Rabu, 23 September 2026

Bahaya Merasa Senior dan Berjasa Dalaam Dakwah


Tadzkirah Tentang Sābiqah, Keikhlasan, dan Adab Berjamaah

Oleh : KH. Wildan Hakim, Lc. MA,

Saudaraku di jalan Allah...

Duduklah sebentar bersama hatimu.

Bukan bersama jabatanmu.

Bukan bersama sejarahmu.

Bukan bersama nama-nama besar yang pernah berjalan bersamamu.

Bukan bersama kenangan tentang masa ketika engkau berdiri di barisan paling depan.

Duduklah hanya bersama hatimu.

Lalu tanyakan kepadanya dengan perlahan:

"Wahai hati, setelah sejauh ini engkau berjalan... masihkah Allah menjadi satu-satunya alasan engkau bertahan?"

Sebab ada penyakit yang tidak datang ketika seorang da‘i baru mengetuk pintu dakwah.

Ia justru terkadang datang setelah puluhan tahun ia tinggal di dalam rumahnya.

Ia datang ketika rambut mulai memutih.

Ketika langkah tidak lagi secepat dahulu.

Ketika nama mulai dikenal.

Ketika manusia mulai memanggil kita dengan penghormatan.

Ketika kita telah melewati begitu banyak musim perjuangan; menyaksikan orang datang dan pergi, merasakan pahitnya jalan, memikul amanah ketika jumlah manusia masih sedikit, mengorbankan harta, waktu, tenaga, bahkan mungkin sebagian kehidupan yang tidak pernah diketahui orang lain.

Semua itu indah.

Semua itu adalah sābiqah.

Dan betapa beruntungnya seseorang yang telah diberi Allah umur panjang dalam ketaatan dan perjuangan.

Tetapi, saudaraku...

Justru ketika perjalanan telah panjang, debu yang menempel pada pakaian semakin banyak.

Dan tidak semua debu perjalanan tampak oleh mata.

Ada debu yang menempel pada hati.

Namanya:

merasa berjasa.

---

KETIKA MASA LALU MULAI BERBICARA

Pada mulanya ia hanya bisikan kecil.

Hampir tidak terdengar.

"Aku lebih dahulu daripada mereka."

Kemudian bisikan itu tumbuh.

"Aku sudah berada di sini ketika mereka bahkan belum mengenal jalan ini."

Lalu ia menjadi semakin berani.

"Aku ikut membangun semua ini."

Kemudian suatu hari ia berubah menjadi tuntutan yang tidak terucapkan:

"Maka seharusnya aku lebih didengar."

"Seharusnya aku lebih dihormati."

"Seharusnya aku lebih diperhitungkan."

"Bukankah aku mempunyai jasa?"

Ah...

Pada saat itulah seorang da‘i seharusnya gemetar.

Bukan karena masa lalunya buruk.

Justru karena masa lalunya terlalu indah untuk dirusak oleh perasaan semacam itu.

Bukankah dahulu engkau memberikan semuanya kepada Allah?

Bukankah dahulu ketika engkau berjalan malam-malam menuju majelis dakwah, tidak seorang pun mengetahui kelelahanmu?

Bukankah dahulu ketika engkau mengeluarkan hartamu, engkau tidak meminta namamu dituliskan?

Bukankah dahulu ketika engkau membina manusia, engkau hanya berharap suatu hari mereka mengenal Rabb mereka?

Lalu mengapa sekarang engkau membuka kembali buku amal yang dahulu telah engkau serahkan kepada Allah...

dan mulai menghitung-hitungnya di hadapan manusia?

Allah berfirman:

«يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, ‘Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang-orang yang benar.’”

(QS Al-Ḥujurāt: 17)»

Betapa lembut...

dan betapa menghancurkan kesombongan ayat ini.

Manusia berkata:

"Aku telah memberi."

Langit menjawab:

بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ

"Justru Allah-lah yang telah memberikan karunia kepadamu."

Engkau merasa telah menghidupi dakwah?

Tidak, saudaraku.

Barangkali dakwahlah yang selama ini menjaga agar hatimu tetap hidup.

Engkau merasa telah memberikan umurmu kepada jalan ini?

Barangkali jalan inilah yang menyelamatkan umurmu agar tidak habis untuk sesuatu yang tidak akan engkau bawa ke kubur.

Engkau merasa telah membesarkan jamaah?

Barangkali jamaah inilah yang dahulu menjadi madrasah tempat Allah membesarkan jiwamu.

Di sinilah seorang da‘i harus mengubah cara memandang sejarahnya.

Bukan:

"Berapa banyak yang telah kuberikan kepada dakwah?"

Tetapi:

"Ya Allah... betapa banyak yang Engkau berikan kepadaku melalui dakwah."

---

SĀBIQAH BUKANLAH SINGGASANA

Saudaraku...

Pengalaman adalah cahaya apabila dibawa dengan tawadhu‘.

Tetapi ia dapat berubah menjadi hijab apabila dibawa dengan kesombongan.

Sābiqah adalah kemuliaan apabila membuat kita semakin lembut.

Tetapi ia menjadi ujian ketika membuat kita merasa memiliki hak lebih besar daripada saudara kita.

Maka jangan bangun singgasana dari tahun-tahun pengabdianmu.

Jangan jadikan luka-luka lama sebagai mahkota.

Jangan jadikan pengorbananmu sebagai kuitansi yang suatu hari engkau sodorkan kepada jamaah.

Sebab sesuatu yang telah engkau jual kepada Allah...

jangan engkau jual untuk kedua kalinya kepada manusia.

Semakin panjang umurmu dalam dakwah, semestinya semakin sedikit engkau berbicara tentang jasamu.

Semakin banyak manusia yang pernah engkau bina, semakin sering engkau bertanya dalam sunyi:

"Ya Allah, apakah aku benar-benar membawa mereka kepada-Mu... atau diam-diam membuat mereka terikat kepadaku?"

Semakin tinggi engkau pernah berdiri dalam struktur, semakin dalam engkau bertanya:

"Apakah aku dahulu seorang khādim bagi dakwah... atau perlahan aku mulai berharap dakwah menjadi khādim bagi diriku?"

Dan pertanyaan itu sakit.

Biarkan ia sakit.

Sebab ada luka yang justru menyelamatkan hati.

---

KETIKA KITA MENCINTAI TEMPAT KITA LEBIH DARIPADA RISALAH KITA

Ada suatu hari ketika Allah menguji seorang da‘i bukan dengan memberinya amanah...

tetapi dengan mengambil amanah itu darinya.

Dahulu ia menangis:

"Ya Allah, gunakanlah aku."

Lalu Allah menggunakannya.

Bertahun-tahun.

Namanya dikenal.

Pendapatnya didengar.

Langkahnya diikuti.

Kemudian datanglah masa ketika Allah memindahkan amanah itu kepada pundak yang lebih muda.

Dan tiba-tiba hatinya terluka.

Di sinilah sebuah pertanyaan turun seperti hujan malam ke dalam jiwa:

Apa sebenarnya yang selama ini engkau cintai?

Dakwah?

Atau tempatmu di dalam dakwah?

Risalah?

Atau peranmu dalam risalah?

Allah?

Atau perasaan bahwa engkau dibutuhkan dalam perjuangan menuju Allah?

Pertanyaan terakhir itu sangat halus.

Sebab nafsu terkadang rela mengenakan pakaian dakwah.

Ia berbicara tentang maslahat.

Tentang pengalaman.

Tentang sejarah.

Tentang penghormatan kepada senior.

Padahal jauh di sebuah sudut hati, mungkin hanya ada seorang manusia tua yang takut tidak lagi dianggap penting.

Saudaraku...

Jangan takut menjadi tidak penting di mata manusia.

Takutlah menjadi tidak bernilai di sisi Allah.

---

BIARKAN MEREKA TUMBUH MELEBIHIMU

Seorang murabbi sejati seperti pohon tua.

Ia tidak marah ketika tunas-tunas kecil tumbuh lebih tinggi daripada rantingnya.

Ia justru memberikan tanahnya.

Memberikan teduhnya.

Memberikan buahnya.

Dan ketika musimnya selesai, ia rela daun-daunnya gugur agar tunas baru mendapatkan cahaya.

Begitulah seharusnya generasi dakwah bertemu.

