Jangan Pernah Merasa Lulus dari Madrasah Tarbiyah
Oleh: KH. Wildan Hakim, Lc. MA,
Saudaraku
di jalan Allah...
Ada jalan
yang mudah dikenali permulaannya, tetapi kita tidak pernah mengetahui bagaimana
akhirnya.
Kita
mungkin masih mengingat masa ketika hati pertama kali disentuh oleh tarbiyah.
Ayat-ayat Allah terasa dekat. Nasihat sederhana mengguncangkan dada. Ukhuwah
menghangatkan jiwa. Panggilan dakwah membuat kaki ringan melangkah, dan
pengorbanan terasa lebih indah daripada kenyamanan.
Pada
hari-hari itu kita merasa telah menemukan jalan.
Tetapi
perjalanan menuju Allah tidak diuji hanya ketika kita menemukan jalan. Ia diuji
ketika kita telah lama berjalan di atasnya.
Tahun-tahun
berlalu. Usia bertambah. Amanah berubah. Yang dahulu dipimpin kemudian
memimpin. Yang dahulu tidak dikenal mulai didengar. Ada kemenangan dan
kegagalan, pujian dan kritik, masa ketika kita dibutuhkan dan masa ketika orang
lain datang menggantikan.
Di tengah
semua perubahan itu, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada
berapa lama kita berada dalam dakwah:
Setelah
perjalanan sejauh ini, masihkah hati kita menghadap kepada Allah dengan arah
yang sama?
Sebab
bahaya perjalanan tidak selalu ketika kaki berhenti.
Kadang
kaki masih berjalan, tetapi hati telah bergeser.
Seseorang
masih membawa dakwah, tetapi ruh yang dahulu menghidupkannya perlahan meredup.
Ia semakin pandai berbicara tentang Allah, tetapi semakin jarang berbicara
kepada Allah. Ia mampu membina orang lain, tetapi semakin sulit membiarkan
dirinya dibina.
Dan boleh
jadi inilah ujian paling halus bagi mereka yang telah lama berjalan:
bukan
meninggalkan jalan, tetapi merasa telah aman karena masih berada di jalan.
Padahal
hati tidak pernah aman dari perubahan, niat tidak pernah selesai dimurnikan,
dan nafsu tidak pernah mengumumkan bahwa ia telah menyerah.
Karena
itu tarbiyah bukan sekadar pintu masuk menuju dakwah.
Tarbiyah
adalah penjagaan sepanjang perjalanan.
Ia
menjaga agar ilmu tidak menjadi kebanggaan, pengalaman tidak menjadi
kesombongan senioritas, amanah tidak menjadi rasa memiliki, dan pengorbanan
tidak berubah menjadi tagihan kepada dakwah.
Sebab
persoalan tarbiyah bukan sekadar bagaimana kita tetap aktif sampai tua.
Persoalannya
adalah:
bagaimana
membawa hati yang pernah berkata رَبُّنَا اللَّهُ agar tetap setia kepada kalimat itu sampai
ajal datang.
Allah
Ta‘ala berfirman:
«إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ
ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata,
‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat-malaikat
turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu
bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”
(QS Fuṣṣilat: 30)»
Renungkan susunannya.
رَبُّنَا
اللَّهُ
Rabb kami adalah Allah.
Itulah ikrar.
Lalu:
ثُمَّ
اسْتَقَامُوا
Kemudian mereka istiqamah.
Di antara keduanya terbentang sebuah umur:
pergulatan dengan nafsu, pembaruan niat, jatuh dan bangkit, menang tanpa
sombong, kalah tanpa kehilangan arah, dipuji tanpa mabuk pujian, dilupakan
tanpa meninggalkan amal.
Kemudian, setelah sebuah umur menjaga
kesetiaan itu:
تَتَنَزَّلُ
عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ
Malaikat-malaikat turun kepada mereka.
Maka
istiqamah bukan ledakan semangat pada awal perjalanan.
Istiqamah
adalah kesetiaan yang sanggup menyeberangi umur.
---
BUKAN SEKADAR BERTAHAN
Ibn Kathīr menjelaskan makna ثُمَّ اسْتَقَامُوا:
«أَخْلَصُوا الْعَمَلَ لِلَّهِ، وَعَمِلُوا
بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا شَرَعَ اللَّهُ لَهُمْ»
Mereka
mengikhlaskan amal kepada Allah dan beramal dalam ketaatan kepada Allah Ta‘ala
sesuai dengan apa yang Allah syariatkan bagi mereka.
Di sini
istiqamah mempunyai dua penjagaan:
ketulusan
tujuan dan kelurusan jalan.
Amalnya
untuk Allah. Jalannya tunduk kepada Allah.
Maka
pertanyaannya bukan hanya:
"Apakah
aku masih berjalan?"
Tetapi:
“Untuk
siapa aku berjalan, dan apakah jalanku masih berada dalam ketaatan kepada-Nya?”
Sebab
aktivitas dapat semakin padat sementara ikhlas menipis. Amanah dapat meninggi
sementara ubudiyah melemah.
Tarbiyah
karena itu bukan sekadar dorongan agar kita terus bergerak.
Tarbiyah adalah penjaga arah.
---
لِلَّهِ
بِطَاعَتِهِ
Untuk Allah, dengan Menaati-Nya
Di sinilah perkataan ‘Umar ibn al-Khaṭṭāb رضي الله عنه
menjadi sangat menghunjam.
Ibn Kathīr menukil dari al-Zuhrī bahwa
‘Umar membaca ayat ini di atas mimbar, kemudian berkata:
«اسْتَقَامُوا - وَاللَّهِ - لِلَّهِ
بِطَاعَتِهِ، وَلَمْ يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ
“Mereka—demi
Allah—beristiqamah untuk Allah dengan menaati-Nya, dan mereka tidak
berkelok-kelok seperti musang.”»
Perkataan
ini seakan membedah istiqamah menjadi tiga lapis:
لِلَّهِ — untuk Allah.
بِطَاعَتِهِ — dengan
menaati-Nya.
وَلَمْ
يَرُوغُوا
— mereka tidak berkelok-kelok.
Ada
tujuan yang tidak berubah, jalan yang tidak diganti, dan keteguhan yang tidak
dipermainkan oleh kepentingan.
لِلَّهِ — UNTUK SIAPA?
‘Umar tidak sekadar mengatakan:
اسْتَقَامُوا
tetapi:
اسْتَقَامُوا
لِلَّهِ
Mereka
istiqamah untuk Allah.
Inilah
pembeda yang sangat halus.
Seseorang
dapat konsisten selama puluhan tahun—tetapi konsisten mengejar pengaruh,
menjaga kedudukan, atau membangun nama.
Bahkan ia
dapat sangat tekun dalam aktivitas dakwah sementara dirinya sendiri perlahan
tumbuh menjadi pusat orientasinya.
Karena
itu ukuran istiqamah bukan:
“Berapa
lama engkau bertahan?”
Tetapi:
“Untuk
siapa engkau bertahan?”
Di awal
perjalanan kita mungkin belum mempunyai banyak hal untuk dipertahankan. Setelah
bertahun-tahun, kita mulai mempunyai pengalaman, pengaruh, reputasi, jaringan,
jasa, bahkan sejarah.
Semua itu
dapat menjadi bekal perjuangan.
Tetapi
semuanya juga dapat menjadi ujian bagi keikhlasan.
Maka
ujian لِلَّهِ menjadi sangat
nyata:
Jika
namamu tidak disebut, apakah engkau tetap bekerja?
Jika
pendapatmu tidak dipakai, apakah ukhuwahmu tetap terjaga?
Jika
amanah diberikan kepada orang lain, apakah cintamu kepada dakwah tetap utuh?
Jika
pengorbananmu dilupakan, apakah engkau merasa cukup karena Allah mengetahuinya?
Di
situlah لِلَّهِ diuji.
Ikhlas
bukan hanya ketika kita memberikan sesuatu kepada dakwah.
Ikhlas
semakin tampak ketika setelah memberi, kita tidak merasa dakwah berutang
sesuatu kepada kita.
---
بِطَاعَتِهِ — CARA PUN HARUS TAAT
Kemudian ‘Umar berkata:
بِطَاعَتِهِ
Dengan menaati-Nya.
Ini menutup satu pintu penyimpangan yang
berbahaya: mengatasnamakan tujuan mulia untuk membenarkan cara yang salah.
Kita
dapat berkata:
"Demi
Islam."
"Demi
dakwah."
"Demi
maslahat."
Tetapi
istiqamah bertanya:
“Apakah
cara yang ditempuh juga diridhai Allah?”
Sebab
Allah bukan hanya menentukan tujuan.
Allah
juga menetapkan batas-batas perjalanan menuju tujuan itu.
Tidak ada
istiqamah ketika ingin membela kebenaran dengan kebatilan.
Tidak ada
istiqamah ketika ingin menjaga jamaah dengan mengorbankan keadilan.
Tidak ada
istiqamah ketika maslahat digunakan untuk menutupi pelanggaran amanah.
Tidak ada
istiqamah ketika dakwah dibela tetapi akhlak dakwah ditinggalkan.
‘Umar tidak mengatakan hanya:
لِلَّهِ
tetapi:
لِلَّهِ
بِطَاعَتِهِ
Untuk
Allah dengan menaati-Nya.
Niat
tidak boleh dipisahkan dari syariat.
Ghirah
tidak boleh dipisahkan dari akhlak.
Harakah
tidak boleh dipisahkan dari ubudiyah.
Kemenangan
tidak boleh dibeli dengan kehilangan ketaatan.
Kita
tidak diperintahkan sekadar sampai.
Kita
diperintahkan sampai dengan tetap menjadi hamba.
---
وَلَمْ
يَرُوغُوا — JANGAN BERKELOK
Kemudian datang ungkapan ‘Umar yang sangat
tajam:
وَلَمْ
يَرُوغُوا رَوَغَانَ الثَّعَالِبِ
“Mereka
tidak berkelok-kelok seperti musang.”
Gambaran
ini membuat kita memahami bahwa lawan istiqamah bukan hanya berhenti.
Seseorang
dapat terus berjalan, tetapi kelurusannya mulai berubah ketika kepentingan
dirinya ikut berbicara.
Dan
keadaan seperti ini lebih sulit dikenali.
Orang
yang meninggalkan jalan biasanya mengetahui bahwa dirinya telah pergi.
Tetapi
orang yang mulai berkelok dapat tetap merasa dirinya istiqamah.
Ia tidak
berkata:
"Aku
meninggalkan prinsip."
Ia hanya
mulai mencari alasan mengapa prinsip itu tidak perlu diterapkan kali ini.
Ia tidak
berkata:
"Aku
ingin mempertahankan kedudukan."
Ia
mungkin berkata:
"Demi
kesinambungan amanah."
Ia tidak
berkata:
"Aku
tersinggung."
Ia
mungkin berkata:
"Ini
masalah prinsip."
Ia tidak
berkata:
"Aku
sedang mengikuti ego."
Ia dapat
membungkusnya dengan bahasa maslahat.
Bukan
berarti maslahat, amanah, prinsip, atau pertimbangan keadaan itu salah.
Semuanya
diperlukan.
Tetapi
nafsu mampu menyusup ke dalam perkara yang benar dan menggunakan bahasa yang
mulia untuk melindungi kepentingannya sendiri.
Karena
itu muhasabah seorang kader tidak boleh berhenti pada:
“Apakah
argumentasiku benar?”
Ia harus
berani turun lebih dalam:
“Apa yang
sebenarnya sedang diinginkan hatiku?”
Bukan
hanya:
“Dapatkah
tindakanku dibenarkan?”
Tetapi:
“Benarkah
aku melakukan ini untuk Allah?”
Inilah
ketajaman:
وَلَمْ
يَرُوغُوا
Mereka
tidak berkelok-kelok.
---
KETIKA
POSISI BERUBAH
Salah
satu ujian kelurusan adalah ketika posisi kita berubah.
Ketika
berada di bawah, kita ingin pemimpin menerima nasihat. Ketika berada di atas, apakah kita
tetap mencintai nasihat?
Ketika
tidak mempunyai jabatan, kita berkata bahwa jabatan hanyalah amanah. Ketika
jabatan berada di tangan, apakah kita tetap siap melepaskannya ketika amanah
itu harus berpindah?
Ketika
keputusan merugikan kita, kita menuntut keadilan. Ketika keputusan
menguntungkan kita, apakah ukuran keadilan itu tetap sama?
Di
sinilah istiqamah memperoleh wajah yang nyata:
kebenaran
tidak berubah hanya karena posisi kita terhadap kebenaran telah berubah.
Haq
tetap haq.
Adil
tetap adil.
Amanah
tetap amanah.
Halal
tetap halal.
Haram
tetap haram.
Karena
kiblatnya bukan kepentingan diri.
Kiblatnya adalah:
رَبُّنَا
اللَّهُ.
Namun istiqamah bukan kekakuan.
Strategi
dapat berubah. Sarana dapat berganti. Ijtihad dapat dikoreksi. Pendapat dapat
ditarik ketika ternyata keliru.
Yang
tidak berubah adalah orientasi kepada Allah dan batas-batas ketaatan
kepada-Nya.
Maka:
لِلَّهِ
بِطَاعَتِهِ
adalah
keteguhan tanpa kekakuan dan keluwesan tanpa kehilangan prinsip.
---
TARBIYAH
ADALAH TEMPAT MELURUSKAN KEMBALI JALAN
Sekarang
kita memahami mengapa tarbiyah tidak boleh berhenti.
Tarbiyah
bukan hanya mengajari kader apa yang harus dilakukan.
Ia
menolong kita memeriksa:
mengapa
kita melakukannya, untuk siapa kita melakukannya, dan apakah caranya masih
diridhai Allah.
Sebab
orang yang berhenti mudah diketahui.
Orang
yang mulai berkelok tidak selalu demikian.
Ia
masih aktif.
Masih
berbicara.
Masih
memimpin.
Masih
berada dalam struktur.
Karena
itu ia membutuhkan cermin.
Al-Qur’an adalah cermin.
Nasihat adalah cermin.
Murabbi adalah cermin.
Ukhuwah dan muhasabah adalah cermin.
Tarbiyah berkali-kali membawa kita berdiri
di hadapan semua itu untuk menjawab satu pertanyaan:
“Masih
luruskah aku kepada Allah?”
---
JANGAN
SAMPAI HARAKAH MEMBESAR, TETAPI RUH MENGECIL
Struktur
dapat berkembang. Program bertambah. Jumlah kader meningkat. Pengaruh meluas.
Tetapi
semua pertumbuhan itu kehilangan makna apabila manusia yang memikulnya tidak
ikut bertumbuh dalam iman, akhlak, dan ubudiyah.
Sebab
harakah bukan sekadar pergerakan struktur.
Harakah
adalah pergerakan manusia yang membawa risalah.
Maka
kemenangan tidak selalu berupa sesuatu yang terlihat di luar.
Seorang
pemimpin yang mampu mengakui kesalahan—itu kemenangan.
Seorang
senior yang lapang menerima nasihat dari yang lebih muda—itu kemenangan.
Seorang
kader yang melihat amanahnya diberikan kepada saudaranya lalu tetap tulus
mendukungnya—itu kemenangan.
Seseorang
yang tetap bekerja ketika namanya tidak disebut—itu kemenangan.
Tidak ada
panggung untuk kemenangan-kemenangan seperti ini.
Tetapi
boleh jadi justru di sanalah tarbiyah menunjukkan buahnya.
Apa
artinya mampu menggerakkan banyak manusia jika satu ayat Allah tidak lagi mampu
menggerakkan hati kita?
Apa
artinya suara semakin didengar jika jiwa semakin sulit mendengar nasihat?
Harakah
membutuhkan kader yang bergerak. Tetapi lebih dalam dari itu, harakah
membutuhkan hati yang hidup dan lurus.
---
TETAPLAH
MENJADI MUTARABBI
Peran
akan berubah.
Mutarabbi
menjadi murabbi. Yang dipimpin menjadi pemimpin. Yang dahulu menerima arahan
kemudian memberi arahan.
Tetapi
tidak seorang pun pernah lulus menjadi murid di hadapan Al-Qur’an.
Tidak ada
senioritas yang membuat seseorang kebal terhadap penyakit hati.
Karena
itu seorang murabbi tetap membutuhkan nasihat. Seorang pemimpin membutuhkan
ruang untuk dikoreksi. Seorang da‘i yang banyak berbicara kepada manusia
membutuhkan saat ketika ia diam dan membiarkan Al-Qur’an berbicara kepada
dirinya.
Jangan
hanya bertanya:
“Berapa
banyak manusia yang telah kubina?”
Tanyakan:
“Apakah
aku sendiri masih dapat dibina?”
Sebab
tragedi seorang da‘i bukan hanya ketika manusia berhenti mendengarkannya.
Tragedi
yang lebih dalam adalah ketika ia sendiri berhenti mendengarkan kebenaran.
---
رَبُّنَا
اللَّهُ
— JANGAN BERPALING
Ibn
Kathīr juga menukil penjelasan Abū Bakr al-Ṣiddīq رضي الله عنه mengenai mereka yang berkata:
رَبُّنَا
اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
bahwa mereka:
«فَلَمْ يَلْتَفِتُوا إِلَى إِلَهٍ
غَيْرِهِ»
Mereka
tidak berpaling kepada sesembahan selain-Nya.
Inilah akar seluruhnya.
رَبُّنَا
اللَّهُ.
Allah
ketika diberi amanah dan ketika amanah diambil.
Allah
ketika berada di depan dan ketika harus kembali ke belakang.
Allah
ketika dikenal dan ketika dilupakan.
Allah
ketika hasil menggembirakan dan ketika perjalanan belum memperlihatkan hasil
yang diharapkan.
Rabb kita
tidak berubah.
Maka
orientasi penghambaan kita pun tidak boleh berubah.
---
JANGAN
HIDUP DARI CERITA “DAHULU”
Ada masa
ketika seorang kader mulai terlalu sering berkata:
"Dahulu..."
Dahulu
semangat begitu tinggi.
Dahulu
pengorbanan terasa ringan.
Dahulu
ukhuwah begitu hangat.
Dahulu
sebuah ayat membuat kita menangis.
Kenangan
dapat menjadi sumber syukur. Tetapi jangan menjadikannya tempat berlindung
ketika ruh hari ini sedang melemah.
Iman
bukan album kenangan. Dakwah bukan museum pengorbanan.
Allah
bukan hanya Rabb kita pada masa muda.
Dia Rabb
kita hari ini.
Maka
jangan hanya mengenang air mata dahulu.
Biarkan
Al-Qur’an kembali menyentuh hati hari ini.
Kita
tidak membutuhkan nostalgia ruhani.
Kita
membutuhkan ruh yang masih hidup.
---
DAN DI
UJUNG PERJALANAN...
Setelah:
رَبُّنَا
اللَّهُ
dan sebuah umur untuk membuktikan:
ثُمَّ
اسْتَقَامُوا
datanglah:
تَتَنَزَّلُ
عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ
Malaikat-malaikat
turun kepada mereka.
Ibn
Kathīr menukil dari Mujāhid, al-Suddī, Zayd ibn Aslam dan lainnya bahwa di
antara maknanya adalah turunnya malaikat ketika kematian mendatangi seorang
mukmin. Zayd ibn Aslam juga menyebut kabar gembira itu ketika kematian, di alam
kubur, dan ketika dibangkitkan; Ibn Kathīr memandang penggabungan makna ini
sebagai penjelasan yang sangat baik.
Bayangkan
seorang hamba setelah puluhan tahun menjaga arah.
Amanah
telah datang dan pergi.
Kekuatan
berubah menjadi kelemahan.
Rambut
menghitam lalu memutih.
Dan
akhirnya semua atribut dunia harus dilepaskan.
Tidak ada
lagi jabatan.
Tidak ada
lagi senioritas.
Tidak ada
lagi gelar.
Yang ada
hanyalah seorang hamba yang akan menghadap Rabb-nya.
Lalu
dengan izin Allah para malaikat turun membawa kabar:
أَلَّا تَخَافُوا
Jangan takut.
وَلَا تَحْزَنُوا
Jangan bersedih.
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي
كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Dan
bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian.”
Bukankah
akhir seperti inilah yang kita rindukan?
Bukan
sekadar dikenang sebagai kader yang lama berada dalam dakwah.
Bukan
sekadar meninggalkan cerita tentang jasa.
Tetapi
setelah seluruh gelar tanggal dan seluruh amanah diletakkan, kita berharap
Allah menerima amal dan kepulangan kita.
Maka
jangan pernah merasa lulus dari tarbiyah.
Semakin
panjang perjalanan, semakin rendahkan hati.
Semakin
tinggi amanah, semakin dalamkan ubudiyah.
Semakin
banyak manusia mendengarkan kita, semakin pastikan kita sendiri masih mau
mendengarkan kebenaran.
Dan
setelah bertahun-tahun berada dalam dakwah, jangan hanya bertanya:
“Masihkah
aku berada di jalan ini?”
Tanyakan
sesuatu yang lebih tajam:
“Masih
luruskah aku di jalan ini?”
Sebab
orang yang meninggalkan jalan biasanya mengetahui bahwa dirinya telah pergi.
Tetapi
orang yang mulai berkelok dapat terus berjalan sambil merasa dirinya masih
lurus.
Maka
jangan hanya memohon agar kaki kita tidak berhenti.
Mohonlah
agar hati kita tidak berbelok.
Jangan
hanya meminta agar kita tetap bersama dakwah.
Mintalah
agar selama bersama dakwah, kita tetap:
لِلَّهِ
untuk
Allah;
بِطَاعَتِهِ
dengan
menaati-Nya;
وَلَمْ
يَرُوغُوا
dan tidak
berkelok-kelok.
Sampai
perjalanan benar-benar selesai.
Sampai
seluruh umur kita menjadi saksi bagi:
رَبُّنَا
اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Rabb
kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah.”
Dan
semoga pada penghujungnya datang kabar yang selama ini kita rindukan:
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Jangan
takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan
kepada kalian.”
Maka
inilah tarbiyah:
bukan
sekadar menjaga kita tetap berada di jalan dakwah, tetapi menjaga kita tetap
lurus kepada Allah sampai akhir perjalanan.
....
Alfaqier Ilaa 'Afwi Rabbih
Wildan Hakim

Tidak ada komentar:
Posting Komentar