Selasa, 17 Februari 2009

Tiga Pondasi Agama

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. “ (QS. Al-Maidah: 3)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Umar bin Khattab diceritakan, bahwa suatu hari Malaikat Jibril datang menghadap Rasulullah saw menanyakan tentang Iman, Islam dan Ihsan. Rasulullah saw menjawab bahwa Islam adalah bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. Sedangkan iman adalah engkau percaya kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari kiamat dan takdir. Sedangkan ihsan adalah beribadah seperti melihat Allah dan jika tidak bisa, maka yakinlah bahwa Allah melihat kita.
Dari keterangan yang disampaikan oleh Rasulullah kepada Jibril as dihadapan para sahabat itu, maka dapat disimpulkan bahwa ajaran Islam memilki tiga pondasi utama; yakni Iman (aqidah), Islam (syariat) dan Ihsan (akhlak). Aqidah adalah segala hal yang berkaitan dengan keimanan, keyakinan dan ideologi. Sedangkan syariat adalah segala hal yang mengatur perbuatan hidup manusia, baik yang bersifat ibadah (hubungan antara manusia dengan Allah) maupun muamalah (hubungan antar sesama manusia dan makhluk lain). Sedangkan akhlak adalah buah dari aqidah dan syariat yang dijalankan seorang hamba.
Jika diibaratkan sebuah pohon, maka akidah adalah akar yang menghujam. Semakin kokoh akar itu maka semakin kuat pohon itu meski angin berhembus sangat kuat. Keimanan yang kuat akan membuat manusia Mu’min eksis dan survive meski segala cobaan datang berhembus dengan sangat kuat. Sebaliknya, jika iman rapuh maka manusia akan bersifat labil, tidak memiliki prinsip yang kuat serta mudah diombang ambingkan oleh keadaan dan situasi.
Sedangkan syariat diibaratkan laksana batang pohon yang kuat. Tentu saja kekuatan batang ini dipengaruhi oleh akar yang kuat pula yakni berupa keimanan. Oleh karena itu, rasa malas dalam ibadah seringkali diakibatkan rasa keimanan yang lemah dan rapuh.
Sedangkan akhlak seperti buah dari akar yang kuat dan batang yang kokoh. Artinya seorang muslim yang keimanan dan keislamannya kokoh maka dia akan memiliki akhlah dan budi pekerti yang baik, laksana buah yang memberikan kenikmatan bagi orang lain.
Oleh karena itu, kita sering gagal dalam menangani dekadensi moral, seperti kenakalan remaja, pencurian, pelacuran, perjudian, korupsi dan penipuan karena kita hanya berkutat membahas masalah akibat, dan tidak menyentuh sebab. Penanggulangan penyakit aids gagal karena salah penanganan berupa penyebaran kondom, bahkan angka penderita HIV/AIDS setiap tahunnya terus meningkat. Ini disebabkan karena dalam penanganannya tidak komprehensif. Padahal sebab terbesar meningkatnya penyakit HIV/AIDS adalah perzinahan (gonta ganti pasangan), narkoba, dan hubungan sesama jenis. Ini semua adalah persoalan akhlak dan moral. Akhlak dan moral rapuh karena keislaman mereka rapuh, dan keislaman yang rapuh disebabkan keimanan yang lemah.
Oleh sebab itu, penanaman nilai-nilai keimanan dn keislaman perlu ditanamkan kepada masyarakat secara berkesinambungan, mulai usia sekolah hingga telah menjadi kakek-kakek. Karena inti dari agama adalah nasehat. Apa jadinya jika pelajaran agama di sekolah hanya sekedar pelengkap dan bukan menjadi primadona? Apalagi sampai di rumah para pelajar kita tidak tersentuh dengan pelajaran agama tambahan. Sebab, diakui oleh para pakar pendidikan bahwa sumber moral ada pada agama. Moral tanpa agama bagai jasad tanpa ruh.
Tiga pondasi agama di atas sebenarnya merupakan kesimpulan dari seluruh ajaran Islam. Oleh sebab itu, Nabi saw menyatakan dalam hadits itu “Dia Jibril mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian”. Mengapa ajaran Islam disimpulkan dalam tiga pondasi itu? Sebab semua persoalan agama ada pada tiga hal itu. Persoalan keyakinan seperti ajaran sesat, kemusyrikan, dan isme-isme lain telah dibahas dalam ilmu ushuluddin yang membahsa tentang akidah (keyakinan) atau ilmu tauhid (ilmu tentang keimanan kepada keesaan Allah SWT).
Sedangkan yang berkaitan dengan syariat yang mengatur perbuatan manusia (fi’il mukallaf) baik berupa ibadah maupun muamalah, seperti jual beli, pernikahan, hukum kenegaraan, pendidkan, politik, sosial dan lainnya, seluruhnya telah dibahas dalam ilmu fiqih.
Sedangkan yang berkaitan dengan moral dan perbuatan hati seperti sombong, hasud, bangga diri, ikhlas, riya, sifat tawadhu’, dermawan dan lain sebagainya telah dibahas dalam ilmu tasahawuf (ilmu suluk).
Dengan demikian hadits di atas juga menggambarkan betapa Islam itu bersifat komprehensif. Artinya Islam mengatur seluruh aspek dan sisi kehidupan, baik kehidapan yang berkaitan dengan individu, masyarakat, maupun internasional dan global.
Oleh sebab itu, ayat terakhir yang turun dan berkenaan dengan hukum dan aturan tertera dalam surat al-Maidah ayat 3 yang mengisyaratkan kesempurnaan ajaran Islam. Firman Allah SWT yang artinya “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. “
Wallahu’alam bish-showab.

Jumat, 23 Januari 2009

Kekuatan Hati (The Power Of Heart)

“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati” (HR: Bukhori Muslim)

Imam Al-Ghazli mengibaratkan hati itu seperti raja (kepala Negara), akal seperti menteri, dan anggota tubuh seperti tentara dan rakyat. Segala kebijakan dan keputusan berada di tangan raja. Jika keputusan itu benar dan baik, maka pengaruh pada rakyatpun akan baik. Namun jika kebijakan itu buruk dan merusak, maka rakyat pun akan mendapat akibat negatif dari kebijakan itu. Meskipun keputusan ada di tangan raja (presiden), namun raja pun banyak dipengaruhi oleh para pembantunya atau para menteri. Jika masukan dari para menteri adalah masukan-masukan yang baik dan bagus, maka raja pun akan mengeluarkan kebijakan yang baik dan bagus pula. Sebaliknya jika para menteri memberikan masukan yang salah pada raja, maka raja pun akan mengeluarkan kebijakan yang salah.
Demikian pula hati. Jika ia mendapat masukan dari akal sesuatu yang tidak baik, maka hati akan mengeluarkan kebijakan yang tidak baik. Kemudian akibatnya akan berpengaruh kepada seluruh anggota tubuh. Oleh karena itu, hati yang kotor tidak bisa terjadi dengan sendirinya jika asupan-asupan yang masuk adalah sesuatu yang negatif.
Seseorang yang selalu mendapat informasi ajaran-ajaran tidak baik, atau menimba ilmu sesat, seperti paham kemusyrikan, liberalisme, pluraisme dan ekstrimisme, maka akan membuat hati pun terpengaruh dengan asupan informasi dan ajaran yang tidak baik itu. Kemudian hati pun memerintah dan mengeluarkan kebijakan, kemudian keluarlah sikap-sikap yang tidak Islami dan tidak sejalan dengan ajaran Allah SWT yang sesungguhnya. Bahkan lidah akan mengeluarkan statemen-statemen yang merugikan Islam dan umat Islam, karena hati telah dikotori oleh paham-paham yang diterimanya.
Sebaliknya, jika hati menerima asupan-asupan yang baik, maka hati akan terasa bersih, kemudian mengeluarkan kebijakan yang baik, maka anggota tubuh pun akan melahirkan sikap-sikap yang baik pula.
Selain itu, hati yang bersih akan melahirkan sikap-sikap terpuji. Seperti sikap bersyukur, qona’ah, ridho, ikhlas, saling menghormati, berbuat baik kepada sesama dan sikap terpuji lainnya. Sikap-sikap tersebut tentu saja akan menyehatkan tubuh dan fisik. Sebab kesehatan tubuh banyak dipengaruhi oleh sikap-sikap positif. Sebagai contoh sikap bersyukur akan membuat seseorang selalu bahagia. Demikian juga sikap ikhlas, akan menghindarkan diri dari sikap kecewa yang akan membuat batin diri tidak tentram. Jika perasaan batin yang tidak tenteram terus berlanjut, maka akan mempengaruhi kesehatan tubuh.
Sebaliknya, hati yang kotor akan melahirkan sikap-sikap tercela. Seperti perasaan tidak pernah puas atau serakah, berburuk sangka, iri dan dengki, marah, serta sifat-sifat negatif lainnya. Sikap-sikap itu tentu saja mempengaruhi kesehatan tubuh dan jiwa.