Yang tua tidak berdiri di depan matahari sehingga generasi muda hidup dalam bayang-bayangnya.

Yang muda tidak mencabut akar karena merasa daun-daunnya lebih hijau.

Yang tua memberikan hikmah tanpa mendominasi.

Yang muda membawa tenaga tanpa kehilangan adab.

Lalu keduanya berjalan bersama.

Sebab dakwah bukan tentang siapa yang paling lama berada di dalam perahu.

Dakwah adalah tentang apakah perahu itu tetap menuju Allah.

Maka apabila suatu hari orang yang dahulu engkau bina berdiri lebih tinggi darimu...

tersenyumlah.

Apabila ia berbicara lebih baik darimu...

bersyukurlah.

Apabila ia memimpin sementara engkau duduk mendengarkan...

doakanlah.

Dan bisikkan kepada hatimu:

"Bukankah dahulu inilah yang aku minta kepada Allah—lahirnya generasi yang mampu melanjutkan perjalanan?"

Janganlah engkau menanam pohon lalu bersedih ketika orang lain memakan buahnya.

Bukankah seorang penanam sejati memang menanam untuk hari yang mungkin tidak sempat ia saksikan?

---

JANGAN RUSAK AMAL LAMA DENGAN PENYAKIT YANG DATANG BELAKANGAN

Saudaraku...

Ada sesuatu yang lebih menyedihkan daripada tidak memiliki sejarah perjuangan.

Yaitu memiliki sejarah perjuangan yang panjang...

kemudian menjadikannya alasan untuk membesarkan diri.

Dahulu engkau datang tanpa nama.

Jangan sampai setelah memiliki nama, engkau kehilangan hati yang dahulu membawamu datang.

Dahulu engkau bersedia duduk di mana saja.

Jangan sampai setelah lama berjalan, engkau hanya mau duduk di kursi yang sesuai dengan perasaan tentang siapa dirimu.

Dahulu engkau bahagia ketika dakwah maju.

Jangan sampai sekarang engkau hanya bahagia apabila dakwah maju melalui tanganmu.

Dahulu engkau berkata:

نَحْنُ جُنُودُ الدَّعْوَةِ

"Kita adalah prajurit dakwah."

Maka tetaplah menjadi prajurit.

Di depan, bekerjalah.

Di belakang, bekerjalah.

Disebut namamu, bekerjalah.

Dilupakan namamu, bekerjalah.

Dipandang manusia, bekerjalah.

Tidak seorang pun melihatmu, tetaplah bekerja.

Sebab mata yang dahulu engkau cari bukan mata manusia.

Ia adalah mata langit.

---

DI PUNCAK KEMENANGAN, ALLAH MENGAJARKAN ISTIGHFAR

Ketika perjalanan Rasulullah sampai pada kemenangan...

ketika manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah...

ketika perjuangan panjang itu memperlihatkan buahnya...

Allah tidak memerintahkan beliau menghitung jasa.

Allah berfirman:

«إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ۝ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ۝ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.”

(QS An-Naṣr: 1–3)»

Betapa menakjubkan.

Di ujung kemenangan ada istighfar.

Di puncak keberhasilan ada ketundukan.

Ketika bumi seakan berkata, “Engkau telah berhasil,” langit mengajarkan:

وَاسْتَغْفِرْهُ

"Mohonlah ampun kepada-Nya."

Seakan Allah mendidik para pemikul dakwah sepanjang zaman:

"Ketika manusia menghitung jasamu, hitunglah kekuranganmu."

"Ketika manusia menyebut namamu, sebutlah nama Tuhanmu."

"Ketika manusia mengangkatmu, rebahkan jiwamu di hadapan-Ku."

"Dan ketika engkau melihat buah perjuanganmu, jangan berkata: ini karena aku. Katakanlah: ini karena rahmat-Nya."

---

WAHAI PARA PENDAHULU JALAN...

Engkau yang rambutnya telah memutih bersama dakwah...

Engkau yang pernah berjalan ketika jalan ini masih sunyi...

Engkau yang mengenal pahitnya hari-hari pertama...

Engkau yang mungkin telah kehilangan harta, waktu, kesempatan, bahkan sebagian kenyamanan hidupmu...

Jangan kotori keindahan semua itu dengan meminta manusia mengenangnya.

Biarkan Allah yang mengingatnya.

Sungguh...

Allah tidak pernah lupa.

Mungkin manusia lupa malam ketika engkau menangis.

Allah tidak lupa.

Mungkin generasi sesudahmu tidak tahu berapa banyak yang dahulu engkau korbankan.

Allah tahu.

Mungkin namamu tidak disebut dalam sejarah.

Tetapi langit tidak membutuhkan buku sejarah manusia untuk mengenali hamba yang ikhlas.

Maka mengapa hatimu gelisah ketika manusia lupa...

jika Allah tidak pernah lupa?

---

DAN SUATU HARI, SENJA ITU AKAN DATANG

Saudaraku...

Suatu hari kita semua akan menjadi cerita.

Kursi yang dahulu kita duduki akan ditempati orang lain.

Nomor kita tidak lagi dihubungi ketika keputusan besar hendak dibuat.

Nama kita perlahan menghilang dari percakapan.

Generasi baru datang.

Mereka membawa bahasa mereka sendiri.

Cara mereka sendiri.

Mungkin mereka tidak mengenal kita.

Mungkin mereka duduk di ruangan yang dahulu kita bangun, tanpa mengetahui siapa yang dahulu mengangkat batu pertama.

Tidak mengapa.

Sungguh...

tidak mengapa.

Biarkan mereka tidak mengenal nama kita.

Asalkan mereka mengenal Allah.

Biarkan mereka tidak mengetahui siapa yang menanam pohonnya.

Asalkan mereka masih dapat memakan buahnya.

Biarkan mereka tidak pernah mendengar cerita tentang air mata kita.

Asalkan air mata itu dahulu benar-benar jatuh karena Allah.

Sebab bukankah sejak awal kita berkata bahwa perjalanan ini adalah milik-Nya?

Lalu mengapa pada penghujung perjalanan kita ingin mengambil sedikit darinya untuk nama kita sendiri?

---

SEBELUM MALAM TURUN

Kelak akan datang suatu malam ketika kita tidak lagi menghadiri rapat.

Tidak lagi memberikan taujih.

Tidak lagi dimintai pandangan.

Tidak lagi memimpin.

Tidak lagi membina.

Tidak lagi berjalan menuju majelis UPA.

Orang-orang akan membawa tubuh kita menuju sebuah tempat yang sangat sunyi.

Tidak ada struktur di sana.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada senior dan junior.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada orang yang berdiri ketika kita memasuki ruangan.

Tidak ada lagi gelar yang membuat dada terasa hangat.

Yang ada hanyalah seorang hamba...

sebuah kubur...

dan amal yang dahulu pernah ia lakukan.

Pada hari itu, mungkin kita akan berharap:

"Ya Allah... andaikan dahulu aku tidak pernah menceritakan jasaku."

"Andaikan dahulu aku lebih banyak menyembunyikan amal daripada memperlihatkannya."

"Andaikan dahulu ketika amanah berpindah kepada orang lain, aku tersenyum dan berkata: alhamdulillāh."

"Andaikan dahulu aku tidak terlalu ingin dikenang."

Maka sebelum malam itu datang...

selesaikanlah urusanmu dengan hatimu.

Kembalikan seluruh jasa kepada Allah.

Kembalikan seluruh kemenangan kepada Allah.

Kembalikan seluruh manusia yang pernah engkau bina kepada Allah.

Kembalikan jamaah kepada Allah.

Kembalikan dakwah kepada Allah.

Dan akhirnya...

kembalikan dirimu sendiri kepada Allah.

Lalu katakanlah dalam kesunyian:

لَيْسَ لِي عَلَى هَذِهِ الدَّعْوَةِ مِنَّةٌ، بَلْ لِلَّهِ عَلَيَّ الْمِنَّةُ أَنْ جَعَلَنِي يَوْمًا مِنْ خُدَّامِهَا.

"Aku tidak mempunyai jasa yang dapat kutagihkan kepada dakwah ini. Justru Allah-lah yang telah memberikan karunia kepadaku karena pernah mengizinkanku menjadi salah seorang pelayannya."

Saudaraku...

Jika dahulu engkau datang sebagai seorang pemuda dengan mata yang menyala...

dan hari ini rambutmu telah memutih di jalan yang sama...

maka jangan meminta dunia membayar perjalananmu.

Cukuplah Allah.

Jika dahulu tanganmu kuat mengangkat beban dakwah...

dan hari ini tangan itu mulai gemetar...

jangan bersedih ketika tangan-tangan muda mengambil beban itu darimu.

Lepaskanlah dengan cinta.

Berikan kepada mereka bekalmu.

Berikan kepada mereka doamu.

Kemudian berdirilah sedikit ke belakang...

dan pandanglah mereka berjalan menuju ufuk yang mungkin tidak akan sempat engkau capai.

Lalu tersenyumlah.

Barangkali itulah salah satu bentuk kemenangan terindah seorang murabbi:

ketika ia tidak lagi dibutuhkan di depan, tetapi doanya masih mengawal barisan dari belakang.

Dan apabila pada akhirnya tidak seorang pun mengingat bahwa engkau pernah berada di jalan ini...

jangan takut.

Sebab kita tidak menempuh perjalanan sepanjang ini agar nama kita tinggal di bumi.

Kita menempuhnya dengan satu harapan:

agar ketika seluruh nama kita telah dilupakan manusia...

nama kita masih disebut dengan rahmat di langit.

Maka datanglah kepada Allah tanpa membawa daftar jasa.

Datanglah seperti dahulu engkau pertama kali memasuki jalan ini:

dengan tangan kosong...

dengan hati yang membutuhkan...

dengan mata yang basah...

dan dengan satu pengakuan:

يَا رَبِّ، مَا خَدَمْتُ دَعْوَتَكَ، وَلَكِنَّكَ أَكْرَمْتَنِي بِأَنْ جَعَلْتَنِي مِنْ خُدَّامِهَا.

"Wahai Rabbku, bukan aku yang berjasa melayani dakwah-Mu. Engkaulah yang telah memuliakanku dengan memberi kesempatan kepadaku menjadi salah seorang pelayannya."

Kemudian biarkan air mata menyelesaikan apa yang tidak mampu lagi dikatakan oleh kata-kata.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا صَالِحَةً، وَاجْعَلْهَا لِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهَا شَيْئًا.

Ya Allah, jadikan seluruh amal kami amal yang saleh. Jadikan semuanya ikhlas semata-mata mengharap wajah-Mu. Dan jangan Engkau jadikan di dalamnya bagian untuk siapa pun selain-Mu.

اللَّهُمَّ إِنْ أَطَلْتَ بِنَا الطَّرِيقَ، فَلَا تَجْعَلْ طُولَ الطَّرِيقِ يُورِثُنَا عُجْبًا، بَلْ زِدْنَا بِكُلِّ خُطْوَةٍ افْتِقَارًا إِلَيْكَ وَتَوَاضُعًا بَيْنَ يَدَيْكَ.

Ya Allah, jika Engkau panjangkan perjalanan kami di jalan ini, jangan jadikan panjangnya perjalanan melahirkan kekaguman kepada diri kami. Tetapi jadikan setiap langkah semakin menambah rasa fakir kami kepada-Mu dan ketundukan kami di hadapan-Mu.

Sebab pada akhirnya...

bukan siapa yang paling dahulu memasuki jalan ini yang paling kita khawatirkan.

Bukan pula siapa yang paling lama bertahan di dalamnya.

Yang kita mohonkan hanyalah satu:

semoga ketika langkah terakhir kita berhenti, hati kita masih sebersih hati yang dahulu membuat kita mengambil langkah pertama.

Dan semoga ketika Allah bertanya tentang perjalanan panjang itu...

kita tidak datang membawa kebanggaan karena merasa telah berjasa kepada dakwah.

Kita datang dengan kepala tertunduk...

membawa hati yang pecah...

dan berbisik:

"Ya Allah... semuanya adalah karunia-Mu."

.....

Senandung Hujan Diiringi Dzikir Di Suatu Senja Di Bumi Allah Cipanas Cianjur

 

Alfaqier Ilaa 'Afwi Rabbih

Wildan Hakim

Tidak ada komentar: