Sabtu, 30 Maret 2019

Politisi Yang Da’i dan Solusi Segala Krisis


Taujih Pemenangan

Sudah kita mafhum bersama, bahwa Islam adalah manhaj (pedoman) hidup. Politik adalah bagian kecil dari sistem kehidupan manusia. Karena itu, bidang politik adalah bagian kecil dari keluasan ajaran Islam yang kompehensif. Islam hadir untuk memberi solusi bagi segala krisis kehidupan manusia, baik individu, masyarakat, negara, bahkan dunia dan akhirat.

Para Nabi diutus oleh Allah swt bertujuan untuk mengatur kehidupan. Sebagian mereka bahkan diutus menghadapi kepala-kepala negara yang berbuat lalim. Untuk memberi peringatan agar kembali ke jalan Allah dan tidak merugikan manusia. Sebagian lagi ada yang dijadikan pemimpin negara. Meski demikian, misi mereka sama, yakni memberi peringatan dan kabar gembira. Dengan demikian, baik sebagai pemimpin dan raja, atau sebagai rakyat, fungsi mereka sama sebagai da’I yang mengajak kepada jalan Allah dan menjauhi sikap yang dapat merugikan manusia.

Politisi adalah orang yang terjun dalam bidang politik, baik langsung atau tidak langsung. Dan semua politisi bertujuan baik, yaitu ingin berperan memperbaiki negeri, dan memberi manfaat kepada manusia. Jika dilihat dari sisi tujuan ini, maka misi mereka sama, yakni mengajak kepada kebaikan dan memberi solusi dari segala kerugian.

Tapi, tahukah Anda, apa solusi utama yang ditawarkan oleh para Nabi saw dalam memperbaiki kondisi masyarakat dan negara dari segala macam krisis?. Solusi dari segala krisis adalah “ibadah”. Yakni tunduk dan mengabdikan diri pada Allah swt. Perhatikan ayat-ayat al-Quran di bawah ini:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنْ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
"
 Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut" (QS. An-Nahl: 36)

Jadi, seluruh Rasul yang diutus ditujukan untuk mengajak manusia kepada ketundukan dan kepatuhan kepada hukum Allah.


  • Solusi bagi kaum Tsamud yang membangun bangunan-bangunan megah dari gunung-gunung serta infrastruktur, namun kekayaan hanya berputar pada sembilan konglomerat (rohtin) besar dan memecah belah bangsa adalah beribadah (mengabdikan diri) pada Allah dan patuh pada aturanNya.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): "Sembahlah Allah." Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan (QS. An-Naml: 45)
  

  • Solusi dari kesalahan dan kerancuan konsep teologi ketuhanan kaum Bani Israil:

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ      
(Isa as bekata): “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka.” (QS. Al-Maidah : 117)


  • Solusi sistem ekonomi bagi kaum Aad yang sombong dengan perdaban bangunannya yang megah-megah:

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ            
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah”. (QS. Al-A’raf: 65)


  •  Solusi sistem ekonomi bagi kaum Madyan  yang melakukan kecurangan dan tipu daya dalam jual beli:

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا 
النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, (QS. Al-A’raf: 85)


  • Solusi bagi krisis penyimpangan seksual dan LGBT

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ الْعَالَمِينَ

"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (homosksual) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?" (QS. Al-A’raf: 80)

Saudara, kita menjadi politisi bukan sekedar ingin mendapat kedudukan jabatan, tetapi kita menjadi politisi adalah dalam rangka melanjutkan tugas kenabian, berdakwah dan mengajak manusia ke jalan Allah serta melakukan perbaikan di atas muka bumi. Adakah tugas yang lebih mulia selain mengajak kepada perbaikan? Itulah tugas para Nabi, dan itu pula tugas kita menjadi politisi. Jadilah politisi yang da’i yang menawarkan solusi dari segala macam krisis bangsa dan negara. Setidaknya, jadilah pembela dan pendukungnya.

Wallahu a’lam bis showab

Rumpin, 30 Maret 2019

Muhammad Jamhuri

Tidak ada komentar: