Sabtu, 26 September 2026

ISTIQAMAH DALAM TARBIYAH

Jangan Pernah Merasa Lulus dari Madrasah Tarbiyah

Oleh: KH. Wildan Hakim, Lc. MA,

Saudaraku di jalan Allah...

Ada jalan yang mudah dikenali permulaannya, tetapi kita tidak pernah mengetahui bagaimana akhirnya.

Kita mungkin masih mengingat masa ketika hati pertama kali disentuh oleh tarbiyah. Ayat-ayat Allah terasa dekat. Nasihat sederhana mengguncangkan dada. Ukhuwah menghangatkan jiwa. Panggilan dakwah membuat kaki ringan melangkah, dan pengorbanan terasa lebih indah daripada kenyamanan.

Pada hari-hari itu kita merasa telah menemukan jalan.

Tetapi perjalanan menuju Allah tidak diuji hanya ketika kita menemukan jalan. Ia diuji ketika kita telah lama berjalan di atasnya.

Tahun-tahun berlalu. Usia bertambah. Amanah berubah. Yang dahulu dipimpin kemudian memimpin. Yang dahulu tidak dikenal mulai didengar. Ada kemenangan dan kegagalan, pujian dan kritik, masa ketika kita dibutuhkan dan masa ketika orang lain datang menggantikan.

Di tengah semua perubahan itu, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada berapa lama kita berada dalam dakwah:

Setelah perjalanan sejauh ini, masihkah hati kita menghadap kepada Allah dengan arah yang sama?

Sebab bahaya perjalanan tidak selalu ketika kaki berhenti.

Kadang kaki masih berjalan, tetapi hati telah bergeser.

Seseorang masih membawa dakwah, tetapi ruh yang dahulu menghidupkannya perlahan meredup. Ia semakin pandai berbicara tentang Allah, tetapi semakin jarang berbicara kepada Allah. Ia mampu membina orang lain, tetapi semakin sulit membiarkan dirinya dibina.

Dan boleh jadi inilah ujian paling halus bagi mereka yang telah lama berjalan:

bukan meninggalkan jalan, tetapi merasa telah aman karena masih berada di jalan.

Padahal hati tidak pernah aman dari perubahan, niat tidak pernah selesai dimurnikan, dan nafsu tidak pernah mengumumkan bahwa ia telah menyerah.

Karena itu tarbiyah bukan sekadar pintu masuk menuju dakwah.

Tarbiyah adalah penjagaan sepanjang perjalanan.

Ia menjaga agar ilmu tidak menjadi kebanggaan, pengalaman tidak menjadi kesombongan senioritas, amanah tidak menjadi rasa memiliki, dan pengorbanan tidak berubah menjadi tagihan kepada dakwah.

Sebab persoalan tarbiyah bukan sekadar bagaimana kita tetap aktif sampai tua.

Persoalannya adalah:

bagaimana membawa hati yang pernah berkata رَبُّنَا اللَّهُ agar tetap setia kepada kalimat itu sampai ajal datang.

Allah Ta‘ala berfirman:

«إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat-malaikat turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”

(QS Fuṣṣilat: 30)»

Renungkan susunannya.

رَبُّنَا اللَّهُ

Rabb kami adalah Allah.

Itulah ikrar.

Lalu:

ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Kemudian mereka istiqamah.

Di antara keduanya terbentang sebuah umur: pergulatan dengan nafsu, pembaruan niat, jatuh dan bangkit, menang tanpa sombong, kalah tanpa kehilangan arah, dipuji tanpa mabuk pujian, dilupakan tanpa meninggalkan amal.

Kemudian, setelah sebuah umur menjaga kesetiaan itu:

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

Malaikat-malaikat turun kepada mereka.

Maka istiqamah bukan ledakan semangat pada awal perjalanan.

Istiqamah adalah kesetiaan yang sanggup menyeberangi umur.

---

BUKAN SEKADAR BERTAHAN

Ibn Kathīr menjelaskan makna ثُمَّ اسْتَقَامُوا:

«أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْ»

Mereka mengikhlaskan amal kepada Allah dan beramal dalam ketaatan kepada Allah Ta‘ala sesuai dengan apa yang Allah syariatkan bagi mereka.

Di sini istiqamah mempunyai dua penjagaan:

ketulusan tujuan dan kelurusan jalan.

Amalnya untuk Allah. Jalannya tunduk kepada Allah.

Maka pertanyaannya bukan hanya:

"Apakah aku masih berjalan?"

Tetapi:

“Untuk siapa aku berjalan, dan apakah jalanku masih berada dalam ketaatan kepada-Nya?”

Sebab aktivitas dapat semakin padat sementara ikhlas menipis. Amanah dapat meninggi sementara ubudiyah melemah.

Tarbiyah karena itu bukan sekadar dorongan agar kita terus bergerak.

Tarbiyah adalah penjaga arah.

---

لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ

Untuk Allah, dengan Menaati-Nya

Di sinilah perkataan ‘Umar ibn al-Khaṭṭāb رضي الله عنه menjadi sangat menghunjam.

Ibn Kathīr menukil dari al-Zuhrī bahwa ‘Umar membaca ayat ini di atas mimbar, kemudian berkata:

«اسْتَقَامُوا - وَاللَّهِ - لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ

“Mereka—demi Allah—beristiqamah untuk Allah dengan menaati-Nya, dan mereka tidak berkelok-kelok seperti musang.”»

Perkataan ini seakan membedah istiqamah menjadi tiga lapis:

لِلَّهِ — untuk Allah.

بِطَاعَتِهِ — dengan menaati-Nya.

وَلَمْ يَرُوغُوا — mereka tidak berkelok-kelok.

Ada tujuan yang tidak berubah, jalan yang tidak diganti, dan keteguhan yang tidak dipermainkan oleh kepentingan.

لِلَّهِ — UNTUK SIAPA?

‘Umar tidak sekadar mengatakan:

اسْتَقَامُوا

tetapi:

اسْتَقَامُوا لِلَّهِ

Mereka istiqamah untuk Allah.

Inilah pembeda yang sangat halus.

Seseorang dapat konsisten selama puluhan tahun—tetapi konsisten mengejar pengaruh, menjaga kedudukan, atau membangun nama.

Bahkan ia dapat sangat tekun dalam aktivitas dakwah sementara dirinya sendiri perlahan tumbuh menjadi pusat orientasinya.

Karena itu ukuran istiqamah bukan:

“Berapa lama engkau bertahan?”

Tetapi:

“Untuk siapa engkau bertahan?”

Di awal perjalanan kita mungkin belum mempunyai banyak hal untuk dipertahankan. Setelah bertahun-tahun, kita mulai mempunyai pengalaman, pengaruh, reputasi, jaringan, jasa, bahkan sejarah.

Semua itu dapat menjadi bekal perjuangan.

Tetapi semuanya juga dapat menjadi ujian bagi keikhlasan.

Maka ujian لِلَّهِ menjadi sangat nyata:

Jika namamu tidak disebut, apakah engkau tetap bekerja?

Jika pendapatmu tidak dipakai, apakah ukhuwahmu tetap terjaga?

Jika amanah diberikan kepada orang lain, apakah cintamu kepada dakwah tetap utuh?

Jika pengorbananmu dilupakan, apakah engkau merasa cukup karena Allah mengetahuinya?

Di situlah لِلَّهِ diuji.

Ikhlas bukan hanya ketika kita memberikan sesuatu kepada dakwah.

Ikhlas semakin tampak ketika setelah memberi, kita tidak merasa dakwah berutang sesuatu kepada kita.

---

بِطَاعَتِهِ — CARA PUN HARUS TAAT

Kemudian ‘Umar berkata:

بِطَاعَتِهِ

Dengan menaati-Nya.

Ini menutup satu pintu penyimpangan yang berbahaya: mengatasnamakan tujuan mulia untuk membenarkan cara yang salah.

Kita dapat berkata:

"Demi Islam."

"Demi dakwah."

"Demi maslahat."

Tetapi istiqamah bertanya:

“Apakah cara yang ditempuh juga diridhai Allah?”

Sebab Allah bukan hanya menentukan tujuan.

Allah juga menetapkan batas-batas perjalanan menuju tujuan itu.

Tidak ada istiqamah ketika ingin membela kebenaran dengan kebatilan.

Tidak ada istiqamah ketika ingin menjaga jamaah dengan mengorbankan keadilan.

Tidak ada istiqamah ketika maslahat digunakan untuk menutupi pelanggaran amanah.

Tidak ada istiqamah ketika dakwah dibela tetapi akhlak dakwah ditinggalkan.

‘Umar tidak mengatakan hanya:

لِلَّهِ

tetapi:

لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ

Untuk Allah dengan menaati-Nya.

Niat tidak boleh dipisahkan dari syariat.

Ghirah tidak boleh dipisahkan dari akhlak.

Harakah tidak boleh dipisahkan dari ubudiyah.

Kemenangan tidak boleh dibeli dengan kehilangan ketaatan.

Kita tidak diperintahkan sekadar sampai.

Kita diperintahkan sampai dengan tetap menjadi hamba.

---

وَلَمْ يَرُوغُوا — JANGAN BERKELOK

Kemudian datang ungkapan ‘Umar yang sangat tajam:

وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ

“Mereka tidak berkelok-kelok seperti musang.”

Gambaran ini membuat kita memahami bahwa lawan istiqamah bukan hanya berhenti.

Seseorang dapat terus berjalan, tetapi kelurusannya mulai berubah ketika kepentingan dirinya ikut berbicara.

Dan keadaan seperti ini lebih sulit dikenali.

Orang yang meninggalkan jalan biasanya mengetahui bahwa dirinya telah pergi.

Tetapi orang yang mulai berkelok dapat tetap merasa dirinya istiqamah.

Ia tidak berkata:

"Aku meninggalkan prinsip."

Ia hanya mulai mencari alasan mengapa prinsip itu tidak perlu diterapkan kali ini.

Ia tidak berkata:

"Aku ingin mempertahankan kedudukan."

Ia mungkin berkata:

"Demi kesinambungan amanah."

Ia tidak berkata:

"Aku tersinggung."

Ia mungkin berkata:

"Ini masalah prinsip."

Ia tidak berkata:

"Aku sedang mengikuti ego."

Ia dapat membungkusnya dengan bahasa maslahat.

Bukan berarti maslahat, amanah, prinsip, atau pertimbangan keadaan itu salah.

Semuanya diperlukan.

Tetapi nafsu mampu menyusup ke dalam perkara yang benar dan menggunakan bahasa yang mulia untuk melindungi kepentingannya sendiri.

Karena itu muhasabah seorang kader tidak boleh berhenti pada:

“Apakah argumentasiku benar?”

Ia harus berani turun lebih dalam:

“Apa yang sebenarnya sedang diinginkan hatiku?”

Bukan hanya:

“Dapatkah tindakanku dibenarkan?”

Tetapi:

“Benarkah aku melakukan ini untuk Allah?”

Inilah ketajaman:

وَلَمْ يَرُوغُوا

Mereka tidak berkelok-kelok.

---

KETIKA POSISI BERUBAH

Salah satu ujian kelurusan adalah ketika posisi kita berubah.

Ketika berada di bawah, kita ingin pemimpin menerima nasihat. Ketika berada di atas, apakah kita tetap mencintai nasihat?

Ketika tidak mempunyai jabatan, kita berkata bahwa jabatan hanyalah amanah. Ketika jabatan berada di tangan, apakah kita tetap siap melepaskannya ketika amanah itu harus berpindah?

Ketika keputusan merugikan kita, kita menuntut keadilan. Ketika keputusan menguntungkan kita, apakah ukuran keadilan itu tetap sama?

Di sinilah istiqamah memperoleh wajah yang nyata:

kebenaran tidak berubah hanya karena posisi kita terhadap kebenaran telah berubah.

Haq tetap haq.

Adil tetap adil.

Amanah tetap amanah.

Halal tetap halal.

Haram tetap haram.

Karena kiblatnya bukan kepentingan diri.

Kiblatnya adalah:

رَبُّنَا اللَّهُ.

Namun istiqamah bukan kekakuan.

Strategi dapat berubah. Sarana dapat berganti. Ijtihad dapat dikoreksi. Pendapat dapat ditarik ketika ternyata keliru.

Yang tidak berubah adalah orientasi kepada Allah dan batas-batas ketaatan kepada-Nya.

Maka:

لِلَّهِ بِطَاعَتِهِ

adalah keteguhan tanpa kekakuan dan keluwesan tanpa kehilangan prinsip.

---

TARBIYAH ADALAH TEMPAT MELURUSKAN KEMBALI JALAN

Sekarang kita memahami mengapa tarbiyah tidak boleh berhenti.

Tarbiyah bukan hanya mengajari kader apa yang harus dilakukan.

