Prophetic Leadership: Menjadi Syaikh, Ab, dan Qā’id dalam Mewariskan Ruh Perjuangan
Oleh: KH. Wildan Hakim, Lc.MA.
Ada nikmat Allah yang semakin lama kita
jalani justru semakin membuat hati bergetar: ketika Allah mempertemukan hidup
kita dengan manusia-manusia yang bersama mereka kita menapaki jalan dakwah.
Mula-mula
kita mungkin merasa hanya sedang berbagi pekerjaan. Menyusun agenda,
menjalankan program, mengisi struktur, menyelesaikan amanah, berpindah dari
satu medan ke medan berikutnya.
Tetapi
perjalanan yang panjang mengajari kita bahwa yang Allah titipkan kepada seorang
pemimpin dakwah sesungguhnya bukan hanya pekerjaan.
Allah
menitipkan manusia.
Ada hati
yang harus dijaga.
Ada iman
yang harus dikuatkan.
Ada jiwa
yang harus ditazkiyah.
Ada
fikrah yang harus diluruskan dan diperdalam.
Ada
akhlak yang harus ditumbuhkan.
Ada
ukhuwah yang harus dirawat.
Ada
potensi yang harus ditemukan.
Ada
kelemahan yang harus dibimbing.
Ada
kemampuan yang harus dilatih.
Ada
keberanian yang harus dibangkitkan.
Dan ada
generasi yang perlahan harus disiapkan untuk memikul amanah ketika tangan kita
sudah tidak lagi menggenggamnya.
Karena
itu, semakin besar amanah qiyādah, seharusnya semakin dalam rasa takut kita
kepada Allah.
Bukan
takut kehilangan kedudukan.
Tetapi
takut ada manusia yang Allah titipkan kepada kita lalu tidak bertumbuh karena
kepemimpinan kita.
Takut ada
kader yang bertahun-tahun berada dalam struktur, tetapi ruhnya tidak semakin
hidup.
Takut ada
orang yang semakin sibuk dalam amal jama‘i, tetapi semakin jauh dari munajat
kepada Allah.
Takut ada
kader yang semakin tinggi jenjangnya, tetapi tidak semakin matang fikrahnya.
Takut ada
orang yang semakin banyak menerima taklīf, tetapi semakin sedikit merasakan
lezatnya ikhlas.
Dan takut
kita berhasil membangun organisasi, tetapi gagal membangun rijāl.
Di
situlah qiyādah tidak lagi sekadar persoalan administrasi.
Ia
menjadi amanah tarbiyah di hadapan Allah.
Sebab
manusia yang berada dalam barisan ini bukan milik kita.
Mereka
bukan milik struktur.
Bahkan
mereka bukan milik jamaah.
Mereka
adalah hamba-hamba Allah.
Jamaah
hanyalah jalan tempat kita saling menolong untuk semakin dekat kepada-Nya,
semakin baik dalam mengemban agama-Nya, dan semakin kuat memikul risalah-Nya.
Maka
seorang qā’id yang masih memiliki hati akan sesekali keluar dari hiruk-pikuk
rapat, target, evaluasi, dan keputusan; kemudian masuk ke ruang sunyi
muhasabahnya dan bertanya:
“Ya
Allah, apa yang telah terjadi pada manusia-manusia yang Engkau titipkan
kepadaku?”
Apakah
setelah berjalan bersama kita mereka semakin mengenal Allah?
Apakah
shalatnya semakin hidup?
Apakah
Qur’annya semakin dekat?
Apakah
niatnya semakin bersih?
Apakah
egonya semakin mengecil?
Apakah
ukhuwahnya semakin tulus?
Apakah
fikrahnya semakin matang?
Apakah
tsaqafahnya semakin luas?
Apakah
iltizāmnya semakin kokoh?
Apakah ia
semakin mampu berpikir, memutuskan, menyelesaikan persoalan, dan memikul
risiko?
Apakah ia
semakin siap mengorbankan kepentingan dirinya untuk kepentingan risalah?
Dan
pertanyaan yang paling jauh:
Jika
suatu hari kita tidak lagi berada di samping mereka, apakah mereka tetap
mengenal Allah, memahami manhaj, mencintai dakwah, menjaga jamaah, dan mampu
meneruskan perjalanan?
Di
sinilah kita perlu kembali kepada mata air qiyādah.
Bukan
sekadar teori kepemimpinan.
Bukan
hanya ilmu manajemen.
Tetapi kepada القِيَادَةُ
النَّبَوِيَّةُ — al-qiyādah an-nabawiyyah, kepemimpinan nubuwwah yang
dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman:
«لَقَدْ كَانَ
لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا»
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat
teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari
akhir serta banyak mengingat Allah.”
(QS Al-Aḥzāb: 21)
Rasulullah ﷺ
tidak hanya mengubah keadaan.
Beliau membentuk manusia yang sanggup
mengubah keadaan.
Beliau tidak hanya menyampaikan risalah.
Beliau membentuk manusia-manusia yang
kemudian memikul risalah.
Beliau
tidak hanya mengumpulkan manusia.
Beliau
menghimpun hati mereka di atas iman.
Beliau
tidak sekadar memberikan tugas.
Beliau
menanamkan makna sehingga para sahabat memahami untuk siapa mereka bekerja,
mengapa mereka berjuang, apa yang harus mereka jaga, dan kepada siapa seluruh
perjalanan akan kembali.
Di tangan
beliau ﷺ, tarbiyah tidak berhenti menjadi majelis
ilmu.
Tarbiyah
bergerak menjadi iman.
Iman
bergerak menjadi akhlak.
Akhlak
bergerak menjadi ukhuwah.
Ukhuwah
bergerak menjadi iltizām.
Iltizām
bergerak menjadi amal jama‘i.
Amal
jama‘i bergerak menjadi harakah.
Dan
harakah bergerak membawa ishlāḥ dalam kehidupan.
Inilah
salah satu ruh kepemimpinan nubuwwah:
membentuk
manusia dari dalam, kemudian menggerakkannya keluar untuk membawa kebaikan
kepada kehidupan.
Allah berfirman:
«هُوَ الَّذِي
بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ
وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن
قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ»
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi
seorang Rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka
ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan
Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang
nyata.”
(QS
Al-Jumu‘ah: 2)
Perhatikan
manhaj Rabbani ini.
يَتْلُو عَلَيْهِمْ
آيَاتِهِ
Wahyu memasuki kesadaran.
وَيُزَكِّيهِمْ
Jiwa dibersihkan.
وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
Akal
dibangun dengan Kitab dan hikmah.
Maka
pembentukan rijāl dimulai dari dalam.
Sebelum
mereka menaklukkan negeri, mereka belajar menaklukkan hawa nafsunya.
Sebelum
memikul amanah umat, mereka ditempa untuk memikul amanah iman.
Sebelum
berhadapan dengan dunia, hati mereka diikat kepada akhirat.
Sebelum
kekuasaan datang, ruh mereka dipersiapkan agar ketika kekuasaan berada di
tangan, dunia tetap berada di tangan dan tidak masuk menguasai hati.
Makkah
menjadi madrasah pembentukan rijāl.
Madinah
menjadi medan tempat rijāl itu memikul risālah.
Maka
tarbiyah bukan sekadar satu kegiatan di antara sekian banyak kegiatan jamaah.
Tarbiyah
adalah proses membentuk manusia yang sanggup memikul beratnya dakwah.
Dan
tanzhim bukan sekadar kotak-kotak struktur.
Tanzhim
adalah wadah tempat manusia belajar berjamaah, belajar taat dalam ma‘ruf,
belajar bermusyawarah, belajar memikul taklīf, belajar menyelesaikan khilaf,
belajar mendahulukan kepentingan bersama, dan belajar mempertanggungjawabkan
amanah di hadapan Allah.
Karena
itu struktur seharusnya mendidik manusia, bukan sekadar menggunakan manusia.
Taklīf
seharusnya mematangkan kader, bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan.
Syūrā
seharusnya menumbuhkan kedewasaan, bukan sekadar mengesahkan keputusan.
Evaluasi
seharusnya membuka pintu ishlāḥ, bukan sekadar mencari siapa yang salah.
Dan
ketaatan seharusnya lahir dari iman, fahm, tsiqah, dan kesadaran terhadap
risalah, bukan dari ketakutan kehilangan tempat dalam struktur.
Jika
tarbiyah tidak masuk ke dalam tanzhim, organisasi mungkin rapi tetapi
jiwa-jiwanya kering.
Jika
tazkiyah tidak masuk ke dalam qiyādah, amanah perlahan dapat berubah menjadi
kebanggaan.
Jika
ukhuwah tidak hidup dalam struktur, hubungan berubah menjadi birokrasi.
Jika
fikrah tidak membimbing harakah, gerakan mudah menjadi reaktif.
Dan jika
hubungan dengan Allah melemah, seluruh kesibukan itu dapat terus bergerak—
sementara
ruh dakwah perlahan meninggalkannya.
Maka
jangan ukur kesehatan jamaah hanya dari banyaknya aktivitas.
Tanyakan
pula:
Apakah
aktivitas itu melahirkan manusia yang semakin baik?
Jangan
hanya menghitung jumlah kader.
Tanyakan:
Berapa
banyak yang sedang tumbuh menjadi rijāl?
Jangan
hanya bertanya apakah struktur terisi.
Tanyakan:
Apakah
orang yang mengisinya sedang bertambah matang karena amanah itu?
Jangan
sampai kita memiliki banyak manusia yang menunggu:
“Apa
instruksi berikutnya?”
Tetapi
sedikit yang telah matang untuk bertanya:
“Apa yang
dibutuhkan dakwah, dan bagian mana yang harus saya pikul karena Allah?”
Sebab
dakwah tidak hanya membutuhkan tangan.
Ia
membutuhkan hati yang hidup, fikrah yang jernih, ruh yang bersih, tsaqafah yang
luas, akhlak yang matang, iltizām yang kokoh, pundak yang kuat, dan kaki yang
siap menempuh ṭūluth-tharīq—panjangnya perjalanan.
---
Allah kemudian memperlihatkan keindahan
kepemimpinan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi
manusia:
«فَبِمَا رَحْمَةٍ
مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا
مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي
الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْمُتَوَكِّلِينَ»
“Maka
berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya
engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari
sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah
membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai
orang-orang yang bertawakal.”
(QS Āli
‘Imrān: 159)
Ayat ini
berada dalam rangkaian peristiwa Uhud.
Ada
kesalahan.
Ada
ketidakdisiplinan.
Ada luka.
Ada
kehilangan.
Tetapi
justru di tengah keadaan itulah Al-Qur’an membuka kepada kita rahasia bagaimana
manusia dibina setelah melakukan kesalahan.
فَاعْفُ عَنْهُمْ
Maafkan mereka.
Ada ruang untuk kembali.
وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ
Mohonkan
ampun bagi mereka.
Betapa
indahnya: kader yang melakukan kesalahan tidak hanya dibicarakan dalam
evaluasi—
namanya
dibawa seorang pemimpin ke hadapan Allah.
Mungkin
inilah yang terkadang hilang dari kepemimpinan kita.
Kita
banyak membicarakan kelemahan kader dalam rapat.
Tetapi
sedikit membicarakannya kepada Allah dalam tahajud.
Kita
cepat membuat catatan evaluasi.
Tetapi
lambat membuat istighfar dan doa untuk mereka.
Padahal
qiyādah yang tarbawi tidak hanya bertanya:
“Bagaimana
memperbaiki orang ini?”
Ia juga
berdoa:
“Ya
Allah, bantulah aku membinanya dan bantulah ia memperbaiki dirinya.”
Kemudian:
وَشَاوِرْهُمْ فِي
الْأَمْرِ
Bermusyawarahlah dengan mereka.
Kesalahan
tidak mematikan masa depan.
Kekeliruan
tidak menutup pintu partisipasi.
Mereka
tetap diajak berpikir.
Tetap
dihargai.
Tetap
diberi ruang bertumbuh.
Lalu:
فَإِذَا عَزَمْتَ
Ada ‘azm—keteguhan mengambil keputusan.
Kemudian:
فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
Ada tawakal.
Maka
kepemimpinan nubuwwah menghimpun dalam satu jiwa:
«رَحْمَةً
تُقَرِّبُ الْقُلُوبَ، وَحِكْمَةً تُحْسِنُ التَّوْجِيهَ، وَحَزْمًا يَحْفَظُ
الرِّسَالَةَ، وَتَوَكُّلًا يَرُدُّ الْأَمْرَ كُلَّهُ إِلَى اللَّهِ
Rahmah yang mendekatkan hati, hikmah yang
menuntun pengarahan, keteguhan yang menjaga risalah, dan tawakal yang
mengembalikan seluruh urusan kepada Allah.»
Kelembutan Rasulullah ﷺ memancarkan kewibawaan.
Keteguhan beliau berjalin dengan kasih
sayang.
Musyawarah beliau mematangkan partisipasi
dan keputusan.
Dan seluruh ikhtiar kepemimpinan beliau
bermuara pada tawakal kepada Allah.
Di bawah
naungan seperti inilah manusia bertumbuh.
---
Dari sini
kita dapat membaca tiga dimensi yang harus menyatu dalam kepemimpinan dakwah:
الشَّيْخُ — Asy-Syaikh.
الأَبُ — Al-Ab.
القَائِدُ — Al-Qā’id.
Ini bukan tiga jabatan.
Bukan pula pembagian kerja.
Ia adalah tiga sisi dari satu amanah:
«يُرَبِّي
كَالشَّيْخِ، وَيَرْعَى كَالأَبِ، وَيَقُودُ كَالْقَائِدِ
Membina sebagai Syaikh, mengayomi sebagai
Ayah, dan memimpin sebagai Qā’id.»
Ketiganya
bertemu pada satu objek:
الإنسان — manusia.
Syaikh
membangun isi manusia.
Ab
menjaga hati manusia.
Qā’id
mengarahkan potensi manusia.
---
Sebagai
Syaikh, seorang qiyādah tidak puas ketika kader hanya mengetahui apa yang harus
dilakukan.
Ia
membimbingnya memahami mengapa.
Mengapa
kita berada di jalan ini?
Untuk
siapa amal ini?
Apa
ghāyah kita?
Apa
tsawābit yang tidak boleh ditukar dengan keuntungan sesaat?
Apa
yang boleh berubah dalam wasā’il, dan apa yang harus tetap hidup dalam qiyam
dan manhaj?
Sebab
kader yang hanya dibesarkan dengan instruksi akan kebingungan ketika instruksi
tidak datang.
Tetapi
kader yang dibangun dengan iman, fikrah, manhaj, tsaqafah, dan bashīrah akan
mampu membaca keadaan sambil tetap menjaga arah.
Maka:
تَعْلِيمٌ → تَزْكِيَةٌ →
تَرْبِيَةٌ → تَوْجِيهٌ → قُدْوَةٌ → تَكْلِيفٌ
Pengajaran → penyucian → pembinaan →
pengarahan → keteladanan → pemberian amanah.
Tarbiyah yang tidak berujung pada taklīf
dapat membuat seseorang banyak mengetahui tetapi sedikit memikul.
Taklīf tanpa tarbiyah dapat membuat
seseorang banyak memikul tetapi kehilangan kedalaman.
Keduanya harus bertemu.
Rasulullah ﷺ
membina manusia lalu memberikan medan.
Mus‘ab bin ‘Umair diutus ke Yatsrib.
Mu‘ādz bin Jabal diutus ke Yaman.
Ilmu
bertemu amal.
Tarbiyah
bertemu medan.
Kepercayaan
melahirkan kematangan.
Maka
jangan takut melihat binaan kita tumbuh.
Jangan
gelisah ketika mereka lebih cerdas.
Jangan
merasa berkurang ketika mereka lebih menonjol.
Jangan
merasa kehilangan tempat ketika suatu hari amanah mereka melampaui amanah kita.
Seorang
murabbi seharusnya justru menangis bahagia:
“Alhamdulillah,
dakwah tidak berhenti pada diriku.”
Sebab
puncak keberhasilan tarbiyah bukan ketika binaan kita terus membutuhkan kita.
Tetapi
ketika mereka mampu berdiri—
kemudian
membina generasi setelahnya.
---
Namun
manusia tidak hanya mempunyai akal dan pundak.
Ia
mempunyai hati.
Maka
qiyādah juga harus mempunyai jiwa seorang Ab.
Allah berfirman tentang Rasulullah ﷺ:
«لَقَدْ جَاءَكُمْ
رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم
بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ»
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang
Rasul dari kalangan kalian sendiri; berat terasa olehnya penderitaan yang
kalian alami, sangat menginginkan kebaikan bagi kalian, dan terhadap
orang-orang beriman beliau sangat penyantun lagi penyayang.”
(QS At-Taubah: 128)
عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا
عَنِتُّمْ
Berat
bagi beliau penderitaan mereka.
Inilah
ruh ri‘āyah.
Kader
bukan angka.
Bukan
jenjang.
Bukan
suara elektoral.
Bukan
tenaga yang sewaktu-waktu dipanggil ketika dibutuhkan.
Ia
adalah manusia.
Ia
mempunyai keluarga.
Kelelahan.
Kekecewaan.
Harapan.
Kelemahan.
Dan
mungkin luka yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Maka
qiyādah jangan hanya mengenal kinerja kader.
Kenalilah
juga manusianya.
Jangan
hanya bertanya:
“Mengapa
tugasnya belum selesai?”
Kadang
bertanyalah:
“Apa yang
sedang terjadi pada saudara kita?”
Kader
boleh salah, tetapi jangan kehilangan jalan pulang.
Kader
boleh lemah, tetapi jangan merasa ditinggalkan.
Tegurlah
agar ia kembali.
Bimbinglah
agar ia tumbuh.
Kuatkanlah
agar ia bangkit.
Dan
setelah bangkit—
kembalikan
ia ke medan.
Jangan
sampai seorang kader merasakan kehadiran jamaah hanya ketika jamaah membutuhkan
tenaganya.
Ketika
ada target, ia dicari.
Ketika
ada agenda, ia dihubungi.
Ketika
ada tugas, ia diingat.
Tetapi
ketika sakit, jatuh, lemah, atau sedang tidak produktif—
ia merasa
sendirian.
Jika itu
terjadi, ukhuwah perlahan kehilangan ruhnya dan berubah menjadi transaksi.
Padahal
dalam ṭūluth-tharīq, salah satu nikmat terbesar adalah ketika seorang kader
dapat berkata:
“Jalannya
memang panjang, bebannya memang berat, tetapi aku tidak berjalan sendirian.”
Itulah
kasbul-qulūb.
Bukan
teknik mengambil hati.
Tetapi
buah dari hati yang benar-benar peduli karena Allah.
---
Namun
dakwah tidak berhenti pada pembinaan pribadi dan kehangatan ukhuwah.
Dakwah
membawa risalah perubahan.
Ada umat
yang harus dilayani.
Ada
kezaliman yang harus dikurangi.
Ada
kebaikan yang harus diperluas.
Ada zaman
yang harus dibaca.
Ada
peluang yang harus dimanfaatkan.
Ada
ancaman yang harus diantisipasi.
Maka
qiyādah juga harus menjadi Qā’id.
Ia harus
mampu melihat lebih jauh daripada kesibukan hari ini.
Membaca
realitas.
Menentukan
prioritas.
Menyusun
strategi.
Mengambil
keputusan.
Mengelola
ikhtilāf.
Mendistribusikan
amanah.
Menghubungkan
satu potensi dengan potensi lainnya.
Dan
menyiapkan lapis-lapis kepemimpinan agar jamaah tidak berdiri di atas satu
orang.
رُؤْيَةٌ →
إِسْتِرَاتِيجِيَّةٌ → رِجَالٌ → تَنْظِيمٌ → حَرَكَةٌ → أَثَرٌ
Visi → Strategi → Rijāl → Tanzhim → Gerakan
→ Dampak.
Di
sinilah tanzhim menemukan makna tarbawinya.
Struktur
adalah tempat amanah didistribusikan.
Syūrā
adalah tempat akal jama‘i dimatangkan.
Taklīf
adalah medan pembentukan kapasitas.
Taat
dalam ma‘ruf adalah latihan menundukkan ego kepada kemaslahatan bersama.
Evaluasi
adalah pintu muhasabah dan ishlāḥ.
Pergantian
qiyādah adalah ujian apakah risalah telah lebih besar daripada figur.
Dan
regenerasi adalah bukti bahwa seorang pemimpin benar-benar percaya kepada hasil
tarbiyahnya sendiri.
Karena
itu generasi penerus jangan hanya disebut sebagai penerus.
Berilah
mereka kesempatan meneruskan.
Jangan
hanya katakan:
“Kalian
adalah pemimpin masa depan.”
Berikan
sebagian masa kini kepada mereka.
Berikan
amanah.
Berikan
ruang.
Biarkan
mencoba.
Dampingi.
Jika
keliru, koreksi.
Jika
jatuh, bangunkan.
Jika
berhasil, syukuri.
Kemudian
berikan amanah yang lebih besar.
Rijāl
tidak lahir dari seminar kepemimpinan.
Rijāl lahir dari:
تَرْبِيَةٍ، وَثِقَةٍ،
وَتَكْلِيفٍ، وَتَجْرِبَةٍ، وَمُحَاسَبَةٍ، وَتَصْحِيحٍ، ثُمَّ ثِقَةٍ مِنْ
جَدِيدٍ
Tarbiyah, kepercayaan, pemberian amanah,
pengalaman, evaluasi, perbaikan—kemudian kepercayaan kembali.
Rasulullah ﷺ
memberi Usāmah bin Zayd amanah memimpin pasukan pada usia muda, sementara dalam
pasukan itu terdapat para sahabat yang lebih tua dan berpengalaman.
Betapa kuat pesan tarbawinya:
jika kita percaya kepada tarbiyah, kita
harus berani percaya kepada manusia yang telah kita tarbiyah.
---
Maka
ketika seorang kader melakukan kesalahan, jangan hanya hadir sebagai atasan.
Hadirkan
ketiga jiwa itu.
Syaikh
bertanya:
“Apa
yang belum ia pahami?”
Ab
bertanya:
“Apa yang
sedang terjadi dalam hatinya?”
Qā’id
bertanya:
“Apa yang
harus diperbaiki agar dirinya tumbuh dan amanah jamaah tetap terjaga?”
Lalu
ajari tanpa merendahkan.
Ayomi
tanpa memanjakan.
Koreksi
tanpa menghancurkan.
Disiplinkan
dengan menjaga martabat.
Percayai
sambil membina.
Dan
setelah ia tumbuh—
berikan
amanah kembali.
Syaikh
memberikan kedalaman.
Ab
memberikan kehangatan.
Qā’id
memberikan arah dan daya gerak.
Tiga-tiganya
harus bertemu.
Karena
kita tidak ingin melahirkan orang saleh yang tidak mampu mengubah realitas.
Tidak
ingin melahirkan aktivis yang sibuk mengubah realitas tetapi kehilangan dirinya
sendiri.
Tidak
ingin melahirkan organisator yang mahir mengelola struktur tetapi kehilangan
kehangatan ukhuwah.
Dan tidak
ingin melahirkan manusia yang sangat mencintai jamaah tetapi lupa bahwa tujuan
tertinggi jamaah adalah mengantarkan manusia kepada Allah dan menegakkan
nilai-nilai risalah-Nya dalam kehidupan.
---
Tetapi
ada satu akar yang harus berada di bawah semuanya:
العُبُودِيَّةُ لِلَّهِ
Penghambaan kepada Allah
Rasulullah ﷺ
adalah pemimpin umat, tetapi Allah memuliakan beliau dengan sebutan hamba-Nya:
«سُبْحَانَ الَّذِي
أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ
الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيعُ الْبَصِيرُ»
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami
berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda
Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS Al-Isrā’: 1)
Maka:
العُبُودِيَّةُ قَبْلَ
القِيَادَةِ
Penghambaan sebelum kepemimpinan.
Inilah jaanib ruhi dan tazkawi yang tidak
boleh hilang dari qiyādah.
Sebab sebelum kita menjadi murabbi, kita
adalah mutarabbi di hadapan Allah.
Sebelum menjadi muwajjih, kita sendiri
membutuhkan hidayah-Nya.
Sebelum menjadi qā’id, kita adalah hamba.
Dan sebelum menghitung kekurangan kader,
kita mempunyai dosa-dosa yang hanya Allah tutupi.
Maka
semakin tinggi seseorang dalam struktur dakwah, seharusnya semakin rendah ia
bersujud.
Semakin
banyak manusia mendengar perkataannya, semakin banyak ia perlu mendengar suara
muhasabah dalam dirinya.
Semakin
besar kekuasaan berada di tangannya, semakin besar kebutuhannya kepada
istighfar.
Semakin
banyak orang memanggilnya “ustadz”, “murabbi”, atau “qiyādah”, semakin sering
ia perlu berbisik kepada dirinya:
«أَنَا عَبْدٌ
قَبْلَ أَنْ أَكُونَ قَائِدًا
“Aku adalah hamba sebelum aku menjadi
pemimpin.”»
Karena
ujian qiyādah tidak selalu datang dalam bentuk kegagalan.
Kadang ia
datang dalam bentuk keberhasilan.
Nama
semakin dikenal.
Pendapat
semakin didengar.
Instruksi
semakin ditaati.
Pintu-pintu
dunia mulai terbuka.
Orang-orang
mulai mendekat.
Dan
perlahan seseorang dapat merasa bahwa dakwah membutuhkan dirinya—
hingga ia
lupa bahwa sesungguhnya dialah yang membutuhkan dakwah agar tetap berada di
jalan Allah.
Di situlah perbedaan antara:
خِدْمَةُ الدَّعْوَةِ
melayani dakwah
dan
اِسْتِخْدَامُ الدَّعْوَةِ
memanfaatkan dakwah.
Betapa
tipis jaraknya di hadapan jiwa yang tidak terus ditazkiyah.
Maka
jangan biarkan jabatan membuat sajadah semakin jauh.
Jangan
biarkan rapat mengalahkan tilawah.
Jangan
biarkan kesibukan mengurus manusia membuat kita kehilangan waktu berkhalwat
dengan Rabb manusia.
Jangan
sampai kita sangat pandai menunjukkan arah kepada jamaah—
tetapi
hati kita sendiri kehilangan arah menuju Allah.
---
Kemudian
tibalah hari ketika Rasulullah ﷺ
wafat.
Madinah
terguncang.
Tetapi
dari madrasah nubuwwah itu berdirilah Abū Bakr r.a. dan berkata:
«مَنْ كَانَ
يَعْبُدُ مُحَمَّدًا ﷺ فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ
اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ»
“Barang
siapa menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah wafat. Dan barang siapa
menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak mati.”
Diriwayatkan al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ-nya
dalam kisah wafat Rasulullah ﷺ.
Lalu beliau membaca QS Āli ‘Imrān ayat 144:
«وَمَا مُحَمَّدٌ
إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ
انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن
يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ»
“Muhammad hanyalah seorang Rasul.
Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke
belakang? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah
sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Renungkanlah
buah tarbiyah itu.
Sang
Murabbi telah pergi, tetapi murid-muridnya tidak kehilangan Allah.
Sang
Qā’id telah wafat, tetapi umat tidak kehilangan risalah.
Rasulullah
ﷺ tidak lagi berada di tengah mereka, tetapi
ruh yang beliau tanamkan hidup dalam diri mereka.
Inilah
salah satu puncak keberhasilan kepemimpinan nubuwwah:
bukan
membangun manusia yang bergantung kepada pemimpinnya,
tetapi
membangun manusia yang terikat kepada Allah, memahami risalah, mencintai
saudaranya, menjaga jamaah, dan mampu melanjutkan perjuangan ketika pemimpinnya
telah pergi.
---
Saudaraku
para pemikul amanah...
Kita pun
akan pergi.
Entah
karena amanah berganti.
Usia
bertambah.
Kemampuan
berkurang.
Atau
karena Allah memanggil kita pulang.
Kursi
akan ditempati orang lain.
Nama
dalam struktur akan diganti.
Generasi
akan datang silih berganti.
Dan itu
semua adalah sunnatullah.
Yang
perlu kita khawatirkan bukan ketika nama kita hilang dari struktur.
Yang
perlu kita khawatirkan adalah ketika ruh dakwah ikut hilang bersama kita.
Jangan
sampai generasi pertama menerima ruh dan fikrah.
Generasi
kedua menerima fikrah dan manhaj.
Generasi
ketiga hanya menerima struktur dan prosedur.
Lalu
generasi sesudahnya tinggal mempertahankan nama, simbol, dan nostalgia.
Tidak.
Wariskan
ruhnya.
Wariskan
fikrahnya.
Wariskan
manhajnya.
Wariskan
adabnya.
Wariskan
tsaqafahnya.
Wariskan
ukhuwahnya.
Wariskan
kompetensinya.
Wariskan
keberaniannya.
Wariskan
tradisi syūrānya.
Wariskan
kemampuan beramal jama‘inya.
Wariskan
kesediaannya berkorban.
Dan di
atas semuanya—
wariskan
hubungan yang hidup dengan Allah.
Sebab
jika hubungan itu hilang, yang tersisa mungkin masih bernama jamaah—
tetapi ia
kehilangan rahasia yang dahulu membuat manusia sanggup menangis dalam tahajud
lalu berdiri kokoh di medan perjuangan.
---
Maka
pemimpin dakwah hendaknya menjadi:
«رُوحًا جَدِيدًا
يَسْرِي فِي جَسَدِ الدَّعْوَةِ
“Ruh baru
yang mengalir dalam tubuh dakwah.”»
Bukan
pusat kultus.
Bukan
manusia yang membuat semua orang bergantung kepadanya.
Tetapi
manusia yang kehadirannya menghidupkan manusia lain.
Sebagai
Syaikh, ia membuat manusia memahami.
Sebagai
Ab, ia membuat manusia merasa dicintai, dijaga, dan dikuatkan.
Sebagai
Qā’id, ia membuat manusia bergerak, mengambil tanggung jawab, dan berani
memikul amanah.
Dan
sebagai ‘Abdullāh, ia mengajarkan melalui seluruh hidupnya bahwa ujung
perjalanan ini bukan dirinya—
tetapi
Allah.
Maka
‘ubūdiyah adalah akarnya.
Tazkiyah
adalah penjaga kejernihan ruhnya.
Tarbiyah
adalah jalan pembentukan manusianya.
Ukhuwah
adalah ikatan hatinya.
Tanzhim
adalah wadah penghimpunan dan pendayagunaan kekuatannya.
Harakah
adalah geraknya dalam realitas.
Rijāl
adalah buahnya.
Ishlāḥ
adalah atsarnya.
Dan
pewarisan risalah adalah keberlanjutannya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ
وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin/penggembala
dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Muttafaq ‘alaih, dari ‘Abdullāh bin ‘Umar
r.a.
Maka
mungkin kelak Allah tidak bertanya kepada kita berapa lama kita duduk dalam
sebuah posisi.
Tetapi
kita pasti akan ditanya tentang amanah.
Dan di
situlah hati seorang qiyādah seharusnya bergetar:
Apa yang
terjadi pada manusia-manusia yang dahulu Allah titipkan kepadaku?
Apakah
mereka semakin dekat kepada Allah?
Semakin
bersih hatinya?
Semakin
matang fikrahnya?
Semakin
kokoh iltizāmnya?
Semakin
indah akhlaknya?
Semakin
hangat ukhuwahnya?
Semakin
luas tsaqafahnya?
Semakin
matang kemampuan tanzhimnya?
Semakin
tinggi himmahnya?
Semakin
siap berkorban?
Dan
semakin mampu memikul risalah?
Maka
peganglah tiga amanah ini:
ASY-SYAIKH
— AJARKAN
Agar
mereka memahami risalah.
AL-AB —
AYOMI
Agar
mereka mencintai jalan ini dan tumbuh di dalamnya.
AL-QĀ’ID
— ARAHKAN
Agar
mereka mampu memikul risalah dan meneruskannya.
Ajarkan
tanpa membuat mereka merasa kecil.
Ayomi
tanpa membuat mereka lemah.
Arahkan
tanpa mematikan inisiatif.
Disiplinkan
dengan menjaga martabat.
Percayai
sambil terus membina.
Beri
ruang untuk bertumbuh.
Dan
mungkin yang paling berat bagi nafsu seorang pemimpin:
besarkan
mereka tanpa takut mereka menjadi lebih besar daripada kita.
Sebab
seorang Syaikh ingin muridnya tumbuh.
Seorang
Ab ingin anaknya menjadi lebih baik daripada dirinya.
Seorang
Qā’id ingin penerusnya membawa perjalanan lebih jauh.
Dan
seorang ‘abdullāh hanya berharap satu hal:
semuanya
diterima oleh Allah.
Maka
jangan hanya meninggalkan jabatan.
Tinggalkan
rijāl.
Jangan
hanya meninggalkan program.
Tinggalkan
manusia yang mampu melahirkan program.
Jangan
hanya meninggalkan struktur.
Tinggalkan
generasi yang memahami ruh di balik struktur.
Jangan
hanya meninggalkan ketaatan.
Tinggalkan
manusia yang memahami mengapa ia taat kepada Allah dalam amal jama‘i.
Jangan
hanya meninggalkan pengikut.
Tinggalkan
murabbi, du‘āt, dan qiyādah baru.
Dan
jangan hanya mewariskan cerita tentang kejayaan masa lalu.
Wariskan
kepada mereka iman dan kemampuan untuk menciptakan kebaikan baru pada zamannya.
Lalu
ketika suatu hari mereka mampu berdiri tanpa kita, jangan bersedih karena
mereka tidak lagi membutuhkan kita seperti dahulu.
Ketika
mereka mampu berpikir lebih jauh daripada kita—
bersyukurlah.
Ketika
mereka mampu memimpin lebih baik daripada kita—
bersyukurlah.
Ketika
mereka mampu membawa dakwah ke medan yang tidak pernah mampu kita capai—
bersujudlah.
Barangkali
itulah salah satu tanda bahwa tarbiyah kita berbuah.
Dan berdoalah:
«اللَّهُمَّ
تَقَبَّلْ مِنَّا، وَأَصْلِحْ مَنْ بَعْدَنَا، وَاجْعَلْهُمْ خَيْرًا مِنَّا،
وَأَقْوَى مِنَّا فِي الْحَقِّ، وَأَثْبَتَ مِنَّا عَلَى طَرِيقِكَ،
وَاسْتَعْمِلْهُمْ لِدِينِكَ، وَلَا تَجْعَلْ ذَهَابَنَا ذَهَابًا لِرُوحِ
الدَّعْوَةِ.»
“Ya
Allah, terimalah amal kami. Perbaikilah generasi setelah kami. Jadikanlah
mereka lebih baik daripada kami, lebih kuat daripada kami dalam kebenaran,
lebih teguh daripada kami di jalan-Mu. Gunakanlah mereka untuk agama-Mu, dan
jangan Engkau jadikan kepergian kami sebagai kepergian ruh dakwah.”
Sebab
yang harus abadi bukan pemimpinnya.
Yang
harus terus hidup adalah risalahnya.
Yang
harus terus mengalir adalah ruh dakwahnya.
Yang
harus terus lahir adalah rijāl-nya.
Yang
harus terus terjaga adalah hubungannya dengan Allah.
Dan
mungkin itulah ukuran paling jujur dari keberhasilan kepemimpinan dakwah:
ketika
kita telah pergi, manusia yang dahulu kita bina tetap mencintai Allah, tetap
mencintai dakwah, tetap menjaga jamaah, tetap memelihara ukhuwah, tetap memikul
amanah, dan terus berjalan—bahkan lebih jauh daripada yang pernah mampu kita
tempuh.
مِنْ صِنَاعَةِ الرِّجَالِ
إِلَى وِرَاثَةِ الرِّسَالَةِ
Dari Membentuk Rijāl Menuju Pewarisan
Risalah.
....
Alfaqier Ilaa 'Afwi Rabbih
Wildan Hakim

Tidak ada komentar:
Posting Komentar