Selasa, 20 April 2021

HIKMAH RAMADHAN HARI KE-9: PUASA: CARA MATI HUSNUL KHOTIMAH

Pada tahun 2008, saya pernah membimbing jamaah haji. Di antara jamaah haji yang saya bimbing adalah pasangan suami isteri usia tua baya asal Makasar, mereka berusia sekitar 55 tahun. Saat itu kami telah melaksanakan puncak rukun haji, yaitu wukuf di Arafah dan langsung mabit melewati Muzdalifah tengah malam. Tinggal rukun thowaf ifadhoh yang belum dilaksanakan di hari krowdit itu. Karena thowaf harus dilakukan dalam keadaan suci (berwudhu), maka kami pun mampir ke hotel sejenak untuk berwudhu demi menghindari  kepadatan di masjidil haram jika berwudhu di sana.

Istri dari jamaah asal Makasar itu sudah berwudhu, sambil menuggu jamaah yang lain, ia duduk-duduk di shofa lobi hotel. Namun dia mulai tidak enak badan. Sambil minta dibacakan al-Quran kepada suaminya, ia pamit kepada suami nya sambil bersyahadat, dan ibu itu pun meninggal dunia dengan mudah.

Semua jamaah di hotel  kaget. Namun mereka harus segera berangkat thowaf ifadoh. Esoknya jenazah pun dimandikan dan dibawa ke masjidil Haram. Lalu disemayamkan di Hijir Ismail di samping kabah. lalu usai zhuhur dishalatkan oleh jutaan jamaah yang sedang beribadah haji.

Melihat fenomena langka ini  dan saya anggap kematian yang indah, saya memberanikan diri bertanya kepada suaminya. “Apa amalan isteri bapak sehingga mendapat kemulian wafat dalam keadaan thoharah (suci)?, di tanah suci, pula, di tengah ibadah yang amat suci, dan dikebumikan di Tanah yang suci?” Suaminya menjawab, “Ada dua kebiasaan isteri saya yang saya kagumi. Pertama, dia tidak pernah bertanya/curiga  kenapa saya pulang malam, padahal saya sering pulang malam karena urusan bisnis, saya ini pengusaha. Malah dia menyambut kedatangan saya dengan hangat setiap saya datang kapanpun. Kedua, kebiasaan isteri saya adalah berwudhu setiap akan keluar rumah, walau hanya pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh. Dia yakin, dalam keadaan berwudhu, dia akan dijaga oleh Allah swt.”

Saya melongo dan tertegun mendengar jawabannya yang terakhir ini, lalu muhasabah betapa saya tidak semulia ibu itu? Saya langsung ingat ayat yang dulu pernah didapat di pesantren, namun seakan baru belajar lagi ayat itu, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan bersuci (mutathohhirin)” (QS. Al-Baqarah: 222)

Dari peristiwa itulah saya menyimpulkan, berwudhu (bersuci) adalah Cara Mati Husnul Khotimah. Bayangkan jika kita bersuci, kemudian  tetiba ada kecelekaan yang merenggut nyawa kita, betapa indahnya jika menghadap Allah dalam keadaan suci dan dicintaiNya?

Selain bersuci. Puasa. Saya ingat hadist nabi saw saat puasa hari kamis ditanya, “Mengapa engkau puasa senin dan kamis?” Nabi saw menjawab, “Karena hari  senin adalah hari kelahiranku, sedangkan hari kamis adalah hari dimana amal sedang diangkat/disetor  dan aku menyukai  saat diangkatnya aku dalam keadaan sedang beribadah (puasa).”

Bayangkan, andai orang berpuasa sedang tidur pun tetap dicatat sedang beribadah. Bagaimana saat berpuasa kita di takdirkan tidur selamanya?.Berarti tidur terakhir itu dalam keadaan sucim bukan?  Bukan kematian yang harus dikhawatirkan, karena ia pasti akan datang. Yang perlu kita khawatirkan adalah cara atau kondisi saat kita mati. Semoga Allah swt mencatat kita wafat dalam kondisi husnul khotimah.

Muhammad Jamhuri, 9 Ramadhan 1442 H.

Tidak ada komentar: