Tampilkan postingan dengan label Tarikh Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarikh Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juli 2021

Menanamkan jiwa pengorbanan Keluarga Nabi Ibrahim Pada Santri

Semalam, saya ajak santri untuk menyaksikan film kisah Nabi Ibrahim as, tepat di hari kedua hari raya Idul Adha atau Idul Qurban. Saya punya prinsip, "al-Farogh Mafadah" Kekosongan (tanpa kegiatan) adalah kerusakan. Maka dari pada malam libur dan tak ada kegiatan, sedangkan pelarajan pun belum dimulai, maka saya putar film tersebut. Saya terjun langsung memberi ulasan dalam setiap adegan film tersebut, karena kapasitas pengetahuan sejarah para santri berbeda-beda. Bahkan boleh jadi, sebagian orang dewasa pun tidak mengenal sebagian adegan itu.

Durasi kisah tentang raja Namrudz saya lewati. Selain karena panjang, juga tidak ada relevansinya dengan sejarah qurban yang ingin diketengahkan. Maklum, durasi utuhnya panjang sekitar 1 jam 49 menit. Kalau diputar semua, santri bisa-bisa tidur jam setengah sebelas malam. Saya putar mulai di menit ke 50. Langsung dari raja Namrudz yang sedang menunjukkan kehebatannya bisa menghidupkan dan mematikan laksana Tuhan di depan nabi Ibarhim, dengan cara membebaskan seorang yang di penjara dan membunuh yang lainnya. Lalu dengan congkaknya Namrudz berkata, "Ibrahim, lihatlah aku pun mampu menghidupkan dan mematikan manusia". Ibrahim cuma menjawab, "Tuhanku mendatangkan matahari dari Timur". Coba kau datangkan dari barat. Namrudz cuma bisa marah, lalu mengusir Ibrahim dari negeri Babilonia, negeri yang dipimpinnya. Ibrohim migrasi ke Yuressalem.

Raja zhalim itu pun mati hanya oleh seekor nyamuk kecil 

Kisah yang lebih tepat untuk pelajaran bagi para santri, bahkan untuk wali santri bukan di situ, tapi kisah diperintahnya nabi Ibrahim untuk meletakkan istri dan puteranya ke sebuah lembah gersang dan tak ada pepohonan. Siti Hajar sempat bingung akan ditinggal berdua saja di sana. Tapi kemudian ia yakin akan dijamin hidupnya karena sedang melaksanakan perintah dari Allah. Ibrahim as pun bukan tidak yakin, tapi sebagai manusia ia merasa kasihan pada putera yang dikasihinya di tempat yang sepi, gersang, tak ada sumber air, apalagi pepohonan. Nah di titik inilah saya memberi ulasan. "Coba kalian pikirkan -ujar saya pada para santri- Nabi Ismail yang masih kecil ditinggal di tempat yang kondisinya seperti itu, bahkan kelaparan dan kehausan. Toh jika kita yakin kepada Allah swt, Allah tidak akan menyia-nyiakan." Allah kasih air zamzam, yang pada waktu berikutnya, Suku Jurhum yang melewati daerah situ pun ikut menetap, hingga Ibrohim as saat mengunjungi anak-istreinya setelah puluhan tahun ditinggal di Makkah terlihat ramai penduduknya

"Sedangkan kalian diletakkan orang tua kalian di sebuah pesantren, yang masih tersedia makanan dan minuman, tempat istirahat yang layak, bahkan bertemu banyak teman, apakah masih merasa tidak nyaman?"  Percayalah kalian harus bersabar sebagaimana bersabarnya Ismail dan Siti Hajar saat "dipesantrenkan" di tempat yang sepi, gersang, panas, dan tak ada seorang pun di sana.

Bagi orang tua wali santri, kisah ini pun hendaknya menjadi pelajaran, bahwa saat kita ikhlas menjalani hidup untuk meraih ridho Allah, Allah akan menjamin rezekinya. Bahkan rezeki yang Allah berikan kepada Ismail as dan Siti Hajar berupa air zamzam kini melimpah dan dapat dinikmati oleh umat Islam dari seluruh dunia sepanjang zaman. 

Terus terang, saat saya mulai membangun pesantren di tempat terpecil ini pun, termotivasi oleh kisah ini. Jadi, kisah-kisah dari al-Quran itu sebenarnya bukan kisah dongeng. Tapi kisah nyata dan harus memberi motivasi dalam hidup kita.

Secara ilmu ekonomi, sebenarnya saya tidak menerapkan teori pemasaran dalam ilmu ekonomi. Dalam teori pemasaran, yang harus diperhatikan dalam membuka "usaha" adalah 4P (Place, Promotion Price dan Product). P pertama jelas tidak memenuhi syarat. Jangankan lokasi strategis, untuk mencapai tempat ini saja jalannya rusak dan jelek serta di jalan yang buntu. Wajar jika saat tahun pertama pembukaan pesantren hanya ada 13 santri saat itu. 

Orang tua harus yakin, bahwa  memondokkan anak, sebenarnya sedang mengirim mujahid/pejuang. Dan seorang mujahid/pejuang di jalan Allah, maka Allah lah yang akan menjamin rezekinya. Sikap iman yang dalam ini yang harus terpatri dalam jiwa setiap mukmin.

Akhirnya kisah nabi Ibrahim pun ditutup dengan ujian harus menyembelih puteranya bernama Ismail as itu. Ini pun terasa begitu berat bagi orang tua. Apalagi anaknya sholeh, patuh, taat dan bagus rupawan. Ayah mana yang tega akan menyembelih darah dagingnya sendiri? Apalagi diiming-iming Iblis bahwa  Ibrahim sebaiknya meninggalkan Tuhannya, dan coba menjadikan Iblis sebagai Tuhan barunya, niscaya Ibrahim tidak akan dipermalukan ketokohannya hanya karena mengiluti perintah Tuhannya untuk membunuh anaknya.

Namun semua godaan dan iming-iming itu dienyahkannya demi melaksanakan perintah Allah swt. Dari situlah Allah swt menjadikannya sebagai pemimpin bagi umat manusia. Karena pemimpin sesungguhnya adalah pemimpin yang telah melewati berbagai ujian dengan baik. Bukan pemimpin yang dihiasi dan dipoles dengan pencitraan yang semu. 

Allah swt berfirman:

وَإِذْ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". (QS. Al-BAqarah: 123) 


Jumat, 26 April 2019

Jika Jadi Dilantik, Prabowo Harus Meneladani Ini


Oleh : Muhammad Jamhuri

Siapa yang tidak mengenal Nabi Yusuf as? Semua kita mengenalnya. Allah menceritakan kisah nabi Yusuf as dalam satu surat utuh; surat Yusuf. Allah juga menyebut kisah nabi Yusuf sebagai kisah terbaik (ahsaul qoshosh). 

Tentu saja diceritakannya kisah nabi Yusuf bukan sekedar cerita pengantar tidur, akan tetapi agar menjadi panutan bagi siapapun. Karena ahli bahasa mendefinisikan “kisah” adalah  ‘tatabbu’ maa madho” (mengikuti dan menapak tilasi apa yang telah lewat).

Di mulai dari masa remaja Yusuf as yang mendapat kasih sayang istimewa ayahnya, membuat saudara-saudaranya iri hati dan dengki. Mereka pun berencana ingin melenyapkan Yusuf as. Membunuhnya.  Akan tetapi dicegah oleh  salah seorang dari mereka. Nabi Yusuf as pun dilempar di kedalaman sebuah sumur yang jauh dari kampungnya. Kemudian dengan berita hoax dan pencitraan seolah-olah bersedih kehilangan Yusuf as, saudaranya membawa pakaian Yusuf yang dilumuri darah hoax (dam kadzib), lalu melaporkan nasib Yusuf as dan membohongi ayah mereka bahwa yusuf telah wafat dimakan seekor srigala. Betapa kejinya perbuatan mereka terhadap Yusuf as dan membohongi ayah mereka sendiri.

Namun seiring perjalanan waktu, Nabi Yusuf as mendapat jabatan penting di negara Mesir. Tidak tanggung-tanggung, beliau menjabat sebagai menteri perbendahaaraan negara. Semua kebijakan keuangan dan logistik berada dalam genggamannya. Di tengah-tengah kekuasaan yang paling tinggi itu, tiba-tiba saudara-saudara Yusuf as minta belas kasih karena kehabisan pangan akibat musim peceklik selama tujuh tahun. Apakah Nabi Yusuf as lantas mendendam kepada saudara-saudaranya yang telah menghinakannya dan menjerumuskannya ke dalam lubang sumur dahulu? Apakah Nabi Yusuf as mengusir mereka dari Istana? Tidak, bahkan beliau menjamu mereka dengan baik, menempatkan mereka dan ayahnya di posisi yang mulia. Subhanallah. Kekuasaan tidak menjadikannya lupa diri. Namun tetap santun dan pemaaf.

Senada dengan Yusuf as, Nabi Muhammad saw saat di Mekkah sering dihinakan, dicaci-maki, dilempari kotoran bahkan dituduh berkali-kali sebagai tukang sihir dan orang gila. Bahkan setelah wafatnya Khadijah dan Abu thalib, beliau direncakan akan dilenyapkan dan dibunuh. Bahkan saat akan datang beribadah umroh pun beliau dicegahnya masuk ke Makkah. Akan tetapi, apakah saat beliau di puncak kekuasaannya dan saat Makkah dapat ditaklukkannya beliau membabat habis penduduk Makkah? Tidak, beliau malah mendeklarasikan hari itu sebagai hari kasih sayang. Beliau berkata, “Al-Yaum yaum al-marhamah” (Hari ini adalah hari kasih sayang). Padahal saat itu kaum Quraisy sudah menduga-duga bahwa mereka akan dihabisi sehabis-habisnya mengingat kezhaliman yang mereka telah lakukan kepada beliau. Hingga mereka menduga hari itu adalah Hari Pembantaian (Yaum al-Malhamah). Namun Rasulullah saw malah mendeklarasikan hari itu sebagai Yaum al-Marhamah (hari kasih sayang).

Para pengamat menilai, bahwa dahulu Prabowo lah yang mengangkat dan mengantarkan Jokowi dan Ahok menjadi Gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Namun kali ini mereka justru berusaha menjegal Prabowo naik kursi presiden dengan cara-cara kecurangan yang ramai diberitakan. Meski demikian, jika suatu saat beliau diumumkan sebagai pemenang dalam pilpres ini, hendaklah meneladani kedua Nabi di atas. Tetap santun dan pemaaf. Meski sudah berada di puncak kekuasaan. Meski secara manusiawi beliau merasakan sakit dan pedih. Namun, seorang negarawan dan pemimpin bangsa, adalah seorang yang mengayomi seluruh anak bangsa. Menghilangkan rasa dendam dan menata negeri ini kembali baik. Kecuali mereka akan tetap melakukan kejahatan lagi.

Wallahu a’lam bish showab
Rumpin, 28 April 2019.
Muhammad Jamhuri

Senin, 03 Desember 2012

Urgensi dan Keunggulan Kalender Hijriyyah


“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus “ (QS: At-Taubah)
 Sudah maklum bagi kita, bahwa umat Islam mempunyai kalender  tersendiri, yaitu kalender Hijriyyah. Kalender ini diberlakukan pertama kali pada masa Amirul Mukminin Umar bin Khattab atas usul sahabat Ali bin Abu Thalib dan disepakati oleh seluruh sahabat.

Perhitungann Kalender Hijriyyah  dimulai pada peristiwa hijrah Rasulullah saw dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Sehingga pada peristiwa itu disebut sebagai tahun pertama hijrah. Dari peristiwa itu juga kalender ini dinamakan kalender Hijriyyah berasal dari kata hijrah. Perhitungan kalender ini berdasarkan pada perederan bulan.  Berbeda dengan kalender masehi yang berdasarkan pada peredaran matahari.

Jumlah bulan yang terdapat pada kalender hijrah sebanyak 12 bulan, mulai dari bulan Muharram dan berakhir pada bulan Dzulhijjah. Sedangkan jumlah hari dalam setiap bulannya tidak ada yang berjumlah 28 atau 31 hari. Akan teteapi Jumlah harinya dalam sebulan hanya 29 atau 30 hari.

Permulaan tanggal pada kalender hijriyyah pun berbeda dengan permulaan tanggal yang terdapat pada kalender Masehi. Jika pergantian tanggal pada kalender masehi dimulai pada jam 00.00 tengah malam, maka dalam kalender hijryyah permulaan tanggal dimuali pada saat waktu maghrib tiba.

Meskipun kalender hijriyyah sudah menjadi maklum bagi umat Islam, akan tetapi masih banyak umat Islam yang belum mengenalnya, bahkan untuk menyebutkan nama-nama bulan yang terdapat dalam kaelnder ini saja masih banyak yang belum mengetahuinya, apalagi menghafalnya. Tidak seperti kalender masehi yang sejak usia masih kecil kita sudah menghafalnya. Ketidaktahuan sebagian umat Islam tentang kalender hijriyyah disebabkan kurangnya sosialisasi kepada umat Islam. Selain itu, penanggalan masehi yang menjadi penanggalan resmi negara ikut menyebabkan umat iIslam tidak mengenal penanggalan hijriyyah. Namun, ada pula sebab lain yang membuat umat Islam tidak peduli dengan kalender hijriyyah, yaitu kurangnya pengetahuan tentang urgensi dan pentingnya kalender hijriyyah.

Lalu apa urgensi dan keunggulan kalender hijriyyah? Berikut ini adalah alasan mengapa kalender hijriyyah itu amat sangat penting bagi umat Islam:

1. Kalender ini dilahirkan oleh orang-orang yang sangat mulia, yakni para sahabat Nabi saw, di antaranya Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Thlaib yang notebone mereka adalah para sahabat yang dijamin akan masuk surga. Kemudian disepakati pula oleh para sahabat-sahabat lainnya. Nabi saw bersabda, “sebaik masa adalah masaku kemudian masa setelah ku, kemudian masa setelahnya..”. Nabi saw pun bersabda, “Para sahabatku laksana bintang gemintang, kemana saja kalian mengambil petunjuk dari mereka, maka kalian akan mendapat petunjuk..”. Ini memberi isyarat kepada kita bahwa jika kita menggunakan kalender hijriyyah yang telah dilahirkan oleh para sahabat, maka kita sudah berjalan di atas jalan petunjuk.

2. Kalender hijriyyah adalah kalender yang resmi untuk menentukan moment-moment ibadah dan hari besar umat Islam. Sebagai contoh: hari raya Idul Fitri bukan jatuh  pada tanggal 1 Januari umapanya, tetapi jatuh pada tanggal 1 Syawal. Demikian juga hari raya Idul Adha terjadi setiap tanggal 10 Dzulhijjah, bukan  tanggal 25 Desember. Puasa sebulan penuh terjadi pada bulan Ramadhan, bukan pada bulan Mei. Ibadah haji terjadi pada bulan Syawal, Dzulqo’dah dan Dzulhiijjah. Puasa sunnah ‘Asyuro terjadi pada tanggal 10 Muharram, bukan 10 Januari. Puasa Sunnah Ayyamul Bidh terjadi pada tiga hari pertengahan bulan Hijriyyah, yakni setiap tanggal 13, 14, 15 setiap bulannya menurut kalender hijriyyah, Puasa sunnah Arafah terjadi pada tanggal 9 Dzulhijjah yang bertepatan dengan saat wukufnya Jamaah haji di padang Arafah.

3. Salah satu bulan hijriyyah disebutkan dalam al-Quran dan difirmankan oleh Allah swt, yakni bulan Ramadhan (syahru Romadhan). Dan beberapa bulan lainnya disebutkan oleh Rasulullah saw. Dan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menyebut nama bulan yang terdapat pada kalender masehi, baik Januari ataupun Desember..

4. Dalam kalender hijriyyah, hari terbagi dua ; siang (hari/yaum) dan malam (lail), dan permulaan malam dimulai maghrib, dan hal itu menjadi awal pergantian tanggal. Sehingga sejak maghrib hingga subuh disebut malam, sedangkan mulai subuh hingga maghrib disebut siang atau hari. Jika saat ini kita berada di malam hari pukul 01.00 misalnya maka disebut kita berada di malam jum’at umpamanya. Berbeda halnya dengan kalender masehi, maka jam 01.00 dianggap pagi hari, padahal saat itu masih malam hari. Oleh sebab permulaaan hari menurut kalender hijriyyah dimulai pagi hari dan berakhir saat maghrib, maka hal ini berkaitan dengan hukum puasa. Dimana puasa adalah menahan dari makan, minum dan jima’ sejak terbit matahari (subuh) hingga terbenam matahari (maghrib). Demikian juga halnya kewajiban zakat fitrah, terkait dengan hari terakhir Ramadhan dan malam Idul Fitri.

Dengan beberapa keunggulan kalender hijriyyah yang disebutkjan di atas, maka sudah sepantasnya umat Islam menghidupkan kembali kalender Islam yang telah ditetapkan oleh para sahabat Nabi itu. Jika bukan kita, siapa lagi? Wallahu a’lam.

 

 Jamhuri

 

Selasa, 20 November 2012

Watak Bani Israil


Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar” (QS. Al-Isra: 4)

 

Ayat di atas menegaskan bahwa Bani Israil (keturunan Israil) secara umum akan melakukan kerusakan di muka bumi ini. Kata “marrotain” (dua kali) bukan berarti hanya dua kali melakukan kerusakan itu. Akan tetapi kata itu mengandung pengulangan suatu perbuatan, sehingga maknanya adalah setelah melakukan kerusakan akan disusul dengan melakukan kerusakan kembali. Pennyataan ini dapat dikuatkan dengan kata “latufsidunna” (pasti melakukan kerusakan) dengan menggunakan kata kerja sedang berlangsung (fi’il mudhore’) yang di dalam gramatikal bahasa Arab mengandung makna “lil hadhir wa al-mustaqbal” (untuk masa kini dan masa yang akan datang). Atau dalam ilmu balaghoh (ilmu tata sastra bahasa) mengandung pengertian “li al-istimror wa al-tajaddud” (untuk makna kesinambungan , terus menerus dan baharu/up date).

Sehingga sudah merupakan ketentuan dari Allah swt bahwa watak kaum Bani Israil dari masa ke masa akan selalu melakukan kerusakan di atas muka bumi ini.

Beberaoa kerusakan yang pernah dilakukan Bani Israil di antaranya:

1. Membunuh para Nabi. Firman Allah swt: “Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas” (QS. Al-Baqarah: 61). Sebagai bukti aktual, mereka mudah membunuh siapa saja, bahkan terhadap wanita dan anak-anak kecil. Jika para nabi saja mereka membunuhnya dengan tidak merasa berdosa apalagi hanya anak kecil dan kaum wanita? Mereka bahkan tidak peduli dapat kecaman dari para pemimpin dunia.

2. Bersikap sombong karena merasa sebagai bangsa yang dipilih Tuhan, dan menganggap bahwa bangsa lain adalah bangsa budak bagi mereka. Firman Allah swt: Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar” (QS. Al-Isra: 4). Sebagai bukti aktual, kini mereka menindas bangsa Palestina dan menjajah tanah air mereka. Kutukan dan himbauan dari dunia agar menghentikan kekejamannnya tetap saja tidak di dengar, karena mereka merasa telah menguasai mereka dengan mengusai para politikus di Amerika.

3. Selalu melanggar dan tidak menepati janji-janjinya. Firman Allah swt: yang artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling“ (QS. Al-Baqarah: 83). Sebagai bukti aktual, kini Israel sering melanggar perjanjuan dengan Palestina, baik perjanjian Osli, Madrid dan lain sebagainya, bahkan resolusi-resolusi PBB pun mereka langgar dengan seenaknya.

4. Bani Israil senang jika umat Islam kembali kepada kekafirannya, atau setidaknya islam hanya cuma nama dan tidak diamalkan oleh umatnya. Firman Allah swt yang artinya: “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran”  (QS. Al-Baqarah: 109). Sebagai bukti aktual: Mereka banyak membiayai pemikiran liberal di tubuh umat Islam agar umat Islam tidak berakidah kuat, demikian juga mereka melalui LSM-LSMnya menyokong aliran-aliran sesat dan sempalan di tubuh umat Islam agar akidah umat Islam melenceng dari kebenaran.

5. Jika berperang, mereka tidak berani face to face,(berhadapan langsung)  tapi menyerang lewat benteng yang kokoh dan membangun tembiok-tembok serta bersembunyi di balik tembok-tembok tersebut. Firman Allah swt:  “Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok “ (QS. Al-Hasyr: 14). Bukti aktual saat ini adalah mereka banyak membangun tembok-tembok rasial, menyerang dengan kapal tanpa awak. Mereka takut dan selalu kalah jika berperang di tengah-tengah kota (face to face) seperti yang terjadi saat melawan pasukan Hamas di tengah kota Gaza  dalam city war (perang kota).

6. Tetap mempraktekkan sistem riba dalam ekonomi mereka, bahkan menyebarkannya ke negara-negara lain untuk mengisap ekonomi negara tersebut, terutama negara-negara berkembang. Allah swt berfirman yang artinya: “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. An-Nisa: 160-161). Bukti aktual saat ini adalah, bahwa pada perang dunia II saat negara-negara sibuk berperang, justri mereka mendirikan bank, dan pada saat perang dunia II usai, negara-negara membutuhkan pinjaman untuk membangun negara mereka, lalu bank-bank yang didirikan Yahudi memberi pinjaman dengan membebankan bunga (riba), sehingga negara-negara miskin atau berkembang sulit untuk maju karena ekonomi mereka dikendalikan bangsa Yahudi melalui bank dunia, IMF dan lain sebagainya.

Dan masih banyak watak asli Bani Israil yang diterangkan Allah swt dalam al-Qur’annya. Sehingga tiga perempat al-Quran berisi kisah nabi Musa dan umatnya (Bani Israil).# Jamhuri

 

Jumat, 09 November 2012

Persaudaraan: Solusi Masalah Ekonomi


“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat “ (QS.Al-Hujurot: 10)
 
Ketika Nabi saw berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau  menghadapi  persoalan ekomomi  yang berat sebagaimana yang dihadapi suatu komunitas yang melakukan migrasi dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi tempat itu merupakan tempat pertama kalinya dihuni oleh komunitas tersebut. Sehingga, para Muhajirin yang berasal dari Makkah dapat dikatakan sebagai para pengungsi yang ingin mendapat kehidupan yang layak, tidak tertekan di tempat asalnya, apalagi dintimidasi.

Saking rumit dan kompleknya masalah yang ditimbulkan akan perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain atau dari negara ke negara lain, hingga organisasi dunia semacam PBB (Perserikatan Bangsa–Bangsa) perlu membentuk sayap organisasi yang khusus menangani permasalah pengungsi yang organisasi itu kemudian disebut UNHCR. Organisasi ini khusus menangani masalah pengungsi, baik yang berkaitan dengan hak hidup, sosial, ekonomi, serta status kewarganegaraan mereka.

Di antara masalah yang timbul akibat pengungsian adalah masalah ekonomi, baik berupa distribusi, pengangguran, serta kebutuhan akan sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (tempat tinggal). Hal itu pun dirasakan oleh Nabi saw dan para sahabatnya yang berasal dari Makkah.

Akan tetapi, berkat kenabian Rasulullah saw, beliau dapat keluar dari krisis ekonomi itu dengan satu cara yang unik, yakni dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin yang berasal dari Makkah dan kaum Anshar yang berasal dari Madinah.

Berkat langkah yang diambil Rasulullah saw berupa persaudaraan sesama Muslim itulah, semua masalah ekonomi yang diakibatkan perpindahan penduduk, dapat diatasi. Pada saat itu Kaum Anshar mempersilakan kaum Muhajirin untuk menetap di rumah kaum Anshar, menikmati makanan yang dimakan oleh mereka, serta memakai pakaian yang dipakai mereka. Singkatnya, sikap kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin seperti saudara kandung sendiri. Bahkan sebelum turunnya ayat tentang hukum warisan, mereka menyangka bahwa diantara mereka dapat saling waris-mewariskan meskipun tidak ada hubungan nasab atau perkawinan.

Keindahan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar itu dilukiskan Allah dengan sangat indahnya melalui firman-Nya:

“Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.  Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 8-9)

Namun demikian, meskipun kaum Muhajirin ditawari dengan berbagai fasilitas, akan tetapi mereka tetap ingin hidup berdikari dan tidak bersandar kepada saudaranya. Seperti yang terjadi pada sahabat Abdurrahman bin Auf. Ketika beliau ditawari segala fasilitas hidup, beliau malah bertanya dimana pasar? Lalu beliau mencari beberapa kayu bakar dan dijual di pasar,, atau sekedar menjadi kuli panggul. Namun dalam perjalanan hidupnya, beliau tercatat sebagai salah satu dari sahabat yang kaya raya.

Begitulah keindahan berukhuwah (bersaudara) sesama kaum muslimin pada masa Rasulullah saw dan para sahabat. Jika saja jiwa persaudaraan ini tetap melekat di dalam sanubari tiap kaum muslimin, pastilah tidak ada masalah ekonomi yang tidak bisa terselesaikan. Mengapa justru jiwa  seperti ini ada di kalangan etnis tertentu yang note-bone tidak beragama Islam?. Etnis Tionghoa misalnya, betapa persaudaraan ekonomi di antara mereka begitu kuat? Bahkan dapat dikatakan perekonomian Indonesia mayoritas dikuasai oleh etnis tersebut? Kita harus belajar kesuksesan jaringan persaudaraan bisnis mereka memang.

Padahal, secara konsep, Islam telah mendudukkan persaudaraan sesama muslim sebagai masalah keimanan, masalah aqidah, bukan sekedar masalah fiqhiyyah. Perhatikanlah salah satu hadits Rasulullah saw berikut: “Tidaklah beriman seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya (seiman) seperti ia memcintai dirinya sendiri.”

Demikian juga perintah Allah swt dalam Al-Quran yang menyerukan kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Firman Allah swt: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya “ (QS. Al-Maidah: 3)

Persaudaraan sesama muslim juga dapat melahirkan persatuan, dan persatuan dapat mewujudkan pembangunan secara berkesinambungan. Bagaimana mungkin kita akan membangun jika masih terjadi tawuran dan bentrokan di antara kelompok masyarakat?

Allah swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “(QS. Al-Hujurot: 11)

Jamhuri

 

Jumat, 12 Oktober 2012

Arafah dan Persatuan Umat


Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril-haram Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat (QS.Al-Baqarah: 198)


Wukuf di padang Arafah bagi jamaah haji merupakan inti dari prosesi ibadah haji. Tanpa wukuf di Arafah, maka haji seseorang dianggap tidak sah. Rasulullah saw bersabda, “Haji adalah Arafah”, maksudnya adalah inti ibadah haji ada pada wukuf di Arafah.
Para ulama berbeda pendapat tentang sebab tempat ini dinamakan Arafah. Sebagian mengatakan bahwa nama Arafah diambil dari ‘Arafa—Ya’rifu yang artinya mengenal. Hal ini disebabkan karena saat nabi Adam as dan Hawa dikeluarkan dari surga, mereka saling mencari. Nabi Adam as berjalan dari India mencari Siti Hawa, sedangkan Siti Hawa berjalan mencari suaminya dari daerah Jeddah. (Kata “Jeddah” berasal dari kata “Jaddah” yang berarti nenek moyang). Akhirnya mereka saling bertemu di padang Arafah, Adam as bertanya pada Siti Hawa, “Hal ‘aroftini?”, (apakah engkau mengenal aku?). Demikian juga Siti Hawa bertanya pada Adam as, “Hal ‘aroftani?” (apakah engkau mengenal aku?)
Sebagian ulama ada pula yang berpendapat, bahwa kata Arafah berasal dari kata ‘i’tiraf” yang artinya “pengakuan”. Dinamakan demikian, karena jamaah haji saat berwukuf di padang Arafah, mengaku segala kesalahan dan dosanya selama ini. Mereka menangis mengadukan segala kesalahannya kepada Allah swt.
Rasulullah saw pernah berwukuf pada saat melaksanakan ibadah haji, yang kemudian disebut juga haji wada’(perpisahan), karena beberapa bulan setelah melaksanakan ibadah haji tersebut, Rasulullah saw dipanggil ke haribaan Allah swt.
Pada saat berwukuf, Rasulullah saw sempat menyampaikan khutbahnya, yang berisi pesan kepada persatuan dan persaudaraan umat serta menjaga kehormatan sesama manusia. Salah satu isi khutbah beliau adalah, “Sesungguhnya jiwa-jiwa kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan kalian adalah suci, sebagaimana sucinya tempat ini, dan sucinya hari ini, dan sucinya bulan ini”
Khutbah ini berisi pesan universal dari Rasulullah saw, bahwa kita dilarang saling menghilangkan jiwa, dilarang mengambil harta dan hak orang lain, serta dilarang menistakan kehormatan orang lain. Oleh sebab itu jika kita mengaku sebagai umat nabi Muhammad, maka kita tidak boleh mencela saudara seimannya, mengkorupsi harta rakyat melalui jabatannya, dan tidak boleh saling tawuran yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia.
Saat itu, Rasulullah saw sangat serius menyampaikan khutbahnya, sehingga di akhir khutbahnya Rasulullah saw bertanya kepada para jamaah haji yang hadir pada saat itu, “Bukankah kini aku telah menyampaikan kepada kalian.?” Para sahabat yang hadir pada saat itu menjawab serentak, “Benar, wahai Rasulullah”. Kemudian Rasulullah saw berpesan kepada para sahabat seraya bersabda, “Yang hadir saat ini agar menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir”. Kemudian beliau mengarahkan wajahnya ke atas langit seraya berkata, “ Allahumma fasyhad” (Ya, Allah saksikanlah ini).
Pada peristiwa wukuf di padang Arafah itu juga turun wahyu yang terakhir yang amat penting, yaitu surat Al-Maidah ayat 3, yang artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu “ (QS. Al-Maidah: 3)
Ayat ini juga memberi pesan persatuan kepada segenap umat Islam, bahwa Islam itu satu. Tidak ada Islam tradisonal atau islam modern, tidak islam politik dan islam non politik, tidak ada islam radikal dan islam santun, tidak ada islam lokal dan islam internasional. Islam ya Islam, islam yang mengatur dan menyentuh seluruh bidang kehidupan; mulai dari masalah bersuci hingga mengurusi urusan negara dan internasional (dunia), bahkan mengurus urusan kehidupan pasca dunia, yakni akhirat.
Agama Islam adalah agama yang menyentuh seluruh bidang kehidupan, dia mengajarkan kita aqidah dan ibadah sebagaimana dia juga mengajarkan politik dan mengatur negara. Semuanya sama sebagai ajaran Islam yang tidak boleh dipisah-pisah secara parsial
Penyebutan kata lain setelah kata Islam, hanyalah pengkerdilan agama Islam yang bersifat universal, integral dan sempurna. Dengan pengkotakan itulah timbul perpecahan, saling curiga dan pertikaian antar kelompok muslim yang seharusnya tidak terjadi. Apalagi jika kita merenungi isi khutbah Arafah yang disampaikan Rasulullah saw seperti yang tersebut di atas. Betapa menodai kehormatan sesama muslim, merampas harta muslim dan membunuh sesama muslim adalah sama saja dengan menodai tempat-tempat yang suci, menodai hari yang suci dan menodai bulan yang disucikan Allah swt.
Selain khutbah Nabi saw dan turunnya ayat Allah swt di Arafah yang menyerukan persatuan umat, ada puka isyarat lain yang memberi pesan kepada persatuan umat, yakni keberadaan jamaah haji di hari itu (tanggal 9 Dzulhijjah) harus berada di padang Arafah. Hal ini pula memberi pesan kepada kesatuan dan persatuan umat.
Betapa tidak? Di Padang Arafah saat pelaksanaan wukuf, telah berkumpul kaum muslimin dari berbagai ras dan suku bangsa, mereka datang dari berbagai penjuru dunia, dengan warna kulit dan bahasa yang berbeda, namun mereka telah disatukan dalam satu akidah (keyakinan), satu ibadah, satu tujuan, dan satu ketaatan pada satu perintah.
Adakah di dunia ini satu kelompok agama atau organisasi yang dapat mengumpulkan jutaan massa dalam satu tempat dengan sukarela dan pengorbanan dengan harta dan jiwa sendiri, selain Islam? Dalam wukuf, mereka datang dengan sukarela, berbekal dengan harta sendiri, dan rela mengorbankan jiwa jika perlu, untuk berkumpul di suatu tempat pada hari yang telah ditentukan. Bahkan jika saja tidak ada sistem kuota haji, mungkin jumlah yang datang ke Arafah akan lebih membludak dari yang ada sekarang.
Ini semua, tentu saja, mengandung pesan bahwa sebenarnya umat Islam dapat bersatu, jika tujuan hidup dan perjuangannya adalah untuk mencari ridho Allah. Namun jika tujuan perjuangan adalah selain ridho Allah maka yang timbul adalah pertikaian dan perpecahan, karena hati manusia pada saat itu telah tercemar dengan tujuan lain, meskipun dia berkata bahwa dia berjuang berdasarkan kitab dan sunnah. Ketika kaum Khowarij yang dikenal sebagai kelompok yang sudah keluar dari jalur ahlussunnah wal jamaah, mengangkat semboyan “La hukma illallah” (tiada hukum selain hukum Allah). Imam Ali bin Abi Thalib berkomentar, “Kalimatu haqqin uirda biha al-bathil” (itu adalah kalimat kebenaran namun yang diinginkan darinya adalah kebatilan)
Sudah letih rasanya sesama umat islam saling menghujat, sudah habis energi rasanya mencaci maki masalah furuiyyah yang tidak seirama dengan dirinya, sudah penat rasanya umat ini menyaksikan perdebatan para pemimpinnya, padahal di hadapan mereka masing banyak masalah-masalah utama yang harus dicarikan solusinya. Akan tetapi karena kita sibuk membahas dan meributkan persoalan cabang daripada persoalan pokok, maka yang terjadi adalah kemunduran demi kemunduran pada tubuh umat ini.
Ada baiknya kita merenung perkataan Mustofa Masyhur, dia berkata, “Nata’awan fimaa ittafaqna wa natasaamah fimaa ikhtalafna” (Marliah kita saling bekerja sama pada sesuatu yang kita sepakati bersama, dan marilah saling bertoleransi pada sesuatu yang masih kita perselisihkan)
Masalah yang kita sepakati bersama solusinya adalah; masalah keterbelakangan umat, kesejahteraan umat, kebodohan umat, suksesi kepemimpinan dari kalangan umat. Hendaklah masalah-masalah itu bersinergi antar kelompok masayarakat muslim di dalam mencari solusinya. Dan janganlah hanya karena berbeda dalam masalah cabang (furu’) menyebabkan tersendatnya melakukan kerjasama dalam masalah-masalah yang disepakati bersama.
Bertoleransi dalam masalah furu’ sebenarnya juga telah dipraktekkan dan dirasakan oleh para jamaah haji saat di Makkah, namun entah mengapa jika pulang kembali ke tanah air rasa toleransi itu hilang lagi Sebagai contoh. Jamaah haji dari kalangan Muhammadiyah dan Salafi yang tidak menganut paham adanya adzan dua kali dalam sholat Jumat, namun mereka tidak pernah meributkan saat Masjidil Haram mengumandangkan adzan dua kali dalam shalat Jumat. Sebaliknya, Jamaah haji dari kalangan Nahdhiyin (NU) yang beranggapan bahwa shalat subuh harus diikutkan dengan sunnah doa qunut, namun mereka tidak pernah meributkan Imam shalat subuh di Masjidil Haram yang tidak membca do’a qunut dalam setiap shalat subuhnya. Tidak ada dari semua kalangan yang ikut shalat di Masjidil Haram menganggap bahwa shalatnya tidak sah. Semua tenang, nyaman dan saling bertoleransi.
Arafah telah memberi pesan kepada kita untuk bersatu padu dalam kebersamaan. Pesan itu bukan hanya untuk para jamaah haji saja yang berada di Padang Arafah. Akan tetapi pesan itu juga ditujukan kepada kita. Buktinya, Rasulullah saw mensyariatkan kita yang tidak pergi haji untuk melaksanakan puasa sunnah Arafah untuk menghormati orang yang berwukuf di pada Arafah. Semoga umat Islam semakin bersatu. Amin. )I(
   Jamhuri