Ia menolong kita memeriksa:

mengapa kita melakukannya, untuk siapa kita melakukannya, dan apakah caranya masih diridhai Allah.

Sebab orang yang berhenti mudah diketahui.

Orang yang mulai berkelok tidak selalu demikian.

Ia masih aktif.

Masih berbicara.

Masih memimpin.

Masih berada dalam struktur.

Karena itu ia membutuhkan cermin.

Al-Qur’an adalah cermin.

Nasihat adalah cermin.

Murabbi adalah cermin.

Ukhuwah dan muhasabah adalah cermin.

Tarbiyah berkali-kali membawa kita berdiri di hadapan semua itu untuk menjawab satu pertanyaan:

“Masih luruskah aku kepada Allah?”

---

JANGAN SAMPAI HARAKAH MEMBESAR, TETAPI RUH MENGECIL

Struktur dapat berkembang. Program bertambah. Jumlah kader meningkat. Pengaruh meluas.

Tetapi semua pertumbuhan itu kehilangan makna apabila manusia yang memikulnya tidak ikut bertumbuh dalam iman, akhlak, dan ubudiyah.

Sebab harakah bukan sekadar pergerakan struktur.

Harakah adalah pergerakan manusia yang membawa risalah.

Maka kemenangan tidak selalu berupa sesuatu yang terlihat di luar.

Seorang pemimpin yang mampu mengakui kesalahan—itu kemenangan.

Seorang senior yang lapang menerima nasihat dari yang lebih muda—itu kemenangan.

Seorang kader yang melihat amanahnya diberikan kepada saudaranya lalu tetap tulus mendukungnya—itu kemenangan.

Seseorang yang tetap bekerja ketika namanya tidak disebut—itu kemenangan.

Tidak ada panggung untuk kemenangan-kemenangan seperti ini.

Tetapi boleh jadi justru di sanalah tarbiyah menunjukkan buahnya.

Apa artinya mampu menggerakkan banyak manusia jika satu ayat Allah tidak lagi mampu menggerakkan hati kita?

Apa artinya suara semakin didengar jika jiwa semakin sulit mendengar nasihat?

Harakah membutuhkan kader yang bergerak. Tetapi lebih dalam dari itu, harakah membutuhkan hati yang hidup dan lurus.

---

TETAPLAH MENJADI MUTARABBI

Peran akan berubah.

Mutarabbi menjadi murabbi. Yang dipimpin menjadi pemimpin. Yang dahulu menerima arahan kemudian memberi arahan.

Tetapi tidak seorang pun pernah lulus menjadi murid di hadapan Al-Qur’an.

Tidak ada senioritas yang membuat seseorang kebal terhadap penyakit hati.

Karena itu seorang murabbi tetap membutuhkan nasihat. Seorang pemimpin membutuhkan ruang untuk dikoreksi. Seorang da‘i yang banyak berbicara kepada manusia membutuhkan saat ketika ia diam dan membiarkan Al-Qur’an berbicara kepada dirinya.

Jangan hanya bertanya:

“Berapa banyak manusia yang telah kubina?”

Tanyakan:

“Apakah aku sendiri masih dapat dibina?”

Sebab tragedi seorang da‘i bukan hanya ketika manusia berhenti mendengarkannya.

Tragedi yang lebih dalam adalah ketika ia sendiri berhenti mendengarkan kebenaran.

---

رَبُّنَا اللَّهُ — JANGAN BERPALING

Ibn Kathīr juga menukil penjelasan Abū Bakr al-Ṣiddīq رضي الله عنه mengenai mereka yang berkata:

رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

bahwa mereka:

«فَلَمْ يَلْتَفِتُوا إِلَى إِلَهٍ غَيْرِهِ»

Mereka tidak berpaling kepada sesembahan selain-Nya.

Inilah akar seluruhnya.

رَبُّنَا اللَّهُ.

Allah ketika diberi amanah dan ketika amanah diambil.

Allah ketika berada di depan dan ketika harus kembali ke belakang.

Allah ketika dikenal dan ketika dilupakan.

Allah ketika hasil menggembirakan dan ketika perjalanan belum memperlihatkan hasil yang diharapkan.

Rabb kita tidak berubah.

Maka orientasi penghambaan kita pun tidak boleh berubah.

---

JANGAN HIDUP DARI CERITA “DAHULU”

Ada masa ketika seorang kader mulai terlalu sering berkata:

"Dahulu..."

Dahulu semangat begitu tinggi.

Dahulu pengorbanan terasa ringan.

Dahulu ukhuwah begitu hangat.

Dahulu sebuah ayat membuat kita menangis.

Kenangan dapat menjadi sumber syukur. Tetapi jangan menjadikannya tempat berlindung ketika ruh hari ini sedang melemah.

Iman bukan album kenangan. Dakwah bukan museum pengorbanan.

Allah bukan hanya Rabb kita pada masa muda.

Dia Rabb kita hari ini.

Maka jangan hanya mengenang air mata dahulu.

Biarkan Al-Qur’an kembali menyentuh hati hari ini.

Kita tidak membutuhkan nostalgia ruhani.

Kita membutuhkan ruh yang masih hidup.

---

DAN DI UJUNG PERJALANAN...

Setelah:

رَبُّنَا اللَّهُ

dan sebuah umur untuk membuktikan:

ثُمَّ اسْتَقَامُوا

datanglah:

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

Malaikat-malaikat turun kepada mereka.

Ibn Kathīr menukil dari Mujāhid, al-Suddī, Zayd ibn Aslam dan lainnya bahwa di antara maknanya adalah turunnya malaikat ketika kematian mendatangi seorang mukmin. Zayd ibn Aslam juga menyebut kabar gembira itu ketika kematian, di alam kubur, dan ketika dibangkitkan; Ibn Kathīr memandang penggabungan makna ini sebagai penjelasan yang sangat baik.

Bayangkan seorang hamba setelah puluhan tahun menjaga arah.

Amanah telah datang dan pergi.

Kekuatan berubah menjadi kelemahan.

Rambut menghitam lalu memutih.

Dan akhirnya semua atribut dunia harus dilepaskan.

Tidak ada lagi jabatan.

Tidak ada lagi senioritas.

Tidak ada lagi gelar.

Yang ada hanyalah seorang hamba yang akan menghadap Rabb-nya.

Lalu dengan izin Allah para malaikat turun membawa kabar:

أَلَّا تَخَافُوا

Jangan takut.

وَلَا تَحْزَنُوا

Jangan bersedih.

وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian.”

Bukankah akhir seperti inilah yang kita rindukan?

Bukan sekadar dikenang sebagai kader yang lama berada dalam dakwah.

Bukan sekadar meninggalkan cerita tentang jasa.

Tetapi setelah seluruh gelar tanggal dan seluruh amanah diletakkan, kita berharap Allah menerima amal dan kepulangan kita.

Maka jangan pernah merasa lulus dari tarbiyah.

Semakin panjang perjalanan, semakin rendahkan hati.

Semakin tinggi amanah, semakin dalamkan ubudiyah.

Semakin banyak manusia mendengarkan kita, semakin pastikan kita sendiri masih mau mendengarkan kebenaran.

Dan setelah bertahun-tahun berada dalam dakwah, jangan hanya bertanya:

“Masihkah aku berada di jalan ini?”

Tanyakan sesuatu yang lebih tajam:

“Masih luruskah aku di jalan ini?”

Sebab orang yang meninggalkan jalan biasanya mengetahui bahwa dirinya telah pergi.

Tetapi orang yang mulai berkelok dapat terus berjalan sambil merasa dirinya masih lurus.

Maka jangan hanya memohon agar kaki kita tidak berhenti.

Mohonlah agar hati kita tidak berbelok.

Jangan hanya meminta agar kita tetap bersama dakwah.

Mintalah agar selama bersama dakwah, kita tetap:

لِلَّهِ

untuk Allah;

بِطَاعَتِهِ

dengan menaati-Nya;

وَلَمْ يَرُوغُوا

dan tidak berkelok-kelok.

Sampai perjalanan benar-benar selesai.

Sampai seluruh umur kita menjadi saksi bagi:

رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah.”

Dan semoga pada penghujungnya datang kabar yang selama ini kita rindukan:

أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Jangan takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian.”

Maka inilah tarbiyah:

bukan sekadar menjaga kita tetap berada di jalan dakwah, tetapi menjaga kita tetap lurus kepada Allah sampai akhir perjalanan.

....

Alfaqier Ilaa 'Afwi Rabbih

Wildan Hakim

 

Tidak ada komentar: