Rabu, 23 September 2026

Kepemimpinan Dakwah

Prophetic Leadership: Menjadi Syaikh, Ab, dan Qā’id dalam Mewariskan Ruh Perjuangan


Oleh:  KH. Wildan Hakim, Lc.MA.

Ada nikmat Allah yang semakin lama kita jalani justru semakin membuat hati bergetar: ketika Allah mempertemukan hidup kita dengan manusia-manusia yang bersama mereka kita menapaki jalan dakwah.

Mula-mula kita mungkin merasa hanya sedang berbagi pekerjaan. Menyusun agenda, menjalankan program, mengisi struktur, menyelesaikan amanah, berpindah dari satu medan ke medan berikutnya.

Tetapi perjalanan yang panjang mengajari kita bahwa yang Allah titipkan kepada seorang pemimpin dakwah sesungguhnya bukan hanya pekerjaan.

Allah menitipkan manusia.

Ada hati yang harus dijaga.

Ada iman yang harus dikuatkan.

Ada jiwa yang harus ditazkiyah.

Ada fikrah yang harus diluruskan dan diperdalam.

Ada akhlak yang harus ditumbuhkan.

Ada ukhuwah yang harus dirawat.

Ada potensi yang harus ditemukan.

Ada kelemahan yang harus dibimbing.

Ada kemampuan yang harus dilatih.

Ada keberanian yang harus dibangkitkan.

Dan ada generasi yang perlahan harus disiapkan untuk memikul amanah ketika tangan kita sudah tidak lagi menggenggamnya.

Karena itu, semakin besar amanah qiyādah, seharusnya semakin dalam rasa takut kita kepada Allah.

Bukan takut kehilangan kedudukan.

Tetapi takut ada manusia yang Allah titipkan kepada kita lalu tidak bertumbuh karena kepemimpinan kita.

Takut ada kader yang bertahun-tahun berada dalam struktur, tetapi ruhnya tidak semakin hidup.

Takut ada orang yang semakin sibuk dalam amal jama‘i, tetapi semakin jauh dari munajat kepada Allah.

Takut ada kader yang semakin tinggi jenjangnya, tetapi tidak semakin matang fikrahnya.

Takut ada orang yang semakin banyak menerima taklīf, tetapi semakin sedikit merasakan lezatnya ikhlas.

Dan takut kita berhasil membangun organisasi, tetapi gagal membangun rijāl.

Di situlah qiyādah tidak lagi sekadar persoalan administrasi.

Ia menjadi amanah tarbiyah di hadapan Allah.

Sebab manusia yang berada dalam barisan ini bukan milik kita.

Mereka bukan milik struktur.

Bahkan mereka bukan milik jamaah.

Mereka adalah hamba-hamba Allah.

Jamaah hanyalah jalan tempat kita saling menolong untuk semakin dekat kepada-Nya, semakin baik dalam mengemban agama-Nya, dan semakin kuat memikul risalah-Nya.

Maka seorang qā’id yang masih memiliki hati akan sesekali keluar dari hiruk-pikuk rapat, target, evaluasi, dan keputusan; kemudian masuk ke ruang sunyi muhasabahnya dan bertanya:

“Ya Allah, apa yang telah terjadi pada manusia-manusia yang Engkau titipkan kepadaku?”

Apakah setelah berjalan bersama kita mereka semakin mengenal Allah?

Apakah shalatnya semakin hidup?

Apakah Qur’annya semakin dekat?

Apakah niatnya semakin bersih?

Apakah egonya semakin mengecil?

Apakah ukhuwahnya semakin tulus?

Apakah fikrahnya semakin matang?

Apakah tsaqafahnya semakin luas?

Apakah iltizāmnya semakin kokoh?

Apakah ia semakin mampu berpikir, memutuskan, menyelesaikan persoalan, dan memikul risiko?

Apakah ia semakin siap mengorbankan kepentingan dirinya untuk kepentingan risalah?

Dan pertanyaan yang paling jauh:

Jika suatu hari kita tidak lagi berada di samping mereka, apakah mereka tetap mengenal Allah, memahami manhaj, mencintai dakwah, menjaga jamaah, dan mampu meneruskan perjalanan?

Di sinilah kita perlu kembali kepada mata air qiyādah.

Bukan sekadar teori kepemimpinan.

Bukan hanya ilmu manajemen.

Tetapi kepada القِيَادَةُ النَّبَوِيَّةُ — al-qiyādah an-nabawiyyah, kepemimpinan nubuwwah yang dicontohkan Rasulullah .

Allah berfirman:

«لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا»

“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”

(QS Al-Aḥzāb: 21)

Rasulullah tidak hanya mengubah keadaan.

Beliau membentuk manusia yang sanggup mengubah keadaan.

Beliau tidak hanya menyampaikan risalah.

Beliau membentuk manusia-manusia yang kemudian memikul risalah.

Beliau tidak hanya mengumpulkan manusia.

Beliau menghimpun hati mereka di atas iman.

Beliau tidak sekadar memberikan tugas.

Beliau menanamkan makna sehingga para sahabat memahami untuk siapa mereka bekerja, mengapa mereka berjuang, apa yang harus mereka jaga, dan kepada siapa seluruh perjalanan akan kembali.

Di tangan beliau , tarbiyah tidak berhenti menjadi majelis ilmu.

Tarbiyah bergerak menjadi iman.

Iman bergerak menjadi akhlak.

Akhlak bergerak menjadi ukhuwah.

Ukhuwah bergerak menjadi iltizām.

Iltizām bergerak menjadi amal jama‘i.

Amal jama‘i bergerak menjadi harakah.

Dan harakah bergerak membawa ishlāḥ dalam kehidupan.

Inilah salah satu ruh kepemimpinan nubuwwah:

membentuk manusia dari dalam, kemudian menggerakkannya keluar untuk membawa kebaikan kepada kehidupan.

Allah berfirman:

«هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ»

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.”

(QS Al-Jumu‘ah: 2)

Perhatikan manhaj Rabbani ini.

يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ

Wahyu memasuki kesadaran.

وَيُزَكِّيهِمْ

Jiwa dibersihkan.

وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

Akal dibangun dengan Kitab dan hikmah.

Maka pembentukan rijāl dimulai dari dalam.

Sebelum mereka menaklukkan negeri, mereka belajar menaklukkan hawa nafsunya.

Sebelum memikul amanah umat, mereka ditempa untuk memikul amanah iman.

Sebelum berhadapan dengan dunia, hati mereka diikat kepada akhirat.

Sebelum kekuasaan datang, ruh mereka dipersiapkan agar ketika kekuasaan berada di tangan, dunia tetap berada di tangan dan tidak masuk menguasai hati.

Makkah menjadi madrasah pembentukan rijāl.

Madinah menjadi medan tempat rijāl itu memikul risālah.

Maka tarbiyah bukan sekadar satu kegiatan di antara sekian banyak kegiatan jamaah.

Tarbiyah adalah proses membentuk manusia yang sanggup memikul beratnya dakwah.

Dan tanzhim bukan sekadar kotak-kotak struktur.

Tanzhim adalah wadah tempat manusia belajar berjamaah, belajar taat dalam ma‘ruf, belajar bermusyawarah, belajar memikul taklīf, belajar menyelesaikan khilaf, belajar mendahulukan kepentingan bersama, dan belajar mempertanggungjawabkan amanah di hadapan Allah.

Karena itu struktur seharusnya mendidik manusia, bukan sekadar menggunakan manusia.

Taklīf seharusnya mematangkan kader, bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan.

Syūrā seharusnya menumbuhkan kedewasaan, bukan sekadar mengesahkan keputusan.

Evaluasi seharusnya membuka pintu ishlāḥ, bukan sekadar mencari siapa yang salah.

Dan ketaatan seharusnya lahir dari iman, fahm, tsiqah, dan kesadaran terhadap risalah, bukan dari ketakutan kehilangan tempat dalam struktur.

Jika tarbiyah tidak masuk ke dalam tanzhim, organisasi mungkin rapi tetapi jiwa-jiwanya kering.

Jika tazkiyah tidak masuk ke dalam qiyādah, amanah perlahan dapat berubah menjadi kebanggaan.

Jika ukhuwah tidak hidup dalam struktur, hubungan berubah menjadi birokrasi.

Jika fikrah tidak membimbing harakah, gerakan mudah menjadi reaktif.

Dan jika hubungan dengan Allah melemah, seluruh kesibukan itu dapat terus bergerak—

sementara ruh dakwah perlahan meninggalkannya.

Maka jangan ukur kesehatan jamaah hanya dari banyaknya aktivitas.

Tanyakan pula:

Apakah aktivitas itu melahirkan manusia yang semakin baik?

Jangan hanya menghitung jumlah kader.

Tanyakan:

Berapa banyak yang sedang tumbuh menjadi rijāl?

Jangan hanya bertanya apakah struktur terisi.

Tanyakan:

Apakah orang yang mengisinya sedang bertambah matang karena amanah itu?

Jangan sampai kita memiliki banyak manusia yang menunggu:

“Apa instruksi berikutnya?”

Tetapi sedikit yang telah matang untuk bertanya:

“Apa yang dibutuhkan dakwah, dan bagian mana yang harus saya pikul karena Allah?”

Sebab dakwah tidak hanya membutuhkan tangan.

Ia membutuhkan hati yang hidup, fikrah yang jernih, ruh yang bersih, tsaqafah yang luas, akhlak yang matang, iltizām yang kokoh, pundak yang kuat, dan kaki yang siap menempuh ṭūluth-tharīq—panjangnya perjalanan.

---

Allah kemudian memperlihatkan keindahan kepemimpinan Rasulullah dalam menghadapi manusia:

«فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ»

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

(QS Āli ‘Imrān: 159)

Ayat ini berada dalam rangkaian peristiwa Uhud.

Ada kesalahan.

Ada ketidakdisiplinan.

Ada luka.

Ada kehilangan.

Tetapi justru di tengah keadaan itulah Al-Qur’an membuka kepada kita rahasia bagaimana manusia dibina setelah melakukan kesalahan.

فَاعْفُ عَنْهُمْ

Maafkan mereka.

Ada ruang untuk kembali.

وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ

Mohonkan ampun bagi mereka.

Betapa indahnya: kader yang melakukan kesalahan tidak hanya dibicarakan dalam evaluasi—

namanya dibawa seorang pemimpin ke hadapan Allah.

Mungkin inilah yang terkadang hilang dari kepemimpinan kita.

Kita banyak membicarakan kelemahan kader dalam rapat.

Tetapi sedikit membicarakannya kepada Allah dalam tahajud.

Kita cepat membuat catatan evaluasi.

Tetapi lambat membuat istighfar dan doa untuk mereka.

Padahal qiyādah yang tarbawi tidak hanya bertanya:

“Bagaimana memperbaiki orang ini?”

Ia juga berdoa:

“Ya Allah, bantulah aku membinanya dan bantulah ia memperbaiki dirinya.”

Kemudian:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

Bermusyawarahlah dengan mereka.

Kesalahan tidak mematikan masa depan.

Kekeliruan tidak menutup pintu partisipasi.

Mereka tetap diajak berpikir.

Tetap dihargai.

Tetap diberi ruang bertumbuh.

Lalu:

فَإِذَا عَزَمْتَ

Ada ‘azm—keteguhan mengambil keputusan.

Kemudian:

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

Ada tawakal.

Maka kepemimpinan nubuwwah menghimpun dalam satu jiwa:

«رَحْمَةً تُقَرِّبُ الْقُلُوبَ، وَحِكْمَةً تُحْسِنُ التَّوْجِيهَ، وَحَزْمًا يَحْفَظُ الرِّسَالَةَ، وَتَوَكُّلًا يَرُدُّ الْأَمْرَ كُلَّهُ إِلَى اللَّهِ

Rahmah yang mendekatkan hati, hikmah yang menuntun pengarahan, keteguhan yang menjaga risalah, dan tawakal yang mengembalikan seluruh urusan kepada Allah.»

Kelembutan Rasulullah memancarkan kewibawaan.

Keteguhan beliau berjalin dengan kasih sayang.

Musyawarah beliau mematangkan partisipasi dan keputusan.

Dan seluruh ikhtiar kepemimpinan beliau bermuara pada tawakal kepada Allah.

Di bawah naungan seperti inilah manusia bertumbuh.

---

Dari sini kita dapat membaca tiga dimensi yang harus menyatu dalam kepemimpinan dakwah:

الشَّيْخُ — Asy-Syaikh.

الأَبُ — Al-Ab.

القَائِدُ — Al-Qā’id.

Ini bukan tiga jabatan.

Bukan pula pembagian kerja.

Ia adalah tiga sisi dari satu amanah:

«يُرَبِّي كَالشَّيْخِ، وَيَرْعَى كَالأَبِ، وَيَقُودُ كَالْقَائِدِ

Membina sebagai Syaikh, mengayomi sebagai Ayah, dan memimpin sebagai Qā’id.»

Ketiganya bertemu pada satu objek:

الإنسان — manusia.

Syaikh membangun isi manusia.

Ab menjaga hati manusia.

Qā’id mengarahkan potensi manusia.

---

Sebagai Syaikh, seorang qiyādah tidak puas ketika kader hanya mengetahui apa yang harus dilakukan.

Ia membimbingnya memahami mengapa.

Mengapa kita berada di jalan ini?

Untuk siapa amal ini?

Apa ghāyah kita?

Apa tsawābit yang tidak boleh ditukar dengan keuntungan sesaat?

Apa yang boleh berubah dalam wasā’il, dan apa yang harus tetap hidup dalam qiyam dan manhaj?

Sebab kader yang hanya dibesarkan dengan instruksi akan kebingungan ketika instruksi tidak datang.

Tetapi kader yang dibangun dengan iman, fikrah, manhaj, tsaqafah, dan bashīrah akan mampu membaca keadaan sambil tetap menjaga arah.

Maka:

تَعْلِيمٌ → تَزْكِيَةٌ → تَرْبِيَةٌ → تَوْجِيهٌ → قُدْوَةٌ → تَكْلِيفٌ

Pengajaran → penyucian → pembinaan → pengarahan → keteladanan → pemberian amanah.

Tarbiyah yang tidak berujung pada taklīf dapat membuat seseorang banyak mengetahui tetapi sedikit memikul.

Taklīf tanpa tarbiyah dapat membuat seseorang banyak memikul tetapi kehilangan kedalaman.

Keduanya harus bertemu.

Rasulullah membina manusia lalu memberikan medan.

Mus‘ab bin ‘Umair diutus ke Yatsrib.

Mu‘ādz bin Jabal diutus ke Yaman.

Ilmu bertemu amal.

Tarbiyah bertemu medan.

Kepercayaan melahirkan kematangan.

Maka jangan takut melihat binaan kita tumbuh.

Jangan gelisah ketika mereka lebih cerdas.

Jangan merasa berkurang ketika mereka lebih menonjol.

Jangan merasa kehilangan tempat ketika suatu hari amanah mereka melampaui amanah kita.

Seorang murabbi seharusnya justru menangis bahagia:

“Alhamdulillah, dakwah tidak berhenti pada diriku.”

Sebab puncak keberhasilan tarbiyah bukan ketika binaan kita terus membutuhkan kita.

Tetapi ketika mereka mampu berdiri—

kemudian membina generasi setelahnya.

---

Namun manusia tidak hanya mempunyai akal dan pundak.

Ia mempunyai hati.

Maka qiyādah juga harus mempunyai jiwa seorang Ab.

Allah berfirman tentang Rasulullah :

«لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ»

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri; berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan kebaikan bagi kalian, dan terhadap orang-orang beriman beliau sangat penyantun lagi penyayang.”

(QS At-Taubah: 128)

عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ

Berat bagi beliau penderitaan mereka.

Inilah ruh ri‘āyah.

Kader bukan angka.

Bukan jenjang.

Bukan suara elektoral.

Bukan tenaga yang sewaktu-waktu dipanggil ketika dibutuhkan.

Ia adalah manusia.

Ia mempunyai keluarga.

Kelelahan.

Kekecewaan.

Harapan.

Kelemahan.

Dan mungkin luka yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Maka qiyādah jangan hanya mengenal kinerja kader.

Kenalilah juga manusianya.

Jangan hanya bertanya:

“Mengapa tugasnya belum selesai?”

Kadang bertanyalah:

“Apa yang sedang terjadi pada saudara kita?”

Kader boleh salah, tetapi jangan kehilangan jalan pulang.

Kader boleh lemah, tetapi jangan merasa ditinggalkan.

Tegurlah agar ia kembali.

Bimbinglah agar ia tumbuh.

Kuatkanlah agar ia bangkit.

Dan setelah bangkit—

kembalikan ia ke medan.

Jangan sampai seorang kader merasakan kehadiran jamaah hanya ketika jamaah membutuhkan tenaganya.

Ketika ada target, ia dicari.

Ketika ada agenda, ia dihubungi.

Ketika ada tugas, ia diingat.

Tetapi ketika sakit, jatuh, lemah, atau sedang tidak produktif—

ia merasa sendirian.

