Rabu, 23 Mei 2012

Semua Kerusakan Bermula Dari Sekulerisme


“Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan “
(QS. Al-Baqarah: 11)

 Sekularisme adalah paham yang meyakini bahwa kehidupan sehari-hari harus terlepas dari nilai-nilai agama. Baginya, agama cukup dipraktekkan di tempat-tempat ibadah saja. Agama tidak boleh dibawa ke kantor, pabrik, pasar serta istana negara. Agama juga tidak boleh diikutkan dalam ekonomi, penididikan, seni, dan politik.

 Para pengikut dan pendukung paham ini mengatakan bahwa agama adalah suci, dan politik itu kotor, oleh sebab itu agama tidak boleh dicampur adukkan dengan politik agar kemurnian agama tetap terpelihara..

Akibat paham dan ajaran sekulerisme itu, kini banyak orang tabu bicara agama di kantor, pergaulan sehari-hari, dan apalagi dalam politik. Sehingga para politikus kini melakukan aktifitas perpolitikannya tanpa didasari oleh nilai-nilai agama, sehingga banyak kita temukan mereka berbohong kepada publik dengan seenaknya, yang penting tujuan politiknya dapat tercapai.

Mengapa paham sekulerisme ini timbul? Sekulerisme timbul akibat buruknya sikap dan kebijakan yang zalim dari kaum gereja di abad pertengahan di Eropa. Saat itu kaum agamawan menjadikan agamanya sebagai legimitasi dari kezaliman yang dilakukannya, bahkan sikap dan kebijakan kaum gereja dianggap menghambat kemajuan. Banyak para ilmuwan yang dihukum mati akibat penemuan ilmiahnya yang dianggap bertentangan dengan sikap gereja. Tiap keterangan ilmu yang tidak sesuai dengan paham gereja, dibatalkan oleh gereja. dan dilarang jika hal itu melemahkan otoritas gereja

Sebagai contoh Copernicus (1507) dihukum mati tatkala mengungkapkan teori bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Galelio yang membela teori Copernicus diancam hukuman bakar.

Akhirnya, agama dianggap sebagai penghambat kemajuan ilmu pengetahuan. Lahirlah pemberontakan atas kekuasaan gereja. Pada tahun 1517 terjadi reformasi yang dipimpin oleh Martin Luther, yang kemudian melahirkan protestan, memprotes kekuasaan para pendeta Katolik dan uskupnya hingga tentang mereka dapat mengampuni dosa manusia melalui surat ampunan.

Untuk melawan kekuasaan dan kediktatoran para pendeta dan uskup gereja itulah, maka lahirlah gerakan sekulerisasi yang memisahkan nilai agama dari kehidupan masyarakat dan Negara.

Akan tetapi paham sekulerisme ini kini menjadi penyebab segala kerusakan di atas muka bumi. Para pendukung dan pengikut ajaran ini sering berbicara bahwa mereka membangun perdaban baru, namun sebaliknya, mereka melakukan kerusakan di atas bumi dengan dalil perbaikan dan reformasi. Firman Allah swt: Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’  Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” (QS. Al-Baqarah:  11)

Mengapa mereka dianggap membuat kerusakan di atas muka bumi? Karena ilmu dan tindakan mereka terlepas dari bimbingan wahyu.

Dari paham sekulerrisme inilah, lahir paham-paham yang tidak berpijak pada bimbingan wahyu.

Dalam ilmu biologi, lahirlah paham dan ajaran Darwinisme, yang mengetengahkan teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah bentuk evolusi dari kera. Padahal wahyu al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia berasal dari Adam as. Oleh sebab itu bangsa manusia disebut Bani Adam atau kaum Adamy. Bukan berasal dari bangsa kera.

Dalam ilmu politik, lahirlah paham Machiavelisme yang dikembangkan oleh Machviaelli ilmuwan berasal Itali (1469-1527 ) yang salah satu rumus terkenalnya adalah “Membolehkan segala cara untuk mendapat tujuan politik”. Paham inilah yang hingga kini dipakai oleh kebanyakan para politisi untuk mencapai tujuannya. Mereka boleh berbohong, manipulasi, money politic dan lain sebagainya asalkan menang dalam politik.

Dalam ilmu ffilsafat dan pemikiran, lahirlah  paham Rasionalisme yang dibawa oleh  Rane Descrates (1598-1650) yang menentang segala bentuk wahyu jika bertentangan dengan akal dan logika. Atau jika wayu tidak bisa dicerna oleh logika. Seperti keyakinan adanya pertanyaan dalam kubur, ada kehidupan seteloah kematian, serta adanya surga dan neraka.

Dalam ilmu ekonomi, lahirlah kapitalisme yang berkonsentrasi kepada kesejahteraan pribadi dan tidak menghiraukan kelompok miskin. Hanya para pemilik modallah yang dapat menguasai ekonomi. Kemudian lahir sosialisme atau komunisme untuk melawan kapitalsme. Akan tetapi karena keduanya terlepas dari bimbingan agama, mereka pun hanya melahirkan kelas-kelas masyarakat tertentu yang berakibat pada  revolusi sosial.

Dan kini, lahir pula ajaran dan paham baru yang beraasl dari akar yang sama yakni sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan), yaitu paham Liberalisme . Paham ini mengkampanyekan kebebasan dalam segala hal. Sesuai dengan kalimatnya “liberal” yang artinya bebas, bebas dari segala ikatan budaya dan  agama. Mereka menuntut hak kebebasan dalam segala hal. Termasuk yang kini mereka perjuangkan adalah tuntutan disahkannya undang-undang kesetaraan gender, yang berisi kebebasan menikah dengan sesama jenisvkelamin, lesbi dan homo seksual.

Dan masih banyak lagi isme-isme (paham dan ajaran) yang merupakan turunan dari sekulerisme, seperti plularisme (menyamakan semua agama), hedonisme (kesuksesan dilihat dari kemewahan), materialisme (kesuksesan dilihat dari materi).

Kita sebagai umat Islam harus waspada dengan gerakan mereka. karena gerakan mereka didukung dengan dana yang besar dari kalangan Barat, terutama Yahudi dan Nasrani. Bahkan isu dan paham itu kini masuk ke ormas-ormas Islam. Waspadalah...!

M. Jamhuri


Jumat, 18 Mei 2012

Bersiap Diri Menghadapi Ajal


“Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. Al-A’raf: 34)




Tidak ada yang tahu kapan ajal kita akan tiba. Ajal (kematian) adalah rahasia yang dimiliki Allah swt.  Dia-lah yang menentukan, kapan kematian itu akan datang menghampiri kita.

Tidak ada yang menyangka, demontrasi pesawat Shukoi  sebagai ajang promisi penerbangan berakhir dengan duka yang dalam. Para pramugari dan penumpang  yang berpose dengan riang gembira sesaat sebelum pesawat lepas landas, harus berakhir dengan musibah yang sangat menyedihkan semua manusia. Wajah yang cantik dan tampan beberapa jam yang lalu, kini harus hancur dan nyaris tidak dikenali lagi.

Begitulah ajal. Ia datang secara tiba-tiba dan sulit diprediksi kapan datangnya. Ia akan datang ke semua orang, baik anak kecil maupun orang dewasa, baik lelaki maupun perempuan, baik rakyat maupun penguasa. Semua akan datang ajalnya.

Hidup kita memang dibatasi  oleh ajal dan waktu. Cobalah anda siapkan pena dan secarik kertas, lalu tulislah di atas secarik kertas itu angka tahun berikut: “1940—2060”, lalu tanyakan pada diri Anda, apakah Anda pernah wujud dan terlahir di dunia ini sebelum tahun 1940? Lalui tanyakan kembali pada diri Anda, apakah Anda akan hidup terus hingga tahun 2060? Jawabannya adalah tidak.! Hidup kita benar-benar dibatasi waktu, dan kematian akan selalu datang menghampiri kita kapan saja Allah menghendakinya.

Lalu, persiapan apa yang harus kita lakukan sebelum ajal menjemput kita?.

Hidup adalah ibarat sebuah perjalanan. Jika kita hendak melakukan sebuah perjalanan maka segala sesuatunya harus dipersiapkan. Sebagai contohj: Jika kita ingin melakukan perjalanan menuju Surabaya, maka kita harus mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari biaya (ongkos), pakaian, obat-obatan, bahkan jalan mana yang harus kita lewati sehingga kita selamat sampai tujuan seperti yang kita kehendaki.

Demikian pula dalam hidupi ini, tempat tujuan akhir kita adalah kematian. Lalu apa yang harus kita siapkan menghadapi kematian itu?.

Rasulullah saw bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menahan hawa nafsunya, dan ia beramal untuk persiapan setelah ia meninggal dunia” (HR: Muslim).

Orang yang melakukan perjalanan, akan tetapi orang itu tidak tahu tempat tujuannya maka dia aldah orang bodoh. Dan jika dia sudah tahu tempat tujuannnya, akan tetapi tidak mempersiapkan bekal, maka ia pun termasuk orang bodoh.

Orang cerdas adalah orang yang dalam melakukan suatu perjalanan, mengetahui ke mana tujuannya? Kemudian ia pun mempersiapkan bekal untuk perjalanan tersebut agar tiba di tempat tujuan dengan selamat.

Dengan demikian, jika kita hidup di dunia ini yang diibaratkan seperti melakukan perjalanan, maka kita harus mengerti bahwa tujuan akhir kita adalah akhirat, kemudian kita pun harus mempersiapkan bekal untuk sampai ke akhirat dengan selamat dan bahagia.

Orang yang hanya sibuk dan menyibukkan diri untuk kebahagiaan dunia saja tanpa memikirkan bekal untuk akhirat, naka sama saja dia melakukan sebuah perjalanan akan tetapi dia tidak mengetahui kemana tempat tujuannya dan dimana dia akan berakhir. Demikian pula orang yang mengetahui bahwa tujuan akhir hidup ini  adalah akhirat akan tetapi dia tidak mempersiapkan bekal untuk akhiratnya, maka sama saja dengan orang bodoh.

Oleh sebab itulah, dalam mengarungi bahtera hidup ini, yang pelabuhan akhirnya adalah akhirat, maka kita harus mempersiapkan bekal untuk menuju kampung akhirat itu dengan selamat dan bahagia.

Lalu, bekal apa yang ideal dalam hidup kita ini? Allah swt berfirman, “Dan, berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal “ QS. Al-Baqarah: 197)

Jadi, takwa-lah sebaik-baik bekal dalam hidup ini. Takwa adalah perasaan takut melakukan perbuatan dosa, takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Takwa adalah seperti engkau berjalan di sebuah jalan yang oenuh dengan onak-duri lalu engkau berhati-hati agar tidak terluka oleh duri itu. Takwa adalah perasaan selalu diawasi oleh Allah dimanapun kita berada.

Dengan takwa itulah, kebahagiaan akan dapat kita raih, bukan hanya kebahagiaan abadi di akhirat saja yang memang menjadi ujung perjalanan hidup kita, akan tetapi kebahagiaan juga akan kita rasakan saat dalam perjalanan hidup kita di dunia.

Firman Allah swt,  “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dari segala masalah) dan akan memberi rezeki yang tidak diduga-duga” (QS. At-Thalaq: 2-3

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf: 96)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur dan gadis-gadis remaja yang sebaya dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (QS. An-Naba’: 31-36).

M. Jamhuri


Minggu, 13 Mei 2012

Agar Tidak Terlilit Hutang


Ya Allah aku berlindung padaMu dari kegelisahan dan kesedihan, dan aku berlindung padaMu dari kelemahan dan sikap malas, dan aku berlindung padaMu dari sikap pengecut  dan kikir, dan aku berlindung padamu dari lilitan hutang dan paksaan orang” (HR: Abu Daud)



Dari sahabat Abu Said al-Khudry ra, Rasulullah saw, pada suatu hari masuk ke dalam masjid, ternyata di dalam masjid ada seorang dari kalangan Anshor bernama Abu Umamah. Rasulullah saw bertanya, “Wahai Abu Umamah, mengapa aku masih melihatmu di dalam masjid bukan pada waktu shalat?”

Abu Umamah menjawab, “Saya sedang dirundung kegelisahan dan terlilit hutang, wahai Rasulullah !”

Rasulullah saw bertanya, “Maukah engkau aku ajarkan doa yang jika engkau membacanya, maka Allah akan menghilangkan kegelisahanmu dan menyelesaikan hutangmu?”.

Abu Umamah menjawab, “Ya, mau ya Rasulullah, “

Rasulullah saw bersabda, bacalah di waktu pagi dan sore doa ini:  Ya Allah aku berlindung padaMu dari kegelisahan dan kesedihan, dan aku berlindung padaMu dari kelemahan dan sikap malas, dan aku berlindung padaMu dari sikap pengecut  dan kikir, dan aku berlindung padamu dari lilitan hutang dan paksaan orang”

Kemudian Abu Umamah bercerita, “Maka aku pun melaksanakan hal itu, kemudian Allah menghilangkan dariku kegelisahan dan menyelesaikan hutangku.” (HR: Abu Daud)

Dari hadist di atas, dapat kita ambil beberapa pelajaran, antara lain:

Do’a dan isi yang terkandung di dalamnya mengandung pesan kepada pemohonnya sehingga dia tergerak untuk bersikap menuju sesuatu apa yang diinginkannya. Terkabulnya doa seseorang bukanlah semata lafadz-lafadz yang dia baca. Akan tetapi kesesuaian sikap dengan isi doa yang dia baca.

Sejak dia membaca doa, maka sikap-sikapnya harus disesuaikan dengan isi doa yang terkandung di dalamnya. Jika hanya lafadz-lafadz saja yang dibaca,  dan tanpa ada perubahan sikap dari orang yang memohon, maka doa itu tidak akan ampuh.

Dari doa itu, maka kita harus menghilangkan 8 (delapan) penyakit jiwa yang saling berkaitan.

1. Berlindung dari penyakit gelisah. Gelisah adalah penyakit yang akan merontokkan semangat hidup. Kuncinya adalah selalu merasa tsiqoh (percaya) dan yakin kepada Allah, sehingga apapun yang menimpa diri kita, kita selalu hadapi dengan sikap optimis. Sikap gelisah akan mengakibatkan sikap sedih dan lemah.

2. Berlindung dari kesedihan. Dan kesedihan lahir karena sikap gelisah di atas. Obat kesedihan adalah istiqomah dan komitmen. Firman Allah swt: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."  (QS. Fushilat: 30)

3. Berlindung dari sikap lemah. Ada tiga macam sikap lemah yang harus kita hindari; lemah fisik, lemah mental dan lemah ide. Orang-orang robbani (yang selalu berorientaisi hidupnya untuk Allah) tidak akan pernah terkena tiga penyakit lemah ini. Dan orang yang seperti itu dalam al-Qur’an disebut orang yang sabar. Firman Allah swt: “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146) . Jadi, menurut ayat ini, sabar bukanlah mengalah dan lemah, tetapi tangguh dalam menghadapi segala masalah serta sanggup mengatasinya.

4. Berlindung dari sikap malas. Sikap malas ini lahir dari rasa lemah di atas. Orang yang sudah lemah fisik, mental dan ide, tidak akan produktif, sehinga tidak dapat menyelasaikan masalah. Solusinya adalah dengan mujahadah atau sungguh-sungguh dalam mengisi kehidupan iini sambil mengharap ridho Allah swt. Allah hanya akan berpihak kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh (jihad).  Firman Allah swt: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Ankabut: 69)

5. Berlindung dari sikap pengecut. Sikap pengecut ini lahir dari rasa malas tadi. Sehingga dalam diri orang pengeceut tidak ada keberanian menghadapi segala problema. Solusinya adalah selalu istiqomah dalam keimanan, sebagaimana firman Allah pada surat Fushiat: 30 yang disebutkan di atas. Bahwa jika kita beriman dan beristiqomah (lurus), malaikat berkata, “Janganlah kamu takut”. Di sini, akan lahir jiwa pemberani lawan dari sikap pengecut.

6. Berlindung dari sikap kikir. Biasanya orang yang takut dan pengecut mempunyai sikap takut melarat, akhirnya tidak mau menggunakan kekayaannya untuk keperluannya sendiri, lebih baik berhutang dari pada pakai uang sendiri, apalagi dia mau berderma dan memberi kepada sesama.

7. dan 8 adalah berlindung dari sikap berhutang. Sikap ini timbul dari sikap kikir di atas. Lebih baik berhutang daripada memakai uangnya sendiri. Jika sikap berhutang menjadi kebiasaan, maka dia bisa dikendalikan (dibawah pemaksaan dan kemauan) orang-orang. Seperti negeri kita yang banyak hutang mudah dikendalikan pihak asing.

Semoga kita terlindung dari sifat-sifat tersebut. Amiin.

Muhammad Jamhuri