Oleh sebab itu, hati harus selalu diberi asupan-asupan positif, agar hati itu bersih, sehat dan selalu melahirkan energi positif. Salah satu cara agar hati selalu tenang dan bersih adalah dengan memperbanyak zikir kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Ketuahilah, hanya dengan mengingat Allah, hati-hati akan tenteram.” (QS.Al-Ra’d: 26). Mengingat Allah dalam ayat di atas bukan hanya dengan berzikir, akan tetapi ingat pada Allah dalam setiap keadaan. Dengan mengingat kepada Allah maka diri akan terhindar dari pebuatan negatif.
Kedua, agar hati mendapat asupan positif, maka hendaknya diri bergaul dengan orang-orang baik, dan mengikuti ajaran Nabi. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan Kami jadikan dalam hati-hati orang-orang yang mengikutinya (nabi) rasa kasih sayang dan rahmat .” (QS.Al-Hadid: 27). Bergaul dengan orang-orang sholeh (baik) akan menjadikan hati bersih. Sebab sahabat yang baik akan mendukung jika diri berbuat baik, dan akan meluruskan jika diri berbuat keburukan.
Ketiga, kemauan kita harus disesuaikan dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Bukan sebaliknya, aturan Allah dan Rasul-Nya disesuaikan dengan kemauan hawa nafsu kita. Allah SWT berfirman yang artinya; “Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurot: 7). Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati jika mengikuti ajaran Rasulullah saw.
Hati yang bersih akan melahirkan sikap-sikap yang baik dan positif, juga dapat menjadikan tubuh kita sehat wal afiat. Bahkan di hari kiamat nanti, hanya manusia yang berhati bersihlah yang akan selamat. Firman Allah SWT yang artinya: “(yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).
Denga demikian, hati merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk karakter, sikap dan kesehatan seseorang. Banyak orang mempunyai karakter buruk karena tidak sehat hatinya, dan banyak orang tubuhnya sakit karena hatinya yang kotor. Bahkan karena begitu pentingnya hati, Rasulullah pernah menjelaskan bahwa Allah SWT tidak memandang poster tubuh dan pakaian yang kita kenakan, akan tetapi Allah hanya melihat hati dan amal kita. Sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa tubuh dan pakaianmu, akan tetapi Dia memandang kepada hati dan amalmu.” (HR: Muslim). Wallahu’alam. )I(

Muhammad Jamhuri

Senin, 12 Januari 2009

Penjelasan Tentang Qunut Nazilah (Untuk Palestina)


BAYAN
DEWAN SYARIAH PUSAT PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
NOMOR: 25/B/K/DSP-PKS/1430
TENTANG: SERUAN QUNUT NAZILAH

Sampai saat ini bangsa Palestina menghadapi pembantaian secara biadab oleh zionis Israel tanpa henti. Ribuan korban berjatuhan, baik anak-anak, wanita, orang tua dan penduduk sipil lainnya. Pembantaian dan kezhaliman di tengah diam dan membisunya para penguasa dunia Islam, khususnya dunia Arab. Dunia seluruhnya menyaksikan kebiadaban dan kezhaliman Zionis Israel, tetapi penjajah itu tidak bergeming dan tidak malu terus-menerus membantai umat Islam di Palestina.
Dalam suasana seperti ini ada suatu senjata yang sangat mudah tapi ampuh untuk digunakan umat Islam. Ialah berdo’a, beristighfar dan mendekatkan diri kepada Allah. Di antara bentuk do’a yang disunnahkan adalah melakukan Qunut Nazilah dan memperbanyak istighfar.

Tata Cara Qunut Nazilah
Qunut Nazilah adalah pembacaan do’a yang dilakukan umat Islam untuk menolak kezhaliman musuh-musuh Islam dan menghindarkan diri dari berbagai fitnah serta musibah. Do’a Qunut diucapkan pada saat sholat fardhu, yaitu ketika I’tidal setelah ruku’ pada rakaat terakhir. Dan Rasulullah SAW mencontohkan kepada umatnya bagaimana melakukan Qunut Nazilah. Ketika sahabat Nabi SAW yang diutus untuk mengajarkan Islam dan Alqur'an dikhianati dan dibantai oleh kaum kafir pada peristiwa yang dikenal sebagai Ba'tsul Raji' (10 sahabat) dan Bi'ru Ma'unah (70 sahabat). Rasulullah SAW melakukan Qunut Nazilah pada setiap shalat wajib sebagaimana disebutkan dalam hadits:

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ الْعَرَبِ

Artinya: “Rasulullah saw melakukan qunut (Nazilah) selama satu bulan setelah ruku' mendo'akan untuk kebinasaan suatu wilayah dari bangsa Arab" (Mutafaqun alaihi)

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

Artinya: " Rasulullah saw melakukan qunut(Nazilah) satu bulan berturut-turut dalam shalat Dhuhur, Asar, Maghrib, Isya dan Shubuh, tatkala berkata sami'allahu liman hamidah pada rakaat terakhir. Mendo'akan untuk kebinasaan perkampungan Bani Sulaim, kabilah Ri'l, Dzikwan dan 'Ushiyyah. Sahabat di belakangnya mengamini" (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Do’a Qunut Nazilah tetap dibaca jahar baik pada sholat jahriyah maupun sirriyah. Dan bagi imam dibolehkan membaca do’a dengan teks.

Contoh Do’a Qunut

اللّهُمَََ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَادَيْتَ وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافيْتَ وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَاِركْ لَنَا فِيْمَا أعْطَيْتَ َوقِنَا بِرَحْمَتِكَ شَرَّ مَا قَضَيْتَ فاَنِكَ تَقضِي وَلا يُقضَى عَلَيْكَ وَاِنَهُ لا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلا يَعِزُّ َمنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
اَللَّهُمَّ اِنَّا نَستَعِيْنُكَ وَنَسْتَغفِرُكَ وَلا نَكْفُرُكَ, وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ, الَلَّهُمَّ اِيَاكَ نَعْبُدُ, وَلَكَ نُصَلِّي وَ نَسْجُدُ, وَاِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحفِدُ, نَرْجُو عَذابَكَ وَ نَخْشَى عَذابَكَ, اِنَّ عَذابَكَ الْجِدُّ ِبالْكُفَّارِ مُلحِقٌ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِى فلِسْطِيْن, اللَّهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِى فلِسْطِيْن, اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا, اللَّهُمَّ وَحِّدْ كَلِمَتَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَأنِْزلْ فِي ُقلُوْبِهِمُ السَّكِيْنَةَ, اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلِيًّا وَنَصِيْرًا, اللَّهُمَّ اِنَّهُمْ مَظلُومُونَ فَانْتَصِرْ لَهُمْ, اِنَّهُمْ ُفقرَاءُ فَأغنِهِمْ, اللَّهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَاهُمْ وَاشْفِ جُرْحَاهُمْ وَتقبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ, اللَّهُمَّ أيِّدْهُمْ ِبتَأييْدِكَ وَاحْفَظهُمْ ِبحِفظِكَ يَا قَويُّ يَا عَزِيْزُ.
اللَّهُمَّ مُنْزلَ الْكِتَابِ, مُجْرِيَ السَّحَابِ, سَريْعَ الْحِسَابِ, هاَزمَ الأحْزَابِ اِهْزِمِ الْيَهُودَ اْلمُعْتَدِيْنَ وَالصَّهَايَنَةَ الاِسْرَائِلِيِّيْنَ الْغاَصِبِيْنَ وَزَلْزِلْهُمْ وَعَذِّبْهُمْ عَذابًا شَدِيْدًا. اِنَّهُمْ قَدْ بَغوْا وَسَعَوْا فِى الارْض فسَادًا. اللهُمَّ فرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَأنْزِلْ فى قلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. وَاجْعِلْ بَأسَهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدًا, وَ يَا مُنْتَقِمْ مِنَ الْمُجْرِمِيْنَ ِانْتَفِمْ مِنْهُمْ وَ أنْزلْ عَلَيْهِمْ بَأسَكَ الَّذِي لا يُرَدُّ عَنِ القوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ ادْفًعْ عَنَّا الْغلاءَ وَالْبَلاءَ وَالِّربَا وَالِزّنَا وَالزَّلازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطنَ عَنْ بَلَدِنَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلادِ الْمُسْلِمْينَ عَامَّة يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
وَصَلَّى الله عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

"Ya Allah berilah keteguhan pada kami bersama orang yang mendapat hidayah, berikanlah pada kami afiyah( kesehatan dan keselamatan) bersama orang yang engkau beri afiyah,, jadikanlah pada kami pelindung bersama orang yang Engkau lindungi, berkanlah kepada kami keberkahan dari apa yang Engkau berikan kepada kami, selamatkanlah kami dari keburukan yang Engkau telah tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan bukan yang diputuskan, sesungguhnya Engkau tidak menghinakan orang yang berlindung pada-Mu, Maha Suci Engkau dan Maha Agung”.
Ya Allah kami memohon pertolongan kepada-Mu, beristighfar pada-Mu dan tidak kufur pada-Mu, kami beriman pada-Mu dan berlepas dari orang yang bermaksiat kepada-Mu. Ya Allah hanya pada-Mu lah kami beribadah, shalat dan sujud, kepada Engkau kami beramal dan berusaha, kami mengharap rahmat-Mu dan takut akan adzab-Mu. Sesungguhnya adzab-Mu pasti sampai pada orang kafir. Ya Allah tolonglah saudara kami yang terdhalimi di Palestina, Ya Allah tolonglah saudara kami mujahidin di Palestina Ya Allah tolonglah mereka dengan pertolongan yang kuat, satukanlah kalimat mereka, tepatkanlah tembakan mereka, turunkanlah
kepada mereka sakinah, jadilah Engkau penolong dan pelindung mereka, Ya Allah mereka terdhalimi maka belalah mereka, mereka faqir berilah mereka kecukupan , rahmatilah orang yang meninggal di antara mereka, sembuhkanlah yang luka diantara mereka, terimalah yang mati syahid di antara mereka, ya Allah dukunglah mereka dengan dukunganMu, jagalah mereka dengan penjagaanMu, Wahai Dzat Yang Maha Kuat Maha Perkasa. Ya Allah Dzat yang menurunkan kitab, menjalankan awan, Yang Maha Cepat perhitungannya, Yang mengalahkan pasukan sekutu, kalahkan Yahudi dan goncangkanlah mereka dengan goncangan yang dahsyat. Ya Allah mereka telah kurang ajar dan berbuat kerusakan di bumi, ya Allah berantakanlah kumpulan mereka cerai beraikan mereka, lemparkan di hati mereka rasa takut. Ya Allah jadikanlah perselisihan yang sengit antar mereka, wahai Dzat Yang Maha membalas, balaslah kaum durjana, dan turunkan atas mereka siksa-Mu yang tidak bisa dielakkan oleh kaum yang zhalim."


Jakarta, 10 Muharram 1430 H
8 Januari 2009 M
DEWAN SYARI’AH PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
KH. DR. SURAHMAN HIDAYAT, MA
KETUA