Jika itu terjadi, ukhuwah perlahan kehilangan ruhnya dan berubah menjadi transaksi.

Padahal dalam ṭūluth-tharīq, salah satu nikmat terbesar adalah ketika seorang kader dapat berkata:

“Jalannya memang panjang, bebannya memang berat, tetapi aku tidak berjalan sendirian.”

Itulah kasbul-qulūb.

Bukan teknik mengambil hati.

Tetapi buah dari hati yang benar-benar peduli karena Allah.

---

Namun dakwah tidak berhenti pada pembinaan pribadi dan kehangatan ukhuwah.

Dakwah membawa risalah perubahan.

Ada umat yang harus dilayani.

Ada kezaliman yang harus dikurangi.

Ada kebaikan yang harus diperluas.

Ada zaman yang harus dibaca.

Ada peluang yang harus dimanfaatkan.

Ada ancaman yang harus diantisipasi.

Maka qiyādah juga harus menjadi Qā’id.

Ia harus mampu melihat lebih jauh daripada kesibukan hari ini.

Membaca realitas.

Menentukan prioritas.

Menyusun strategi.

Mengambil keputusan.

Mengelola ikhtilāf.

Mendistribusikan amanah.

Menghubungkan satu potensi dengan potensi lainnya.

Dan menyiapkan lapis-lapis kepemimpinan agar jamaah tidak berdiri di atas satu orang.

رُؤْيَةٌ → إِسْتِرَاتِيجِيَّةٌ → رِجَالٌ → تَنْظِيمٌ → حَرَكَةٌ → أَثَرٌ

Visi → Strategi → Rijāl → Tanzhim → Gerakan → Dampak.

Di sinilah tanzhim menemukan makna tarbawinya.

Struktur adalah tempat amanah didistribusikan.

Syūrā adalah tempat akal jama‘i dimatangkan.

Taklīf adalah medan pembentukan kapasitas.

Taat dalam ma‘ruf adalah latihan menundukkan ego kepada kemaslahatan bersama.

Evaluasi adalah pintu muhasabah dan ishlāḥ.

Pergantian qiyādah adalah ujian apakah risalah telah lebih besar daripada figur.

Dan regenerasi adalah bukti bahwa seorang pemimpin benar-benar percaya kepada hasil tarbiyahnya sendiri.

Karena itu generasi penerus jangan hanya disebut sebagai penerus.

Berilah mereka kesempatan meneruskan.

Jangan hanya katakan:

“Kalian adalah pemimpin masa depan.”

Berikan sebagian masa kini kepada mereka.

Berikan amanah.

Berikan ruang.

Biarkan mencoba.

Dampingi.

Jika keliru, koreksi.

Jika jatuh, bangunkan.

Jika berhasil, syukuri.

Kemudian berikan amanah yang lebih besar.

Rijāl tidak lahir dari seminar kepemimpinan.

Rijāl lahir dari:

تَرْبِيَةٍ، وَثِقَةٍ، وَتَكْلِيفٍ، وَتَجْرِبَةٍ، وَمُحَاسَبَةٍ، وَتَصْحِيحٍ، ثُمَّ ثِقَةٍ مِنْ جَدِيدٍ

Tarbiyah, kepercayaan, pemberian amanah, pengalaman, evaluasi, perbaikan—kemudian kepercayaan kembali.

Rasulullah memberi Usāmah bin Zayd amanah memimpin pasukan pada usia muda, sementara dalam pasukan itu terdapat para sahabat yang lebih tua dan berpengalaman.

Betapa kuat pesan tarbawinya:

jika kita percaya kepada tarbiyah, kita harus berani percaya kepada manusia yang telah kita tarbiyah.

---

Maka ketika seorang kader melakukan kesalahan, jangan hanya hadir sebagai atasan.

Hadirkan ketiga jiwa itu.

Syaikh bertanya:

“Apa yang belum ia pahami?”

Ab bertanya:

“Apa yang sedang terjadi dalam hatinya?”

Qā’id bertanya:

“Apa yang harus diperbaiki agar dirinya tumbuh dan amanah jamaah tetap terjaga?”

Lalu ajari tanpa merendahkan.

Ayomi tanpa memanjakan.

Koreksi tanpa menghancurkan.

Disiplinkan dengan menjaga martabat.

Percayai sambil membina.

Dan setelah ia tumbuh—

berikan amanah kembali.

Syaikh memberikan kedalaman.

Ab memberikan kehangatan.

Qā’id memberikan arah dan daya gerak.

Tiga-tiganya harus bertemu.

Karena kita tidak ingin melahirkan orang saleh yang tidak mampu mengubah realitas.

Tidak ingin melahirkan aktivis yang sibuk mengubah realitas tetapi kehilangan dirinya sendiri.

Tidak ingin melahirkan organisator yang mahir mengelola struktur tetapi kehilangan kehangatan ukhuwah.

Dan tidak ingin melahirkan manusia yang sangat mencintai jamaah tetapi lupa bahwa tujuan tertinggi jamaah adalah mengantarkan manusia kepada Allah dan menegakkan nilai-nilai risalah-Nya dalam kehidupan.

---

Tetapi ada satu akar yang harus berada di bawah semuanya:

العُبُودِيَّةُ لِلَّهِ

Penghambaan kepada Allah

Rasulullah adalah pemimpin umat, tetapi Allah memuliakan beliau dengan sebutan hamba-Nya:

«سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ»

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

(QS Al-Isrā’: 1)

Maka:

العُبُودِيَّةُ قَبْلَ القِيَادَةِ

Penghambaan sebelum kepemimpinan.

Inilah jaanib ruhi dan tazkawi yang tidak boleh hilang dari qiyādah.

Sebab sebelum kita menjadi murabbi, kita adalah mutarabbi di hadapan Allah.

Sebelum menjadi muwajjih, kita sendiri membutuhkan hidayah-Nya.

Sebelum menjadi qā’id, kita adalah hamba.

Dan sebelum menghitung kekurangan kader, kita mempunyai dosa-dosa yang hanya Allah tutupi.

Maka semakin tinggi seseorang dalam struktur dakwah, seharusnya semakin rendah ia bersujud.

Semakin banyak manusia mendengar perkataannya, semakin banyak ia perlu mendengar suara muhasabah dalam dirinya.

Semakin besar kekuasaan berada di tangannya, semakin besar kebutuhannya kepada istighfar.

Semakin banyak orang memanggilnya “ustadz”, “murabbi”, atau “qiyādah”, semakin sering ia perlu berbisik kepada dirinya:

«أَنَا عَبْدٌ قَبْلَ أَنْ أَكُونَ قَائِدًا

“Aku adalah hamba sebelum aku menjadi pemimpin.”»

Karena ujian qiyādah tidak selalu datang dalam bentuk kegagalan.

Kadang ia datang dalam bentuk keberhasilan.

Nama semakin dikenal.

Pendapat semakin didengar.

Instruksi semakin ditaati.

Pintu-pintu dunia mulai terbuka.

Orang-orang mulai mendekat.

Dan perlahan seseorang dapat merasa bahwa dakwah membutuhkan dirinya—

hingga ia lupa bahwa sesungguhnya dialah yang membutuhkan dakwah agar tetap berada di jalan Allah.

Di situlah perbedaan antara:

خِدْمَةُ الدَّعْوَةِ

melayani dakwah

dan

اِسْتِخْدَامُ الدَّعْوَةِ

memanfaatkan dakwah.

Betapa tipis jaraknya di hadapan jiwa yang tidak terus ditazkiyah.

Maka jangan biarkan jabatan membuat sajadah semakin jauh.

Jangan biarkan rapat mengalahkan tilawah.

Jangan biarkan kesibukan mengurus manusia membuat kita kehilangan waktu berkhalwat dengan Rabb manusia.

Jangan sampai kita sangat pandai menunjukkan arah kepada jamaah—

tetapi hati kita sendiri kehilangan arah menuju Allah.

---

Kemudian tibalah hari ketika Rasulullah wafat.

Madinah terguncang.

Tetapi dari madrasah nubuwwah itu berdirilah Abū Bakr r.a. dan berkata:

«مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا ﷺ فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ»

“Barang siapa menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak mati.”

Diriwayatkan al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ-nya dalam kisah wafat Rasulullah .

Lalu beliau membaca QS Āli ‘Imrān ayat 144:

«وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ»

“Muhammad hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Renungkanlah buah tarbiyah itu.

Sang Murabbi telah pergi, tetapi murid-muridnya tidak kehilangan Allah.

Sang Qā’id telah wafat, tetapi umat tidak kehilangan risalah.

Rasulullah tidak lagi berada di tengah mereka, tetapi ruh yang beliau tanamkan hidup dalam diri mereka.

Inilah salah satu puncak keberhasilan kepemimpinan nubuwwah:

bukan membangun manusia yang bergantung kepada pemimpinnya,

tetapi membangun manusia yang terikat kepada Allah, memahami risalah, mencintai saudaranya, menjaga jamaah, dan mampu melanjutkan perjuangan ketika pemimpinnya telah pergi.

---

Saudaraku para pemikul amanah...

Kita pun akan pergi.

Entah karena amanah berganti.

Usia bertambah.

Kemampuan berkurang.

Atau karena Allah memanggil kita pulang.

Kursi akan ditempati orang lain.

Nama dalam struktur akan diganti.

Generasi akan datang silih berganti.

Dan itu semua adalah sunnatullah.

Yang perlu kita khawatirkan bukan ketika nama kita hilang dari struktur.

Yang perlu kita khawatirkan adalah ketika ruh dakwah ikut hilang bersama kita.

Jangan sampai generasi pertama menerima ruh dan fikrah.

Generasi kedua menerima fikrah dan manhaj.

Generasi ketiga hanya menerima struktur dan prosedur.

Lalu generasi sesudahnya tinggal mempertahankan nama, simbol, dan nostalgia.

Tidak.

Wariskan ruhnya.

Wariskan fikrahnya.

Wariskan manhajnya.

Wariskan adabnya.

Wariskan tsaqafahnya.

Wariskan ukhuwahnya.

Wariskan kompetensinya.

Wariskan keberaniannya.

Wariskan tradisi syūrānya.

Wariskan kemampuan beramal jama‘inya.

Wariskan kesediaannya berkorban.

Dan di atas semuanya—

wariskan hubungan yang hidup dengan Allah.

Sebab jika hubungan itu hilang, yang tersisa mungkin masih bernama jamaah—

tetapi ia kehilangan rahasia yang dahulu membuat manusia sanggup menangis dalam tahajud lalu berdiri kokoh di medan perjuangan.

---

Maka pemimpin dakwah hendaknya menjadi:

«رُوحًا جَدِيدًا يَسْرِي فِي جَسَدِ الدَّعْوَةِ

“Ruh baru yang mengalir dalam tubuh dakwah.”»

Bukan pusat kultus.

Bukan manusia yang membuat semua orang bergantung kepadanya.

Tetapi manusia yang kehadirannya menghidupkan manusia lain.

Sebagai Syaikh, ia membuat manusia memahami.

Sebagai Ab, ia membuat manusia merasa dicintai, dijaga, dan dikuatkan.

Sebagai Qā’id, ia membuat manusia bergerak, mengambil tanggung jawab, dan berani memikul amanah.

Dan sebagai ‘Abdullāh, ia mengajarkan melalui seluruh hidupnya bahwa ujung perjalanan ini bukan dirinya—

tetapi Allah.

Maka ‘ubūdiyah adalah akarnya.

Tazkiyah adalah penjaga kejernihan ruhnya.

Tarbiyah adalah jalan pembentukan manusianya.

Ukhuwah adalah ikatan hatinya.

Tanzhim adalah wadah penghimpunan dan pendayagunaan kekuatannya.

Harakah adalah geraknya dalam realitas.

Rijāl adalah buahnya.

Ishlāḥ adalah atsarnya.

Dan pewarisan risalah adalah keberlanjutannya.

Rasulullah bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin/penggembala dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Muttafaq ‘alaih, dari ‘Abdullāh bin ‘Umar r.a.

Maka mungkin kelak Allah tidak bertanya kepada kita berapa lama kita duduk dalam sebuah posisi.

Tetapi kita pasti akan ditanya tentang amanah.

Dan di situlah hati seorang qiyādah seharusnya bergetar:

Apa yang terjadi pada manusia-manusia yang dahulu Allah titipkan kepadaku?

Apakah mereka semakin dekat kepada Allah?

Semakin bersih hatinya?

Semakin matang fikrahnya?

Semakin kokoh iltizāmnya?

Semakin indah akhlaknya?

Semakin hangat ukhuwahnya?

Semakin luas tsaqafahnya?

Semakin matang kemampuan tanzhimnya?

Semakin tinggi himmahnya?

Semakin siap berkorban?

Dan semakin mampu memikul risalah?

Maka peganglah tiga amanah ini:

ASY-SYAIKH — AJARKAN

Agar mereka memahami risalah.

AL-AB — AYOMI

Agar mereka mencintai jalan ini dan tumbuh di dalamnya.

AL-QĀ’ID — ARAHKAN

Agar mereka mampu memikul risalah dan meneruskannya.

Ajarkan tanpa membuat mereka merasa kecil.

Ayomi tanpa membuat mereka lemah.

Arahkan tanpa mematikan inisiatif.

Disiplinkan dengan menjaga martabat.

Percayai sambil terus membina.

Beri ruang untuk bertumbuh.

Dan mungkin yang paling berat bagi nafsu seorang pemimpin:

besarkan mereka tanpa takut mereka menjadi lebih besar daripada kita.

Sebab seorang Syaikh ingin muridnya tumbuh.

Seorang Ab ingin anaknya menjadi lebih baik daripada dirinya.

Seorang Qā’id ingin penerusnya membawa perjalanan lebih jauh.

Dan seorang ‘abdullāh hanya berharap satu hal:

semuanya diterima oleh Allah.

Maka jangan hanya meninggalkan jabatan.

Tinggalkan rijāl.

Jangan hanya meninggalkan program.

Tinggalkan manusia yang mampu melahirkan program.

Jangan hanya meninggalkan struktur.

Tinggalkan generasi yang memahami ruh di balik struktur.

Jangan hanya meninggalkan ketaatan.

Tinggalkan manusia yang memahami mengapa ia taat kepada Allah dalam amal jama‘i.

Jangan hanya meninggalkan pengikut.

Tinggalkan murabbi, du‘āt, dan qiyādah baru.

Dan jangan hanya mewariskan cerita tentang kejayaan masa lalu.

Wariskan kepada mereka iman dan kemampuan untuk menciptakan kebaikan baru pada zamannya.

Lalu ketika suatu hari mereka mampu berdiri tanpa kita, jangan bersedih karena mereka tidak lagi membutuhkan kita seperti dahulu.

Ketika mereka mampu berpikir lebih jauh daripada kita—

bersyukurlah.

Ketika mereka mampu memimpin lebih baik daripada kita—

bersyukurlah.

Ketika mereka mampu membawa dakwah ke medan yang tidak pernah mampu kita capai—

bersujudlah.

Barangkali itulah salah satu tanda bahwa tarbiyah kita berbuah.

Dan berdoalah:

«اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا، وَأَصْلِحْ مَنْ بَعْدَنَا، وَاجْعَلْهُمْ خَيْرًا مِنَّا، وَأَقْوَى مِنَّا فِي الْحَقِّ، وَأَثْبَتَ مِنَّا عَلَى طَرِيقِكَ، وَاسْتَعْمِلْهُمْ لِدِينِكَ، وَلَا تَجْعَلْ ذَهَابَنَا ذَهَابًا لِرُوحِ الدَّعْوَةِ

“Ya Allah, terimalah amal kami. Perbaikilah generasi setelah kami. Jadikanlah mereka lebih baik daripada kami, lebih kuat daripada kami dalam kebenaran, lebih teguh daripada kami di jalan-Mu. Gunakanlah mereka untuk agama-Mu, dan jangan Engkau jadikan kepergian kami sebagai kepergian ruh dakwah.”

Sebab yang harus abadi bukan pemimpinnya.

Yang harus terus hidup adalah risalahnya.

Yang harus terus mengalir adalah ruh dakwahnya.

Yang harus terus lahir adalah rijāl-nya.

Yang harus terus terjaga adalah hubungannya dengan Allah.

Dan mungkin itulah ukuran paling jujur dari keberhasilan kepemimpinan dakwah:

ketika kita telah pergi, manusia yang dahulu kita bina tetap mencintai Allah, tetap mencintai dakwah, tetap menjaga jamaah, tetap memelihara ukhuwah, tetap memikul amanah, dan terus berjalan—bahkan lebih jauh daripada yang pernah mampu kita tempuh.

مِنْ صِنَاعَةِ الرِّجَالِ إِلَى وِرَاثَةِ الرِّسَالَةِ

Dari Membentuk Rijāl Menuju Pewarisan Risalah.

....

Alfaqier Ilaa 'Afwi Rabbih

Wildan Hakim

 

Tidak ada komentar: