko : "Tawwakkal Adalaha Modal Utama"

 Catatan Rihlah

Bersama mahasiswa/i Indonesia di Maroko
Dalam perjalanan rihlah kami ke Maroko dan Spanyol, kami menyempatkan bersilaturrahmi bersama para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menunut ilmu di Casabalnca Maroko. Peretemuan itu di adakan pada Selasa, 14 Nopember 2023 usai shalat maghrib di  sebuah syuqqoh/flat salah seorang mahasiswa bernama  Fauzi Azhar (disana sering dipanggil Fauzi). Berbarengan dengan acara beliau karena beliau juga bermaksud mengadakan syukuran walimatus safar karena akan berangkat ibadah umroh esoknya Rabu, 15 Nopember 2023.

Dalam pertemuan itu, saya diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutan atau motivasi kepada para mahasiswa Indonesia di sana. Saya hanya menyampaikan cerita pengalaman pribadi saat saya kuliah di Islamabad Pakistan hingga kuliah di Makkah Arab Saudi. Cerita ini sama seperti cerita yang sampaikan saat memberi motivasi kepada mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Al-Azhar Mesir saat kunjungan saya ke Cairo beberapa tahun lalu.

Begin cerita saya, bahwa setiap kita sebagai musafir atau perantau di negeri orang, mesti akan berjumpa dengan segala persoalan. Terutama persoalan finansial di negeri rantau. Terlebih sebagai seorang yang sedang menunutut ilmu. Namun jangan khawatir, karena para penunut ilmu  di negeri orang itu adalah sama dengan seorang mujahid (pejuang) di jalan Allah, yang rezekinya, akan dijamin oleh Allah swt.

Dahulu, saat saya kuliah di Pakistan  saya mendapat beasiswa yang ternyata tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Beasiswa yang diterima hanya dapat bertahan untuk kebutuhan seminggu. Sehingga bekal yang dibawa dari rumah lambat laun menipis terpakai. Hingga akhirnya sampai ke titik zero. Saat itu kami urunan masak dan bergantian masaknya dengan teman-teman dari Indonesia. Namun sejak bekal saya habis, saya tau diri, sehingga saya menawarkan diri untuk memasak setiap hari tidak perlu bergantian karena tidak bisa ikut urunan dana untuk kebutuhan masak lagi.

Hingga saya berusaha untuk datang terlebih dahulu ke hostel (asrana) sebelum teman-teman tiba dari kampus, agar saya dapat memasak dan mempersiapakan makan unuk teman-teman. Sebagai orang yang ikut makan bersama teman-teman, maka saya pun lambat laun merasa malu kepada mereka. Namun bagaimana lagi, saya tak bisa berbuat apa-apa, karena berada di rantau jauh. Saat itu keluarga pun tidak lagi mengirim uang karena kondisi ekonomi sedang susah sejk wafatnya ayah. Saya -saat itu- cuma bisa tawakkal (berserah diri) dengan sepenuhnya. Saya berdoa dengan sepasrah-pasrahnya "Ya Allah, saya masih mau kuliah dan belajar, terserah Engkau mau diapakan saya ini". Ujar saya sejadinya dalam doa. Saat itu memang terasa sekali kepasrahan itu dirasakan dalam doa-doa saya.

Subhanallah, sepekan setelah itu, kejadian yang tak di duga-duga terjadi. Saya mendapat fax yang berlogo Universitas Ummul Quro Makkah yang memberi kabar kepada saya, bahwa pengajuan permohonan saya menjadi calon mahasiswa Ummul Quro Makkah yang pernah saya ajukan empat tahun lalu, diterima dan dimohon segera hadir di Makkah. Padahal sebelumnya saya sudah menunggu lama hingga saya anggap pengajuan saya sudah ditolak karena tidak ada panggilan selama 4 tahun. Hingga akhirnya saya berangkat ke Pakistan segera setelah mendengar ada kesempatan ke sana.

Ketika saya konsultasi kepada kyai saya KH. Syukron Makmun untuk memohon pertimbangan, apakah saya lanjutkan kuliah di Pakistan yang sedang berlangsung? atau saya ambil panggilan dari Makkah? Beliau menjawab, "Ambil Makkah, insya Allah berkah". Sejak itulah saya berangkat ke Tanah Suci, dan alhamdulillah hingga telah lulus kuliah pun, Allah masih memberi kesempatan ke Tanah Suci berkali-kali.

Allah swt berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya". (QS. At-Tholaq: 3)

Kamis, 10 Juni 2021

Karomah Santri

Suatu hari, salah seorang guru muda di pesantren berkata kepada saya, "Abi (panggilan akrab saya di lingkungan pesantren), sebenarnya saya sudah lama mau ngomong sama abi. Tapi saya malu." . Saya menjawab, "Ngomong aja, tidak usah malu-malu, saya terbuka kok". "Gini bi, saya mau izin kepada Abi mau mencucikan kaki Abi lalu air cuciannya mau saya pakai buat mencuci muka saya." Katanya. Dia beralasan agar mendapat berkah "karomah" saya. Lalu saya meluruskan dan jawab begini, "Kalau Antum lakukan itu dan diketahui oleh orang yang kamu minta (saya), dikhawatirkan orang yang dicucikan kakinya (saya) lalu air cuciannya untuk diusapkan ke wajah Antum itu, atau untuk Antum minum, Ana khawatir akan timbul sikap ujub dan ghurur pada dirinya (saya). 

Lalu saya pun memberi saran kepada guru muda itu. "Kalau ingin mendapat karomah, bersungguh-sungguhlah  mengabdi kepada para santri, mengajar mereka dengan baik dan amanah. layani kebutuhan mereka, penuhi hak-hak mereka, sayangi mereka, beri tauladan yang baik dan arahkan mereka. Maka dengan begitu insya Allah kamu akan mendapat karomah.

Saya memberi alasan kepadanya: karena anak-anak santri ini masih usia muda, baru masuk usia aqil baligh, yang menurut syariat Islam baru mulai dicatat amalnya. Sementara mereka sudah memulai masa aqil balighnya penuh dengan ibadah dan ketaatan di pesantren. Mereka shalat lima waktu dan tak meninggalkannya. Bahkan mereka lakukan dengan berjamaah yang kualitas lebih tingga dari shalat sendiri, mereka juga setiap hari membaca dan menghafal al-Quran, belajar ilmu agama, serta membaca doa dan wirid. Oleh sebab itu, jika seorang guru memuliakan dan melayani muridnya, maka ia akan mendapat karomah (kemuliaan).

Buat apa mencuci kaki kyai lalu air bekas cuciannya diminum atau dibasuhnya, sementara arahan kyai untuk memperhatikan, mengajari dan memberi tauladan kepada para santri tidak diindahkan?

Demikian juga dengan orang tua dan famili santri. Ketika orang tua atau familinya memberi perhatian besar kepada anaknya yang sedang nyantri, baik perhatian finansial, fisik maupun kejiwaan, maka mereka akan mendapat balasan karomah yang besar. Uang yang diinfakkan untuk kebutuhan anaknya yang sedang nyantri sama dengan menginfakkan hartanya di Jalan Allah swt. Bukankah Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang keluar dalam menuntut ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali pulang" (HR: Muslim).? 

Orang tua yang bersungguh-sungguh membiayai anaknya yang sedang nyantri (menuntut ilmu) pun akan dimudahkan rezekinya oleh Allah swt. Saya pernah meyakinkan orang tua dari dua puteranya yang mendapat kesempatan kuliah di Luar Negeri selesai tamat dari pesantren. Orang tua tersebut awalnya berkata, bahwa setelah dihitung-hitung kebutuhan untuk memberangkatkan dua putranya, maka diyakini tidak dapat dipenuhi. Lalu saya meyakinkan berkali-kali. Dan akhirnya sanggup juga untuk memberangkatkan puteranya menuntut ilmu di luar negeri.

Bagi para guru dan pengasuh pesantren pun, jika bersungguh-sungguh memperhatikan pendidikan para santrinya serta memperhatikan keluhan dan kebutuhannya (jasmani dan rohani) akan mendapat berkah karomah mereka. Karena sejatinya  Allah swt sedang melihat dan menilai "Kita Sedang Melayani Para Pejuang di Jalan Allah".

Syeikh Hisyam Al-Burhani ulama Syam, dalam sebuah seminarmya  bercerita kisah nyata tentang karomah santri. 

Ada seorang petugas penggali kubur (dalam bahasa Arabnya : al-Haffar) yang bekerja di satu pemakaman umun di kota Damaskus. Hari itu dia mendapat permintaan dari seorang ibu untuk menggali kuburan untuk puteranya yang sudah wafat. Segera al-Haffar (penggali kubur) itu menggali kuburan. Selang beberapa waktu datang serombongan kecil orang membawa jenazah putra sang ibu tadi yang juga diantar ibunya. Al-Haffar pun masuk ke dalam lubang kubur untuk menerima dan  meletakkan jenazah tersebut. Namun beliau kaget, saat jenazah diletakkan di liang lahad nampak, di dalam kubur itu taman yang indah dan luas, hingga dia pun jatuh pingsan. Prosesi penguburan dilanjutkan oleh orang lain. Dan al-Haffar (si penggali kuburan) pun siuman setelah rombongan keluarga jenazah sudah pulang. Dia tidak sempat menanyakan apa-apa kepada ibu jenazah itu.

Beberapa bulan kemudian, ibu itu kembali memesan satu lobang kuburan untuk jenazah putranya lagi. Sang penggali kuburan sudah siap di dalam lubang kubur saat rombongan keluarga si ibu sudah datang membawa jenazah. Ketika akan menerima jenazah di dalam lubang kubur, penggali kubur ini lagi-lagi melihat pemandangan kuburan bagaikan taman yang indah dan luas. Namun kali ini dia kuatkan jiwanya agar tidak pingsan seperti kejadian pertama. Usai prosesi penguburan, dia segera menemui sang ibu. Lalu dia menceritakan peristiwa yang dia alami saat meletakkan kedua jenazah itu dan bertanya tentang dua jenazah tadi, siapa? dan apa amalnya selama hidup.?

Ibu itu bercerita, "Adapun jenazah pertama dia adalah putraku, dia wafat di tengah-tengah dia sedang menuntut ilmu (nyantri) di  sebuah Jami' (pesantren). Sedangkan jenazah yang kedua adalah kakaknya yang bekerja sebagai tukang kayu. Dia sering memberi bekal dan biaya kepada adiknya yang sedang nyantri itu."

Syeikh Hisyam al-Burhani lalu melanjutkan kisahnya, sejak peristiwa itu si penggali kubur itu resign mengundurkan diri dari kerjanya sebagai petugas penggali kubur dan dia mendaftarkan dirinya kepada seorang imam (Kyai) di sebuah Jami' (masjid dan pesantren) untuk menjadi santri. Saat itu sang imam keheranan karena si penggali itu usianya sudah 51 tahun. Lalu penggali itu menceritakan latar belakang keluar dari pekerjaannya dan ingin menuntut ilmu menjadi santri. Lambat laun si penggali itu belajar dengan baik walau mulai dari ilmu-ilmu dasar. Dan dia ajak anak-anak dan cucunya agar menjadi santri.

Syeikh Hisyam al-Burhani pun berkata, Kini anak keturunannya dikenal dengan para sebutan imam dan alim (kyai). Dan mereka cukup dikenal di tengah-tengah masyarakat. Maka kini jika ada ulama besar dengan nama akhirnya ada sebutan "Al-Haffar" itu lah keluarga  dan keturunan dari sang penggali kubur itu.

Sumber kisah: Syeikh Hisyam al-Burhani