Senin, 18 April 2022

Khutbah Idul Fitri 2022

Oleh : KH. Muhammad Jamhuri, Lc MA*

Masjid Al-Muhajirin Cluster Catalina Summarecon - Tangerang


اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْدًا لِلْمُسْلِمِيْنَ  وَالْمُسْلِمَاتِ وَالصَّائِمِيْنَ وَالصَّائِماَتِ, وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا محمد سَيِّدِ السَّادَاتِ, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِاحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ اْلـمِيْعَادِ. أَشْهَدُ اَنْ لَّااِلهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ محمد وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ أجْمَعِيْنَ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ الله, اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالى: وَلِتُكْمِلُوا اْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.

 

Kaum muslimin wa muslimat yang berbahagia

 

Kalimat “Allahu Akbar adalah simbol umat Islam di seluruh dunia. Sejak malam tadi, kalimat ini terus menggema-membahana hingga menembus ke ruang angkasa...

Di kota-kota, desa-desa, bahkan daerah terpencil, selama masih ada seorang muslim, suara ini terus menggema, menandakan rasa kesyukuran kepada Allah swt atas apa yang telah dicapai selama Ramadhan, sekaligus sebagai bukti kelemahan Hamba di hadapan Allah yang Maha Besar. Kebesaran Allah juga tidak hanya terlihat dari kekuasaan di alam raya, namun juga Allah memberi nikmat berupa hidayah dan syariat Islam, terutama syariat puasa di bulan Ramadhan. Tidak ada agama yang selengkap dan seindah ajaran agama Islam. Di bulan Ramadhan inilah selama sebulan lamanya terjadi “Mega Training” secara massif bagi umat manusia dalam memperbaiki tubuhnya, memperbaiki akhlaknya, memperbaiki mentalnya, memperbaiki sikapnya, memperbaiki pola hidupnya, memperbaiki hubungan spritualnya dengan Tuhan, memperbaiki hubungan sosialnya, memperbaiki kondisi ekonominya, bahkan memperbaiki barisan persatuan dan ukhuwahnya. Itulah sebabnya, di akhir ayat shiyam, Allah swt berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah engkau menyempurnakan bilangan puasa dan hendaklah membesarkan nama Allah atas petunjuk(ajaran)Nya kepadamu dan agar kamu bersyukur” (QS.al-Baqarah: 185)

 

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd

Tentu saja, perasaan rasa syukur ini hanya bisa dirasakan oleh kaum muslimin dan muslimat yang telah melaksanakan ibadah selama bulan Ramadhan. Mengapa? Karena mereka telah mampu taat dan patuh melaksanakan perintah Allah swt. Dengan puasa dan diiringi dengan membayar zakat, manusia akan kembali kepada fitrah dan kesucian. Inilah makna yang terkandung dalam kata “Idul Fitri”

Berbeda dengan kata “lebaran” yang lebih dekat dengan kata “liburan”. Semua orang boleh ikut berlebaran dan berliburan, baik orang yang berpuasa maupun orang yang tidak berpuasa. Bahkan orang-orang non muslim pun ikut berliburan lebaran. Mereka sama-sama memakai baju baru mereka, mereka sama-sama bertamasya, mereka sama-sama memakan hidangan yang enak. Semuanya ikut merasakan liburan lebaran. Bahkan –boleh saya katakan- non muslim adalah mengambil bagian terbanyak dari tradisi lebaran ini. Mereka mendapat keuntungan dari situasi Ramadhan, terutama di bidang ekonomi. Siapakah yang memiliki sentra-sentra produksi selama Ramadahan?, siapakah pemilik produk kecap? sirop? garmen, mall-mall?mini market-mini market? Mereka mayoritas adalah saudara kita dari kalangan non muslim. Mereka telah ber”lebaran” dengan keuntungan Ramadhan yang mereka raih, bahkan mereka dapat berlibur ke luar negeri di masa-masa liburan lebaran ini.

Namun, meskipun merasakan lebaran, apakah mereka juga merasakan “idul fitri”? Tidak. !. Yang dapat merasakan idul ftiri adalah mereka kaum muslimin yang telah berpuasa dengan iman dan ikhlas, yang mengisi Ramadhan dengan aktifitas ibadahnya, mereka lah yang hanya dapat merasakan idul fitri (kembali kepada fitrah dan kesucian)

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd

Kaum Muslimin wal muslimiat rahimakumullah

Selain rasa gembira dan bahagia karena telah melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya, kita juga merasakan kesedihan ditinggal oleh bulan Ramadhan. Ibarat seorang tamu yang datang sekali setahun, dan setiap datang selalu menebar kebahagiaan kepada kita. Maka kedatangannya selalu dirindukan dan kepergiannya selalu ditangisi. Begitu pula dengan Ramadhan, kepergiannya membuat sedih hati kaum muslimin yang taat. Mereka khawatir tamu itu tidak akan bertemu lagi dengan mereka, karena mereka tidak tahu kapan ajal akan menjemput mereka. Sudah maklum buat, masa-masa pandemi Covid 19 lalu telah membuktikan beberapa sadara kita, tatangga kita, teman dan sahabat, ada yang telah dipanggil Allah swt dan tidak dapat bertemu lagi dengan Ramadhan tahun ini.

Oleh sebab itu, orang yang kedatangan “tamu” yang menyenangkan ini, tidak ingin kemesraan yang indah ini cepat berlalu, mereka tidak ingin tamu ini berpisah begitu saja. Mengapa mereka merasakan rindu yang mendendam seperti ini? Karena mereka mengetahui bahwa di dalamnya penuh dengan nikmat dan kebahagiaan. Mereka yang mengerti hal ini hanyalah sedikit saja. Sedangkan sebagian besar umat ini melewati Ramadhan dengan biasa-biasa saja.

 

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd..

 

Selain rasa bahagia dan sedih, kita pun perlu mengevaluasi ibadah kita selama Ramadhan:

Pertama, Sudah seberapa besarkah pengaruh ibadah yang kita lakukan, baik sholat, zakat maupun puasa? Sudahkah sholat dan puasa kita membuat kita hidup berdisiplin dan berkarakter? Sudahkah kita selalu merasakan kebersamaan dengan Allah di luar puasa sebagaimana yang kita rasakan saat berpuasa? Kita tidak berani minum atau makan barang sedikitpun jika belum datang waktu berbuka dan meskipun tidak ada orang yang melihat kita. Namun apakah hal yang sama bisa kita lakukan, dengan tidak berani mengambil hak milik orang lain, apalagi harta milik rakyat banyak? Atau tidak berani makan barang haram? Karena selalu merasa disaksikan Allah swt?

Kedua, Banyak di antara kita yang hanya berkonsentrasi pada tanggal 1 syawal, namun melupakan 30 hari bulan Ramadhan. Kita sibuk mencari harta demi tanggal 1 syawal, namun kita melewatkan hari-hari utama selama bulan Ramadhan. Kita sibuk bekerja untuk baju baru, hingga kita meninggalkan taraweh, membaca al-Quran, qiyamullail, itikaf, bahkan ada yang meninggalkan ibadah puasa yang menjadi inti ibadah di bulan Ramadhan.

Ketiga, kita sibuk memperdebatkan kapan hari raya idul fitri? Senin atau Selasa? Sehingga kita melupakan sisa-sisa akhir Ramadhan yang merupakan puncak dari turunnya malam lailatul qodar. Bagaikan seorang mahasiswa yang memperdebatkan kapan pengumuman hasil ujian, hingga mereka melupakan pelajaran ujian itu sendiri.

Keempat, tentang zakat fitrah yang salah satu fungsinya adalah membuat bahagia kaum dhuafa, sehingga tidak ada lagi pemandangan orang-orang yang masih meminta belas kasihan di hari raya, semuanya harus menunjukkan kebahagiaan. Namun kenyataannya, masih banyak kaum fakir miskin bertebaran di mesjid-mesjid meminta belas kasihan. Bahkan fenomenanya adalah justru lebih banyak penampakan kaum miskin di tengah-tengah kaum muslimin melaksanakan shalat ied. Hal ini terjadi karena ada dua kemungkinan, kemungkinan distribusi zakat belum maksimal serta tidak tepat sasaran, dan kemungkinan karena mental pengemis yang menghinggapi sebagian jiwa kaum muslimin. Mengemis dijadikan sebagai sebuah profesi. Padahal Rasululllah saw bersabda,

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”. (HR: Bukhori)

Muhasabah ini harus selalu kita lakukan, agar dari tahun ke tahun, umat Islam, pasca gemblengan Ramadhan, terus mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Jangan sampai Ramadhan hanya rutinitas yang kita lewati begitu saja, tanpa perubahan yang positif bagi kemajuan umat Islam.

 

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd..

Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah..

Setelah kita melewati Ramadahan dengan serangkaian ibadah, kita berharap semoga seluruh ibadah kita diterima oleh Allah swt. Hal yang akan meringankan diri kita saat dihisab di hari kiamat. Namun, meskipun dosa kita diampuni oleh Allah swt, akan tetapi dosa yang kita lakukan kepada sesama manusia haruslah kita mintakan maafnya kepada setiap manusia yang pernah kita zalimi. Oleh sebab itu, momen idul fitri ini merupakan momen yang tepat untuk kita saling bermaaf-maafan. Sehingga ibadah Ramadhan kita menjadi sempurna.

Allah swt berfirman:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمْ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنْ النَّاسِ ُ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia” (QS: Ali Imran: 112)

Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa kehinaan akan menimpa seseorang jika tidak melakukan hubungan yang baik kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan baik sesama manusia (hablum minannas).

Orang yang pertama kali yang harus kita mintakan maafnya adalah kedua orang tua. Karena merekalah yang telah melahirkan kita serta mendidik kita. Betapa pun sederhananya mereka dan serba kekurangannya dibanding kita, mereka adalah makhluk yang harus kita hormati, bahkan meskipun mereka berbeda agama keyakinan dengan kita. Jika orang tua kita telah tiada, maka ziarahilah kuburannya atau mendoakannya dengan segela kebaikan untuk mereka.

 

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd..

Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah..

Saat ini kita memasuki bulan Syawal, dan Ramadhan tahun depan masih 11 bulan lagi. Kita tidak mengetahui apakah kita akan berjumpa lagi dengan Ramadhan tahun depan atau tidak?. Namun, meskipun kita sudah berada di luar bulan ramadhan, janganlah kita meninggalkan semangat ramadhan. Kita harus tetap jaga predikat “takwa” di luar ramadhan. Oleh sebab itu kalimat “la’allakum tattaqun” dalam ayat 183 surat al-Baqarah menggunakan fi’il mudhore (present countinue tense) “Tattaqun”, yang dalam bahasa Arab mengandung pesan “lil hadir wal mustaqbal”, yakni untuk masa kini dan masa mendatang, atau “lil istimror wat tajaddud” untuk terus menerus dan berkesinambungan. Sehingga kalimat “la’allakum tattaqun” mengandung pengertian agar engkau bertakwa terus menerus dan memperbaharui hingga masa-masa yang akan datang. Taqwa jangan hanya terjadi di bulan Ramadhan saja, akan tetapi juga terus berlanjut di masa-masa yang akan datang.

Salah satu ibadah terdekat yang bisa kita lakukan di bulan syawal ini adalah berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضانَ ثُمَّ أَتَبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كانَ كصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian dilanjutkan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama setahun lamanya.” (HR: Muslim)

 

Allahu Akbar..Allahu Akbar...Walillahilhamd..

Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah..

Akhirnya, marilah sama-sama kita berdoa kepada Allah swt, semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya diterima oleh Allah swt.

Semoga Allah swt menerima sholat kita, puasa kita, tahajjud kita, zikir kita, khusyu’ kita dan menyempurnakan segala kekurangan dan kelalaian kita. Amin Yaa Rabbal alamin..

Semoga Allah swt menjaga negeri dan bangsa kita dari segala macam musibah, bencana dan petaka. Baik yang lahir maupun batin. Baik pandemi penyakit maupun krisis ekonomi dan politik. Aamiin yaa Robbal Alamin.

 

بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

 

KHUTBAH  KEDUA

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ . اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ .اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون .

وَقَالَ أَيْضًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًاصَادِقًا وَقَلْبًاخَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا  وَتَوْبَةً نَصُوْحًا.

اللّهُمَّ أَصْلِحِ الرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ , إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ


*) Pengasuh Pesantren Terpadu Ekonomi Islam Multazam –Bogor. Disampaikan insya Allah pada shalat Idul Fitri 1 Syawal 1437 H/ Mei 2022 M  di Masjid Al-Muhajirin Catalina - Tangerang

Selasa, 16 November 2021

Catatan Dakwah Perjalanan Napak Tilas Syaikhuna KH. Syukron Makmun Bersama Alumni Para Pengasuh Pesantren

 Oleh: Muhammad Jamhuri

 

Pada tanggal  1 – 5 Nopember 2021 yang lalu, para pengasuh pesantren yang merupakan alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman dan tergabung dalam Forum Kerjasama Antar Pesantren Alumni Daarul Rahman (FORMADA) mengadakan perjalanan Tour Napak Tilas bersama Syaikhuna KH. Syukron Makmun ke Jawa dan Madura. Tour perjalanan diisi dengan berziarah ke makam para wali dan ulama, kunjungan ke Pondok Pesantren Sidogiri sebagai pesantren almamater Syiaikhuna, serta berkunjung ke rumah kelahiran beliau di Sampang, Madura.

Hampir semua peserta yang tediri dari para pengasuh pesantren itu merasa terkesan dengan kegiatan Tour Napak Tilas yang untuk pertama kalinya diadakan tersebut. Banyak kisah kesan-baik yang disampaikan oleh para peserta, baik secara langsung maupun melalui akun medsos masing-masing.

Dalam kesempatan ini, saya mencoba menulis catatan perjalanan tersebut dari sisi metode dakwah yang bagi saya – sangat berkesan – dalam tour tersebut. Dakwah Syaikhuna KH.Syukron Makmun, ternyata bukan hanya terbatas pada ceramah dan pidato saja, namun dalam sikap, tindak tanduk, pergaulan, obrolan, semuanya tidak terlepas dari konten dakwah.

Berikut catatan dakwah Tour Napak Tilas bersama Syaikhuna KH. Syukron Makmun:

Dakwah Dengan Edukasi Ziarah

Umumnya, saat berziarah, Tour Leader (Pemimpin Perjalanan) jarang meng-edukasi jamaahnya atau pesertanya dalam hal tatacara berziarah. Namun Syaikhuna KH. Syukron Makmun selain memimpin zikir dan doa ziarah, beliau juga mengedukasi para penziarah dengan baik, agar pelaksanaan ziarah tidak menyimpang dari ajaran Islam, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang awam. Karena beliau juga mengakui masih ada umat Islam yang salah dalam tata cara berziarah. “Ziarah itu diperintahkan Nabi saw, maka jika ada kesalahan dari sebagian umat dalam berziarah, bukan ziarahnya yang harus dilarang, tapi berilah pemahaman yang benar tentang cara berziarah”. Ujarnya. Seakan Syaikhuna KH. Syukron Makmun ingin meluruskan sikap pihak yang melarang tradisi ziarah di satu sisi dan pihak yang mengamalkan ziarah namun sudah keluar dari tuntunan syariat Islam di sisi lain.

Di antara edukasi ziarah yang beliau sampaikan adalah:

  • Ziarah itu dahulunya pernah dilarang oleh Nabi saw, namun kemudian malah diperintahkan beliau. Nabi saw bersabda, “Dahulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, namun kini silakan kalian berzaiarahlah” (Al-hadist)
  •  Saat ziarah niatkanlah dalam rangka melaksanakan perintah Nabi Muhammad saw seperti tersebut dalam hadist di atas
  • Berziarah itu mendo’akan ahli kubur, bukan meminta-minta kepada ahli kubur
  • Saat akan beziarah, pasanglah niat ikhlas karena Allah dan karena mencintai para wali dan orang shalih yang dicintai Allah swt. Mencintai hamba Allah yang dicintaiNya dengan menziarahi dan mendoakannya adalah mendatangkan cinta Allah kepada kita sebagai penziarah.
  • Bertawassul dengan rasa mencintai hamba yang pernah dicintai Allah dari kalangan ulama dan wali Allah adalah mubah dan bahkan diperintah.
  • Bertawassul dengan amal shalih yang kita lakukan dalam memohon hajat juga diperbolehkan. Sebagai contoh, setelah mendoakan orang sholih yang berada dalam makam lalu berdoa, “Ya Allah, dengan amal sholeh yang kami lakukan berupa berziarah ke makam wali dan hamba yang Engkau cintai ini, maka kabulkanlah permohonan ku ini dan itu....”. Amalan bertawassul dengan amal ini sesuai dengan hadist kisah tiga orang yang terjebak dalam gua tertutup, lalu masing-masing bertawassul dengan amal sholih masing-masing sehingga batu yang menutup gua pun terbuka.

Dakwah Dengan Kisah Sejarah

Syaikhuna KH. Syukron Makmun bukan sekedar memimpin doa dalam setiap ziarahnya, namun beliau juga mampu menceritakan sejarah setiap waliyullah yang beliau ziarahinya. Baik saat berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon maupun Sunan Ampel di Surabaya. Bahkan beliau dengan lancarnya menyebut silsilah keturunan para wali tersebut, yang saya saja tidak mampu menghafalnya. Beliau bercerita dan dan menggambarkannya bagaikan sedang melihat film. Termasuk sejarah perjuangan dakwah para Wali Allah di Tanah Pasunda (Jawa Barat) yang dilakukan Sunan Gunung Jati yang bernama asli Syarif Hidayatullah maupun perjuangan dakwah Sunan Ampel di pulau Jawa yang melahirkan sistem pendidikan tertua di Indonesia yang bernama PESANTREN.

Berdakwah dengan kisah-kisah sejarah ini dapat mengajak pendengarnya mengerti sejarah perjuangan para waliyullah di Nusantara sehingga dapat melahirkan kecintaan kepada tanah air dan tokoh-tokohnya.

Mayoritas para ulama dan pimpinan pesantren mengenal sejarah Islam yang terjadi  di Timur Tengah, bahkan hingga ke Turki. Namun minim sekali mengenal sejarah perjuangan ulama di Tanah Air. Dengan menceritakan sejarah para wali Allah dan ulama yang berjuang dan berdakwah di Tanah Air ini akan membangkitkan semangat mempelajari sejarah mereka kembali. Sehingga tali perjuangan para ulama akan tetap diwariskan oleh ulama generasi zaman sekarang.

Dakwah Dengan Kisah Pribadi

Dakwah dengan cara ini terjadi saat Syaikhuna KH. Syukron Makmun memimpin ziarah ke makam orang tua beliau di daerah Sampang-Madura. Baik sebelum membaca zikir-zikir ziarah di sini maupun setelah ziarah, beliau banyak menceritakan kisah hidup beliau di masa kecil dan kaitannya dengan kedua orang tua beliau saat itu.

Beliau bercerita bahwa sejak kecil beliau selalu membantu orang tuanya. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah beliau membantu ibunya berbelanja kebutuhan dapur di pasar. Saat itu beliaulah yang belanja ke pasar, sedangkan ibu tetap di rumah. “Saya selalu ingin menyenangkan kedua orang tua” katanya menceritakan motto hidupnya. “Makanya saya sering menasehati para santri setiap menjelang liburan agar mereka saat libur di rumah harus berusaha menyenangkan kedua orang tua.” Tambah beliau.

Sedangkan dengan ayah, beliau selalu mengikuti kebiasaan ayah. Antara lain selalu melaksanakan shalat lima waktu berjamaah, hingga dengan wirid-wiridnya. Beliau bercerita bahwa ayahnya setiap usai sholat subuh di masjid tidak langsung pulang ke rumah. Tetapi berzikir hingga datang waktu syuruq, kemudian sholat syuruq, baru kemudian pulang menuju rumah. “Wirid yang sering dibaca selepas subuh hingga menjelang waktu syuruq adalah ‘Ya Arhamar Rohimin Irhamna’” ujar KH. Syukron Makmun.

Beliau juga bercerita bahwa sejak remaja bahkan masih berada di pesantren beliau sudah berdakwah ke mana-mana, terutama di daerah Jawa Timur dan Madura.

Metode dakwah dengan bercerita biografi beliau seperti ini tentu saja memberi pelajaran dan kesan yang mendalam pada pendengarnya. Pantaslah beliau kini menjadi tokoh yang kharismatik dan disegani, karena sejak kecil telah terbiasa dengan amalan dan kegiatan yang mendatangkan keberkahan dalam hidupnya. Bahkan keberkahan itu turun kepada para santri dan alumni pesantrennya.

Dakwah Dengan Kunjungan

Bercerita saja tanpa melihat tempat kejadian peristiwa (TKP) tentu saja terasa kurang pengaruhnya. Namun jika cerita itu dilakukan di lokasi kejadian, maka akan lebih terasa dalam menghayati sebuah cerita. Hal ini dirasakan saat Syaikhna KH.Syukron Makmun mengajak kami ke pesantren Sidogiri tempat beliau menimba ilmu di masa remajanya. Pesantren tertua di Tanah Air itu, kini sudah memiliki santri yang jumlahnya ribuan. Pertanda bahwa pesantren itu tidak lapuk dimakan zaman. “Pimpinan pesantren ini sekarang sudah keturunan yang ketiga, waktu saya nyantri di sini, beliau dahulu masih anak kecil, dan itu sudah 64 tahun lalu” ujar KH. Syukron Makmun.

