Tampilkan postingan dengan label Haji dan Umroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haji dan Umroh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 April 2025

Kisah Nyata: Wanita Pembenci Poligami Nabi, Langsung Ditegur Nabi

Seperti biasa, menjelang bis tiba di Madinah, sang ustadz pembimbing jamaah umroh mengumumkan dalam bis bahwa esok pagi agenda acaranya adalah ziarah ke makam Rasulullah saw dan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab ra serta shalat di Raudhah. 

Paginya setelah sarapan,  jamaah pun sudah berkumpul di lobby hotel bersiap untuk berangkat ke masjid Nabawi.  Sambil menunggu jamaah lain,  seorang wanita muda yg merupakan salah satu jamaah umroh yang berangkat tanpa suami dan keluarganya mendekati sang ustadz pembimbing,  seraya berkata seloroh,  "Pak ustadz,  sebenarnya saya tidak mau berziarah ke makam Nabi nih.. 

Dengan rasa heran,  sang ustadz itu berkata,  "Kenapa bu?, justru sebelum kita ziarah ke mana-mana,  kita ziarah ke makam Nabi dulu. "

"Saya tidak suka Nabi karena Nabi berpoligami, pak ustadz.  Saya tidak setuju laki-laki berpoligami. Tapi... Ya... Karena ini umroh pertama saya,  saya ikut aja sekalian pengalaman pertama. " Jawab wanita itu. 

Jamaah pun berangkat. Yang pria dibimbing ustadz,  dan yang wanita dibimbing ustadzah dari muqimin di sana. 

Setelah antri di Raudhah yang melelahkan,  jamaah pun berhasil shalat di Raudah dan berziarah ke makam Rasulullah saw dan dua sahabat beliau ; Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang makam bersandingan.

Saat pulang ke hotel,  wanita ini izin tidak pulang dan ingin duduk-duduk di dalam masjid hingga terkantuk-kantuk dan tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi didatangi Rasulullah saw dan menasehatinya agar jangan lagi menghina atau membenci ajaran Allah dan Rasul-Nya.  Dalam mimpi itu juga Rasulullah saw menyampaikan bahwa setiap mukmin yang membaca salam kepadanya maka akan dijawab oleh beliau. 

Singkat cerita,  usai menunaikan umroh, ziarah Madinah dan kembali ke Tanah Air, wanita ini bercerita kepada suaminya bahwa ia sempat bertemu dengan Nabi dalam mimpinya.  Suaminya yang sudah mengetahui watak istrinya itu, meragukan mimpi istrinya itu,  dan dianggapnya guyon atau mengarang. Sebab suaminya tahu bahwa istrinya sangat benci dengan poligami termasuk poligami Rasulullah yang memiliki istri lebih dari satu. 

Wanita itu berkata,  "Kalau kau mau bukti,  Rasulullah saw akan datang kesini menjawab salamku. " Mendengar tantangan itu,  suaninya mempersilakannya. 

Wanita itu pun membaca salam kepada Rasulullah saw,   "Assalamu alaika ya Rasullah... ". Dan tidak lama berselang, tiba-tiba suaminya jatuh pingsan. Setelah beberapa waktu diistirahatkan, suaminya kembali bangun dan sadar.  Ketika ditanya,  kenapa kamu pingsan tadi?  Dia menjawab, "Aku melihat seorang lelaki berparas putih dan ganteng yang bersinar-sinar menjawab salam-mu"

(diceritakan oleh pembimbing umroh kepada sesama pembimbing umroh)

Jamhuri,  Madinah 13 Nopember 2017

Rabu, 12 Maret 2025

KAPAN TERJADI PERLUASAN MASJID NABAWI TERBESAR?

Dalam Prasasti Peletakan Batu Pertama disebutkan Perluasan terbesar Masjid Nabawi terjadi di masa Raja Fahd bin Abdul Aziz tgl 2 Oktober 1984 M atau 9 Safar 1405 H



FATWA TENTANG SHOLAT DI MASJID HOTEL YANG BERMAKMUM DENGAN IMAM MASJIDIL HARAM

Terjemahan:

Syeikh Abdul Aziz Al-Fauzan, Dosen Perbandingan Fiqih pada Lembaga Peradilan Tinggi berkata, bahwa sholat di hotel-hotel yang berdekatan dengan Masjidil Haram diperbolehkan dengan syarat memungkinkan dapat mengikuti imam meskipun terdapat jalan raya yang memisahkannya dengan Masjdil Haram

Al Fauzan menjelaskan saat menjawab pertanyaan melalui chanel “Ar-Risalah” sekitar masalah jika seseorang tinggal di hotel yang terletak dekat dengab Masjdil Haram dan dapat mendengar suara Imam, bolehkah dia shalat dari tempat tinggalnya? Pendapat ulama yang shahih bahwa seseorang jika masih mungkin mengikuti Imam, meskipun antara dirinya dan masjidil haram dipisah oleh jalan yang dilewati orang atau kendaraan, tetapi masih mungkin mutabaah (mengikuti), maka pendapat yang benar boleh menyempurnakannya (melakukannya)

Dan tentang pensyaratan makmum harus melihat imam atau melihat sebagian jamaah, beliau berkata bahwa sebagian ulama memang ada yang berpendapat demikian. Namun pendapat yang rajih (kuat) adalah hal itu tidak disyaratkan. Karena yang penting adalah kemungkinan mutabaah (mengikuti), yaitu dengan terdengarnya sholat meskipun tidak melihat imam atau jamaah, dan meskipun terhalang  oleh jalan yang dilewati orang antara dirimu dan masjidil haram. Maka hal itu tidak mengapa.

——————

Keterangan: leaflet fatwa diambik dari mushollah hotel Royal Mayestik di Ajyad Makkah sekitar 350 m dari Masjidil Haram pd 20 Pebruari 2025

Pesantren "Harus" Modern

Dalam tradisi pesantren salaf (tradisional), sering diajarkan kitab kuning atau kitab salaf (turost). Beberapa istilah masih menggunakan istilah kuno. Hal itu cocok jika digunakan pada konteksnya dahulu. Contohnya : dalam Kitabun Nikah kita sering menemukan kata “Dukhul” yang artinya “hubungan seksual”.

Namun jika makna dalam kitab tersebut tidak dimodernisasi, serta salah dalam memahami konteks, maka akan salah juga pemaknaannya.

Contohnya kisah seorang kyai jebolan oesantreen tradisional yang sedang pergi haji  di Makkah dan Madinah yang melihat pengumaman ini (lihat gambar). Dengan nada marah dia ngedumel, “Dasar orang Arab gak tau diri, masa sih ada  orang mau dukhul di sini, di jalanan? Ya gak mungkin lah. Walaupun dipasang larangan dukhu seperti injl, gak mungkin orang akan duhkhul di jalanan.”

Agaknya sistem pengajaran bahasa Arab di pesanteren tradisional harus dipermodern, agar bisa beradaptasi dengan kondisi kekinian dan tepat dalam memahami konteksnya

=======

Gambar diambil di sekitar pemakaman Baqi Madinah Arab Saudi 27 Pebruari 2025

Rabu, 03 Juli 2024

Allah Lebih Berbahagia Dari Pada Seseorang Yang Kehilangan Barangnya Lalu Dipertemukan Kembali

 (Mengambil hikmah dari setiap peristiwa)

Tas koper yang kembali
Suatu kali, saya pernah membawa rombongan jamaah umroh, dengan rute Jakarta-Madinah-Makkah. Saat tiba di hotel di Madinah, ternyata ada dua koper yang tidak sampai ke hotel kami alias “raib”. Salah satu koper itu adalah milik saya. Bukan hanya saya yang bingung, namun seorang jamaah yang tidak menemukan kopernya pun lebih bingung lagi dan lebih mengkhawatirkannya. Saya dan beliau sama-sama kebingungan terutama semua pakaian salinan ada di koper bagasi itu.  Sebagai pembimbing ibadah umroh, saya mencoba menenangkan jamaah itu tentang kondisi ini. “Pak, koper saya pun belum ada, yuk untuk sementara pakaian salinan kita belanja saja di Madinah ini, anggap saja sama dengan membeli oleh-oleh pakaian, tapi kita pakai dulu di sini”. Alhamdulillah kami sama-sama merasa tenang untuk sementara. Namun setelah ditunggu di hari kedua, kabar tentang koper itu belum ada kejelasannya. Meskipun para petugas handling kami telah menghubungi pihak bandara dan maskapai penerbangan yang kami tumpangi, namun hasilnya nihil.

Malam Hari ketiga di Madinah, kami harus chek out menuju Makkah esok hari untuk memulai perjalanan ibadah umroh. Kabar tentang koper itu masih belum ada titik terang. Hingga usai melaksanakan shalat Isya di Masjid Nabawi, handphone saya berbunyi, tanda ada pesan whatsapp yang masuk. “Pak ini ini petugas Malika ya? Ada dua koper Malika ada di hotel kami”. Begitu pesan wa dari seorang petugas umroh travel lain. Langsung saya datangi hotel tersebut dan saya bawa menuju hotel kami. Dan segera saya hubungi dan datangi jamaah yang kehilangan koper tadi sambil saya antarkan kopernya ke kamarnya. Bukan main rasa bahagianya jamaah itu saat menemukan dan menerima koper miiknya kembali. Apalagi di dalam koper itu terdapat juga pakaian ihromnya yang akan segera dipakai besok menuju Makkah. Saya ikut merasakan bahagia, karena saya pun merasakan sekali rasa bahagia luar biasanya setelah menemukan koper kembali tersebut. Memang dalam kepadatan jamaah umroh hal-hal seperti ini sering terjadi, meskipun koper berbeda dengan grup travel lain, namun ada saja keserupaan, dan petugas potter Bandara terkadang lengah dalam pemilahannya.

Dari peristiwa itu dan menyaksikan diri dan jamaah tadi yang merasa sangat bahagia setelah kembalinya koper yang hilang, sejenak saya merenung, bahwa saya dulu pernah belajar suatu hadist dalam kitab Riyadus Shalihin Bab Taubat, yang mengisahkan bahwa ada seorang lelaki yang sedang dalam perjalanan di tengah padang pasir yang tandus dan membawa semua barang perbekalannya di atas unta yang ditungganginya. Dalam perjalanan itu, dia menemukan suatu oase (sumber mata air di tengah padang pasir), lalu lelaki itu  turun dari untanya dan segera meminum air oase yang jernih dengan tangannya beberapa kali hingga puas dan hilang dahaganya. Namun ia kaget, di tengah padang pasir itu ternyata untanya pergi hilang entah kemana? Setelah kelelahan mencarinya dan tak menemukannya, ia pun putus asa dan tertidur pulas di bawah sebuah pohon dekat oase tersebut. Namun Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia kaget seraya bergembira, karena unta dan barang bawaaanya kini datang di hadapannya. Ia merasa sangat berbahagia sekali atas kejadian itu dan ia merasa bersyukur kepada Allah. Namun saking bahagianya, ia tak sadar kalau doa Syukur itu terbalik diucapakannya, “Ya Rabb, sungguh Engkau adalah hambaku, dan Aku adalah Tuhanmu” (seharusnya, Ya Rabb, sungguh Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hambaMu)

Lalu Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya, “Sungguh Allah lebih berbahagia jika seorang hamba yang berbuat dosa kemudian dia kembali mendekat (bertaubat) kepada Allah, Allah lebih berbahagia dari pada berbahagianya seorang lelaki yang kehilangan barang perbekalannya, kemudian dia menemukannya kembali” 

Berikut bunyi hadist tersebut:

وَفي روايةٍ لمسلمٍ : « اللهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدي وَأَنَا رَبُّكَ ، أَخْطَاءَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ » .

 Artinya:

“Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat salah seorng dari kalian tatkala ia bertaubat kepadaNya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada diatas tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut  lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada tunggangannya tersebut. ia pun putus asa untuk mendapatkan ontanya.

Maka ia mendatangi suatu pohon dan berbaring dibawah naungan pohon tersebut dan ia sungguh telah berputus asa.

Ditengah keadaan itu, ternyata ontanya telah ada berdiri didekatnya. Segera iapun mengambil tali ontanya seraya berkata lantaran sangat gembiranya ( “wahai Allah kamu adalah hambaku dan aku adalah Rabb mu) keliru berucap karena terlalu gembira” (HR: Muslim)

Muhammad Jamhuri

Bogor, 3 Juli 2024/27 Dzulhijjah

Rabu, 19 Juni 2024

Ini Dia "ORDAL" Kita di Akhirat

Di belakang gambar makam Nabi saw
Istilah ORDAL (Orang Dalam) biasanya berkonotasi negatif. Itu benar jika dikaitkan dengan urusan dunia saja. Namun jika dikaitkan dengan akhirat istilah tersebut menjadi berkonotasi positf.

Orang yg berhaji saja jika tujuannya duniawi ansich, maka dia merugi (negatif), namun jika dikaitkan dengan akhirat, maka dunia di dapat, dan akhirat pun di dapat.

Firman Allah swt:

Diantara manusia ada yang berdoa, Rabbana berikan kami di dunia, tetapi tdk mendapat apa2 di akhirat, dan di antara mereka ada yang berdoa, Robbana, berikan kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat. Dan lindungi kami dai azab neraka. (al Baqarah: 201)

Seorang yg sekedar makan dan minum hanya mendapat hukum mubah, namun makan-minun jika diniatkan untuk ibadah maka ia mendapat pahala sunnah

Demikian juga dengan istilah ORDAL AKHIRAT, maka bisa dipastikan akan berkonotasi positif.

Siapa yang dimaksud dengan ORDAL AKHIRAT? Tidak lain beliau adalah baginda yang mulia: Rasulullah saw.

Beliaulah satu-satu manusia yang sudah dipastikan diberi hak oleh Allah untuk memberi syafaat (pertolongan) di alhirat.

Nah bagaimana saat kita wafat dan dibangkitkan di akhirat nanti beliau bisa kenal kita? Atau kita kenal beliau? Padahal jangankan di akhirat yg luas dan belum pernah terbayangkan itu, di suatu daerah asing saja, jika kita baru masuk ke daerah situ, sudah merasakan kebingungan?

Nah, salah satu caranya adalah kita mencintainya dengan sepenuh hati. Caranya?

  1. Banyak menyebut nama beliau melalui sholawat kepadanya. Bagaimana kita disebut mencintainya? , sedangkan lidah kita kelu untuk bersholawat padanya. Seberapa Nabi akan mengenal kita tergantung sholawat yg kita lantunkan dan bacakan setiap harinya
  2. Senang menghidupkan sunnah-sunnah dan kebiasaan baik beliau dalam kehidupan sehari-hari kita. Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaku. Dan siapa yang mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga
  3. Memperjuangkan risalah dan ajaran yang dibawanya, baik dengan harta, ilmu, pikiran, tenaga, ide bahkan nyawa, sesuai kemampuan kita
  4. Mencintai keluarga beliau (ahlul bait) dan para sahabat-sahabatnya, termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga.
  5. Senantiasa berwudhu dan melaksanakan shalat fardhu lima waktu dan sunnah

Dalam sebuah hadist, Sahabat pernah bertanya, “Jika di hari kiamat nanti, bagaimana Engkau mengenal umatmu yang sholeh?. Rasulullah saw menjawab, “jika di tengah kerumunan kuda-kuda hitam terdapat kuda putih, bukankah kuda putih itu akan tercirikan?

(Makkah, 6 Juni 2024)

Ibadah, Waktu, dan Keistimewaan Haji

Umroh:  Rangkaian dari Ibadah Haji

 يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِ ۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, "Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji."  

(QS. Al-Baqarah: 189)

Mengapa cuma kata “Haji” yang disebut dalam ayat ini? Bukankah semua ibadah utama terkait dengan waktu?

Syaikh Mutawalli al-Sya’rawi berkata, bahwa ibadah mahdhoh (ritual) dalam Islam terbagi kepada 4 jenis/bentuk:

  1. Ibadah dzikir, ibadah ini tidak membutuhkan tenaga fisik dan harta. Seperti mengucap kalimat “La Ilaaha Illah” atau “Subhanallah” dan lainnya. Bentuk ibadah ini termasuk ibadah yangs paling ringan dilakukan
  2. Ibadah yang membutuhkan tenaga fisik. Seperti shalat  yang mengandung rukun berdiri (qiyam), ruku, sujud dan lainnya.
  3. Ibadah yang perlu mengeluarkan biaya/harta, seperti zakat, sedekah, hibah dan lainnya.
  4. Ibadah yang bersifat menahan hawa nafsu (emosi), seperti puasa

Nah, sedangkan ibadah haji mengandung 4 bentuk ibadah di atas, karena dalam ibadah ini terdapat ibadah zikir (bacaan talbiyah), ada ibadah fisik (thawaf, sa’i, mabit, dan melontar jumroh), ada ibadah harta (membayar ONH atau BPIH) dan ada ibadah menahan hawa nafsu (saat ihram dilarang berfarfum dan melakukuan hubungan biologis)

Itulah sebabnya pada ayat di atas  hanya di sebut “haji” saja untuk semua ibadah yang terkait waktu (mawaqit)

Kemudian kaitan antara ibadah dengan waktu dan tempat (dimensi ruang dan waktu) terbagi kepada 4 bagian:

  1. Ibadah yang tidak terkait dengan waktu dan tempat; seperti zikir, baca Quran dan sedekah. Silakan beribadah ini di mana dan di kapan saja (selain di toilet tentunya)
  2. Ibadah yang terkait dengan waktu, tetapi tidak terkait dengan tempat. Seperti sholat wajib 5 waktu dengan waktu-waktunya yang telah ditentukan. Adapun tempat pelaksanaannya boleh di man saja, asal tdk bernajis
  3. Ibadah yang terkait dengan tempat saja, dan tidak dikaitkan dengan waktu. Seperti ibadah umroh, berupa ibadah thowaf, sa’i dan tahallul, yang tentunya harus dilakukan di tempat Tanah Suci yakni Makkah/Masjidil Haram
  4. Ibadah yang ditentukan waktu dan tempatnya secara bersamaan. Seperti ibadah haji. Ia harus dilakukan di tempat-tempat tertentu (Masya’ir Muqoddasah) seperti Arafah, Muzdalifah, Mina dan Masjidil Haram. Sedangkan waktunya juga telah ditentukan yaitu Syawal, Dzulqodah dan Dzulhijjah (Asyhurun Ma’lumat). Terutama di tanggal 8, 9, 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah

Dengan demikian, ibadah haji dilakukan dengan menggabungkan dua unsur: Unsur Ruang dan Unsur Waktu

Jadi, ibadah haji ditinjau dari bentuknya telah menggabungkan 4 bentuk ibadah: ibadah zikir, fisik, harta, emosianal dan spritual

Sedangkan ditinjau keterkaitannya dengan waktu dan tempat, ibadah haji juga menggabungkan unsur ruang dan waktu secara bersamaan.

Wallahu a’lam

H. Muhammad Jamhuri

Makkah, Rabu 12 Juni 2024/6 Dzulhijjah 1445 H

Makna Tarwiyah di Mina Pada 8 Dzulhijjah

Bersama Ust Abdul Somad di Mina
Ada dua pendekatan dalam memaknai arti Tarwiyah:

  1. Kata Tarwiyah berasal dari fiil mujarrod rowiya-yarwa, yang berarti memuaskan dari dahaga. Karena para jamaah haji dahulu menyiapkan air yang banyak untuk persiapaan mabit selama 2-3 hari setelah wukuf di Arafah.
  2. Kata Tarwiyah berasal dari ru’yah, artinya bermimpi, karena pada tanggal 8 Dzulhijjah Nabi Ibrahim bermimpi diperintah Allah swt untuk menyembelih putra bernama Ismail.

Allah swt menceritakan peristiwa ini dg firmannya, “Dan tatkala Ismail telah sampai dewasa, Ibrahim berkata, wahai putraku, aku bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih dirimu, bagaimana pendapat kamu? Ismal menjawab: Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan padamu, engkau akan dapati termasuk orang-orang yang bersabar (QS: as-Shoffat:102)

Suasana Tarwiyah di Mina
Perintah ini adalah ujian berat bagi loyalitas Ibrahim. Mana yang lebih dia cintai?, putranya yg sejak dahulu ditunggu kelahirannya? Atau kah lebih mencintai dan taat akan perintah Tuhannya : Allah swt ?

Pada akhirnya Nabi Ibrahim memilih loyalitas pada sang Pencipta: Allah swt. Namun demikian, setelah Allah melihat kejujuran loyalitasnya, Allah pun menganggap Ibrahim telah lulus melewati ujiannya. Dan sebagai gantinya, digantinya Ismail dengan seekor domba yg dipersembahkannya melalui Malaikat sebagai rezeki atas kesabaran dan loyalitas keduanya.

Foto: Suasana Tarwiyah di Mina Mekkah pd tgl 8 Dzulhijjah 1445 H/Jumat 14 Juni 2024

Arafah: Upaya Mengenal Diri Untuk Mengenal Allah (Ma'rifatullah)

Sunset di Arafah
Banyak sebab sehingga kawasan padang yang menjadi tempat wukuf para jamaah haji ini dinamakan ARAFAH;

  1. Dinamakan Arafah karena ia tempat pertemuan nabi Adam as dan Siti Hawa pasca dikeluarkan dari surga. Adam diturunkan di wilayah India, dan Siti Hawa diletakkan di Jeddah, setelah keduanya merantau saling mencari, bertemulah mereka di padang Arafah ini. Saat saling bertemu, Adam bertanya kepada Siti Hawa, “HAL ‘AROFTINI?” Hawa pun bertanya, “HAL AROFTANI?” (apakah engkau mengenalku?). Jadilah daerah itu disebut ARAFAH
  2. Dinamakan ARAFAH diambil dari kata I’TIRAF (pengakuan) karena di tempat inilah, para jamaah haji mengakui kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya sembari memohon ampunan Allah swt
  3. Dinamakan AROFAH diambil dari kata AROFA (mengenal), sebagaimana ungkapan kata hikmah: “MAN AROFA NAFSAHU AROFA ROBBAHU (Siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya)

Mengenal dirinya artinya “tahu diri”, dari apa dia diciptakan?, untuk apa diciptakan? dan akan kemana dia berakhir?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka dia akan menyimpulkan bahwa dirinya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Seluruh keberadaannya, aktifitas dan keberhasilannya adalah karena adanya zat yang maujud yang menggerakannya, kemudian pada masanya ia akan dikembalikan kepada zat yang maha Maujud itu.

Sehingga akan timbul rasa “kehambaan” yang maksimal dan totalitas dalam setiap gerak hidupnya. “Dan tidaklah diciptakannya manusia dan jin kecuali hanya untuk menghamba/mengabdi kepadaKu” (Qs.Adz Dzariyat: 56)

Muhammad Jamhuri

Sabtu, 15 Juni 2024/ 9 Dzulhijjah 1445 H

Foto:

Pemandangan sunset di sore Arafah

Jumat, 31 Mei 2024

Haji Adalah Training Mati Dengan Bekal "Two Key Words of Life"

H. Ahmad Multazam direktur PT. Malika serahkan bendera
Kebarangkatan Jamaah Haji Khusus PT. Malika Tour & Travel dtandai dengan acara Pelepasan Jamaah Haji di hotel Azana, Jakarta Barat, Ahad 24 Mei 2024. Hadir dan memberi sambutan Direktur PT. Malika Tour and Travel H. Ahmad Multazam, SE. Beliau juga menyerahkan amanah secara simbolis berupa bendera Malika kepada KH. Muhammad Jamhuri sebegai Amirul Haji Malika (Ketua Rombongan Jamaah Haji Malika 2024).

Sementara itu, KH. Muhammad Jamhuri sebelum keberangkatan memberi tausiyah singkat sebagai berikut:

KH. M. Jamhuri sebagai Amirul Hajj Malika memberi arahan
“Haji itu Training Mati, Menurut sebauah dikatakan bahwa jika seseorang mati atau meninggal dunia maka akan ikut  bersamanya tiga hal. Namun  dari tigal itu cuma ada dua hal akan kembali pulang, dan satu hal  saja yang akan ikut serta bersama sang mayit ke dalam kuburan. 

Dua hal yang mengantar mayit dan akan kembali adalah keluarga yang mengantar ke kuburan, dan harta (kendaraan) yang ikut mengantar para pelayat. Keduanya akan kembali lagi ke rumahnya. Sedangkan satu hal yang akan ikut bersama jenazah di dalam kuburan, ia adalah amal. 

Maka mirip dengan ibadah haji. Hari ini kita di antar oleh keluarga dan kendaraan kita di hotel Bandara ini, namun saat kita berangkat ke Tanah Suci, mereka semua akan kembali ke rumahnya masing-masing . Dan tinggal hanya jamaah haji dengan amalnya yang akan dilaporkan di Tanah Suci.”.  Demikian arahan Muhammad Jamhuri saat acara Pelepasan Jamaah Haji Malika thn 2024 di hotel Azana Style Life, dekat Bandara Soekarno Hatta, Jakarta Ahad 26 Mei 2024

Pada bagian lain, Muhammad Jamhuri menyampaikan bahwa Hidup itu hanya menghadapi dua hal:

  1. Pertama, kita menghadapi hal yang kita senangi dan inginkan.
  2. Kedua, kita menghadapi hal yang kita tidak senangi dan tidak diingankan

Cuma itu.

Dan dua kata kunci untuk menghadapinya pun hanya dua, yaitu SYUKUR dan SABAR

Kondisi pertama, kita hadapi dengan syukur, dan kondisi kedua kita hadapi dengan sabar. Sabda Nabi saw: “Aku heran mengapa semua urusan orang muslim itu selalu baik. Jika ia mendapat nikmat lalu bersyukur maka itu kebaikan baginya. Dan Jika dia mendapat hal yang tidak diinginkan (keburukan) lalu ia bersabar, maka itupun kebaikan baginya". (al hadist)

Dalam ibadah haji pun akan kita temukan dua hal itu, dan cara menyikapinya pun dengan dua hal juga, maka insya Allah haji kita menjadi haji mabrur.”

Demikian disampaikan saat acara Pelepasan Jamaah Haji PT. Malika Ahad 26 Mei 2024 lalu di hotel Azana Life Style Jakarta


Selasa, 11 Juli 2023

Dapat 100 Ribu Pahala Sholat di Masjidil Haram, Pulang Haji Tidak Usah Sholat Lagi?

 

Usai menjelaskan tentang keutamaan sholat di Masjidil Haram, salah seorang jamaah haji bertanya, “Ustadz, kata ustadz tadi, keutamaan sholat di Masjidil Haram itu sama dengan 100 ribu sholat yang dilakukan di tempat lain. Saya sudah hitung ustadz, 100.000 : 5 waktu sholat = 2.000 hari = 666 bulan = 55 tahun. Nah, berarti boleh dong pulang dari umroh atau haji kita gak sholat lagi selama 55 tahun? Kan deposit pahala sholat di Masjidil Haram masih banyak yaitu sebanding 100 ribu kali sholat di tempat lain?.”

 “Sebelum saya jawab, boleh saya tanya tentang pribadi bapak?” Ustadz balik bertanya. “Mmmm, boleh, silakan ustadz.” Jawab jamaah.

 “Pekerjaan bapak apa?” Tanya ustadz.

 “Saya karyawan di sebuah BUMN ustadz.” Jawab jamaah.

 “Maaf, penghasilan bapak perbulannya berapa?.” Tanya ustadz lagi.

 “Yaaahh...sekitar 10 juta-an lah..” jawab jamaah.

“Selain untuk makan sehari-hari, berapa rupiah kebutuhan perbulan bapak? Katakanlah untuk bayar listrik, air, sekolah/kuliah anak, bensin kendaraan,  gaji pembantu, nabung dan lain-lain.?.” Tanya ustadz.

Sambil berfikir sejenak,  jamaah menjawab: “Mmmm..sekitar 6 jutaan, ustadz.”

“Berarti 4 jutaanya untuk kebutuhan makan sehari-hari selama sebulan?” tanya ustadz lagi.

 “Ya, kira-kira segitu lah..” jawab jamaah.

“Nah, jika suatu saat bapak makan bersama keluarga di sebuah restoran hotel mewah yang per pax-nya seharga Rp 1 jt dan jumlah keluarga bapak ada 4 orang. Berarti bapak menghabiskan uang untuk makan di tempat mewah itu Rp.4 juta untuk sekali makan?. Lalu apakah bapak dan keluaga bapak kuat tidak makan selama 1 bulan dikarenakan jatah 4 jutaan tadi dipakai untuk makan di restoran tersebut?” tanya ustadz.

“Maksudnya ustadz?” Jamaah minta diperjelas.

“Begini, tadi kan gaji bapak 10 juta/bulan, lalu kebutuhan selain makan 6 jutaan, dan untuk konsumsi makan perbulan 4 jutaan.. Lalu jika uang 4 jutaan jatah makan sebulan tadi dipakai makan di restoran mewah untuk sekali makan, sehingga uang bapak habis, lalu apakah bapak tidak makan sebulan ke depan. Lalu apakah bapak dan keluarga bapak kuat tidak makan selama sebulan?” tanya ustdaz.

“Kalau tidak makan selama sebulan, mana kuat kami ustadz?” Jawab jamaah.

“Nah, begitu juga dengan shalat di Masjidil Haram. Saat bapak shalat di Masjidil Haram, itu seperti jamuan Allah untuk bapak dalam beribadah, seperti bapak makan di restoran hotel mewah tadi. Tetapi kebutuhan spritual bapak sehari-hari atau shalat 5 waktu sehari-semalam, itu sama dengan  kebutuhan bapak terhadap makanan dan minuman. Kalau bapak bilang abis pulang haji atau umroh kita tidak usah shalat selama 55 tahun. Bapak mau gak? abis makan di hotel itu tidak usah makan minum lagi selama sebulan berturut-turut? Nah, pasti makan juga kan?. Itulah samanya kebutuhan batin kita terhadap gizi shalat sehari-hari.” Jelas ustazd.

 “Jadi, pahala 100 ribu shalat di Masjidil Haram tidak bisa menggugurkan shalat 5 waktu sehari-hari ustadz?” Tanya jamaah minta penegasan.

“Ya, betul !, Seperti makan 1 juta di restoran tidak menggugurkan kebutuhan makan kita sehari-hari” tambah Ustadz.

“Berarti kita gak boleh hitung-hitungan kaya perusahaan ya ustadz?” Tanya jamaah

“Boleh sih untuk semangat beramal, atau dalam bahasa Arabnya disebut ‘targhib’ (spirit) ibadah, tapi tidak sepenuhnya selalu diperhitungkan seperti hitungan perusahaan.” Jawab ustadz.

“Kalau ngelola negara seperti ngelola perusahaan, boleh gak ustadz?” tanya jamaah.

 “Sama, tidak selamanya ngelola negara seperti ngelola perusahaan. Perusahaan kan yang dipikirkan untung-ruginya, Jika negara seperti perusahaan atau produsen, sementara rakyatnya adalah konsumen, bisa-bisa yang dipikirkan keuntungan produsen tapi tidak memperhatikan daya beli konsumen/rakyat.” Jelas ustadz.

“Karena itu dalam negara, ada kebijakan subsidi. Kalau semua tanpa subsidi, lalu kemana hasil pajak yg dibayar rakyat dong? Apalagi jika premium mau dihapus, rakyat dipaksa beli pertamak?  Sudah gak dikasih subsidi, dipaksa pula beli pertamak lagi yg mahal...?”Ustadz  menambahkan.


Minggu, 09 Juli 2023

Mengapa Setelah Thawaf Wada’ Tidak Ada Sa’i-nya ?

Masya Allah, Nenek ini, baru dua hari dari pulang haji
 langsung "sa'i" (baca: usaha) di Tokonya di Tanah Abang
Usai thowaf wada’ dan akan bergegas berangkat ke Jeddah, seorang jamaah haji bertanya, “Pak ustadz, kenapa sih thawaf wada’ gak ada sa’i-nya?, padahal thowaf ifadhoh dan thowaf rukun ada sa’i-nya?”

“Siapa bilang gak ada sa’i-nya? Thowaf wada’ juga ada sa’inya, tau…” jawab ustadz santai.

Lho?, tadi, saat ustadz bimbing kami berthawaf wada’,  kok gak ada sa’i-nya?” tanya jamaah menyanggah.

“Nanti !, sa’i-nya di Indonesia.” Jawab ustadz santai.

“Lho? Kok sa’i-nya di Indonesia ustadz? Oh ya, mungkin ustadz alirannya beda ya? Syiah ya ustadz? Yang tanah sucinya di Karbela? Atau Ahmadiyah yang tanah sucinya di Lahore? Atau aliran mazhab al-Zaytun yang tanah sucinya di Tanah Air? Bukankah thowaf dan Sa’i-kan cuma di Tanah suci Makkah ustadz?” Tanya jamaah.

“Huss....jangan nuduh sembarangan, nanti jadi fitnah !” sanggah ustadz.

”Jadi apa dong maksud perkataan ustadz sa’i-nya di Indonesia?” tanya jamaah penasaran.

“Sa’i itu arti bahasanya adalah usaha..kerja keras. Jamaah haji kalau sudah pulang dari ibadah haji, dan kembali ke Tanah Air, harus kerja lagi, harus sa’i. Jangan sampe sebelumnya macul, atau nyopir lalu menjual tanah atau kendaraan, lalu pulang haji nganggur, gak kerja lagi...itu bukan haji mabrur. Nah itulah makna sa’i di Tanah Air.” Jelas ustdaz.

“Ohh..gitu..saya kira sa’i antara Shofa dan Marwah seperti biasa..”celetuk jamaah.

“Memang betul, sa’i itu antara Shofa dan Marwah juga” Ustadz menimpali.

 Jamaah: “Lho? kan di Indonesia gak ada bukit Shofa dan Marwah nya ustadz?”  

Ustdaz: “Sa’i atau usaha itu ,harus dimulai dengan Shofa yang artinya di mulai dengan kejernihan, jernih niat, jernih cara dan jernih tujuan, maka akan berakhir di Marwah  (yang maknanya ‘kepuasan’).”

Jamaah: “Ah, ustadz bisa aja nih....Oh ya ustadz, kalau ada calon presiden pergi haji, apa sehabis tawaf wada’, dia juga sa’i-nya di Tanah Air?”

Ustadz: “harus...! Ingat ya, saí-nya harus bermula dari Shofa (kejernihan). Jernih niat, jernih cara atau proses, dan jernih tujuan. Tanpa itu maka tidak akan sampai ke Marwah (tujuan kepuasan lahir dan batin)”

Jamaah: “Bagaimana dia dapat diketahui sa’i-nya bermula dari shafa”.

Ustadz: “Dari track record-sa'i-nya selama ini”.

Jamaah; “????!!!!!!?????”

 


 

Kamis, 06 Juli 2023

Inilah Ciri Haji Mabrur

Jamaah Haji Pasca Thawaf Wada' (thawaf perpisahan)
Tidak ada bentuk ibadah individual dalam Islam melainkan hasil yang diharapkan darinya adalah kebaikan secara sosial.  Saat seorang muslim patuh melaksanakan ibadah shalat, maka diharapkan dari perbuatan shalatnya itu adalah tercegahnya ia dari perbuatan keji dan mungkar. Saat kita menunaikan zakat, maka yang diharapkan dari kita adalah terhindar dari sifat kikir serta memberi efek kepeduliaan dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Demikian juga saat kita melaksanakan ibadah puasa, diharapkan kita terhindar dari sifat emosi serta dapat menahan hawa nafsu yang akan merugikan pihak lain. Itulah inti dari risalah (misi) diutusnya Rasulullah saw. Sebagaimana beliau bersabda: "Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak (perilaku) yang sempurna." (al-hadist)

Demikian pula dengan ibadah haji yang kita lakukan, hendaknya ibadah haji tersebut memberi efek positif secara sosial.

Para ulama sepakat bahwa salah satu indikasi kemabruran seorang jamaah haji adalah menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari pribadi sebelumnya.

Di antara ciri kemabruran seorang jamaah haji yang yang telah melaksanakan haji adalah:

  1. Thiibul Kalaam (طيب الكلام) tutur katanya menjadi baik, lembut dan ramah. Ucapannya  enak didengar oleh yang mendengarnya. Tidak kasar dan tidak menyakiti lawan bicaranya. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang memiliki sifat sabar dan sopan santun kepada orang lain.
  2. Ithámut Thoám (اطعام الطعام) peduli kepada kaum lemah dan miskin . Berkali-kali melaksanakan umroh atau haji tidak akan berguna jika tidak memberi efek positif bagi lingkungannya, terutama kaum miskin dan dhuafa. Abdulllah bin Mubarok, seorang tabiín, ulama dan waliyullah pernah berhaji unuk kesekian kalinya. Saat berangkat bersama rombongan jamaah haji, rombongan beristirhat di sebuat perkampungan yang dilewatinya. Saat rombongan singgah bersitirahat, Abdullah bin Mubarok berkeliling desa. Didapatinya seorang janda yang memungut  hewan yang sudah mati menjadi bangkai lalu dimasaknya. Abdullah bertanya kepadaya, "Bukankah daging bangkai itu haram dimakan?" Sang Ibu janda menjawab, "Haram buat tuan, tapi halal buat kami, karena kami dan anak-anak kami sudah tiga hari belum menemukan makanan, sementara kami dalam keadaan darurat diperbolehkan mengkonsumsi bangkai agar kami dapat bertahan hidup." Seketika itu juga hati Abdullah bin Mubarok tertegun, ia pun menyerahkan seluruh harta perbekalan untuk melanjutkan perjalanan menuju Makkah, ia  serahkan semua harta perbekalannya kepada ibu janda beranak tersebut. Abdullah pun kembali ke kampung dan tidak ikut bersama rombongan kefilah haji  ke Tanah Suci. Singkat cerita, para jamaah haji kembali ke rumahnya setelah merampungkan ibadah haji mereka. Salah seorang jamaah haji bersilaturrahmi ke rumah Abdullan bin Mubarok, lalu berkata, "Alhamdulillah ya syaikh (tuan guru), kita sudah bersama-sama pergi haji tahun ini ya? Semoga haji kita haji yang mabrur." Abdullah terheran dan berkata, "ya aamiin. tapi saya tidak jadi berangkat ke Mekkah. Saya kembali ke rumah." Namun sang tamu itu bersikukuh dan yakin, bahwa Abdullah bin Mubarok ikut berhaji ke Tanah Suci. "Saya melihat Anda dan kita sama-sama berthowaf dan berwukuf kan?" Abdullah hanya bisa terdiam. Saat malam tiba dan Abdullah tertidur beliau bermimpin bertemu dengan Rasulullah saw. Dalam mimpi itu Rasulullah mengabarkan bahwa hajinya Abdullah telah dibadal hajikan  (digantikan) oleh malaikat karena harta yang diperuntukkan berhaji diberikan kepada sang janda dan anak-anak yatim yang sedang kelaparan dan membutuhkan pertolongan. Kisah ini menunjukkan pentingnya kepedulian dari pada berkali-kali umroh atau haji namun masih tidak peduli kepada kaum miskin dan dhuafa.
  3. Shilatul Arham (صلة الأرحام) menjadi agen perekat umat. Ciri lain dari kemabruran seorang jamaah haji adalah menjadi unsur perekat umat. Menjadi penyatu dan mendamaikan antara umat Islam. Baik di lingkungan keluarga terdekat, masyarakat serta di tengah-tengah umat. Jamaah haji tidak diperbolehkan menjadi provokator yang memecah belah keluarga, masyarakat dan umat. Sebaliknya ia harus menjadi unsur perekat umat dan bangsa.
Jika para jamaah haji memiliki ciri-ciri tersebut, insya Allah bukan hanya mabrur hajinya, namun menjadi alumni-alumni haji yang dirindukan oleh semua makhluk Allah. Bahkan dirindukan Allah, malaikat, Rasul dan semua kaum muslimin, bahkan seluruh makhluk  yang ada.

Semoga para jamaah haji yang telah melaksankan haji-nya tahun ini benar-benar menjadi haji yang mabrur dengan indikasi dan ciri di atas. Sehingga mereka pulang bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan, bersih dari segala dosa, dan orang-orang yang melihatnya merasa gembira dengan kelahirannya...Amin


Senin, 03 Juli 2023

Wakaf Ahly Sebagai Solusi

Gedung wakaf berupa hotel di Madinah
Pada gedung ini tertulis WAQAF ABDUL BARI AL-SYAWI yang menjelaskan bahwa gedung ini adalah sebuah waqaf dari seorang bernama Abdul Baari alSyawi.

Layaknya suatu waqaf, maka asset waqaf tidak boleh diperjualbelikan, dihibahkan dan diwariskan. Asset itu akan tetap wujud dan manfaatnya dapat digunakan.
Ada dua jenis waqaf: pertama, waqaf khoiry (sosial) yg manfaatnya digunakan untuk umat atau masyarakat secara umum. Kedua, ada pula Waqaf Ahly /Dzurriy yaitu waqaf yang manfaat assetnya dapat digunakan oleh keluarga pewaqaf hingga keturunan di bawahnya sesuai kesepakatan dan ketentuan.
Wakaf terakhir ini perlu dikenalkan di tengah-tengah kekhawatiran orang akan kehilangan assetnya jika diserahkan manfaatnya ke pihak lain, juga kekhawatiran akan kesejahteraan anak keturunannya setelah sang pewakaf wafat.
Dalam waqaf Ahly/Dzurry, manfaat asset wakaf dapat digunakan untuk keluarga dan keturunan pewakaf. Sehingga jika timbul manfaat atau keuntungan dari wakaf ahly/dzurry ini maka dapat dimanfaatkan oleh keluarga dan keturunan sang pewakaf, sehingga kekhawatiran di atas dapat tereliminir. Yang jelas, keluarga dan keturunannya tidak diperbolehkan menjual, mewariskan dan menghibahkan asset waqaf sebagaimana watak hukum wakaf. Akan tetapi mereka dapat menggunakan manfaat yang timbul dari asset wakaf tersebut.
Berbeda dengan wakaf khoiry (sosial) yang manfaatnya terbuka untuk semua pihak yang boleh jadi keluarga pewakaf tidak mendapat apapun. Meskipun assset wakaf sama dalam hal tidak boleh dijual, diwarisi dan dihibahkan.
Itulah sebabnya di Saudi Arab dan negara-negara Timur Tengah banyak wakaf seperti ini membantu pemerintah, setidaknya dalam mensejahterakan keluarga pewakaf sehingga tidak menjadi beban pemerintah. Bahkan jika dikelola secara profesional, kelebihan manfaat dapat menghasilkan zakat, pajak dan santunan sosial lain bagi pihak lain.
Foto:
Gedung Waqaf Abdul Bari alSyawi di halaman Masjid Nabawi - Madinah Saudi Arabia yang menjadi hotel bagi penginapan jamaah haji dan umroh

HUKUM BERFOTO YANG FLEKSIBEL

di Kantor Pusat Penyuluhan di Ji'ronah
Di bealakang saya pada foto ini, ada kantor resmi bertuliskan “Al-Markaz al-Maidani al- Tauiyi” Pusat Pemyuluhan Lapangan dengan lambang “Haiah al-Amri bil Ma’ruf wa al-Nahyi ‘anil Munkar” (Lembaga Amar Ma’ruf dan Mahi Mungkar)

Lembaga ini bertugas memberi penerangan dan penyuluhan kepada warga, termasuk warga asing dan Jamaah haji yang berada di Arab Saudi.
Singkat cerita, dahulu lembaga ini paling depan melarang jamaah haji berfoto-foto atau merekam gambar. Saya pernah mendampingi wartawan TV meliput beberapa tempat, dilarang hingga dikejarnya kami walau sudah masuk ke dalam bus dan dipaksanya wartawan menghapus objek gambar yang telah diliputnya.
Kemarin (20/6/2023), usai melaksanakan shalat sunat ihrom di Ji’ronah, kami malah mengajak pengurusnya berfoto. Mereka kini welcome dan ramah, bahkan siap berfoto bersama dengan kami.
Masalah hukum berfoto (menggambar) sudah selesai dibahas ulama. Bahkan kini gambar hidup seperti film, dijadikan sebagai alat dakwah dan menebar kebaikan. Dalam hukum Islam, ada masalah ushul (substansi) yang bersifat tsawabit (tetap). Ada juga yangg bersifat furu’ yang bersifat mutaghoyyirot (berubah). Ada pula yg memahami nash secara tekstual (manthuq), ada pula yang memaaminya dengan kontekstual (mafhum)
Di titik inilah para ulama mengambil jalan masing-masing sehingga timbul khilafiyah

HUKUM SUNAH TIDAK MEMOTONG KUKU DAN MENCUKUR RAMBUT DI 10 HARI PERTAMA DZULHIJJAH HANYA BERLAKU BAGI YANG BERQURBAN DAN TIDAK SEDANG BERHAJI

Saat memberi pengarahan manasik haji di Makkah
Tersebar pesan WA yang menjelaskan anjuran dan sunnahnya TIDAK MEMOTONG KUKU DAN RAMBUT mulai 1 Dzulhijjah hingga 10 Dzulhijjah membuat ragu para jamaah haji, baik yang berqurban maupun yang tidak niat berqurban.

Di sini kami mencoba menjelaskan:
1. Hadist-hadist dan penjelasan tentang anjuran dan sunnahnya TIDAK MEMOTONG KUKU DAN MENCUKUR RAMBUT tersebut berlaku bagi yang berniat dan bermaksud akan berqurban di hari raya Idul Adha dan/atau Ayyamutttasyriq nya (10-11-12-13 Dzulhijjah). Hikmahnya agar mereka merasakan hari-hari itu seperti jamaah haji yang sedang ihrom, karena kebanyakan di 10 hari awal Dzulhijjah adalah puncak jamaah haji berdatangan, baik dalam bentuk haji tamattu’, qiron atau ifrod. Dalam kondisi ihrom jamaah dilarang potong kuku dan cukur rambut. Sehingga orang yang berqurban di Tanah Air ikut merasa membersamai para jamaah haji, walau jika mereka melangggarnya tidak dikenai dam (denda pelanggaran). Karena sifatnya hanya sukarela (sunah/tathowwu')
2. Kesunnahan di atas tidak berlaku bagi orang yang tidak sedang atau akan berqurban. Sebab berqurban terjadi di tanggal 10 DUlhijjah atau setelahnya, juga dirasakan oleh jamaah haji yang telah wukuf dan mabit di Muzdalifah serta melontar jumroh atau tawaf ifadoh dan CUKUR RAMBUT (bertahallul) yang menandakan telah tahallul. Sedangkan orang yang tidak sedang berqurban tidak seperti bersama jamaah haji. Karena orang yang berhaji dapat memulai menyembelih kambingnya (qurban atau hadyu) pd hari nahar (10 Dzulhijjah) juga.
3. Kesunnahan TIDAK MEMOTONG KUKU DAN MENCUKUR RAMBUT di 10 hari pertama Dzulhijjah TIDAK BERLAKU juga BAGI JAMAAH HAJI. Karena ulama sepakat saat akan ihrom haji jamaah haji dianjurkan bersih-bersih dengan potong kuku, cukur rambut (bulu ketiak, bulu kemaluan) dan mandi.
4. Jamaah haji juga TIDAK DISUNNAHKAN BERPUASA DI HARI ARAFAH, bahkan para ulama sepakat bahwa hal ini menjadi makruh bagi jamaah haji, karena hal itu akan mengurangi kekhusyuan ibadah WUKUF yang menjadi INTI HAJI jika dilakukan dalam keadaan berpuasa.
5. Berpuasa Arafah disuannahkan bagi orang yg tidak sedang berhaji, baik dia sdg berqurban atau tidak, agar mrk ikut merasakan saudaranya yang berhaji dan sedang berwukuf di Arafah

Wallahu a’alam

Mahkota-nya Dia Relakan Terlepas: Keutamaan Cukur Gundul Ketimbang Memendekkan Rambut

dr. Wid dengan rambut gondrong
Namanya Dr. Widya Sista Prima dipangggil dokter wiwit. Sejak kecil belum pernah cukur gundul. Bahkan ia pelihara hingga rambutnya seperti dalam gambar kiri. “Dulu sejak kecil, ayah saya melarang menggundul kepala saya.” Kisahnya.

Tahun ini ia berhaji sebagai Petugas kesehatan di rombongan jamaah haji PT. Malika. Saya memprovokasi nya agar saat tahallul haji nanti rambutnya dicukur pelontos, karena jamaah haji yang cukurnya pelontos (muhalliqiina ru’usahum) didoakan nabi 3 x lebih dari pada cukur stik (muqosshirin). Ia pun bertekad memplontos kepalanya, bahkan bernadzar, kali ini, di haji ini, akan mencukur habis rambut kepalanya.
Dan benar, tepat setelah melontar jumroh Aqobah,?kami tidak kembali ke kemah tapi langsung menuju Barber Shop di Mina,. Dengan biaya cukur SR.35 rambut kami pun hilang..

لتدخلن المسجد الحرام ان شاء الله آمنين محلقين رؤوسكم ومقصرين لا تخافون
dr. Wid setelah tahallul botak gundul
Kamu akan masuk Masjidil Haram dengan damai insya Allah sambil mencukur dan memotong rambut kamu
Keutamaan Cukur Gundul Ketimbang Memendekkan Rambut Saat Tahallul.
عن عبد الله بن عُمر رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «اللَّهُمَّ ارحم الْمُحَلِّقِينَ. قالوا: والْمُقَصِّرِينَ يا رسول الله؟ قال: اللهم ارحم الْمُحَلِّقِينَ. قالوا: والْمُقَصِّرِينَ يا رسول الله؟ قال: اللهم ارحم الْمُحَلِّقِينَ. قالوا: والْمُقَصِّرِينَ يا رسول الله؟ قال: والْمُقَصِّرِينَ».
[صحيح] - [متفق عليه]
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, "Ya Allah! Rahmatilah orang-orang yang mencukur (menggundul rambutnya). Mereka berkata, "Dan yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?" Beliau mengucapkan, "Ya Allah! Rahmatilah orang-orang yang mencukur gundul." Mereka berkata lagi, "Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?" Beliau mengucapkan, "Ya Allah! Rahmatilah orang-orang yang mencukur. Gundul" Mereka berkata lagi, "Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?" Beliau mengucapkan, "Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya." (Muttafaqun 'Alaih).
Gambar:
Kiri: Dr. Wiwiit sebelum dicukur berkacamata. Kanan: setelah dicukur

Seni Menjemput Kematian

Kematian pasti datang pada setiap manusia yang bernyawa. Namun bagaimana cara maut menjemput kita, atau kita menjemput kematian? Itu memiliki seni (baca: cara) tersendiri.

Sebagai contoh almarhum Paimin yang berangkat haji tahun ini (2023). Beliau wafat tepat setelah prosesi wukuf di Arafah usai. Setelah shalat zhuhur-Ashar jamak takdim, khutbah wukuf dan zikir wukuf selesai, dua jam setelah itu beliau dipanggil Allah swt.
Ketika saya melihat istrinya begitu tegar dan kuat menghadapi musibah ini. Isterijya bercerita, “Ini sudah menjadi cita-cita bapak sejak dahulu. Beliau pernah berkata ingin wafat di tempat yang mulia. Saat ibadah haji.”
Jenazah beliau saat dikafani tidak ditutup kepalanya seperti pocong umumnya jenazah, karena beliau dalam kondisi masih ihrom. Dan akan dibangkitkan di alam kuburnya dalam keadaan sedang ihrom. Suatu episode akhir yang baik (husnul khotimah).
Lain lagi dengan almarhumah ibu Narsi, beliau malah diwafatkan Allah setelah merampungkan semua prosesi ibadah hajinya. Tepat beberapa waktu seusai thawaf ifadhoh (rangkaian akhir ibadah haji) beliau pun dipanggil Allah. Sebenarnya, beliau seharusnya pergi haji sejak tahun kemarin bersama suaminya, tapi karena masih dalam keadaan sakit maka tidak bisa berangkat. Hanya suaminya yang bisa haji sendirian tahun lalu. Tahun ini bulat tekadnya untuk berhaji, dan suaminya pun merelakan berangkat tanpa didampinginya. “jannah.....jamnah..…insya Allah..” ujar satpam wanita Arab berpakaian merah kecoklatan di Mall Clock Tower yang membantu evakuasi almarhumah ke rumah sakit Ajyad di hotel Shofwah usai almarhumah thawaf ifadhoh di masjidil Haram dengan menggunakan roda dorong
Ya Allah ikhtim lanaa bi husnil khotimah..

Rabu, 08 Maret 2023

Karena Rajin Bersuci, Wafatnya pun di Tanah Suci

 

Jenazah di Kota Suci Makkah
Oleh : 

Muhammad Jamhuri

Saat itu musim haji tahun 2008. Semua jamaah haji sudah bersiap-siap akan wukuf di Padang Arafah. Ada seorang ibu usia baya yang ikut suaminya pergi haji. Suaminya adalah seorang pengusaha dari Makasar. Berangkatlah para jamaah haji ke Arafah, termasuk pasangan suami istri tadi. Saya pun ikut ke Arafah. Usai wukuf di Arafah, para jamaah diberangkatkan ke Muzdalifah. Setelah ambil syarat mabit dan mengambil kerikil di sana, para jamaah dibawa kembali ke syuqqoh/flat/hotel tempat menginap selama hari-hari armina (arafah-muzdalifah-mina) sebelum melaksanakan thowaf ifadhoh. Karena sebelum thowaf disyaratkan dalam keadaan suci (berwudhu), sementa jika berwudhu di Masjidil Haram akan terjadi antrian, maka para jamaah di arahkan menuju hotel untuk berwudhu di sana sebelum berangkat ke Masjidil Haram.

Di hotel, para jamaah pun diarahkan untuk berwudhu.. Termasuk ibu itu pun mengambil wudhu (bersuci). Ketika menunggu di ruang loby. Ibu ini merasakan pusing, lalu memohon ditemani suaminya. Beberapa saat kemudian beliau minta didengarkan bacaan al-Quran, kemudian beliau sempat berkata kepada suaminya, “Pak, semoga jamaah yang berangkat ini menjadi haji mabrur ya?”  “Amin” jawab suami singkat. Lalu ibu itu berkata, “Pak, saya izin berangkat dulu ya?” Lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat, dan tutup usia.

Esoknya, ibu itu dibawa ke Masjidil Haram untuk dishalatkan setelah shalat zhuhur. Sebelum dishalatkan, jenazah di letakkan di Hijir Ismail di samping bangunan Ka’bah bersama suaminya yang ikut mengantarkan. Kemudian jenazah itu dishalatkan dengan jumlah makmum jutaan jumlahnya. Bayangkan...ibu itu wafat di Tanah Suci, wafat setelah bersuci, wafat di tengah melaksanakan ibadah haji yang suci, dan dishalatkan oleh juataan jamaah haji yang sedang melaksanakan ibadah nan suci, serta dikebumikan di Tanah Suci.

Saya penasaran akan kehormatan ‘husnul khotimah’ yang Allah berikan kepada almarhumah ibu seperti ini. Esoknya saya menemui suaminya dan bertanya kepadanya, “Pak, apa amalan istri bapak sehingga beliau mendapat kemuliaan dari Allah di akhir hayatnya?, apakah isteri bapak seorang ustazah?” Suaminya menjawab, “Tidak pak, isteri saya hanya seorang ibu rumah tangga...usianya kini sekitar 52 tahun. Sejak saya berkeluarga dengan beliau, beliau tidak pernah sakit, apalagi berobat di rumah sakit. Tidak pernah. Saat menjelang wafat pun tidak ada tanda-tanda dia sakit.”

“Lalu apa amalan isteri bapak sehingga beliau mendapat kemuliaan husnul khotimah?.” Tanya saya. Bapak itu menjawab, “Ada dua amalan yang saya kagum terhadap isteri saya.”

Saya bertanya, “Apa dua amalan itu pak?” Bapak itu menjawab, “Isteri saya hatinya suci pak, saya kan pengusaha yang minimal sepekan sekali pergi keluar kota untuk menjalankan bisnis saya. Akan tetapi setiap saya dating pulang ke rumah –meskipun malam hari- dia selalu menjadi orang yang pertama membukakan pintu rumah, dia juga yang menyiapkan minum dan air hangat untuk saya, dan dia tidak pernah bertanya ‘dari mana?’ atau ‘kenapa datang malam’?.dia tidak bertanya curiga. Itu pak yang membuat saya kagum pada almarhumah”. Tambah suaminya.

“Lalu amalan yang kedua apa pak? Tanya saya. “Nah, isteri saya setiap kali akan bepergian pak –jangankan bepergian jauh, dia mau pergi ke pasar saja, pasti isteri saya itu berwudhu dahulu pak.” Jawab bapak itu.

Sampai titik inilah, saya tertegun, hati saya bergetar, bulu kuduk berdiri, sekaligus merasa malu kepada perempuan almarhumah ini. Padahal dia hanya seorang ibu rumah tangga, bukan seorang ustazah, namun dia melaksanakan ayat yang sangat sederhana, ayat yang dahsyat efek dan pengaruhnya. Dan disinilah saya seakan-akan baru membaca ayat yang sudah pernah saya hafal saat remaja belajar di Pesantren dahulu. Ayat itu adalah:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS: al-Baqarah: 222)

Pantas jika Allah swt telah mencintai dan merindukannya, hingga Allah swt mengundang kehadiran dan pertemuannya di Tanah Suci dan dalam keadaan bersuci.

Sabtu, 30 Juli 2022

ABRAHIMISME DAN "MILLAH" IBRAHIM

 

Sering kali kata "isme" yang ada di belakang kata dasar diartikan sebagai "ajaran" atau "ideologi". Sebagai contoh kata Leninisme berarti ajaran atau ideologi yang dibawa oleh Lenin. Oleh sebab itu, kaum orintalist dulu sering menyebut "Muhammadisme" yang sebagai ajaran atau ideologi yang dibawa Muhammad. Mereka mensejajarkan dengan isme-isme atau agama yang ada. Yaitu menyebut agama dinisbatkan pada tempat atau pada si pembawa agama. Sebut saja misalnya agama budha (Budhisme) dibawa oleh Sidarta Budha Gautama, Hindu (Hindusme) lahir dan berasal dari Hindustan (India), Yahudi (Yudaisme/Jewis) dibawa oleh Yahuda, Kristen (Christian) dibawa oleh Yesus Kristus dan lainnya. Tentu saja penamaan ini salah jika dinisbatkan kepada Islam. Karena jika Islam disebut Muhammadinisme (ajaran Muhammad) maka akan terindikasi seakan Muhammad lah yang "mengarang" dan ajaran yang dibawanya. Padahal ajarannya adalah Islam yang merupakan wahyu dari Allah swt
Berbeda dengan Islam. nama ajarannya adalah Islam dan penamaan Islam itu datang langsung dari Allah swt. Firman Allah:
ان الدين عند الله الاسلام
Agama yang benar di sisi Allah adalah Islam (Qs. Ali Imron: 19)
ومن يبتغ غير الاسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الاخرة من الخاسرين
Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, maka dia tertolak. Dan dia di akhirat termasuk orang2 yang merugi
(Qs. Ali Imron: 85)

AJAKAN ISRAEL

Kini gaung Abrahimisme mulai digaungkan lagi, terutama oleh pihak Israel. Mereka menjadikan Abrahimisme sebagai alat diplomatik untuk membangun kerjasama dan pembukaan kantor diplomatik di negara-negara Islam. Mereka merayu negara muslim bahwa mereka satu rumpun berasal dari Ibrahim.
Secara sejarah memang benar. Karena Ibrahim adalah Abul Anbiya (bapak moyong para nabi). Ibrahim memiliki putra bernama Ismail yang berketurunan Nabi Muhhammad, dan Ishaq yang berketurunan para Nabi termasuk Musa dan Isa as. Namun kewarisan nasab saja tidak cukup. Kewarisan agama lebih penting dari sekedar kewarisan nasab. Oleh sebab itu dalam ilmu waris anak kafir atau murtad tidak bisa mendapat warisan dari ayahnya yang muslim atau sebaliknya.
Sebagian anak keturunan Ibrahim memang masih melestarikan millah Ibrohim, bahkan ada yang bergelar Nabi dan Rasul. Tapi sebagian besar umatnya telah melenceng dari millah Ibrahim. Bahkan diutusnya nabi rasul dari mereka bertujuan meluruskan aqidah mereka yang salah.
Lalu apa sebenarnya agama yang dianut Ibrahim as? Tidak lain adalah agama Islam. Allah swt berfirman:
ما كان ابراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما وما كان من المشركين
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi juga bukan seorang Nasrani, tapi dia seorang Muslim yang lurus. Juga bukan termasuk yang beragama pagan (musyrik). (Qs. Ali Imran: 67)
ووصى بها ابرهيم بنيه ويعقوب يا بني ان الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن الا وانتم مسلمون
Dan Ibrahim telah berwasiat dengan nya (islam) kepada anak-anaknya dan Ya'kub (Israil), wahai anak-anakku sesungguhnya Allah telah memilih untuk kalian agama (Islam). Maka janganlah kamu sekali2 mati kecuali dalam keadaan muslim. (Qs. Al-Baqarah: 132)
Jadi, mestinya, jika sadar, mereka (Yahudi dan Nasrani) hendaknya mengikuti millah Ibrahim yang tidak lain adalah ajaran tauhid atau Islam dan tidak menyekutukan Allah.
Oleh sebab al-Quran banyak menyebut kata "an ittabi' millata Ibrahim" sebagai pesan bahwa jika benar-benar mengaku sebagai Abrahimiyyun (pengikut ajaran Ibrahim) hendaknya mengikuti ajaran tauhid yang dibawa Ibrahim serta ajaran-ajaran yang dibawanya.

Umat Islam-lah yang Mewarisi Millah Ibrahim
Kenyatannya secara ilmiah dan empirik, umat Islamlah yang mewarisi Millah Ibrahim. Berikut adalah buktinya:
  1. Ibrahim as membawa agama tauhid yang hanya menuhankan Allah dan tidak ada sekutu baginya, walau berupa anak.
  2. Perintah ibadah haji turun di zaman Nabi Ibrahim as. Dan yang melestarikan ibadah ini hingga kini hanya umat Islam
  3. Ajaran berqurban yang dicontohkan Nabi Ibrahim dahulu, pun yang melestarkannya adalah umat Islam.
  4. Ajaran berkhitan di zaman Nabi Ibrahim pun masih dilestarikan dan dijalankan oleh umat Islam hingga kini.
  5. Shalawat Ibrahimiyah yang dibaca di tahiyat akhir dalam sholat menunjukkan hubungan antara nabi Muhammad saw dengan Nabi Ibrahim alaihissalam
  6. Dzikir dan wirid "Asbahna ala fithrotil Islam wa kalimatil ikhlas, wa ala diini nabiyyina muhammadin shallallahu alaihi wa sallam, wa ala millati ibrohim hanifan wa maa kaana minal musyrikin" adalah pengulangan dan pengakuan akan kesetiaan umat Islam pada millah Ibrahim.
Jadi bersyukurlah kita memeluk agama Islam, karena keaslian ajaran Ibrahim dilanjutkan oleh Nabi Muhammad dan dipeluk dan diamalkan oleh umat Islam hingga kini.
Wallahu a'lam

M. Jamhuri. Mina 12 Dzulhijjah 1443 H/11 Juli 2022 M