Meski semua bangunan sudah banyak direnovasi dan bertingkat, namun ada satu bangunan yang dibiarkan dan masih utuh asli seperti pada masa 64 tahun lalu, yaitu asrama yang didiami Syaikhuna KH. Syuron Makmun. Di sana beliau memunjukkan tempat tidur beliau, dan bercerita sambil meneteskan air mata mengenang masa-masa menununtut ilmu di pesantren tersebut. Tidak sedikit kami pun ikut meneteskan air mata saat beliau bercerita di depan kamar yang menjadi tempat tidur beliau masa itu.

Dengan melihat luas kamar yang hanya berukuran sekitar 3x4 m dengan isi santri sekitar 15 orang saja, kami merasa tersentuh. Kami berpikir jika hal ini diterapkan di pesantren kami, mungkin banyak orang tua yang komplain dengan fasilitas yang sangat sederhana itu.

Namun meskipun sangat sederhana, pesantren ini telah melahirkan banyak ulama, antara lain KH. Idrus Ramli dan KH. Syukron Makmun itu sendiri. Di samping itu pesantren ini pun merajai mini market dengan merk BASMALAH di wliayah Jawa Timur dan Madura. Di Madura sendiri kami nyaris tidak melihat mini market lain, selain mini market “Basmalah” milik pesantren Sidogiri ini.

Metode berdakwah dengan kunjungan ke lokasi sejarah adalah efektif untuk memberikan pengaruh kepada mad’u (objek dakwah). Tidak heran jika para jamaah haji atau umroh yang berkunjung ke tempat-tempat bersejarah di dua kota suci Makkah dan Madinah mendapat hidayah sepulangnya dari Tanah Suci.

Dakwah Dengan Sanad

Tidak dapat dipungkiri, bahwa saat Syaikhuna KH. Syukron Makmun membawa kami para rombongan berziarah ke makam para pendiri pesantren Sidogiri, itu berarti telah menyambungkan kami (para rombongan) dengan mata rantai (sanad) para guru beliau. Terutama guru-guru yang pernah mengajar beliau di Pesantren Sidogiri ini. Sehingga sanad pendidikan yang diterima oleh para santri dari Syaikhuna semakin jelas dan matang.

Selain itu, beliau juga secara langsung memberikan ijazah Hizb Nashor kepada seluruh pesera Ziarah dan Napak Tilas saat itu, sesuatu yang jarang beliau lakukan di pengajian atau ceramah umum.

Beliau pun bercerita, bahwa beliau telah mendapat ijazah dari Syeikh Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki, ulama ahlussunnah wal jamaah yang tinggal di kota suci Makkah. Bahkan beliau dipakaikan sorban langsung oleh Sayyid Muhammad saat berada di Makkah dan telah diijazahkan semua buku-buku dan wirid karya beliau

 Penutup

Demikianlah catatan dakwah Napak Tilas Syaikhuna KH. Syukron Makmun yang dapat saya ulas. Semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga kami para santri dan jamaah beliau selalu diberikan limpahan keberkahan dari doa-doa para guru kami. Semoga juga beliau dan para guru kami selalu dilimpahkan keberkahan dan kebahagian, baik di dunia maupun di akhirat.

 Rumpin-Bogor, 16 Nopember 2021

Senin, 11 Oktober 2021

Salamku Pada Nabi saw Mengantarkanku Ke Madinah

Setahun setelah lulus pendidikan di pesantren aku diminta untuk mengabdi mengajar di sana. Di tengah masa pengabdian, salah seorang syeikh (dosen) dari Universitas Islam Madinah datang berkunjung ke pesantren. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh pimpinan pesantrenku untuk muqobalah (interview) para  alumni yang mungkin dapat diajukan sebagai penerima beasiswa kuliah di Universitas Islam Madinah. Saat itu ada beberapa alumni yang diajukan muqobalah, termasuk diriku.. 

Setelah beberapa bulan, pengumuman hasil muqobalah pun disampaikan. Dari sekitar 6 (enam) alumni yang dimuqobalah, hanya dua orang yang diterima. Yaitu putra sang Kyai dan satu lagi teman seangkatan denganku. Aku dan temanku lainnya yang dimuqobalah belum mendapat nasib baik saat itu.

Waktu pun berlalu. Namun aku disupport dan disugesti oleh temanku yang diterima kuliah di Madinah itu, bahwa aku sebenarnya lebih pantas menerima kesempatan itu. Akhirnya aku kirim pengajuan (apply) dengan mengirim beberapa berkas ke tiga universitas di Arab Saudi, yaitu Universitas Islam Madinah, Universitas Ummul Quro Mkkah, dan Universitas Imam Ibnu Saud Riyadh. Namun setelah sekian lama, tidak ada jawaban.

Sejak temanku berangkat kuliah ke Madinah, kami sering saling berkirim kabar melalui surat pos. Maklum, saat itu belum belum ada teknologi seluler seperti saat ini. Surat yang dikirim melalui pos baru diterima setelah sepuluh hari. 

Suatu hari, di perpustakaan aku membaca buku "Mafahim Yajib An-Tusohah" karya Sayid Alwi al-Maliki, ulama Makkah yang sangat terkenal dan pernah mengajar di Masjidil Haram. Dalam buku itu terdapat keterangan bahwa, "Menulis sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw, maka tulisan itu akan terus bersholawat dan bersalam kepada beliau selama tulisan itu masih ada." Penjelasan ini lalu menginspirasiku untuk membubuhi kalimat salam untuk Rasulullah saw pada amplop surat yang biasa akan aku kirim ke temanku yang sedang kuliah di Madinah.

Aku pun mulai menulis surat. Setelah aku tulis amplop surat itu dengan nama dan alamat temanku yang sedang kuliah di Madinah, lalu aku tambahi tulisan "Assalamu'alaika ya Rasulullah, Assalamualaika Ya Nabiyullah" di pojok kanan atas amplop surat itu. Dengan rasa husnuzzhon dan tafaul (optimis), saat surat ini masuk ke daerah kota Madinah, bahkan sejak ditulis di tanah air pun, pasti nabi saw akan menjawab salam dalam surat itu. 

Waktu berjalan, aku pun masih tetap mengajar di pesantren, hingga pimpinan pesantrenku membawa berita gembira, yaitu terbukanya kesempatan kuliah di Pakistan setelah beliau pulang dari lawatannya di Pakistan dalam sebuah acara pertemuan ulama internasional di sana. Aku pun mengambil kesempatan itu. Dan kuliah di Pakistan, karena penantian selama 4 tahun dari Universitas Arab Saudi belum mendapatkan hasil.

Ternyata, kuliah di Pakistan tidak berbeasiswa full, hingga menjelang akhir semester pertama, aku kehabisan bekal untuk kebutuhan hidup. Di saat kebingungan itu, aku hanya pasrah dan berdo'a, "Ya Allah, aku masih ingin menuntut ilmu. Ada pun bagaimana caranya, aku serahkan padaMu."

Tepat setelah ujian semester, aku membaca pengumuman di papan pengumuman Dekan tempatku kuliah. Ada namaku disebut untuk mengambil kiriman fax di kantor Dekan. Ternyata fax itu adalah surat panggilan kuliah di Universitas Ummul Quro Makkah. Padahal sudah tidak terpikirkan lagi olehku akan diterima di universitas di Arab Saudi.

Aku pun langsung mengurus keberangkatan. Mulai dari mengambil visa hingga tiket. Akhirnya untuk pertamakalinya aku menginjakkan kaki pertamaku di Tanah Suci Makkah pada 1 Syawwal, tepat pada hari Raya Idul Fitri siang. Setelah tinggal di asrama kampus selama sepekan, aku pun menghubungi kawanku yang masih kuliah di Madinah, Saat itu mereka sudah semester-semester akhir. Sampai di Madinah aku diajak menunaikan sholat di Masjid Nabawi. Dan saat menunggu waktu sholat, ada duduk tepat di Raudhoh yang tepat di samping rumah dan kuburan Nabi saw. Saat-saat seperti itulah jiwa ini merinding dan bergetar bercampur rasa syukur, perasaanku serasa sedang dielus-elus Nabi saw dari arah rumahnya, dan aku merasa beliau menjawab salamku yang pernuh ku tulis di amplop surat dulu dengan beliau mengundangnya mengunjungi berziarah ke makam beliau
di Madinah.

"Sholaatan wa salaaman alaika yaa Rasulullah wa rohmatullahi wa barokatuh."